Minggu, 03 September 2017

Selidik Jejak Kerkhof-Kerkhof di Pelosok Perkampungan di Klaten

Pada mulanya, tak banyak orang yang mengira, bahwa di sebagian pelosok perkampungan di Kabupaten Klaten, tersempil jejak-jejak kerkhof atau makam Belanda yang masih dapat dijumpai. Inilah tulisan saya di Jejak Kolonial mengenai ikhtiar menyelediki jejak-jeak yang terlupakan tersebut.
Letak kerkhof Ceper ( dalam lingkaran merah ) pada peta tahun 1925. Sumber : maps.library.leiden.edu.
Kerkhof pertama yang akan saya sambangi terlebih dahulu ialah sebuah kerkhof yang letaknya tidak begitu jauh dari PG Ceper, sebuah pabrik gula yang kini menyandang gelar almarhum. Kerkhof itu saya temukan ketika saya sedang mahsyuk menerawang pola tata ruang PG Ceper yang tergambar cukup detail pada sebuah peta topografi. Secara tak sengaja, mata saya menangkap seberkas simbol salib kecil yang terpampang di sebelah atas area PG Ceper. Ya, simbol tersebut tak lain ialah simbol dari sebuah permakaman Belanda.
Gerbang kerkhof Ceper.
Tak lama kemudian, saya menyambangi lokasi kerkhof tadi. Sesampainya di tempat, sebuah plengkung gerbang tua  menyambut kedatangan saya. Sayapun bergegas melangkah masuk melewati gerbang itu untuk menguak jeroan kerkhof itu. Sayang beribu sayang, begitu langkah kaki ini semakin masuk ke dalam, harapan saya dapat menjumpai makam – makam monumental di kerkhof itu segera pupus. Apa yang saya jumpai hanyalah seonggok makam remuk yang rasanya mustahil untuk dikenali lagi. Penasaran apakah masih ada makam lainnya di sini, saya berusaha mencari makam lain. Namun usaha saya tadi sia-sia belaka. Tiada makam lain lagi di situ.
Satu-satunya makam yang tersisa di kerkhof Ceper.
Sebelum saya beranjak meninggalkan tempat itu, saya bersua dengan seorang warga yang sedari tadi mencari rumput di sekitar kerkhof itu. Berbagai pertanyan seputar sejarah permakaman langsung saya todongkan pada warga tadi. “Sejak saya kecil ya kondisinya sudah seperti ini mas” tutur warga yang sepertinya berusia empat puluhan tahun itu. “Jadi saya tidak tahu persis siapa yang dimakamkan di sini”, sambungnya. “ Tapi, kalau mas nya mau mencari makam Belanda…”, beliau seperti ingin memberi tahu sesuatu pada saya “ Coba saja cari di pemakaman umum di dekat sini. Kalau dari sini jalan ke timur sampai ketemu pertigaaan yang keempat. Lalu belok ke kanan. Nah, nanti pintu masuknya ada di ujung jalan”, jelasnya sambil memberi petunjuk jalan pada saya. Penasaran dengan perkataan warga tadi, saya lantas menuju makam yang dimaksud warga tadi.
Makam Belanda di tengah makam lokal.
Sebuah makam tua yang batu prasastinya rusak.
Apa yang dikatakan warga tadi benar adanya. Setibanya di lokasi pemakaman umum yang dimaksud, saya menemukan makam Belanda yang jumlahnya lebih dari satu. Namun anehnya, makam Belanda itu tergeletak tengah-tengah pemakaman pribumi yang di peta topografi lama disimbolkan dalam bentuk bulan sabit. Inilah kali pertama saya mendapati hal tersebut. Makam-makam Belanda itu nyaris luput dari perhatian saya jika saja saya tak bertemu dengan warga tadi.
Makam Alexander Portier.

Dari berbagai makam yang ada, ada sebuah makam yang berhasil mencuri perhatian saya. Bukan dari segi ukuran atau keindahannya yang membuat saya tertarik. Makam itu ukurannya setidaknya hanya sebesar kotak mainan dan ornamen yang terlihat hanyalah pahatan berwujud tengkorak, simbol dari kematian. Namun hal yang benar-benar membuat saya tertarik pada makam itu ialah pada pilhan bahasa yang digunakan pada makam itu…
Aksara Arab Pegon pada makam A. Portier.
Aksara Jawa Baru pada makam A. Portier.
Lazimnya, makam-makam Belanda memakai satu jenis bahasa saja, yakni bahasa Belanda. Namun di makam milik Alexander Portier itu, ia ternyata menggunakan dua bahasa dan tiga jenis aksara dalam epitafnya, yakni bahasa Belanda beraksara Latin dan bahasa Jawa dengan aksara Jawa Baru dan Arab Pegon. Oleh sebab itulah, saya menjuluki makam ini sebagai sebuah makam polyglot.
Letak kerkhof Wonosari ( dalam lingkaran merah ) pada peta topografi tahun 1925. Sumber : maps.library.leiden.edu
Dari Kerkhof Ceper, saya beranjak ke sebuah kerkhof yang terletak di Wonosari, Klaten. Sebagaimana kerkhof di Ceper tadi, kerkhof ini juga saya temukan secara tidak sengaja ketika sedang mengamati peta topografi tinggalan Belanda. Sesampainya di lokasi, saya menjumpai semacam struktur pagar tua yang tampaknya dulu pernah berdiri mengelilingi kompleks kerkhof.
Tembok kerkhof Wonosari.
Di kerkhof yang terletak di sepetak kebun yang dikeliling sawah itu, makam yang saya temukan hanyalah sebuah makam renta yang berbentuk menyerupai sebuah monumen kecil. Kendati mulai remuk, keantikan dari makam itu belum sepenuhnya hilang. Sayang, saya tak dapat menemukan petunjuk apapun perihal siapa yang dimakamkan di situ. Akhirnya saya berasumsi bahwa kerkhof ini merupakan makam dari salah satu keluarga pembesar PG Wonosari karena kebetulan lokasi pabrik, dimana di sekitarnya pernah ada tanda-tanda permukiman orang Belanda, berada lumayan dekat dengan makam ini. Sayapun kemudian mencoba menyisir area sekitar makam itu, tapi ternyata hasilnya nihil. Ingin bertanya dengan warga juga percuma karena di sekitar makam tiada satupun batang hidung yang terlihat. Asa saya akhirnya pupus dan segera saja saya meninggalkan lokasi dengan sejumput kekecewaan di hati.
Satunya makam Belanda yang tersisa di Kerkhof Wonosari.
Beberapa saat kemudian, kawan saya bernama Surya yang kebetulan tinggal di dekat Wonosari memberi tahu saya bahwa tak jauh dari makam yang saya temukan di Wonosari tadi, ada jejak-jejak makam Belanda yang masih tergeletak utuh di tengah permakaman umum. Tak menunggu lama, saya segera berangkat ke lokasi yang dimaksud kawan saya.
Makam-makam tua.
Tiba di lokasi, mata saya langsung menangkap beberapa benda yang terlihat amat mencolok di tengah kijing-kijing baru. Benda itu seperti sebuah kubus kecil dengan atap berbentuk pyramid. Ya, benda itu tak lain dan tak bukan adalah makam dari zaman Belanda.

