Minggu, 17 April 2016

Di Balik Keantikan Stasiun Ambarawa

Kejayaan transportasi kereta di masa kolonial tergambarkan dengan baik di stasiun itu. Namun tak banyak yang tahu, di bawah rangka-rangka bajanya, tercium aroma diskriminasi di masa kolonial. Inilah kisah sebuah stasiun tua yang kini menjadi museum, Stasiun Ambarawa….
Bangunan utama stasiun Ambarawa.
Ketika kaki ini mulai melangkah masuk ke stasiun ini, saya serasa dibawa ke suatu periode, periode dimana kepulan uap kereta menyeruak ke langit-langit stasiun dan deru mesin menggetarkan lantai stasiun. Nuansa kekunoannya stasiun yang sejatinya bernama Stasiun Willem I ini masih terasa kentara.  Kombinasi bata bergalzur kuning di bawah, guratan ekpose bata merah, dan dinding berwarna putih bersih mempercantik bangunan kantor dan ruang tunggu yang mungil. Tak diketahui siapakah arsitek yang merancangnya, namun setidaknya, stasiun ini berhasil mereprenstasikan puncak kejayaan transportasi kereta api di masa lampau.
Lokasi stasiun Ambarawa pada peta tahun 1909. Perhatikan lokasi stasiun yang dekat dengan benteng Willem I. Stasiun ini sengaja dibangun dekat dengan benteng untuk melayani kebutuhan militer. Dahulu terdapat dua akses ke stasiun ini, yakni di sebelah utara (kini jalan Stasiun) yang kebanyakan digunakan untuk kalangan sipil dan di sebelah selatan (kini jalan Margoroto) yang digunakan oleh kalangan militer (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pendirian stasiun ini berhubungan erat dengan peran Ambarawa sebagai kota militer setelah pemerintah kolonial mendirikan sebuah benteng besar yang sudah lama ada sebelum stasiun ini dibangun. Benteng yang dimaksud ialah Benteng Willem I. Ambarawa lambat laun berkembang menjadi garnisun militer yang penting. Di perbukitan sekitar Ambarawa, perkebunan-perkebunan kopi juga mulai dibuka oleh para pengusaha partikelir paska dibukanya keran investasi di Hindia-Belanda oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1870. Akhirnya pemerintah kolonial merasa butuh sebuah sarana pengangkutan massal yang dapat meningkatkan mobilitas militer dan pengangkutan hasil bumi berupa kopi. Kereta api menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut karena dalam sekali jalan, kereta dapat mengangkut barang dan penumpang dalam jumlah besar. Lajunya pun lebih cepat daripada kendaraan tradisional kala itu seperti pedati.
Stasiun Ambarawa sebelum disempurnakan. Perhatikan bentuk stasiun yang masih sederhana sekali (sumber : media-kitlv.nl).
Kongsi kereta api partikelir, Nederlandsch Indische Maatschapij (N.I.S.M), diminta oleh pemerintah kolonial untuk membuka sebuah jalur kereta baru ke arah Ambarawa. Permintaan itu dituruti oleh N.I.S.M. Tiga tahun setelah N.I.S.M membuka jalur Kedungjati-Surakarta, sebuah jalur percabangan dari Kedungjati ke Ambarawa dibangun. Pembangunan itu merupakan tantangan berat pertama yang dilakukan oleh N.I.S.M lantaran pada kali ini, mereka harus menggali bukit dan mendirikan jembatan di atas sungai curam. Namun tantangan tadi berhasil dilalui dengan baik. 21 Mei 1873, Stasiun Ambarawa tuntas dibangun. Keberadaan stasiun ini berdampak pada lancarnya distribusi kopi dari perkebunan sekitar Ambarawa. Stasiun ini juga membantu mobilitas militer dan pengiriman berbagai barang kebutuhan militer seperti ransum, amunisi dan obat-obatan (Sri Chirullia Iskandar, 2011; 102-103).
Suasana stasiun Ambarawa yang terekam pada video Reis Willem I Djocja.Terlihat kereta api yang akan memasuki peron stasiun.
Ketika dibuka, bangunan Stasiun Ambarawa amatlah  sederhana jika dibandingkan yang ada saat ini. Stasiun yang ada saat ini merupakan buah perombakan N.I.S.M ketika mencapai puncak kejayaannya di awal abad 20. Mereka menyempurnakan stasiun ini dengan material yang mutunya lebih baik sehingga masih mampu berdiri hingga sekarang. Penyempurnaan itu bertujuan untuk mendongkrak citra N.I.S.M sebagai sebuah perusahaan besar dan juga untuk menarik lebih banyak penumpang agar menggunakan jasa kereta mereka. Apa yang dilakukan oleh N.I.S.M pada stasiun ini barangkali terilhami dengan dilakukan oleh Perancis pada tahun 1850an, dimana sebelumnya stasiun kereta di Perancis bentuknya masih kasar, namun di kemudian hari bentuk stasiun di Perancis dibuat lebih anggun dan megah (Burchell. S. C, 1984; 60).

