Kamis, 11 Februari 2016

Stasiun Purworejo, Sekelumit Kejayaan Kereta Api di Purworejo

Tuuuuutttt Tuuuuutttt, begitulah kira-kira bunyi peluit kereta yang saya ingat, ketika saya pertama kali datang ke Stasiun Purworejo belasan tahun lalu. Ketika saya pertama kali naik kereta api dari Purworejo ke Kutoarjo dan juga akan menjadi pengalaman terakhir saya begitu mengetahui jalur Purworejo-Kutoarjo dinon-aktifkan pada tahun 2010. Ya, saya memiliki kenangan tersendiri pada bangunan stasiun peninggalan Belanda ini. Nah, seperti apa sejarah dan rupa Stasiun Purworejo ? Daripada anda penasaran, mari kita kunjungi bersama.


Latar Belakang Berdirinya Stasiun Purworejo

Station Purworejo ca. 1910. Terlihat beberapa kusir dokar yang sedang menunggu penumpang di depan stasiun. Jalan di depan stasiun ini dahulu bernama Stationlaan (sumber ; media-kitlv.nl).
Sejarah berdirinya stasiun Purworejo tidak terlepas dari pembangunan jalur kereta api  Yogyakarta-Cilacap. Latar belakang dan proses pembangunan jalur kereta api ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan pembukaan jalur Semarang-Vorstenlanden (sebutan Belanda untuk wilayah hinterland seperti Surakarta dan Yogyakarta). Jalur Semarang-Vorstenlanden dibangun atas inisiatif perusahaan kereta api swasta N.I.S dan dilatarbelakangi oleh kebutuhan bisnis perusahaan perkebunan swasta yang membutuhkan sarana transportasi yang lebih cepat untuk mengangkut hasil bumi. Sementara itu pembangunan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap dilaksanakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah, Staatspoorwegen dan pembangunannya dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum pada masa kolonial, Burgerlijke Openbare Werken. Pembangunan jalur ini dilatarbelakangi oleh permintaan dari pemerintah kolonial untuk menghubungkan kota-kota di pesisir selatan pulau Jawa dengan jalur kereta api setelah melihat kesuksesan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden. Jalur Cilacap-Yogyakarta dibuka pada tanggal 20 Juli 1887 di masa kepemimpinan H. G. Derx.
Kepala Stasiun Purworejo pada tahun 1892, J. W. Hille. Sebelumnya, dia  ( Java Bode ; Nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, tanggal 30 September 1892)
Salah satu kota yang dilalui oleh jalur kereta Yogyakarta-Cilacap adalah Purworejo. Uniknya, Purworejo sendiri sebenarnya tidak langsung dilewati jalur Yogyakarta-Cilacap karena kereta dari arah Yogyakarta harus singgah ke Kutoarjo terlebih dahulu yang berada di bagian barat Purworejo, setelah itu baru kereta bergerak ke ke arah Purworejo.

Lalu mengapa pemerintah Belanda membangun stasiun di Purworejo ? Seperti yang kita ketahui, paska Perang Diponegoro, kota Purworejo berkembang menjadi salah satu basis militer yang cukup penting bagi Belanda di wilayah pesisir selatan. Agar semakin berkembang, maka kota Purworejo perlu dihubungkan dengan kota-kota lain dengan jalur kereta dan kalau bisa dihubungkan dengan kota pelabuhan terdekat sehingga kebutuhan-kebutuhan militer yang didatangkan dari luar dapat dibawa dengan cepat dan mudah. Waktu itu, kota pelabuhan yang paling dekat dengan Purworejo adalah Cilacap di pesisir selatan dan Semarang di pesisir utara. Namun, pembangunan jalur kereta api Purworejo-Semarang akan banyak menghabiskan banyak biaya karena harus membelah perbukitan Menoreh yang ada di sebelah utara. Oleh karena itulah kota Purworejo dihubungkan dengan Cilacap terlebih dahulu yang jalurnya lebih mudah dibuat karena reliefnya relatif datar sementara jalur Purworejo-Semarang disambungkan dengan jalur kereta yang melingkar terlebih dahulu ke Yogyakarta.

