Sabtu, 20 Februari 2016

Telusur Sisa Pabrik Gula Sewugalur

Desa Karangsewu, Kecamatan Galur merupakan sebuah desa di belahan selatan Kabupaten Kulonprogo. Tak banyak orang yang mengira bahwa di desa itu pernah berdiri sebuah pabrik gula besar, PG Sewugalur namanya. Jejak Kolonial kali ini merupakan hasil penelusuran pada satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulonprogo itu.
Rumah Ibu Jamal.
Sekalipun terletak di tengah pedesaan, rumah itu tidak terlihat seperti rumah orang desa pada umumnya. Rumah itu malahan terlihat seperti bekas rumah seorang pembesar Belanda. Jendela krepyak yang tinggi meneguhkan tuanya usia bangunan tersebut. Saya mengetuk pintu depan rumah yang masih terlihat asli. Ketukan saya segera terjawab. Dari dalam, muncul sesosok perempuan tua yang tak lain ialah Ibu Jamal, tuan rumah ini. Sesudah membukakan pintu, Ibu Jamal mempersilahkan saya masuk ke ruang tamunya dengan dindingnya yang amat tinggi itu. 

Bagian ruang tamu.
Sayapun segera berbincang ria dengan Ibu Jamal sembari menikmati suasana ruang tamu yang sejuk. Kesejukan itu berkat adanya jendela besar di samping ruang tamu dan ditambah pua dengan tembok rumah yang tinggi, membuat hawa di dalam ruangan itu terasa sejuk meski tanpa AC, dimana kesejukan seperti ini jauh lebih baik karena sifatnya alami. Di bagian atas, saya meihat jalinan anyaman bambu yang masih menjadi plafon rumah tua ini. Anyaman bambu memang jamak dipakai untuk rumah-rumah kolonial di wilayah pinggiran. “Pada masa penjajahan Jepang, rumah ini terhindar dari penghancuran oleh Jepang “, tutur Ibu Jamal membuka cerita. Dari cerita Ibu Jamal, diketahui bahwa setelah Jepang menduduki PG Sewugalur, pabrik ini disita dan diratakan dengan tanah. Rumah-rumah pegawainya satu persatu dijual kepada orang Tionghoa atau orang pribumi. “ Dari orang Tionghoa, rumah ini dibeli oleh Pak Tjokrodirdjo, mertua saya “, tuturnya.