Setelah jalur kereta Kedungjati-Ambarawa dibuka, N.I.S.M melanjutkan pembangunan jalur kereta hingga ke Secang. Namun berhubung medan yang dilalui berupa perbukitan, maka jalur kereta dibuat meliuk-liuk seperti ular yang mendaki bukit. Supaya kereta lebih mudah mengikuti liukan rel, maka lebar rel yang dipakai lebih kecil. Oleh sebab itulah di stasiun Ambarawa terdapat dua jenis jalur rel yang berbeda, yakni jalur rel 1435 mm di emplasemen selatan dan 1067 mm di emplasmen utara. Dari Kedungjati ke Ambarawa menggunakan rel 1435 mm, sementara dari Ambarawa menuju Yogyakarta melalui Magelang menggunakan  rel 1067 mm. Buku panduan terbitan Koninklijke Paketvaart Mij menyarankan para pelancong yang hendak ke Yogyakarta untuk mengambil jalur Kedungjati-Ambarawa-Magelang karena jalur itu menawarkan pemandangan bentang lahan pegunungan yang menarik dan indah, ketimbang jalur Kedungjati-Surakarta yang cenderung datar dan monoton. Ketika kereta berhenti sejenak di Ambarawa, para pelancong dianjurkan untuk beranjangsana di Ambarawa, menikmati pemandangan hamparan sawah luas berlatar birunya danau Rawa Pening dan pegunungan di selatan Ambarawa. Di sore hari, dengan membayar sebesar f-4, para pelancong dapat berkendara mengelilingi kota dan mampir melihat-lihat benteng Willem I (Koninklijke Paketvaart Mij, 1911; 69-70).
Pintu masuk utama stasiun Ambarawa.
Overkapping stasiun Ambarawa dilihat dari arah barat laut.
Saya kini berjalan di bawah naungan kanopi stasiun yang membentang selebar 21,75 meter. Selain kereta, jejak revolusi industri yang tampak pada stasiun ini juga terlihat pada material-material yang dipakainya. Material-material yang menyokong stasiun itu dibuat didibuat oleh pabrik pengecoran logam di Amsterdam sesuai pesanan. Kemudian barang-barang itu dikirim dengan kapal uap, melintasi Terusan Suez dan sesudah dibongkar di pelabuhan Semarang, mereka diangkut menggunakan kereta. Hamparan lantai tegel kekuningan yang saya injak inipun juga merupakan buah revolusi industri yang lain. Tegel-tegel itu dibuat secara masal di sebuah pabrik tegel di Maastricht, Belanda, dan ia diangkut ke sini dengan cara sebagaimana kanopi baja tadi diangkut. Ya, aura revolusi industri terasa kentara di stasiun ini.
Struktur kuda-kuda stasiun Ambarawa yang terbuat dari baja.

Tiang-tiang baja penyangga konstruksi atap.
Lantai peron stasiun Ambarawa.
Para pengunjung tampak antusias berfoto-foto di setiap sudut stasiun dan anak-anak kecil terlihat berlarian tak karuan. Pemandangan tadi tentu tak terlintas di benak para meneer-meneer yang sedang menunggu kereta puluhan tahun silam, ketika mereka duduk di bangku peron yang panjang, menikmati semilir udara Ambarawa nan sejuk yang membuat mereka nyaris tidur terlelap di bangku itu. Supaya terjaga, beberapa ada yang membaca koran De Locomotief yang didapatkan secara cuma-cuma di ruang tunggu kelas I. Para kuli pribumi terlihat lalu lalang membawa barang dari gerbong ke gudang. Kepala stasiun berwajah tegas keluar dari kantornya, memberi aba-aba kepada penumpang untuk segera bergegas karena kereta sebentar lagi akan tiba...
Suasana peron stasiun.
Sinyal kereta yang tanda masuk atau keluar dari stasiun Ambarawa diatur di dalam ruang kotak kecil ini. Sinyal yang dipakai menggunakan sinyal mekanik.
Saya kemudian memasuki ruang yang dulu menjadi ruang tunggu penumpang kulit putih. Ruang itu berdiri tersendiri, terpisah dari ruang kantor dan penjualan loket.  Begitu masuk, saya dibuat terpana dengan interiornya yang masih tampak asli walaupun tak ada satupun perabot di dalamnya. Lihatlah keindahan lantai tegel bermotif bunga-bungaan yang membuat saya tak tega untuk menginjaknya. Di dalam ruang itu, terdapat sebuah bar yang dulu menyediakan berbagai minuman keras untuk para penumpang seperti gin, genever, bir, atau wine. Di dalam sana juga sudah tersedia ruang buang hajat yang telah dipisah sesuai gender. Namun dibalik keindahannya, ruang itu sebenarnya merupakan jejak dari segregasi orang pribumi dan orang Eropa di masa kolonial…
Bangunan untuk ruang tunggu penumpang kulit putih.
Langit-langit ruangan yang terbuat dari kayu jati.
Tegel dengan ornamen yang cantik ini menambah kesan mewah pada ruang tunggu untuk kulit putih.
Bagian dalam ruang tunggu dengan meja bartender. 
Toilet di dalam ruang tunggu. Toilet ini sudah dipisah berdasarkan gender.
Di masa lampau, bahkan sebelum mereka naik ke tangga kereta, terdapat perbedaan dalam perlakuan penumpang Eropa dengan penumpang pribumi. Orang pribumi memesan tiket di tempat yang terpisah dengan orang kulit putih. Sekalipun telah memesan tiket kelas I, mereka tak ada yang berani menunggu di ruang tunggu orang kulit putih. Jikapun berani, mereka akan diusir oleh pegawai stasiun. Mereka akhirnya harus berpuas menunggu kereta di sebuah ruang terbuka yang ada di ujung barat stasiun ini.
 
