Selasa, 27 Oktober 2015

HKS Purworejo, Tetenger Pendidikan Guru di Indonesia

Di suatu hari Minggu yang cerah, saya menyusuri eks kompleks HKS Purworejo, sebuah tetenger pendidikan guru masa kolonial di tengah kota militer yang kini sintas menjadi SMA N 7 Purworejo. Sekolah itu merupakan buah dari praktik poitik etis yang diterapkan pemerintah kolonial di permulaan abad ke-20. Bagaimanakah kisah lengkap dari kompleks sekolah yang sarat nilai sejarah ini ? 
Gerbang masuk ke kompleks HKS.
Sisi luar dan dalam ruang guru yang dahulu merupakan sebuah ruang lobi.
Kini, saya sedang berdiri di hadapan bangunan utama HKS Purworejo yang elok. Pada bagian tengahnya, terdapat ruang lobi utama HKS Purworejo yang kini menjadi ruang guru, dan di samping kanan dan kirinya, terdapat beberapa ruangan tambahan.  Tampak hiasan pion yang bertengger manis di puncak bangunan. Taman kecil yang terhampar rapi di halaman depannya membuat suasana terasa sejuk dan hijau. Di sana, saya masih bisa menjumpai tiang lampu taman & bangku duduk yang sudah ada semenjak sekolah ini dibangun. Mungkin di taman itulah para siswa HKS Purworejo rehat sejenak, melepas penat setelah seharian belajar. Mata saya kemudian menatap sebuah sengkalan yang tertoreh jelas di muka bangunan itu, “ 1915”. Ya, itulah tahun tuntasnya gedung ini dibuat. Sayapun lantas menerawang kembali ke masam lampau, tepatnya di kala gedung sekolah itu hendak didirikan.
Gedung H.K.S sisi timur dan tamannya yang masih tertata rapi.

Gedung H.K.S sisi barat. Di bagian ini sekarang sudah tertutup oleh bangunan baru ( sumber : Indie, 21 Februari 1923 )
Sekolah ini, sesungguhnya hanyalah buah dari sebuah pohon besar. Pohon besar itu bernama Politik Etis, yang memiliki lima cabang besar, yakni pendidikan, kesehatan, komunikasi, irigasi, dan transmigrasi. Namun dari kelima cabang tadi, yang paling terasa pengaruhnya di kemudian hari ialah pendidikan. Lewat pendidikan, lahirlah golongan bumiputera terpelajar yang akan melakukan perlawanan gaya baru terhadap penindasan pemerintah kolonial, yakni dengan tulisan, gagasan, dan perserikatan.
Sang direktur pertama H.K.S, J.D. Winnen dan keluarganya di depan kediamannya. Bangunan ini sekarang masih utuh dan menjadi kantor Kesbangpol. (Sumber : Troppenmuseum.nl).
Rasa tidak tega masyarakat Belanda melihat bangsa yang dijajahnya begitu menderita merupakan pemantik dari politik etis. Sumber daya alam dikuras habis-habisan, sementara kaum bumiputera dibiarkan melarat, bodoh dan penyakitan. Kritikan paling keras datang dari Eduard Douwes Dekker, asisten Residen Lebak, yang tertuang lewat karya kontroversialnya, Max Havelaar. Singkat cerita, Ratu Wilhelmina akhirnya memberi dukungan Politik Etis lewat pidato kenegaraanya di bulan September tahun 1901 (Cribb & Kahin 2012;431).
Dibutuhkan dana sebesar f 43.000 untuk mendirikan gedung baru H.K.S Purworejo. Artikel dari harian Sumatera Post, tanggal 22 Mei 1916.
Sejak Politik Etis direstui oleh sang ratu, sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial segera dibuka di berbagai tempat. Salah satunya ialah H.I.S. ( Hollandsch Indlandsch School ), jenjang sekolah dasar paling bergengsi dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Seiring dengan makin banyaknya H.I.S yang dibuka, maka semakin besar pula kebutuhan akan tenaga pendidik. Mendatangkan guru-guru dari Eropa jelas menghabiskan banyak biaya, apalagi standar upah mereka lebih tinggi. Enggan mendatangkan guru dari Eropa, akhirnya pemerintah kolonial menemukan jalan keluar untuk mendapatkan guru dengan cara mudah dan murah ; mendidik kaum bumiputera menjadi guru. 
Lokasi HKS pada peta tahun 1905, 10 tahun sebelum Kompleks HKS belum dibangun. Pada waktu itu, lahan HKS masih berupa Exercitie plein atau lapangan latihan militer (Sumber : maps.library.leiden.edu).

