Minggu, 27 Desember 2015

Cerita Dibalik Loji Gedongan

Halo sobat Jejak Kolonial, kali ini saya mengajak anda semua untuk melihat hasil eksplorasi saya ke Loji Gedongan yang secara administratif berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Seperti yang sudah saya singgung di tulisan saya sebelumnya yang berjudul " Loji Minggir : Jejak Kolonial di Daerah Pinggiran ".persebaran bangunan kolonial tidak terpusat di kota saja. Di kawasan pedesaan  pun juga bisa ditemukan keberadaan bangunan kolonial seperti di Gedongan ini. Mendengar namanya saja, mungkin kita bisa membayangkan bahwa di tempat ini terdapat sebuah Gedong, sebutan orang zaman dahulu kepada bangunan besar dari bahan permanen yang rata-rata merujuk pada bangunan kolonial. Kira-kira seperti apa loji yang saya temukan di Gedongan dan apa cerita dibaliknya ? Simak terus tulisan saya di bawah ini.

Cerita awal
Lokasi Gedongan.
Saya baru mengetahui keberadaan loji ini ketika saya pulang ke Purworejo lewat jalan Godean. Sebelum saya sampai di perempatan lampu merah Gedongan, ( jika lurus sampai di Nanggulan, jika belok kiri akan sampai ke Sentolo, jika belok kanan sampai Tempel dan jika berputar arah kembali lagi ke Godean ), perhatian saya tertuju pada sebuah bangunan tua tak terawat dengan jendela krepyak tinggi, tanda bahwa ini adalah sebuah bangunan dari masa kolonial. Lokasi loji ini persis di sebelah Balai Desa Sumberagung. Dugaan saya semakin kuat setelah saya membuka peta lama daerah Gedongan dan benar saja, persis di tempat bangunan kolonial tadi berdiri, ada tanda kotak merah, tanda bahwa di situ pernah berdiri sebuah loji atau bangunan kolonial. Meski demikian, pertanyaan di benak saya seperti mengapa ada bangunan kolonial di sini dan apa hubungannya dengan nama Gedongan masih belum terjawab.


Cerita dari Loji
Lokasi loji atau rumah tua di Gedongan.
Tugas mata kuliah saya yang bernama “Pengantar Penelitian Arkeologi” menjadi kesempatan saya untuk menjawab pertanyaan tadi. Setelah mengurus surat izin penelitian yang cukup direpotkan akibat birokrasi yang lumayan berbelit, saya bersama beberapa teman selanjutnya menyurvey loji ini untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan, baik itu data fisik bangunan maupun data sejarahnya.
Loji kopel.
Nah, Loji yang pertama kali yang akan kita kunjungi di sini adalah loji yang berada di sebelah timur balai desa Sumberagung. Dari luar, terlihat rumput liar yang cukup tinggi hampir menutup seluruh halaman depan loji. Untuk mendekati loji, kita akan masuk lewat pintu di halaman belakang. Di sini, kita dapat melihat deretan kamar yang dahulu menjadi kamar pembantu. Tidak jauh dari situ, saya melihat sebuah bangunan kecil yang tidak kalah tingginya dari bangunan loji utama. Sepertinya bangunan ini semacam istal atau kandang kuda. Hal ini terlihat dari pintu masuknya yang tinggi dan lebar. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pemilik loji ini barangkali dahulu memiliki seekor kuda, alat transportasi yang banyak dipakai oleh orang zaman dahulu. Di daerah pedesaan seperti Gedongan, kuda menjadi pilihan transportasi untuk berpergiaan karena meski saya yakin si tuan rumah sebenarnya mampu membeli mobil, apalah artinya jika di sekitarnya belum tersedia fasilitas perawatan seperti bengkel. Pakan kuda juga mudah ditemukan di wilayah pedesaan. Saya jadi membayangkan si  tuan rumah yang mungkin dulu adalah seorang pengawas perkebunan atau controleur, mengawasi perkebunan dari atas pelana kuda.
Deretan kamar di belakang.
Kembali ke pembahasan Loji ini. Dilihat dari luar, loji ini tampak tertutup. Karena bagian depan loji agak sulit untuk dilewati akibat tertutup oleh tanaman liar, maka kita akan mengintip bagian dalam loji lewat pintu belakang yang sedikit terbuka. Di bawah genting yang nyaris ambrol, kita dapat melihat kondisi bagian dalam loji yang gelap dan kumuh,. Tampaknya loji ini sudah lama ditinggalkan oleh si empunya rumah.