Ruang tunggu untuk orang pribumi.
Bangunan toilet untuk orang pribumi.
Sembari berjalan keluar, saya melihat-lihat aneka lokomotif uap tua yang dipajang seperti rangkaian kereta. Lokomotif-lokomotif kuno ini merupakan sebagian kecil dari lokomotif kuno yang berhasil diselamatkan pada tahun 1970an. Kala itu, banyak lokomotif peninggalan Belanda yang tak lagi dioperasikan akibat biaya pemeliharaannya yang tinggi yang berujung digantinya mereka dengan lokomotif diesel. Menjadi pajangan adalah nasib terbaik yang diterima oleh lokomotif tua tadi. Kebanyakan mereka dibantai di peleburan besi-besi tua. Demi menyelamatkan artifak-artifak tadi, atas prakarsa Gubernur Jateng saat itu, Soepardjo Rustam dan Kepala Eksploitasi Tengah PJKA, Ir. Soeharso, tanggal 8 April 1976 dibahas suatu rencana untuk membuka sebuah Museum Kereta Api. Awalnya museum ini akan menjadi satu dengan Museum Transportasi di Jakarta, namun akhirnya diurungkan. Pilihan terakhir jatuh ke Stasiun Ambarawa dengan pertimbangan nilai sejarah dan kondisi fisik bangunan yang masih terjaga. Maka pada 9 Oktober 1976, Stasiun Ambarawa diresmikan sebagai Museum Kereta Api. (Gendro Keling, 2011;100). Hingga sekarang, Stasiun Ambarawa masih eksis sebagai Museum Kereta Api terbesar di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.
Di dekat stasiun, masih terjumpai beraneka artefak perkeretapian seperti corong air tempat memasukan air ke dalam ketel loko dan meja putar atau turntable yang berguna untuk memutar arah hadap lokomotif. Walaupun terlihat sederhana, namun komponen ini amatlah penting bagi kereta uap. Manakala kereta akan berjalan ke Stasiun Bedono yang posisinya lebih tinggi, posisi lokomotif harus berada di belakang rangkaian gerbong. Di ujung area stasiun, terdapat tinggalan depo lokomotif Stasiun Ambarawa. Di depo itulah kereta-kereta diperbaiki dan mendapat perawatan. Depo itu kira-kira dapat memuat lima kereta dan ia dapat menampung kereta dengan lebar 1057 mm dan 1453 mm.
Depo staisun Ambarawa. Depo ini didesain khusus agar bisa memperbaiki lokomotif dengan gauge 1435 mm dan 1067 mm.
Turntable atau meja putar. Meja putar ini masih bisa diputar sampai sekarang.
Stasiun Ambarawa juga memiliki dua buah gudang yang terdapat di sebelah selatan dan barat stasiun. Di gudang itulah disimpan berbagai macam barang. Masing – masing gudang memiliki pintu model geser agarpintu dibuka berbenturan dengan gerbong barang ketika dibuka. Batur atau pondasi gudang sisi rel sengaja dibuat sejajar dengan tinggi boogie kereta untuk memudahkan pemindahan barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya. Hal yang sama juga tampak pada batur gudang sisi jalan yang telah disejajarkan dengan tinggi truk sehingga pemindahan barang dari truk ke gudang atau sebaliknya menjadi gampang.
Gudang stasiun Ambarawa yang berada di sebelah barat stasiun, sisi selatan jalur kereta.
Stasiun Ambarawa juga dilengkapi tiga buah rumah kediaman untuk personel pegawainya yang mengelompok di sisi barat Lapangan Pangsar. Sudirman. Jaraknya masih cukup dekat dengan stasiun supaya mudah dijangkau pegawai. Sayang, pesona keantikan rumah-rumah tadi sedikit terhalang oleh beberapa kios yang berdiri di tepi jalan.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa dengan bentuk atap hipped gable yang kondisinya kurang terawat.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa yang baru saja direnovasi. Di samping rumah ini (yang masih satu atap) juga ada rumah yang bentuknya serupa, namun sudah tertutup oleh bangunan baru sehingga fasadnya tidak terlihat.
Seperti itulah kisah dibalik keantikan Stasiun Ambarawa, sebuah mutiara dari untaian jalur kereta yang kini tinggal kenangan saja. Kendati tak lagi dipakai sebagai tempat naik turun penumpang, namun kini ia sintas menjadi museum yang menuturkan kejayaan kereta api di masa lampau. Kehadiran para pengunjung dan keberadaan para pedagang cenderamata di sekitarnya seolah menjadi tiupan sukma untuk kehipudan stasiun ini…

Referensi
Burchell, S. C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta:  Penerbit Tira Pustaka.