Sebuah foto udara yang memperlihatkan kompleks infantri Kedungkebo (sekarang Yonif 412 ). Foto ini menghadap ke arah utara. Terlihat sebagian sisi timur kompleks HKS (sumber : media-kitlv.nl).
Pada mulanya, dibukalah sekolah kweekschool untuk mendidik kaum bumiputera menjadi guru. Namun jenjangnya tidak terlalu tinggi. Ia hanya setara dengan SPG di tahun 1980an. Padahal untuk jenjan H.I.S sendiri setidaknya membutuhkan tenaga pengajar dengan mutu lebih tinggi daripada kweekschool biasa. Berkenan dengan masalah tersebut, pada tahun 1914 pemerintah kolonial membuka sekolah pendidikan guru yang jenjangnya lebih tinggi daripada kweekschool, Hoogere Kweekschool ( H.K.S ). Pemerintah kolonial hanya membuka HKS di dua kota saja di Jawa, satu di Bandung, menempati gedung kweekschool pertama di Hindia-Belanda, dan satunya lagi dibangun di Purworejo, di atas lahan latihan tentara. Dana sebesar f 40.000 dikucurkan oleh pemerintah kolonial untuk mendirikan kompleks sekolah itu. Namun, perlu diketahui bahwa H.K.S Purworejo sebenarnya telah dibuka sejak bulan Oktober 1914, setahun sebelum gedung sekolah purna dibangun. Jelas begitu penting sekolah itu bagi dunia pendidikan Hindia-Belanda, maka wajarlah pembukaan resminya dihadiri oleh direktur Onderwijzens en Eredienst, DR. J. Hazeu. Sementara itu, J.D. Winnen mengemban amanat sebagai direktur pertama H.K.S Purworejo. Sekalipun sekolah ini didirikan oleh Belanda, namun siswa-siswa yang menimba ilmu di situ justru semuanya berasal dari kalangan bumiputera.
Ujian akhir harus ditempuh semua siswa H.K.S untuk mendapat ijazah yang dapat mereka pakai untuk mengajar di H.I.S. Artikel dari Bataviasch Nieuwsblad, tanggal 13 Februari 1918.
Sayang, berselang lima belas tahun setelah dibuka, riwayat H.K.S Purworejo akhirnya tamat. Gegaranya ialah dana dari pemerintah kolonial tak mampu menalangi biaya pengelolaan H.K.S. Aktivitas H.K.S. Purworejo kemudian dialihkan ke H.K.S Bandung. Namun setahun kemudian, H.K.S. Bandung pun menyusul ditutup. Betapa singkatnya usia H.K.S. Purworejo. Namun di usia yang singkat tersebut, H.K.S. Purworejo berhasil meluluskan ratusan siswanya yang berasal dari berbagai penjuru negeri, menjadi guru-guru H.I.S yang tersebar di seantero Hindia-Belanda. Tak sedikit pula guru-guru lulusan H.K.S. Purworejo yang terjun ke pergerakan nasional. Salah satunya yang paling mahsyur ialah Otto Iskandar di Nata, Si Jalak Harupat dari bumi priangan yang lulus dari H.K.S Purworejo tahun 1924.
Para pamong H.K.S Purworejo ( sumber : budayapurworejo.blogspot.com ).
H.K.S Purworejo memang sudah tamat ceritanya tapi tidak pada gedungnya. Sesudah H.K.S Purworejo ditutup, gedungnya masih tetap dipakai menjadi sekolah di bawah naungan M.U.L.O ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijzer ) hingga zaman Jepang. Pada zaman Jepang, ia menjadi Sekolah Menengah Pertama. Paska kemerdekaan, ia kembali lagi menjadi sekolah guru. SPG ( Sekolah Pendidikan Guru ) namanya. Oleh sebab itu, generasi tua masyarakat Purworejo lazim menyebut gedung ini sebagai SPG. Setelah berdiri sejak tahun 1968, SPG akhirnya dihapuskan tahun 1991. Setelah silih berganti institusi, eks kompleks H.K.S Purworejo lestari sebagai SMA N 7 Purworejo ( Pranoto, 2015 ). Saya sungguh mengapresiasi usaha dari pihak sekolah untuk mengupayakan agar kompleks sekolah ini tetap terawat dengan baik di tengah tuntutan sarana dan prasanara pendidikan yang kian banyak.
Lampu taman yang masih asli.
Bangku taman dari semen.
Arsitektur gedung HKS Purworejo begitu ringkas, jelas, dan praktis. Penataan bangunan-bangunan yang ada di dalamnya sudah diperhitungkan dengan seksama. Lihatlah, bagaimana mewadahi berbagai bangunan yang berbeda fungsi seperti lobi, kantor guru, ruang kelas, gymnasium, dapur, ruang makan, ruang kesehatan, dan asrama dalam sebuah kompleks besar. Masing-masing bangunan tadi aksesnya disatukan oleh sebuah doorlop. Si perancang gedung juga membuat setiap bangunan tidak berdiri terlalu berhimpitan, sehingga terciptalah keleluasaan ruang yang memberi rasa nyaman dalam kegiatan belajar mengajar.
Lapangan dan pohon trembesi besar.
Kaki inipun mulai berayun menyusuri setiap jengkal kompleks sekolah yang telah berdiri lebih dari seabad lamanya itu. Suasana sekolah hari itu terasa sepi lantaran hari itu sekolah sedang libur. Tak terlihat kegiatan belajar mengajar seperti pada hari biasa. Di ujung lapangan, tampak pohon trembesi tua yang menjulang tinggi dengan dahannya yang lebat, memberi keteduhan kepada siapapun yang ada di bawahnya. Pohon itu sekilas mungkin tak berbeda dengan pohon besar pada umumnya, tapi bagi siapapun yang pernah bersekolah di sini, pohon itu adalah pohon yang sarat akan kenangan dan romansa.
Doorstop yang berfungsi untuk mencegah daun jendela atau pintu tertutup kembali akibat tertiup oleh angin.
Beranda gedung utama.
Doorlop panjang yang menghubungkan setiap bangunan di dalam kompleks H.K.S.
