Rabu, 18 April 2018

Benteng Pendem Cilacap, Benteng Terkuat di Hindia-Belanda

Sebuah kapal besar melintas di atas gelombang laut Cilacap, satu-satunya kota bandar yang terdapat di pantai selatan Jawa. Di sanalah ia hendak bersauh sebentar sebelum kembali berlayar ke bandar lain. Di ujung selatan kota bandar itu, terdapat sebuah benteng kuno peninggalan Belanda yang dengan tenang menyaksikan pergantian hari demi hari. Di masa kolonial, ia menyambut kapal-kapal yang hendak bertandang di Cilacap, di masa Perang Dunia Kedua, ia tak bisa berbuat apa-apa ketika bom-bom pesawat Jepang menghujam Cilacap, hari ini, ia menjadi salah satu daya tarik wisata di Cilacap. Benteng itu kini dikenal dengan nama Benteng Pendem Cilacap…
Benteng Pendem dilihat dari maps.google.com.
Suatu siang di bulan Juli tahun 2017, selepas dari Kerkhof Cilacap, saya dan rombongan Banjoemas Heritage bertandang ke Benteng Pendem Cilacap. Tidak seperti benteng pada umumnya, sejatinya tidak ada nama yang jelas untuk benteng ini. Sebutan yang dikenal sekarang merujuk pada struktur benteng yang sengaja dipendam tanah untuk menahan peluru artileri. Benteng Pendem sendiri dalam dokumen lama disebut Kustbatterij op De Lantong te Tjilatjap atau Benteng Pantai di Tanjung Cilacap.
Gambar rancang benteng Pendem berbentuk poligonal.
Benteng Pendem ( Fort ) diletakan di pintu gerbang pelabuhan untuk menghalau kapal usuh,
Berbicara tentang sejarah benteng ini, tentu masih ada persinggungan dengan nilai penting Cilacap di mata Belanda. Lama sebelum orang Eropa menginjakan kaki di Nusantara, bagian selatan pulau Jawa masih dipandang sebelah mata. Tiada nilai strategis dari wilayah yang berada di luar jalur dagang ini. Sepinya kapal yang melintas disebabkan oleh kondisi alam yang memiliki ombak besar yang timbul akibat dasar laut yang curam. Sehingga celakalah kapal jika berlabuh di sana. Sebab itulah pesisir selatan lebih tertinggal dibanding pesisir utara bahkan ketika Belanda tibapun pesisir selatan masih terpinggirkan. Saat Belanda mendengar berita mendaratnya  sebuah kapal berbendera Inggris di Nusakambangan, barulah Belanda mengadakan usaha untuk menggali pantai selatan. Salah seorang Belanda, Cornelia Coops kemudian menyelediki pesisir selatan pada 1698. Kendati demikian, Belanda masih enggan mengembangkannya.
Gubernur Jenderal Jean Jacob Roschussen mengembangkan pelabuhan Cilacap untuk kepentingan militer dan ekonomi. Sekembalinya ke Belanda, ia diangkat menjadi Perdana Menter. 
Setelah dipukul tentara Inggris dari pantai utara pada tahun 1811, barulah Belanda sadar perlunya sebuah pintu belakang yang bisa menjadi pintu keluar andaikata mereka diblokade. Di sepanjang selatan Jawa, Cilacap adalah tempat terbaik untuk dijadikan pelabuhan karena terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Namun keunggulanan tadi juga ada titik lemahnya karena karena tidak menutup kemungkinan dengan keadaan pantainya yang tenang, musuh dapat merintangi perairan Cilacap sehingga sukar bagi kapal Belanda untuk keluar masuk. Selain untuk kepentingan militer, Belanda juga melihat potensi Cilacap yang dapat dikembangkan untuk pelabuhan dagang. Hasil bumi yang berasal dari karesidenan Bagelen dan Banyumas dapat diekspor keluar lebih cepat. Karena itulah sejak masa Gubernur Jenderal J.J. Rochussen ( 1845-1851 ), Cilacap dikembangkan sebagai kota pelabuhan walau tidak sebesar Batavia, Semarang, atau Surabaya.


Blockhouse, tempat tentara dapat menembakan senanpannya dengan aman.
Begitu pentingnya Cilacap di mata Belanda sehingga pemerintah kolonial beritikad untuk mempertahankan pintu belakangnya yang penting ini. Salah satu langkah yang ditempuh untuk mengamankan Cilacap adalah dengan menempatkan benteng tepat di gerbang masuk Cilacap. Setelah mendirikan Benteng Klingker dan Benteng Karangbolong di Nusakambangan, didirikanlah sebuah benteng baru yang lebih kuat di tanjung Cilacap pada tahun 1861 ( Kemendkibud, 2014; 144 ).
Pintu masuk benteng. Benteng Pendem dahulu dilengkapi dengan jembatan angkat.
Parit dan dinding Benteng Pendem. Di bagian dinding tampak celah yang dipakai sebagai lubang  tembak.


