Minggu, 27 Desember 2015

Cerita Dibalik Loji Gedongan

Tak terlintas di benak saya bahwa di tepi Jalan Purworejo-Godean ; jalan yang kerap saya lalui jika pulang kampung, berdiri beberapa bangunan lawas yang keberadaanya masih belum banyak diketahui oleh orang. Bangunan-bangunan itu seolah ingin bertutur sekilas tentang sejarah tempat mereka berdiri, Gedongan. Inilah kisah saya di Jejak Kolonial, mengungkap jejak bangunan kolonial di Gedongan.


Berjarak 13 km dari kota Yogyakarta, Desa Sumberagung, hanyalah sebuah desa biasa yang berada di bawah Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Namun desa ini memiliki satu hal yang tidak semua desa lain miliki, yakni warisan sejarah berwujud bangunan kolonial. Ketika berjumpa dengan bangunan itu pertama kali secara tak sengaja, timbul sebuah pertanyaan di benak saya. Bagaimana bisa sebuah bangunan kolonial berdiri di sebuah desa yang tampaknya tidak memiliki sumberdaya atau nilai penting di mata penjajah ?
Gedongan pada peta tahun 1933. Perhatikan tanda-tanda kotak merah di tengah yang menjadi tanda keberadaan bangunan kolonial (sumber : maps.library.leiden.edu).

Letak bangunan tua di Gedongan.
Letak bangunan-bangunan kolonial itu berada di Dusun Gedongan, persisnya di seputaran Balai Desa Sumberagung. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah persimpangan jalan yang cukup ramai. Menilik namanya, keberadaan bangunan kolonial berupa rumah tinggal itu jelas ada sangkut pautnya dengan asal nama dusun itu. Gedong sendiri merujuk pada sebutan orang-orang Jawa terhadap bangunan yang dibuat dari bahan yang lebih kuat dan ukurannya lebih besar.
Bangunan rumah kopel yang telah ditinggalkan.
Sunyi menyambut saya ketika kaki ini mulai menjejakan ke dalam pekarangannya yang penuh semak belukar. Walau bangunan itu tampak terlantar, namun ia masih menunjukan kekokohannya. Bangunan itu sebetulnya merupakan bekas sepasang rumah tinggal yang dibikin dalam satu atap alias rumah kopel. Dari luar, dua rumah itu sama-sama tak dihuni. Pintu dan jendela krepyaknya masih terkunci rapat, tiada cara untuk mengetahui isinya selain lewat celah kecil yang ada di pintu belakang. Dari celah kecil itu, bagian dalam rumah tersebut terlihat kotor dengan pecahan genting yang terserak dimana-mana. Terang sekali bahwa rumah itu sudah lama ditinggal oleh empunya.

Deretan kamar di belakang.
Di belakang bangunan utama, berjejer deretan kamar-kamar yang dahulu menjadi tempat tinggal pembantu, kamar mandi, dan dapur. Deretan kamar-kamar di rumah yang sedang saya sambangi ini rupanya saling berpunggungan dengan deretan kamar di rumah sebelah, sehingga bangunan ini tampak berbentuk huruf “T” jika dilihat dari atas. Masih di bagian belakang, saya mendapati sebuah bangunan kecil yang menurut keterangan warga sekitar dulunya merupakan kandang kuda. Cukup masuk akal karena pintunya cukup besar dan bagian dalamnya bisa ditempati oleh seekor kuda. Keberadaan kandang kuda itu setidaknya mengungkapkan bagaimana si pemilik rumah dulu berpergian. Kuda merupakan kendaraan yang banyak dipakai oleh orang di kala kendaraan bermotor masih langka apalagi bagi mereka yang tinggal di desa dimana di sana tidak ada bengkel perawatan. Selain itu, pakan kuda pun jauh lebih mudah diperoleh di desa ketimbang bensin untuk kendaraan bermotor.

