Minggu, 17 April 2016

Dibalik Keantikan Stasiun Ambarawa


Tulisan saya di Jejak Kolonial kali ini mengajak anda untuk mengamati keantikan bangunan Stasiun Ambarawa yang kini menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Tulisan saya kali ini hanya berfokus sejarah dan bangunan stasiun ini, jadi mohon maaf jika tulisan saya kali ini tidak akan membahas soal kereta yang dipajang di sini (lagipula jika ingin tahu lebih banyak soal kereta ini, berkunjunglah ke museum sini :-) ). Dibalik keantikannya, rupanya stasiun Ambarawa menyimpan kisah lain yang masih belum banyak diketahui orang. Kira-kira kisah apa itu ? 
      
Berawal dari sebuah benteng
Lokasi stasiun Ambarawa pada peta tahun 1909. Perhatikan lokasi stasiun yang dekat dengan benteng Willem I. Stasiun ini sengaja dibangun dekat dengan benteng untuk melayani kebutuhan militer. Dahulu terdapat dua akses ke stasiun ini, yakni di sebelah utara (kini jalan Stasiun) yang kebanyakan digunakan untuk kalangan sipil dan di sebelah selatan (kini jalan Margoroto) yang digunakan oleh kalangan militer (sumber : maps.library.leiden.edu).
Untuk mengetahui kisah awal dari stasiun Ambarawa, ada baiknya kita kembali ke tahun 1844, jauh sebelum moda transportasi kereta api datang ke Hindia-Belanda. Pada waktu itu, militer Belanda baru saja menyelesaikan sebuah benteng yang kini dikenal sebagai benteng Willem I. Benteng ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch sebagai bagian dari sistem pertahanan Pulau Jawa dari invasi bangsa Eropa lain seperti Inggris. Apalagi setelah dia mendapat kabar bahwa di Benua Eropa sedang terjadi krisis politik. Khawatir Pulau Jawa akan takluk lagi oleh Inggris seperti yang terjadi di tahun 1811, maka dia membangun sebuah sistem pertahanan dengan benteng Willem I sebagai bagian darinya (Kemendkibud, 2014; 133).
Stasiun Ambarawa sebelum direnovasi. Perhatikan bentuk stasiun yang masih sederhana sekali (sumber : media-kitlv.nl).
Lambat laun, Ambarawa berkembang sebagai basis militer Belanda di Pulau Jawa bagian tengah. Di Ambarawa juga mulai bermunculan perkebunan kopi setelah Van den Bosch menerapkan cultuurstelsel. Kopi merupakan tanaman komoditi ekspor yang dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi seperti Ambarawa. Meski hasil panen kopi melimpah, rupanya hal ini tidak didukung dengan sistem transportasi yang ada. Pada waktu itu, transportasi yang diandalkan adalah pedati atau tenaga kuli angkut yang jalannya pelan, sehingga kopi-kopi ini sudah banyak yang membusuk sebelum sampai ke pelabuhan. Guna mendukung kegiatan perkebunan tadi, pada tahun 1870, perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indische Maatschapij (N. I. S. M) membuka sebuah jalur percabangan kereta api dari Kedungjati, Grobogan pada tahun 1873, tiga tahun setelah N. I. S. M membuka jalur Kedungjati-Surakarta.

Suasana stasiun Ambarawa yang terekam pada video Reis Willem I Djocja.Terlihat kereta api yang akan memasuki peron stasiun.
Pada tanggal 21 Mei 1873, Stasiun Ambarawa selesai dibangun. Pada awalnya, stasiun ini bernama stasiun Willem I. Nama ini diadopsi dari nama benteng yang ada di dekat stasiun ini, Fort Willem I. Setelah itu, pembangunan jalur kereta api ini masih diteruskan ke selatan hingga Magelang. Keberadaan stasiun ini berdampak pada lancarnya pengiriman kopi dari perkebunan sekitar Ambarawa ke pelabuhan di Semarang. Selain itu, stasiun ini juga memudahkan mobilitas militer dan pengiriman barang-barang keperluan militer seperti ransum, amunisi dan persenjataan ke basis – basis militer Belanda di kota-kota lain seperti Magelang (Sri Chirullia Iskandar, 2011; 102-103).

Berita kehilangan sebuah paket yang berisi kain senilai ratusan gulden di stasiun Ambarawa. (sumber :  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie 27 Juni 1914).
Jalur kereta api Kedungjati-Ambarawa dan Ambarawa Secang juga menyimpan daya tarik tersendiri, terutama untuk turis barat tempo doeloe. Jalur kereta api ini menawarkan pemandangan lanskap pegunungan yang berada di sekitar Ambarawa. Pemandangan ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri, terutama untuk para turis barat dari Belanda yang di negeri asalnya tidak memiliki lanskap pegunungan. Seperti yang ditulis dalam panduan wisata terbitan Koninklijke Paketvaart Mij, para turis biasanya singgah sejenak di Ambarawa, menikmati pemandangan hamparan sawah yang luas dan birunya danau Rawa Pening. Di sore hari, dengan tarif sebesar f-4, mereka bisa berkendara mengelilingi kota dan mampir melihat-lihat benteng Willem I (Koninklijke Paketvaart Mij, 1911; 69-70).

