Kamis, 08 Oktober 2015

Harapan Baru Itu Muncul di Stasiun Maguwo Lama


Pengantar

Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya mengajak anda untuk melihat salah satu jenis peninggalan masa kolonial yang sangat khas, yakni stasiun. Kemunculan stasiun tentu tidak dapat dipisahkan dari kehadiran moda transpotasi kereta api yang dibawa oleh pemerintah kolonial. Nah stasiun yang pertama kali saya bahas pada saya ini cukup unik. Kira-kira seperti apa keunikannya ? dimanakah letak stasiun ini ? seperti apa bentuknya ? dan bagaimana sejarahnya ? Jawaban semua pertanyaan tadi akan saya bahas pada tulisan kali ini.

 Lokasi stasiun

Lokasi Halte Maguwo lama pada peta tahun 1921 (Sumber : maps. library. leiden. edu).
Yang namanya stasiun tentu saja berada di pinggir rel kereta api. Tidak ada stasiun yang tidak berada di pinggir rel kereta api kecuali stasiun luar angkasa. Lokasi stasiun Maguwo Lama yang akan saya bahas berada dekat sekali dengan Bandara Adisucipto Yogyakarta yang super sibuk. Sehingga selain suara kereta api yang melintas, saya juga cukup familiar dengan suara deru mesin pesawat terbang ketika saya berada di stasiun ini.

Perjalanan saya dari kota Yogyakarta ke lokasi stasiun kira-kira saya tempuh selama 15 menit. Untuk menuju ke sini sebenarnya cukup susah jika dari arah Yogyakarta karena saya harus putar kendaraaan terlebih dahulu di pertigaan pintu masuk bandara Adisucipto, lalu kembali ke Yogyakarta, lalu di kiri jalan, terdapat sebuah gapura bertuliskan “ Kembang Baru”. Masuk ke dalam gang dan ikuti jalan sampai rel, susur terus ke barat dan nanti akan terlihat sebuah bangunan kayu kecil yang diberi pagar yang tidak terlalu tinggi. Itulah stasiun Maguwo Lama.  

Saya sendiri baru mengetahui keberadaan stasiun yang secara administratif berada di dusun Kembang, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman ini semenjak  saya bergabung dengan Komunitas Roemah Toea sejak tahun 2014. Sebelumnya, saya yang jarang naik kereta sama sekali belum pernah mengetahui kalau di Yogyakarta terdapat sebuah stasiun yang konstruksinya masih terbuat dari kayu. Sejak pertama kali saya menginjakan kaki di stasiun ini, hampir setiap bulan saya datang ke stasiun ini sekedar untuk bersih-bersih atau hanya menengok saja bagaimana kondisinya. Bagi orang baru, apalagi jarang naik kereta seperti saya, stasiun ini memang agak tersembunyi karena lokasinya agak tersembunyi dan tertutup oleh pemukiman ditambah lagi tidak adanya papan petunjuk arah.


Stasiun Maguwo Lama yang Unik

Stasiun Maguwo Lama dilihat dari selatan.
            Ketika pertama kali saya melihat stasiun Maguwo Lama, rasa kagum muncul di benak saya. Bagaimana tidak kagum, hampir seratus persen konstruksi stasiun terbuat dari kayu dan meski usia stasiun Maguwo Lama sudah cukup tua, namun hingga kini kayu-kayu ini masih terlihat kokoh. Walau terlihat kokoh, saya melihat pada beberapa bagian mulai lapuk. Selain mungkin karena usia, juga karena kayu bagian luar mulai lapuk akibat pengaruh cuaca dan pelapukan yang disebabkan oleh hewan seperti rayap.



Arsitektur stasiun Maguwo Lama mengingatkan saya pada rumah-rumah pedesaan di Eropa yang rata-rata terbuat dari kayu (Nikolas Davis, 2008 ; 385). Posisi stasiun ini sendiri terletak di sebelah utara jalur rel Yogya - Solo. Aslinya, stasiun ini termasuk dalam jenis stasiun pulau, yakni stasiun yang diapit oleh dua lintasan rel. Namun jalur rel yang ada di sebelah utara kini sudah tertimbun tanah yang sebagian masih bisa saya temukan.