Ruang kamar depan yang tak dipakai lagi.
Palfon yang masih terbuat dari anyaman bambu.
Setelah berbincang-bincang, Ibu Jamal selanjutnya mengajak saya ke sebuah ruangan di sebelah ruang tamu. Pintu besar yang semula tertutup kemudian ia buka. Di balik pintu itu, saya hanya melihat sebuah ruangan gelap yang nyaris kosong. Di ruang itu hanya ada dua buah almari, sebuah ranjang besi tua, dan sebuah cermin besar yang tergantung miring di dinding. Walaupun kesannya sedikit lebih gelap, namun udara di dalam ruang itu masih sama sejuknya dengan ruang tamu tadi berkat kisi-kisi yang terdapat pada jendela krepyak. Kisi-kisi ini memungkinkan udara tetap masuk ke dalam ruangan meski jendela sudah ditutup. Suasana di dalam ruangan akhirnya menjadi terang benderang begitu Ibu Jamal membukakan jendela. Sinar matahari langsung menyeruak ke bagian dalam ruangan. Jendela yang tinggi selain untuk memaksimalkan udara yang masuk juga berguna untuk memaksikmalkan sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan sehingga ruangan mendapat pencahaayaan alami dan mengurangi penggunaan lampu. Ruangan ini barangkali dulunya menjadi ruang tidur anak si pegawai pabrik yang tinggal di rumah ini. Dari jendela ruangan itu, pandangan saya lempar ke arah keluar. Dulu bangunan utama pabrik dapat dilihat dari sini. Benak sayapun kemudian melayang ke masa lampau, masa ketika rumah itu masih bersua dengan bangunan pabrik…
Foto pabrik gula sewugalur pada tahun 1917 (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Foto udara area PG Sewugalur. Foto ini menghadap ke arah timur.
Tahun 1889 merupakan tahun dimana Pabrik Gula Sewugalur didirikan, bersamaan dengan pembangunan jembatan Srandakan melintasi Sungai Progo. Pabrik ini didirikan di atas lahan milik Kadipaten Pakualaman yang pada masa itu membawahi seluruh wilayah Kulonprogo. Dengan demikian, Pabrik Gula Sewugalur merupakan satu-satunya pabrik gula yang berdiri di wilayah Pakualaman (Rizal Dhani, 3 ; 2010). Kepemilikan saham pabrik ini dipegang oleh perusahaan N.V Cultuur Matschapij der Vorstenlanden yang berpusat di Semarang. Selain di Sewugalur, perusahaan ini juga memiliki beberapa pabrik gula yang tersebar di seantero Yogyakarta seperi Padokan, Demakijo, Wonocatur, Beran, Kedaton Plered, Sedayu, Barongan dan Rewulu (Dingemas.L.F, 122 ; 1920).
Lokasi pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1921. Hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari pesisir selatan menjadikannya sebagai PG paling selatan di Jawa.
Ketersediaan lahan dan kondisi geografis di sekitar pabrik sangat memungkinkan untuk dibuka sebuah perkebunan tebu beserta pabrik pembuat gula. Hal ini juga didukung dengan tersedianya tenaga kuli yang diambil dari lingkungan sekitar pabrik dan mayoritas bekerja di sektor agraris. Untuk mendukung distribusi gula PG Sewugalur dan PG-PG lain di wilayah selatan Yogyakarta, maka tahun 1914, dibukalah jalur kereta oleh NIS dari Stasiun Tugu hingga Halte Sewugalur. Pembangunan jalur ini selain bertujuan untuk memperlancar arus distribusi gula PG Sewugalur, juga bertujuan untuk mendukung perekonomian di Sewugalur yang pada waktu itu lumayan jauh dari pusat kota. Inilah mengapa lokasi halte Sewugalur dibangun di dekat pasar Sewugalur (Rizal Dhani, 2010; 73-79).
Foto jajaran pegawai pabrik gula Sewugalur pada tahun 1912. Nampak administratur pabrik gula Sewugalur pada waktu itu,Cosmus van Bornemann yang kemudian dipindah ke pabrik gula Gelaren pada tahun 1930an. Pengganti Cosmus van Bornemann ialah Albert Kuipers (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Dilansir dari  Het Nieuws van den Dag Nederlandsch Indie, 16 Mei 1922, sehari sebelum berita itu turun, telah terjadi perkelahian antar sesama kuli PG Sewugalur. Seorang mandor sudah melepaskan tembakan peringatan ke udara. Alih-alih mereda, perkelahian kian parah karena diduga ada provokator di dalamnya. Para kuli saling memukul dengan cangkul. Akibatnya banyak kuli yang terluka.
Rumah dinas pegawai  pabrik gula Sewugalur (sumber : geheugenvannederland.nl).
Suasana jalan di kompleks perumahan pegawai (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Karung-karung gula yang siap dijual ke pasaran. (sumber ; geheugenvannederland.nl)
