Selasa, 24 Oktober 2017

Yang Tersisa dari Masa Lampau Pecinan Semarang

Ia adalah salah satu pecinan termakmur di Jawa, bertaburkan kelenteng –klenteng tua yang menawan. Seperti pasang surut rob yang kerap menggenanginya, demikian juga yang dia alami di masa lalu. Hari ini, ia berusaha tetap tegak berdiri menghadapi pembangunan kota yang bertubi-tubi menderanya. Inilah kisah saya di Jejak Kolonial, ikhtisar melawat kembali jejak Pecinan Semarang…
Jalan Gang Pinggir, salah satu jalan utama di Pecinan.
Ruko-ruko yang telah berganti wajah. Walaupun sudah berganti, namun bentuk atap ruko-ruko kecil terlihat masih asli.
Panas sengatan matahari dan semrawutnya jalanan kawasan Pecinan Semarang siang itu tidak menyurutkan langkah saya untuk menjelajahi kawasan padat penduduk yang berada di tepi Kali Semarang. Lihatlah jejeran ruko beratap gaya fujian dengan topeng barunya. Mereka berdiri berimpitan satu sama lain dan nyaris tak menyisakan ruang sedikitpun. Ya, di rumah-rumah toko itulah orang-orang Tionghoa berhuni sekaligus mencari rejeki. Dalam literatur“ Indonesia Heritage : Aristektur “, J.Widodo menyebutkan bahwa deretan ruko-ruko yang berdiri memanjang di sepanjang jalan sempit ini merupakan bentuk permukiman yang lazim di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Bukan tanpa sebab, karena sebagian besar pendatang Tionghoa di Semarang memang berasal dari sana. Wujud luarnya sekilas memang masih terlihat serupa dengan yang ada di kampung halaman mereka, namun tentunya ada sedikit perbedaan demi penyesuaian lingkungan. Sebut saja adanya penggunaan jendela krepyak atau penggunaan kanopi yang disokong oleh tiang-tiang besi.

Ruko-ruko yang telah mendapat pengaruh arsitektur Indis.
Sekalipun banyak ruko-ruko itu yang wajah depannya telah berubah, namun bentuk atapnya yang khas tidak mampu menyembunyikan jati diri  sebenarnya. Perubahan wajah itu merupakan buah dari kebijakan pemerintah Orde Baru yang secara arogan berusaha menyeragamkan bangunan di kawasan ini. Berkembangnya kepentingan komersil juga menjadi penyebab lain rusaknya citra kawasan tersebut. Bayangkan saja, tepat di samping sebuah rumah tua bergaya Tionghoa yang hanya dibatasi oleh dinding saja, akan didapati sebuah gedung baru berjendela kaca besar nan silau dengan gaya arsitektur yang “pasaran”. Selain itu, atas nama pembangunan kota, banyak rumah yang harus bagian depannya dipotong karena terkena dampak pelebaran jalan, jika ada pelebaran sungai hal serupa jugaakan menimpa bagian belakang rumah. Rumah-rumah di Jalan Petudungan bisa menjadi contoh. Di tahun 1980an, guna mengatasi masalah banjir, beberapa wilayah Pecinan yang harusnya dilindungi, akhirnya dikorbankan untuk  pelebaran sungai. Apabila ke sana, dapat kita jumpai beberapa bangunan yang telah terpenggal dan menyisakan lebar rumah yang sangat sempit. Sayangnya, pelebaran sungai yang akhirnya memakan beberapa badan bangunan di Jalan Petudungan itu berakhir sia-sia, karena ternyata banjir tetap terjadi. Jikapun masih utuh, kebanyakan rumah itu ditinggalkan dalam kondisi kosong dan terlantar. Lingkungan yang semakin burukmembuat semakin banyak yang enggan berhuni di sini dan memilih menetap jauh di pinggiran kota. Alhasil, Pecinan Semarang di siang hari ramai bak pasar, namun di malam hari ia akan berubah menjadi kota hantu yang senyap dan gelap. Saya akhirnya hanya bisa menatap nanar pada bangunan ruko-ruko tua malang dengan takdir yang suram itu.
Ruko berlantai satu yang masih terlihat pintu Dutch Door nya. 
Sembari merunut ruwetnya gang-gang di dalam area pecinan, saya berusaha mengingat kembali sejarah asal usul pecinan ini. Nun jauh sebelum pecinan ini ada, pada mulanya orang Tionghoa di Semarang bermukim di sekitar lokasi yang sekarang dikenal sebagai Gedong Batu, lokasi berdirinya kelenteng Sam Poo Kong. Sekitar tahun 1400an awal, sebuah kapal jung berukuran besar membuang sauhnya di muara Sungai Garang. Kapal itu membawa seorang laksamana muslim sekaligus utusan wangsa Ming, Cheng Ho. Dari bandar ke bandar, ia berlayar membawa pesan diplomatik dari Kaisar Tiongkok yang membiayai pelayarannya. Pelayaran akbar itu harus berhenti sejenak di dekat Semarang lantaran salah seorang awaknya yang bernama Ong King Hong, tiba-tiba jatuh sakit. Dengan kapal kecil, beberapa awak kapal ini menyusuri sungai sampai di sebuah gua di Simongan dan tinggal sejenak untuk merawat rekan yang sakit. Setelah pulih, beberapa awak termasuk Ong King Hong memilih bermukim di sini, sementara Cheng Ho meneruskan pelayarannya. Di belakang hari, permukiman yang didirikan oleh para anak buah kapal Cheng Ho tadi semakin berkembang dengan kedatangan para perantau Tionghoa. Merunut tulisan Liem dalam buku “Riwajat Semarang”, Semarang saat itu “masih berupa sebuah tegalan dengan beberapa rumah penduduk pribumi dan sangat tidak sehat karena letaknya berdampingan dengan rawa-rawa “. Permulaan abad ke-17, Semarang kedatangan pendatang baru lainnya, kali ini dari Belanda. Pendatang baru ini rupanya bukan pendatang yang baik sebab setiap kapal yang memasuki sungai ditarik bea oleh mereka. Merasa kesal atas tingkah pendatang baru tadi, orang-orang Tionghoa menyerang tangsi Belanda namun gagal. Agar mereka mudah diintai, kompeni memaksa mereka memindahkan permukimannya dari Simongan ke Semarang ( Liem Thian Joe, 2-6 ). Semula mereka bertempat tinggal di sisi timur sungai. Berikutnya di tahun 1740, mereka lagi-lagi dipindahkan ke seberang barat sungai. Sejak saat itu, pecinan Semarang perlahan mulai tumbuh.