Ruang tunggu stasiun Maguwo Lama.
Stasiun Maguwo Lama sebenarnya tidak terlalu kaya akan dekorasi. Satu-satunya dekorasi yang sedikit menambah estetika stasiun adalah dekorasi sesuluran di bagian gavel atau atap pelana stasiun. Dekorasi ini merupakan dekorasi khas dari bangunan kolonial dari awal abad ke 20.

Dekorasi bermotif sesuluran.
Stasiun Maguwo Lama dilihat dari arah barat.Perhatikan hiasan di bagian atap.
Memasuki ruang bagian dalam, yang saya temukan hanyalah ruang berdenah persegi yang sudah tidak ada isinya sama sekali. Benar-benar kosong melompong !! Ruang yang saya masuki ini dahuli merupkan sebuah ruang multifungsi yang digunakan untuk kantor kepala stasiun, ruang tiket. Ruang-ruang ini dahulunya hanya dipisahkan dengan sekat saja. Ketika saya masuk ke dalam ruangan, suasana sejuk terasa sekal di dalam, apalagi jika dua jendela besar dengan model kupu tarung (daun ganda) di sisi barat dan timur di buka. Selain sejuk, ruangan juga mendapatkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Daun jendela sendiri pada bagian luar berupa jalusi (krepyak) dan bagian dalam berupa jendela kaca. Di bagian dinding, saya menemukan ada bekas lubang yang dahulu digunakan sebagai loket. Lubang ini sekarang ditutup. Aspek keamanan rupanya sudah dipikirkan oleh orang zaman dahulu. Hal ini saya temukan pada keberadaan palang besi yang ada di sisi luar jendela dan pintu masuk. Hmmm. Mungkin ide ini bisa diterapkan di tempat tinggal saya yang rawan pencuri….

Bagian dalam stasiun Maguwo Lama yang kosong.
Bekas loket stasiun Maguwo Lama (Garis merah).
Selanjutnya saya keluar ke bagian serambi stasiun yang berada di barat dan selatan stasiun sehingga membentuk huruf “L”. Serambi ini dahulunya merupakan ruang tunggu penumpang atau peron. Serambi ini sedikit terpotong karena sebagian dipakai untuk ruang PPKA ( Pemimpin Perjalanan Kereta Api). Sayangnya, permukaan lantai stasiun yang aslinya dilapisi dengan tegel, sudah lama diganti dengan keramik sehingga kesan antik pada stasiun ini menjadi berkurang. Saya membayangkan betapa sepinya stasiun ini dahulu, ketika bandara masih berupa area perkebunan dan persawahan dan hanya ramai jika ada kereta singgah untuk mengambil barang atau mengisi air. Stasiun terdekat adalah  stasiun Kalasan yang berjarak setengah kilometer ke timur. 

Stasiun Maguwo Lama dilihat dari satelit Google map.
 Tidak jauh di sebelah utara stasiun, saya melihat sebuah bangunan lama yang terlihat rusak. Tidak salah lagi, bangunan ini pasti bekas rumah dinas kepala stasiun Maguwo Lama. Hampir setiap stasiun dilengkapi fasilitas rumah dinas untuk pegawai stasiun. Agar mobilitas dan pengawasan mudah, maka di masa kolonial, tempat tinggal dibangun berdekatan dengan tempat kerja. Hal ini tentu meringkankan beban pegawai apalagi di masa itu transportasi masih sukar. Kondisi rumah ini terlihat sangat menyedihkan. Seluruh gentingnya sudah tidak berada di tempatnya, rangka-rangka kayu mulai lapuk dimakan cuaca dan usia, daun jendela beserta kusen-kusennya raib entah diambil siapa dan dinding dalam sudah banyak yang sudah rubuh. Bangunan ini rusak parah akibat gempa bumi pada tahun 2006 dan hingga sekarang belum ada tanda - tanda perbaikan.

Rumah dinas kepala stasiun Maguwo Lama.
Stasiun ini dahulu juga memiliki dua buah gudang yang saya temukan di sebelah barat dan timur stasiun. Kemungkinan besar gudang-gudang yang tinggal pondasinya saja ini digunakan untuk menyimpan gula serta alat-alat kebutuhan pabrik gula mengingat lokasi Stasiun Maguwo Lama berada di dekat Pabrik Gula Wonocatur. Keberadaan dua buah gudang ini menjadi bukti betapa cukup sibuknya stasiun Maguwo Lama di masa lalu yang ramai dengan kegiatan pengangkutan gula dari PG Wonocatur.

