Sabtu, 12 Desember 2015

Prembun, Sepenggal Kolonial di Ujung Timur Kebumen


Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan mengajak anda untuk melihat hasil penelusuran saya pada berbagai tinggalan kolonial yang ada di Prembun, Kebumen. Kira-kira seperti apa sejarah dan wujud tinggalan kolonial yang ada di ujung timur Kebumen ini ? 

Lokasi kecamatan Prembun (warna ungu).

Sekilas sejarah Prembun


Data sejarah tertulis Prembun masih belum banyak yang bisa saya temukan sehingga cukup susah bagi saya untuk menuliskan sejarah Prembun secara mendalam. Tapi setidaknya, saya berhasil menemukan beberapa data foto lama dari internet yang menggambarkan Prembun pada masa kolonial, Menariknya, foto-foto tadi diambil dari udara. Saya jadi penasaran dari manakah pesawat yang mengambil gambar ini dahulu lepas landas ?
Foto hitam putih bangunan PG Prembun atau S. F Remboen. Di dinding muka bagian atas, terdapat angka tahun 1926 yang menunjukan tahun bangunan itu berdiri. Bangunan ini dahulu berdiri persis di pinggir jalan raya yang Purworejo - Kebumen. Bangunan ini sekarang sudah hilang (sumber : troppenmuseum.nl).
Foto udara PG Prembun.Gambar di ambil dari arah utara (sumber : troppenmuseum.nl).
Foto udara PG Prembun.Gambar di ambil dari arah selatan.Dari sini pemandangan kompleks pabrik dan perumahan karyawan terlihat dengan jelas (sumber : troppenmuseum.nl).
Dari foto-foto tadi, rupanya saya baru tahu bahwa di Prembun ternyata pernah berdiri sebuah pabrik gula yang berukuran cukup besar. Dalam catatan Belanda, pabrik gula ini bernama Suiker Fabriek Remboen. Pabrik Gula ini rupanya merupakan satu-satunya pabrik gula milik Belanda yang pernah berdiri di Kebumen. Bagi saya cukup wajar saja jika dahulu di Prembun pernah berdiri pabrik gula karena lokasinya yang mudah diakses dan sudah terkoneksi dengan jalur kereta api sehingga memudahkan dalam distribusi hasil produksi gula. Dari arsip pemerintah kolonial yang saya dapatkan dari teman saya mas Milo Jatmiko, pabrik gula ini sudah ada sejak tahun 1889, sehingga PG Prembun dapat dikatakan sebagai PG pertama yang berdiri di Karesidenan Kedu. Kepemilikan PG ini berada di bawah perusahaan Java-Suikercultuur Maatschappij. Salah satu meneer yang pernah menjadi administrateur atau kepala PG adalah P. Weijer yang memimpin PG Prembun pada tahun 1892 (Anonim, 1893; 8). 
Berita dari koran Algemeen Handelsblad tangga 25 Januari 1938 yang berisi bahwa PG Prembun akan dibuka kembali setelah berhenti beroperasi  selama 9 tahun.
Salah satu mesin operasional PG Prembun (sumber : tropenmuseum.nl).
Kegiatan administrasi PG Prembun. Perhatikan bahwa hampir seluruh pegawainya merupakan orang pribumi (sumber : troppenmuseum.nl).
Pemandangan kompleks perumahan karyawan PG Prembun yang tertata rapi. Gambar ini sepertinya diambil di dekat perlintasan kereta api (sumber : troppenmuseum.nl).
Lokasi S.F Remboen pada peta tahun 1926 (sumber :maps.library.leiden.edu).
Peninggalan Kolonial yang masih tersisa
Sisa-sisa bangunan kolonial di Prembun.
Nah, setelah mengetahui sekilas mengenai sejarah Prembun. Mari kita telusuri apa saja bangunan kolonial yang masih tersisa di Prembun. Mungkin nanti kita agak sedikit kecewa karena bangunan pabrik nya sudah tidak berbekas lagi. Lokasi bangunan pabrik sendiri sekarang berada di belakang deretan ruko di utara jalan. Kira-kira jaraknya sekitar lima puluh meter dari Pasar Prembun. Meskipun demikian, kekecewaan anda akan sedikit terobati jika anda sudah menemukan rumah-rumah tua yang dahulunya digunakan sebagai rumah dinas pegawai PG Prembun. Kondisi rumah-rumah ini bervariasi, ada yang masih menjadi tempat tinggal, ada yang berubah fungsi menjadi kantor, ada yang kosong, ada yang bagian depannya nyaris tidak bisa dikenali lagi dan malah ada yang tinggal puing-puingnya saja.
Bangunan bekas tempat tinggal rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor Polsek Prembun.
Bangunan kolonial pertama yang bisa anda amati yakni bangunan yang saat ini menjadi Kantor Polsek Prembun. Bangunan ini merupakan bangunan kolonial paling megah yang ada di Prembun. Halaman depannya pun juga sangat luas sehingga bisa digunakan untuk parkir lusinan mobil.  Melihat ukurannya, saya sendiri berasumsi kalau bangunan ini dahulunya ditempati oleh administrateur atau kepala pabrik gula Prembun.
Lokasi Polsek Prembun pada foto lama.
Lokasi bangunan ini berada di sebelah utara jalan dan menghadap ke selatan. Atap bangunan ini berbentuk pelana yang disusun paralel menyamping. Sayangnya, atap bangunan yang aslinya dari genteng kini sudah diganti dengan seng murahan. Balutan nuansa kolonial bisa anda lihat dengan jelas pada bangunan ini. Serambi depan yang luas, dinding yang tinggi lagi tebal, tidak ketinggalan pula jendela krepyak yang tinggi.