Ruko-ruko yang masih tampak asli.
Di lokasi barunya, orang-orang Tionghoa mendirikan rumah mereka dengan bahan yang juga dipakai oleh rumah orang pribumi seperti papan kayu atau anyaman bambu. Karena tidak ada perencanaan, maka bentangan jalan yang ada tidak lurus benar dan lebarnyapun tidak sama. Permukiman itu pertama kali dibangun di kawasan Gang Baru, Gang Warung, dan Gang Pinggir. Pemukiman ini mengelilingi tanah terbuka dengan sebuah kolam yang dikenal sebagai Bale Kambang. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak perantau Tionghoa yang datang ke Semarang untuk mencari peluang atau memperbaiki nasib. Mereka mendirikan permukiman di tengah-tengah pecinaan sehingga lama kelamaan, tanah terbuka di tengah pecinan semakin berkurang, dipenuhi oleh deretan rumah-rumah baru.
Situasi Pecinan Semarang, puluhan tahun silam. Sayang, detail lokasi foto tidak diketahui. ( Sumber : colonialarchitecture.eu  )
Dengan berdagang aneka barang seperti mangkok, sutera, piring, dan lain-lain, penghidupan mereka di sini semakin baik. Mereka akhirnya dapat mendirikan rumah dengan bahan lebih kuat seperti batu dan genting yang kala itu harganya termasuk dalam kategori mahal karena masih sukar diperoleh. Karena belum adanya tenaga untuk membangun rumah-rumah mereka, maka tenaga tukang bangunan dari Batavia didatangkan ke Semarang. Semakin majunya perdagangan menjadikan semakin banyaknya petak-petak rumah toko yang dibangun. Dengan bangunan yang dibuat dalam gaya seperti bangunan di negeri leluhur mereka, kawasan padat penduduk itu menjelma menjadi semacam kota Tiongkok kecil, sehingga ketika orang memasuki kawasan tersebut, mereka seolah-olah tidak di Semarang lagi, melainkan berada di sebuah kota dinegeri Tiongkok sana.
Peta Pecinan Semarang atau Chineshe Kamp pada peta Semarang tahun 1909. Terlihat Bale Kambang ( kotak biru , di sebelah kiri Gang Belakang), masih belum diurug.
Seorang pria tua terlihat sedang tekun memahat sebongkah batu yang datar di salah satu gang sempit. Bidang datar batu itu dipahat dengan sangat telaten , menghasilkan semaracam karakter tulisan yang pinggirannya diberi motif tumbuhan. Ya, pria tua itu sedang mengerjakan bong pai atau prasasti makam Tionghoa.

Dimana ada tempat untuk orang hidup, tentu ada tempat untuk menguburkan orang yang telahmeninggal. Belum ada bukti fisik lokasi permakaman Tionghoa yang pertama di Semarang. Sejauh ini, wilayah di sekitar Kampung Pekojan dipercaya sebagai lokasi pertama orang Tionghoa dikebumikan. Ketika Belanda ingin mengembangkan kawasan tersebut, mereka hendak menyingkirkan makam-makam yang ada, namun hal itu ditentang masyarakat Tionghoa. Seusai Belanda berunding dengan kapiten, akhirnya diputuskan bahwa makam-makam tua tersebut akan dipindah di selatan kota. Seiring dengan pertumbuhan kota, kian banyak makam-makam Tionghoa yang lenyap, berganti menjadi perumahan atau ruang komersil.
Dua buah bong yang masih tersisa di Candisari, Semarang.
Cuaca hari itu rupanya sedang susah ditebak. Pagi tadi, langit begitu cerah namun sore ini, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap. Mendung tebal menggantung di langit. Tanpa perlu menunggu lama, hujan pun turun membasahi bumi Semarang. Saya segera mencari tempat berteduh dan sebuah kelenteng kecil yang tersembunyi di ujung Gang Baru menjadi pilihan saya. Entah kebetulan atau tidak, saya baru sadar jika ternyata sedang berteduh di kelenteng tertua di pecinan Semarang !
Kelenteng Siu Hok Bio.
Kelenteng Siu Hok Bio merupakan kelenteng yang didirikan pertama kali oleh penduduk Pecinan Semarang pada tahun 1753. Didirikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur penduduk pecinan kepada Dewa Bumi, Thouw Tee Kong/ Tu DI Gong atas berkah kemakmurannya. Pendirian kelenteng itu ditanggung bersama-sama oleh penduduk pecinan. Toapekong atau patung dewa didatangkan dari Tiongkok. Setelah patung itu tiba, diadakanlah pesta dan perjamuan yang meriah walaupun tanpa pentas wayang potehi karena dalang wayang itu belum ada di Semarang. Letaknya yang berada di depan pertigaan diyakini dapat melindungi pecinan ini dari energi jahat.
Kelenteng Ling Hok Bio.

