Senin, 19 Oktober 2015

Loji Minggir, Jejak Kolonial di Daerah Pinggiran


Tulisan Jejak Kolonial kali ini membahas tinggalan masa kolonial yang terdapat di daerah Minggir, sebuah kecamatan yang secara administratif berada di bawah kabupaten Sleman. Dari namanya saja, Minggir adalah daerah pinggiran yang suasana pedesaannya masih kental dan lansekap yang didominasi oleh pemandangan hamparan sawah yang terbentang luas. Meskipun termasuk daerah pinggiran, ternyata daerah Minggir memiliki beberapa peninggalan sejarah yang keberadaanya jarang ditemukan di daerah pinggiran, yakni Loji atau bangunan-bangunan  dari masa kolonial.

Kira-kira seperti apa loji-loji yang ada di Minggir dan mengapa bisa ada beberapa Loji yang berdiri di sini ? Padahal selama ini, mungkin kita hanya tahu bahwa keberadaan loji atau bangunan kolonial hanya dapat ditemukan di kota-kota besar yang tentu menjadi pilihan tempat tinggal orang Belanda karena fasilitasnya lebih lengkap jika dibandingkan dengan daerah pinggiran seperti Minggir. Oleh karena itu, mari kita telusuri loji ini bersama-sama.


Perjalanan Yogyakarta-Minggir


Lokasi Minggir pada peta tahun 1921 (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Minggir berjarak 26 kilometer ke barat dari kota Yogyakarta. Perjalanan ini dapat kita tempuh selama 45 menit. Saya sendiri untuk menuju ke sini, dari kota Yogyakarta, saya mengambil jalan lewat jalan Godean, jalan yang biasa saya lalui jika pulang ke Purworejo. Sesampainya di perempatan lampu merah Pasar Godean, perjalanan masih saya teruskan hingga perempatan lampu merah selanjutnya. Dari lampu merah ini saya belok ke kanan. Sepanjang perjalanan hamparan sawah dengan pemandangan perbukitan Menoreh di kiri jalan sungguh memanjakan mata yang rindu akan suasana pedesaan.  Sampai di perempatan Balangan,  saya belok ke kiri, melintasi sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir saluran Van Der Wijk yang airnya mengalir dengan tenang.

Apa itu Loji ?


Sebelum saya membahas lebih lanjut tentang loji-loji yang saya temukan di Minggir, kita harus tahu dulu apa itu loji. Loji adalah ungkapan orang-orang Jawa untuk menyebut  bangunan tinggalan kolonial yang berbeda dengan bangunan asli Indonesia ( BM.Susanti, 2000;47 ). Kata loji berasal dari kata Perancis loge yang merupakan sebutan untuk kantor dan kemudian orang Jawa menyebutnya secara terpleset menjadi loji.

Dari loji ke loji

Jumlah loji di Minggir yang dapat kita temukan berjumlah 5 buah loji. Keberadaan loji-loji ini dapat kita temukan pada arsip peta topografi tinggalan Belanda dari tahun 1925. Pada peta-peta lama, bangunan kolonial biasanya diberi tanda kotak merah agar terlihat mencolok dari lingkungan sekitarnya sehingga kita tinggal mencocokannya dengan citra satelit untuk memastikan apakah bangunannya masih ada sebelum kita meninjau ke lapangan. Loji-loji yang dapat kita temukan tersebar di beberapa titik, yakni di Desa Sendangsari ,Desa Sendangmulyo, Desa Kergan,dan Desa Sendangagung.
Tampak depan Lojisrut
Loji pertama yang kita kunjungi berada di desa Sendangsari tepatnya di pinggir Jalan Kebonagung. Loji yang sekarang digunakan sebagai SLB Minggir ( meski nampaknya tidak pernah dipakai  ) ini terlihat seperti bangunan – bangunan pada masa sekarang. Tapi jika diamati dengan seksama, pada bagian-bagian tertentu seperti hiasan di fasad depan bangunan, maka kita akan melihat sebuah ornamen khas dari bangunan kolonial, yakni hiasan makelaar yang berada di ujung atas fasad depan. Bangunan beratap perisai ini memang kesan kolonialnya sudah berkurang akibat penggantian jendela krepyak yang tinggi dengan jendela kaca biasa. Bangunan ini tampak sudah lama tidak dipakai. Ketika saya mengintip ke dalam lewat jendela, terlihat ruangan di dalamnya penuh dengan debu. Lantai serambi depan juga tidak kalah kotor. Oleh masyarakat sekitar, loji ini disebut Lojisrut karena dahulu di depan loji ini terdapat sebuah pohon serut.