Parit pelindung benteng
Kamipun kemudian menyusur beberapa bagian benteng yang kini tinggal separo saja karena sisi utara sudah disisihkan menjadi area tangki minyak. Saat benteng ini utuh, jika dipandang dari udara, Benteng Pendem berbentuk segi lima. Untuk perlindungannya, benteng ini dilindungi dengan parit dan bukit tanah. Pada masa pembangunan benteng pendem, dikenalnya teknologi explosive shells yang langsung meledak begitu menghantam target membuat pertahanan benteng kuno berdinding bata tebal terlihat usang. Sebagai tanggapan dari teknologi explosive shells para insinyur zeni menyempurnakan benteng pertahanan dengan benteng berbentuk poligon. Parit diperdalam kemudian sisi-sisinya tidak lagi landai tapi tegak lurus. Benteng Pendem diperkuat lagi dengan blockhouse atau rumah tembak prajurit.
Barak prajurit yang dibangun tahun 1871.

Lapangan di tengah benteng.

Untuk kebutuhan air, benteng pendem dilengkapi sumur yang berada di dalam tembok benteng, sehingga kebutuhan air bersih tetap ada walau benteng pendem dikepung.
Kami kemudian sampai di ruang barak. Para prajurit benteng tinggal di barak berupa 14 kamar yang berderet memanjang. Pada salah satu kamar, tertoreh sengkalan “1871”, tahun barak itu dibangun. Dalam buku Forts in Indonesia diuraikan bahwa barak itu dipakai sebentar saja gara-gara pecah wabah malaria yang menjangkiti prajurit di dalam benteng dan mengakibatkan korban jiwa. Letak benteng yang berada di pesisir yang lembab menjadi kerajaan nyamuk-nyamuk Anopheles. Setelah Cilacap terhubung dengan jalur kereta pada 1888, buru-buru prajurit meninggalkan benteng maut itu dan pindah ke garnisun di pedalaman yang lebih sehat.



Ruang penjara.

Ruang klinik.

Gudang amunisi.

Ruang akomodasi.
Dari ruang barak, kami beranjak ke bagian tengah benteng. Di sana terdapat ruang terbuka dan ruang-ruang dengan kegunaaan tertentu yang mengitari lapangan tadi. Ruang-ruan tadi meliputi ruang penjara, ruang akomodasi, gudang senjata, gudang amunisi, dan klinik. Agar susah diincar, maka ruang-ruang tadi dipendam tanah. Dari situlah sebutan Benteng Pendem berasal.
Tangga menuju bagian atas benteng.

Bekas tempat meriam.
Kustbateri atau Coastal Batterij atau bateri pantai Cilacap adalah puncak teknologi pertahanan yang pernah dibangun Belanda di Indonesia. Sebagai sebuah bateri, meriam yang dipasang di benteng pendem lebih banyak jumlahnya dibanding benteng biasa. Dengan meriam berkaliber 25 cm, benteng ini siap meladeni musuh yang hendak mendarat di Cilacap. Satu meriam pantai setara kekuatannya dengan tiga meriam kapal perang. Kuatnya pertahanan ini tentu bertalian dengan pentingnya Cilacap di mata Belanda karena Cilacap menjadi satu-satunya penghubung mereka dengan dunia luar jika suatu saat terjadi hal buruk di Jawa.
Bekas tempat meriam yang dibangun menjelang Perang Dunia Kedua.
Setelah ditinggalkan pada tahun 1888 silam, menjelang kemelut Perang Dunia Kedua, Belanda kembali memakai benteng ini. Kali ini benteng pendem diperkuat dengan teknologi pertahanan terakhir berupa meriam turret yang dilindungi kubu dari beton, bahan bangunan yang sudah dikenal pada saat itu dan lebih kuat ketimbang bata. Saat Perang Dunia Kedua, benteng pendem sempat berjumpa dengan kapal perang berbendera Amerika, USS Houston pada bulan Februari 1942 dan ternyata itu adalah perjumpaan terakhirnya karena satu bulan kemudian, kapal itu gugur di Selat Sunda. Bom-bom yang dijatuhkan dari udara oleh pesawat Mitsubishi G3M  milik Jepang jelas tak bisa dilawan benteng yang lebih berfokus ke pesisir bukan ke udara. Walau sudah diperkuat kembali, pada akhirnya benteng itu gagal melindungi kota Cilacap dari serbuan musuh yang lebih mutakhir persenjataanya.