Struktur pondasi bekas gudang stasiun.

Selanjutnya di sebelah timur stasiun, saya ditunjukan tiang-tiang tua yang berasal dari potongan rel oleh teman satu komunitas saya, Mas Hari Kurniawan. Tiang-tiang ini dahulu merupakan tiang telegraf yang berfungsi sebagai sarana komunikasi petugas stasiun dengan stasiun lain nya.

Zaman dahulu ternyata orang sudah memperhatikan keselamatan perjalanan kereta. Buktinya adalah adanya jaring-jaring yang terpasang pada tiang telegeraf  yang melintang di atas rel. Jaring-jaring ini berfungsi agar jika kabel telegraf putus tidak akan mengenai kereta yang sedang berjalan. Hmmm. Hebat juga ya. Hal sekecil kabel yang melintang saja sudah menjadi perhatian orang zaman dahulu. Berbeda sekali dengan zaman sekarang dimana keselamatan menjadi hal yang dikesampingkan oleh orang-orang sekarang.

Bekas tiang telegraf yang terbuat dari potongan rel.
Stasiun ini juga dilengkapi dengan sarana toilet yang terletak di sebelah timur, tepatnya di area stasiun yang sekarang sudah dipagar. Toilet ini sekarang sudah dibongkar dan diganti dengan toilet baru yang berada di area stasiun.

Di sebelah utara stasiun, terdapat sebuah balai pertemuan yang dahulunya merupakan sepur badug atau tempat pemberhentian kereta.


Riwayat Stasiun Maguwo Lama

Latar belakang beridirinya stasiun ini tidak terlepas dari diberlakukannya Undang-undang Agraria pada tahun 1870 yang berdampak pada peningkatan hasil-hasil perkebunan di beberapa daerah seperti di Yogyakarta yang termasuk bagian dari vorstenlanden. Wilayah ini menjadi primadona produksi gula karena tanahnya merupakan jenis tanah vulkanis yang subur, akibatnya beberapa pabrik gula berdiri di daerah Yogyakarta. Pertumbuhan produksi ini tentu membutuhkan sebuah terobosan baru dalam dunia transportasi massal yang lebih efektif dan efisien. Tuntutan ini muncul karena selama ini hasil produksi hanya diangkut menggunakan gerobak yang ditarik dengan hewan yang tentu saja lambat sehingga sebelum mencapai pelabuhan saja,hasil produksi sudah mengalami kerusakan. Belum lagi daya angkut gerobag yang tidak begitu banyak. Oleh sebab itulah, maka Belanda membangun jalur kereta api dari kota pelabuhan Semarang ke vorstenlanden yang pembangunannya dilaksanankan oleh perusahaan kereta api swasta N. I. S. M ( Musadad, 2012 ; 39 ).

Stasiun Maguwo Lama pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).

Stasiun ini didirikan oleh N. I. S. M pada tahun 1909 dan direnovasi lagi pada tahun 1930-an. Selain sebagai tempat transit kereta api, stasiun Maguwo Lama juga berfungsi sebagai tempat pengangkutan hasil produksi gula dari Pabrik Gula Wonocatur ( yang sekarang menjadi Museum Dirgantara ) sebelum diangkut  menuju Semarang.

Pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1949 atau dikenal dengan peristiwa Clash, stasiun ini menjadi saksi bisu pertempuran antara pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dengan pasukan Belanda yang berusaha menduduki landasan udara Maguwo. Setelah pasukan Belanda menduduki lanud Maguwo, stasiun Maguwo menjadi pusat pengangkutan pasukan Belanda yang akan menuju ke kota Yogyakarta. Kira-kira 20 meter di sebelah timur stasiun, terdapat sebuah makam tidak dikenal yang menurut penuturan warga sekitar merupakan makam dari korban pertempuran Maguwo.


Pada tahun 2008, seiring dengan selesainya pembangunan jalur rel ganda rute Solo – Yogyakarta, maka stasiun Maguwo baru mulai dioperasionalkan pada tahun 2008 yang terintegrasi dengan bandara Adisucipto. Stasiun Maguwo yang baru berada kurang lebih 300 meter ke arah timur dari stasiun Maguwo Lama. Stasiun Maguwo Baru ini difungsikan menjadi stasiun yang melayani penumpang dari/ke Bandara Adisucipto, sekaligus menjadi titik sistem transportasi terpadu di kota Yogyakarta. Dengan diaktifkannya Stasiun Maguwo ( baru ) pada tahun 2008 maka stasiun Maguwo ( lama ) dinonaktifkan sebagai tempat menaik-turunkan penumpang (heritage. kereta - api. co. id).