Makam Johannes N. De Bruijn.
Salah satu makam yang saya temukan merupakan makam dari seorang pria Belanda bernama Johannes-Nicolaas De Bruijn, lahir di Semarang tahun 1810 dan meninggal di Gawok tahun 1868. Selain makam tadi, di sini ditemukan pula beberapa makam anggota keluarga Breton van Groll, antara lain Gerardien Nicolien Breton van Groll, Albertien Louise Breton van Groll, Gustaaf Adolf Adriaan Breton van Groll, Rosalie Adolphie Breton van Groll, Henri Gerardus Adolf Breton van Groll dan Theodora Breton van Groll ,yang sebelum menikah bernama Theodora De Bruijn. Dari marga kecilnya, sepertinya Theodora masih berkerabat dengan Johannes-Nicolaas De Bruijn. Menariknya ialah hampir semua anggota keluarga Breton van Groll lahir di Gawok, Klaten.
Makam Breton van Groll bersaudari.
Obituari Albertiene Louise van Groll yang dimuat di harian De Locomotie taanggal 2 Oktober 1877.
Saya kemudian bertemu dengan seorang perempuan dewasa yang baru saja membersihkan sebuah makam. “ Masih ada keluarga yang menziarahinya kok mas”, jawab ibu itu sesudah saya mengajukan pertanyaan seputar makam keluarga Breton van Groll itu. “ Itu lihat mas, prasastinya saja baru saja diganti”, jabarnya sambil menujukan saya sebuah makam yang prasastinya telah diganti dengan batu granit baru. Makam itu merupakan tempat perisitirahatan terakhir Henri Gerardus Adolf Breton van Groll, meninggal tahun 1943. Usia makam itu relatif lebih muda dibandingkan makam lain. Tepat di sampingnya, terbaring makam seorang perempuan Jawa. Sarinah namanya, lahir tahun 1893 di Kopen dan meninggal tahun 1946 di Gondangsari, Klaten. Dari kedua makam itu, setidaknya saya berhasil melacak jejak-jejak keluarga Indo tempo dulu.
Makam Theodora Breton van Groll ( terlahir Theodora de Bruijn ).
“Waktu saya kecil dulu, saya sering bermain pasaran di bawah cungkup makam itu“, kenang ibu itu. Cungkup yang dimaksud ibu tadi sudah hilang. “ Dulu makam-makamnya dilapisi marmer putih, tapi saya tidak tahu hilang ke mana marmer-marmer putih itu “. Sebelum pamit, ibu itu tidak lupa menitip pesan kepada saya agar datang ke sini lagi suatu hari nanti untuk menengok makam itu kembali….

Seperti itulah rupa kerkhof-kerkhof yang berhasil saya temukan di pelosok perkampungan Klaten. Dari kerkhof-kerkhof itu, saya setidaknya mendapat pengetahuan baru bahwa tidak semua makam Belanda tercantum di peta topografi lama. Kadangkal makam-makam itu bisa terselip bersama dengan makam-makam biasa. Hal ini semakin memacu saya untuk mengungkap lebih banyak kerkhof yang siapa tahu masih tersembunyi di suatu tempat…