Iskandar, Sri Chirullia. 2011. " Pendirian Stasiun Willem I di Kota Ambarawa " dalam Papua TH.III No.1/Juni 2011.

Keling, Gendro. 2011. " Latar Belakang Alih Fungsi Stasiun Kereta Api Willem I Menjadi Museum Kereta Api Ambarawa " dalam Forum Arkeologi TH.XXIV No.2 Agustus 2011.

Koninklijke Paketvaart Mij1911. Guide Through Netherlands India. Amsterdam : J. H. de-Bussy. 

Tim Penyusun. 2014. Forts in Indonesia, Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.



Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten :Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Telaga Bakti Nusantara. 1997. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Bandung ; Penerbit Angkasa.

Kamis, 07 April 2016

Menyusuri Peninggalan Budaya Tionghoa di Kota Purworejo


Purworejo memang kota yang kaya akan peninggalan sejarah kebudayaan, mulai dari kebudayaan masa kerajaan Hindu-Budha, Islam, hingga Indis. Selain itu, kota ini juga menyimpan kekayan warisan budaya Tionghoa yang menarik untuk disusuri. Apa sajakah itu ?
Ruko-ruko bergaya Tionghoa di Kawasan Pecinan Purworejo.
Jajaran ruko-ruko bergaya Tiongkok selatan itu berdiri memanjang di sepanjang Jalan Ahmad Yani, sepenggal jalan yang menjurus ke Pasar Baledono, jantung perekonomian kota Purworejo yang kini sedang dipulihkan kembali paska terbakar tahun 2013 silam. Pecinan Purworejo memang tak terlalu luas. Ia hanya membentang sepanjang 964 meter, dari perempatan Jalan Magelang di sebelah utara hingga perempatan Monumen W.R. Supratman di sebelah selatan. Ukurannya yang tak begitu luas disebabkan karena Purworejo sendiri bukanlah kota perdagangan utama di masa lampau. Sepanjang perjalanan, semerbak aroma cengkeh yang dijemur tercium oleh hidung saya.  Selain cengkeh, di sepanjang jalan itu dijemur pula berbagai rempah dan tanaman herbal yang digunakan sebagai obat herbal. Orang-orang Tionghoa sejak dahulu hingga sekarang memang terkenal sebagai penjual obat herbal yang cukup berkhasiat. Sembari berjalan, saya mencoba untuk mengingat-ingat asal-usul kawasan pecinan ini…
Salah satu jalan di Pecinan Purworejo yang kini menjadi Jalan Kolonel Sugiono. Di ujung terlihat pertigaan Buh Penceng ( sumber : mediaa-kitlv.nl ).
Pertigaan Buh Menceng. Foto ini menghadap ke arah selatan ( sumber : mediaa-kitlv.nl ).
Arus kedatangan orang-orang Tionghoa ke Nusantara sebenarnya telah dimulai sejak berabad-abad yang lalu, bahkan sudah ada ketika kerajaan Sriwijaya mencapai kejayaannya pada abad ke - 8 M. Namun arus kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara benar-benar kian terasa di masa kekuasaan Wangsa Qing di tanah Tiongkok. Hokkien, Hakka, Fujian, dan Teochiu, daerah-daerah di Tiongkok selatan itu merupakan kampung leluhur orang-orang Tionghoa di Nusantara. Alasan mereka meninggalkan Tiongkok selain karena niat ingin merantau dan mencari peruntungan, mereka juga ingin melarikan diri dari penindasan yang dilakukan oleh rezim Wangsa Qing yang sejatinya bukanlah suku bangsa asli Tiongkok.
Lokasi kawasan Pecinan Purworejo dan kompleks bong (sumber : maps.library.leiden.edu)
Karena kondisi geografis, maka kehadiran orang-orang Tionghoa di daerah pedalaman Bagelen dapat dikatakan sedikit “terlambat” dibandingkan di pesisir utara. Mereka baru masuk ke sana di abad ke-18 M. Bukti tertua kemunculan komunitas Tionghoa di bumi Bagelen ialah prasasti-prasasti makam Tionghoa atau bong pay di Desa Jana, Kecamatan Bayan, Purworejo. Orang-orang Tionghoa ini sebagian besar merupakan pelarian dari Batavia tatkala terjadi Geger Pecinan pada tahun 1740, dimana orang-orang Tionghoa menjadi target pembantaian oleh kompeni. Di tahun 1826, pemerintah kolonial Belanda menerapkan UU Wijkenstesel yang mengatur agar orang-orang Tionghoa tidak tinggal lagi di pelosok pedesaan dan mereka diharuskan bermukim di dekat kota yang menjadi pusat kekuasaan pemerintah kolonial. Mereka juga harus tinggal mengelompok agar mudah diawasi serta biasanya diletakkan di kawasan antara permukiman orang Eropa dan orang Pribumi sebagai bemper. Dari sinilah kawasan pecinan di perkotaan mulai menampakan karakternya (Handinoto,1999;24). Perpindahan mereka ke pusat kota mengakibatkan banyak di antara mereka yang beralih profesi dari petani ke pedagang perantara serta pemungut pajak.