Cerobong pabrik yang sedang diperbaiki. (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Takdir pabrik gula ini mencapai titik nadirnya tatkala badai krisis ekonomi atau malaise  memporak-porandakan perekonomian dunia  pada tahun 1930an. Krisis ini mengakibatkan kandasnya harga gula di pasaran dan akibatnya banyak pabrik gula yang ditutup untuk menekan kerugian. Salah satu parbik gula yang terdampak penutupan itu ialah PG Sewugalur (Rizal Dhani. 2010; 3-4). Setelah ditutup, mesin-mesin operasional pabrik gula yang malang itu dipindah ke PG Sragi di Jawa Timur yang hingga sekarang masih beroperasi. Pada tahun 1942, setelah Jepang masuk ke Hindia-Belanda, bangunan pabrik gula Sewugalur diratakan oleh Jepang. Jalur-jalur kereta api dari Sewugalur ke Palbapang dicopot oleh Jepang dan diangkut ke Burma (Myanmar) dan Sumatera untuk material jalur yang sedang dibangun Jepang di sana. Dilansir dari laman www.indischekamparchieven.nl, bekas kompleks rumah dinas pegawai Sewugalur pada tahun 1946 dimanfaatkan oleh para tentara Republik Indonesia untuk menginternir sebagian ibu-ibu dan anak-anak Eropa dari Yogyakarta. Tiap harinya, mereka dijatah beras 200 gram perorangnya dan mereka diijinkan belanja di pasar untuk mencari bahan pangan lainnya. Walaupun kamp internir yang dipimpin oleh Nyonya Ch. E. Bos itu memiliki dapur umum, sebagian besar keluarga memilih memasak sendiri. Tikar digelar di lantai sebagai tempat tidur mereka. Kendati demikian, perlakukan yang mereka terima lebih manusiawi dibandingkan ketika mereka diinternir oleh Jepang.
Bagian ruang belakang rumah ibu Jamal.
Saya segera tersadar dari lamunan saya begitu Ibu Jamal mengajak saya melihat bagian belakang rumahnya. Di belakang ruang tamu, terdapat sebuah ruang keluarga, dimana saya masih bisa melihat sebuah lemari buffet tua dan sebuah cermin besar yang tergantung miring. Hiasan kaca patri berwarna hijau dan merah semakin menambah kesan antik ruangan itu. Saya membayangkan di ruang inilah dahulu keluarga pegawai pabrik yang tinggal di sini mengadakan makan malam bersama setelah seharian beraktivitas di pabrik. Sambil menyantap hidangan yang disiapkan oleh pembantu yang tinggal di kamar belakang, mereka membicarakan mengenai hal apa saja yang sudah dilakukan seharian. Di masa ketika hiburan masih jarang, kegiatan makan malam seperti ini benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi setiap anggota keluarga. Dari sinilah interaksi antar anggota keluarga terbangun.
Bagian belakang rumah.
Paviliun tamu.
Di belakang rumah, dapat dijumpai bangunan tambahan yang berisikan kamar pembantu, dapur, gudang, dan kamar mandi. Di situ juag terdapat sumur dan sebuah wastafel tempat cuci piring yang sudah ada semenjak rumah itu dibangun. Bagian-bagian ini dibuat mengelilingi sebuah halaman terbuka di bagian tengah rumah. Beberapa bagian ini sekarang menjadi ruang tinggal keluarga Ibu Jamal. Di samping rumah Ibu Jamal, terdapat sebuah bangunan kecil yang dahulu menjadi paviliun tamu yang juga dapat digunakan sebagai tempat tidur tamu jika tamu hendak bermalam.
Bekas rumah dinas pegawai pabrik gula Sewugalur yang saat ini ditempati oleh Bapak Karwono. Terlihat fasad depan yang berbentuk seperti gunungan. Karena masih terawat dengan baik, bangunan ini diganjar piagam pelestarian dari BPCB Yogyakarta.
Bangunan ujung utara.
Bangunan bekas rumah dinas yang ada di selatan rumah Ibu Jamal.
Bangunan rumah dinas yang saat ini dalam kondisi rusak karena gempa yang mengguncang tahun 2006 silam.
Bangunan rumah dinas yang cukup terawat.
Bangunan bekas kamar bola atau sosieteitDi sebelah utara rumah Bapak Karwono tadi, masih terdapat sebuah bangunan lama yang menurut warga sekitar dahulunya merupakan kamar bola atau sosieteit. Di wilayah Sewugalur yang lumayan jauh dari pusat kota, keberadaan sosieteit menjadi oase tersendiri bagi para pegawai pabrik gula yang mayoritas adalah orang Belanda. Mereka tentu menganut kebiasaan barat yang berbeda dengan kebiasaan orang pribumi. Di sini, setelah seharian bekerja di pabrik, mereka bisa bersenang-senang dengan melakukan aktivitas seperti bermain bilyard, minum-minuman alkohol, atau berdansa. Dengan adanya sosieteit ini, mereka tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk menyalurkan kebiasaan mereka. Di depan sosieteit ini dahulu terdapat sebuah lapangan tenis. Tenis merupakan salah satu olah raga yang digemari oleh orang Barat. Kegiatan ini biasanya dilakukan di pagi atau sore hari. Sempat dipakai sebagai kantor bank BRI cabang Galur sebelum menjadi rumah tinggal.
Dari rumah Ibu Jamal, saya mencoba menelusuri berbagai jejak PG Sewugalur lain yang masih tertinggal. Kondisinya bermacam-macam. Ada yang masih utuh seperti rumah Ibu Jamal tadi dan rumah Bapak Karwono yang ada di sebelah utara rumah Ibu Jamal. Ada yang fasad depannya sudah dirombak. Ada pula yang tinggal reruntuh dindingnya saja. Banyak tinggalan rumah-rumah pegawai PG Sewugalur yang rusak setelah terjadi gempa yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006 silam. Beberapa ada yang diperbaiki seperti rumah Ibu Jamal, namun lebih banyak yang kemudian ditinggalkan dan dibiarkan runtuh sendiri.