Sabtu, 05 Agustus 2017

Benteng Karangbolong : Satu-satunya Benteng “Menara Napoleon“ di Indonesia

Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai Benteng Klingker, maka benteng di Nusakambangan yang selanjutnya akan kita sambangi adalah Benteng Karangbolong yang terletak di ujung pulau. Untuk menuju ke sini, kita harus naik perahu kembali dari Benteng Klingker karena belum ada jalan penghubung benteng Klingker dengan benteng Karangbolong. Perjalanan dengan perahu memakan waktu kira-kira 15 menit. Dari bibir pantai tempat bersandarnya perahu, kita masih berjalan kaki lagi, menyusuri jalan yang masih berupa tanah, naik turun lembah, dan menyeberangi sungai.
Gerbang masuk ke area Benteng Karangbolong.
Setelah sampai di lokasi benteng kita akan disambut sebuah bangunan dengan pintu besar yang nyaris tertelan pohon-pohon besar seperti halnya Benteng Klingker. Tapi tunggu dulu, ini bukanlah bangunan utama benteng Karangbolong, melainkan ini hanyalah bangunan rumah gerbangnya saja. Memasuki bagian dalam, bangunan berbentuk persegi panjang ini memiliki ruangan yang ternyata berbentuk setengah lingkaran. Di samping terowongan masuk, terdapat sebuah ruangan untuk ruang jaga. Selanjutnya di sebelah bangunan tadi, terdapat sebuah dinding bata yang dahulu merupakan bastion dari benteng ini.
Sumuran yang berfungsi sebagai lubang ventilasi.
Dari bangunan gerbang, kita berjalan agak naik, melewati jurang yang cukup dalam. Nah, sampai di ujung jalan, kita akan disambut dengan bangunan utama Benteng Karangbolong yang juga sudah dirambati oleh pohon besar dan akar tanaman liar. Berbeda dengan Benteng Klingker yang berbentuk lingkaran, Benteng Karangbolong memiliki bentuk persegi dengan keempat sudut yang sedikit melengkung. Di dekat benteng, kita dapat menjumpai dua sumuran yang sempit dan dalam. Sialnya, bibir sumuran ini cukup rendah, sehingga saya menyarankan agar untuk lebih berhati-hati terutama jika membawa anak kecil yang resiko jatuh ke dalam sumuran lebih besar. Lalu sumuran apa tadi sebenarnya ?
Tampak luar benteng dengan bekas pintu masuknya.
Memasuki bagian dalam benteng, kita harus menuruni parit lebar nan dalam yang mengelilingi benteng. Sama halnya dengan Benteng Klingker, bagian dalam benteng juga dibuat melengkung untuk menahan konstruksi. Nah, dari sisa tempat penyangga, benteng ini aslinya memiliki dua lantai. Jadi dahulu, bagian lantai satu benteng aslinya terbuat dari kayu dan benteng ini dahulunya memiliki sebuah jembatan yang terhubung dengan bagian lantai satu. Nah, tempat kita berdiri sekarang sebenarnya merupakan bagian basement benteng.
Bagian dalam benteng.
Dari bagian “basement”, terdapat sebuah lorong yang akan membawa kita ke ruang bawah tanah benteng. Lorong ini sangat gelap karena tidak ada pencahayaan di dalam, sehingga alangkah lebih baik untuk membawa senter. Meskipun gelap, namun udara di dalam lorong cukup sejuk. Menuruni undakan lorong, tepat di dekat belokan terdapat sebuah ruangan cukup besar. Agar ruangan ini memiliki jalur masuk keluar udara, maka dibangunlah sumuran yang baru saja kita lihat tadi. Jadi, meskipun berada di bawah tanah, hawa di dalam ruangan terasa sejuk. Di ujung lorong, terdapat terowongan dengan ruangan-ruangan di sebelah kanan-kiri. Pada salah satu ruang yang berukuran cukup besar, terdapat banyak kelelawar yang bergelantungan di langit-langit dan bagian lantai sudah terendap dengan timbunan kotoran kelelawar yang entah sudah berapa lama menjadi penghuni di benteng ini.
Pintu masuk ke ruang bawah tanah.
Terowongan bawah tanah.
Jika Benteng Klingker merupakan jenis benteng Martello Tower, lalu Benteng Karangbolong termasuk jenis benteng apa ? Nah, Benteng Karangbolong merupakan jenis benteng yang unik dan satu-satunya yang pernah dibangun Belanda di Indonesia. Jenis benteng ini mungkin terdengar, yakni jenis 1811 Model-Tower atau lebih dikenal sebagai Napoleon Tower ( Menara Napoleon )  ( Tim Penyusun, 2012 : 142 ). Lalu apa itu sebenarnya Napoleon Tower ? Napoleon Tower ialah sebutan bagi benteng-benteng pantai yang didirikan atas perintah Napoleon Bonaparte, sang penakluk dari Perancis, pada tahun 1811. Napoleon meminta untuk membangun benteng-benteng pantai di sepanjang garis pantai utara Perancis untuk membendung invasi musuh Napoleon yang cukup banyak. Perbedaan dengan benteng-benteng pantai sebelumnya ialah, bagian gudang makanan, amunisi, barak, dan tempat menembak yang sebelumnya terpisah kini dijadikan dalam satu bangunan tunggal. Dengan disatukannya bangunan-bangunan tadi, maka diharapkan musuk akan semakin sulit untuk menjatuhkan pertahanan benteng. Jenis benteng ini dapat dikomparasikan dengan jenis Martello Tower yang dikembangkan oleh Inggris, musuh bebuyutan Napoleon di seberang lautan. Setelah kekuasaan Napoleon jatuh, jenis benteng Napoleon Tower dikembangkan oleh Louis-Phillipe dan menjadi standar benteng pantai di Perancis (https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type ).
Contoh benteng model Napoleon Tower ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Benteng Pengawas Pantai
Gubernur Jenderal Van den Bosch, nama ini mungkin kita kenal sebagai pemrakarsa sistem tanam paksa yang cukup menyiksa. Tapi siapa sangka jia dia adalah figur dibalik pembangunan benteng ini. Di masa pemerintahannya, dia memberi perintah untuk mendirikan berbagai benteng baru di kota-kota penting seperti Batavia, Semarang, dan Suarabaya dan Cilacap. Mengapa Cilacap dipandang penting ? Cilacap pada waktu itu merupakan akses satu-satunya pemerintah kolonial Belanda seandainya Pulau Jawa sudah dikuasai oleh musuh karena tidak ada satupun kapal yang mampu memblokade Cilacap karena gelombangnya besar. Meskipun demikian, kapal perang masih bisa menembus perairan muara. Oleh karena itu sebagai upaya untuk mencegah kapal-kapal musuh memasuki perairan Cilacap dan mengawasi pelayaran, dibangunlah benteng di Pulau Nusakambangan ( Abbas, 1996 ; 51 ). Benteng yang pertama didirikan ialah Benteng Karangbolong yang posisinya di ujung timur pulau. Dari posisi ini, musuh sulit mendaratkan pasukan karena karakter pantainya yang curam. Untuk memperluas perimeter, dibangunlah benteng kedua, yakni Benteng Klingker yang sudah saya bahas pada tulisan sebelumnya. Bentuk Martello Tower dan Napoleon Tower dipilih karena jenis ini cocok untuk benteng pengawas pantai.
Letak Benteng Karangbolong pada peta Cilacap tahun 1944 ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Alih-alih dikalahkan oleh musuh dengan persenjataan kuat, serdadu yang berjaga di benteng justru dikalahkan oleh nyamuk yang membawa penyakit malaria. Satu persatu nyawa serdadu pun melayang dengan sia-sia dan militer Belanda akhirnya mengosongkan dua benteng yang ada di Nusakambangan. Selain itu, situasi politik di Eropa yang cenderung damai dan tidak mengancam keamanan Hindia-Belanda menjadi alasan militer Belanda untuk tidak memakai lagi Benteng Klingker, Karangbolong, dan Pendem Cilacap sebagai sarana pertahanan sejak tahun 1882. Pulau Nusakambangan kemudian ditetapkan sebagai pulau penjara dan cagar alam dan benteng-benteng di Nusakambangan mulai terlupakan keberadaanya selama puluhan tahun  ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).
Seorang prajurit Belanda yang sedang mengecek salah satu meriam yang baru saja dirusakkan ( sumber : media-kitlv.nl ).
Singkat cerita, setelah sekian lama mati suri, benteng ini dihidupkan kembali oleh pemilik barunya, Jepang. Kali ini benteng diperkuat dengan teknologi pertahanan yang lebih modern, yakni redoubt dari cor beton dan meriam yang kalibernya lebih besar. Selanjutnya setelah Indonesia merdeka, TNI sempat menduduki benteng ini bahkan pada tahun 1946, sebuah kapal perang Belanda ditenggelamkan oleh meriam dari benteng ini. Sebagai balasan, benteng ini dibombardir dari udara dan laut oleh militer Belanda dan akhrinya berhasil direbut oleh prajurit marinir Belanda ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).
Seonggok meriam yang masih tergeletak di tempatnya.
Begitulah cerita dari saya mengenai Benteng Karangbolong, sebuah benteng di Pulau Nusakambangan yang dahulu berdiri angkuh mengawasi perairan Cilacap dan kini merana dalam kesendiriannya di sebuah pulau yang sunyi. Seandainya Benteng Karangbolong dapat berbicara, mungkin hanya ada satu pertanyaan yang akan saya tanyakan pada benteng ini, “ Sampai kapan kamu akan berdiri ? “..