Bong Jana, satu-satunya jejak fisik komunitas Tionghoa di Jana yang masih tersisa. 
Toponim yang masih nampak di Jana.
Selain Wijkenstelsel, perpindahan orang-orang Tionghoa dari Jana ke pusat kota Purworejo pada tahun 1829 juga disebabkan oleh adanya semacam peristiwa Geger Pecinan kecil yang terjadi di Jana. Tidak diketahui apa motif dari peristiwa berdarah tersebut. Namun kuat dugaan bahwa persitiwa itu merupakan ulah dari pemerintah kolonial yang sengaja menciptakan gesekan antara orang Tionghoa dengan orang pribumi untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Sebelum peristiwa itu meletus, kehidupan orang pribumi dengan orang Tionghoa di Jana berlangsung harmonis. Kendati persitiwa Geger Pecinan versi Purworejo ini tidak separah di Batavia, namun korban yang berjatuhan dari masyarakat Tionghoa amatlah banyak. Semua hunian milik orang Tionghoa dihancurkan hingga rata dengan tanah. Akibat persitiwa itu, banyak orang Tionghoa di Jana yang akhirnya menyingkir ke tempat-tempat yang lebih aman (Becking, 1923; 751). Pasar Baledono yang menjadi simpul perekonomian Purworejo menjadi pilihan permukiman baru masyarakat Tionghoa di Purworejo. Pemilihan lokasi ini bukannya tanpa sebab. Setelah mereka tidak bisa menjadi petani lagi, maka tinggal satu pilihan profesi saja yang bisa dijalankan, yakni pedagang. Bagaikan gula yang dikerubungi semut, Pasar Baledono segera dipenuhi para pedagang Tionghoa yang mendirikan rumah merangkap toko di sekitar pasar. Banyak barang-barang yang dijual oleh mereka mulai dari barang pecah belah, kain, besi, dan tembaga (Musadad. 2002;8). Kawasan pasar Baledono-pun kian ramai. Apalagi dengan dengan datangnya gelombang orang Tionghoa dari Solo dan Semarang. Untuk mengatur perkara-perkara yang terjadi di dalam komunitas Tionghoa dan pengontrolan atas wilayah pecinan, pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1837, membentuk Kongkoan. Kongkoan ialah dewan yang terdiri dari orang Tionghoa yang diberi gelar mayor, kapten dan letnan. Sekalipun berbau militer, gelar tersebut hanya bersifat tituler saja dan tak ada kaitanya dengan urusan militer. Kapiten Tionghoa pertama di Purworejo bernama Be Ing Tjioe (Becking, 1923; 751). Dalam buku Riwayat Semarang karya Liem Thian Joe, diceritakan Be Ing Tjioe lahir di Tiongkok pada tahun 1803. Sewaktu ia masih anak-anak, ia dibawa ke Jawa oleh Tan Nio, saudagar tembakau dari Semarang yang juga menjadi majikannya. Karena ia bekerja dengan giat, ia diangkat oleh majikannya sebagai menantu. Sesudah menikah, ia diutus mertuanya untuk membantu Tan Tiang Tjhing yang membutuhkan tenaga untuk mengurus pacht madat di Bagelen. Pada tahun 1824, pergilah Be Ing Tjioe ke Bagelen. Setelah berdiam di sini selama beberapa tahun, Be Ing Tjioe diangkat sebagai kapiten dengan nama kebesaran  Be Tjing Khwee pada 7 Januari 1839. Beberapa purnama kemudian, ia kembali ke Semarang. Di sana ia mendirikan rumah megah lengkap dengan taman indah yang dikenal sebagai Kebon Dalem. Masyarakat Semarang mengenal Be Ing Tjioe sebagai Kapiten Brengkelan. Be Ing Tjioe meninggal di Batavia pada tahun 1857. Jasadnya dibawa ke Semarang dengan sebuah kapal yang disewa khusus dan upacara kematiannya diselenggarakan secara besar-besaran ( Liem Thian Joe, 1931; 153 ).
Deretan bangunan lama berupa ruko di jln.Ahmad Yani. Di ujung atap terdapat hiasan seperti cerobong semu. Lokasi ruko pada foto di atas berada di sebelah utara pasar Baledono.
Ruko-ruko tradisional Tionghoa yang masih utuh di tengah himpitan bangunan baru,