Gambaran kompleks pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1934 (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Apabila melihat peta topografi lama, maka terlihat bangunan rumah tinggal para pegawai pabrik disusun mengelilingi pabrik. Konsep susunan tersebut dikenal sebagai konsep panopticon sebagai strategi pengawasan terhadap aktivitas pabrik gula. Dengan adanya konsep ini,buruh-buruh pribumi yang ada di pabrik akan selalu merasa diawasi tanpa kehadiran para staff pabrik yang mayoritas adalah orang Belanda (Hari Libra Inagurasi, 123;2010). Langgam arsitektur rumah ini dibangun dengan gaya arsitektur Indis sebagai penegasan bahwa kedudukan mereka sebagai pegawai pabrik berbeda dengan kedudukan buruh-buruh pribumi yang secara strata sosial pada waktu itu berada di kelas yang lebih rendah dari bangsa Eropa (Djoko Soekiman, 1997; 5).
Sisa cerobong PG Sewugalur.
Lapangan ini dulu merupakan emplasemen lori PG Sewugalur.
Bekas bangunan kantor PG Sewugalur.
Lalu bagaimana dengan nasib bangunan pabrik gula Sewugalur itu sendiri ? Satu-satunya yang tersisa dari bangunan PG Sewugalur hanyalah sebuah struktur pondasi bekas cerobong asap yang terletak di belakang salah satu rumah warga. Kondisi sekitar bekas cerobong yang terbuat dari beton itu cukup kotor, di sekelilingnya terlihat banyak tumpukan sampah seolah-olah cerobong ini bukanlah sebuah peninggalan sejarah yang berharga. Saya sendiri tidak berlama-lama untuk melihat cerobong. Selain tidak kuat dengan bau tumpukan sampah, juga karena tidak tega melihat kondisi cerobong yang dulu menjadi saksi dari kejayaan Pabrik Gula Sewugalur. Selain struktur cerobong, masih bisa ditemukan pula sisa saluran pembuangan limbah yang mengalirkan limbah pabrik ke Kali Progo. Selain struktur cerobong dan saluran pembuangan limbah,  seluruh bangunan pabrik benar-benar lenyap dan kini sudah menjadi pemukiman warga..
Kerkhof Sewugalur.
Makam Maria Arabella Junman.
Tak jauh dari lokasi PG Sewugalur, saya menjumpai bekas area kerkhof atau pemakaman Belanda, tempat dimana raga keluarga pegawai pabrik yang telah tiada dimakamkan. Kerkhof ini dulunya dikelilingi oleh tembok pembatas yang kini tinggal sebagian saja yang masih berdiri. Di makam itu, hanya tinggal satu makam saja yang prasastinya masih tersisa, itupun sudah hilang separo sehingga isinya tidak dapat dibaca secara utuh. Dari tulisan yang masih bisa terbaca, diketahu bahwa makam itu merupakan makam dari Maria Arabella Junman. Sepertinya beliau adalah anak perempuan atau mungkin istri dari pegawai pabrik gula Sewugalur. Mengapa di dekat kompleks PG Sewugalur terdapat kompleks kerkhof ? Jawabannya mudah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lokasi PG Sewugalur berada lumayan jauh dari perkotaan, sehingga ketika ada orang meninggal, tentu akan menghabiskan perjalanan cukup lama untuk membawa jenazah kerkhof di kota Yogyakarta. Sehingga untuk menghemat waktu perjalanan maka dibukalah area kerkhof di dekat lokasi pabrik. Selain itu, terkadang ada keluarga pegawai pabrik gula yang memiliki permintaan untuk dimakamkan di dekat pabrik. Hal ini menunjukan adanya ikatan emosional antara si keluarga pegawai pabrik gula dengan tempat mereka bekerja.
Bekas halte Sewugalur.
Halte Sewugalur yang kini lokasinya berada di depan SMP N 1 Galur dulunya merupakan tempat dimana kereta menurunkan dan menaikan penumpang di Sewugalur. Namun bukan penumpang yang menjadi muatan utama kereta itu, melainkan karung-karung gula dari PG Sewugalur . Mata saya kemudian menangkap sebuah gundukan tanah memanjang yang ada tengah-tengah sawah. Setelah dicocokan dengan data peta lama dan citra satelit sekarang, tidak salah lagi kalau gundukan tanah itu merupakan bekas railbed atau gundukan jalur kereta Sewugalur-Yogyakarta.
Kondisi pabrik gula Sewugalur saat ini.Keterangan. Kotak kuning : bekas lokasi pabrik. Titik kuning : Lokasi struktur pondasi cerobong. Kotak merah : lokasi rumah dinas. Garis putus-putus : jalur kereta NIS. 1 : Rumah ibu Jamal. 2 : Rumah bapak Karwono. 3 : Kantor.
Dengan berbagai fasilitas seperti perumahan orang Eropa, pasar, halte, sosieteit dan lahan pemakaman Eropa, lama kelamaan kompleks Pabrik Gula Sewugalur berkembang hampir menyerupai sebuah kota koloni kecil di daerah pedalaman. Bahkan pada waktu itu berkembang wacana pembangunan pelabuhan di pantai selatan untuk mempersingkat jarak distribusi gula di wilayah Yogyakarta yang masih bergantung dengan pelabuhan di Semarang.