Loji ini terdiri sebuah bangunan yang dibagi dua rumah tinggal. Adapun rumah sebelah yang juga sama-sama kosong kini sudah menjadi bagian dari rumah milik warga. Kamar belakang yang kita lihat di belakang tadi rupanya berpunggungan dengan kamar belakang rumah sebelah. Sehingga dari atas, denah loji ini membentuk huruf “T”.
Balai Desa Sumberagung.
Di sebelah barat loji tadi, terdapat kantor Balai Desa Sumberagung. Oh ya, di tempat yang sekarang sudah berdiri Balai Desa Sumberagung juga pernah berdiri sebuah loji. Namun pada masa Agresi Militer Belanda II, loji ini rusak parah akibat terkena ledakan mortir yang ditembakan oleh tentara Belanda dari Cebongan. Saking parahnya sehingga keseluruhan bangunan harus dirobohkan. Selanjutnya pada tahun 1960-an, lahan bekas berdirinya bangunan tadi didirikan sebuah balai desa. Kira-kira seperti apa bentuk bangunan yang hancur tadi ?
Loji yang saat ini ditempati oleh keluarga Mas Luthfi.
Tepat di barat balai desa, terdapat sebuah loji megah yang sepertinya belum pernah dirombak sama sekali. Menurut saya, beginilah kira-kira wujud loji yang kini berubah menjadi Balai Desa Sumberagung. Loji ini sekarang ditempati oleh Keluarga Mas Luthfi. Saya berterima kasih banyak kepada beliau yang sudah mengizinkan saya beserta teman saya untuk melihat-lihat bagian dalam rumah. Dari luar, fasad depan rumah terlihat menonjol dengan adanya atap pelana yang menghadap ke depan. Di bawah atap pelana ini, terdapat hiasan barge board yang berguna untuk menahan sengatan matahari. Atap pelana ini menaungi sebuah serambi depan yang diapit oleh sebuah ruangan yang kini menjadi ruang tamu.
Bagian dalam loji.
Bagian dalam ruangan sangat sederhana, yakni hanya terdiri dari sebuah ruang tengah dengan dua kamar di samping kiri ruang. Lantai rumah pun juga cukup sederhana, yakni hanya dilapisi dengan semen saja. Meski sederhana, tapi tembok yang tinggi ditambah jendela besar menjadikan hawa udara di dalam ruangan terasa sejuk meski tanpa AC. Di bagian atas, lewat plafon yang sedikit terbuka, saya dapat melihat konsturksi kuda-kuda dari kayu jati. Tidak lupa saya ditunjukan oleh pemilik rumah pada sebuah genteng tua yang tidak pecah ketika jatuh. Di belakang rumah, saya ditunjukan sebuah sumur tua. Dinding sumur tua ini tidak terbuat dari bis-bis beton yang dibuat melingkar, melainkan dari batu-bata khusus. Bata ini jika disusun akan menghasilkan bentuk melingkar. Di samping kanan rumah, terdapat bangunan tambahan yang sudah beda pemilik.
Denah ruangan.
Menurut tuan pemilik rumah, sebelum rumah ini ditempati, rumah ini benar-benar tidak terawat, sama seperti loji yang pertama kali kita lihat tadi. Bahkan kali pertama dia melihat rumah, dia sendiri melihat ada bekas tumpukan sesajen entah apa maksudnya. Tapi yang jelas, semenjak rumah ini ditempati, rumah ini menjadi lebih terawat.
Sisa loji yang kemungkinan merupakan tempat tinggal Administrateur.
Setelah melihat bangunan yang ada di selatan jalan, kita selanjutnya berpindah ke bangunan yang ada di utara jalan karena menurut peta lama, di utara jalan terdapat loji yang cukup besar.  Awalnya saya sendiri mengira kalau loji ini sudah hancur, tapi dugaan saya salah. Ternyata bangunan loji di peta tadi berdiri persis di belakang Indomaret Gedongan sehingga dari jalan tidak terlihat. Dengan seizin pemilik rumah (sayangnya saya sendiri sudah lupa siapa namanya), saya bisa mengintip bagian dalam rumah.
Potongan jalur lori yang dahulu pernah ada di Gedongan. Lori ini terhubung dengan pabrik gula Sendangpitu yang terletak 5 kilometer ke utara dari Gedongan
Menurut penuturan tuan rumah, rupanya loji ini sebagian hancur akibat terkena serangan mortir Belanda. Serangan yang sama dengan serangan yang menghancurkan loji yang kini menjadi balai desa. Di sini kita bisa melihat sebuah kaca jendela bagian atas yang warnanya terlihat berbeda sendiri. Saya melihat warna jendela ini berwarna transparan, sementara jendela lainnya berwarna agak oranye. Rupanya warna jendela ini diganti bukan tanpa sebab. Selain menghancurkan sebagian bangunan, serangan mortir tadi juga membuat sebagian kaca jendela pecah sehingga jendela lama yang berwarna oranye tadi, diganti dengan kaca jendela baru berwarna transparan.
Bekas lubang surat.
Masih di loji ini, kita dapat menemukan sebuah lubang kecil di dinding depan yang setelah saya amati ternyata adalah bekas lubang tempat memasukan surat. Saya berpikir sepertinya dahulu loji ini merupakan usat administrasi yang cukup penting dan setiap harinya, si tuan rumah menerima berbagai berkas administrasi penting lewat lubang kecil ini.
Bagian pagar depan yang masih tersisa.
Setelah melihat loji tadi, mata saya kemudian menangkap sebuah tugu kecil yang sepertinya bukan buatan masa sekarang. Tugu kecil ini juga saya temukan di dekat kios tambal ban di samping Indomaret. Ternyata, menurut warga sekitar, tugu kecil ini merupakan bagian dari pagar depan loji yang saya lihat tadi.
Bangunan yang dahulu menyatu dengan bangunan tempat tinggal administrateur.
Di belakang kios tambal ban tadi, kita akan melihat ada sebuah bangunan kecil yang sepertinya sama tuanya dengan loji-loji tadi. Saya berasumsi bahwa bangunan ini merupakan bagian bangunan tambahan loji yang terakhit saya lihat tadi.  Bangunan ini kemungkinan dahulu menyatu dihubungkan bangunan utama dengan sebuah selasa. Saya lihat bangunan ini terdiri dari deretan kamar yang memanjang. Bangunan tambahan ini merupakan yang terbesar di Gedongan. Saya jadi membayangkan, jika bangunan tambahannya saja sebesar ini, bagaimana dengan bangunan utamanya ?
Bangunan tempat tinggal bergaya lama di sebelah timur Indomaret. Tidak diketahui apakah bangunan ini masih asli atau sudah mengalami penambahan.
Sebenarnya di sebelah timur Indomaret, masih ada sebuah loji lagi. Tapi saya agak ragu apakah loji ini bangunannya masih asli atau sudah mengalami rombakan.

