Rabu, 19 Juli 2017

Gedung Volkstheater Sobokartti, Gedung Teater Citarasa Jawa



Kota Semarang menyimpan banyak sekali gedung yang menjadi Cagar Budaya selain gedung Lawangsewu dan gedung-gedung di Kota Lama Semarang. Salah  satu gedung Cagar Budaya di Semarang yang sayangnya banyak dilewatkan orang adalah Gedung Volkstheater Sobokartti. Bangunan ini  memiliki arsitektur unik dan cerita yang menarik. Seperti apa keunikan dan cerita dibaliknya ?

Berawal dari Perkumpulan Kesenian
Gagasan mendirikan Gedung Sobokartti berawal dari kesadaran-kesadaran baru yang timbul di Keraton-keraton Jawa. Salah satu bentuk kesadaran baru itu ialah demokratisasi kesenian. Sebelumnya, beberapa pertunjukan kesenian hanya bisa ditampilkan ekskelusif di dalam tembok keraton saja dan merupakan pantangan bagi orang biasa untuk melihat dan mempelajarinya. Akhirnya pada tahun 1918, dibentuklah perkumpulan Kridha Beksa Wirama di Yogyakarta yang mengijinkan kesenian yang semula ekslusif itu untuk diajarkan dan digelar di luar dinding keraton.
K.G.P.A.A. Mangkunegara VII, pendiri sekaligus pendukung perkumupulan seni Sobokartti ( Sumber : commons.wikipedia.org ).
Thomas Karsten dan keluarga. Thomas Karsten merupakan salah satu perintis yang membentuk perkumpulan seni Sobokartti ( Sumber : sobokartti.wordpress.com ).
Di Semarang pada tanggal 6 September 1929 dibentuk sebuah perkumpulan kesenian bernama Sabhakirti atau Sobokartti atau Kunstvereenging Sobokartti. Perkumpulan ini dibentuk oleh beberapa orang, antara lain Walikota/burgemeester Semarang yaitu Ir de Jonghe, Bupati Semarang RMAA Purbaningrat, Keraton Surakarta yang diwakili oleh GPH Kusumayudha, serta pemimpin surat kabar De Locomotief. Tujuan dibentuknya Kunstvereenging Sobokartti ialah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian bangsanya sendiri.
Maket rancangan awal gedung Sobokartti ( Sumber : http://www.kompasiana.com/purwanti_asih_anna_levi/gedung-sobokartti-tonggak-demokratisasi-seni_54f3640c745513972b6c7371 ).
Masa awal dibentuk Sobokartti, kegiatan-kegiatan masih menumpang di gedung paseban Kabupaten Semarang dan di Stadstuin. Baru pada tahun 1930, perkumpulan Sobokartti berhasil mendirikan sebuah gedung permanen sebagai tempat dimana mereka nantinya bisa melatih dan menampilkan kesenian Jawa. Gedung itu sendiri dirancang oleh Ir, Thomas Karsten dengan memadukan arsitektur gedung teater barat dengan arsitektur tradisional Jawa. Awalnya gedung ini akan dirancang dalam ukuran cukup besar, namun karena keterbatasan dana akhirnya gedung yang terwujud lebih kecil seperti yang terlihat sekarang.


Gedung Sobokartti yang terlihat lebih tinggi daripada sekarang. Karena sering diterjang banjir rob, maka tanah di sekitar Sobokartti akhirnya ditinggikan meskipun gedung Sobokartti sampai sekarang masih tergenang banjir rob. ( Sumber http://arsip.tembi.net/sites/default/files/styles/large/public/field/image/2015/09/1_16.jpg?itok=dv4hzdLO )
Sayangnya, kegiatan kesenian di Sobokartti sempat terhenti pada masa penjajahan Jepang. Oleh militer Jepang, gedung Sobokartti diduduki dan difunsikan sebagai markas. Pada Pertempuran 5 Hari, para pemuda pemberani berusaha melucuti senjata dari tentara Jepang. Dua belas pemuda gugur dan sampai tahun 1960 mereka dimakamkan di halaman gedung ini. Setelah penjajahan Jepang, kegiatan kesenian di Sobokarti dapat dipulihkan seperti semula.