Begitulah hasil penelusuran saya pada sisa-sisa PG Sewugalur. Kednati PG Sewugalur kini tinggal nama saja, namun ia masih menyisakan sebagian kecil tinggalan bangunan rumah dinas yang terawat dengan baik hingga kerkhof dengan kondisinya menyedihkan. Semua peninggalan itu merupakan saksi bisu dari kejayaan PG Sewugalur, sebuah satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulonprogo yang hilang tergilas oleh zaman…

Referensi
Dhani, Rizal. 2010. " Situs Pabrik Gula Sewugalur (1889-1930) (Tinjauan terhadap Latar Belakang Pemilihan Lokasi dan Pengaruh Keberadaanya terhadap Pemukiman Kolonial di Sekitarnya) ". Skripsi. Depok : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Dingemans, L.F. 1920. Gegevens Over Djokjakarta. 

Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Soekiman, Djoko. 1997. " Seni Bangun Gaya Indis, Penelitian, Pelestarian, dan Pemanfaatanya " dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi VIII, Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis. Yogyakarta 9 Agustus 1997.

van Bruggen, M. P dan Wassing, R.P . 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam : Asia Maior.

Senin, 15 Februari 2016

Pasar Kenteng, Jejak Perekonomian Pedesaan dari Masa Kolonial

Di antara kita, siapa yang tidak mengenal pasar ? Yap, setiap orang tentu tahu apa itu pasar. Pasar merupakan tempat orang-orang menjual dan membeli barang dan oleh karena itulah pasar merupakan sentra ekonomi paling utama di suatu wilayah. Pasar-pasar ini,terutama pasar tradisional, sudah ada sejak masa kolonial bahkan jauh sebelumnya. Di kota besar, banyak pasar yang direnovasi oleh pemerintah kolonial. Sebut saja pasar Beringharjo di Yogyakarta, Pasar Gede di Solo, atau Pasar Johar di Semarang yang hingga sekarang masih eksis. Selain di kota besar, ternyata pemerintah kolonial juga merenovasi pasar di daerah pedesaan. Di manakah itu dan seperti apa bentuknya akan Jejak Kolonial bahas pada tulisan kali ini.

Lokasi Pasar
Lokasi pasar pada peta lama dari tahun 1935 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Nah, pasar yang akan kita kunjungi kali ini berada di Kenteng, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo. Letaknya kira-kira berada 17 kilometer ke barat dari kota Yogyakarta. Lokasi geografis Kenteng sendiri berada di antara sungai Progo di timur dan Perbukitan Menoreh di barat. Posisi pasar ini berada di selatan Jalan raya Pasar Kenteng. Jalan ini menghubungkan Kenteng dengan Samigaluh di sebelah barat dan dengan Godean di sebelah timur.

Kondisi Pasar di Masa Kini
Bagian belakang pasar.
Jika dibandingkan dengan pasar-pasar yang sudah disebutkan pada tulisan di awal, bentuk pasar Kenteng yang kita lihat ini jauh lebih sederhana dan tidak semegah pasar-pasar tadi. Bentuk pasar kenteng hanya berupa deretan los-los terbuka yang memanjang. Los-los ini berbentuk atap pelana dan membujur utara-selatan, jadi para  pedagang menggelar dagangannya menghadap ke arah barat atau timur. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalisasi pencahayaan di bagian dalam. Atap-atap ini melindungi para pedagang dari terpaan sinar matahari dan hujan. Bahan penutup atap terbuat dari genteng.
Kondisi pasar yang sepi karena memang bukan hari pasaran.
Ketika saya mengunjungi pasar ini, pasar ini dalam kondisi sepi, tidak banyak pedagang yang berjualan selain pedagang makanan di pinggir jalan dan beberapa pedagang sembako. Menurut pedagang yang ditemui di pasar, pasar ini memang sedang tidak ramai karena sedang bukan hari pasaran. Hari Pasaran pasar ini menurut kalender Jawa jatuh pada hari Wage. Pada hari pasaran, pasar ini sangat ramai,terutama pada jam buka dari jam 8 hingga jam 11. Mengapa pasar ini mengikuti hari pasaran ? Ada beberapa alasan.Alasan pertama berkaitan dengan kebudayaan Jawa yang sejak lama ada tradisi untuk bekerja secara kolektif dalam satu desa yang mandiri. Alasan kedua berkaitan dengan ekonomi. Pada zaman dahulu kebanyakan yang berjual beli di pasar bukanlah pedagang professional, melainkan petani yang menjual sisa panen saja. Mereka membeli hanya untuk melengkapi kebutuhan yang bukan hasil panen mereka sendiri. Kebutuhan pada waktu itu lebih sedikit dibanding sekarang dan daya beli pengunjung pasar masih terbatas. Jika terlalu banyak pasokan barang yang dijual di pasar akan menyebabkan deflasi atau harga barang akan turun. Harga barang yang terlalu murah tidak akan memberikan keuntungan  yang cukup untuk membiayai transportasi. Ada juga resiko barang menjadi busuk karena belum ada teknologi pendingin atau pengawetan.
Tiang-tiang penyangga atap pasar.
Dari 20 deretan los yang ada, kita dapat menjumpai 13 los yang sudah ada sejak zaman Belanda dan bentuknya belum berubah sama sekali. Satu-satunya perubahan hanyalah penambahan lapisan keramik. Atap-atap pada los lama disangga oleh tiang besi dengan konstruksi seperti tiang jemuran. Pasar ini tidak diberi sekat seperti halnya pasar modern pada saat ini. Mengapa tidak diberi sekat ? Rupanya selain sebagai tempat jual beli, pasar tradisional juga merupakan tempat berlangsungnya interaksi sosial antar pedagang, sehingga kondisi pasar yang terbuka menjadikan para pedagang dapat berinteraksi dengan mudah dan meningkatkan rasa guyub di antara pedagang. Inilah keunggulan pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern. Walaupun pasar modern lebih bersih, namun interaksi sosial di dalamnya jauh lebih sedikit dibandingkan pasar tradisional seperti pasar Kenteng ini.
Plakat yang menunjukan pabrik pembuat material bangunan pasar.
Plakat yang menunjukan perusahaan kontraktor pasar.
Di pasar ini, kita dapat melihat beberapa plakat inskripsi dari zaman Belanda. Plakat-plakat ini menunjukan perusahaan penyedia material bangunan dan kontraktor pembangunan pasar, sehingga plakat ini bisa menjadi salah satu data sejarah berdirinya pasar ini. Dari plakat yang ada, penyedian material berasal dari N.V.Braat, perusahaan baja yang memiliki pabrik di Surabaya, Yogya, Sukabumi dan Tegal. Sementara itu, masih berdasarkan plakat yang terdapat di pasar ini, pembangunan pasar dilaksanakan oleh N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta. Sekedar tambahan saja, perusahaan ini dahulu memiliki kantor dan pabrik baja yang kini lokasinya sudah menjadi Hotel Melia Purosari.