Bekas ruang kamar-kamar pembantu yang saat ini menjadi asrama polisi.
Oh ya, saya punya pengalaman tersendiri ketika pertama kali berkunjung ke sini. Waktu itu saya sedang asyik-asyiknya mengambil foto bangunan ini, tiba-tiba saya dipanggil oleh petugas jaga lewat tepukan tangan. Saya agak sedikit khawatir akan diapakan saya nanti oleh petugas yang mengundang saya tadi. Setelah saya mendekat, saya ditanya asal saya oleh petugas tadi, KTP saya diminta untuk difoto, lalu diberi nasihat supaya melapor terlebih dahulu ke petugas piket dan selanjutnya saya dipersilahkan untuk mendokumentasikan bangunan ini. Fyuuh. Syukur bagi saya. Ya, setidaknya ini menjadi pengalaman berharga bagi kita semua bahwa alangkah baiknya lapor ke penjaga terlebih dahulu sebelum mendokumentasikan bangunan seperti kantor polisi ini. Situasi kantor polisi ini sendiri terlihat sepi, hanya terlihat beberapa polisi yang bertugas. Menurut info yang saya dapatkan, kantor Polsek Prembun akan dipindah ke kantor baru yang lebih representatif. Saya agak khawatir nasib bangunan ini setelah ditinggalkan. Persis di sampingnya, sudah berdiri bangunan baru yang sangat besar yang kelak akan diresmikan sebagai RS Prembun. Apakah bangunan tua nan bersejarah ini akan berubah menjadi bangunan baru seperti di sebelahnya ? Semoga saja tidak.
Lantai tegel bergaya art nouveau di bagian serambi depan polsek Prembun.
Lantai tegel bermotif geometris di bagian dalam Polsek Prembun.
Bangunan bekas paviliun di samping kanan bangunan utama Polsek Prembun.
Bagian pintu depan. Perhatikan di atas pintu terdapat dekorasi yang disebut alis pintu. Jika diamati secara seksama, bentuk nya jadi seperti wajah manusia.
Salah satu hal menarik dari bangunan ini adalah lantai bangunan yang dilapisi dengan ubin tegel yang ditata secara cermat. Tegel-tegel ini memiliki motif hiasan sesuluran yang merupakan ciri khas dari gaya art-nouevau, sebuah gaya seni yang pernah berkembang di Eropa dari akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Keberadaan tegel ini menambah kesan mewah pada bekas tempat tinggal sang tuan administrator PG Prembun. Seperti kebanyakan rumah-rumah tua di masa kolonial, di samping bangunan utama, terdapat sebuah bangunan tambahan yang dahulu digunakan sebagai paviliun tamu. Di belakangnya, terdapat deretan ruangan yang dahulu menjadi ruangan servis seperti kamar pembantu, dapur, gudang, kamar mandi, dan kandang kuda. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai asrama polisi.
Bangunan kolonial di dalam kompleks SMP N 1 Prembun.
Lokasi SMP N 1 Prembun  pada foto lama.
Berpindah dari Kantor Polsek Prembun, di dalam kompleks SMP N 1 Prembun, kita bisa melihat sebuah bangunan yang berbeda sendiri dengan bangunan sekolah di sekitarnya. Tidak salah lagi, bangunan ini merupakan sebuah bangunan kolonial. Sayangnya, saya sendiri belum tahu pasti apa fungsi bangunan ini di masa lalu. Oleh karena itu, mari kita lewati saja dulu bangunan ini….. 