Dibalik Loji Gedongan
Gedongan pada peta tahun 1933. Perhatikan tanda-tanda kotak merah di tengah merupakan lokasi loji-loji Gedongan ini berdiri.(sumber : maps.library.leiden.edu).
Pertanyaan saya soal keberadaan loji ini mulai sedikit tersingkap setelah kami bertemu dengan Bapak Sujudi, sesepuh Kampung Gedongan yang kini sudah berusia 85 tahun. Di usianya yang sudah senja, dia masih terlihat sehat dan daya ingatnya pun cukup baik. Rumahnya sendiri ternyata tidak jauh dari loji yang ditempati oleh keluarga Mas Luthfi. Ternyata dahulu rumah Bapak Sujudi merupakan bekas tempat pembangkit listrik yang memanfaatkan aliran air dari sebuah saluran air yang melewati Gedongan. Tentu saja Gedongan di masa lalu merupakan sebuah wilayah yang cukup terpencil sehingga untuk menunjang aktivitas yang ada maka dibuatlah sebuah pembangkit listrik. Bapak Sujudi yang rupanya seorang veteran agresi militer Belanda ini bercerita, bahwa loji-loji ini dahulu merupakan pusat perkebunan tebu yang menyuplai tebu untuk PG Sendangpitu, PG Rewulu, dan PG Demakijo ( Semua PG ini sudah tinggal nama saja).
Sebuah foto lama yang diduga merupakan Loji Gedongan. Terlihat batur bamgunan rumah masih terlihat tinggi. Di bagian beranda depan terlihat si tuan rumah sedang duduk. Sementara di halam depan tampak dua juru pelihara kuda (sumber : media-kitlv.nl).
Pabrik Gula Rewulu (sumber : troppenmusuem.nl).
Pabrik Gula Demakijo (sumber : troppenmusuem.nl).
Sayangnya, beliau tidak tahu persis kapan loji ini dibangun. Beliau juga tidak tahu siapa yang dahulu tinggal di loji ini. Tapi yang jelas, sejak dia lahir, loji ini sudah ada. Selanjuntya, beliau bercerita, di masa Agresi Militer II, loji-loji ini menjadi markas para pejuang, sehingga sekitar wilayah Gedongan dihujani dengan tembaka Mortir oleh Belanda. Hujan Mortir ini menghancurkan beberapa loji yang ada di Gedongan. Jadi dapat dikatakan loji-loji ini merupakan salah satu saksi bisu peristiwa Agresi Militer Belanda II. Akhirnya, cerita beliau ditutup dengan pernyataan bahwa mungkin dari loji-loji inilah asal nama Gedongan berasal…. 

Demikian tulisan saya mengenai Loji Gedongan. Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa Loji Gedongan memiliki nilai sejarah yang cukup penting bagi daerah Gedongan. Dari loji inilah, nama Gedongan berasal. Loji ini juga menjadi bagian dari sejarah peristiwa Agresi Militer Belanda II. Oleh karena itulah, loji-loji ini bagi saya patut untuk dilestarikan karena jarang sekali ada sebuah loji dengan nilai sejarah cukup tinggi yang berdiri di tengah pedesaan…

Sabtu, 12 Desember 2015

Prembun, Sepenggal Kolonial di Ujung Timur Kebumen

Terletak di ujung timur Kabupaten Kebumen, tak banyak yang tahu bahwa di pernah berdiri sebuah pabrik gula di Prembun. Pabriknya memang telah terkubur oleh sang kala, tapi jejak sejarahnya masih bisa ditemui. Inilah sebuah ikhtisar tentang sepenggal kolonial di ujung timur Kebumen.
Lokasi kecamatan Prembun dalam peta Kabupaten Kebumen (warna ungu).
“ Lain kali kalau mau foto-foto bilang ke sini dulu ya mas ! “, perintah bapak polisi itu. “ Siap pak !”, sahut saya. “ Kalau sudah izin kan nanti bisa lihat-lihat dalam “, sambungnya. Bermula dari kecerobohan saya yang lupa meminta izin pada penjaga, saya justru mendapat kesempatan emas untuk melihat lebih dekat bangunan tua yang kini menjadi kantor Polsek Prembun itu. “ Ini dulu bangunan dari zaman kolonial Belanda mas “, terang polisi lain. Balutan kolonial memang masih begitu kentara di kantor yang berada di pinggir jalan raya Kebumen-Purworejo. Lihatlah jendela krepyak yang masih utuh terpasang di tempatnya. Beranda depan yang tinggi ditopang oleh tiang-tiang dari kayu jati. Halaman depannya juga amat luas sehingga belasan mobil dapat terparkir di situ.