Selanjutnya, loji kedua yang akan kita datangi terletak di Desa Sendangagung, tepatnya di sekitar lapangan Minggir yang berdasarkan peta lama di sini dahulu pernah berdiri  sebuah gudang. Di sekitar lapangan, kita akan menemukan dua buah loji. Loji yang pertama berada di sebelah utara lapangan. Jika kita lihat, bangunan loji ini sudah banyak perombakan meski bentuk dasar nya tidak mengalami banyak perubahan. Satu-satunya bagian yang masih tampak asli yakni bagian atap beserta gavel depan yang memiliki hiasan sesuluran di tengahnya.

Masih di sekitar lapangan, kita juga dapat menemukan sebuah loji yang mungkin membuat kita jatuh hati kepadanya. Ya, hampir seratus persen bagian-bagian bangunan loji ini tidak ada yang berubah alias masih asli. Mulai dari bentuk bangunan, hingga jendela-jendela tinggi berdaun krepyak yang masih utuh di di tempatnya. Bangunan tambahan yang berada di sampan utara juga belum mengalami perubahan. 
Kondisi Loji ketika saya pertama kali datang dan kondisi loji ketika saya terakhir kali berkunjung.
Ketika saya menemukan loji ini untuk pertama kalinya, halaman depan loji sedikit tertutup oleh pepohonan berdaun lebat. Loji ini sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Namun terakhir saya kembali ke sana, pohon-pohon yang dahulu memenuhi halaman loji kini sudah ditebang semua, sehingga bangunan loji dapat dilihat lebi jelas dari jalan.


Denah loji di selatan lapangan. Keterangan 1 : Serambi depan. 2 : Serambi belakang. 3 : Ruang tengah. 4 ; Ruang samping.

Jika dilihat sekilas, bentuk bangunan loji di selatan lapangan ini hampir mirip dengan lojisrut, hanya saja di serambi depan terdapat empat tiang dari batu-bata bergaya Korintian. Perhatikan pada bagian puncak gable. Di puncak gable, kita dapat  menemukan sebuah dekorasi bangunan dikenal dengan makelaar. Dekorasi ini dapat ditemukan pada bangunan kolonial dari akhir abad ke-19. Hiasan sesuluran di gavel depan menambah kecantikan loji ini.


Paviliun yang berada di samping bangunan utama.
Dari depan bangunan, saya ajak anda untuk bergerak ke bagian belakang loji. Di bagian ini juga tidak kalah rimbun dengan bagian depan. Permukaan tanah belakang loji penuh dengan daun-daun kering. Tumpukan sampah yang menggunung juga terlihat di sana-sini. Kita dapat  mengintip seperti apa kondisi bagian dalam loji lewat celah-celah krepyak yang sempit karena pintu digembok dari luar. Denah bagian dalam ternyata sederhana sekali, hanya ada sebuah ruang tengah yang diapit oleh dua buah kamar. Karena sudah lama ditinggalkan, bagian dalam loji tentu sudah kotor, plafon dari anyaman bambupun juga sudah ambrol. 

Selanjutnya kita akan bergerak ke bagian bangunan tambahan yang berada di samping utara loji. Bangunan ini dahulunya merupakan ruang untuk dapur, gudang, kamar mandi, paviliun, kamar pembantu dan kandang kuda. Kondisinya tidak kalah mengenaskan dengan bangunan utama.