Menunggu Kepastian Nasib Stasiun Maguwo Lama

Karena stasiun Maguwo Lama termasuk dalam Bangunan Cagar Budaya yang harus dilestarikan,maka pada tahun 2010 bangunan stasiun Maguwo Lama dikonservasi oleh Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan – PT Kereta Api Indonesia (persero). Untung saja stasiun Maguwo Lama segera dikonservasi oleh pihak terkait karena jika tidak,maka stasiun Maguwo Lama bisa saja raib karena kayunya dijarah oleh orang yang tidak bertanggung jawab...

Konservasi Stasiun Maguwo Lama sendiri meliputi penghilangan bagian kuncungan di bagian peron, warna cat bangunan yang semula berwarna hijau diganti dengan warna krem, kemudian di sekeliling stasiun ini dibangun pagar pengaman dari besi, dan dihilangkan nya kamar mandi lama yang kemudian diganti dengan kamar mandi baru (Momot, 2010 ; 59 ).

Saya yang sedang memberikan lapisan anti jamur pada dinding. Ramuan anti jamur ini merupakan ramuan alami yang terbuat dari cengkeh dan tembakau.
Sayangnya, konservasi Stasiun Maguwo Lama yang saya lihat mirip sekali dengan konservasi candi yang dilakukan oleh pemerintah di masa Orde Baru ( atau mungkin hingga saat ini). Bangunan diperbaiki, lalu diberi pagar sehingga orang tidak bisa meihat dari dekat dan selanjutnya ditinggalkan begitu saja tanpa adanya pengembangan lebih lanjut. Oleh karena itulah, selama beberapa tahun, kondisi Stasiun Maguwo Lama kembali tidak terurus. Rumput liar semakin meninggi sementara bagian dalam stasiun dipenuhi dengan debu dan kotoran hewan. 
Teman saya yang sedang membersihkan halaman depan Stasiun Maguwo Lama.
Beruntunglah kondisi ini tidak berlangsung lama karena sejak tahun 2013, dengan izin dari Pusat Pelestarian PT. K. A. I, Komunitas Roemah Toea, yakni sebuah komunitas yang peduli pada pelestarian cagar budaya, mulai melaksanakan aksi perawatan stasiun ini secara swadaya. Karena sering dibersihkan setiap bulan nya,maka stasiun Maguwo Lama tampak terawatt kembali. Jika anda tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih ini, anda tinggal like saja  page facebook Komunitas Roemah Toea dan hubungi saya lewat facebook.

Sebenarnya dari info yang pernah saya baca, sudah ada beberapa rencana terkait dengan pemanfaatan bekas stasiun Maguwo Lama agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Rencananya, Stasiun Maguwo (lama) akan dikembangkan menjadi gallery dan taman bacaan dengan melakukan kerjasama dengan pihak PT Mustika Ratu Tbk, Pusat Studi dan Konservasi – Universitas Gadjah Mada. Selain itu, di stasiun Maguwo Lama  rencananya juga akan dipajang gerbong kayu NR yang saat ini mangkrak di Balai Yasa Yogyakarta. Namun entah sampai kapan rencana ini akan dilaksankan, sehingga nasib stasiun Maguwo Lama tidak menggantung seperti sekarang. Yah, saya hanya bisa berharap semoga Stasiun Maguwo Lama bisa mendapatkan yang terbaik untuknya....

Referensi :

http://heritage.kereta-api.co.id/?p=1141

Davis, Nikkolas dan Erkki Jokinemi, 2008, Dictionary of Architecture and Building ConstructionElsevier, Oxford.

Milihur.Radika Momot, 2014, Evaluasi Konservasi Bangunan Utama Stasiun Maguwo Lama (Kalongan), Fakultas Ilmu Budaya, Skripsi. 

Musadad, 2012, Yogyakarta Satu Kota Dua Stasiun, dalam Jurnal Widya Prabha,BPCB Yogyakarta, Kalasan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar