Minggu, 27 Desember 2015

Cerita Dibalik Loji Gedongan

Halo sobat Jejak Kolonial, kali ini saya mengajak anda semua untuk melihat hasil eksplorasi saya ke Loji Gedongan yang secara administratif berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Seperti yang sudah saya singgung di tulisan saya sebelumnya yang berjudul " Loji Minggir : Jejak Kolonial di Daerah Pinggiran ".persebaran bangunan kolonial tidak terpusat di kota saja. Di kawasan pedesaan  pun juga bisa ditemukan keberadaan bangunan kolonial seperti di Gedongan ini. Mendengar namanya saja, mungkin kita bisa membayangkan bahwa di tempat ini terdapat sebuah Gedong, sebutan orang zaman dahulu kepada bangunan besar dari bahan permanen yang rata-rata merujuk pada bangunan kolonial. Kira-kira seperti apa loji yang saya temukan di Gedongan dan apa cerita dibaliknya ? Simak terus tulisan saya di bawah ini.

Cerita awal
Lokasi Gedongan.
Saya baru mengetahui keberadaan loji ini ketika saya pulang ke Purworejo lewat jalan Godean. Sebelum saya sampai di perempatan lampu merah Gedongan, ( jika lurus sampai di Nanggulan, jika belok kiri akan sampai ke Sentolo, jika belok kanan sampai Tempel dan jika berputar arah kembali lagi ke Godean ), perhatian saya tertuju pada sebuah bangunan tua tak terawat dengan jendela krepyak tinggi, tanda bahwa ini adalah sebuah bangunan dari masa kolonial. Lokasi loji ini persis di sebelah Balai Desa Sumberagung. Dugaan saya semakin kuat setelah saya membuka peta lama daerah Gedongan dan benar saja, persis di tempat bangunan kolonial tadi berdiri, ada tanda kotak merah, tanda bahwa di situ pernah berdiri sebuah loji atau bangunan kolonial. Meski demikian, pertanyaan di benak saya seperti mengapa ada bangunan kolonial di sini dan apa hubungannya dengan nama Gedongan masih belum terjawab.


Cerita dari Loji
Lokasi loji atau rumah tua di Gedongan.
Tugas mata kuliah saya yang bernama “Pengantar Penelitian Arkeologi” menjadi kesempatan saya untuk menjawab pertanyaan tadi. Setelah mengurus surat izin penelitian yang cukup direpotkan akibat birokrasi yang lumayan berbelit, saya bersama beberapa teman selanjutnya menyurvey loji ini untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan, baik itu data fisik bangunan maupun data sejarahnya.
Loji kopel.
Nah, Loji yang pertama kali yang akan kita kunjungi di sini adalah loji yang berada di sebelah timur balai desa Sumberagung. Dari luar, terlihat rumput liar yang cukup tinggi hampir menutup seluruh halaman depan loji. Untuk mendekati loji, kita akan masuk lewat pintu di halaman belakang. Di sini, kita dapat melihat deretan kamar yang dahulu menjadi kamar pembantu. Tidak jauh dari situ, saya melihat sebuah bangunan kecil yang tidak kalah tingginya dari bangunan loji utama. Sepertinya bangunan ini semacam istal atau kandang kuda. Hal ini terlihat dari pintu masuknya yang tinggi dan lebar. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pemilik loji ini barangkali dahulu memiliki seekor kuda, alat transportasi yang banyak dipakai oleh orang zaman dahulu. Di daerah pedesaan seperti Gedongan, kuda menjadi pilihan transportasi untuk berpergiaan karena meski saya yakin si tuan rumah sebenarnya mampu membeli mobil, apalah artinya jika di sekitarnya belum tersedia fasilitas perawatan seperti bengkel. Pakan kuda juga mudah ditemukan di wilayah pedesaan. Saya jadi membayangkan si  tuan rumah yang mungkin dulu adalah seorang pengawas perkebunan atau controleur, mengawasi perkebunan dari atas pelana kuda.
Deretan kamar di belakang.
Kembali ke pembahasan Loji ini. Dilihat dari luar, loji ini tampak tertutup. Karena bagian depan loji agak sulit untuk dilewati akibat tertutup oleh tanaman liar, maka kita akan mengintip bagian dalam loji lewat pintu belakang yang sedikit terbuka. Di bawah genting yang nyaris ambrol, kita dapat melihat kondisi bagian dalam loji yang gelap dan kumuh,. Tampaknya loji ini sudah lama ditinggalkan oleh si empunya rumah.