Gedung Teater ala Jawa


Jangan membayangkan Gedung teater Sobokartti sebagai sebuah gedung teater bergaya barat yang mewah dan besar. Tidak! Meskipun merupakan sebuah gedung teater, namun wujud luar gedung ini justru lebih mengingatkan kita pada rumah tradisional Jawa. Selain itu, sekalipun gedung ini berada di pinggir jalan DR.Cipto yang ramai, namun tidak sedikit orang yang terkecoh ketika mencari gedung ini. Penyebabnya ialah orientasi gedung ini yang tidak menghadap ke arah jalan, melainkan menghadap ke selatan. Padahal jalan DR.Cipto merupakan jalan satu arah dari arah utara.
Tampak depan gedung Sobokartti.
Lalu mengapa gedung teater ini dirancang dalam gaya tradisional Jawa? Untuk mengetahuinya, kita harus mempelajari sejarah arsitektur di Indonesia pada paruh pertama abad ke 20. Masa ini ditandai dengan kedatangan arsitek profesional yang mendapatkan pendidikan ilmu arsitektur dari Belanda. Pada masa itu, para arsitek berusaha untuk mencari jatidiri bentuk arsitektur Hindia-Belanda yang baru setelah jenuh dengan gaya arsitektur klasik Eropa. Salah satu bentuk usaha pencarian jatidiri tersebut ialah dengan memadupadankan arsitektur Eropa modern dengan aristektur vernacular Nusantara yang disesuaikan dengan iklim, bahan bangunan, serta teknologi yang sedang berkembang. Proses ini menyebabkan terciptalah gaya arsitektur “Indo-European Style”. Nama-nama yang terkenal sebagai pelopor gaya arsitektur ini antara lain Henri Maclaine Pont dan Thomas Karsten ( Handinoto, 2012; 88-89 ). Sebagai pelopor gaya arsitektur “Indo-European Style” dan penggemar budaya Jawa, tentu saja Karsten tidak akan menciptakan sebuah gedung teater bergaya barat untuk pertunjukan kesenian Jawa. Pertunjukan kesenian Jawa idealnya juga harus ditampilkan dalam bangunan bergaya Jawa. Namun selama ini, pementasan kesenian tradisional Jawa diadakan di pendopo yang ke tengah semakin tinggi, sehingga penonton di belakang akan terhalang oleh penonton di depannya. Solusi cerdas Karsten untuk permasalahan ini dapat kita lihat nanti ketika memasuki bagian dalam gedung.
Bagian ruang depan.
Loket karcis.
Pintu masuk berbentuk seperti gerbang paduraksa.
Bagian depan Gedung Sobokartti merupakan ruang penerima yang mengingatkan kita pada beranda depan sebuah rumah tradisional Jawa. Ruang penerima ini berfungsi sebagai hall sebelum memasuki ruang pertunjukan. Di antara dua pintu masuk utama, terdapat ruang penjualan tiket dengan tiga loket dari kayu. Pintu masuknya tampil elegan dengan gaya khas Nusantara dengan bentuk seperti gerbang masuk pada sebuah candi.
Tiang-tiang soko guru dan bukaan atap sebagai sumber penghawaan dan pencahayaan dalam ruangan.
Panggung penampilan.
Memasuki ruang pertunjukan kita dibuat terkesan dengan keangguan interior bagian dalam yang menyerupai sebuah rumah Jawa. Tiang sokoguru sebagai salah satu elemen utama konstruksi bangunan tradisional Jawa menopang atap utama bangunan ini. Untuk memberikan penerangan dan penghawaan secara natural, maka seluruh sisi dinding ( kecuali sisi utara ) dan atap bangunan diberi bukaan lebar.