Kelenteng Tek Hay Bio.

Kelenteng Tong Pek Bio.
Masyarakat Tionghoa kala itu masih percaya bahwa dengan semakin banyak kelenteng, maka semakin banyak kebaikan yang akan dibawa. Selepas mendirikan kelenteng Tjien Hien Kie, beberapa kelenteng barupun dibangun di Pecinan Semarang seperti Kwee Lak Kwa, Tay Kak Sie, Tang Kee, Ho Hok Bio, Ling Hok Bio, See Hoo Kiong. Jadilah Pecinan Semarang bertaburkan banyak kelenteng dengan semerbak asap dupanya yang memenuhi udara jalanan Pecinan.
Kelenteng Tay Kak Sie
Saya kembali teringat dengan kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, kelenteng yang pamornya paling mentereng dari semua kelenteng di pecinan Semarang. Berdiri persis menghadap Sungai Semarang, kelenteng yang unsur Buddhismenya lebih dominan itu didirikan pada tahun 1771 atas prakarsa penduduk pecinan. Ia dibangun sebagai rumah baru untuk patung Dewi Kwan Im yang semula ada di Bale Kambang. Untuk pembangunannya, para penduduk mengumpulkan dana secara swadaya. Tukang-tukang bangunannya khusus didatangkan jauh-jauh dari Tiongkok. Sesudah kelenteng dibangun dan patung dipindah ke rumah barunya, diadakan sebuah perayaan besar-besaran dan kali ini, dipentaskan wayang potehi yang dalangnya dibawa dari Batavia.
Klenteng Tay Kak Sie dan gedung Kong Tik Soe tempo dulu. ( Sumber : colonialarchitectute.eu ).
Tatkala berdiri di halaman depan kelenteng yang cukup luas itu, saya serasa ingin kembali ke tahun 1826 silam, berdiri bersama para penduduk pecinan yang berkumpul di halaman itu dengan raut wajahnya yang terlihat cemas. Kecemasan mereka bukan tanpa alasan. Tahun itu Pulau Jawa sedang dilandang kemelut Perang Diponegoro. Percikan api perang itu ditakutkan menyambar sampai ke pecinan Semarang. Guna mengamankan pecinan, setiap jalan masuk ke pecinan dibangun pintu gerbang yang dijaga setiap malamnya. Kemudian penduduk pecinan dikejutkan dengan sebuah kabar bahwa ada sekawanan bersenjata yang hendak bergerak ke Semarang. Sontak saja, banyak toko yang ditutup dan laki-laki dewasa mulai bersiaga. Perempuan dan anak-anak dikumpulkan di kelenteng Tay Kak Sie. Agar tak menderita akibat penganiayaan, mereka sudah siap mengorbankan raganya untuk dibakar hidup-hidup di halaman kelenteng “ sehingga jika mereka dibakar di situ, niscaya roh mereka mendapat perlindungan “. Belakangan, kawanan bersenjata itu tak menunjukan batang hidungnya di Semarang. Hingga akhir perang, pecinan Semarang tak terjamah oleh perang walaupun demikian penduduk pecinan sudah terlanjur hidup di bawah bayang-bayang ketakutan.
Bagian depan Kong Tik Soe, dulunya tempat para dewan kongkoan bertemu. 
Orang akan menyangka, bangunan yang bersanding dengan kelenteng Tay Kak Sie itu merupakan sebuah kelenteng, padahal tidak demikian. Bangunan itu secara kasat mata memang sama persis  dengan bangunan kelenteng. Namun apabila melangkahkan kaki ke dalam, alih-alih altar dewa, kita justru menjumpai satu rak penuh bilah kayu yang bertuliskan nama leluhur yang disebut shen wei atau sin-ci. Bangunan yang dikenal dengan nama Kong Tik Soe itu dibangun pada tahun 1845, bersamaan dengan perbaikan kelenteng Tay Kak Sie oleh para dermawan Tionghoa di Jawa Tengah. Maksud bangunan itu dibangun ialah untuk tempat pertemuan kongkoan yang baru. Kongkoan merupakan semacam dewan yang mengatur segala perkara kehidupan masyarakat di lingkungan pecinan yang semula ditangani oleh seorang kapitan. Kongkoan di Semarang ini sebenarnya sudah ada tahun 1835, namun baru disahkan oleh pemerintah kolonial tahun 1885. Pemerintah kolonial menjadikan kongkoan sebagai kepanjangan tangan mereka untuk mengurus orang-orang Tionghoa sebagaimana mereka memanfaatkan bupati untuk mengatur orang pribumi. Perkara yang ditangani kongkoan meliputi pajak, undang-undang, perkawinan, kelahiran, dan sejenisnya. Di gedung Kong Tik Soe itulah, orang-orang Tionghoa yang sedang menghadapi suatu perkara dapat mengadu kepada kongkoan untuk diselesaikan dan Dewan Kongkoan bersidang 3( Liem, 1931 ; 124-132 ).