Tiga buah ruko bergaya arsitektur Tiongohoa di dekat perempatan. Karena masih memiliki hubungan keluarga, terkadang dalam satu atap bisa terdiri dua atau tiga ruko.  
Setidaknya, ada dua jenis ruko tradisonal Tionghoa di Pecinan Purworejo, yakni ruko berlantai satu dan berlantai dua.
Seperti itulah asal muasal kawasan pecinan Purworejo. Tetengernya yang paling kentara tentu saja jejeran ruko-ruko tua bergaya Tiongkok selatan itu. Karena orang-orang Tionghoa dahulu mayoritas bekerja sebagai pedagang, maka rumah kediaman mereka merangkap pula sebagai toko. Apabila ruko itu berlantai dua, maka toko ada di bawah dan hunian keluarga ada di lantai dua. Sementara jika ruko itu hanya berlantai tunggal, maka toko ada di depan sementara hunian ada di belakang. Agar udara dapat masuk ke bagian ruag tengah, maka dibuatlah halaman kecil di tengah-tengah. Bentuk atapnya menyerupai kipas, disebut atap tipe shan, bentuk atap yang banyak dipakai pada ruko di daerah Tiongkok selatan. Setiap bangunan memiliki tembok samping yang melebihi atap bangunan atau dalam bahasa mandarin disebut feng huo qiang, tujuannya agar kebakaran tidak merambat luas. Sayang, jumlah ruko-ruko yang asli mulai berkurang. Mereka telah tergantikan dengan ruko-ruko yang bergaya lebih modern dan lebih besar ukurannya demi kebutuhan ruang dan selera empunya.
Pasar Baledono tempo doeloe dan kondisinya sebelum dibongkar.
Papan seng yang tinggi menutupi sebuah bangunan yang tampaknya hampir selesai. Di depan papan seng itu, terlihat para pedagang yang berjualan di emperan jalan, membuat arus lalu lintas sedikit tersendat sehingga terjadilah perebutan ruang jalan antara pedagang dengan kendaraan. Itulah suasana Pasar Baledono saat ini paska terbakar di tahun 2013 silam. Saya sendiri memiliki cukup banyak kenagan akan pasar ini. Paman saya tinggal tidak jauh dari pasar ini dan saya kerap mengunjunginya, sehingga saya sudah familiat dengan suasana pasar Baledono. Masih teringat dalam ingatan saya suara teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya, deretan angkot yang menunggu penumpang di bawah tangga pasar, barisan para kuli panggul yang sedang membongkar barang, tumpukan sampah yang menggunung di sudut pasar, hingga bau amis daging dari kios pedagang daging….
Klenteng Thong Hwee Kiong.
Di belakang pasar itu, terdapat Klenteng Thong Hwee Kiong yang didirikan oleh para pedangang Tionghoa di Purworejo pada tanggal 22 Februari 1888 sebagai ucapan terima kasih kepada Dewa Bumi atas kemakmuran dan keselamtan yang telah dilimpahkan. Pembangunan kelenteng ditanggung oleh masyarakat Tionghoa secara gotong royong. Bentuknya relatif sederhana apabila dibandingkan dengan klenteng di pesisir yang ukurannya besar dan pernak perniknya lebih meriah. Terdiri dari sebuah pendopo kecil di depan, bangunan tempat altar dewa utama dan bangunan samping untuk dewa-dewa tambahan. Dalam sistem religi masyarakat Tionghoa, kelenteng merupakan tempat sembahyang untuk Langit, Bumi, dan Leluhur. Pada perkembangannya, kelenteng menjadi tempat ibadah agama RuDaoShi atau agama Konghuchu ( Ru ), Tao ( Dao ), dan Buddhisme ( Shi ). Apabila melihat nama kelenteng, kiong, unsur agama Tao yang menonjol di sini.
Klenteng Thong Hwee Kiong pada tahun 1930an. Di bagian puncak atap masih belum ada hiasan-hiasan seperti patung hewan-hewan mitos.
Dari luar, warna merah mendominasi keseluruhan bangunan yang bubungan atapnya berbentuk seperti ekor walet. Ornamen sebuah bola api (Huo zhou) yang diapit oleh dua patung dua ekor naga (xing long) bertengger dengan anggun di puncak atap. Di dinding depan ruang altar, terdapat relief hewan mitolgis campuran kuda dan naga, yaitu qilin. Di bagian depan klenteng terdapat paviliun kecil yang dibawahnya terdapat sebuah wadah besar tempat menaruh dupa. Di puncak atap pendopo ini, terdapat hiasan chi wei yakni ikan berkepala naga yang dipercaya sebagai pelindung dari musibah kebakaran. Material klenteng yang sebagian besar terbuat dari kayu memang rawan terbakar, apalagi ibadah orang Tionghoa tak jauh-jauh dari api, sehingga bahaya kebakaran dapat mengancam kelestarian kelenteng ini sewaktu-waktu. Pendopo itu juga merupakan batas antara wilayah sakral dan profan.
Bagian dinding depan klenteng yang kaya akan ornamen bercorak Tionghoa. Dari sini terlihat ruang altar dewa Hok Tek Cing Sin yang menjadi dewa utama klenteng ini.
Suasana kelenteng itu tampak sepi. Saat ini, jumlah orang-orang Tionghoa yang beribadah di klenteng itu kian sedikit karena banyak dari mereka yang sudah berpindah kepercayaan. Jikapun ada yang beribadah di sini, kebanyakan adalah orang-orang tua yang masih teguh memegang kepercayaan leluhurnya. Menurut Ardian Cangianto ( 2015 ), selain berfungsi sebagai tempat peribadatan, sebuah kelenteng sesungguhya menyimpan fungsi yang amat banyak seperti sebagai tempat rapat, sekolah, tempat penampungan yatim piatu, mengurus kematian, dan pusat kegiatan sosial. Dalam kebudayaan Tionghoa, kelenteng adalah inti kehidupan masyarakat Tionghoa, baik yang tinggal di kota atau desa. 
Suasana kawasan Pecinan Purworejo di Buh Penceng pada tahun 1930an. Orang yang berdiri di tengah jalan itu adalah petugas polisi yang sedang mengatur jalan. Toko besar di kanan jalan kini menjadi Toko "Merak". Sementara toko di sebelah kiri jalan bangunan nya belum berubah sampai sekarang. Tiang di kanan jalan adalah tiang telegraf yang juga masih ada hingga sekarang.
Sebuah tiang telegraf tua yang masih tegak berdiri.
Sebuah ruko di dekat Buh Penceng.