Dekorasi ventilasi. 
Meskipun bangunan ini sudah berusia lebih dari 80 tahun, namun bangunan masih tampak utuh dan kokoh. Ini menujukan bahwa dalam pembangunan gedung ini di masa lalu tidak hanya menekankan pada aspek keindahan ornamentasi semata, namun juga pada ketelitian perhitungan. Hanya bangunan yang dibuat dengan perhitungan yang benar dan jujur saja yang dapat berdiri lama seperti gedung Sobokartti ini.
Tempat duduk penonton yang semakin meninggi ke belakang.
Ruang kontrol dan panggung kecil yang terdapat di sebelah selatan.
Ketika diminta merancang sebuah gedung pertunjukan untuk kesenian Jawa, Thomas Karsten memikirkan bagaimana caranya agar seluruh penonton dapat menikmati pertunjukan. Solusi cerdas yang digunakan Karsten ialah dengan menggunakan konsep gedung teater ala Eropa. Akar konsep ini dapat ditelusuri pada zaman Yunani Kuno, ditandai dengan posisi tempat duduk yang semakin belakang  semakin meninggi. Pengaturan ini menyebabkan penonton di belakang dapat melihat pertunjukan tanpa terhalang penonton di bagian depan. Di gedung Sobokartti, konsep ini dapat kita lihat pada posisi tempat duduk penonton yang semakin meninggi ke belakang. Sementara itu bagian tengah gedung merupakan stage tempat pentas para pemain sebagai obyek utama tontonan. Berdasar denah yang ada, gedung Sobokartti termasuk gedung teater tipe thrust stage.
Pintu masuk ke bagian ruang pemain dengan bentuk seperti gerbang paduraksa, menambah kesan tradisional pada gedung Sobokartti.
Lambang perkumpulan Sobokartti Semarang.
Di sebelah utara, terdapat dinding yang memisahkan ruang pertunjukan dengan ruang pemain. Dinding ini didesain menyerupai seperti gerbang paduraksa yang dapat ditemukan pada keraton-keraton Jawa. Di atas gerbang terdapat potret  Pangeran Prangwadana ( kelak menjadi Mangkunegara VII ) dan Ir. Thomas Karsten, dua sosok yang berperan penting dalam Volkskunstvereeneging Sobokartti. Di balik dinding ini, terdapat ruang pemain, tempat dimana para pemain menyiapkan diri sebelum pentas.
Kegiatan pentas seni yang sering dipentaskan di gedung Sobokartti ( Sumber : sobokartti.wordpress.com ).
Ketika saya berkunjung ke gedung ini, suasana gedung terlihat sepi karena pada hari itu sedang tidak ada kegiatan. Ada beberapa kegiatan yang sering diadakan di sini, mulai dari latihan tari, karawitan, pedhalangan, pranatacara, dan membatik. Jika datang di waktu yang tepat, kita bisa menyaksikan anak-anak yang sedang berlatih tari sambil diiringi suara gamelan. Beberapa di antaranya masih satu keturunan dengan para pemain yang puluhan tahun silam tampil di Gedung Sobokartti. Mereka-pemain yang dahulu tampil di Sobokartti-tinggal di perkampungan dekat gedung ini. Yah, mungkin para pemainnya sudah beda generasi, namun setidaknya saya dapat membayangkan suara gamelan yang ditabuh adalah suara yang sama dengan yang ditabuh puluhan tahun silam di ruang yang sama. Semoga irama tersebut senantiasa mengisi gedung ini sebagai simbol pelestarian budaya Jawa yang adiluhung di tengah masifnya gempuran budaya modern.