Dari Stasiun ke Museum

Memasuki tahun 1970an, banyak lokomotif uap yang tidak dioperasikan lagi akibat biaya operasional yang tinggi serta munculnya teknologi lokomotif bermesin diesel-hidraulik yang menggantikan lokomotif  bermesin uap. Lokomotif tua tadi ada yang berakhir menjadi pajangan. Tidak jarang pula lokomotif tadi hanya dianggap sebagai rongsokan besi tua sehingga banyak yang dilebur. Untuk menyelamatkan artifak-artifak perkereta-apian ini, maka atas prakarsa Gubernur Jateng pada waktu itu, Soepardjo Rustam dan Kepala Eksploitasi Tengah PJKA, Ir.Soeharso, maka tanggal 8 April 1976 dibahas rencana untuk mendirikan sebuah Museum Kereta Api. Awalnya Museum ini akan digabungkan dengan Museum Transportasi di Jakarta, namun akhirnya urung karena dianggap kurang layak. Dengan pertimbangan sejarah dan keaslian bangunan masih terjaga, maka dipilihlah Stasiun Ambarawa sebagai lokasi Museum Kereta Api. Akhirnya Stasiun Ambarawa resmi berubah fungsinya sebagai Museum pada tanggal 9 Oktober 1976 (Gendro Keling, 2011;100). Hingga sekarang, Stasiun Ambarawa masih eksis sebagai Museum Kereta Api terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggar.

Dibalik keantikan Stasiun Ambarawa


Saya sendiri berkunjung pertama kali ke Stasiun Ambarawa pada tahun 2015 lalu bersama komunitas Kota Tua Magelang yang menyelenggarkaan Jelajah Jalur Spoor Bedono-Ambarawa. Setelah menempuh jarak berkilo-kilometer dengan berjalan kaki dari Stasiun Bedono, menyusuri bekas jalur kereta, sampailah saya di Stasiun Ambarawa. Rasa capek saya hilang setelah melihat sendiri keantikan bangunan stasiun ini.

Pintu masuk utama stasiun Ambarawa.

Ketika saya berkunjung ke sini, pintu masuk stasiun ini berada di sebelah timur, menempati sebuah bangunan bekas depo lokomotif.  Di sini, pengunjung dipungut biaya sebesar 10.000 rupiah. Akses stasiun Ambarawa cukup mudah. Dari Monumen Palagan Ambarawa tinggal jalan terus ke selatan, ikuti petunjuk arah yang tersedia. Di luar area stasiun, terlihat banyak pedagang yang menjual cinderamata. Ya, keberadaan stasiun ini menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya, bukan hanya untuk pemiliknya saja.

Overkapping stasiun Ambarawa dilihat dari arah barat laut.
Bangunan stasiun Ambarawa yang kita lihat sekarang ini sebenarnya adalah bangunan hasil perombakan oleh N. I. S pada tahun 1905. Bangunan stasiun ini sebelumnya masih sederhana dan terbuat dari bahan semi permanen. Perombakan ini bertujuan agar stasiun terlihat lebih menarik dan representatif sehingga penumpang semakin nyaman dan makin banyak orang yang menggunakan moda transportasi kereta api. Selain itu, tampaknya perombakan yang dilakukan oleh N. I. S terinspirasi dengan yang dilakukan oleh Perancis pada tahun 1850an, dimana sebelumnya stasiun kereta bentuknya masih kasar. Sejak tahun 1850, bentuk stasiun di Perancis dibuat lebih anggun dan megah (Burchell. S. C, 1984; 60).
Struktur kuda-kuda stasiun Ambarawa yang terbuat dari baja.
Tiang-tiang baja penyangga konstruksi atap.
Stasiun bertipe pulau ini dahulu memiliki dua jenis jalur rel di emplasemen-nya,yakni jalur rel 1435 mm di Emplasemen selatan dan 1067 mm di emplasmen utara. Dari Kedungjati ke Ambarawa menggunakan rel 1435 mm, sementara dari Ambarawa menuju Yogyakarta melalui Magelang menggunakan  rel 1067 mm karena medan yang dilalui berupa perbukitan sehingga jalur kereta api dibuat meliuk-liuk agar kereta lebih mudah untuk melewati perbukitan dan supaya lebih mudah berbelok di lekukan, maka digunakanlah kereta dengan lebar yang lebih kecil.

Denah stasiun Ambarawa, klik untuk memperjelas.
Konsep bangunan stasiun Ambarawa cukup unik, yakni terdiri dari bangunan-bangunan kecil yang dinaungi oleh sebuah atap baja besar atau overkapping dengan bentangan selebar 21,75 meter. Konstruksi atap ini dikerjakan oleh Werkspoor Amsterdam yang juga memproduksi lokomotif. Konsep bangunan stasiun ini juga dipakai pada bangunan stasiun Kedungjati dan Purwosari. Namun bentangan overkapping dua stasiun ini lebih kecil daripada milik Stasiun Ambarawa.
Bangunan untuk ruang tiket, ruang administrasi dan ruang kepala stasiun.
Ruang penjualan tiket khusus orang kulit putih.
Bangunan kayu kecil ini dipakai untuk ruang PPKA. Dari sinilah sinyal kereta yang hendak masuk atau keluar dari stasiun Ambarawa diatur. Sinyal yang dipakai merupakan sinyal mekanik.
Di bawah atap baja tadi, kita akan menemukan dua buah bangunan kecil dengan fungsi yang terpisah. Bangunan kecil yang ada sebelah timur digunakan untuk ruang tiket, ruang administrasi dan ruang kepala stasiun. Sementara bangunan kecil di sebelah barat digunakan untuk ruang tunggu penumpang.