Kediaman Be Biauw Tjoan. Beranda depan terlihat menggunakan kolom-kolom Yunani, pengaruh dari arsitetkur Indis ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Lamunan saya berakhir bersamaan dengan redanya hujan. Dari kelenteng Siu Hok Bio, saya memutuskan berpindah ke kampung Sebandaran yang ada di seberang sungai. Di seberang sungai, pernah berdiri rumah megah milik Kapitan Be Biauw Tjoan. Ia merupakan putra dari Kapiten Be Ing Tjioe. Orang Semarang menjuluki Be Ing Tjioe sebagai kapiten Bagelen, karena ia pernah menjadi kapiten di Purworejo ( yang kala itu masih dikenal dengan nama Bagelen ). Kediamannya menjulang laksana istana, menjadikannya bangunan termegah dan terindah di pecinan Semarang. Raja Siam, Chulalongkorn pernah bertamu di kediamannya. Sayang, kemegahan bangunan itu tak bisa disaksikan lagi. Bangunan itu sudah lama lenyap dan di lokasi yang sama kini berdiri Gereja Katolik Kebon Dalem.
Kali Semarang tahun 1900an. Kebanyakan ruko-ruko di Pecinan Semarang dibangun membelakangi sungai.
Saya menyeberangi jembatan yang membentang di atas Sungai Semarang yang dangkal dan berair keruh itu. Kondisinya sangat kontras  dengan dua ratus tahun silam. Kala itu, Sungai Semarang masih cukup dalam, sehingga masih dapat dilewati perahu. Sungai ini tak hanya dipakai untuk saran pengangkutan saja, namun juga sebagai tempat pesiar. Orang-orang yang mampu berpesiar dengan menumpang perahu yang telah dihias begitu elok. Sambil berlayar, mereka ditemani oleh penari dan diiringi dengan orkes musik  Tionghoa. Namun pemandangan itu sudah tak terlihat lagi semenjak dibangunnya Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Debit air jauhberkurang, sehingga sungai menjadi dangkal dan tak lagi dapat dilalui perahu. Kini, satu-satunya benda yang dapat berlayar di Sungai Semarang hanyalah sampah-sampah domestik saja.
Kelenteng See Hok Kiong.
Di kampung Sebandaran, saya menjumpai dua kelenteng yang kemegahannya mungkin melampaui Tay Kak Sie. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Kelenteng See Hok Kiong yang dibangun tahun 1881. Klenteng ini selain merupakan tempat penghormatan untuk Dewi Samudra / Tian Shang Sheng Mu juga berfugsi sebahai rumah abu maga Liem/ Lin. Alih-alih dicat warna merah emas seperti kelenteng lain, kelenteng itu masih mempertahankan warna aslinya yang coklat suram. Jika menilik jumlah anak tangganya, hirarki kelenteng yang ini cukup tinggi. Kendati demikian, ia tak seramai kelenteng Tay Kak Sie, apalagi Sam Poo Kong lantaran letaknya yang  tersembunyi di sebuah jalan kecil sehingga tak banyak orang yang mengetahuinya.
Rumah tua di Wotgandul. Masih berada di dalam lingkungan Pecinan, rumah ini terlihat unik karena menonjolkan arsitektur Indis ketimbang arsitektur Tionghoa yang banyak terlihat pada bangunan di Pecinan.
Lawatan saya di pecinan Semarang saya tuntaskan di hadapan sebuah rumah tua di Wotgandul yang masih terawatt dengan baik. Dengan kolom-kolom art deco di beranda depannya dan kolom klasik di balkonnya, rumah itu amatlah unik karena langgam kolonial terlihat lebih menonjol ketimbang langgam Tionghoanya. Atap pelananya dipermanis dengan hiasan kemucak yang dikenal sebagai geveltoppen. Saya beruntung dapat berjumpa dengan Bapak Basuki, pemilik dan penghuni rumah itu. Sehari-hari, ia berdagang biji kopi mentah di samping rumahnya. Dengan bersemangat, ia bertutur panjang lebar bagaimana ikhtiarnya untuk melestarikan bangunan peninggalan leluhurnya. “ Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikannya ? “, tegasnya. Saya kagum dengan semangat Bapak Basuki ini, semangat yang sepantasnya tertanam di sanubari para pemilik bangunan cagar budaya. Saking asyiknya berbincang dengan Bapak Basuki, saya tak sadar kalau sore sudah berganti malam.

Usai berpamitan, saya berjalan menyusuri jalanan pecinan yang kini telah dipenuhi para pedagang kaki lima. Di bawah bayang-bayang langit malam yang gelap tanpa bintang, saya berandai-andai jika semua penduduk pecinan ini memiliki semangat seperti Bapak Basuki,  tentu Pecinan Semarang kilau pesonanya akan sepadan dengan pecinan Malaka yang kini telah menjadi Warisan Dunia. Sayang, keruhnya Sungai Semarang yang meliuk di tepiannya sepertinya menggambarkan nasib pecinan Semarang hari ini.