Loji ini terdiri sebuah bangunan yang dibagi dua rumah tinggal. Adapun rumah sebelah yang juga sama-sama kosong kini sudah menjadi bagian dari rumah milik warga. Kamar belakang yang kita lihat di belakang tadi rupanya berpunggungan dengan kamar belakang rumah sebelah. Sehingga dari atas, denah loji ini membentuk huruf “T”.
Balai Desa Sumberagung.
Di sebelah barat loji tadi, terdapat kantor Balai Desa Sumberagung. Oh ya, di tempat yang sekarang sudah berdiri Balai Desa Sumberagung juga pernah berdiri sebuah loji. Namun pada masa Agresi Militer Belanda II, loji ini rusak parah akibat terkena ledakan mortir yang ditembakan oleh tentara Belanda dari Cebongan. Saking parahnya sehingga keseluruhan bangunan harus dirobohkan. Selanjutnya pada tahun 1960-an, lahan bekas berdirinya bangunan tadi didirikan sebuah balai desa. Kira-kira seperti apa bentuk bangunan yang hancur tadi ?
Loji yang saat ini ditempati oleh keluarga Mas Luthfi.
Tepat di barat balai desa, terdapat sebuah loji megah yang sepertinya belum pernah dirombak sama sekali. Menurut saya, beginilah kira-kira wujud loji yang kini berubah menjadi Balai Desa Sumberagung. Loji ini sekarang ditempati oleh Keluarga Mas Luthfi. Saya berterima kasih banyak kepada beliau yang sudah mengizinkan saya beserta teman saya untuk melihat-lihat bagian dalam rumah. Dari luar, fasad depan rumah terlihat menonjol dengan adanya atap pelana yang menghadap ke depan. Di bawah atap pelana ini, terdapat hiasan barge board yang berguna untuk menahan sengatan matahari. Atap pelana ini menaungi sebuah serambi depan yang diapit oleh sebuah ruangan yang kini menjadi ruang tamu.
Bagian dalam loji.
Bagian dalam ruangan sangat sederhana, yakni hanya terdiri dari sebuah ruang tengah dengan dua kamar di samping kiri ruang. Lantai rumah pun juga cukup sederhana, yakni hanya dilapisi dengan semen saja. Meski sederhana, tapi tembok yang tinggi ditambah jendela besar menjadikan hawa udara di dalam ruangan terasa sejuk meski tanpa AC. Di bagian atas, lewat plafon yang sedikit terbuka, saya dapat melihat konsturksi kuda-kuda dari kayu jati. Tidak lupa saya ditunjukan oleh pemilik rumah pada sebuah genteng tua yang tidak pecah ketika jatuh. Di belakang rumah, saya ditunjukan sebuah sumur tua. Dinding sumur tua ini tidak terbuat dari bis-bis beton yang dibuat melingkar, melainkan dari batu-bata khusus. Bata ini jika disusun akan menghasilkan bentuk melingkar. Di samping kanan rumah, terdapat bangunan tambahan yang sudah beda pemilik.
Denah ruangan.
Menurut tuan pemilik rumah, sebelum rumah ini ditempati, rumah ini benar-benar tidak terawat, sama seperti loji yang pertama kali kita lihat tadi. Bahkan kali pertama dia melihat rumah, dia sendiri melihat ada bekas tumpukan sesajen entah apa maksudnya. Tapi yang jelas, semenjak rumah ini ditempati, rumah ini menjadi lebih terawat.
Sisa loji yang kemungkinan merupakan tempat tinggal Administrateur.
Setelah melihat bangunan yang ada di selatan jalan, kita selanjutnya berpindah ke bangunan yang ada di utara jalan karena menurut peta lama, di utara jalan terdapat loji yang cukup besar.  Awalnya saya sendiri mengira kalau loji ini sudah hancur, tapi dugaan saya salah. Ternyata bangunan loji di peta tadi berdiri persis di belakang Indomaret Gedongan sehingga dari jalan tidak terlihat. Dengan seizin pemilik rumah (sayangnya saya sendiri sudah lupa siapa namanya), saya bisa mengintip bagian dalam rumah.
Potongan jalur lori yang dahulu pernah ada di Gedongan. Lori ini terhubung dengan pabrik gula Sendangpitu yang terletak 5 kilometer ke utara dari Gedongan
Menurut penuturan tuan rumah, rupanya loji ini sebagian hancur akibat terkena serangan mortir Belanda. Serangan yang sama dengan serangan yang menghancurkan loji yang kini menjadi balai desa. Di sini kita bisa melihat sebuah kaca jendela bagian atas yang warnanya terlihat berbeda sendiri. Saya melihat warna jendela ini berwarna transparan, sementara jendela lainnya berwarna agak oranye. Rupanya warna jendela ini diganti bukan tanpa sebab. Selain menghancurkan sebagian bangunan, serangan mortir tadi juga membuat sebagian kaca jendela pecah sehingga jendela lama yang berwarna oranye tadi, diganti dengan kaca jendela baru berwarna transparan.
Bekas lubang surat.
Masih di loji ini, kita dapat menemukan sebuah lubang kecil di dinding depan yang setelah saya amati ternyata adalah bekas lubang tempat memasukan surat. Saya berpikir sepertinya dahulu loji ini merupakan usat administrasi yang cukup penting dan setiap harinya, si tuan rumah menerima berbagai berkas administrasi penting lewat lubang kecil ini.
Bagian pagar depan yang masih tersisa.
Setelah melihat loji tadi, mata saya kemudian menangkap sebuah tugu kecil yang sepertinya bukan buatan masa sekarang. Tugu kecil ini juga saya temukan di dekat kios tambal ban di samping Indomaret. Ternyata, menurut warga sekitar, tugu kecil ini merupakan bagian dari pagar depan loji yang saya lihat tadi.
Bangunan yang dahulu menyatu dengan bangunan tempat tinggal administrateur.
Di belakang kios tambal ban tadi, kita akan melihat ada sebuah bangunan kecil yang sepertinya sama tuanya dengan loji-loji tadi. Saya berasumsi bahwa bangunan ini merupakan bagian bangunan tambahan loji yang terakhit saya lihat tadi.  Bangunan ini kemungkinan dahulu menyatu dihubungkan bangunan utama dengan sebuah selasa. Saya lihat bangunan ini terdiri dari deretan kamar yang memanjang. Bangunan tambahan ini merupakan yang terbesar di Gedongan. Saya jadi membayangkan, jika bangunan tambahannya saja sebesar ini, bagaimana dengan bangunan utamanya ?
Bangunan tempat tinggal bergaya lama di sebelah timur Indomaret. Tidak diketahui apakah bangunan ini masih asli atau sudah mengalami penambahan.
Sebenarnya di sebelah timur Indomaret, masih ada sebuah loji lagi. Tapi saya agak ragu apakah loji ini bangunannya masih asli atau sudah mengalami rombakan.