Suasana peron stasiun.
Lantai peron stasiun Ambarawa.
Berjalan di bawah atap stasiun ini, kita akan dibuat terpesona dengan keantikan stasiun ini. Bagian lantai peron stasiun Ambarawa seratus persen masih dilapisi dengan tegel tahu yang diimpor dari Belanda.  Bangunan kantor dan ruang tunggu, meski kecil namun terlihat antik. Kombinasi bata bergalzur kuning di bawah, ekpose bata merah, dan dinding berwarna putih bersih terlihat serasi. Hiasan semacam alis di atas pintu dan jendela membuat bangunan ini terasa hidup. Ya, keantikan stasiun ini benar-benar membuat kita akan jatuh hati kepadanya.



Bangunan untuk ruang tunggu penumpang kulit putih.
Di peron ini, kita bisa membayangkan sebagai seorang meneer yang sedang menunggu kereta. Hawa udara Ambarawa yang sejuk membuat meneer tadi nyaris tertidur lelap di bangku stasiun. Agar tidak terlelap, dia membaca Koran De Locomotief  yang dia dapatkan dari ruang tunggu kelas I. Di salah satu sudut stasiun, terlihat tumpukan bagasi penumpang yang hendak diangkut. Dari ruang kepala Stasiun, keluar sosok berpakaian seragam serba putih dengan wajah terlihat galak. Sosok ini tidak lain adalah kepala stasiun yang sedang mencari para penumpang gelap. Di ruang tiket, tampak antrian penumpang yang tidak begitu panjang. Tidak lama kemudia, dari kejauhan terdengar suara kereta yang akan berhenti di stasiun ini. Meneer tadi mulai bergegas untuk naik ke kereta dengan barang bawaan yang diangkut oleh kuli.
Toilet di dalam ruang tunggu. Toilet ini sudah dipisah berdasarkan gender.
Langit-langit ruangan yang terbuat dari kayu jati.


Tegel dengan ornamen yang cantik ini menambah kesan mewah pada ruang tunggu untuk kulit putih.
Bagian dalam ruang tunggu dengan meja bartender. 
Dibalik keantikan stasiun Ambarawa, sebenarnya ada aroma diskriminasi yang cukup keras yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap orang pribumi. Hal ini terlihat dari pemisahan ruang tiket, ruang tunggu dan toilet untuk orang kulit putih dan orang pribumi.

Orang-orang kulit putih memiliki ruang tunggu tersendiri yang sangat mewah. Lantai tegel bagian dalam sangat anggun sekali sehingga saya sendiri saja tidak tega untuk menginjaknya. Ruang tunggu ini bentuknya menyerupai sebuah bar kecil. Di ruang tunggu yang sekarang nyaris kosong melompong ini, dahulunya terdapat meja dan kursi-kursi antik. Pada salah satu pojokan, terdapat meja bartender. Di sini para penumpang kereta bisa memesan berbagai minuman seperti gin, genever, bir,wine, atau anggur yang menjadi favorit orang kulit putih. Di dalam ruang tunggu ini juga terdapat sebuah toilet yang sudah dipisah untuk laki-laki dan perempuan.
Ruang tunggu untuk orang pribumi.
Bangunan toilet untuk orang pribumi.
Lalu dimanakah orang-orang pribumi menunggu ? Mereka hanya mendapat sebuah ruang tunggu terbuka nan sederhana yang terletak di ujung barat stasiun. Ruang tunggu ini bahkan tidak bisa dikatakan sebagai ruangan karena bentuknya hanya berupa sebuah pagar terbuka. WC mereka pun juga terpisah. Orang-orang pribumi ini sekalipun sudah memesan tiket kelas I, tetap tidak ada yang berani menunggu di ruang tunggu untuk orang kulit putih dan jikapun berani, mereka akan diusir oleh pegawai stasiun. Ya, begitulah kira-kira gambaran diskriminasi masa kolonial pada stasiun ini.

Depo staisun Ambarawa. Depo ini didesain khusus agar bisa memperbaiki lokomotif dengan gauge 1435 mm dan 1067 mm.
Turntable atau meja putar. Meja putar ini masih bisa diputar sampai sekarang.
Keluar dari bangunan utama stasiun, kita akan mencoba untuk menyusuri bagian dari emplasemen stasiun Ambarawa. Di sini kita akan menjumpai beberapa komponen penunjang seperti meja putar atau turntable yang berfungsi untuk memutar arah hadap lokomotif. Komponen ini sangat berguna di sini karena ketika kereta akan berjalan menuju ke Bedono,maka posisi lokomotif berada di belakang supaya kereta lebih mudah berjalan menanjak. Stasiun ini juga memiliki fasilitas depo untuk perbaikan dan perawatan kereta. Depo stasiun Ambarawa dapat menampung 5 kereta. Ukuran yang cukup besar untuk sebuah depo kereta. Depo ini juga memiliki ruangan untuk kantor kepala depo.