Referensi
Brommer dkk. 1995. Semarang, Beeld van een stad. Purmerend : Asia Maior.


Handinoto. 1999. " Lingkungan "Pecinan " dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial " dalam Dimensi Teknik Sipil Vol. 27, no.1 Juli 1999.

Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij

Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Widodo. J. 2000. " Bangunan Toko dan Kelenteng " dalam Indonesian Heritage : Arsitektur. Jakarta : PT. Widyadara.

Minggu, 03 September 2017

Selidik Jejak Kerkhof-Kerkhof di Pelosok Perkampungan di Klaten

Pada mulanya, tak banyak orang yang mengira, bahwa di sebagian pelosok perkampungan di Kabupaten Klaten, tersempil jejak-jejak kerkhof atau makam Belanda yang masih dapat dijumpai. Inilah tulisan saya di Jejak Kolonial mengenai ikhtiar menyelediki jejak-jejak yang terlupakan tersebut.
Letak kerkhof Ceper ( dalam lingkaran merah ) pada peta tahun 1925. Sumber : maps.library.leiden.edu.
Lawatan kerkhof di Klaten yang pertama ialah di sebuah kerkhof yang terletak tidak begitu jauh dari PG Ceper, sebuah pabrik gula yang kini menyandang gelar almarhum. Kerkhof itu saya temukan ketika saya sedang mahsyuk menerawang pola tata ruang PG Ceper yang tergambar cukup detail pada sebuah peta topografi. Secara tak sengaja, mata saya menangkap seberkas simbol salib kecil yang terpampang di sebelah atas area PG Ceper. Ya, simbol tersebut tak lain ialah simbol dari sebuah permakaman Belanda.
Gerbang kerkhof Ceper.
Tak lama kemudian, saya menyambangi lokasi kerkhof tadi. Sesampainya di tempat, sebuah plengkung gerbang tua  menyambut kedatangan saya. Sayapun bergegas melangkah masuk melewati gerbang itu untuk menguak jeroan kerkhof itu. Sayang beribu sayang, begitu langkah kaki ini semakin masuk ke dalam, harapan saya dapat menjumpai makam – makam monumental di kerkhof itu segera pupus. Apa yang saya dapati hanyalah seonggok makam remuk yang rasanya mustahil untuk dikenali lagi. Penasaran apakah masih ada makam lainnya di sini, saya berusaha mencari makam lain. Namun usaha saya tadi sia-sia belaka. Tiada makam lain lagi di situ.
Satu-satunya makam yang tersisa di kerkhof Ceper.
Sebelum saya beranjak meninggalkan tempat itu, saya bersua dengan seorang warga yang sedari tadi mencari rumput di sekitar kerkhof itu. Berbagai pertanyan seputar sejarah permakaman langsung saya todongkan pada warga tadi. “Sejak saya kecil ya kondisinya sudah seperti ini mas” tutur warga yang sepertinya berusia empat puluhan tahun itu. “Jadi saya tidak tahu persis siapa yang dimakamkan di sini”, sambungnya. “ Tapi, kalau mas nya mau mencari makam Belanda…”, beliau seperti ingin memberi tahu sesuatu pada saya “ Coba saja cari di pemakaman umum di dekat sini. Kalau dari sini jalan ke timur sampai ketemu pertigaaan yang keempat. Lalu belok ke kanan. Nah, nanti pintu masuknya ada di ujung jalan”, jelasnya sambil memberi petunjuk jalan pada saya. Penasaran dengan perkataan warga tadi, saya lantas menuju makam yang dimaksud warga tadi.
Makam Belanda di tengah makam lokal.
Sebuah makam tua yang batu prasastinya rusak.
Apa yang dikatakan warga tadi benar adanya. Setibanya di lokasi pemakaman umum yang dimaksud, saya menemukan makam Belanda yang jumlahnya lebih dari satu. Namun anehnya, makam Belanda itu tergeletak tengah-tengah pemakaman pribumi yang di peta topografi lama disimbolkan dalam bentuk bulan sabit. Inilah kali pertama saya mendapati hal tersebut. Makam-makam Belanda itu nyaris luput dari perhatian saya jika saja saya tak bertemu dengan warga tadi.
Makam Alexander Portier.