Sejarah Pasar Kenteng
Tidak diketahui sejak kapan pasar ini sudah ada. Namun yang jelas, pasar ini dipugar pada tahun  1921 oleh Sultan HB VIII bersama beberapa pasar lain seperti pasar Srowolan dan pasar Pundong. Pasar ini dipugar karena pasar ini merupakan Pasar Kesultanan yakni pasar yang secara administrasi dikelola oleh Kesultanan. Pasar ini terdiri dari 129 buah milik Kasultanan Yogyakarta dan 18 buah milik Pura Pakualaman ( Dingemans, 16; 1925 ). Dari beberapa sumber sejarah seperti plakat yang kita temukan di pasar tadi, pembangunan pasar ini dibangun oleh N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta  sementara material pasar disediakan oleh N.V Braat perusahaan baja yang didirikan pada tahun 1901 dan berpusat di Surabaya (kini menjadi PT Barata).

Keberadaan pasar ini merupakan bukti kepedulian pemerintah di masa lalu terhadap kegiatan perekonomian rakyat. Bangunan pasar yang dahulu masih terbuat dari material yang mudah rusak diganti dengan material yang lebih kuat, bahkan saking kuatnya material itu masih bertahan hingga lebih dari setengah abad. Jika pemerintah di masa lalu saja peduli terhadap pasar tradisional, bagaimana dengan pemerintah sekarang ? Padahal pasar tradisional merupakan sentra perekonomian rakyat yang cukup penting.

Pasar ini juga merupakan sebuah living heritage, artinya pasar ini selain menyisakan warisan bangunan lama, juga masih eksis sebagai tempat berlangsungnya kegiatan jual beli yang sudah ada sejak pasar ini berdiri. Semoga keberadaan pasar ini baik bangunan dan pedagang-pedangang di dalamnya bisa bertahan.

Referensi
Dingemans, L. F. 1925. Gegevens over Djokjakarta.