Loji yang saat ini ditempati oleh keluarga Mas Luthfi.
Berada di sebelah barat Balai Desa Sumberagung, saya mendapati sebuah bangunan kuno lain dengan bentuk yang sedikit berbeda dengan bangunan kuno yang sudah saya sambangi tadi. Ia tampak menonjol dengan atap pelana yang menghadap ke depan. Di bawahnya, terdapat sebuah beranda dengan hiasan gigi talang yang cantik. Di ruang tamu yang terdapat di samping beranda tadi, Mas Luthfi, penghuni rumah ini dengan ramah menyambut saya. “ Rumah ini ketika dulu saya beli kondisinya tidak terawat “, terangnya. “ Saya temukan juga semacam sesajen di berandanya. Dulu rumah ini memang dikenal angker sehingga banyak orang iseng yang meletakan sesajen di sana dengan tujuan dapat nomor “, tutur Mas Luthfi seraya menujuk tempat ia dulu menemukan sesajen. “ Yah, tapi setelah kita beberapa bulan kita tinggal di sini, syukurlah tidak ada hal aneh yang terjadi “, terangnya.

Bagian dalam.
Setelah beramah tamah, beliau menawarkan kepada saya untuk melihat bagian dalam kediamannya. Dengan senang hati saya terima tawaran beliau. Bagian dalam rumah itu terdiri dari sebuah ruang tengah yang cukup lapang dengan dua kamar di samping kiri. Beringsut ke belakang, saya ditunjukan sebuah sumur tua yang menurut empunya rumah, “ tidak pernah kering walau sudah musim kemarau”. Ia pun menunjukan kepada saya sebuah genting, “ yang tak pecah walau jatuh dari atap “.

Sisa loji yang kemungkinan merupakan tempat tinggal Administrateur.
Sisa pagar depan.
Sejatinya, persis di seberang rumah-rumah kuno tadi masih ada sebuah rumah kuno lain yang dulu lebih besar ukurannya. Letaknya berada di belakang sebuah minimarket modern sehingga dari jalan bangunan itu tak bakal terlihat. Sayangnya bangunan besar itu kini tinggal tersisa separo saja. Namun sisa bangunan itu sampai sekarang masih ditempati. Di dinding terasnya, terdapat sebuah lubang kecil memanjang yang dipakai sebagai tempat memasukan surat. Sementara itu di samping barat rumah ini, terdapat semacam bangunan yang saya asumsikan masih satu bagian dari rumah ini. Dari sisa pagar yang masih tersisa di tepi jalan, rumah ini jelas memiliki halaman yang luas. Lalu bagaimanakah ceritanya rumah ini tinggal separo saja ?

Bekas lubang surat.
Bangunan yang dahulu menyatu dengan bangunan tempat tinggal administrateur.
Bangunan tempat tinggal bergaya lama di sebelah timur Indomaret. Tidak diketahui apakah bangunan ini masih asli atau sudah mengalami penambahan.
Balai Desa Sumberagung. Berdiri di atas bekas rumah peninggalan Belanda yang hancur pada masa agresi militer.
Cerita tentang rumah-rumah yang ada di Gedongan ini, walau tak begitu lengkap, saya dapatkan dari sesepuh Gedongan, Bapak Suyudi namanya – yang beberapa saat lalu kembali ke pangkuan-Nya. Ia tinggal di tempat yang dulu pernah dipakai sebagai pembangkit listrik, persis bersebelahan dengan kediaman keluarga Mas Luthfi. Dengan daya ingat yang masih bagus, beliau membeberkan bahwa di masa clash atau Agresi Militer Belanda II, rumah-rumah ini dijadikan sebagai markas pejuang. Oleh Belanda tempat ini dihujani tembakan mortir. 

Pabrik Gula Rewulu (sumber : troppenmusuem.nl).
Pabrik Gula Demakijo (sumber : troppenmusuem.nl).
Walau menurut kesaksianya tak ada korban jiwa yang jatuh, namun bangunan-bangunan itu mengalami rusak parak parah. Bangunan yang rusak meliputi rumah yang tinggal separo di sebarang jalan tadi dan sebuah rumah yang kini di atasnya telah berdiri Balai Desa Sumberagung. “ Namun saya sendiri kurang tahu siapa yang membangun bangunan-bangunan itu karena sewaktu saya lahir, bangunan ini sudah tidak dihuni oleh orang Belanda lagi “, papar Bapak Suyudi yang juga seorang veteran. “ Namun dari cerita orang tua, rumah-rumah itu dulu ditempati oleh mandor perkebunan tebu untuk pabrik gula Demakijo, Rewulu, dan Sendangpitu “, paparnya. Tiga pabrik gula yang disebutkan beliau kini tinggal nama saja.