Seperti halnya bangunan kolonial di tempat lain, gedung itu memakai jendela krepyak. Tapi yang membedakannya adalah adanya tonjolan di luar daun jendela. Saya awalnya tak paham apa fungsi tonjolan itu. Tapi begitu saya melihat ada semacam pengait di dinding dan posisinya pas dengan tonjolan itu ketika jendela dibuka, saya akhirnya paham. Tonjolan itu namanya doorstop, biasanya dipakai untuk mencegah daun jendela atau pintu tertutup kembali akibat tertiup angin. Baru di gedung inilah saya menjumpai keberadaan doorstop pada bangunan kolonial.
Ruang makan.
Tungku dapur yang sama yang dipakai oleh juru masak dari era HKS hingga SMA N 7 Purworejo.
Kamar mandi siswa.
Bekas ruang pelayanan kesehatan H.K.S. Sempat kosong dan menjadi sarang kelelawar selama bertahun-tahun, saat ini ia dipergunakan sebagai ruang kelas.
Doorlop yang sedang saya susuri ini luar biasa panjang. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, doorlop ini merupakan penghubung antar bangunan yang ada di dalam kompleks. Salah satu bangunan itu ialah ruang makan yang berada tepat di tengah kompleks. Gedung ruang makan ini berhadapan dengan bangunan gymnasium yang kini telah berubah bersalin rupa. Di belakang ruang makan, terdapat dapur yang juru masaknya masih menggunakan kompor yang sama dengan juru masak ketika sekolah ini masih bernama H.K.S. Terlihat asap yang mengepul tipis dari cerobong yang mencuat di atap.
Tampak luar bangunan ruang kelas dengan puncak berbentuk menara kecil.
Suasana ruang kelas dengan lantai tegel yang masih asli.
Saya akhirnya tiba di area barat kompleks HKS Purworejo, dimana di sana terdapat sebuah gedung yang menjadi ruang belajar mengajar. Dari kaca jendela, saya mengintip seperti apa suasananya. Ah, sungguh ruang kelas yang sarat kenangan untuk siapapun yang pernah belajar di kelas itu. Dari sini, saya amati pencahayaan di dalamnya sangat baik lewat jendela kaca yang ada di kedua sisi kelas. Udara di dalamnya pun terasa sejuk sekalipun tanpa pendingin udara karena sirkulasi udara di dalam ruang diatur oleh angin-angin yang ada di atas dan di bawah ambang jendela. Dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang sudah tertata baik, siapakah yang tak betah belajar di kelas ini ? Di ruangan itu, saya dapat membayangkan kembali, manakala siswa-siswa H.K.S sedang diberi materi pelajaran berupa ilmu pedagogic dan pengetahuan umum dalam bahasa Belanda. Saya juga bisa membayangkan bagaimana raut tegang para siswa-siswa H.K.S mengikuti ujian akhir sebagai syarat lulus dari H.K.S.
Asrama.
Di belakang sekolah ini, terdapat dua buah bangunan kecil memanjang dengan beberapa deret kamar. Itulah bekas asrama siswa H.K.S yang kini tetap menjadi asrama meskipun sudah sedikit berkurang jumlahnya. Di asrama itulah para siswa-siswa H.K.S harus tinggal dengan pengawasan ketat layaknya sekolah kedinasan pada zaman sekarang. Walau demikian, mereka diberi beragam fasilitas secara cuma-cuma oleh pemerintah seperti makanan dan layanan kesehatan. Setiap bulan mereka mendapat tunjangan sebesar f 20 ( Kays, 1922; 233 ). Para siswa-siswa H.K.S yang berasal dari berbagai daerah lalu berhimpun dalam suatu perhimpunan bernama De Broederschap. Kadang perhimpunan ini mengadakan pertandingan olahraga sesama H.K.S.
Rumah dinas dengan model atap perisai.
Rumah dinas dengan model atap tajug.
Rumah dinas dengan model atap Dutch-Hip.
Rumah dinas kepala HKS Purworejo. Foto lama dapat anda lihat di atas.
Setelah puas melihat-lihat kompleks sekolah yang masih terawat dengan baik, saya pun beringsut ke Jalan Ki Mangun Sarkoro, sebuah jalan teduh yang dipayungi oleh pohon-pohon asam dimana di sepanjang jalan itu berdiri bekas kediaman para pamong H.K.S Purworejo. Dua buah tugu sebagai penanda masuk kompleks H.K.S Purworejo terpancang di mulut jalan itu. Di tugu itulah saya menjumpai monogram H.K.S Purworejo yang masih tampak jelas. Semua rumah disini bentuknya masih asli dan kompleks ini masih terlihat indah sekalipun sebuah bangunan baru menjulang begitu anehnya di tengah-tengah kompleks. Rumah-rumah ini memiliki tiga model yang berbeda dan kesemuanya ditata dalam pola yang unik, yakni pola a-b-c-c-b-a seperti cermin. Rumah dinas staf H.K.S Purworejo tak hanya di Jalan Mangun Sarkoro saja. Ada tiga buah rumah berdiri di tepi jalan raya yang ramai. Satu di Jalan Mayjend.Sutoyo, dan dua di jalan Urip Sumoharjo. Salah satu rumah tersebut merupakan rumah paling besar di kompleks H.K.S Purworejo dan rumah itu merupakan tempat tinggal direktur H.K.S Purworejo dan kepala sekolah sesudahnya hingga beberapa saat lalu secara tiba-tiba menjadi kantor instansi pemerintah. 
Monogram H.K.S yang berada di mulut jalan Ki Mangun Sarkoro.
Dengan berat hati sayapun meninggalkan kompleks sekolah itu. Namun tersimpan sebuah rasa bangga dan bahagia di hati kecil saya. Bangga karena di kota tempat saya lahir dan tumbuh, tersimpan sebuah jejak pendidikan guru yang menyimpan nilai sejarah perjuangan bangsa. Bahagia karena ia masih lestari dengan baik sampai sekarang, menjadi tetenger yang memberi wajah tersendiri untuk kota Purworejo. Sayapun hanya bisa berharap, mulai dari warga sekolah hingga semua masyarakat Purworejo, untuk bisa selalu merawat warisan sejarah yang dimilikinya. Sebuah warisan berharga yang hendak kita wariskan untuk generasi selanjutnya….