Bangunan bekas tempat tinggal rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor Polsek Prembun.
Lokasi rumah adminsitrateur pada foto lama.
Beranda depannya berhias dengan lantai tegel bercorak puspa, yang sekilas gayanya mengingatkan saya pada seni hias art nouveau yang pernah digandrungi orang pada akhir abad ke-10. Bangunan itu sepertinya tidak diperuntukan sebagai kantor polisi, melainkan untuk sebuah rumah tinggal. Dari ukuran dan luasnya halaman, jelas bukan sembarang orang yang dulu pernah menghuninya. “ Dahulu yang tinggal di sini itu katanya pegawai pabrik gula, tapi saya tidak tahu pabrik gula mana “, terang polisi tadi.
Bekas ruang kamar-kamar pembantu yang saat ini menjadi asrama polisi.
Lantai tegel bergaya art nouveau di bagian serambi depan polsek Prembun.
Lantai tegel bercorak geometris di bagian dalam Polsek Prembun.
Bangunan bekas paviliun di samping kanan bangunan utama Polsek Prembun.
Suikerfabriek Remboen atau PG Prembun adalah pabrik gula yang dimaksud bapak polisi tadi. Wajar jika bapak polisi tadi tidak mengetahuinya karena keberadaan pabrik itu tampaknya sudah lekang dari ingatan orang-orang sekitar. Catatan kawan saya dari Banjoemas Heritage, Milo Jatmiko, menyebutkan bahwa pabrik gula itu sudah ada sejak tahun 1889. Pabrik gula milik Belanda tertua di Karesidenan kedu itu dikuasai oleh sebuah perusahaan agrobisnis partikelir, Java-Suikercultuur Maatschappij dan kantor polisi yang sedang saya sambangi saat ini dahulunya adalah kediaman adminsitrateur atau kepala operasional PG Prembun. Tidaklah heran apabila bangunan itu tampak megah laksana istana mengingat administrateur adalah jabatan tertinggi di lingkungan pabrik. Salah satu administrateur yang pernah berdiam di situ ialah J.G. Tjassens Keizer.
Bangunan kolonial di dalam SMP N 1 Prembun dan lokasinya  pada foto lama.
Tersembunyi di balik gerbang SMP N 1 Prembun, saya menjumpai sebuah bangunan kolonial yang entah apa fungsinya. Apakah ia dulunya merupakan rumah wakil administrateur, kantor administrasi, atau societeit, tempat pegawai bersenang-senang ? Dari sana, saya kemudian melesat menyeberangi jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
Foto udara PG Prembundi ambil dari sebelah utara (sumber : troppenmuseum.nl).
Foto udara PG Prembun diambil dari sebelah tenggara. Tampak dengan jelas pemandangan kompleks pabrik dan perumahan pegawai (sumber : troppenmuseum.nl).
Sisa-sisa PG Prembun saat ini.
Tatkala saya sudah berada di seberang jalan, benak saya membayangkan sebuah pabrik gula besar yang di bagian mukanya terpampang angka tahun 1926, tahun dimana PG Prembun diperbesar. Sekitar tahun 1900an awal, pabrik gula itu diambilalih oleh salah satu dari " Big Six " perusahaan keuangan di Hindia Belanda, Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij, yang telah memiliki beberapa pabrik gula di tempat lain seperti Gudo, Balapulang, dan Pagongan. Disadur dari harian Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 24 Januari 1938, PG Prembun sempat ditutup tahun 1933. Tidak dijelaskan apa sebabnya tapi pada tahun itu, banyak pabrik gula di Jawa yang ditutup untuk memperbaiki harga gula yang sempat merosot di pasaran. Namun setelah direksi Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij bernegosiasi dengan pemerintah kolonial, PG Prembun dibuka kembali pada tahun berikutnya dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. 
Foto hitam putih bangunan PG Prembun atau S. F Remboen. Di dinding muka bagian atas, terdapat angka tahun 1926 yang menunjukan tahun bangunan itu berdiri. Bangunan ini dahulu berdiri persis di pinggir jalan raya yang Purworejo - Kebumen. Bangunan ini sekarang sudah hilang (sumber : troppenmuseum.nl).
Kompleks rumah pegawai PG Prembun. Gambar diambil dari dekat jalur kereta api. ( troppenmuseum.nl ).
Para pegawai administrasi yang sedang bekerja ( sumber ; troppenmuseum.nl ).
Mesin penggiling tebu PG Prembun ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Bangunan utama PG Prembun memang telah lama lenyap, tapi tak diketahui apa sebab ia akhirnya berhenti bergiling dan bangunan pabriknya hilang begitu saja. Tapi beruntung, pabrik gula itu masih meninggalkan jejak berupa dokumentasi foto. Sekitar tahun 1920an, kompleks pabrik gula itu sempat diambil fotonya termasuk dari udara. Foto itu setidaknya memberikan gambaran kepada kita yang hidup di zaman sekarang seperti apa rupa PG Prembun di masa ketika ia masih berjaya.


Bangunan bekas rumah dinas yang berada di pinggir jalan raya.


Tiga rumah identik di pinggir jalur rel Kutoarjo-Kebumen
Salah satu bekas rumah dinas pegawai PG Prembun yang masih lumayan terjaga.
Di sisi selatan jalan, saya banyak sekali menemukan rumah-rumah bergaya kolonial yang masih ada sangkut pautnya dengan PG Prembun. Untuk mengakomodir para pegawai pegawai menengah seperti zinder atau ahli tanaman tebu,chemicer atau ahli gula, hingga kepala masinis kereta lori pengangkut tebu, dibangunlah rumah-rumah berukuran sedang yang saling berdekatan, membentuk semacam industrial village. Karena lokasinya berada di pinggir jalan yang strategis, banyak yang akhirnya berubah wujud menjadi toko-toko.
Bangunan kamar bola yang hanya menyisakan struktur dinding saja.
Sebuah bangunan kolonial yang saat ini digunakan sebagai sarang walet.
Di sebelah bangunan tadi, terdapat bangunan dengan bentuk serupa yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.
Sebuah rumah tua yang berada di dekat terminal Prembun. Kondisi rumah sebenarnya masih baik, namun karena sudah lama ditinggalkan, rumah ini sekarang dipenuhi dengan kelelawar.
Memasuki gang perkampungan, saya mendapati beberapa rumah kuno yang masih utuh dan lumayan terawat. Namun ada pula yang malang nasibnya. Contohnya adalah sebuah rumah kopel yang tak jauh dari rel yang kini hanya menyisakan puing-puing tembok saja. Ada juga yang saking lamanya tidak ditempati akhirnya menjadi sarang kelelawar.
Bangunan stasiun Prembun.
Bangunan rumah dinas pegawai stasiun Prembun.
Perjalanan saya di Prembun saya akhiri di Stasiun Prembun, sebuah stasiun kecil yang masih beroperasi, dimana di sana dulu karung-karung gula PG Prembun diangkut. Tak jauh darinya, masih berdiri kokoh sebuah rumah kuno yang dahulu ditempati oleh kepala Stasiun Prembun. Saya cukup terkesan dengan perjalanan kali ini karena akhirnya saya sadar bahwa tinggalan kolonial di Kabupaten Kebumen tak hanya terbatas pada Benteng Van der Wijk Gombong saja dan bangunan-bangunan kuno di Prembun itu seakan menjadi monumen dari PG Prembun yang jejak fisiknya kini lenyap dan mungkin sudah lekang dari ingatan banyak orang…

Jumat, 27 November 2015

Benteng Vredeburg, Jejak Kompeni di Bumi Mataram

    
Barangkali, peninggalan masa kolonial yang paling mudah dikenal oleh kita semua adalah benteng. Tidak salah memang karena benteng sendiri merupakan bangunan awal yang dibangun oleh orang-orang Eropa ketika mereka pertama kali di Nusantara adalah benteng. Dari benteng-lah, orang-orang Eropa, terutama orang Belanda mempertahankan kepentingan mereka dan secara perlahan berusaha menguasai Nusantara.