Dibalik Loji Gedongan
Gedongan pada peta tahun 1933. Perhatikan tanda-tanda kotak merah di tengah merupakan lokasi loji-loji Gedongan ini berdiri.(sumber : maps.library.leiden.edu).
Pertanyaan saya soal keberadaan loji ini mulai sedikit tersingkap setelah kami bertemu dengan Bapak Sujudi, sesepuh Kampung Gedongan yang kini sudah berusia 85 tahun. Di usianya yang sudah senja, dia masih terlihat sehat dan daya ingatnya pun cukup baik. Rumahnya sendiri ternyata tidak jauh dari loji yang ditempati oleh keluarga Mas Luthfi. Ternyata dahulu rumah Bapak Sujudi merupakan bekas tempat pembangkit listrik yang memanfaatkan aliran air dari sebuah saluran air yang melewati Gedongan. Tentu saja Gedongan di masa lalu merupakan sebuah wilayah yang cukup terpencil sehingga untuk menunjang aktivitas yang ada maka dibuatlah sebuah pembangkit listrik. Bapak Sujudi yang rupanya seorang veteran agresi militer Belanda ini bercerita, bahwa loji-loji ini dahulu merupakan pusat perkebunan tebu yang menyuplai tebu untuk PG Sendangpitu, PG Rewulu, dan PG Demakijo ( Semua PG ini sudah tinggal nama saja).
Sebuah foto lama yang diduga merupakan Loji Gedongan. Terlihat batur bamgunan rumah masih terlihat tinggi. Di bagian beranda depan terlihat si tuan rumah sedang duduk. Sementara di halam depan tampak dua juru pelihara kuda (sumber : media-kitlv.nl).
Pabrik Gula Rewulu (sumber : troppenmusuem.nl).
Pabrik Gula Demakijo (sumber : troppenmusuem.nl).
Sayangnya, beliau tidak tahu persis kapan loji ini dibangun. Beliau juga tidak tahu siapa yang dahulu tinggal di loji ini. Tapi yang jelas, sejak dia lahir, loji ini sudah ada. Selanjuntya, beliau bercerita, di masa Agresi Militer II, loji-loji ini menjadi markas para pejuang, sehingga sekitar wilayah Gedongan dihujani dengan tembaka Mortir oleh Belanda. Hujan Mortir ini menghancurkan beberapa loji yang ada di Gedongan. Jadi dapat dikatakan loji-loji ini merupakan salah satu saksi bisu peristiwa Agresi Militer Belanda II. Akhirnya, cerita beliau ditutup dengan pernyataan bahwa mungkin dari loji-loji inilah asal nama Gedongan berasal…. 