Referensi

Handinoto, 2012, Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial, Yogyakarta; Graha Ilmu.

Tim Penyusun, 2014, Yang Tersisa dari Kolonial, Klaten; Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

sobokartti.wordpress.com

Rabu, 05 Juli 2017

Menyusuri Kembali Sisa Kejayaan PG Jenar, Pabrik Gula Pertama dan Terakhir di Purworejo

Mungkin tidak banyak masyarkat Purworejo, terutama generasi sekarang yang tahu bahwa Purworejo dahulu pernah memiliki sebuah pabrik gula besar yang dibangun oleh industrialis Belanda. Namanya PG Jenar. Minimnya literatur dan saksi-saksi sejarah yang mulai berkurang menjadikan sejarah PG ini nyaris terkubur oleh zaman. Jejak Kolonial kali ini akan mencoba untuk menyusur kembali sisa-sisa dari pabrik gula tersebut. Apa saja sisa-sisanya dan bagaimana latar belakang dibalik berdirinya PG Jenar ?

Rekam Sejarah PG Jenar
Depo lori PG Jenar yang terletak di ujung utara kompleks pabrik. Di sinilah tebu-tebu yang berasal dari berbagai penjuru Purworejo dikumpulkan untuk selanjutnya diolah. Sumber : troppenmuseum.nl
Tahun 1900an merupakan “era ke-emasan” pemerintahan kolonial di Nusantara. Satu persatu wilayah di Nusantara yang belum tunduk pada kekuasaan Belanda mulai dikuasai. Bidang perekonomian di Hindia-Belanda juga sedang mengalami gairah puncaknya. Jalur-jalur kereta mulai dibangun di seantero pulau Jawa, transportasi dari Eropa ke Hindia-Belanda dan sebaliknya semakin mudah berkat dibukanya Terusan Suez, diterapkannya liberalisasi ekonomi Hindia-Belanda memberikan kesempatan besar bagi para kapitalis untuk menanam modalnya di Hindia-Belanda. Waktu itu, usaha yang menjadi primadona ialah usaha perkebunan tebu.
Proses pembangunan depo lokomotif. Tampak emplasemen yang sudah terpasang rel. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses instalasi mesin sentrifugal. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses pendirian rangka bangunan pabrik. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin penggiling yang baru saja tiba. Sumber : troppenmuseum.nl
Jalan di kompleks perumahan pegawai pabrik yang sedang diperkeras. Sumber : troppenmuseum.nl
Dibandingkan dengan wilayah lain, keberadaan pabrik gula di Purworejo termasuk terlambat. PG Jenar baru mulai berdiri pada tahun 1910an. Bandingkan dengan PG Tasikmadu di Karanganyar yang dibangun tahun 1871 atau lebih tua lagi, PG Gondangwinangun di Klaten yang sudah berdiri sejak tahun 1860. Selain itu, PG Jenar juga merupakan satu-satunya pabrik gula yang pernah dibangun di Purworejo. Meskipun jumlahnya hanya satu tapi pabrik gula ini memiliki ladang tebu yang terhitung luas sekali.
Maket PG Jenar. Sumber : Indie.
Proses penggilingan tebu di PG Jenar. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin yang ada di dalam pabrik. Sumber : troppenmuseum.nl
Menurut arsip, PG Jenar dibangun oleh perusahaan “N.V. Suikeronderneming Poerworedjo” pada tahun 1909. Perusahaan tersebut dibentuk di Amsterdam pada tahun 1908 dengan modal sebesar 5 juta gulden. Lokasi PG dibangun di tempat yang cukup strategi, yakni berada di tidak jauh dari jalan raya Yogyakarta-Purworejo. Lokasi pabrik gula yang aslinya bernama “Suikerfabriek Poerworedjo” berada di Desa Plandi, Purwodadi. Namun karena berada di dekat Desa Jenar yang cukup populer pada waktu itu, maka orang-orang lebih mengenalnya sebagai PG Jenar.
Lokasi PG Jenar pada peta tahun 1920 ( simbol bangunan pabrik ). Sumber : maps.library.leiden.edu
Dikutip dari tulisan Pak Slamet Wijadi di http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/, disebutkan bahwa di setiap pabrik akan memulai menggiling tebu, diadakan sebuah tradisi yang dikenal sebagai cengbengan. Hampir semuah pabrik gula di Jawa memiliki tradisi seperti ini. Tujuannya supaya hasil gilingan melimpah dan tidak ada kecelakaan dan halangan selama proses penggilingan.
Bangunan kantor administrasi PG Jenar. Sumber : colonialarchitecture.eu.
Laboratorium PG Jenar. Tampak para pegawai laboratorium berasal dari kalangan bumiputera. Sumber : troppenmuseum.nl
Sekalipun PG Jenar memiliki keuntungan yang melimpah ruah, namun sebuah studi menunjukan bahwa dari sisi sosial dan ekonomi, PG Jenar tidak memberikan dampak positif di daerah Purworejo. Keuntungan hanya dinikmati oleh segelintir orang seperti orang Belanda sebagai pemilik modal dan orang Tionghoa sebagai pedagang perantara. Sementara itu penduduk sekitar hanya sebagai penonton dan paling banter hanya bisa menjadi petani tebu biasa. Dari segi sosial, PG Jenar juga tidak memberikan sumbangan konkrit untuk masyarkat sekitar. Berbeda sekali dengan PG Gondanglipuro yang dikelola oleh Schmutzer bersaudara, dimana mereka membuka banyak belasan sekolah, sebuah klinik, dan sebuah gereja untuk penduduk sekitar. Maka wajar saja jika PG Jenar mendapat karma yang akan menimpanya tidak lama lagi.
Kompleks perumahan pegawai PG Jenar dengan taman yang tertata rapi. Sumber : troppenmuseum.nl
Kompleks PG Jenar dilihat dari barat laut. Terlihat bangunan pabrik dan kompleks rumah pegawai. Di kejauhan, Perbukitan Menoreh terlihat samat. Sumber : troppenmuseum.nl
Berbagai macam bentuk rumah dinas pegawai PG Jenar yang dirancang dalam bentuk arsitektur Indis. Sumber : troppenmuseum.nl
Tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa salah satu Pahlawan Revolusi kebanggan orang Purworejo, Jenderal A.Yani lahir di lingkungan PG Jenar. Jenderal Achmad Yani yang lahir pada tanggal 19 Juni 1922 merupakan putra dari seorang supir untuk pemilik PG Jenar. Namun tidak lama kemudian, beliau pindah ke Desa Rendeng di Gebang dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di sana. Ya, satu lagi fakta sejarah dari PG Jenar yang mulai terkuak. Sayangnya, rumah kelahiran sang Jenderal sudah tidak ada lagi tapaknya.
Bangunan PG Jenar dilihat dari sebelah timur. Sumber : troppenmuseum.nl
Bangunan pabrik dilihat dari sebelah barat. Sumber : troppenmuseum.nl
Ketika industri gula di Jawa sedang berada di masa-masa puncaknya, tiba-tiba terjadi sebuah guncangan hebat yang menjadikan hampir semua PG di Jawa nasibnya berada di ujung tanduk. Guncangan itu asalnya bukan dari Jawa, melainkan dari ribuan kilometer jauhnya dari PG Jenar, tepatnya di Gedung Bursa Wallstreet New York. Oktober 1929, Bursa saham Wallstreet ambruk. Arus globalisasi yang sudah terasa pada waktu itu menjadikan krisis ini menjalar ke penjuru dunia. Sejalan dengan krisis itu, permintaan gula anjlog padahal suplai gula dari Jawa bisa dikatakan lebih dari cukup. Kenyataan pahit ini memaksa diadakanya perjanjian Charbourne tahun 1931, dimana Jawa harus menurunkan produksi gulanya. Produksi turun, maka banyak pabrik gula yang tentu harus ditutup atau dilikudiasi dan salah satunya adalah PG Jenar. Tahun 1932, PG Jenar mulai menunjukan tanda-tanda kematiannya dan setahun kemudian, PG Jenar akhrinya benar-benar mati. Berakhirlah sudah episode PG Jenar. PG yang meninggal di usia yang masih muda. Sementara itu, beberapa PG lain yang usianya jauh lebih tua dari PG Jenar malah ada yang masih bisa bertahan sampai sekarang.