Nah, benteng kolonial pertama yang akan saya bahas di tulisan Jejak Kolonial kali ini adalah Benteng Vredeburg di tengah-tengah kota Yogyakarta. Mengapa Benteng Vredeburg ? Pertama, lokasi benteng dekat dengan tempat tinggal saya di Yogyakarta. Kedua, bagian-bagian benteng  ini masih utuh dan terawat sehingga dapat memberikan gambaran kepada kita mengenai kehidupan orang-orang kolonial di dalam benteng. Ketiga, benteng Vredeburg memiliki sejarah yang cukup penting dalam sejarah keraton Yogyakarta serta dalam perkembangan kota Yogyakarta. Kira-kira bagaimana sejarah dibalik Benteng Vredeburg ? Mari kita telusuri bersama.

Dari Benteng Perdamaian ke Museum Perjuangan
Lingkungan benteng Vredeburg (A) pada tahun 1830 yang direproduksi ulang pada tahun 1890. Perhatikan bahwa kantor Residen atau sekarang menjadi Gedung Agung (B) ada di sebelah barat benteng. Sementara itu di sebelah utara terdapat pasar Beringharjo (H) dan sebuah pemakaman (F). Di sisi timur benteng, terdapat pemukiman Eropa yang disebut Loji Kecil (D).
Sejarah benteng ini bermula dari tahun 1760, ketika Sultan Hamengku Buwono I akhirnya mengizinkan VOC membangun sebuah benteng yang sederhana di sebelah utara keraton Kasultanan. Pada waktu itu, kursi kepemimpinan VOC di Nusantara diduduki oleh Gubernur Jenderal Nicholas Hartingh. Konstruksi benteng  pada awalnya masih sangat sederhana, yakni terbuat dari dinding tanah dan batang pohon ( Bruggen. 1998; 42). Benteng ini kemudian diberi nama Fort Rustenburg.

Kemudian, setelah Nicholas Hartingh lengser dan diganti oleh W. H. Ossenberch, benteng ini diusulkan untuk diperkuat agar keamanan dibalik tembok benteng lebih terjamin. Maka tahun 1765, dengan pengawasan dari insinyur zeni Ir.Frans Haak, konstruksi benteng ini diperkuat dengan batu-bata. Sultan Yogya ternyata masih disibukan dengan urusan pembangunan Keraton, maka bahan dan tenaga yang dijanjikan untuk membangun benteng dialihkan untuk membangun Keraton, sehingga pembangunan benteng baru dapat diselesakan pada tahun 1787. Kehadiran benteng asing yang berdiri di dekat lingkungan kraton lokal menunjukan bahwa VOC yang notabene hanyalah sebuah perusahaan dagang yang berkantor pusat nun jauh di Amsterdam sana, memiliki pengaruh yang kuat diantara kerajaan-kerajaan lokal seperti Kasultanan Yogyakarta. Benteng ini juga menjadi bukti pengaruh VOC sudah mulai memasuki daerah pedalaman pulau Jawa. Sebelumnya, pengaruh VOC baru muncul di daerah pesisir untuk mengamankan jalur pelayarannya. Kini, setelah wilayah pedalaman mendapat pengaruh, mereka semakin mudah mendapatkan bahan-bahan pokok yang dibutuhkan seperti beras dan juga bisa memaksakan monopoli perdangangan kepada kerajaan lokal.
Benteng Vredeburg pada tahun 1920an.Perhatikan jembatan ungkit di depan gerbang benteng masih digunakan (sumber : colonialarchitecutre.eu).
Pada tahun 1811, setelah pemerintah koalisi Belanda-Perancis menyerah kepada tentara Inggris di Tuntang, banyak benteng-benteng yang semula milik Belanda, kini berpindah tangan ke Inggris termasuk  benteng Vredeburg. Benteng ini dikuasai oleh Inggris dari 1811-1816. Bendera De Driekleur, simbol kerajaan Belanda yang semula berkibar di atas tembok benteng, kini digantikan dengan bendera Union Jack, simbol kerajaan Inggris.
Parit benteng Vredeburg sisi timur pada tahun 1930an. Di sebelah kiri tampak bastion sisi tenggara dengan meriam kuno di atasnya. 
(sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 122.)
Setelah Inggris cabut dari Pulau Jawa, benteng ini menjadi garnisun militer Belanda di Yogyakarta. Di masa Perang Jawa (1825-1830), Benteng Vredeburg menjadi incaran para pasukan Diponegoro. Berulangkali benteng ini diserang namun tidak pernah jatuh. Selama perang, benteng ini digunakan sebagai tempat menahan para pengikut Pangeran Diponegoro. Akhirnya Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830. Situasi kemanan yang semula kacau, kini bisa pulih kembali. Situasi ini menyebabkan banyak orang yang mulai berani tinggal di luar benteng, sejak saati itu, munculah pemukiman Belanda di luar benteng. Pemukiman di luar benteng tadi  berpusat di sebelah timur benteng dan kawasan pemukiman ini sekarang dikenal sebagai Loji Kecil. Meskipun sudah ada pemukiman di luar tembok benteng, namun segala aktivitas masih berpusat di dalam benteng walau sudah mulai berkurang.
Benteng Vredeburg pada tahun 1935. Jembatan ungkit sudah diganti dengan jembatan biasa (sumber : colonialarchitecture.eu).
Pada tahun 1867, terjadi sebuah gempa bumi besar yang merusak banyak bangunan di Yogyakrta termasuk benteng ini. Setelah diperbaiki, nama benteng yang semula bernama Fort Rustenburg diganti dengan Fort Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian. Nama yang terlihat ironis untuk sebuah benteng.
Foto udara kawasan titik nol yang menjadi pusat kota Yogyakarta. Tampak benteng Vredeburg (kotak kuning) dan perumahan perwira di sisi barat yang kini sudah tidak ada lagi (kotak merah) (sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 114).
Setelah bala tentara Dai Nippon “membebaskan” Yogyakarta dari pengaruh kolonial Belanda pada tahun 1942, benteng ini digunakan sebagai markas Kempetai, sebuah institusi militer Jepang yang sangat ditakuti oleh banyak orang karena kekejamannya. Benteng ini oleh Jepang juga digunakan sebagai kamp internir orang-orang Belanda. Ya, benteng yang dahulu dibanggakan oleh orang-orang Belanda sebagai simbol kekuasaan mereka, kini malah berubah menjadi penjara untuk diri mereka sendiri.
Lokasi benteng Vredeburg pada peta Yogya tahun 1925 (sumber :colonialarchitecture.eu).
Paska kemerdekaan, Benteng Vredeburg dikuasai oleh pihak RI dan dipakai sebagai asrama dan markas pasukan. Pada masa Agresi Militer Belanda Kedua, Benteng Vredeburg menjadi sasaran bom pesawat Belanda dan menghancurkan markas TKR di dalamnya. Akhirnya Belanda menduduki Yogyakarta dan benteng ini digunakan sebagai markas IVG atau dinas rahasia tentara Belanda. Ketika terjadi Serangan Umum Satu Maret 1949, benteng ini tidak luput dari sasaran serangan para pejuang kemerdekaan RI.