Meskipun pada tahun 1887 sudah dibangun jalur kereta api dari Kutoarjo ke Purworejo sepanjang 12 km, namun bangunan stasiun Purworejo baru dibangun pada tahun 1901 (Musadad, 2001;28). Pembangunan stasiun Purworejo ternyata menghasilkan beberapa keuntungan bagi perkembangan kota Purworejo. Misalnya perekonomian kota Purworejo yang semula kurang berkembang karena bergantung pada transportasi tradisional seperti kuda dan gerobak yang terbatas akhirnya menjadi lebih berkembang dengan kehadiran kereta api yang lebih efektif dan efisien. Kehadiran stasiun ini juga membuat kota Purworejo lebih terhubung dengan kota-kota lain yang sudah dilalui oleh jaringan kereta. Kemudian dari segi militer, kehadiran stasiun ini meningkatkan mobilitas militer dan menjadikan Purworejo terhubung dengan tangsi-tangsi militer di kota lain seperti Gombong (Musadad, 2001;38).


Stasiun Purworejo ketika masih aktif. Terlihat masyarakat sekitar yang sedang menonton kereta yang sedang berhenti di stasiun.  (Sumber : https://c2.staticflickr.com/6/5083/5221964663_5b0087e39e_b.jpg ).
Pada masa selanjutnya, Stasiun Purworejo sempat ditutup selama 3 kali, yaitu pada masa kependudukan tentara Jepang, dan sekitar tahun 1952-1955. Saat peralihan menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) petak jalur tersebut kembali diaktifkan. Setelah itu pada tahun 1977, petak jalur Kutoarjo – Purworejo kembali ditutup dan tidak beroperasi lagi. Dekade 1990-an diaktifkan kembali pada masa kepemimpinan Goernito,Bupati Purworejo dan Haryanto Dhanutirto, Menteri Perhubungan saat itu. Saat ini jalur kereta api antara Stasiun Kutoarjo – Stasiun Purworejo sedang tidak aktif sejak tahun 2010, dikarenakan jalur yang ada saat ini belum layak untuk dilewati kereta api standar. Revitalisasi jalur Kutoarjo – Purworejo direncanakan dimulai setelah menunggu selesainya pekerjaan pergantian rel di jalur Butuh – Kutoarjo, untuk digunakan di jalur Kutoarjo – Purworejo (Agung Pranoto;2012). Sayangnya, hingga kini belum ada tanda-tanda pengaktifan kembali stasiun Purworejo dan sekarang, stasiun ini menjadi semacam museum kecil. Mengingat stasiun ini adalah bangunan Cagar Budaya yang perlu dilestarikan, maka pada tahun 2012, bangunan stasiun dikonservasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT. KAI (Persero).

Sekelumit kejayaan yang Tertinggal

Denah kompleks stasiun Purworejo.
Stasiun Purworejo berada di jln. Mayjend. Sutoyo. Kira-kira berada 200 meter ke utara dari alun-alun Purworejo. Di sebelah timur stasiun, terdapat pasar Suronegaran yang setiap pagi selalu ramai. Pemilihan lokasi stasiun yang berada di ketinggian 63 meter ini tentu sudah melalui beberapa pertimbangan yang matang antara lain jalur kereta menuju ke stasiun diusahakan sesedikit mungkin tidak memotong jalur utama (Handinoto, 1999; 49) serta dekat dengan simpul-simpul perekonomian seperti pasar dan pemukiman.