Bangunan bekas rumah dinas yang berada di pinggir jalan raya.
Nah, selanjutnya kita akan menyeberangi jalan raya Purworejo-Kebumen yang ramai dengan lalu-lalang kendaran. Di sini, kita dapat menjumpai banyak rumah bergaya kolonial meski lebih sederhana dan lebih kecil daripada bangunan Kantor Polsek Prembun tadi. Bangunan-bangunan ini kemungkinan merupakan rumah dinas untuk para pegawai menengah seperti zinder atau ahli tanaman tebu,chemicer atau ahli gula, hingga kepala masinis kereta lori pengangkut tebu.
Sebuah bangunan kolnial yang kini tertutup pagar tinggi.
Di sepanjang jalan, anda masih bisa menemukan bekas-bekas rumah dinas yang sampai sekarang masih ditempati oleh pemiliknya. Karena lokasinya berada di jalan yang ramai, maka beberapa rumah ada yang sudah tertutup oleh bangunan kios. Masih di pinggir jalan, anda juga dapat menemukan sebuah rumah tua yang bentuk aslinya benar-benar sudah sulit dikenali lagi karena fasadnya sudah dirombak habis-habisan. 
Tiga rumah identik di pinggir jalur rel Kutoarjo-Kebumen.
Nah, selain di pinggir jalan tadi, kita juga dapat melihat beberapa bangunan kolonial lain yang terdapat di pinggir jalur rel Kutoarjo-Kebumen. Bentuk bangunan yang saya temukan ini cenderung identik dan semuanya berdiri sejajar menghadap ke arah jalur kereta Kutoarjo-Kebumen. Di depan rumah, terdapat sebuah papan aset milik PT. Kereta Api. Sepertinya bangunan ini ada kaitannya dengan Stasiun Prembun yang tidak jauh dari sini. Dari tiga rumah ini, tinggal dua saja yang masih ditempati.
Bangunan kmar bola yang hanya menyisakan struktur dinding saja.
Di sebelah barat rumah-rumah tadi, kita bisa menjumpai sebuah puing-puing bangunan yang sangat besar. Oleh warga sekitar, puing bangunan ini disebut kamar bola. Apakah bangunan ini dahulu merupakan kamar bola atau sosieteit, saya sendiri belum bisa menjawabnya. Meski tinggal puing saja, aura kemegahan bangunan ini di masa lalu masih bisa saya rasakan lewat dinding batanya yang tebal dan tinggi.
Sebuah bangunan kolonial yang saat ini digunakan sebagai sarang walet.
Di sebelah banguan tadi, terdapat bangunan dengan bentuk serupa yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.
Tidak jauh dari puing bangunan tadi, kita masih bisa menjumpai dua bangunan kolonial lain yang kini berdiri persis di tengah pemukiman warga. Salah satu bangunan sudah menjadi sarang walet dan burung sriti. Hal ini terlihat dari bangunan yang tertutup total dan hanya menyisakan lubang-lubang kecil tempat keluar masuk burung walet. Di sampingnya, terdapat sebuah bangunan serupa yang nasibnya agak mendingan meski bangunan itu sendiri terlihat kotor karena sudah lama tidak ditempati.