Gudang stasiun Ambarawa yang berada di sebelah barat stasiun, sisi selatan jalur kereta.
Sebagai bangunan penunjang, stasiun Ambarawa memiliki dua buah gudang. Gudang ini dapat kita temukan di sebelah selatan dan barat stasiun. Gudang-gudang ini dahulu digunakan untuk menyimpan berbagai barang seperti hasil panen perkebunan yang kemudian dikirim ke Semarang. Masing – masing gudang memiliki pintu model geser sehingga ketika pintu dibuka tidak berbenturan dengan gerbong barang. Oh ya, batur gudang yang menghadap ke rel ini disejajarkan dengan tinggi boogie kereta untuk memudahkan pemindahan barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya. Sementara batur gudang yang menghadap ke jalan disejajarkan dengan tinggi truk. Hal ini juga bertujuan untuk memudahkan pemindahan barang dari truk ke gudang atau sebaliknya.

Rumah dinas dengan bentuk atap hipped gable yang kondisinya kurang terawat.
Rumah dinas yang bentuknya serupa dengan rumah di atas. Bagian depan rumah ini tertutup oleh bangunan kios sehingga agak susah untuk melihatnya dari pinggir jalan.
Rumah dinas yang baru saja direnovasi. Di samping rumah ini (yang masih satu atap) juga ada rumah yang bentuknya serupa, namun sudah tertutup oleh bangunan baru sehingga fasadnya tidak terlihat.
Tentu tidak lengkap rasanya jika Stasiun Ambarawa tidak memiliki fasilitas rumah dinas untuk pegawai stasiun. Stasiun ini sendiri memiliki 3 buah rumah dinas yang dapat kita lihat di sebelah selatan stasiun. Secara arsitektural, bentuk rumah dinas di Ambarawa terdiri dari dua jenis. Bentuk pertama yakni rumah dinas dengan bentuk atap hipped gable dan kedua yakni rumah dinas dengan bentuk kombinasi atap pelana dan atap limasan.

Dibalik keantikannya, rupanya stasiun Ambarawa menyimpan kisah sejarah yang cukup panjang. Selain itu, stasiun ternyata juga mengandung sedikit praktik apartheid yang diterapkan oleh Belanda terhadap orang pribumi.  Semoga saja praktik ini tidak ada lagi di masa sekarang karena sesungguhnya, apapun kulit warnamu, baik berkulit putih maupun berkulit sawo matang, semuanya itu sama dimata Tuhan.

Referensi

Burchell, S. C. 1984. Abad Kemajuan. Tira Pustaka. Jakarta.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. 2014. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda.

Gendro Keling. 2011. Latar Belakang Alih Fungsi Stasiun Kereta Api Willem I Menjadi Museum Kereta Api Ambarawa dalam Forum Arkeologi TH.XXIV No.2 Agustus 2011.

Koninklijke Paketvaart Mij. 1911. Guide Through Netherlands India, J. H. de-Bussy. Amsterdam.

Sri Chirullia Iskandar. Pendirian Stasiun Willem I di Kota Ambarawa dalam Papua TH.III No.1/Juni 2011.

Kamis, 07 April 2016

Menyusuri Warisan Budaya Tionghoa di Kota Purworejo


Pengantar
Jika sebelumnya tulisan saya di Jejak Kolonial lebih banyak mengajak anda untuk menjelajahi berbagai peninggalan kolonial Belanda seperti benteng, loji, pabrik gula, stasiun kereta dan kerkhoff. Maka kali ini saya akan mencoba untuk mengajak anda untuk menjelajahi berbagai warisan budaya Tionghoa yang kebanyakan berasal dari masa kolonial seperti pemukiman Tionghoa atau pecinan, klenteng dan makam bongpay yang tidak kalah menarik untuk dibahas. Nah, berhubung di kota saya, Purworejo, ada cukup banyak warisan budaya Tionghoa yang masih tersisa, maka saya akan mengajak anda untuk menyusurinya. Kira-kira seperti apakah warisan budaya Tionghoa yang masih ada di kota Purworejo dan seperti apa kisahnya ?