Kamis, 11 Februari 2016

Membongkar Ingatan di Stasiun Purworejo

Gedung stasiun tua itu berdiri di suatu tepi jalan di Purworejo yang ramai oleh hilir mudik kendaraan. Kusen kayu jati, dinding tebal nan tinggi, dan atap baja makin menegaskan kelawasan bangunan stasiun itu. Ya, itulah Stasiun Purworejo, sebuah stasiun sarat kenangan. Gedung Stasiun itu kemudian menghantarkan saya pada sebuah ingatan belasan tahun silam, ketika saya bersua dengan kereta api untuk pertama kalinya. Masih terngiang di telinga saya deru suara mesin lokomotif diesel yang menggema di peron stasiun. Kini, saya mencoba untuk membongkar kembali ingatan saya di stasiun ini, sambil menerawang lebih jauh sejarah dari stasiun Purworejo.
Overkapping yang menaungi peron Stasiun Purworejo.
Di bawah naungan kanopi baja, dua buah pintu besar menyambut kedatangan saya di stasiun yang telah belasan tahun tak saya kunjungi ini. Langkah kaki saya kemudian bergerak memasuki lobi stasiun yang tinggi. Di samping kiri saya, ada sebuah loket tempat dulu para penumpang membeli karcis dan kini loket tersebut tertutup rapat. Entah kapan ia akan buka kembali. Di bawah langit-langit dari kayu jati itu, saya kembali teringat, dulu di depan loket ini, ada sebuah ruang kecil yang pernah ditempati oleh sebuah warung soto legendaris di kota ini, Soto Stasiun Pak Rus namanya. Teringat dengan aroma soto yang dahulu menyeruak seisi ruangan lobi dan menggoda perut setiap orang yang menciumnya. Dulu banyak orang yang datang ke stasiun ini bukan untuk naik kereta atau membeli tiket, melainkan sekedar untuk menyantap semangkuk soto yang lezat itu. Stasiun Purworejo dulu tersohor dengan sotonya yang lezat dan sebaliknya, warung soto ini tersohor selain sotonya yang lezat juga karena lokasinya yang unik, yakni di dalam bangunan stasiun tua. Sunggu, Stasiun Purworejo dan warung soto tadi merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan bak mata uang. Sayangnya, mereka akhirnya harus berpisah setelah stasiun ini tak lagi dipakai dan warung soto itu pindah ke timur stasiun. 
Loket stasiun Purworejo.
Bovenlicht yang terlihat di atas pintu masuk stasiun.
Kondisi peron itu masih terlihat mirip ketika saya mengenal dengannya untuk pertama kali belasan tahun silam. Rangka kanopi peron yang melengkung masih utuh di tempatnya beserta atap bajanya. Lantai keramik ; yang menggantikan ubin tegel lawas, juga masih terhampar di lantai peron. Namun suasana peron itu sudah berubah. Ya, peron itu kini sudah lengang. Tak ada lagi pemandangan penumpang kereta yang sedang menunggu kereta, para pedagang asongan yang sibuk menjajakan dagangannya, para petugas stasiun yang sedang mengatur jadwal perjalanan kereta. Tak terlihar pula orang-orang yang datang ke stasiun hanya sekedar untuk melihat seperti apa rupa kereta. Beragam rasa terekam dengan baiknya di setiap dinding stasiun ini. Ada rasa sedih dari orang hendak ditinggal pergi oleh orang yang dikasihinya. Ada pula perasaan bahagia yang muncul dari mereka yang sedang menyambut sanak keluarga yang mereka rindukan. Bangunan stasiun ini sungguh kental dengan berbagai macam memori.
Peron Stasiun Purworejo yang kini lengang.
Alat pengatur sinyal Alkmaar.
Betapa lengangnya suasana peron siang itu. Kontras sekali dengan suasana peron itu  ketika untuk pertama kalinya saya mendengarkan berisiknya bunyi mesin lokomotif feeder bermesin diesel hidrolik yang baru saja tiba. Sayapun bersama keluarga bergegas menaiki salah satu gerbong. Sungguh tak disangka, pengalaman saya pertama kali naik kereta api kala itu akan menjadi pengalaman terakhir saya begitu mengetahui jalur Purworejo -Kutoarjo dinon-aktifkan pada tahun 2010. Namun sesungguhnya, bukan kali itu saja stasiun ini dinon-aktifkan. Di bawah bayang-bayang kanopi berangka baja melengkung itu, saya mencoba untuk mengingat awal mula kehadiran kereta api di kota pensiun ini….
Station Purworejo ca. 1910. Terlihat beberapa kusir dokar yang sedang menunggu penumpang di depan stasiun. Jalan di depan stasiun ini dahulu bernama Stationlaan (sumber ; media-kitlv.nl).
Riwayat berdirinya stasiun Purworejo tidak terlepas dari pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta-Cilacap. Kala itu, pemerintah kolonial memiliki garnisun militer penting di pesisir selatan Jawa seperti Gombong dan Purworejo. Sementara itu, di sana ada Cilacap yang menjadi satu-satunya pelabuhan besar di pesisir selatan Jawa. Untuk meningkatkan mobilitas militer dan juga mengangkut hasil bumi di wilayah pesisir selatan, maka tertanggal 20 Juli 1887,  pemerintah kolonial lewat jawatan kereta api milik negara, Staatspoorwegen ( SS ) meresmikan sebuah jalur kereta yang terbentang dari Cilacap hingga Yogyakarta. 
Kepala Stasiun Purworejo pada tahun 1892, J. W. Hille. Sebelumnya, dia  ( Java Bode ; Nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, tanggal 30 September 1892)
Jalur tersebut memiliki sebuah percabangan di Kutoarjo yang nantinya akan menjurus ke arah Purworejo. Jalur itu memang tidak terlalu panjang. Hanya 12 kilometer saja panjangnya. Namun jalur itu memberi manfaat besar bagi pembangunan kota Purworejo di masa kolonial. Menurut laporan penelitian yang ditulis oleh Musadad, perekonomian kota Purworejo yang semula kurang berkembang karena bergantung pada transportasi tradisional seperti kuda dan gerobak, akhirnya menjadi lebih maju berkat kehadiran kereta api yang lebih efektif dan efisien. Ditinjau dari aspek militer, kehadiran stasiun ini juga meningkatkan mobilitas militer dan menjadikan Purworejo terhubung dengan garnisun militer di kota lain seperti Gombong (Musadad, 2001;38).
Denah kompleks stasiun Purworejo.
Sekalipun jalur kereta api Kutoarjo ke Purworejo telah ada di tahun 1887, namun bangunan Stasiun Purworejo baru dibangun pada tahun 1901 (Musadad, 2001;28 ). Langgamnya terlihat beda-beda tipis dengan bangunan stasiun milik Staatspoorwegen yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Timur. Bersama dengan Stasiun Jebres di Solo, barangkali Stasiun Purworejo merupakan bangunan stasiun peninggalan Staatspoorwegen di Jawa Tengah yang masih asli. Untuk sarana penunjang, di sekitar stasiun juga dibangun rumah tinggal untuk pegawai stasiun dan sebuah depo lokomotif, tempat dimana lokomotif diperbaiki dan dirawat. Namun pada tahun 1930, aktivitas depo Stasiun Purworejo dipindahkan ke Stasiun Kutoarjo untuk menghemat biaya pemeliharaan gedung. Depo itu kini menjadi perumahan tentara.