Sabtu, 12 Desember 2015

Prembun, Sepenggal Kolonial di Ujung Timur Kebumen

Terletak di ujung timur Kabupaten Kebumen, tak banyak yang tahu bahwa di pernah berdiri sebuah pabrik gula di Prembun. Pabriknya memang telah terkubur oleh sang kala, tapi jejak sejarahnya masih bisa ditemui. Inilah sebuah ikhtisar tentang sepenggal kolonial di ujung timur Kebumen.
Lokasi kecamatan Prembun dalam peta Kabupaten Kebumen (warna ungu).
“ Lain kali kalau mau foto-foto bilang ke sini dulu ya mas ! “, perintah bapak polisi itu. “ Siap pak !”, sahut saya. “ Kalau sudah izin kan nanti bisa lihat-lihat dalam “, sambungnya. Bermula dari kecerobohan saya yang lupa meminta izin pada penjaga, saya justru mendapat kesempatan emas untuk melihat lebih dekat bangunan tua yang kini menjadi kantor Polsek Prembun itu. “ Ini dulu bangunan dari zaman kolonial Belanda mas “, terang polisi lain. Balutan kolonial memang masih begitu kentara di kantor yang berada di pinggir jalan raya Kebumen-Purworejo. Lihatlah jendela krepyak yang masih utuh terpasang di tempatnya. Beranda depan yang tinggi ditopang oleh tiang-tiang dari kayu jati. Halaman depannya juga amat luas sehingga belasan mobil dapat terparkir di situ.

Bangunan bekas tempat tinggal rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor Polsek Prembun.
Lokasi rumah adminsitrateur pada foto lama.
Beranda depannya berhias dengan lantai tegel bercorak puspa, yang sekilas gayanya mengingatkan saya pada seni hias art nouveau yang pernah digandrungi orang pada akhir abad ke-10. Bangunan itu sepertinya tidak diperuntukan sebagai kantor polisi, melainkan untuk sebuah rumah tinggal. Dari ukuran dan luasnya halaman, jelas bukan sembarang orang yang dulu pernah menghuninya. “ Dahulu yang tinggal di sini itu katanya pegawai pabrik gula, tapi saya tidak tahu pabrik gula mana “, terang polisi tadi.
Bekas ruang kamar-kamar pembantu yang saat ini menjadi asrama polisi.
Lantai tegel bergaya art nouveau di bagian serambi depan polsek Prembun.
Lantai tegel bercorak geometris di bagian dalam Polsek Prembun.
Bangunan bekas paviliun di samping kanan bangunan utama Polsek Prembun.
Suikerfabriek Remboen atau PG Prembun adalah pabrik gula yang dimaksud bapak polisi tadi. Wajar jika bapak polisi tadi tidak mengetahuinya karena keberadaan pabrik itu tampaknya sudah lekang dari ingatan orang-orang sekitar. Catatan kawan saya dari Banjoemas Heritage, Milo Jatmiko, menyebutkan bahwa pabrik gula itu sudah ada sejak tahun 1889. Pabrik gula milik Belanda tertua di Karesidenan kedu itu dikuasai oleh sebuah perusahaan agrobisnis partikelir, Java-Suikercultuur Maatschappij dan kantor polisi yang sedang saya sambangi saat ini dahulunya adalah kediaman adminsitrateur atau kepala operasional PG Prembun. Tidaklah heran apabila bangunan itu tampak megah laksana istana mengingat administrateur adalah jabatan tertinggi di lingkungan pabrik. Salah satu administrateur yang pernah berdiam di situ ialah J.G. Tjassens Keizer.
Bangunan kolonial di dalam SMP N 1 Prembun dan lokasinya  pada foto lama.
Tersembunyi di balik gerbang SMP N 1 Prembun, saya menjumpai sebuah bangunan kolonial yang entah apa fungsinya. Apakah ia dulunya merupakan rumah wakil administrateur, kantor administrasi, atau societeit, tempat pegawai bersenang-senang ? Dari sana, saya kemudian melesat menyeberangi jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
Foto udara PG Prembundi ambil dari sebelah utara (sumber : troppenmuseum.nl).
Foto udara PG Prembun diambil dari sebelah tenggara. Tampak dengan jelas pemandangan kompleks pabrik dan perumahan pegawai (sumber : troppenmuseum.nl).
Sisa-sisa PG Prembun saat ini.
Tatkala saya sudah berada di seberang jalan, benak saya membayangkan sebuah pabrik gula besar yang di bagian mukanya terpampang angka tahun 1926, tahun dimana PG Prembun diperbesar. Sekitar tahun 1900an awal, pabrik gula itu diambilalih oleh salah satu dari " Big Six " perusahaan keuangan di Hindia Belanda, Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij, yang telah memiliki beberapa pabrik gula di tempat lain seperti Gudo, Balapulang, dan Pagongan. Disadur dari harian Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 24 Januari 1938, PG Prembun sempat ditutup tahun 1933. Tidak dijelaskan apa sebabnya tapi pada tahun itu, banyak pabrik gula di Jawa yang ditutup untuk memperbaiki harga gula yang sempat merosot di pasaran. Namun setelah direksi Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij bernegosiasi dengan pemerintah kolonial, PG Prembun dibuka kembali pada tahun berikutnya dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. 
Foto hitam putih bangunan PG Prembun atau S. F Remboen. Di dinding muka bagian atas, terdapat angka tahun 1926 yang menunjukan tahun bangunan itu berdiri. Bangunan ini dahulu berdiri persis di pinggir jalan raya yang Purworejo - Kebumen. Bangunan ini sekarang sudah hilang (sumber : troppenmuseum.nl).
Kompleks rumah pegawai PG Prembun. Gambar diambil dari dekat jalur kereta api. ( troppenmuseum.nl ).
Para pegawai administrasi yang sedang bekerja ( sumber ; troppenmuseum.nl ).
Mesin penggiling tebu PG Prembun ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Bangunan utama PG Prembun memang telah lama lenyap, tapi tak diketahui apa sebab ia akhirnya berhenti bergiling dan bangunan pabriknya hilang begitu saja. Tapi beruntung, pabrik gula itu masih meninggalkan rekam jejak berupa dokumentasi foto. Sekitar tahun 1920an, kompleks pabrik gula itu sempat direkam citra viusalnya dari udara. Foto itu setidaknya memberikan gambaran kepada kita yang hidup di zaman sekarang seperti apa rupa PG Prembun di masa ketika ia masih berjaya.