Selayang Pandang Sejarah Masyarakat Tionghoa di Purworejo

Suasana kawasan Pecinan Purworejo di Buh Penceng pada tahun 1930an. Orang yang berdiri di tengah jalan itu adalah petugas polisi yang sedang mengatur jalan. Toko besar di kanan jalan kini menjadi Toko "Merak". Sementara toko di sebelah kiri jalan bangunan nya belum berubah sampai sekarang. Tiang di kanan jalan adalah tiang telegraf yang juga masih ada hingga sekarang.
Sebelum membahas warisan budaya Tionghoa yang ada di Purworejo, ada baiknya kita untuk mengetahui sekilas riwayat kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara. Orang Tionghoa sudah berlayar dari Tiongkok Selatan ke Pulau Jawa jauh sebelum orang Eropa berlayar ke timur. Kedatangan mereka ke Jawa dengan tujuan untuk berdagang porselen dan sutra untuk ditukar dengan beras dan hasil pertanian lain. Karena pelayaran pada waktu itu tergantung oleh angin musim, mereka harus meunggu angin yang tepat untuk kembali ke kampung halaman. Ketika menunggu, mereka terpikat dengan perempuan setempat, membangun keluarga dan akhirnya terbentuklah pemukiman orang Tionghoa. Meskipun memiliki kebudayaan yang berbeda, orang Tionghoa dan pribumi dapat hidup berdampingan dengan damai ( Pratiwo, 2010; 9-10 ).
Suasana Pecinan Purworejo pada tahun 1910an. Terlihat di pinggir jalan berdiri beberapa pohon asam yang kini semakin jarang dijumpai (sumber :media-kitlv.nl).
Jika dibandingkan dengan kedatangan orang-orang Tionghoa di pesisir utara yang sudah ada sejak abad ke-14 M, maka kedatangan orang-orang Tionghoa ke daerah pedalaman seperti Bagelen dapat dikatakan terlambat karena mereka baru masuk  di abad ke 18 M. Bukti awal kedatangan masyarakat Tionghoa di bumi Bagelen ialah keberadaan prasasti-prasasti makam Tionghoa atau bong pay tua di Desa Jana, Kecamatan Bayan, Purworejo. Orang-orang Tionghoa ini sebagian besar berasal dari Batavia. Mereka semua datang ke sini untuk menghindari kejaran Belanda paska terjadinya Geger Pecinan pada tahun 1740. Orang-orang Tionghoa ini memiliki profesi sebagian besar berprofesi sebagai tukang dan pedagang perantara. Di tahun 1826, pemerintah kolonial Belanda menerapkan UU Wijkenstesel yang mengatur agar orang-orang Tionghoa dilarang tinggal di pedesaan dan harus pindah ke kota yang menjadi pusat kekuasaan pemerintah kolonial. Mereka juga harus tinggal mengelompok agar mudah diawasi. Dari sinilah kawasan pecinan di perkotaan mulai menampakan karakternya (Handinoto,1999;24).
Lokasi kawasan Pecinan Purworejo dan kompleks bong (sumber : maps.library.leiden.edu)
Selain akibat Wijkenstelsel, perpindahan orang-orang Tionghoa dari Jana ke Purworejo pada tahun 1829 juga disebabkan oleh adanya semacam peristiwa Geger Pecinan yang terjadi di Jana. Meskipun persitiwa Geger Pecinan versi Purworejo ini tidak separah di Batavia, namun cukup banyak orang Tionghoa yang menjadi korban. Semua rumah orang Tionghoa dihancurkan hingga rata dengan tanah. Tidak diketahui apa pemicu dari peristiwa ini. Namun yang jelas, akibat persitiwa ini, banyak orang Tionghoa di Jana yang akhirnya berpindah ke tempat-tempat yang lebih aman (Becking, 1923; 751). Orang Tionghoa diperintahkan tinggal di sepanjang jalan ke arah Magelang  sebagai bemper pemukiman Belanda dari ancaman perlawanan orang pribumi pasca Perang Diponegoro. Wilayah Purworejo utara pada waktu itu masih menjadi basis gerilyawan Diponegoro setelah Pangeran Diponegoro ditangkap. Lama kelamaan, wilayah tersebut bertambah ramai oleh kegiatan perdagangan sehingga terbentuklah suatu pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Baledono. Di sepanjang jalan ke arah Pasar Baledono, berdiri ruko-ruko milik orang Tionghoa. Jumlah orang Tionghoa di Purworejo semakin bertambah dengan datangnya gelombang orang Tionghoa dari Solo dan Semarang. Karena jumlahnya semakin banyak, maka untuk memudahkan pengontrolan atas wilayah pecinan, pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1837, menujuk Be Ing Tjoe sebaga Kapiten Tionghoa pertama di Purworejo (Becking, 1923; 751).

Nah setelah mengetahui sekilas tentang sejarah komuntias Tionghoa di Purworejo, mari kita susuri warisan budaya Tionghoa apa saja yang terdapat di Purworejo.


Kawasan Pecinan Purworejo

Penyusuran pertama kita adalah di kawasan pecinan Purworejo yang terletak di sepanjang jalan Ahmad Yani, yang membentang dari perempatan jalan Magelang hingga perempatan Monumen WR. Supratman, dengan pola membujur utara-selatan. Luas kawasan pecinan Purworejo relatif kecil jika dibandingkan dengan Magelang atau Muntilan, apalagi jika dibandingkan dengan di Semarang. Hal ini dikarenakan Purworejo bukanlah kota perdagangan utama. Pada peta-peta lama, kawasan Pecinan biasa disebut Chinese Kamp.