Referensi
Abbas, Novida. 1996. “ Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad XVII-XIX di Jawa Tengah “ dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04-TH II/1996.

Oktaviadi, Abrianto. 2008. “ Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Setelah Abad ke-20 Masehi “ dalam Yulianto,Kresno. Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.


Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type

Senin, 31 Juli 2017

Benteng Klingker, Si Benteng Bundar dari Nusakambangan

Mendengar nama Nusakambangan, barangkali kita akan membayangkan sebuah penjara dengan pengamanan super ketat yang terletak di sebuah pulau di lepas pantai Cilacap. Selain pengamanannya yang ketat, kondisi alamnyapun masih liar. Nyaris tiada satupun napi yang berhasil lolos dari ganasnya alam Nusakambangan. Maka tidak heran jika Pulau Nusakambangan dijuluki sebagai Alcatraz-nya Indonesia. Namun dibalik kengerian Nusakambangan sebagai pulau penjara, Nusakambangan ternyata menyimpan benteng-benteng tua dari masa kolonial. Seperti apa bentengnya dan mengapa benteng-benteng itu didirikan di pulau ini ?

Perjalanan ke Nusakambangan…
Penjelajahan saya ke benteng-benteng di Nusakambangan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan jelajah yang diadakan oleh Komunitas Banjoemas Heritage, sebuah komunitas pelestari dan pecinta sejarah Banyumas dan sekitarnya. Kegiatan jelajah yang diadakan selama tiga hari tersebut mengunjungi berbagai obyek yang ada di sekitaran Banyumas seperti eks PG Klampok, Pecinan Sokaraja, PG Kalibagor, Kerkhof Purbalingga, Jalur SDS, dll. Sementara pulau Nusakambangan merupakan obyek terakhir yang dikunjungi dalam kegiatan jelajah tersebut.

Untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan, jika ombak tidak terlalu tinggi, kita bisa menyewa perahu montor yang bersandar di Pantai Teluk Penyu dengan tarif rata-rata berkisar dua puluh lima ribu rupiah pulang-pergi.