Penyusuran kawasan Pecinan saya teruskan lagi ke selatan hingga jembatan Buh Penceng, seruas jembatan yang melintang di atas Kali Kedungputri. Jumlah ruko Tionghoa yang masih utuh di sekitar sini kian sedikit. Tapi ada satu tetenger yang menjadi ciri khas kawasan Buh Penceng. Tetenger itu bukanlah bangunan, melainkan sebuah tugu telegraf yang masih tertancap di tempatnya selama puluhan tahun.
Rumah tua bergaya Indis di Jalan Ahmad Yani. Dari ukuran bangunan yang terbilang besar dan dekorasinya yang banyak dan mewah, rumah ini tampaknya pernah menjadi tempat tinggal seorang Kapiten Tionghoa.
Tiada bangunan yang lebih akbar dan mewah di kawasan Pecinan Purworejo selain bangunan berlanggam Indis Empire Style yang terletak seratus meter ke utara dari perempatan patung W.R. Supratman. Di sini, saya menjumpai beranda depan yang tinggi dengan deretan tiang dari besi cor yang antik di depannya. Tegel-tegel dengan motif yang menarik juga dapat dilihat di sana. Dari langgamnya, ia jelas mendapat sedikit pengaruh kebudayaan Indis yang berkembang pada abad ke-19. Kebudayaan Indis rupanya tak hanya monopoli orang Belanda totok atau Indo saja. Orang-orang Tionghoa, terutama yang dekat dengan lingkaran penguasa kolonial, juga ikut terpengaruh dengan arus kebudayaan tersebut sebagai upaya menyejajarkan dirinya dengan orang Belanda. Bangunan ini tampaknya semula merupakan kediaman seorang kapiten Tionghoa. Seorang kapiten Tionghoa atau Kap-twa selain bertugas sebagai kepala komunitas Tionghoa, ia juga sebagai pemungut pajak yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial. 
Tegel di beranda depan.
Bangunan tersebut pernah dipakai sekolah yang didirikan oleh organisasi Konghucu, Tiong Hoa Hwee Kwan. Salah satu aktivitas organisasi ini yakni mendirikan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa (Heidhues, 1972 ; 257). 
Sekitar, tahun 1930an, bangunan ini dipakai sebagai sekolah milik perkumpulan Tiong Hoa Hwee Kwan yang dibentuk di Batavia pada paruh pertama abad ke-20. Perkumpulan itu dibentuk untuk memajukan pendidikan anak-anak Tionghoa karena dibandingkan anak-anak pribumi, nasib anak-anak orang Tionghoa di masa kolonial lebih sulit lagi karena mereka tidak diperkenankan bersekolah. Alih-alih mengenal sebagai rumah kapiten atau sekolah Tionghoa, masyarakat Purworejo rupanya lebih mengenal bangunan ini sebagai Hotel Indra. Dalam ingatan kolektif mereka, hotel ini pernah menjadi tempat menginapnya grup band legendaris Koes Plus. Bangunan tersebut kini menjadi tempat penjualan karcis bus dengan fasad yang rusah separo akibat gempa tahun 2006.
Kompleks Bong Tawangrejo.
Dari kawasan Pecinan, saya bergerak sedikit menjauh ke utara, tepatnya di Desa Tawangrejo. Di desa yang sebenarnya masih terhitung dekat dengan kota Purworejo itu, terhampar kompleks permakaman Tionghoa yang lazim disebut bong. Lokasinya yang berada di lereng bukit sangatlah ideal untuk tempat permakaman karena lokasi seperti itu dianggap memiliki fengshui yang baik, sehingga dipercaya arwah leluhur dapat mewariskan keberuntungan kepada sanak keluarga yang masih hidup.  Tanah yang lokasi fengshui nya baik biasanya ditawarkan kepada anggota masyarakat yang berada.
Medan kompleks bong yang naik turun membuat saya terengah-engah ketika menjelajahi setiap bong yang ada di sana. Bong tradisional Tionghoa memiliki ciri tersendiri jika dibandingkan dengan makam-makam lain. Ciri utamanya ialah berbentuk seperti gundukan kecil dan apabila dilihat dari atas berbentuk seperti rahim perempuan. Hal tersebut terkait dengan konsep kelahiran kembali sesudah kematian atau reinkarnasi yang dipercaya oleh orang Tionghoa. Selain itu, di depan bong pai atau prasasti makam, terdapat altar untuk sembahyang dan meletakan sesaji serta di sampingnya terdapat altar dewa bumi. Kuburan itu kadang bisa diisi dua jenazah suami istri (Pratiwo. 2010; 75). Sebuah bong kadangkala diberi pernak-pernik antara lain patung hewan-hewan seperti naga, Chi Lin (anjing berkepala singa) dan burung phonix, motif tumbuhan seperti labu dan teratai. Hiasan-hiasan ini memiliki makna dan simbol tertentu yang dianggap bisa mendatangkan berkah untuk keluarga yang masih hidup. Misalnya hiasan Chi Lin dianggap bisa mendatangkan berkah, keselamatan, kesehatan dan keamanan. Ketika semakin banyak orang Tionghoa yang menganut agama Kristen, maka bentuk kuburan-kuburan pun ikut berubah. Kali ini bentuknya menyerupai atap sebuah gereja dengan salib di bagian atasnya. Adanya makam-makam baru di antara makam-makam lama dengan latar belakang keagamaan yang berbeda setidaknya menunjukan bahwa anak cucu masih ingin dekat dengan leluhur sekalipun mereka sudah meninggalkan keyakinan leluhurnya.