Setelah Belanda benar-benar meninggalkan Yogyakarta, benteng ini dipakai sebagai Markas Batalyon 403 TNI. Pada tahun 1965, sempat digunakan sebagai tempat untuk tahanan politik dan untuk selanjutnya digunakan untuk kepentingan militer. Akhirnya, pada tanggal 23 November 1992, Benteng Vredeburg diresmikan sebagai museum (Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003; 8-10). Nasib Benteng Vredeburg dapat dibilang jauh lebih baik daripada kembarannya di Surakarta, Benteng Vastenburg yang kini nyaris tidak menyisakan apapun selain tembok luarnya saja.

Di balik kokohnya tembok Benteng



Denah Benteng Vredeburg.
Baik, setelah kita mengetahui sejarah dari benteng ini, ada baiknya kita perlu tahu apa itu benteng. Benteng adalah sebuah lokasi militer atau bangunan yang didirikan secara khusus untuk melindungi sebuah instalasi atau daerah. Dalam bahasa Belanda atau Inggris disebut fort yang berasal dari bahasa latin fortise yang berarti teguh,kuat,atau tahan lama ( Oktaviadi, 2002; 113-114). Jika dilihat dari atas, Benteng Vredeburg memiliki bentuk persegi, bentuk yang sering ditemukan di benteng-benteng lainnya. Bentuk persegi memang cocok untuk benteng yang dibangun di wilayah dataran rendah.
Parit dan bastion barat daya benteng Vredeburg.
Sebelum kita memasuki bagian dalam benteng, kita akan menyeberangi sebuah jembatan. Di bawah jembatan, terdapat sebuah parit atau jagang. Untuk memaksimalkan pertahanan benteng, selain mendirikan tembok benteng yang tinggi dan kokoh, orang Belanda juga menggali parit atau jagang di sekeliling benteng. Kini, parit yang tersisa tinggal parit di sisi barat saja. Dahulu jembatan masuk ke dalam benteng menggunakan jembatan angkat yang akan diangkat jika terjadi serangan, sehingga musuh tidak mudah menyerang pintu masuk benteng yang merupakan bagian paling lemah. Jembatan ini kemudian diganti dengan jembatan biasa pada tahun 1930an oleh Belanda sendiri karena jembatan angkat yang sudah tua dirasa sudah tidak mampu menahan beban kendaraan perang yang semakin berat.
Gerbang utama benteng.
Sebelum kita memasuki bagian dalam benteng, kita akan disambut dengan gerbang bergaya klasik yang menghadap ke barat. Bentuk gerbang ini mengingatkan kepada kita dengan bentuk-bentuk kuil dari masa Klasik Yunani-Romawi dengan unsur-unsur seperti kolom beroder dorik, frieze, dan tympanum. Tepat di atas pintu masuk, terdapat tulisan “VREDEBURG”. Nah, di samping gerbang benteng, kita akan melihat sebuah bangunan kecil yang dahulunya merupakan gardu penjaga benteng. Adanya gardu ini menunjukan bahwa pada zaman dahulu tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam benteng. Biasanya yang dapat diizinkan masuk ke dalam benteng adalah orang-orang berkepentingan seperti serdadu atau perwira militer Belanda serta keluarga perwira yang tinggal di dalam benteng. Ketika kita menggarakan langkah kaki masuk ke dalam gerbang, kita dapat membayangkan ketika para serdadu Belanda dengan seragam gagahnya berbaris masuk ke dalam benteng lewat gerbang ini. Yah sepertinya bayangan seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.
Bangunan pengapit sisi utara.
Oh ya, sebelum masuk, kita harus membayar tiket sebesar dua ribu rupiah di tiket yang berada di gerbang masuk benteng. Nah setelah membayar tiket, mari kita mulai berkeliling untuk melihat bagian apa saja yang terdapat di dalam tembok benteng ini. Bagian pertama yang akan kita lihat terlebih dahulu yakni sebuah bangunan yang ada tepat di atas gerbang benteng tadi kita masuk. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai kantor administrasi benteng. Dari sini, kita dapat membayangkan perwira yang dahulu berkantor di sini, dapat memandang bagian dalam kompleks benteng dari atas. Jika pandangan dialihkan ke luar benteng, dia bisa melihat pemandangan Gedung Agung, tempat kediaman Residen Belanda yang ada di sebelah barat benteng. Dahulu, jika situasi dirasa tidak aman oleh pemerintah kolonial, Sang Residen dapat mengamankan dirinya ke benteng yang ada di seberang kediamannya. 