Kita kembali lagi bagian depan, naik serambi depan sambil melihat kondisi sekitar. Suasana pedesaan yang tenang dan asri betul-betul dapat kita rasakan di sini. Semilir angin pedesaan yang lembut membuat kita sedikit betah berlama-lama di sini. Imajinasi saya sendiri kemudian kembali ke masa ketika rumah ini dihuni oleh para meneer. Membayangkan ketika setiap sore mereka menikmati syahdunya suasana pedesaan dengan duduk di kursi malas.
Oh ya, tambahan saja. loji ini sekarang digunakan untuk kegiatan TPA setiap sore. Yah dengan demikian hal ini menjadikan bangunan loji bermanfaat untuk warga sekitar dan loji menjadi kebih terawat.
Loji milik Ibu Puji.
Loji selanjutnya yang bisa kita temukan terdapat  di Desa Kergan tidak jauh dari lapangan Desa Kebonagung. Loji ini sendiri saya temukan belakangan setelah saya mendapat info dari rekan saya, Mas Aga YP, yang pernah mensurvey lokasi loji ini dengan bantuan peta lama. Kemudian saya mengunjungi loji ini bersama teman-teman satu komunitas aya, Mas Aga YP dan Mas Hari Kurniawan. Sampai di loji ini, kami bertiga disambut dengan baik sekali oleh pemilik loji yang bernama Ibu Puji.  Oleh pemilik loji, kami semua dipersilahkan untuk mengamati bagian dalam loji yang saat ini menjadi rumah tinggal.

Denah bangunan utama. Keterangan 1 : Ruang depan. 2 : Kamar tidur. 3 : Ruang Tengah. 4 : Dapur.
Jika kita melihat bangunan loji ini dari luar, bentuknya sangat berbeda sekali dengan loji-loji yang sudah kita temukan sebelumnya. Jika pada loji-loji sebelumnya fasad dan denahnya simetris, maka loji ini mempunyai fasad dan denah yang asimiteris. Hal ini disebabkan oleh teras depan loji yang membentuk denah seperti huruf “Y”, sehingga pintu masuk loji sedikit menyerong. Bagian teras depan sendiri sekarang ditutup untuk tambahan ruang tamu.


Salah satu perabotan tua berupa jam dinding yang sekarang sudah rusak.Jam ini berada di ruang dapur.
Di bagian dalam rumah, saya melihat beberapa perabotan antik seperti kapstok, lemari obat, jam dinding, lemari dan kursi. Bergerak ke bagan dapur, saya ditunjukan bagian plafon dapur yang masih asli dari anyaman bambu oleh Bu Puji. Rumah-rumah dari masa kolonial terkadang menggunakan anyaman bambu sebagai plafon karena harganya lebih murah.
Deretan kamar pada bangunan samping.
Kondisi ruang dalam.
Selanjutnya saya berpindah ke bagian bangunan tambahan yang berada di samping timur bangunan utama. Kondisi di sini agak sedikit kumuh karena di bagian belakang terdapat kandang ayam. Seperti kebiasaan orang desa kebanyakan, ayam-ayam ini dilepas begitu saja. Saya agak sedikit waswas berjalan, takut jika kaki saya menginjak "ranjau".  Di sini, saya melihat ruangan yang dahulu merupakan kamar pembantu, dapur, kamar mandi, toilet, sumur dan kandang kuda. Bangunan tambahan ini terhubung ke bangunan utama  dengan sebuah selasar. 

Menurut keterangan Ibu Puji, loji ini aslinya memiliki 3 serambi terbuka, namun salah satu serambi, yakni yang ada di samping kanan ditutup untuk menambah ruangan.

Bekas kandang kuda dengan pintu yang cukup besar agar kuda bisa mudah keluar masuk.