Dari berbagai makam yang ada, ada sebuah makam yang berhasil mencuri perhatian saya. Bukan dari segi ukuran atau keindahannya yang membuat saya tertarik. Makam itu ukurannya setidaknya hanya sebesar kotak mainan dan ornamen yang terlihat hanyalah pahatan berwujud tengkorak, simbol dari kematian. Namun hal yang benar-benar membuat saya tertarik pada makam itu ialah pada pilhan bahasa yang digunakan pada makam itu…
Aksara Arab Pegon pada makam A. Portier.
Aksara Jawa Baru pada makam A. Portier.
Lazimnya, makam-makam Belanda memakai satu jenis bahasa saja, yakni bahasa Belanda. Namun di makam milik Alexander Portier itu, ia ternyata menggunakan dua bahasa dan tiga jenis aksara dalam epitafnya, yakni bahasa Belanda beraksara Latin dan bahasa Jawa dengan aksara Jawa Baru dan Arab Pegon. Oleh sebab itulah, saya menjuluki makam ini sebagai sebuah makam polyglot.
Letak kerkhof Wonosari ( dalam lingkaran merah ) pada peta topografi tahun 1925. Sumber : maps.library.leiden.edu
Dari Kerkhof Ceper, saya beranjak ke sebuah kerkhof yang terletak di Wonosari, Klaten. Sebagaimana kerkhof di Ceper tadi, kerkhof ini juga saya temukan secara tidak sengaja ketika sedang mengamati peta topografi tinggalan Belanda. Sesampainya di lokasi, saya menjumpai semacam struktur pagar tua yang tampaknya dulu pernah berdiri mengelilingi kompleks kerkhof.
Tembok kerkhof Wonosari.
Di kerkhof yang terletak di sepetak kebun yang dikeliling sawah itu, makam yang saya temukan hanyalah sebuah makam renta yang berbentuk menyerupai sebuah monumen kecil. Kendati mulai remuk, keantikan dari makam itu belum sepenuhnya hilang. Sayang, saya tak dapat menemukan petunjuk apapun perihal siapa yang dimakamkan di situ. Akhirnya saya berasumsi bahwa kerkhof ini merupakan makam dari salah satu keluarga pembesar PG Wonosari karena kebetulan lokasi pabrik, dimana di sekitarnya pernah ada tanda-tanda permukiman orang Belanda, berada lumayan dekat dengan makam ini. Sayapun kemudian mencoba menyisir area sekitar makam itu, tapi ternyata hasilnya nihil. Ingin bertanya dengan warga juga percuma karena di sekitar makam tiada satupun batang hidung yang terlihat. Asa saya akhirnya pupus dan segera saja saya meninggalkan lokasi dengan sejumput kekecewaan di hati.
Satunya makam Belanda yang tersisa di Kerkhof Wonosari.
Beberapa saat kemudian, kawan saya bernama Surya yang kebetulan tinggal di dekat Wonosari memberi tahu saya bahwa tak jauh dari makam yang saya temukan di Wonosari tadi, ada jejak-jejak makam Belanda yang masih tergeletak utuh di tengah permakaman umum. Tak menunggu lama, saya segera berangkat ke lokasi yang dimaksud kawan saya.
Makam-makam tua.
Tiba di lokasi, mata saya langsung menangkap beberapa benda yang terlihat amat mencolok di tengah kijing-kijing baru. Benda itu seperti sebuah kubus kecil dengan atap berbentuk pyramid. Ya, benda itu tak lain dan tak bukan adalah makam dari zaman Belanda.

Makam Johannes N. De Bruijn.
Salah satu makam yang saya temukan merupakan makam dari seorang pria Belanda bernama Johannes-Nicolaas De Bruijn, lahir di Semarang tahun 1810 dan meninggal di Gawok tahun 1868. Selain makam tadi, di sini ditemukan pula beberapa makam anggota keluarga Breton van Groll, antara lain Gerardien Nicolien Breton van Groll, Albertien Louise Breton van Groll, Gustaaf Adolf Adriaan Breton van Groll, Rosalie Adolphie Breton van Groll, Henri Gerardus Adolf Breton van Groll dan Theodora Breton van Groll ,yang sebelum menikah bernama Theodora De Bruijn. Dari marga kecilnya, sepertinya Theodora masih berkerabat dengan Johannes-Nicolaas De Bruijn. Menariknya ialah hampir semua anggota keluarga Breton van Groll lahir di Gawok, Klaten.
Makam Breton van Groll bersaudari.
Obituari Albertiene Louise van Groll yang dimuat di harian De Locomotie taanggal 2 Oktober 1877.
Saya kemudian bertemu dengan seorang perempuan dewasa yang baru saja membersihkan sebuah makam. “ Masih ada keluarga yang menziarahinya kok mas”, jawab ibu itu sesudah saya mengajukan pertanyaan seputar makam keluarga Breton van Groll itu. “ Itu lihat mas, prasastinya saja baru saja diganti”, jabarnya sambil menujukan saya sebuah makam yang prasastinya telah diganti dengan batu granit baru. Makam itu merupakan tempat perisitirahatan terakhir Henri Gerardus Adolf Breton van Groll, meninggal tahun 1943. Usia makam itu relatif lebih muda dibandingkan makam lain. Tepat di sampingnya, terbaring makam seorang perempuan Jawa. Sarinah namanya, lahir tahun 1893 di Kopen dan meninggal tahun 1946 di Gondangsari, Klaten. Dari kedua makam itu, setidaknya saya berhasil melacak jejak-jejak keluarga Indo tempo dulu.
Makam Theodora Breton van Groll ( terlahir Theodora de Bruijn ).
“Waktu saya kecil dulu, saya sering bermain pasaran di bawah cungkup makam itu“, kenang ibu itu. Cungkup yang dimaksud ibu tadi sudah hilang. “ Dulu makam-makamnya dilapisi marmer putih, tapi saya tidak tahu hilang ke mana marmer-marmer putih itu “. Sebelum pamit, ibu itu tidak lupa menitip pesan kepada saya agar datang ke sini lagi suatu hari nanti untuk menengok makam itu kembali….