Dari luar, kita akan melihat bangunan stasiun Purworejo tidak terlihat bedanya dengan bangunan-bangunan kolonial lain. Jendela besar berdaun krepyak, dinding tebal nan tinggi, dan arsitektur bangunan yang terlihat megah. Gaya arsitektur bangunan Stasiun Purworejo mirip dengan gaya arsitketur bangunan stasiun peninggalan Staatspoorwegen yang tersebar di Jawa Barat dan di Jawa Timur dengan ciri khas berupa fasad berbentuk atap pelana dan kadang dilengkapi dengan bovenlicht atau jendela kaca di tengahnya. Bersama dengan Stasiun Jebres di Solo, barangkali bangunan Stasiun Purworejo merupakan bangunan stasiun peninggalan Staatspoorwegen yang masih asli di Jawa Tengah.
Loket stasiun Purworejo.
Bovenlicht yang terlihat di atas pintu masuk stasiun.
Sebelum masuk ke dalam, kita akan disambut dengan dua buah pintu besar yang dinaungi oleh sebuah kanopi besi. Di atas kanopi ini, terdapat sebuah tiang bendera yang sudah ada sejak dahulu. Memasuki bagian dalam hall stasiun yang menjadi ruang tunggu pembeli tiket, ingatan saya sendiri kembali ke belasan tahun silam, ketika saya pertama kali datang ke stasiun ini. Teringat dahulu, di sebelah kiri, terdapat ruang tiket dengan jendela tiketnya yang tinggi dan di depannya para pembeli tiket sedang antre membeli tiket. Sementara itu perlu diketahui ,di seberang ruang tiket, terdapat sebuah ruang yang dahulu pernah ditempati oleh warung soto yang cukup legendaris di kota ini, Soto Stasiun Pak Rus. Saya jadi teringat aroma soto yang dahulu memenuhi ruangan dan menggoda perut setiap orang yang menciumnya. Banyak orang yang datang ke stasiun ini bukan untuk naik kereta, melainkan untuk menikmati semangkuk soto yang lezat ini. Stasiun Purworejo dikenal akan sotonya yang lezat dan sebaliknya, warung soto ini dikenal selain sotonya yang lezat juga karena lokasinya yang berada di dalam stasiun. Stasiun Purworejo dan warung soto tadi ibarat dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semenjak tahun 2011, warung soto tadi menempati bangunan baru yang ada di timur stasiun. Bagian dalam ruangan hall ini sangat terang karena mendapat pencahayaan alami yang berasal dari sinar matahari yang masuk lewat bovenlicht tadi. Di bagian atas stasiun, terlihat plafon stasiun yang terbuat dari kayu. Lantai bagian dalam stasiun yang dahulunya berupa ubin tegel, sempat diganti menjadi keramik dan kini diganti kembali dengan ubin tegel.
Tata ruang stasiun Purworejo.
Selanjutnya, kita akan berjalan memasuki bagian peron stasiun yang dinaungi oleh overkapping atau atap baja besar tempat dimana kereta memuat dan menurunkan penumpang. Terlihat barisan pintu-pintu ruangan yang dahulu digunakan untuk beberapa keperluan seperti ruang PPKA, ruang kepala stasiun, ruang tunggu kelas satu, ruang tunggu kelas dua, gudang dan lain-lain. Di antara dua pintu, kita akan melihat pilaster atau tiang semu yang menempel di dinding. Di samping pilaster tadi, terlihat sebuah pipa baja panjang yang menjulur ke bawah. Pipa baja ini dahulu menjadi tempat pembuangan air hujan yang jatuh di atap peron. Bagian lantai permukaan peron yang aslinya dilapisi dengan tegel impor kualitas tinggi sayangnya sekarang diganti dengan keramik murahan. 
Overkapping Stasiun Purworejo.
Alat pengatur sinyal Alkmaar.
Satu-satunya bangku penumpang dari masa kolonial yang masih tersisa di stasiun Purworejo. Bangku ini sekarang tersimpan di salah satu ruangan stasiun. Entah sudah berapa banyak orang yang pernah duduk di bangku ini.
Kondisi peron tempat para penumpang menaik-turunkan penumpang kereta ini sekarang terlihat sepi, jauh berbeda kondisinya ketika stasiun ini masih aktif di masa lalu. Kini, kita tidak akan melihat lagi pemandangan para penumpang yang menunggu kedatangan kereta, juga pemandangan para pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di sepanjang peron. Pemandangan orang-orang yang datang ke stasiun cuma untuk melihat kereta juga tidak ada lagi. Bunyi mesin lokomotif feeder bermesin diesel hidrolik sudah tidak lagi terdengar. Berbagai perasaan juga akan kita rasakan di peron ini. Ada perasaan sedih dari 
orang yang hendak ditinggal pergi oleh orang yang disayanginya dan entah apakah dia akan kembali lagi atau tidak. Ada juga perasaan bahagia dari orang yang sedang menunggu kedatangan seseorang yang dirindukannya dan di peron inilah akhirnya mereka dapat berjumpa lagi. Ya, itu semua kini tinggal kenangan saja. 
Peron stasiun.
Memasuki bagian emplasemen, tempat dimana kereta lewat dan berhenti, yang terlihat hanyalah sebidang tanah lapang saja. Dahulu, stasiun yang tergolong stasiun tepi ini memiliki empat lajur kereta dengan sebuah jalur sepur badug atau pemberhentian ujung. Rel jurusan Kutoarjo-Purworejo berhenti sampai di sini. Namun rupanya, rencana pemerintah Hindia-Belanda tidak sampai di sini saja. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, selain Cilacap, Purworejo juga akan dikoneksikan secara langsung dengan Semarang dengan membangun jalur kereta Purworejo-Muntilan.  Walaupun diperkirakan pembangunan  jalur ini akan cukup berat karena akan melewati perbukitan, tetapi dengan pertimbangan keuntungan yang didapat, kesulitan tadi dapat diantisipasi dengan rencana pembangunan terowongan sepanjang 350 meter yang akan menembus perbukitan Menoreh. Jalur ini rencanya tidak akan dikelola Staatspoorwegen melainkan oleh perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Kemungkinan besar selain untuk kepentingan militer, jalur ini juga akan dimanfaatkan sebagai jalur wisata karena jalur ini melewati Candi Borobudur yang sejak masa kolonial  sudah menjadi destinasi wisata (Kompas, 11 April 2015).