Referensi
Pranoto, Agung.2015 .Dalam  http://budayapurworejo.blogspot.co.id/2015/03/sejarah-hks-hoogere-kweekschool.html.

Cribb, Robert & Kahin, Audrey. 2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok : Komunitas Bambu.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18 September 1914

Kays, J. 1922. Warna Sari Melajoe. Weltevreden : Boekhandel Visser & Co.


Vidi S, Albertus Agung. 2009. " Dinamika Pola Tata Ruang HKS Sampai SMAN 7 Purworejo". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada.

Senin, 19 Oktober 2015

Loji Minggir, Jejak Indis yang Tercecer di Pinggiran

Tidak pernah terbesit di benak saya sebelumnya, bahwa nun jauh di pelosok pedesaan di Sleman, Yogyakarta, tersimpan jejak bangunan Indis yang masih lestari sampai sekarang. Lingkungan pedesaan yang terhindar dari pembangunan masif mungkin menjadi sebab nasib mereka sedikit beruntung dibandingkan kawan-kawan mereka di perkotaan yang akhirnya tergusur atas nama pembangunan. Ada apa gerangan bangunan-bangunan Indis ini berdiri di sini ?
Minggir pada peta tahun 1921 (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Minggir, nama sebuah kecamatan di ujung barat Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Bentang lahannya didominasi oleh persawahan luas nan subur, dengan kanal air tua Van der Wijk yang mengalir tenang. Minggir adalah tempat yang tepat bagi saya yang sejenak ingin menjauhi hiruk pikuk keramaian kota Yogyakarta yang kian padat sembari menikmati alam pedesaan yang masih asri.

Sebelum saya membahas lebih lanjut tentang loji-loji yang ada di Minggir ini, menarik untuk disimak apa itu sebenarnya loji. Dalam buku bertajuk Loji Londo ; Studi Tata Ruang Bangunan Indis karya B.M. Susanti, loji adalah ungkapan orang-orang Jawa untuk menyebut  bangunan tinggalan kolonial yang berbeda dengan bangunan asli Indonesia. " Loji atau rumah gedong ", terang Susanti, " berbeda dengan bangunan asli Indonesia karena bahannya terbuat dari tembok ". Kata loji berasal dari kata Perancis loge yang merupakan sebutan untuk kantor dan kemudian orang Jawa menyebutnya secara terpleset menjadi loji. Loji-loji itu dibangun " sebagai bentuk kontrol atas kekuasaan penguasa tradisional kepada pemerintah kolonial Belanda ".  Susanti menerangkan pula, bahwa loji-loji itu terpusat pada suatu tempat. Namun benarkah demikian ?
Lojisrut, julukan masyarakat sekitar pada loji ini. Jendela krepyak telah diganti.
 Lojisrut, begitulah warga sekitar menjuluki bangunan Indis yang ada di Desa Sendangsari, Minggir ini. Ia disebut seperti itu karena di depannya pernah berdiri pohon serut yang sekarang sudah tidak ada. Loji ini secara kasat mata sudah sedikit hilang kesan Indisnya. Ia tak lagi mengenakan jendela krepyak tinggi lazimnya bangunan Indis, diganti dengan jendela kaca yang tampak berdebu. Tapi dari segi bentuk, ia masih belum berubah. Sebuah ukiran dan ragam hias yang disebut makelaar masih bertengger dengan manis di bagian atap beranda depan berbentuk pelana. Sayang, saya tak menjumpai satupun tanda-tanda kehidupan di sini. Apa yang saya lihat di balik jendela beberapa perabot usang.
Kondisi Loji ketika saya pertama kali datang dan kondisinya sekarang. Tak ada yang berubah, hanya pohon-pohon di depannya saja yang sudah disingkirkan.
Loji di selatan lapangan Kebonagung itu serupa dengan Lojisrut, namun ia masih memiliki jendela krepyak yang khas bangunan Indis. Ya, ia adalah loji Indis paling Indis di Minggir. Itulah kesan saya ketika berjumpa pertama kali dengan loji satu ini. Lihatlah empat tiang Tuscan di beranda depan, tempat si empunya rumah dulu menikmati lingkungan pedesaan nan tenteram sembari menyesap secangkir kopi. Begerak ke belakang loji ini, terdapat sebuah beranda terbuka, tempat dulu keluarga mengadakan makan bersama. Amati pula bangunan tambahan di samping kanan bangunan utama dengan deretan ruang-ruang kecilnya. Ia dulunya merupakan tempat untuk memasak, mencuci, gudang, dan tempat tinggal para babu. 
Paviliun yang berada di samping bangunan utama.
Sama halnya dengan Lojisrut, loji ini juga tak menampakkan tanda-tanda kehidupannya. Jendela dan pintu krepyaknya masih terkunci rapat. Awal berjumpa, masih ada pohon-pohon berdaun lebat. Halamannya berserakan dengan sampah dedaunan. Tapi kondisinya sekarang sudah agak membaik dan kini, informasi yang saya dengar menyebutkan jika loji ini menjadi tempat mengaji Al Quran. Ya, setidaknya bangunan tua ini bisa memberi manfaat untuk masyakat di sekitarnya.
Balai Desa Sendangmulyo.
Ia nyaris luput dari perhatian saya. Padahal lokasinya terhitung dekat dengan loji di selatan lapangan tadi. Dari luar, ia tampak berbeda dengan loji-loji lainnya di Minggir. Pintu masuknya sedikit menyerong, sehingga ia terlihat asimetris dari luar. Ibu Puji, penghuni dan pemilik loji ini, menyambut saya di ruang tamu yang dulunya merupakan beranda terbuka. “ Loji ini dulu dibeli oleh eyang saya, eyang Sarmowihardjo dari tangan orang Belanda pada tahun 1930an. Tapi saya sendiri kurang tahu siapakah orang Belanda itu “, tutur Ibu Puji membuka cerita riwayat loji ini. “ Dulu eyang saya merupakan mantri kesehatan di sini. Beliau diberi amanah oleh RS Petronella ( sekarang RS Bethesda ) untuk membuka pelayanan kesehatan di sini “, ujar Ibu Puji seraya menunjukan sebuah bangunan tua yang masih utuh di depan rumah. “ Di situlah, dulu tempat eyang melayani masyarakat sini “ jelasnya. Sayapun kemudian di antar melihat-lihat rumah.
Loji milik Ibu Puji.
Bekas kandang kuda dengan pintu yang cukup besar agar kuda bisa mudah keluar masuk.
Tapi saya sendiri kurang tahu siapakah orang Belanda itu “, tutur Ibu Puji membuka cerita riwayat loji ini. “ Dulu eyang saya merupakan mantri kesehatan di sini. Beliau diberi amanah oleh RS Petronella ( sekarang RS Bethesda ) untuk membuka pelayanan kesehatan di sini “, ujar Ibu Puji sambil menunjukan sebuah bangunan tua di depan. “ Di situlah, dulu tempat eyang melayani masyarakat sini “ jelasnya. Berikutnya, saya didampingi beliau melihat-lihat rumah.
Inilah bangunan yang dahulu dibangun oleh Kakek Sarmowihardjo.
Bagian dalamnya terbilang bersahaja layaknya rumah-rumah di pedesaan. Lalu saya diajak melihat ruangan yang kini menjadi dapur. “ Lihat mas plafonnya ! “, pintanya. Segera saya menengadah ke atas. “ Plafon ini masih asli dari anyaman bambu. Dari dulu tidak saya ganti “. jelasnya. Rumah-rumah Indis zaman dulu kerap memakai anyaman bambu untuk menutupi langit-langitnya karena lebih mudah diperoleh.
Deretan kamar pada bangunan samping.
Dari bangunan utama, saya diajak melihat bangunan tambahan di samping rumah yang dalam istilah arsitektur Indis disebut Bijgebouwen. “ Maaf ya mas kalau tempatnya agak kotor “. Selain kamar mandi dan gudang, tiada lagi ruangan-ruangan ini yang masih dipakai. Puas melihat-lihat, saya pun pamit undur diri pada tuan rumah. Namun sebelum saya beranjak, tuan rumah menunjuk sebuah jendela krepyak di depan rumahnya. Awalnya, saya sempat tidak mengerti apa yang hendak ditunjukan tuan rumah. Namun begitu beliau masuk ke dalam, kisi jendela yang tadinya terutup tiba-tiba terbuka. Akhirnya saya paham apa yang dimaksud tuan tumah.
Jendela krepyak yang bagian krepyak nya dapat dibuka tutup. Terlihat salah satu daun krepyaknya dalam kondisi sterbuk sementara satunya lagi dalam kondisi tertutup.
Lalu bagaimana ceritanya loji-loji Indis ini bisa tercecer di tengah kawasan rural ini, jauh  dari pusat permukiman dan pusat kekuasaan orang Eropa di perkotaan ? Dahulu kala, Minggir merupakan sebuah perkebunan tembakau partikelir yang dibeli oleh Koloniaale Bank pada tahun 1920. Perkebunan tembakau  itupun kemudian dikonversi menjadi perkebunan tebu karena waktu itu gula sedang menjadi primadona para pebisnis Belanda. Di tengah-tengah hamparan perkebunan tebu, didirikan sebuah pabrik gula kecil bernama PG Sendangpitu yang melakukan giling tebu pertamanya di tahun 1922 ( Wiseman, 2001; 218 ).  Rumah-rumah para contoleur atau mandor perkebunan tembakau pun dimanfaatkan sebagai rumah mandor tebu. Tugas mereka yakni memastikan jumlah penduduk pribumi yang bekerja setiap harinya untuk menyiapkan lahan, menanam bibit dan merawat semua tanaman sampai musim tanam tiba ( Albert S. Bickmore,1868 dalam James R. Rush, 2013; 95). Sayang, nasib pabrik gula Sendangpitu tidak sebaik loji-loji ini. Tahun 1931, pabriknya ditutup akibat dihantam krisis malaise dan asetnya dilebur dengan PG Medari. Dari berbagai jejak loji yang berdiri terpencar di Minggir, maka penyataan BM. Susanti bahwa loji-loji terpusat di satu tempat tidak sepenuhnya benar.
Persebaran  loji-loji di  wilayah Minggir yang tergambar pada peta topotgrafi tahun 1935. Lokasi bangunan loji ditandai dengan kotak kecil berwarna merah. 
Keterangan : 
1. Lojisrut 
2. Loji milik Ibu Puji
3. Loji di selatan lapangan Minggir
4. Loji yang sekarang menjadi balai desa Sendangmulyo
A.Pabrik Gula Sendangpitu. (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Ketika kembali ke Yogyakarta, saya merenungi nasib ke depan loji-loji ini, sanggupkah loji-loji ini bertahan melampaui zaman ? Selama pembangunan di desa tidak semasif di kota dan masyarakat masih peduli akan warisan sejarahnya, saya percaya loji-loji ini masih dapat disaksikan oleh generasi selanjutnya…

Referensi
Bickmore, S. Albert. " Travels in the East Indian Archipelago " dalam Rush, James. R. . 2013. Jawa Tempo Doeloe. Depok : Komunitas Bambu.

Handinoto. 2006. " Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad ke 19 ke Awal Abad ke 20 " dalam Dimensi Jurnal Arsitektur Universitas Petra.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis. Depok : Komunitas Bambu.

Susanti, B.M. 2000. Loji Londo ; Studi Tata Ruang Bangunan Indis. Yogyakarta : Yayasan untuk Indonesia.


Wiseman, Roger. 2001. " Three Crises : Management in The Colonial Java Sugar Industry ". Tesis. Adelaide : Departement of History, University of Adelaide.

Kamis, 08 Oktober 2015

Harapan Baru Itu Muncul di Stasiun Maguwo Lama


Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya mengajak anda untuk melihat salah satu jenis peninggalan masa kolonial yang sangat khas, yakni stasiun. Kemunculan stasiun tentu tidak dapat dipisahkan dari kehadiran moda transpotasi kereta api yang dibawa oleh pemerintah kolonial. Nah stasiun yang pertama kali saya bahas pada saya ini cukup unik. Kira-kira seperti apa keunikannya ? dimanakah letak stasiun ini ? seperti apa bentuknya ? dan bagaimana sejarahnya ? Jawaban semua pertanyaan tadi akan saya bahas pada tulisan kali ini.

 Lokasi stasiun

Lokasi Halte Maguwo lama pada peta tahun 1921 (Sumber : maps. library. leiden. edu).
Yang namanya stasiun tentu saja berada di pinggir rel kereta api. Tidak ada stasiun yang tidak berada di pinggir rel kereta api kecuali stasiun luar angkasa. Lokasi stasiun Maguwo Lama yang akan saya bahas berada dekat sekali dengan Bandara Adisucipto Yogyakarta yang super sibuk. Sehingga selain suara kereta api yang melintas, saya juga cukup familiar dengan suara deru mesin pesawat terbang ketika saya berada di stasiun ini.

Perjalanan saya dari kota Yogyakarta ke lokasi stasiun kira-kira saya tempuh selama 15 menit. Untuk menuju ke sini sebenarnya cukup susah jika dari arah Yogyakarta karena saya harus putar kendaraaan terlebih dahulu di pertigaan pintu masuk bandara Adisucipto, lalu kembali ke Yogyakarta, lalu di kiri jalan, terdapat sebuah gapura bertuliskan “ Kembang Baru”. Masuk ke dalam gang dan ikuti jalan sampai rel, susur terus ke barat dan nanti akan terlihat sebuah bangunan kayu kecil yang diberi pagar yang tidak terlalu tinggi. Itulah stasiun Maguwo Lama.  

Saya sendiri baru mengetahui keberadaan stasiun yang secara administratif berada di dusun Kembang, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman ini semenjak  saya bergabung dengan Komunitas Roemah Toea sejak tahun 2014. Sebelumnya, saya yang jarang naik kereta sama sekali belum pernah mengetahui kalau di Yogyakarta terdapat sebuah stasiun yang konstruksinya masih terbuat dari kayu. Sejak pertama kali saya menginjakan kaki di stasiun ini, hampir setiap bulan saya datang ke stasiun ini sekedar untuk bersih-bersih atau hanya menengok saja bagaimana kondisinya. Bagi orang baru, apalagi jarang naik kereta seperti saya, stasiun ini memang agak tersembunyi karena lokasinya agak tersembunyi dan tertutup oleh pemukiman ditambah lagi tidak adanya papan petunjuk arah.


Stasiun Maguwo Lama yang Unik

Stasiun Maguwo Lama dilihat dari selatan.
            Ketika pertama kali saya melihat stasiun Maguwo Lama, rasa kagum muncul di benak saya. Bagaimana tidak kagum, hampir seratus persen konstruksi stasiun terbuat dari kayu dan meski usia stasiun Maguwo Lama sudah cukup tua, namun hingga kini kayu-kayu ini masih terlihat kokoh. Walau terlihat kokoh, saya melihat pada beberapa bagian mulai lapuk. Selain mungkin karena usia, juga karena kayu bagian luar mulai lapuk akibat pengaruh cuaca dan pelapukan yang disebabkan oleh hewan seperti rayap.



Arsitektur stasiun Maguwo Lama mengingatkan saya pada rumah-rumah pedesaan di Eropa yang rata-rata terbuat dari kayu (Nikolas Davis, 2008 ; 385). Posisi stasiun ini sendiri terletak di sebelah utara jalur rel Yogya - Solo. Aslinya, stasiun ini termasuk dalam jenis stasiun pulau, yakni stasiun yang diapit oleh dua lintasan rel. Namun jalur rel yang ada di sebelah utara kini sudah tertimbun tanah yang sebagian masih bisa saya temukan.

Ruang tunggu stasiun Maguwo Lama.
Stasiun Maguwo Lama sebenarnya tidak terlalu kaya akan dekorasi. Satu-satunya dekorasi yang sedikit menambah estetika stasiun adalah dekorasi sesuluran di bagian gavel atau atap pelana stasiun. Dekorasi ini merupakan dekorasi khas dari bangunan kolonial dari awal abad ke 20.

Dekorasi bermotif sesuluran.
Stasiun Maguwo Lama dilihat dari arah barat.Perhatikan hiasan di bagian atap.
Memasuki ruang bagian dalam, yang saya temukan hanyalah ruang berdenah persegi yang sudah tidak ada isinya sama sekali. Benar-benar kosong melompong !! Ruang yang saya masuki ini dahuli merupkan sebuah ruang multifungsi yang digunakan untuk kantor kepala stasiun, ruang tiket. Ruang-ruang ini dahulunya hanya dipisahkan dengan sekat saja. Ketika saya masuk ke dalam ruangan, suasana sejuk terasa sekal di dalam, apalagi jika dua jendela besar dengan model kupu tarung (daun ganda) di sisi barat dan timur di buka. Selain sejuk, ruangan juga mendapatkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Daun jendela sendiri pada bagian luar berupa jalusi (krepyak) dan bagian dalam berupa jendela kaca. Di bagian dinding, saya menemukan ada bekas lubang yang dahulu digunakan sebagai loket. Lubang ini sekarang ditutup. Aspek keamanan rupanya sudah dipikirkan oleh orang zaman dahulu. Hal ini saya temukan pada keberadaan palang besi yang ada di sisi luar jendela dan pintu masuk. Hmmm. Mungkin ide ini bisa diterapkan di tempat tinggal saya yang rawan pencuri….

Bagian dalam stasiun Maguwo Lama yang kosong.
Bekas loket stasiun Maguwo Lama (Garis merah).
Selanjutnya saya keluar ke bagian serambi stasiun yang berada di barat dan selatan stasiun sehingga membentuk huruf “L”. Serambi ini dahulunya merupakan ruang tunggu penumpang atau peron. Serambi ini sedikit terpotong karena sebagian dipakai untuk ruang PPKA ( Pemimpin Perjalanan Kereta Api). Sayangnya, permukaan lantai stasiun yang aslinya dilapisi dengan tegel, sudah lama diganti dengan keramik sehingga kesan antik pada stasiun ini menjadi berkurang. Saya membayangkan betapa sepinya stasiun ini dahulu, ketika bandara masih berupa area perkebunan dan persawahan dan hanya ramai jika ada kereta singgah untuk mengambil barang atau mengisi air. Stasiun terdekat adalah  stasiun Kalasan yang berjarak setengah kilometer ke timur. 

Stasiun Maguwo Lama dilihat dari satelit Google map.
 Tidak jauh di sebelah utara stasiun, saya melihat sebuah bangunan lama yang terlihat rusak. Tidak salah lagi, bangunan ini pasti bekas rumah dinas kepala stasiun Maguwo Lama. Hampir setiap stasiun dilengkapi fasilitas rumah dinas untuk pegawai stasiun. Agar mobilitas dan pengawasan mudah, maka di masa kolonial, tempat tinggal dibangun berdekatan dengan tempat kerja. Hal ini tentu meringkankan beban pegawai apalagi di masa itu transportasi masih sukar. Kondisi rumah ini terlihat sangat menyedihkan. Seluruh gentingnya sudah tidak berada di tempatnya, rangka-rangka kayu mulai lapuk dimakan cuaca dan usia, daun jendela beserta kusen-kusennya raib entah diambil siapa dan dinding dalam sudah banyak yang sudah rubuh. Bangunan ini rusak parah akibat gempa bumi pada tahun 2006 dan hingga sekarang belum ada tanda - tanda perbaikan.

Rumah dinas kepala stasiun Maguwo Lama.
Stasiun ini dahulu juga memiliki dua buah gudang yang saya temukan di sebelah barat dan timur stasiun. Kemungkinan besar gudang-gudang yang tinggal pondasinya saja ini digunakan untuk menyimpan gula serta alat-alat kebutuhan pabrik gula mengingat lokasi Stasiun Maguwo Lama berada di dekat Pabrik Gula Wonocatur. Keberadaan dua buah gudang ini menjadi bukti betapa cukup sibuknya stasiun Maguwo Lama di masa lalu yang ramai dengan kegiatan pengangkutan gula dari PG Wonocatur.

Struktur pondasi bekas gudang stasiun.

Selanjutnya di sebelah timur stasiun, saya ditunjukan tiang-tiang tua yang berasal dari potongan rel oleh teman satu komunitas saya, Mas Hari Kurniawan. Tiang-tiang ini dahulu merupakan tiang telegraf yang berfungsi sebagai sarana komunikasi petugas stasiun dengan stasiun lain nya.

Zaman dahulu ternyata orang sudah memperhatikan keselamatan perjalanan kereta. Buktinya adalah adanya jaring-jaring yang terpasang pada tiang telegeraf  yang melintang di atas rel. Jaring-jaring ini berfungsi agar jika kabel telegraf putus tidak akan mengenai kereta yang sedang berjalan. Hmmm. Hebat juga ya. Hal sekecil kabel yang melintang saja sudah menjadi perhatian orang zaman dahulu. Berbeda sekali dengan zaman sekarang dimana keselamatan menjadi hal yang dikesampingkan oleh orang-orang sekarang.

Bekas tiang telegraf yang terbuat dari potongan rel.
Stasiun ini juga dilengkapi dengan sarana toilet yang terletak di sebelah timur, tepatnya di area stasiun yang sekarang sudah dipagar. Toilet ini sekarang sudah dibongkar dan diganti dengan toilet baru yang berada di area stasiun.

Di sebelah utara stasiun, terdapat sebuah balai pertemuan yang dahulunya merupakan sepur badug atau tempat pemberhentian kereta.


Riwayat Stasiun Maguwo Lama

Latar belakang beridirinya stasiun ini tidak terlepas dari diberlakukannya Undang-undang Agraria pada tahun 1870 yang berdampak pada peningkatan hasil-hasil perkebunan di beberapa daerah seperti di Yogyakarta yang termasuk bagian dari vorstenlanden. Wilayah ini menjadi primadona produksi gula karena tanahnya merupakan jenis tanah vulkanis yang subur, akibatnya beberapa pabrik gula berdiri di daerah Yogyakarta. Pertumbuhan produksi ini tentu membutuhkan sebuah terobosan baru dalam dunia transportasi massal yang lebih efektif dan efisien. Tuntutan ini muncul karena selama ini hasil produksi hanya diangkut menggunakan gerobak yang ditarik dengan hewan yang tentu saja lambat sehingga sebelum mencapai pelabuhan saja,hasil produksi sudah mengalami kerusakan. Belum lagi daya angkut gerobag yang tidak begitu banyak. Oleh sebab itulah, maka Belanda membangun jalur kereta api dari kota pelabuhan Semarang ke vorstenlanden yang pembangunannya dilaksanankan oleh perusahaan kereta api swasta N. I. S. M ( Musadad, 2012 ; 39 ).