Inilah bangunan yang dahulu dibangun oleh Kakek Sarmowihardjo.
Setelah puas melihat-lihat rumah, kami mendengarkan cerita Ibu Puji tentang riwayat kepemilikan rumah ini. Beliau bercerita bahwa rumah ini sudah ditempati oleh kakek buyut Ibu Puji,  Eyang Sarmowihardjo, sejak tahun 1930an. Beliau dahulu adalah seorang mantri kesehatan dari Rumah Sakit Petronella ( sekarang R.S Bethesda Yogyakarta ) yang mendapat tugas di daerah Minggir. Rumah ini sendiri dahulu sempat dipakai untuk semacam klinik kesehatan. Sayangnya, kapan persisnya rumah ini dibangun dan siapakah penghuni rumah ini sebelum Eyang Sarmowihardjo datang, Ibu Puji tidak mengetahuinya. Selain itu, kakek buyut Ibu Puji juga menbangun sebuah bangunan kecil tambahan di halaman depan loji yang dahulu digunakan untuk pelayanan umat bergama Kristen. Bisa dikatakan, loji ini memiliki nilai sejarah yang cukup penting dalam sejarah penyebaran agama Kristen di Minggir.
Jendela krepyak yang bagian krepyak nya dapat dibuka tutup. Terlihat salah satu daun krepyaknya dalam kondisi sterbuk sementara satunya lagi dalam kondisi tertutup.
Sebelum kami pulang, Bu Puji menunjukan kepada kami jendela krepyak yang kisi-kisinya ternyata dapat dibuka tutup. Cara buka tutupnya cukup mudah, yakni tinggal menggerakan semacam tuas yang menyambung pada bagian krepyak. Saya cukup terkejut karena baru kali ini saya melihat jendela krepyak yang kisi-kisinya dapat dibuka tutup karena selama ini, jendela krepyak yang saya temukan kisi-kisinya dibuat rigid. Kisi-kisi yang dapat dibuka tutup ini berfungsi untuk mengatur udara yang masuk ke dalam ruangan sehingga jika ruangan panas, kisi ini dibuka. Sebaliknya, jika udara di dalam ruangan terasa dingin, kisi ini dapat ditutup. Canggih juga rupanya.


Balai Desa Sendangmulyo.
Loji terakhir yang dapat temukan adalah loji kini digunakan sebagai Balai Desa Sendangmulyo. Loji ini dari bentuknya masih utuh, hanya saja ada beberapa perubahan kecil seperti dinding depan yang dilapisi plesteran batu kali dan teras yang sudah tertutup. Bentuk loji ini serupa dengan loji di selatan lapangan Minggir. Di bagian atas, kita dapat menemukan hiasan makelaar yang kita temukan pada loji di selatan lapangan Minggir. Orientasi loji ini menghadap ke arah barat. Dari sini, pemandangan hamparan sawah berlatar belakang Perbukitan Menoreh terlihat sangat indah. Apalagi di kala sore hari. Tidak salah jika si pemilik rumah membangun rumahnya menghadap ke arah barat. Saya sendiri kpertama kali berkunjung ke loji ini, ketika senja mulai tiba. Sehingga tidak terlihat satupun aktivitas di sini. Yah, sepertinya saya perlu kembali lagi ke sini kalau bisa di saat hari kerja sehingga saya bisa bertemu dengan perangkat desa. Siapa tahu mereka bisa bercerita tentang sejarah loji ini.

Jika dikaji dengan ilmu arsitektur, loji-loji di daerah Minggir memiliki gaya arsitektur dari masa peralihan dari abad ke 19 menuju abad ke 20. Ciri khas gaya arsitektur dari masa ini adalah  hilangnya pilar-pilar besar pada bagian rumah. Selain itu,ada usaha untuk membuat kesan romantik pada loji dengan pemberian ornamen sesuluran pada bagian gable depan (Handinoto, 2006 ; 19 ).