Di kawasan Pecinan Purworejo, kita akan menemukan deretan ruko-ruko tradisional Tionghoa yang biasanya juga ditemukan pada kota-kota lain. Keberadaan ruko-ruko ini erat kaitannya dengan latar belakang orang Tionghoa di Purworejo yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Secara arsitektural, bentuk arsitektur ruko-ruko ini mirip dengan ruko-ruko di Cina Selatan yang memiliki ciri-ciri antara lain tipe atap shan dan dibangun saling berhimpitan sehingga terkesan padat. Wajar saja karena sebagian besar orang-orang Tionghoa yang datang ke Purworejo memang berasal dari daerah ini (Cina Selatan). Bangunan ruko bisa berlantai satu atau berlantai dua. Kebanyakan bangunan ruko di Pecinan Purworejo adalah bangunan ruko berlantai satu.
Deretan bangunan lama berupa ruko di jln.Ahmad Yani. Di ujung atap terdapat hiasan seperti cerobong semu. Lokasi ruko pada foto di atas berada di sebelah utara pasar Baledono.
Ruko-ruko ini memiliki fungsi ganda, yakni aktivitas komersil dan domestik. Aktivitas komersil dilakukan di lantai satu atau bagian depan. Adapun aktivitas berumah tinggal dilakukan di bagian belakang atau di lantai dua. Tatanan ruang di bagian dalam diatur berdasarkan kepercayaan kepada fengshui. Masing-masing ruko memiliki tembok samping yang melebihi atap bangunan atau dalam bahasa mandarin disebut feng huo qiang yang dibangun untuk mencegah merambatnya kebakaran.
Tiga buah ruko bergaya arsitektur Tiongohoa di dekat perempatan. Karena masih memiliki hubungan keluarga, terkadang dalam satu atap bisa terdiri dua atau tiga ruko.  
Penyusuran kita mulai dari ujung utara kawasan Pecinan Purworejo yang berada di perempatan Kembang yang menjadi ujung utara dair jalan Ahmad Yani. Di dekat perempatan ini, masih bisa kita jumpai beberapa bangunan ruko tradisional Tionghoa. Beberapa di antaranya ada yang masih dihuni dan ada juga yang sudah tidak ditempati lagi oleh pemiliknya.  Di sepanjang jalan ini, kita dapat mencium aroma rempah dan tanaman herbal yang sedang dijemur. Orang-orang Tionghoa sejak dahulu hingga sekarang memang terkenal sebagai penjual obat herbal berkhasiat. Selain itu, tercium juga aroma-aroma cengkeh kering yang sedang dijemur. Cengkeh-cengkeh ini biasanya dijual untuk bahan campuran rokok.
Ruko-ruko bergaya arsitetkur tradisional Tionghoa di depan pasar Baledono.
Menuju ke arah Pasar Baledono, jumlah ruko-ruko lama mulai berkurang dan berganti dengan ruko yang bentuknya lebih modern. Perubahan bentuk ini bukannya tanpa sebab. Seiring berjalannya waktu, usaha yang dijalankan semakin berkembang, sehingga ruko-ruko lama banyak yang dirombak untuk memperluas ruang usaha. Selain itu, berkurangnya ruko-ruko lama ini juga disebabkan oleh bergesernya mode yang ada di masyarakat. Mode arsitektur Tionghoa tradisional pada ruko-ruko lama oleh sebagian orang dianggap sudah ketinggalan zaman, sehingga ruko lama dirubah bentuknya menjadi lebih modern untuk mengikuti perkembangan zaman. Memang untuk saya sendiri yang suka bangunan antik hal ini sungguh menyedihkan mengingat yang namanya perkembangan zaman tidak bisa dihindarkan. Meski demikian, bukan berarti kita terhanyut oleh arus zaman begitu saja.
Pasar Baledono tempo doeloe dan kondisinya sekarang. Sejak dahulu, pasar ini sudah menjadi jantung perekenomian Purworejo hingga sekarang. Pasar ini terbakar pada tahun 2013 kemarin dan hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan.
Penyusuran kita sekarang sampai di Pasar Baledono yang saat ini dibangun kemabli. Saya sendiri cukup banyak menyimpan memori tentang pasar ini karena saya memiliki saudara yang tinggal tidak jauh dari pasar ini dan sering berkunjung ke sini, sehingga saya melihat sendiri seperti apa suasana pasar Baledono. Masih teringat dalam bayangan saya suara teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya, deretan angkot yang menunggu penumpang di bawah tangga pasar, barisan para kuli panggul yang sedang membongkar barang, tumpukan sampah yang menggunung di sudut pasar, hingga bau tidak sedap yang muncul dari kios pedagang daging. Selama pasar ini belum dibangun kembali, suasana tadi tetap akan menjadi ingatan saja.

Kembali lagi ke pembahasan pecinan Purworejo, di seberang pasar Baledono, masih ada beberapa ruko tradisional lama yang berdiri di tengah-tengah ruko modern. Dahulu, ketika pasar Baledono belum terbakar, jalan di depan sini sangatlah semrawut, khas jalanan dekat pasar di Indonesia. Pejalan kaki yang berjalan seenaknya, kendaraan yang parkir dan berhenti sembarangan, hingga deretan lapak PKL yang menggelar dagangannya di atas trotoar.
Sebuah tiang telegraf tua yang masih tegak berdiri.
Sebuah ruko di dekat Buh Penceng.
Penyusuran kawasan Pecinan kita teruskan lagi ke selatan sampai jembatan Buh Penceng yang berada di atas Kali Kedungputri. Di sini memang sedikit sekali ruko Tionghoa yang masih berdiri. Tapi kita masih bisa menyaksikan satu tetenger yang menjadi ciri khas kawasan Buh Penceng. Tetenger itu bukanlah bangunan Tionghoa monumental, melainkan sebuah tugu telegraf yang sudah berdiri di tempatnya selama puluhan tahun.