Demikian tulisan saya mengenai Loji Gedongan. Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa Loji Gedongan memiliki nilai sejarah yang cukup penting bagi daerah Gedongan. Dari loji inilah, nama Gedongan berasal. Loji ini juga menjadi bagian dari sejarah peristiwa Agresi Militer Belanda II. Oleh karena itulah, loji-loji ini bagi saya patut untuk dilestarikan karena jarang sekali ada sebuah loji dengan nilai sejarah cukup tinggi yang berdiri di tengah pedesaan…

Sabtu, 12 Desember 2015

Prembun, Sepenggal Kolonial di Ujung Timur Kebumen

Terletak di ujung timur Kabupaten Kebumen, tak banyak yang tahu bahwa di pernah berdiri sebuah pabrik gula di Prembun. Pabriknya memang telah terkubur oleh sang kala, tapi jejak sejarahnya masih bisa ditemui. Inilah sebuah ikhtisar tentang sepenggal kolonial di ujung timur Kebumen.
Lokasi kecamatan Prembun dalam peta Kabupaten Kebumen (warna ungu).
“ Lain kali kalau mau foto-foto bilang ke sini dulu ya mas ! “, perintah bapak polisi itu. “ Siap pak !”, sahut saya. “ Kalau sudah izin kan nanti bisa lihat-lihat dalam “, sambungnya. Bermula dari kecerobohan saya yang lupa meminta izin pada penjaga, saya justru mendapat kesempatan emas untuk melihat lebih dekat bangunan tua yang kini menjadi kantor Polsek Prembun itu. “ Ini dulu bangunan dari zaman kolonial Belanda mas “, terang polisi lain. Balutan kolonial memang masih begitu kentara di kantor yang berada di pinggir jalan raya Kebumen-Purworejo. Lihatlah jendela krepyak yang masih utuh terpasang di tempatnya. Beranda depan yang tinggi ditopang oleh tiang-tiang dari kayu jati. Halaman depannya juga amat luas sehingga belasan mobil dapat terparkir di situ.