Rumah dinas pegawai stasiun.
Di masa selanjutnya, nasib Stasiun Purworejo terombang-ambing. Ia sempat ditutup pada masa kependudukan tentara Jepang. Awal kemerdekaan ia dibuka kembali, lalu ditutu kembali sekitar tahun 1952-1955. Lalu saat peralihan menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) petak jalur tersebut kembali dibuka. Kemudian tahun 1977, ia kembali ditutup hingga dekade 1990-an. Setelah tak dipakai sekian lama, sekitar tahun 1990an, ia diaktifkan kembali pada masa kepemimpinan Goernito, Bupati Purworejo dan Haryanto Dhanutirto, Menteri Perhubungan kala itu. Tahun 2010stasiun ini akhirnya kembali diistirahatkan karena rel yang terbentang di sepanjang jalur kereta Purworejo-Kutoarjo rupanya belum layak untuk dilintasi kereta api standar (Agung Pranoto;2012). Karena stasiun ini merupakan Cagar Budaya, maka ia sempat dikonservasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT. KAI (Persero) di tahun 2012. Sampai tulisan ini dibuat ( 2017 ), tak ada tanda-tanda stasiun ini akan hidup kembali. Rel-rel di emplasemen sudah lama menganggur. Ruang kantor stasiun masih kosong melompong. Loket juga belum kunjung dibuka. Stasiun itu masih beristirahat dengan kesunyiannya yang panjang…
Satu-satunya bangku penumpang dari masa kolonial yang sekarang tersimpan di salah satu ruangan stasiun. Entah sudah berapa banyak orang yang pernah duduk di bangku ini.
Saya kini berdiri bersandar pada salah satu tiang baja atap kanopi. Tatapan mata saya mengarah ke ujung emplasemen stasiun yang ada di sebelah timur. Terlihat di kejauhan hijaunya perbukitan Menoreh. Jalur kereta ini, sebenarnya tak berhenti di sini saja. Oleh pemerintah kolonial, ia sedianya hendak diteruskan sampai Muntilan, dengan menembus perbukitan Menoreh itu. Pekerjaan itu bakal memakan banyak tenaga dan biaya. Bayangkan saja, berapa banyak bukit yang nantinya harus dibelah, seberapa banyak tanah yang akan digali, berapa banyak jembatan yang harus dibangun di atas jurang sungai yang dalam. Konon, sebuah terowong sepanjang 350 meter akan digali menembus perut perbukitan Menoreh. Tapi semua kesulitan tadi akan terbayarkan dengan manfaat besar yang dihasilkan dari jalur tersebut. Jalur itu mungkin akan menjadi jalur terpenting karena ia akan menghubungkan dua kota pelabuhan penting, yakni Semarang di utara dan Cilacap di selatan. Jalur tersebut juga bakal meningkatkan mobilitas setiap garnisun militer yang ada di Jawa tengah mulai dari Gombong, Purworejo, Magelang, hingga Ambarawa. Tak hanya untuk kepentingan ekonomi dan militer, jalur itu nantinya juga dipakai untuk kepentingan wisata karena jalur itu akan melewati Candi Borobudur. Jalur tersebut rencanya tidak  akan dikelola oleh Staatspoorwegen, melainkan oleh operator kereta api swasta terbesar kala itu, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (Kompas, 11 April 2015). Kendati sudah direncanakan dengan matang, namun rencana penting tersebut gagal terwujud tatkala Jepang masuk. Akhirnya, rencana tadi tampaknya hanya akan tercetak di atas kertas biru saja..
Stasiun Purworejo ketika masih aktif. Terlihat sebuah kereta yang hendak berangkat ke Kutoarjo. Kapankah pemandangan ini akan terlihat kembali ?  (Sumber : https://c2.staticflickr.com/6/5083/5221964663_5b0087e39e_b.jpg ).

Hari ini, stasiun penuh kenangan itu masih tertidur lelap. Ia sedang menunggu deru suara mesin kereta yang akan membangunkannya suatu hari nanti. Saya yakin, betapa rindunya warga Purworejo mendengar bunyi kereta yang melaju di tengah kotanya. Sayapun juga membayangkan seandainya saja stasiun ini tak pernah ada, barangkali kota Purworejo tak akan semaju sekarang. Maka, sudah sepantasnya warga Purworejo berterima kasih kepadanya dengan cara melestarikanya untuk kebaikan anak cucu kita..

Referensi
Agung Pranoto dalam budayapurworejo.blogspot.com/2012/02/stasiun-purworejo.html

heritage.kereta-api.co.id.

Kompas, 11 April 2015.

Anonim. Nederlansch Indische Staatspoor en Tramwegen. Nederlands Welvaart.

Handinoto. 1999. " Perletakan Stasiun Kereta Api dalam Tata Ruang Kota di Jawa (Khususnya Jawa Timur) pada Masa Kolonial " dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Musadad. 2002. " Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930 ", Laporan Penelitian, Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.