Referensi
Junearto, Wendy Fansiya. 2014. Fungsi Benteng Peninggalan Belanda di Kabupaten Cilacap : Pendekatan Lokasional, Yogyakarta; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Skripsi.

Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Senin, 09 April 2018

Memuliakan Sejarah Gombong di Roemah Martha Tilaar


Saat berada di Gombong, sesudah mampir ke Benteng Van der Wijck, saya mencoba singgah di Roemah Martha Tilaar Gombong yang terletak di jalan Sempor Lama. Sengkalan berangka tahun 1920 terpampang jelas di fasad rumah bergaya Eropa itu, menandakan bahwa rumah itu hampir menginjak usia seabad.
Roemah Martha Tilaar dulunya merupakan kediaman seorang Tionghoa kaya bernama Liem Siauw Lam. Karena kekayaanya, Liem Siauw Lam dijuluki Rijkman van Gombong, Orang Kaya dari Gombong.
Beranda depan dengan hiasan kaca patri.

Kaki ini kemudian menjejak ke bagian beranda depannya yang sedap dipandang mata. Dari sini, terlihatlah keanggunan kaca patri yang penuh warna, mempercantik beranda depan yang sudah dihiasi dengan tegel kaya motif dan perabot antik. Keindahan rumah ini merupakan cerminan kemakmuran dari seorang Tionghoa kaya bernama Liem Siauw Lam. Sebagai seorang usahawan di Gombong, Liem Siauw Lam atau acap dipanggil Liem Solan memiliki lahan tanah yang lumayan luas. Dari tanah itulah Liem Siauw Lam mendirikan usaha peternakan yang menghasilkan daging dan susu untuk garnisun Belanda di benteng Van der Wijck. Selain itu, ia juga berbisnis kopra dan sarang walet.
Bagian ruang depan. Terlihat altar leluhur di samping kiri koridor.
Bagian kordior tengah.

Saya kemudian beringsut ke bagian dalam rumah. Rumah ini memiliki empat ruang kamar dan sebuah koridor tengah. Walau rumah ini memiliki tata ruang dan bentuk seperti rumah orang Belanda, ada beberapa fitur yang sama sekali tidak terdapat di rumah orang Belanda seperti altar leluhur dan pintu partisi di mulut koridor. Altar leluhur adalah perabot wajib yang dimiliki oleh setiap keluarga Tionghoa sebagai bentuk penghormatan leluhur. Sementara pintu partisi dipasang di mulut koridor karena dalam kepercayaan orang Tionghoa, tidak baik pintu masuk berhadapan langsung dengan pintu belakang sehingga perlu ada penghalang.
Jendela.

Salah satu ruang tidur.
Barangkali karena sering bersentuhan dengan orang Eropa yang tinggal di Gombong, maka Liem Siauw Lam membangun rumah tinggalnya dalam gaya Eropa. Pada saat itu, sudah menjadi hal biasa di kalangan Tionghoa kaya membangun rumah dalam gaya Eropa agar tidak dikatakan ketinggalan gengsi. Selain membangun rumah mewah, dari kekayaannya Liem Siauw Lam membeli mobil Ford Model T yang tersohor. Sekalipun bergaya hidup flamboyan, namun keluarga Liem Siauw Lam memiliki jiwa sosial. Istri Liem Siauw Lam menyediakan peralatan batik untuk pembatik perempuan di Gombong. Di masa perjuangan, rumah ini pernah dipakai sebagai dapur umum dan tempat perawatan tentara Indonesia yang terluka kala melawan tentara NICA.
Beranda belakang, tempat keluarga dulu bercengkrama.
Saat melintas di koridor tengah, saya melihat keterangan pohon silsilah dari keluarga Liem. Dari sekian nama yang ada di pohon silsilah itu, ada satu nama yang hampir semua perempuan di negeri ini pasti mengenal sosoknya, Martha Tilaar. Hingga usia sebelas tahun, Martha Tilaar kecil tinggal di rumah kakeknya. Kamarnya dulu berada di bangunan samping kiri rumah. Setelah itu, ia pergi dari Gombong untuk meneruskan pendidikannya. Singkat cerita, Martha Tilaar akhirnya sukses di bisnis kosmetik. Semangat jiwa sosial Liem Siauw Lam menurun pada Martha Tilaar. Kesuksesan yang diraih oleh Martha Tilaar tidak membuatnya serta merta melupakan tanah kelahirannya. Di situlah Martha Tilaar bercita-cita ingin memberi sumbangsih nyata untuk tanah kelahirannya. 
Beranda bangunan samping rumah utama.
Bersama putrinya, Wulan Tilaar, Martha Tilaar mewujudkan bakti pada kampung halamannya dengan membuka “ Roemah Martha Tilaar “ pada Desember 2014. Roemah Martha Tilaar menempati rumah kakeknya yang sempat terlantar selama puluhan tahun sebelum dipoles oleh Martha Tilaar. “ Rumah ini bukan hanya bersejarah tapi merupakan bakti kami kepada Gombong, Kebumen, dan kota sekitar. Dengan dukungan pemangku kepentingan kota Gombong, semoga rumah ini berguna siapa tahu akan lahir bibit muda bangsa asal Gombong “, pesan Martha Tilaar dilansir dari laman roemahmarthatilaar.org. Setelah bersolek kembali, rumah kuno kakeknya yang menjadi salah satu warisan sejarah Gombong dimanfaatkan untuk beragam kegiatan dari diskusi, lokalatih, festival, pertunjunkan dan pameran seni, sehingga keberadaan warisan sejarah ini dapat memberi faedah untuk masyarakat sekitar, tak sekedar menjadi barang mati saja yang hanya bisa dilihat. Ya, Roemah Martha Tilaar Gombong kini seperti seorang gadis cantik berbudi mulia.