Bangunan bekas tempat tinggal rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor Polsek Prembun.
Lokasi rumah adminsitrateur pada foto lama.
Berhias dengan lantai tegel bermotif di bagian dalamnya, bangunan itu sepertinya tidak dirancang untuk kantor polisi. Memang demikian, bangunan itu sejatinya tidak diperuntukan sebagai kantor polisi, melainkan untuk sebuah rumah tinggal. Dari ukuran dan luasnya halaman, jelas bukan sembarang orang yang dulu pernah berhuni di sini. “ Dahulu yang tinggal di sini itu katanya pegawai pabrik gula, tapi saya tidak tahu pabrik gula mana “, terang polisi tadi.
Bekas ruang kamar-kamar pembantu yang saat ini menjadi asrama polisi.
Lantai tegel bergaya art nouveau di bagian serambi depan polsek Prembun.
Lantai tegel bermotif geometris di bagian dalam Polsek Prembun.
Bangunan bekas paviliun di samping kanan bangunan utama Polsek Prembun.
Pabrik gula yang dimaksud ialah Suikerfabriek Remboen atau PG Prembun, sebuah pabrik gula yang menurut keterangan kawan saya dari Banjoemas Heritage, Milo Jatmiko, sudah ada sejak tahun 1889. Pabrik gula milik Belanda tertua di Karesidenan kedu itu dikuasai oleh sebuah perusahaan agrobisnis partikelir, Java-Suikercultuur Maatschappij dan kantor polisi yang sedang saya sambangi saat ini dahulunya adalah kediaman adminsitrateur atau kepala operasional PG Prembun. Tidaklah heran apabila bangunan itu tampak megah laksana istana mengingat administrateur adalah jabatan tertinggi di lingkungan pabrik. Salah satu administrateur yang pernah berdiam di situ ialah J.G. Tjassens Keizer.
Bangunan kolonial di dalam SMP N 1 Prembun dan lokasinya  pada foto lama.
Tersembunyi di balik gerbang SMP N 1 Prembun, saya menjumpai sebuah bangunan kolonial yang entah apa fungsinya. Apakah ia dulunya merupakan rumah wakil administrateur, kantor administrasi, atau societeit, tempat pegawai bersenang-senang ? Dari sana, saya kemudian melesat menyeberangi jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
Foto udara PG Prembundi ambil dari sebelah utara (sumber : troppenmuseum.nl).
Foto udara PG Prembun diambil dari sebelah tenggara. Tampak dengan jelas pemandangan kompleks pabrik dan perumahan pegawai (sumber : troppenmuseum.nl).
Sisa-sisa PG Prembun saat ini.
Sekelebat bayangan melintas di benak saya ketika saya sudah berada di seberang jalan. Bayangan itu berupa sebuah pabrik gula besar yang di mukanya terpampang angka tahun 1926, tahun dimana PG Prembun diperbesar. Sekitar tahun 1900an awal, pabrik gula itu diambilalih oleh salah satu dari " Big Six " perusahaan keuangan di Hindia Belanda, Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij, yang telah memiliki beberapa pabrik gula di tempat lain seperti Gudo, Balapulang, dan Pagongan. Disadur dari harian Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 24 Januari 1938, PG Prembun sempat ditutup tahun 1933. Tidak dijelaskan apa sebabnya tapi pada tahun itu, banyak pabrik gula di Jawa yang ditutup untuk memperbaiki harga gula yang sempat merosot di pasaran. Namun setelah direksi Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij bernegosiasi dengan pemerintah kolonial, PG Prembun dibuka kembali pada tahun berikutnya dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. 
Foto hitam putih bangunan PG Prembun atau S. F Remboen. Di dinding muka bagian atas, terdapat angka tahun 1926 yang menunjukan tahun bangunan itu berdiri. Bangunan ini dahulu berdiri persis di pinggir jalan raya yang Purworejo - Kebumen. Bangunan ini sekarang sudah hilang (sumber : troppenmuseum.nl).
Kompleks rumah pegawai PG Prembun. Gambar diambil dari dekat jalur kereta api. ( troppenmuseum.nl ).
Para pegawai administrasi yang sedang bekerja ( sumber ; troppenmuseum.nl ).
Mesin penggiling tebu PG Prembun ( sumber : troppenmuseum.nl ).
PG Prembun memang telah lama lenyap, tapi tak diketahui apa sebab ia akhirnya berhenti bergiling dan bangunan pabriknya hilang begitu saja. Tapi beruntung, PG itu masih meninggalkan jejak berupa dokumentasi foto. Sekitar tahun 1920an, kompleks pabrik gula itu pernah diambil fotonya termasuk dari udara. Foto itu setidaknya memberikan gambaran kepada kita di zaman sekarang seperti apa rupa PG Prembun di masa ketika ia masih menggiling tebu.