Lalu bagaimana nasib PG Jenar setelah ditutup ? Semua bangunan PG diratakan dan nyaris tiada yang tersisa. Lahan parbrik dan rumah dinas dibeli oleh Johannes Cornelis Suzenaar, kemudian separo lahan PG dijual kepada Van Mook untuk lahan peternakan. Sebagian lahan PG kemudian dibangun menjadi penggilingan beras pada zaman Jepang.

Sisa-sisa
Di kebun-kebun tengah sawah itulah, pernah berdiri PG Jenar yang legendaris.
Butuh sedikit perjuangan untuk mengetahui dimana tepatnya lokasi PG Jenar berada karena peta topografi lama Purworejo yang saya temukan di internet kebanyakan berasal dari tahun 1905 kebawah. Sementara itu PG Jenar belum dibangun pada tahun itu dan alhasil, pada peta topografi Belanda PG Jenar belum tercantumkan. Padahal peta-peta topografi Belanda biasanya memetakan kompleks sebuah pabrik gula secara detail sehingga kita dapat mengetahui dimana persisnya lokasi pabrik gula serta pola tata ruangnya. Oleh karena itulah ketika pertama kali mengeksplorasi PG Jenar, saya sempat mengira jika bangunan pabrik tua di tengah sawah adalah lokasi PG Jenar berdiri. Untungnya, warga sekitar kemudian menunjukan kepada saya lokasi PG Jenar yang sebenarnya yang ternyata berada agak ke barat.
Peta PG Jenar saat ini. Keterangan; A. Lokasi bangunan pabrik gula ; B. Kompleks perumahan pegawai pabrik.
Lokasi dimana bangunan pabrik gula Jenar pernah bediri sekarang menjadi area kebun warga dengan beraneka ragam tanaman. Karena banyak pepohonan, kebun ini terasa gelap, lembab dan suasana cukup sepi. Kontras sekali dengan suasana ketika PG Jenar masih berdiri dimana kita mungkin bisa membayangkan dengungan suara-suara mesin pabrik yang berisik. Menurut warga lokal yang saya temui, bangunan pabrik ini sudah lama dibongkar, kira-kira sebelum penjajah Jepang masuk.
Sisa struktur beton di tengah kebun.
Bekas pondasi yang diduga merupakan kolam pembuangan limbah.
Struktur pondasi beton di tengah sawah.
Struktur pondasi dari sebuah platform dari baja.
Bekas pondasi yang cukup besar.
Bekas pondasi dari sebuah dinding yang sekarang menjadi pematang sawah.
Bagian yang diperkirakan menjadi lokasi cerobong pabrik.
Meskipun bangunan pabrik gula sudah tidak bisa dikenali, tapi jika telaten mengeksplorasi, kita dapat menemukan sebagian struktur bangunan dinding. Misalnya terdapat sebuah pondasi di tengah-tengah kebun, lalu tembok kolam air berbentuk persegi yang diperkirakan sebagai kolam pembuangan. Kemudian di tengah pematang sawah yang berlumpur juga terdapat beberapa pondasi dari beton seperti bekas pondasi stasiun gilingan. Ada pula pondasi dinding yang sudah menjadi jalan pematang sawah. Karena sebagian besar sisa-sisa pondasi PG Jenar berada di tengah persawahan, maka disarankan untuk mengeksplorasi PG Jenar setelah musim panen sehingga tidak perlu berlumpur-lumpur ria dan pondasi terlihat lebih jelas karena tidak tertutup oleh tanaman padi.
Bekas jalan lori menuju emplasemen lori.
Sungguh sulit dipahami bagaimana bangunan pabrik gula yang dahulu berdiri megah, kini sudah melebur bersama tanah, menjadi pekarangan dan persawahan warga sekitar. Tapi itulah kenyataanya. Imajinasi liar dari memori foto lama dan puing-puing yang tersisa tinggal menjadi satu-satunya cara untuk mengenang era keemasan PG ini, yang asapnya dahulu pernah mengepul di langit Purworejo.
Satu-satunya bangunan rumah dinas PG Jenar yang masih tersisa.
Namun apakah hanya itu saja yang tersisa dari PG Jenar ? Tentu saja tidak. Di sekitar PG Jenar, tepatnya di pinggir jalan masuk pabrik dari arah Jalan Jogja, terdapat sebuah rumah tua yang dari bentuk dan ukurannya jelas tidak dibangun pada masa sekarang. Halaman depannya cukup luas dengan pepohonan yang cukup rindang. Di puncak atap terdapat hiasan pion yang menjadi ciri khas rumah peninggalan Belanda. Saya beruntung bisa berkenalan dengan keluarga pemilik rumah yang ramah meski sudah memasuki usia senja. Rumah ini sendiri dibeli oleh Raden Tjokropawiro, kakek pemilik rumah pada tahun 1941 dari seorang Johannes Cornelis Suzenaar yang namanya sudah disebutkan di atas. Sebelum membeli rumah ini, Raden Tjokropawiro merupakan pegawai tambang emas di Redjang-Lebong, Bengkulu. Karena rumah ini sudah dibeli oleh orang, maka nasib rumah ini setidaknya bisa diselamatkan. Bandingkan dengan rumah-rumah dinas PG Jenar lainnya yang sudah terlanjru dibongkar dan nyaris tak berbekas selain pondasi-pondasi bata dan beton di tengah sawah.