Celah bekas tempat meriam.
Perjalanan kita teruskan dengan berjalan di atas dinding benteng atau dalam istilah ilmu perbentengan disebut rampart. Supaya bisa menahan tembakan meriam, dinding rampart dibangun cukup tebal. Ketebalnnya sendiri bisa mencapai kira-kira satu meteran. Sementara agar musuh tidak mudah masuk ke bagian dalam, maka dinding rampart  dibangun cukup tinggi, kira-kira lebih dari dua meteran. Di atas rampart , terdapat celah untuk tempat meriam. Keberadaan benteng dengan meriam bagaikan dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Meriam merupakan salah satu instrumen pertahanan yang cukup vital bagi sebuah benteng selain dinding benteng itu sendiri. Dengan meriam, musuh dapat dihancurkan sebelum mereka menyentuh dinding benteng. Dinding benteng memberikan perlindungan maksimal pada meriam beserta kru-nya. 
Pemandangan dari bastion barat daya. Terlihat gedung kantor pos besar dan Bank Indonesia.
Sejenak, kita hentikan dulu perjalanan di bastion barat daya benteng. Bastion merupakan dinding benteng berbentuk belah ketupat yang ada di setiap sudut benteng. Meriam-meriam biasanya paling banyak ditaruh di bagian ini. Dari bastion ini, kita dapat melihat pemandangan Titik Nol yang sangat ramai meski pemandangan ini agak sedikit tertutup oleh Monumen Serangan Umum Satu Maret. Kemegahan bangunan-bangunan kolonial lain seperti Gedung lama Bank BI, Kantor Pos Besar, dan Gedung BNI dapat terlihat jelas dari sini. Bangunan-bangunan kolonial ini sendiri dibangun agak belakangan. Sementara itu, jauh sebelum bangunan-bangunan kolonial tadi berdiri, pemandangan kraton dapat diamati dari titik tempat kita berdiri sekarang ini. Fungsi benteng ini sendiri aslinya adalah sebagai tempat mengawasi gerak-gerik Keraton Yogyakarta, sehingga jika misalnya Kraton melakukan aktivitas yang dianggap mencurigakan oleh Belanda, maka Belanda dapat bergerak cepat. Konon, benteng ini dahulu memiliki meriam-meriam yang jangkauan tembaknya bisa mencapai Kraton. Saya jadi membayangkan raja – raja yang dahulu tinggal di Kraton pasti sedikit waswas kalau suatu saat nanti Belanda mencoba menembakan meriamnya ke Kraton. Hal ini pernah terjadi di Batavia pada awal tahun 1600an, ketika VOC “menguji coba” meriamnya dengan menembak meriamnya ke arah kediaman Pangeran Jayawikarta.
Salah satu lubang tembak untuk jenis senapan musket.
Di beberapa ruas dinding benteng, kita bisa menemukan beberapa lubang vertikal kecil di dinding sisi selatan dan utara. Lubang ini kemungkinan adalah lubang tembak untuk jenis senapan musket (sejenis senapan lama yang untuk mengisi ulangnya butuh waktu sedikit lama). Dari lubang ini, si serdadu dapat menembakan musketnya dengan aman.

Benteng ini rupanya memiliki tiga pintu gerbang. Selain pintu gerbang di bagian barat yang menjadi pintu masuk utama, pintu gerbang lainnya juga terdapat di sisi timur dan selatan. Gerbang sisi timur lebih kecil daripada gerbang sisi barat dan jauh lebih kecil lagi pintu yang ada sisi selatan. Saking kecilnya, pintu sisi selatan menjadi semacam pintu rahasia benteng. 

Di dalam tembok benteng, kita akan menjumpai beberapa bangunan penunjang aktivitas benteng antara lain dua kompleks rumah perwira, tiga barak serdadu, dua dapur umum, istal, sebuah gudang amunisi dan gudang mesiu, dan sebuah bangunan yang dahulu digunakan untuk sosietet. Bagian-bagian benteng tadi akan saya uraikan lebih jelasnya pada tulisan di bawah ini.