Begitulah cara Martha Tilaar memuliakan sejarah Gombong, tanah kelahirannya. Di negara yang pelestarian warisan sejarahnya sudah berjalan baik, apa yang dilakukan oleh Martha Tilaar sudah menjadi hal biasa. Para filantropis dan dermawan biasanya akan membeli gedung-gedung tua bersejarah untuk dipakai kegiatan masyarakat, dengan demikian keberadaanya tak hanya lestari namun juga memberi faedah untuk masyarakat. Andai saja di negeri ini ada banyak sosok Martha Tilaar yang peduli dengan warisan sejarah – dan tentunya memiliki banyak modal, saya percaya akan sedikit cerita suram nasib Cagar Budaya yang terdengar di telinga…


Sabtu, 06 Januari 2018

Kerkhof Cilacap ; Monumen Kematian di Tepi Pantai

Awan kelabu bergelayut di langit Cilacap, membuat langit hari itu tampak muram, semuram makam-makam tua yang terserak di Kerkhof Cilacap. Walau langit kurang bersahabat, namun hal itu memupus semangat rombongan Banjoemas Heritage yang hari itu hendak menjelajahi Cilacap; dan diantaranya adalah saya. Bersama dengan Milo Jatmiko, koordinator komunitas Banjoemas Heritage, Kerkhof Cilacap adalah tambatan pertama mereka pada penjelajahan di Cilacap.
Letak Kerkhof Cilacap ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Kerkhof Cilacap merupakan sebuah kerkhof yang terletak tak begitu jauh dari bibir pantai Teluk Penyu, Cilacap. Letaknya yang tak jauh dari laut membuat saya dapat merasakan semilir angin laut yang lembut. Kerkhof ini merupakan tempat berkumpulnya jasad orang-orang Belanda yang wafat di Cilacap tanpa memandang jabatan, usia, dan gendernya.




Saya tak dapat memastikan sejak kapan kerkhof Cilapa mulai ada. Namun merunut makam tertua yang saya temukan, kerkhof ini telah ada sejak tahun 1857. Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir seorang kolonel infanteri bernama Toontje Poland. Siapakah Toontje Poland ? 
Makam Toontje Poland.
Dorus "Toonte" Poland. Nama "Toontje" diperolehnya selama Perang Jawa, ketika Jenderal F.D. Cochius melihatnya dan berseru " Toontje ! ".
Roman karya Johan Fabricus yang menceritakan petualan Toontje Poland selama di Hindia-Belanda. Ini adalah buku kedua tentang Toontje Polan yang ditulis Fabricus. Buku pertama menceritakan Toontje Poland ketika di Eropa.
Namanya mungkin tak setenar Jan Pieterzoon Coen, Van der Capellen atau Van Heutz dalam buku-buku sejarah, namun sebagai perwira militer, ia memiliki karir yang cukup cemerlang. Kolonel kelahiran Alkmaar, Belanda, 20 Januari 1795 itu mengawali karirnya sebagai seorang kopral muda dan ia sempat bertempur melawan pasukan Napoleon di pertempuran Quatre-Bras. Petualangannya di Hindia-Belanda dimulai pada 1817, ketika ia tiba di Batavia. Berbagai kampanye dan ekspedisi militer ia ikuti, dari Cirebon, Banten, Riau, Celebes ( Sulawesi ), Borneo ( Kalimantan ), Perang Diponegoro hingga Perang Diponegoro. Ia pun diangkat menjadi ajudan pribadi Sultan Madura setelah perang usai. Ekspedisi Bali adalah petualangan terakhirnya di Hindia-Belanda sebelum ia pensiun dan meninggal dengan tenang di Cilacap pada 19 Desember 1857. Perjalanan hidupnya ditulis dalam sebuah roman karangan Johan Fabricius dalam Toontje Poland ( 1977 ) dan Toontje Poland onder de tropenzon ( 1978 ).
Pusara dengan ornamen guci di kemuncak. Guci merupakan lambang dari jiwa.
Makam-makam dengan dekorasi pilar patah, lambang dari putusnya tali kehidupan.
Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa pusara-pusara tua di sini menyiratkan lambang atau pesan yang bertalian dengan kematian. Inilah yang disebut seni permakaman, sebuah seni tentang mengabadikan jiwa yang telah tiada. Seni ini diwujudkan entah dalam bentuk pusara, hiasan atau puisi yang diukir pada prasasti. Dari bentuk pusara misalnya, pada pusara berbentuk tugu, terdapat semacam kolom yang tidak diselesaikan sampai puncaknya, perlambang dari berhentinya kehidupan di dunia. Selain kolom, puncak pada pusara lain ada yang berbentuk seperti guci, lambang dari ruh.

Makam-makam yang memiliki simbol tengkorak.
Selain diwujudkan dalam bentuk pusara, pesan kematian juga dibentuk dalam wujud ukiran pada prasasti. Contohnya adalah makam Toontje Poland tadi, dimana di situ terdapat ukiran berbentuk daun palm dan untaian bunga sebagai simbol kemenangan atas kematian. Berikutnya adalah ukiran tengkorak dan tulang bersilang pada pusara Juliana Elizabeth Sarnie ( lahir Vincent ). Bagi orang yang belum paham, mungkin ukiran tersebut akan ditafsirkan sebagai simbol bajak laut dan secara praktis akan membuat kesimpulan bahwa makam tersebut milik seorang bajak laut. Sejatinya, simbol tengkorak dengan tulang bersilang merupakan simbol dari kematian. Selain itu, terkadang terdapat lubang-lubang bundar di pusara yang melambangkan kehidupan abadi. Lubang-lubang itu terkadang diisi foto orang yang dibaringkan di bawah pusara itu atau patung-patung kecil.
Makam lama yang berdampingan dengan makam baru.
Kondisi kerkhof Cilacap boleh saya katakan lumayan baik, walau makam-makam baru yang tersempil membuat tampilan Kerkhof Cilacap tampak acak-acakan. Selain makam yang telah rusak atau hilang prasastinya, di sini saya menjumpai jejak vandalisme yang mendera makam-makam itu. Tangan-tangan iseng meninggalkan jejak berupa semprotan piloks. 
Jejak vandalisme...




" Sewaktu saya muda, saya masih menjumpai dua patung marmer di makam ini ", terang seorang warga yang kerap mencari rumput di sana. Di masa lampau, patung-patung marmer dengan beragam ukuran bertebaran di kerkhof ini. " Patungnya bagus-bagus mas, tapi semakin kesini banyak yang hilang ", tuturnya dengan logat Banyumasan. " Dua tahun silam, masih ada satu patung di sini. Tapi patungnya hancur gara-gara diseruduk kerbau ", sambungnya.


Kondisi makam yang cukup membuat hati saya miris adalah makam asisten residen Cilacap bernama M. Herz yang kini telah dipenuhi tumpukan sampah. Betapa ironis, sang tuan residen Cilacap yang sewaktu hidupnya begitu dihormati kini makamnya justru terlupakan oleh zaman. Ya begitulah, tak ada yang mengetahui nasib orang setelah mengalami kematian yang senantiasa membayangi kehidupan. Kematian terkadang dapat menghapus ingatan akan seseorang hingga perlu didirikan semacam monumen untuk mengingat mereka. Namun tak jarang monumen-monumen itu malah ikut terlupakan seiring perjalanan zaman…

Referensi
http://www.graveaddiction.com/symbol.html

Van Rees, W.A. 1867. Toontje Poland Voorafgegaan door enige Indische typen. Arnhem ; D.A. Thiemen.