Seperti itulah rupa kerkhof-kerkhof yang berhasil saya temukan di pelosok perkampungan Klaten. Berbagai kerkhof-kerkhof tadi setidaknya membuktikan bahwa kehadiran orang-orang Belanda di Indonesia tak hanya terpusat di kota saja, namun adakalanya mereka tinggal di pelosok desa. Dari kerkhof-kerkhof itu, saya setidaknya mendapat pengetahuan baru bahwa tidak semua makam Belanda tercantum di peta topografi lama. Kadangkala makam-makam itu bisa terselip bersama dengan makam-makam biasa. Hal ini semakin memacu saya untuk mengungkap lebih banyak kerkhof yang siapa tahu masih tersembunyi di suatu tempat…

Sabtu, 05 Agustus 2017

Benteng Karangbolong : Satu-satunya Benteng “Menara Napoleon“ di Indonesia

Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai Benteng Klingker, maka benteng di Nusakambangan yang selanjutnya akan kita sambangi adalah Benteng Karangbolong yang terletak di ujung pulau. Untuk menuju ke sini, kita harus naik perahu kembali dari Benteng Klingker karena belum ada jalan penghubung benteng Klingker dengan benteng Karangbolong. Perjalanan dengan perahu memakan waktu kira-kira 15 menit. Dari bibir pantai tempat bersandarnya perahu, kita masih berjalan kaki lagi, menyusuri jalan yang masih berupa tanah, naik turun lembah, dan menyeberangi sungai.
Gerbang masuk ke area Benteng Karangbolong.
Setelah sampai di lokasi benteng kita akan disambut sebuah bangunan dengan pintu besar yang nyaris tertelan pohon-pohon besar seperti halnya Benteng Klingker. Tapi tunggu dulu, ini bukanlah bangunan utama benteng Karangbolong, melainkan ini hanyalah bangunan rumah gerbangnya saja. Memasuki bagian dalam, bangunan berbentuk persegi panjang ini memiliki ruangan yang ternyata berbentuk setengah lingkaran. Di samping terowongan masuk, terdapat sebuah ruangan untuk ruang jaga. Selanjutnya di sebelah bangunan tadi, terdapat sebuah dinding bata yang dahulu merupakan bastion dari benteng ini.
Sumuran yang berfungsi sebagai lubang ventilasi.
Dari bangunan gerbang, kita berjalan agak naik, melewati jurang yang cukup dalam. Nah, sampai di ujung jalan, kita akan disambut dengan bangunan utama Benteng Karangbolong yang juga sudah dirambati oleh pohon besar dan akar tanaman liar. Berbeda dengan Benteng Klingker yang berbentuk lingkaran, Benteng Karangbolong memiliki bentuk persegi dengan keempat sudut yang sedikit melengkung. Di dekat benteng, kita dapat menjumpai dua sumuran yang sempit dan dalam. Sialnya, bibir sumuran ini cukup rendah, sehingga saya menyarankan agar untuk lebih berhati-hati terutama jika membawa anak kecil yang resiko jatuh ke dalam sumuran lebih besar. Lalu sumuran apa tadi sebenarnya ?
Tampak luar benteng dengan bekas pintu masuknya.
Memasuki bagian dalam benteng, kita harus menuruni parit lebar nan dalam yang mengelilingi benteng. Sama halnya dengan Benteng Klingker, bagian dalam benteng juga dibuat melengkung untuk menahan konstruksi. Nah, dari sisa tempat penyangga, benteng ini aslinya memiliki dua lantai. Jadi dahulu, bagian lantai satu benteng aslinya terbuat dari kayu dan benteng ini dahulunya memiliki sebuah jembatan yang terhubung dengan bagian lantai satu. Nah, tempat kita berdiri sekarang sebenarnya merupakan bagian basement benteng.
Bagian dalam benteng.
Dari bagian “basement”, terdapat sebuah lorong yang akan membawa kita ke ruang bawah tanah benteng. Lorong ini sangat gelap karena tidak ada pencahayaan di dalam, sehingga alangkah lebih baik untuk membawa senter. Meskipun gelap, namun udara di dalam lorong cukup sejuk. Menuruni undakan lorong, tepat di dekat belokan terdapat sebuah ruangan cukup besar. Agar ruangan ini memiliki jalur masuk keluar udara, maka dibangunlah sumuran yang baru saja kita lihat tadi. Jadi, meskipun berada di bawah tanah, hawa di dalam ruangan terasa sejuk. Di ujung lorong, terdapat terowongan dengan ruangan-ruangan di sebelah kanan-kiri. Pada salah satu ruang yang berukuran cukup besar, terdapat banyak kelelawar yang bergelantungan di langit-langit dan bagian lantai sudah terendap dengan timbunan kotoran kelelawar yang entah sudah berapa lama menjadi penghuni di benteng ini.
Pintu masuk ke ruang bawah tanah.
Terowongan bawah tanah.