Hiasan kaca patri di ruang tamu,
Rekonstruksi rumah kopel.
Arsitektur rumah ini sendiri tidak begitu mencolok, tapi masih terlihat sedap dipandang. Oleh karena itulah remaja sekitar biasanya sering berfoto ria di depan rumah ini. Bagian beranda depan sudah ditutup untuk tambahan ruang tamu. Dari ruang tamu terdapat ruang tengah dan ruang tidur yang memiliki langit-langit yang tinggi layaknya rumah dari zaman Belanda. Di samping rumah terdapat bangunan tambahan untuk garasi dan kamar tambahan. Aslinya rumah ini memiliki rumah kembaran di sebelahnya, yang dindingnya masih saling menempel. Namun kembaran rumah ini terlanjur dibongkar warga. Ya, semoga saja ruma tadi bisa dilestarikan karena hanya inilah satu-satunya warisan sejarah PG Jenar yang dapat kita nikmati saat ini.
Bekas railbed kereta besar dari arah Stasiun Jenar.
Pondasi jembatan di railbed.
Kemudian masih adakah sisa-sisa PG Jenar lainnya ? Ada. Tapi kita harus menyusurinya satu persatu. Sisa yang pertama ialah bekas railbed atau gundukan tanah untuk jalur kereta masuk ke pabrik yang terlihat jelas dari jalur kereta Kutoarjo-Yogyakarta. Adanya railbed ini menunjukan bahwa transportasi pengangkutan gula PG Jenar sudah terintegrasi dengan baik. Kereta yang hendak mengangkut gula tinggal mengikuti jalur yang sudah ada. Di gundukan tanah yang terlihat melengkung jika dilihat dari atas, kita bisa menemukan sisa pondasi jembatan kereta.
Jembatan tua di desa Pulutan, Ngombol.
Prasasti pada pagar jembatan.
Selanjutnya di Desa Pulutan, Ngombol terdapat sebuah jembatan tua kecil. Pada salah satu sisi jembatan, terdapat prasasti berbahasa Belanda yang berbunyi “ K.W. POELOETAN UITGEVORD DOOR DE SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925“. Jika diartikan, jembatan tersebut didirikan oleh perusahaan perkebunan gula Purworejo pada tahun 1925.
Bekas jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai jembatan bolong telu ( lubang tiga ) karena jembatan ini memiliki tiga plengkungan ( yang hanya nampak satu saja di foto ).
Bekas jembatan lori di tepi Kali Kedungputri yang tinggal satu sisi saja.
Ketika masih aktif, PG Jenar memiliki jaringan lori tebu yang sangat luas. Panjang jaringan mencapai 184 kilometer. Untuk mendukung jaringan lori yang sangat luas itu, PG Jenar memiliki armada lokomotif uap sebanyak 17 buah dan 1216 lori tebu.  Cukup sulit untuk menelusuri sejauh mana jaringan lori tersebut tersebar mengingat tiadanya data berupa peta jaringan lori. Namun diperkirakan jaringan lori PG Jenar mencapai hampir setengah wilayah kabupaten Purworejo. Untungnya, sebagian bukti-bukti fisik jalur lori tersebut dapat dilihat di beberapa desa di Purworejo. Misalnya jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip dan jembatan lori di tepi Kali Kedungputri, di area persawahan Kelurahan Pangen.

Demikianlah penelusuran mengenai sisa-sisa dari PG Jenar. Meskipun awalnya terlihat sedikit, namun apabila kita telusuri kembali satu persatu, ternyata masih banyak juga peninggalan yang tersisa dari PG Jenar, satu-satunya PG yang pernah berdiri di Purworejo dan PG terbesar di Karesidenan Kedu. Semoga penanda yang masih terlihat bisa dilestarikan sehingga generasi Purworejo sekaran dan di masa depan nanti dapat mengetahui bahwa di wilayahnya pernah berdiri sebuah pabrik gula… 

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Landsdrukkerij. Batavia.

http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/