Stasiun Maguwo Lama pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).

Stasiun ini didirikan oleh N. I. S. M pada tahun 1909 dan direnovasi lagi pada tahun 1930-an. Selain sebagai tempat transit kereta api, stasiun Maguwo Lama juga berfungsi sebagai tempat pengangkutan hasil produksi gula dari Pabrik Gula Wonocatur ( yang sekarang menjadi Museum Dirgantara ) sebelum diangkut  menuju Semarang.

Pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1949 atau dikenal dengan peristiwa Clash, stasiun ini menjadi saksi bisu pertempuran antara pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dengan pasukan Belanda yang berusaha menduduki landasan udara Maguwo. Setelah pasukan Belanda menduduki lanud Maguwo, stasiun Maguwo menjadi pusat pengangkutan pasukan Belanda yang akan menuju ke kota Yogyakarta. Kira-kira 20 meter di sebelah timur stasiun, terdapat sebuah makam tidak dikenal yang menurut penuturan warga sekitar merupakan makam dari korban pertempuran Maguwo.


Pada tahun 2008, seiring dengan selesainya pembangunan jalur rel ganda rute Solo – Yogyakarta, maka stasiun Maguwo baru mulai dioperasionalkan pada tahun 2008 yang terintegrasi dengan bandara Adisucipto. Stasiun Maguwo yang baru berada kurang lebih 300 meter ke arah timur dari stasiun Maguwo Lama. Stasiun Maguwo Baru ini difungsikan menjadi stasiun yang melayani penumpang dari/ke Bandara Adisucipto, sekaligus menjadi titik sistem transportasi terpadu di kota Yogyakarta. Dengan diaktifkannya Stasiun Maguwo ( baru ) pada tahun 2008 maka stasiun Maguwo ( lama ) dinonaktifkan sebagai tempat menaik-turunkan penumpang (heritage. kereta - api. co. id).

Menunggu Kepastian Nasib Stasiun Maguwo Lama

Karena stasiun Maguwo Lama termasuk dalam Bangunan Cagar Budaya yang harus dilestarikan,maka pada tahun 2010 bangunan stasiun Maguwo Lama dikonservasi oleh Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan – PT Kereta Api Indonesia (persero). Untung saja stasiun Maguwo Lama segera dikonservasi oleh pihak terkait karena jika tidak,maka stasiun Maguwo Lama bisa saja raib karena kayunya dijarah oleh orang yang tidak bertanggung jawab...

Konservasi Stasiun Maguwo Lama sendiri meliputi penghilangan bagian kuncungan di bagian peron, warna cat bangunan yang semula berwarna hijau diganti dengan warna krem, kemudian di sekeliling stasiun ini dibangun pagar pengaman dari besi, dan dihilangkan nya kamar mandi lama yang kemudian diganti dengan kamar mandi baru (Momot, 2010 ; 59 ).

Saya yang sedang memberikan lapisan anti jamur pada dinding. Ramuan anti jamur ini merupakan ramuan alami yang terbuat dari cengkeh dan tembakau.
Sayangnya, konservasi Stasiun Maguwo Lama yang saya lihat mirip sekali dengan konservasi candi yang dilakukan oleh pemerintah di masa Orde Baru ( atau mungkin hingga saat ini). Bangunan diperbaiki, lalu diberi pagar sehingga orang tidak bisa meihat dari dekat dan selanjutnya ditinggalkan begitu saja tanpa adanya pengembangan lebih lanjut. Oleh karena itulah, selama beberapa tahun, kondisi Stasiun Maguwo Lama kembali tidak terurus. Rumput liar semakin meninggi sementara bagian dalam stasiun dipenuhi dengan debu dan kotoran hewan. 
Teman saya yang sedang membersihkan halaman depan Stasiun Maguwo Lama.
Beruntunglah kondisi ini tidak berlangsung lama karena sejak tahun 2013, dengan izin dari Pusat Pelestarian PT. K. A. I, Komunitas Roemah Toea, yakni sebuah komunitas yang peduli pada pelestarian cagar budaya, mulai melaksanakan aksi perawatan stasiun ini secara swadaya. Karena sering dibersihkan setiap bulan nya,maka stasiun Maguwo Lama tampak terawatt kembali. Jika anda tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih ini, anda tinggal like saja  page facebook Komunitas Roemah Toea dan hubungi saya lewat facebook.

Sebenarnya dari info yang pernah saya baca, sudah ada beberapa rencana terkait dengan pemanfaatan bekas stasiun Maguwo Lama agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Rencananya, Stasiun Maguwo (lama) akan dikembangkan menjadi gallery dan taman bacaan dengan melakukan kerjasama dengan pihak PT Mustika Ratu Tbk, Pusat Studi dan Konservasi – Universitas Gadjah Mada. Selain itu, di stasiun Maguwo Lama  rencananya juga akan dipajang gerbong kayu NR yang saat ini mangkrak di Balai Yasa Yogyakarta. Namun entah sampai kapan rencana ini akan dilaksankan, sehingga nasib stasiun Maguwo Lama tidak menggantung seperti sekarang. Yah, saya hanya bisa berharap semoga Stasiun Maguwo Lama bisa mendapatkan yang terbaik untuknya....

Referensi :

http://heritage.kereta-api.co.id/?p=1141

Davis, Nikkolas dan Erkki Jokinemi, 2008, Dictionary of Architecture and Building ConstructionElsevier, Oxford.

Milihur.Radika Momot, 2014, Evaluasi Konservasi Bangunan Utama Stasiun Maguwo Lama (Kalongan), Fakultas Ilmu Budaya, Skripsi. 

Musadad, 2012, Yogyakarta Satu Kota Dua Stasiun, dalam Jurnal Widya Prabha,BPCB Yogyakarta, Kalasan.