Jika Benteng Klingker merupakan jenis benteng Martello Tower, lalu Benteng Karangbolong termasuk jenis benteng apa ? Nah, Benteng Karangbolong merupakan jenis benteng yang unik dan satu-satunya yang pernah dibangun Belanda di Indonesia. Jenis benteng ini mungkin terdengar, yakni jenis 1811 Model-Tower atau lebih dikenal sebagai Napoleon Tower ( Menara Napoleon )  ( Tim Penyusun, 2012 : 142 ). Lalu apa itu sebenarnya Napoleon Tower ? Napoleon Tower ialah sebutan bagi benteng-benteng pantai yang didirikan atas perintah Napoleon Bonaparte, sang penakluk dari Perancis, pada tahun 1811. Napoleon meminta untuk membangun benteng-benteng pantai di sepanjang garis pantai utara Perancis untuk membendung invasi musuh Napoleon yang cukup banyak. Perbedaan dengan benteng-benteng pantai sebelumnya ialah, bagian gudang makanan, amunisi, barak, dan tempat menembak yang sebelumnya terpisah kini dijadikan dalam satu bangunan tunggal. Dengan disatukannya bangunan-bangunan tadi, maka diharapkan musuk akan semakin sulit untuk menjatuhkan pertahanan benteng. Jenis benteng ini dapat dikomparasikan dengan jenis Martello Tower yang dikembangkan oleh Inggris, musuh bebuyutan Napoleon di seberang lautan. Setelah kekuasaan Napoleon jatuh, jenis benteng Napoleon Tower dikembangkan oleh Louis-Phillipe dan menjadi standar benteng pantai di Perancis (https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type ).
Contoh benteng model Napoleon Tower ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Benteng Pengawas Pantai
Gubernur Jenderal Van den Bosch, nama ini mungkin kita kenal sebagai pemrakarsa sistem tanam paksa yang cukup menyiksa. Tapi siapa sangka jia dia adalah figur dibalik pembangunan benteng ini. Di masa pemerintahannya, dia memberi perintah untuk mendirikan berbagai benteng baru di kota-kota penting seperti Batavia, Semarang, dan Suarabaya dan Cilacap. Mengapa Cilacap dipandang penting ? Cilacap pada waktu itu merupakan akses satu-satunya pemerintah kolonial Belanda seandainya Pulau Jawa sudah dikuasai oleh musuh karena tidak ada satupun kapal yang mampu memblokade Cilacap karena gelombangnya besar. Meskipun demikian, kapal perang masih bisa menembus perairan muara. Oleh karena itu sebagai upaya untuk mencegah kapal-kapal musuh memasuki perairan Cilacap dan mengawasi pelayaran, dibangunlah benteng di Pulau Nusakambangan ( Abbas, 1996 ; 51 ). Benteng yang pertama didirikan ialah Benteng Karangbolong yang posisinya di ujung timur pulau. Dari posisi ini, musuh sulit mendaratkan pasukan karena karakter pantainya yang curam. Untuk memperluas perimeter, dibangunlah benteng kedua, yakni Benteng Klingker yang sudah saya bahas pada tulisan sebelumnya. Bentuk Martello Tower dan Napoleon Tower dipilih karena jenis ini cocok untuk benteng pengawas pantai.
Letak Benteng Karangbolong pada peta Cilacap tahun 1944 ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Alih-alih dikalahkan oleh musuh dengan persenjataan kuat, serdadu yang berjaga di benteng justru dikalahkan oleh nyamuk yang membawa penyakit malaria. Satu persatu nyawa serdadu pun melayang dengan sia-sia dan militer Belanda akhirnya mengosongkan dua benteng yang ada di Nusakambangan. Selain itu, situasi politik di Eropa yang cenderung damai dan tidak mengancam keamanan Hindia-Belanda menjadi alasan militer Belanda untuk tidak memakai lagi Benteng Klingker, Karangbolong, dan Pendem Cilacap sebagai sarana pertahanan sejak tahun 1882. Pulau Nusakambangan kemudian ditetapkan sebagai pulau penjara dan cagar alam dan benteng-benteng di Nusakambangan mulai terlupakan keberadaanya selama puluhan tahun  ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).
Seorang prajurit Belanda yang sedang mengecek salah satu meriam yang baru saja dirusakkan ( sumber : media-kitlv.nl ).
Singkat cerita, setelah sekian lama mati suri, benteng ini dihidupkan kembali oleh pemilik barunya, Jepang. Kali ini benteng diperkuat dengan teknologi pertahanan yang lebih modern, yakni redoubt dari cor beton dan meriam yang kalibernya lebih besar. Selanjutnya setelah Indonesia merdeka, TNI sempat menduduki benteng ini bahkan pada tahun 1946, sebuah kapal perang Belanda ditenggelamkan oleh meriam dari benteng ini. Sebagai balasan, benteng ini dibombardir dari udara dan laut oleh militer Belanda dan akhrinya berhasil direbut oleh prajurit marinir Belanda ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).
Seonggok meriam yang masih tergeletak di tempatnya.
Begitulah cerita dari saya mengenai Benteng Karangbolong, sebuah benteng di Pulau Nusakambangan yang dahulu berdiri angkuh mengawasi perairan Cilacap dan kini merana dalam kesendiriannya di sebuah pulau yang sunyi. Seandainya Benteng Karangbolong dapat berbicara, mungkin hanya ada satu pertanyaan yang akan saya tanyakan pada benteng ini, “ Sampai kapan kamu akan berdiri ? “..

Referensi
Abbas, Novida. 1996. “ Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad XVII-XIX di Jawa Tengah “ dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04-TH II/1996.

Oktaviadi, Abrianto. 2008. “ Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Setelah Abad ke-20 Masehi “ dalam Yulianto,Kresno. Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.


Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type