Perkiraan bekas lokasi depo stasiun Purworejo.
Perlu kita ketahui, stasiun ini dahulu memiliki sebuah depo lokomotif, tempat dimana  lokomotif diperbaiki dan mendapat perawatan. Lokasi depo ini diperkirakan terletak di dalam kompleks pemukiman TNI AD. Pada tahun 1930, fasilitas depo ini tidak digunakan lagi karena di stasiun Kutoarjo sudah ada fasilitas yang serupa dan juga menghemat biaya pengeluaran pemeliharaan gedung.

Dua buah rumah dinas stasiun Purworejo yang masih terlihat utuh.
Bergerak keluar stasiun, tepatnya di seberang stasiun, kita akan melihat sebuah rumah tua yang sebenarnya ukurannya terbilang kecil, namun jendela krepyak yang besar menjadikan rumah ini terlihat besar. Di sebelahnya, terdapat rumah dengan bentuk serupa yang masih dihuni. Dua buah rumah tua ini dahulunya adalah rumah dinas pegawai stasiun Purworejo. Di masa lalu, keberadaan sebuah stasiun pasti diikuti dengan rumah dinas tempat para pegawai stasiun tinggal yang biasanya dibangun di dekat stasiun agar mobilitas pekerja dari tempat tinggal ke tempat kerja lebih lancar serta untuk memudahkan pengawasan, bangunan rumah dinas dibangun menghadap ke arah stasiun.

Rumah dinas untuk pegawai dari bangsa pribumi.
Di sebelah barat stasiun, tepatnya di dekat saluran air Kedung Putri, kita juga akan menjumpai rumah dinas dengan ukuran jauh lebih mungil daripada dua rumah tadi dan terlihat tidak dilengkapi dengan jendela krepyak yang besar. Rumah-rumah mungil bertipe kopel ini kemungkinan merupakan rumah milik pegawai stasiun dari bangsa pribumi. Pegawai-pegawai ini biasanya bekerja di posisi rendah.

Demikianlah tulisan saya tentang Stasiun Purworejo yang ternyata memiliki peran cukup luar biasa di masa lalu. Kita semua tentunya berharap keberadaan stasiun ini dapat dijaga dengan baik mengingat stasiun ini merupakan bukti sejarah betapa pentingnya kota Purworejo di masa lalu, sampai-sampai pemerintah kolonial membuat sebuah stasiun kereta di kota ini. Jika saja stasiun ini tidak pernah ada, barangkali perkembangan kota Purworejo di masa lalu akan lebih lambat jika dibandingkan dengan kota-kota lain.

Referensi

Agung Pranoto dalam budayapurworejo.blogspot.com/2012/02/stasiun-purworejo.html
heritage.kereta-api.co.id.

Kompas, 11 April 2015.

Anonim. Nederlansch Indische Staatspoor en Tramwegen. Nederlands Welvaart.

Handinoto. 1999. Perletakan Stasiun Kereta Api dalam Tata Ruang Kota di Jawa (Khususnya Jawa Timur) pada Masa Kolonial. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra. Surabaya.

Musadad. 2002. Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

2 komentar:

  1. Ulasannya menarik2..jd pengen tahu lbh dekat tentang peninggalan kolonial utamanya yang ada di jogja..

    BalasHapus