Bangunan bekas rumah dinas yang berada di pinggir jalan raya.


Tiga rumah identik di pinggir jalur rel Kutoarjo-Kebumen
Salah satu bekas rumah dinas pegawai PG Prembun yang masih lumayan terjaga.
Di sisi selatan jalan, saya banyak sekali menemukan rumah-rumah bergaya kolonial yang masih ada sangkut pautnya dengan PG Prembun. Untuk mengakomodir para pegawai pegawai menengah seperti zinder atau ahli tanaman tebu,chemicer atau ahli gula, hingga kepala masinis kereta lori pengangkut tebu, dibangunlah rumah-rumah berukuran sedang yang saling berdekatan, membentuk semacam industrial village. Karena lokasinya berada di pinggir jalan yang strategis, banyak yang akhirnya berubah wujud menjadi toko-toko.
Bangunan kamar bola yang hanya menyisakan struktur dinding saja.
Sebuah bangunan kolonial yang saat ini digunakan sebagai sarang walet.
Di sebelah bangunan tadi, terdapat bangunan dengan bentuk serupa yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.
Sebuah rumah tua yang berada di dekat terminal Prembun. Kondisi rumah sebenarnya masih baik, namun karena sudah lama ditinggalkan, rumah ini sekarang dipenuhi dengan kelelawar.

Memasuki gang perkampungan, saya mendapati beberapa rumah kuno yang masih utuh dan lumayan terawat. Namun ada pula yang malang nasibnya. Contohnya adalah sebuah rumah kopel yang tak jauh dari rel yang kini hanya menyisakan puing-puing tembok saja. Ada juga yang saking lamanya tidak ditempati akhirnya menjadi sarang kelelawar.
Bangunan stasiun Prembun.
Bangunan rumah dinas pegawai stasiun Prembun.
Perjalanan saya di Prembun saya akhiri di Stasiun Prembun, sebuah stasiun kecil yang masih beroperasi, dimana di sana dulu karung-karung gula PG Prembun diangkut. Tak jauh darinya, masih berdiri kokoh sebuah rumah kuno yang dahulu ditempati oleh kepala Stasiun Prembun. Saya cukup terkesan dengan perjalanan kali ini karena akhirnya saya sadar bahwa tinggalan kolonial di Kabupaten Kebumen tak hanya terbatas pada Benteng Van der Wijk Gombong saja dan bangunan-bangunan kuno di Prembun itu seakan menjadi monumen dari PG Prembun yang jejak fisiknya kini lenyap dan mungkin sudah lekang dari ingatan banyak orang…