Benteng jenis Martello Tower
Benteng Klingker, demikianlah masyarakat lokal menyebut benteng yang akan kita kunjungi terlebih dahulu. Untuk menuju benteng ini, kita harus berjalan sejauh seratus meter dari bibir pantai. Untungnya air sedang dalam kondisi pasang karena jika air sedang surut, kita akan berjalan lebih jauh lagi.
Tampak luar benteng Klingker.
Sampai di lokasi benteng, kita akan mendapati reruntuhan benteng yang nyaris ditelan oleh akar-akar pohon yang merambat di setiap jengkal benteng. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi keindahan benteng ini dan malah membuat kesan eksotis seperti reruntuhan kuil Angkor Wat di Kamboja. Maka tidak heran jika benteng ini mendapat gelar “ The Most Exquisite Ruins in Indonesia”.
Bekas tangga ke lantai dua.
Struktur kolom besar di tengah benteng.
Benteng yang materialnya terbuat dari batu-bata merah ini memiliki denah dasar berbentuk lingkaran. Cukup unik karena rata-rata benteng di Indonesia memiliki denah berbentuk persegi dengan bastion di keempat sisinya. Karena berbentuk lingkaran itulah maka benteng ini disebut sebagai benteng Klingker ( lingkaran ). Cukup sulit untuk merekonstruksi seperti apa pembagian ruangannya karena banyak bagian benteng yang sudah ambruk. Namun dari sisa-sisa yang ada, benteng ini tampaknya memiliki tiga lantai. Hal ini dapat dilihat dari sisa tangga melingkar yang sepertinya terbuat dari kayu.
\
Bentuk melengkung yang menopang konstruksi benteng.
Bekas pintu pada lantai dua.
Pada masa benteng dibangun, teknologi tulang besi belum ditemukan sehingga beban bangunan disangga oleh massa dinding itu sendiri. Agar mampu menopang beban, maka dinding benteng ini dibuat tebal dan disusun melengkung pada langit-langitnya. Teknik ini dikenal dengan nama teknik rib-vault. Tepat di tengah-tengah benteng, terdapat semacam kolom besar yang menopang bagian tengah benteng.
Pintu masuk ke bangunan pengintai.
Tidak jauh dari benteng, kita dapat menemukan ruang bawah tanah yang dahulu tampaknya digunakan sebagai ruang pengintaian dan ruang-ruang kecil yang belum diketahui fungsinya. Untuk masuk ke dalam, kita masuk lewat sebuah tangga menuju ke bawah yang juga sudah dirambat oleh akar. Bagian dalam sangat lembab dan gelap. Tidak ada satupun pencahayaan selain dari senter ponsel genggam sehingga saya segera keluar dari tempat itu.

Berdasarkan jenisnya, benteng ini termasuk benteng jenis Martello Tower ( Tim Penyusun, 2012 ; 145 ). Apa itu Martello Tower ? Martello Tower sendiri ialah jenis benteng yang dikembangkan oleh kerajaan Inggris sewaktu terjadi Perang Revolusi Perancis. Adapun nama Martello Tower berasal dari sebuah benteng berbentuk lingkaran yang terletak di Mortella ( Martello ) Point, Pulau Corsica, Perancis. Ketika Inggris menyerbu Corsica dalam Perang Revolusi Perancis, mereka gagal merebut benteng yang hanya dipertahankan 38 orang tadi. Terkesan dengan keunggulan benteng tersebut, Inggris mengembangkan teknologi benteng tersebut dan membangun di sepanjang garis pantai untuk pertahanan mengingat Inggris merupakan negara pulau yang mudah diserang musuh dari laut ( Abrianto, 2008 ; 118 ). Dapat dikatakan benteng jenis Martello Tower merupakan desain benteng khas Inggris dan dapat ditemukan di belahan dunia yang dahulu pernah diduduki Inggris seperti Australia, Kanada, Afrika Selatan, Saint Helena, Bermuda, dan Sri Lanka ( https://en.wikipedia.org/wiki/Martello_tower ). Sementara itu, di Indonesia selain Benteng Klingker, benteng jenis Martello Tower juga dapat ditemukan di Pulau Cipir dan Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu.

Prince of Wales Tower di Kanada, contoh benteng jenis Martello Tower yang masih terawat baik.

Pembagian ruangan dalam benteng jenis Martello Tower ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Dalam sistem benteng Martello Tower, bangunan-bangunan benteng yang dulunya terpisah seperti gudang makanan dan amunisi, ruang perwira, dan ruang tembak, dijadikan dalam satu bangunan seperti menara. Biasanya benteng Martello Tower memiliki dua lantai lebih dan kadang dilengkapi dengan ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah untuk menyimpan suplai makanan dan air, lantai pertama untuk menyimpan senjata dan amunisi, lantai kedua untuk tempat tinggal prajurit dan perwira, dan bagian paling atas sendiri merupakan ruang tembak terbuka yang dilengkapi dengan meriam yang dapat diputar 360 derajat. Umumnya, benteng Martello Tower dibangun di tepi pantai karena kelebihan rancangannya yang dapat mengawasi semua wilayah dalam 360 derajat dan dapat menembak ke segala arah. Apabila melihat peta lama Belanda, Benteng Klingker ini sendiri bernama Fort Banjoenjapa yang berarti “bertemu air”. 

Lokasi Benteng Klingker. Dalam peta Cilacap tahun 1944, Benteng Klingker masih bernama Fort Banjoenjapa ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Sekian dulu cerita saya mengenai Benteng Klingker di Nusakambangan. Namun bukan berarti penjelahan benteng di Nusakambangan berakhir di Benteng Klingker saja. Masih ada satu benteng lagi di Nusakambangan yang harus kita sambangi. Benteng apa itu ? Tunggu tulisan saya di Jejak Kolonial selanjutnya.

Referensi
Abbas, Novida. 1996. “ Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad XVII-XIX di Jawa Tengah “ dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04-TH II/1996.

Oktaviadi, Abrianto. 2008. “ Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Setelah Abad ke-20 Masehi “ dalam Yulianto,Kresno. Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.


Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://en.wikipedia.org/wiki/Martello_tower

Jumat, 28 Juli 2017

Stasiun Tanggung, Stasiun Kecil Monumen Sejarah Kereta Api di Indonesia

Stasiun Tanggung merupakan sebuah stasiun kecil di daerah Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Meskipun berukuran kecil, stasiun ini ternyata menyimpan sejarah yang sangat besar karena merupakan saksi bisu dari pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa. Bagaimana kisahnya dan seperti apa kondisi stasiun ini sekarang ? Simak tulisan saya di Jejak Kolonial edisi kali ini.

Putaran Sejarah Kereta di Jawa

Entah benar atau tidak, kehadiran kereta api di Pulau Jawa rupanya sudah diramalkan jauh sebelum penjajah Eropa menginjakan kakinya ke Nusantara. Maharaja Jayabhaya, raja kerajaan Kediri yang memerintah pada abad ke 12 dipercaya membuat sebuah ramalan yang menggambarkan kondisi Pulau Jawa di masa depan. Salah satu ramalan tersebut berbunyi “Kelak akan ada kereta yang berjalan tanpa kuda dan Pulau Jawa akan berkalung baja”. Tentu ramalan tersebut sulit dipahami orang pada masa itu. Bagaimana bisa ada sebuah kereta yang bisa berjalan tanpa kuda dan yang lebih mengherankan, bagaimana membuat Pulau Jawa berkalung baja ? Sebuah jawaban yang akan terjawab tujuh abad kemudian.
Stasiun Samarang, stasiun pertama di Indonesia yang berdiri tahun 1867. Foto diambil sekitar tahun 1905. ( sumber : media-kitlv.nl ).
Abad 19 nun jauh di benua Eropa sana, muncul penemuan-penemuan cemerlang mahakarya dari Revolusi Industri. Salah satu dari sekian penemuan yang cemerlang tersebut adalah lokomotif uap yang ditemukan oleh George Stephenson pada 1829. Mesin baru tersebut dapat menarik beban lebih banyak dan sedikit lebih cepat ketimbang kuda ( Burschell, 1984;14 ). Dua dasawarsa sejak keberhasilan Stephenson, jalur kereta api segera dibuka di seantero Eropa termasuk wilayah jajahan mereka seperti Hindia-Belanda yang menjadi jajahan Belanda. 

Gagasan pembangunan jalur kereta di Jawa sesungguhnya sudah dicetuskan sejak tahun 1840. Kolonel Jhr. Van der WIjk-sang penggagas ide tersebut-melihat bahwa kereta api merupakan jawaban atas kendala prasarana dan sarana transportasi di Jawa. Sayangnya ide tersebut malah menimbulkan perdebatan di Parlemen hingga akhirnya tenggelam. Gagasan tersebut mencuat kembali ketika semakin banyak perkebunan yang dibuka oleh orang-orang koloni. Apalagi setelah melihat kesuksesan Inggris membuat jalur kereta di India pada tahun 1853. Sebagai langkah pertama, dilakukan sebuah studi banding oleh Stieljtes yang menyarankan untuk membangun jalur kereta dari Semarang-Ungaran-Salatiga karena di sana terdapat garnisun militer dan terdapat populasi orang Eropa dalam jumlah cukup banyak. Berbeda dengan saran dari Stieljtes, sebuah konsorium yang dibentuk oleh Poolman, Fraser, dan Kol mengusulkan agar membangun jalur kereta dari Semarang-Solo-Yogyakarta dengan pertimbangan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur yang diusulkan oleh Stieljtes. Pertimbangan lain karena  daerah Solo dan Yogyakarta ( Vorstenlanden ) sendiri merupakan wilayah penghasil ekspor yang kaya. Setelah melobi pemerintah, akhirnya konsorium milik Poolman cs mendapat konsensi membangun jalur kereta dari Semarang- Vorstenlanden. Tahun 1862 konsorsium tersebut berubah namanya menjadi Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij dan perusahaan tersebut menjadi perusahaan kereta pertama di Hindia-Belanda ( Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997; 48-53 ).
Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele ( 1806-1890 ), Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang meresmikan pembangunan jalur kereta api di Hindia-Belanda.
Tidak lama kemudian, 16 Juni 1864 diadakan sebuah upacara sebagai tanda dimulainya pembangunan jalur kereta. Gubernur Jenderal Mr. Baron Slur ( Sloet ) van de Beele tiba di Semarang dengan kereta kebesaran diiring dengan para pembesar dan serdadu untuk meresmikan upacara pencangkulan pertama yang diadakan esok hari. Di sepanjang Jalan Bojong ( kini jalan Pemuda ), dari kediaman Residen ( kini rumah dinas Gubernur Jawa Tengah ), lewat Heerenstraat ( kini Jalan Letjen. Suprapto ), hingga lokasi pencangkulan pertama di Tambaksari, masyarakat bederet-deret memadati jalan. Sesuai dengan adat kolonial, ketika Gubernur Jenderal lewat mereka harus berjongkok. Trap-trap yang dihias indah di lokasi pencangkulan menyambut sang gubernur. Masyarakat Semarang tumpah ruah di lokasi itu, maklum lawatan seorang Gubernur Jenderal merupakan hal yang jarang terjadi pada waktu itu. Pada 17 Juni 1864, dengan diiringi musik militer dan gamelan, Gubernur Jenderal melakukan upacara menyerok tanah, tanda dimulainya pembangunan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden dan serokan pertama itu sekaligus menjadi awal sejarah transportasi kereta di Nusantara ( Liem Thian Joe, 1931; 162 ).
Foto Stasiun Tanggung ketika baru saja dibuka pada tahun 1867. Wilayah sekitar stasiun masih terlihat seperti sebuah frontier. Foto ini diambil oleh agensi foto Woodbury & Page, co ( Sumber : media-kitlv.nl ).
Selama pembangunan jalur Semarang-Tanggung oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, tersiar rumor yang cukup menggemparkan di masyarkat. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa banyak penculik anak kecil yang keluar masuk perkampungan. Anak kecil ini nantinya akan dijadikan sebagai tumbal pembangunan jembatan mengingat takhayul masyakat pada waktu itu bahwa setiap pembangunan jembatan memperlukan sesajen agar selamat. Rumor tersebut menyebar begitu cepat bagai kabar hoax pada masa sekarang. Orang-orang tua mengawasi anaknya dengan lebih ketat sehingga setiap menjelang sore anak-anak tersebut pasti sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Setelah pembangunan jalur kereta selesaipun juga masih muncul rumor-rumor aneh. Mula-mula banyak orang yang tidak berani naik kereta api sebab mereka percaya jika orang yang naik kendaraan itu bisa hilang, dimakan oleh penunggu kereta. Masyarakat, terutama masyarakat pribumi dan Tionghoa percaya bahwa lokomotif itu dijalankan dengan kekuatan setan karena lokomotif itu bisa bergerak sendiri tanpa ditarik kdua. Namun sedikit demi sedikit orang mulai berani menaiki kereta ( Liem Thian Joe, 1931; 163 ).

Pembangunan jalur kereta api tentu tidak hanya berhenti sampai Tanggung saja. Ketika itu, wilayah Tanggung dapat dikatakan sebagai wilayah frontier yang nyaris tidak tersentuh oleh peradaban. Namun karena kesulitan finansial akibat biaya pembangunan yang ternyata melonjak dari perkiraan, maka pembangunan jalur kereta api terhenti sampai Tanggung, Grobogan yang selesai pada tanggal 10 Agustus 1867.  Bahkan tahun 1868 pembangunan kereta api di Jawa terancam gagal. Setelah mendapat bantuan dana dari pemerintah dan pengusaha, akhirnya pembangunan jalur kereta dapat diselesaikan sampai Surakarta pada 1870 dan Yogyakarta pada 1872. Dengan demikian, akhirnya wilayah Vorstenlanden terkoneksi dengan Semarang dan hasil-hasil perkebunan berhasil diangkut sampai pelabuhan membawa keuntungan besar bagi Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij sebagai operator. Kesuksesan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden menginspirasi dibangunnya jalur kereta api lain yang dioperasikan oleh pemerintah atau swasta. Hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa dibangun jalur rel baja yang saling menyambung satu sama lain tanpa putus, seolah Pulau Jawa berkalung besi. Di atas rel baja tersebut, melintas kereta-kereta yang tidak ditarik oleh kuda lagi, melainkan oleh lokomotif uap yang perkasa. Ya, Ramalan Maharaja Jayabhaya dari ratusan tahun silam sudah terwujud…