Rumah tua bergaya Indis di Jalan Ahmad Yani. Dari ukuran bangunan yang terbilang besar dan dekorasinya yang banyak dan mewah, rumah ini tampaknya pernah menjadi tempat tinggal seorang Kapiten Tionghoa.
Berjalan ke selatan, sebelum sampai perempatan patung WR. Supratman yang menjadi ujung selatan kawasan pecinan Purworejo, kita dapat melihat sebuah bangunan tua besar yang gaya arsitekturnya berbeda jauh dengan bangunan – bangunan lain di pecinan Purworejo yang didominasi oleh ruko. Bangunan tua ini halamannya luas, memiliki beranda depan yang tinggi dan luas, serta terlihat deretan tiang dari besi cor yang antic di beranda depan yang menjadi ciri utama dari arsitektur Indis Neo-Klassik, sebuah gaya arsitektur yang pernah berkembang pada abad ke-19. Melihat bangunannya yang begitu besar dan mewah, tampaknya bangunan ini menjadi tempat tinggal seroang mayor Tionghoa. Mayor ini selain bertugas sebagai kepala masyarakat Tionghoa juga sebagai pemungut pajak yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial. Di bagian depan tampak tegel-tegel lama yang masih terlihat cantik. Separo bangunan ini masih menjadi tempat tinggal sementara separonya kosong. Di samping bangunan ini terdapat konter penjualan tiket bis. Pada tahun 1980an, bangunan ini pernah digunakan sebagai Hotel Indra. Di hotel inilah dahulu Koes Plus pernah menginap ketika berkunjung di Purworejo.

Tegel di beranda depan.
Bangunan ini rupanya pernah dipakai sekolah. Sekolah ini didirikan oleh organisasi Konghucu, Tiong Hoa Hwee Kwan. Salah satu aktivitas organisasi ini yakni mendirikan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa (Heidhues, Mary F. Somers, 1972 ;257). 
Klenteng
Tidak lengkap rasanya jika penyusuran kita kali ini tidak mampir ke kelenteng. Ya, kelenteng selain merupakan tempat ibadah juga menjadi pusat kegiatan masyarakat Tionghoa. Klenteng Purworejo atau dikenal juga sebagai klenteng Thong Hwee Kiong didirikan oleh para pedangang Tionghoa pada tangga 22 Februari 1888. Dalam sistem religi masyarakat Tionghoa, kelenteng merupakan tempat sembahyang untuk Langit, Bumi, dan Leluhur. Pada perkembangannya, kelenteng menjadi tempat ibadah agama RuDaoShi atau agama Konghuchu, Tao, dan Buddhisme. Dari nama kelenteng ini ( Kiong ), unsur agama Tao lebih dominan pada kelenteng ini.
Klenteng Thong Hwee Kiong pada tahun 1930an. Di bagian puncak atap masih belum ada hiasan-hiasan seperti patung hewan-hewan mitos.
Bangunan kelenteng Purworejo terdiri dari bangunan untuk altar ‘tuan rumah’ kelenteng, yakni Dewa Hok Tek Ceng Sin. Di sebelah kanan dan kiri kelenteng, terdapat bangunan samping untuk dewa lainnya. Di depan kelenteng, terdapat paviliun. Paviliun ini merupakan batas area profan, yakni halaman depan kelenteng dengan area sakral.
Bangunan klenteng saat ini.
Bangunan kelenteng ini sarat dengan hiasan seni. Misalnya di dinding depan kelenteng melihat sepasang relief qilin, hewan mitologi campuran naga dan kuda. Di samping kanan dan kiri pintu masuk, terdapat papan kayu yang berisi syair. Di puncak atap utama yang berbentuk seperti ekor walet, kita dapat melihat sepasang naga langit yang menghadap bola api. Di bagian atap pendopo, kita juga dapat melihat patung chi wen, naga yang menyukai air dan dipasang di puncak atap untuk melindungi bangunan dari kebakaran. Kadang bentuknya seperti ikan berkepala naga seperti yang terlihat pada kelenteng ini.
Bagian dinding depan klenteng yang kaya akan ornamen bercorak Tionghoa. Dari sini terlihat ruang altar dewa Hok Tek Cing Sin yang menjadi dewa utama klenteng ini.
Klenteng ini cukup unik karena tidak ada atrium atau ruang terbuka di bagian tengah klenteng yang biasanya ditemukan pada bangunan-bangunan klenteng. Kira-kira mengapa klenteng ini tidak memiliki atrium ? Karena bagian atrium memerlukan ruang tambahan yang luas, sementara klenteng ini berdiri di lahan yang sempit dimana di belakang klenteng terdapat saluran air Kedung Putri dan di depannya terdapat pasar Baledono sehingga lahan klenteng ini tidak bisa diperluas lagi untuk membangun sebuah atrium. Sebagai ganti atrium, maka di bagian depan klenteng terdapat sebuah pendopo kecil yang dibawahnya terdapat sebuah wadah besar tempat menaruh dupa. Di puncak atap pendopo ini, terdapat hiasan chi wei yakni ikan berkepala naga yang dipercaya sebagai pelindung dari musibah kebakaran.