Bangunan bekas rumah dinas yang berada di pinggir jalan raya.


Tiga rumah identik di pinggir jalur rel Kutoarjo-Kebumen
Salah satu bekas rumah dinas pegawai PG Prembun yang masih lumayan terjaga.
Di sisi selatan jalan, saya banyak sekali menemukan rumah-rumah bergaya kolonial yang masih ada sangkut pautnya dengan PG Prembun. Untuk mengakomodir para pegawai pegawai menengah seperti zinder atau ahli tanaman tebu,chemicer atau ahli gula, hingga kepala masinis kereta lori pengangkut tebu, dibangunlah rumah-rumah berukuran sedang yang saling berdekatan, membentuk semacam industrial village. Karena lokasinya berada di pinggir jalan yang strategis, banyak yang akhirnya berubah wujud menjadi toko-toko.
Bangunan kamar bola yang hanya menyisakan struktur dinding saja.
Sebuah bangunan kolonial yang saat ini digunakan sebagai sarang walet.
Di sebelah bangunan tadi, terdapat bangunan dengan bentuk serupa yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.
Sebuah rumah tua yang berada di dekat terminal Prembun. Kondisi rumah sebenarnya masih baik, namun karena sudah lama ditinggalkan, rumah ini sekarang dipenuhi dengan kelelawar.
Memasuki gang perkampungan, saya mendapati beberapa rumah kuno yang masih utuh dan lumayan terawat. Namun ada pula yang malang nasibnya. Contohnya adalah sebuah rumah kopel yang tak jauh dari rel yang kini hanya menyisakan puing-puing tembok saja. Ada juga yang saking lamanya tidak ditempati akhirnya menjadi sarang kelelawar.
Bangunan stasiun Prembun.
Bangunan rumah dinas pegawai stasiun Prembun.
Perjalanan saya di Prembun saya akhiri di Stasiun Prembun, sebuah stasiun kecil yang masih beroperasi, dimana di sana dulu karung-karung gula PG Prembun diangkut. Tak jauh darinya, masih berdiri kokoh sebuah rumah kuno yang dahulu ditempati oleh kepala Stasiun Prembun. Saya cukup terkesan dengan perjalanan kali ini karena akhirnya saya sadar bahwa tinggalan kolonial di Kabupaten Kebumen tak hanya terbatas pada Benteng Van der Wijk Gombong saja dan bangunan-bangunan kuno di Prembun itu seakan menjadi monumen dari PG Prembun yang jejak fisiknya kini lenyap dan mungkin sudah lekang dari ingatan banyak orang…