Stasiun yang Terbuat dari Kayu
Monumen peringatan di depan Stasiun Tanggung.
Ketika sampai di Stasiun Tanggung, rasanya kita nyaris tidak akan percaya bahwa dari stasiun sederhana ini, sejarah kereta api akan bermula. Kita baru akan disadarkan dengan sebuah tugu peringatan yang terletak di depan pintu masuk stasiun. Di tugu itu, tertulis “Di Bumi inilah kita bermula” sebagai pengingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia. Seharusnya tugu tersebut didirikan di eks Stasiun Samarang di Kemijen, Semarang yang menjadi titik awal pembangunan jalur kereta api. Sayangnya stasiun bersejarah tersebut sekarang nyaris terbenam rob dan sulit dikenali bekasnya. Ya, bertambah satu lagi monumen sejarah kita yang terlupakan…
Beberapa contoh bangunan stasiun dari kayu yang ada di Jawa. Kiri atas merupakan bangunan Stasiun Gresik ( sumber foto : flickr.com ), kanan atas ialah bangunan Stasiun Mayong, Jepara yang kini dipindah di sebuah resort di Magelang ( sumber foto : jejakbocahilang.wordpress.com ), kanan bawah Stasiun Tanggun, dan kiri bawah adalah Stasiun Maguwo Lama. Dari keempat stasiun tersebut, hanya Tanggung saja yang masih aktif.
Hampir seluruh bangunan ini terbuat dari kayu, baik dindingnya maupun tiang-tiangnya. Hanya genting dan lantainya saja yang tidak. Sangat sedikit stasiun yang yang bangunannya terbuat dari kayu. Setidaknya hanya empat stasiun di Jawa yang masih terbuat dari kayu, yakni Stasiun Tanggung, Stasiun Maguwo Lama di Yogyakarta, Stasiun Mayong di Jepara ( yang bangunannya dipindahkan ke sebuah resort di Magelang ), dan Stasiun Gresik. Dari sekian Stasiun tersebut, saat ini hanya Stasiun Tanggung saja yang masih aktif. Kayu-kayunya masih kuat menyangga konstruksi stasiun meskipun sudah berumur lebih dari seratus tahun. Pada tahun 1980, bangunan Stasiun Tanggung hampir dipindah ke TMII, untunglah hal tersebut batal dilakukan. Jika tidak terpaksa, memang lebih baik situs sejarah tetap berdiri di tempatnya.
Stasiun Tanggung dilihat dari sisi barat. Tampak bangunan kamar mandi yang terpisah dari Stasiun.
Peron stasiun Tanggung. Terlihat hamparan lantai tegel yang masih asli.
Kamar tunggu Stasiun Tanggung yang sederhana.
Stasiun Tanggung sendiri terbilang bersahaja, hanya memiliki empat ruang saja, yakni ruang kepala stasiun merangkap ruang penjualan loket, gudang, kamar tunggu, dan ruang PPKA. Untuk ruang yang terakhir, ruangan tersebut merupakan tambahan baru paska kemerdekaan. Stasiun ini terletak di sebelah utara rel dan hanya memiliki dua jalur dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus. Aslinya, Stasiun Tanggung dahulu aslinya memiliki lebar rel 1435 mm. Lebar rel tersebut merupakan lebar rel standar Eropa yang disyaratkan dalam awal pembangunan. Namun pada masa penjajahan Jepang, jalur rel tersebut digeser menjadi 1067 mm sampai sekarang.
Dinding sisi barat Stasiun Tanggung. Stasiun Tanggung merupakan stasiun bergaya Swiss-Chalet.
Bagian belakang Stasiun Tanggung.
Dari sisi arsitektur, bangunan Stasiun Tanggung memiliki gaya arsitektur Swiss Chalet. Gaya arsitektur ini aslinya dari Swiss dan dipakai pada bangunan lumbung, kandang, atau rumah tinggal. Banyak orang yang senang dengan gaya Swiss Chalet karena kesannya sederhana namun cantik. Dengan banyaknya turis yang bertamasya menikmati hawa sejuk Alpen di Swiss, maka pada abad ke-18, arsitektur Swiss Chalet menyebar ke Eropa, utamanya di Jerman dan Belanda. Ciri gaya arsitektur Swiss Chalet dapat kita lihat pada bagian atap pelana yang diberi dekorasi dan ekspose tiang konstruksi ( Davies dan Jokkinemi, 2008; 373 ). Entah bagaimana ceritanya gaya arsitektur dari pegunungan Swiss yang dingin tiba-tiba dipakai pada sebuah stasiun yang terletak di dataran rendah beriklim tropis yang panas. Barangkali karena gaya arsitektur tersebut sesuai untuk bangunan kecil tanpa harus mengurangi nilai estetikanya.
Litografi karya Josias C.Rappard yang menggambarkan beberapa penumpang sedang menunggu kereta. Terlihat tidak ada penumpang pribumi yang menunggu karena pada waktu itu orang pribumi belum berani menumpang kereta. Sumber : troppenmuseum.nl
Berdasarkan data dari litografi karya Josias C. Rappard dan foto yang dibuat agensi fotografi Woodbury & Page co tahun 1867, rupanya bangunan Stasiun Tanggung yang sekarang bukanlah bangunan Stasiun Tanggung yang dibangun tahun 1867. Usut punya usut ternyata bangunan yang berdiri sekarang merupakan hasil rombakan oleh N.I.S.M sekitar tahun 1900-1910an. Pada waktu itu N.I.S.M memang sedang gencar merombak stasiun-stasiunnya agar terlihat lebih menarik ( Tim Penyusun, 2015; 2-3 ). Bangunan ini sendiri sudah berulangkali direnovasi karena wilayah Tanggung kerap diterjang banjir. Terakhir kali direnovasi yakni tahun 2007.
Rumah dinas Stasiun Tanggung.
Reruntuhan gudang Stasiun Tanggung.
Dekat dengan Stasiun Tanggung, terdapat sebuah rumah tua kecil yang dahulu menjadi rumah dinas kepala Stasiun Tanggung. Sama halnya dengan Stasiun Tanggung, bangunan ini terbuat dari kayu dan uniknya, bangunan ini berbentuk seperti rumah panggung. Cukup unik karena rata-rata rumah dinas pegawai stasiun merupakan terbuat dari bata dan tidak berbentuk rumah panggung. Masih di area Stasiun Tanggung, terdapat reruntuhan bangunan yang dahulunya merupakan sebuah gudang.

Demikianlah ulasan singkat saya mengenai Stasiun Tanggung di tulisan Jejak Kolonial kali ini. Kesederhanaan stasiun ini menyembunyikan cerita sejarah besar, cerita yang sayangnya tidak ditulis dalam buku pelajaran sejarah sekolah. Padahal berkat kereta api, kota-kota di Jawa yang dulunya terisolasi akhirnya tersambung satu persatu dan terkoneksi dengan dunia luar. Tidak terbayangkan jika seandainya kereta api tidak pernah dibangun di Jawa, mungkin selamanya Jawa akan terbelakang seperti pulau-pulau lain yang belum memiliki jalur kereta. Semoga keberadaan stasiun kecil ini dapat dilestarikan dengan baik.

Referensi
Burschell, S.C. 1984.  Abad Kemajuan. Jakarta : Penerbit Tira Pustaka

Davies, Nikolas dan Erkki Jokiniemi. 2008. Dictionary of Architecture and Building ConstructionOxford : Architectural Press.

Liem Thian Joe, 1931, Riwajat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij.

Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api , Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten ; Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Telaga Bakti Nusantara. 1997. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Bandung ; Penerbit Angkasa.