Menurut Ardian Cangianto ( 2013 ), kelenteng selain sebagai tempat ibadah juga merupakan pusat komunitas. Rapat-rapat komunitas diselanggarakan di kelenteng. Kadangkala kelenteng bisa menjadi tempat menginap untuk musafir. Kegiatan sosial seperti memberi makan hingga sembako gratis untuk orang miskin juga diadakan di Kelenteng. Festival-festival utama juga dilangsungkan di kelenteng. Ya,dapat dibilang Kelenteng merupakan inti dari kehidupan masyarakat Tionghoa.

Bong
Warisan budaya Tionghoa lain yang masih bisa kita telusuri di Purworejo yakni bong atau kompleks pemakaman untuk orang Tionghoa. Bong di Purworejo terletak di  desa Tawangrejo yang berada di sebelah utara kota Purworejo dan memiliki relief berbukit. Lokasi bong biasanya dibangun di daerah lereng perbukitan atau lahan yang miring karena dianggap memiliki fengshui yang baik, sehingga arwah leluhur dipercaya dapat menurunkan berkatnya kepada keturunannya.
Contoh bong yang ada di kompleks bong Tawangrejo, Purworejo.
Sebuah bong, terutama yang sudah berusia tua, memiliki ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan makam-makam lain. Ciri itu yakni berbentuk omega, lalu ada altar untuk sembahyang dan meletakan sesaji di bagian depan serta terdapat altar dewa bumi di sampingnya. Kuburan ini  kadang bisa diisi dua jenazah yang biasanya suami istri (Pratiwo. 2010; 75). Ketika semakin banyak orang Tionghoa yang menganut agama Kristen, maka bentuk kuburan-kuburan berubah bentuk yang semula omega, berubah menjadi seperti bentuk atap gereja dengan salib di bagian atasnya.
Salah satu Bong tua yang dibelakangnya terdapat ornamen patung naga.
Kemampuan orang yang meninggal dapat mempengaruhi ukuran dan ornamen pada sebuah bong. Jika orang yang meninggal memiliki kekayaan yang banyak, maka semakin besar ukurannya  dan makin banyak hiasannya. Jenis-jenis hiasan yang terlihat antara lain hiasan relief yang menceritakan cerita rakyat Tionghoa, patung hewan-hewan seperti naga, qilin dan burung phonix, motif tumbuhan seperti labu dan teratai.Hiasan-hiasan ini memiliki makna dan simbol tertentu yang dianggap bisa mendatangkan berkah untuk keluarga yang masih hidup. Misalnya hiasan qilin dianggap bisa mendatangkan berkah, keselamatan, kesehatan dan keamanan.

Prasasti kuburan bong disebut bongpay yang terbuat dari batu andesit. Isi sebuah bongpay lumayan kompleks dan ada aturan tersendiri dalam penulisannya. Selain tertulis nama orang yang dikuburkan yang terdapat di bagian tengah dan tanggal kematian yang ada di sebelah kanan, juga tertulis nama sanak keluarga yang ada di bagian kiri ( King Hian, 2012 ). Hal ini dikarenakan orang-orang Tionghoa menganggap ikatan kelurga adalah hal yang sangat penting, sehingga jikapun mati ikatan keluarga masih bisa terjaga. Angka kematian yang ditulis di bongpay disesuaikan dengan tahun kaisar yang memerintah di Tiongkok sana. Misalnya jika ada orang yang meninggal pada tahun 1880. Sementara itu, ketika orang itu meninggal yang menjadi kaisar adalah kaisar Guangxu yang naik tahta pada pada tahun 1875, maka tahun meninggal yang ditulis di makam adalah “Tahun ke-5 Kaisar Guangxu”

Penutup
Nah, setelah menyusuri berbagai warisan budaya Tionghoa di Purworejo, kita jadi tahu kan jika kondisi warisan budaya ini relatif utuh, mulai dari bangunan tempat tinggal, tempat ibadah hingga pemakaman. Warisan budaya bendawi ini menjadi bukti eksisnya masyarakat etnis Tionghoa di Purworejo dari zaman dahulu hingga sekarang dan menjadi bukti betapa masyarakat Purworejo masih menjunjung nilai toleransi dan keterbukaan terhadap masyarakat lainnya. Selain itu, juga menjadi simbol dari kerukunan antar sesama masyarakat Purworejo, baik dengan pribumi maupun dengan pendatang. Semoga keberadaan warisan budaya ini bisa dipertahankan sehingga ikut memperakaya khazanah warisan budaya di Indonesia dan sebagai perwujudan dari semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika,Walaupun berbeda namun tetap satu……

Referensi

Ardian Cangianto, 2013, Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Budaya Masyarakat Tionghoa dalam web.budaya-tionghoa.net.

Becking. 1923. Eene Beschrijving van Poerworedjo en Omstreken dalam Indie. 21 Februari 1923.

Desril Riva Shanti. 2011. Bong di Bogor ;Kajian Mengenai Ragam Hias dan Arti Simbol dalam Selisik Masa Lalu. Alqaprint. Sumedang.

Handinoto. 1999. Lingkungan "Pecinan " dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial dalam Dimensi Teknik Sipil Vol. 27, no.1 Juli 1999.


King Hian. 2012. Penjelasan tentang Bongpay dalam web.budaya