(Kemungkinan) asal-usul Loji Minggir


Persebaran  loji-loji di  wilayah Minggir yang tergambar pada peta topotgrafi tahun 1935. Lokasi bangunan loji ditandai dengan kotak kecil berwarna merah. 
Keterangan : 
1. Lojisrut 
2. Loji milik Ibu Puji
3. Loji di selatan lapangan Minggir
4. Loji yang sekarang menjadi balai desa Sendangmulyo
A.Pabrik Gula Sendangpitu. (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Nah, setelah kita jalan-jalan dari loji ke loji, mari kita melacak asal-usul loji ini. Jika melacak sejarah Minggir pada masa kolonial, Minggir pada masa itu ternyata adalah sebuah daerah perkebunan tebu atau dalam arsip-arsip Belanda disebut dengan Suikeronderneming Kebonagung yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan Koloniaal Bank yang berkantor di Surabaya (Dingemans, L. F, 1925; 122). Perkebunan ini menghasilkan suplai tebu untuk Pabrik Gula Sendangpitu yang saat ini tinggal pondasinya saja.

Menurut sebuah arsip dari tahun 1925, terdapat 11 orang Eropa yang pernah tinggal di Minggir (Dingemans,L.F, 1925; 138). Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai contoleur atau mandor perkebunan tebu. Tugas mereka yakni memastikan ada sejmulah penduduk pribumi yang bekerja setiap harinya, menyiapkan lahan, menanam bibit pada musim yang tepat dan merawat semua tanaman sampai musim tanam tiba ( Albert S. Bickmore,1868 dalam James R. Rush, 2013; 95).. Sebagai orang Eropa yang di masa kolonial berada di lapisan sosial teratas, mereka tentu akan membuat rumah yang bentuknya berbeda dengan rumah milik orang - orang pribumi. Jadi besar kemungkinan bahwa dahulu loji-loji ini dahulunya merupakan rumah tinggal para mandor perkebunan tebu. Melihat posisi loji yang terpisah-pisah, tampaknya loji-loji ini sengaja dibangun berdasarkan area kerja masing-masing mandor. Tentu saja ini baru sebatas perkiraan dan perlu riset sejarah lebih lanjut.

Siapa bilang bangunan kolonial selalu ada di kota-kota besar ? Di daerah pinggiran seperti Minggir pun ternyata masih bisa kita temukan bangunan-bangunan kolonial yang tidak kalah antik dengan bangunan kolonial yang ada di kota-kota besar. Oleh karena itulah, bangunan loji ini patut untuk dilestarikan karena sifatnya yang langka. Loji-loji ini juga menjadi bukti konkrit betapa kaya dan suburnya daerah Minggir di masa lalu, sehingga di sini pernah terdapat sebuah perkebunan tebu yang lumayan besar. Penanda sejarah ini tentu sangat berharga untuk generasi di masa mendatang. Tidak mau kan, kita akan menceritakan sejarah kayanya Minggir di masa lalu hanya lewat cerita saja tanpa bukti yang konkrit ?

Referensi

B.M Susanti. 2000. Loji Londo ; Studi Tata Ruang Bangunan Indis. Yayasan untuk Indonesia, Yogyakarta.

Bickmore, S. Albert. Travels in the East Indian Archipelago dalam James. R. Rush. 2013. Jawa Tempo Doeloe. Komunitas Bambu. Depok.

Dingemans, L. F. 1925. Gegevens over Djokjakarta.

Djoko Soekiman. 2014. Kebudayaan Indis. Komunitas Bambu. Depok.


Handinoto. 2006. Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad ke 19 ke Awal Abad ke 20. Dimensi Jurnal Arsitektur Universitas Petra.
      

3 komentar:

  1. ijin menyalin sebagian artikel mas, cuma ada beberapa data yang kurang tepat, seperti Loji Kebonagung, itu harusnya menghadap ke timur, bukan ke barat. Loji serut itu di Desa Sendangsari, dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas masukannya,tulisan sudah saya koreksi

      Hapus
  2. joss...artikel bermanfaat... ijin share...

    BalasHapus