Salah satu bangunan kolonial yang masih lumayan terjaga.
Sebuah rumah tua yang berada di dekat terminal Prembun. Kondisi rumah sebenarnya masih baik, namun karena sudah lama ditinggalkan, rumah ini sekarang dipenuhi dengan kelelawar.
Bangunan stasiun Prembun.
Bangunan rumah dinas pegawai stasiun Prembun.
Gudang stasiun Prembun.
Keberadaan sebuah pabrik gula tentu tidak bisa dilepaskan dari transportasi kereta api. Dengan transportasi kereta api, maka proses distribusi gula menjadi lancar. Di Prembun terdapat sebuah stasiun kecil yang hingga sekarang masih aktif beroperasi. Bangunan Stasiun Prembun sendiri saya lihat sudah mengalami beberapa perombakan. Tidak jauh dari Stasiun Prembun, terdapat sebuah bangunan tua bekas rumah dinas kepala stasiun. Rumah ini dibangun menghadap ke timur, berhadapan langsung dengan arah datangnya sinar matahari sehingga di bagian depan terlihat tidak ada jendela. Masih di sekitar Stasiun Prembun, kita bisa menjumpai sebuah bangunan tua bekas gudang stasiun dengan pintu gesernya yang besar. Tidak jauh dari sini, lagi-lagi kita menemukan sebuah rumah tua yang teronggok di dekat perlintasan kereta api dengan kondisi cukup menyedihkan seolah sedang menunggu untuk dirobohkan begitu saja.
Sebuah rumah tua di dekat perlintasan kereta api.
Begitulah hasil penelusuran saya pada berbagai tinggalan kolonial di Prembun. Meskipun Prembun hanyalah sebuah kota kecil di jalur selatan, namun ternyata Prembun menyimpan tinggalan sejarah yang cukup menarik untuk ditelusuri. Setidaknya lewat tinggalan sejarah ini, generasi yang akan datang dapat mengetahui sebuah fakta, bahwa di Prembun pernah berdiri satu-satunya pabrik gula yang ada di Kebumen....

Referensi

Anonim. 1893. Kolonial Verslag van 1893

18 komentar:

  1. Awesome... sangat menarik tulisannya...

    BalasHapus
  2. dadi ngerti sejarah prembun...terimakasih.

    BalasHapus
  3. Bangga menjadi orang orang Prembun

    BalasHapus
  4. Bangga menjadi orang orang Prembun

    BalasHapus
  5. Komplek RW 1 Prembun, that is my home 🙌

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Terima kasih sudah posting prembun jaman kolonial

    BalasHapus
  8. enyong yo wong prembun kidul sawah

    BalasHapus
  9. Salah satu rumah kolonial yang terjaga adalah rumah Bu Hadi.

    BalasHapus
  10. Aku wong prembun, sidogede

    BalasHapus
  11. Nambah indormasi....by tersobo prembun

    BalasHapus
  12. sekedar tambahan informasi, di SMP N 1 Prembun itulah lokasi pabriknya, Ruang Guru adalah Ruangan bekas Office Pabrik, dan dibagian belakang persis dedepan area Laboratorium ada Struktur Beton kotak padat, bekas pondasi mesin giling tebunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas tambahan infonya

      Hapus
  13. Remboen/prembun mantap.....

    BalasHapus