1.Perumahan perwira

Benteng Vredeburg memiliki dua buah perumahan perwira. Perumahan ini menghadap ke halaman tengah benteng. Bentuk atap perumahan perwira sekilas mirip dengan atap Joglo sebagai penyesuaian terhadap iklim tropis. Perumahan perwira ini jika dilihat seperti rumah kontrakan yang dibangun saling bersebelahan dan berbagi dinding dengan rumah di sebelahnya. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai ruang diorama museum. Salah satu rumah perwira yang terlihat berbeda sendiri adalah perumahan perwira yang berada di sisi selatan ujung timur. Perumahan ini memang agak berbeda sendiri karena dahulu yang tinggal di sini adalah komandan benteng. Di bagian teras depan, terdapat semacam dinding kayu yang berguna untuk mengurangai tampias air hujan dan sinar matahari yang berlebihan yang masuk ke dalam bagian teras depan. Di bagian ujung atap, terlihat hiasan piron atau cerobong semu yang menjadi elemen khas bangunan dari abad ke 18.
Perumahan perwira sisi utara.
Bekas tempat tinggal komandan benteng.
2 .Barak seradu
Bangunan barak serdadu berada di sisi timur, selatan dan utara. Total ada tiga bangunan barak serdadu yang ada di dalam tembok benteng Vredeburg. Barak serdadu memiliki dua lantai. Untuk naik ke lantai dua bisa melalui tangga kayu yang ada di bagian luar. Uniknya, daun jendela barak serdadu tidak berupa daun krepyak yang berkisi terbuka, melainkan daun jendela yang tertutup total. Daun jendela seperti ini biasanya berasal dari abad ke-18. Jendela krepyak sendiri baru mulai dipakai di bangunan kolonial pada pertengahan abad ke 19. Untuk sirkulasi udara, maka dibuatlah ventilasi di bagian atas dan bawah jendela. Kini, ruang-ruang barak digunakan untuk ruang pameran diorama, ruang pertemuan dan sebuah cafe kecil.
Bekas barak barat.
Bekas barak selatan.
3. Dapur dan Gudang Ransum
Untuk memenuhi konsumsi di dalam benteng,  maka terdapat dapur umum yang berada di tengah bastion barat daya dan bastion barat laut. Lokasi dapur dibangun di dekat gudang ransum sehingga juru masak tidak perlu berjalan jauh mengambil ransum. Lokasinya yang berada di dekat barak serdadu juga memudahkan para serdadu mengambil konsumsi.
Bekas dapur.
Gudang Amunisi dan Senjata
Keberdaan sebuah bangunan militer seperti benteng tentu tidak bisa dilepaskan dari senjata. Oleh karena itulah di dalam benteng  terdapat gudang senjata dan amunisi yang dibangun berdekatan, sehingga memudahkan dalam pembagian senjata dan amunisi. Pada masa lalu, gudang amunisi ini dijaga dengan ketat karena gudang amunisi merupakan bagian benteng yang paling vital dan berbahaya. Bayangkan saja,di dalam gudang amunisi terdapat tumpukan mesiu yang jika terkena percikan api sedikit saja, maka akan terjadi sebuah  ledakan besar yang dapat menghancurkan seluruh benteng seperti yang dialami Fort Beschmeringh di Cirebon. Oleh karena itu, di bagian depan pintu masuk gudang amunisi terdapat sebuah gardu jaga. Dilihat dari luar, gudang ini memiliki ventilasi yang cukup minim. Hal ini rupanya bertujuan agar amunisi di dalam tidak melempem akibat terkena udara lembab.
Bekas gudang amunisi.

Bekas gudang senjata,
Istal           
Di belakang gudang senjata, terdapat istal atau kandang kuda. Seiring perkembangan zaman, istal ini berubah fungsi menjadi garasi kendaraann.


Sosieteit
Kehidupan serdadu tidak hanya bertempur dan latihan saja. Ada kalanya mereka membutuhkan waktu untuk bersenang-senang. Untuk itulah, di dalam benteng Vredeburg, terdapat sebuah sosieteit atau zaman sekarang mungkin seperti bar. Sosieteit ini ada di timur laut benteng. Di gedung berlantai dua inilah, para serdadu Benteng Vredeburg bersenang-senang. Ada yang sekedar duduk santai sambil ngobrol dengan temannya, ada juga yang bermain kartu, ada juga bernyanyi dengan suara ala kadarnya. Peran sosieteit ini mulai bergeser setelah sosieteit yang baru khusus untuk kalangan militer dibangun di luar benteng. Bangunan sosieteit yang baru ini masih ada hingga sekarang dan kini dimanfaatkan sebagai Taman Budaya Yogyakarta. 
Bekas Societeit.
Dari hasil penelusuran kita tadi, dapat disimpulkan bahwa Benteng Vredeburg merupakan tinggalan masa kolonial tertua yang berada di Yogyakarta dan merupakan pusat pemerintahan dan pemukiman kolonial paling awal di Yogyakarta sebelum berpindah ke luar benteng. Keberadaan benteng ini menunjukan bahwa pengaruh VOC selain di pesisir utara pulau Jawa saja, juga dapat ditemukan di pedalaman pulau Jawa. Benteng ini juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah kota Yogyakarta yang panjang.

Jika nasibnya dibandingkan dengan benteng kembaranya di Surakarta, benteng Vastenburg, benteng Vredeburg memiliki nasib yang jauh lebih baik, sehingga kita sangat beruntung masih bisa melihat seperti apa wujud dari sebuah benteng Belanda dari abad ke 18. Sayangnya, selain diorama di dalam museum yang kebanyakan hanya menampilkan kisah-kisah perjuangan, informasi benteng ini sendiri jutru minim sekali, sehingga apresisasi pengunjung terhadap benteng ini sebagai warisan sejarah masih kurang.

Sejak masa kemerdekaan sampai sekarang, tinggalan benteng masih disikapi oleh sebagian orang sebagai hasil budaya masa kolonial. Jika disikapi dengan pola pemikiran Post-Kolonial, benteng merupakan simbol kekuatan eksistensi penjajah bangsa asing dan juga merupakan simbol dari kemampuan bangsa Indonesia yang hanya dengan teknologi yang sederhana bisa menyingkirkan kekuatan asing dengan teknologi yang jauh lebih maju seperti benteng (Sudamika, 2006; 92). Semoga nasionalisme buta tidak menggusur keberadaan benteng ini. Suka atau tidak suka, benteng ini telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa kita.

Referensi
Abrianto, Oktaviadi. " Pertahanan Teluk Jakarta Abad ke 18 dan Ke – 19  " dalam Dr.Agus Aris Munandar dkk. 2002. Jelajah Masa Lalu. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat Banten.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. 2003. Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Museum Benteng Vredeburg. Yogyakarta

Sudamika, G.M. " Penelitian Benteng Kolonial di Ternate, Maluku Utara " dalam Berita Penelitian Arkeologi Maluku dan Maluku Utara, vol 2. No. 2 Juli/2008, Balai Arkeologi Maluku.

van Bruggen, M.P dan R.P Wassing. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam; Asia Maior.