Bong pai merupakan sebutan untuk prasasti yang terpancang di depan makam. Ia biasanya terbuat dari batu andesit. Sayang, karena saya tak dapat membaca aksara mandarin, maka saya tak dapat mengetahui siapakah yang dimakamkan di situ. Dari literatur yang saya tahu, isi tulisan pada sebuah bong pai lumayan kompleks dan ada aturan tersendiri dalam penulisannya. Selain tertulis nama orang dan tanggal kematian, di situ juga tertulis nama sanak keluarga dari si meninggal. Dalam tradisi Tionghoa, ikatan keluraga adalah hal yang sangat penting, sehingga jikapun telah ditinggal mati, maka diharapkan ikatan keluarga masih bisa terjaga. Sengakalan kematian yang ditulis di bong pai disesuaikan dengan tahun kaisar yang memerintah di Tiongkok sana. Sebagai contoh ada seseorang yang meninggal pada tahun 1880. Sementara itu, ketika orang itu meninggal yang menjadi kaisar adalah kaisar Guangxu yang naik tahta pada pada tahun 1875, maka tahun meninggal yang ditulis di makam adalah “Tahun ke-5 Kaisar Guangxu”.

Demikianlah hasil penyusuran saya pada berbagai warisan budaya Tionghoa di kota Purworejo. Saya percaya bahwa apa yang saya temukan hanyalah yang ada di permukaan saja, belum dengan warisan budaya lainnya yang belum tersingkap. Semoga berbagai kekayaan warisan budaya ini dapat dilestarikan dengan baik sebagai bukti persatuan bangsa kita…

Referensi
Becking. 1923. " Eene Beschrijving van Poerworedjo en Omstreken " dalam Indie 21 Februari 1923.

Cangianto, Ardian. 2013. Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Budaya Masyarakat Tionghoa dalam web.budaya-tionghoa.net.

Handinoto. 1999. " Lingkungan "Pecinan " dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial " dalam Dimensi Teknik Sipil Vol. 27, no.1 Juli 1999.


King Hian. 2012. " Penjelasan tentang Bongpay " dalam web.budaya-tionghoa.net

Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij.




Shanti, Desril Riva. 2011. " Bong di Bogor ;Kajian Mengenai Ragam Hias dan Arti Simbol " dalam Selisik Masa Lalu. Sumedang : Alqaprint.