Kamis, 07 April 2016

Menyusuri Peninggalan Budaya Tionghoa di Kota Purworejo


Purworejo memang kota yang kaya akan peninggalan sejarah kebudayaan, mulai dari kebudayaan masa kerajaan Hindu-Budha, Islam, hingga Indis. Selain itu, kota ini juga menyimpan kekayan warisan budaya Tionghoa yang menarik untuk disusuri. Apa sajakah itu ?
Ruko-ruko bergaya Tionghoa di Kawasan Pecinan Purworejo.
Jajaran ruko-ruko bergaya Tiongkok selatan itu berdiri memanjang di sepanjang Jalan Ahmad Yani, sepenggal jalan yang menjurus ke Pasar Baledono, jantung perekonomian kota Purworejo yang kini sedang dipulihkan kembali paska terbakar tahun 2013 silam. Pecinan Purworejo memang tak terlalu luas. Ia hanya membentang sepanjang 964 meter, dari perempatan Jalan Magelang di sebelah utara hingga perempatan Monumen W.R. Supratman di sebelah selatan. Ukurannya yang tak begitu luas disebabkan karena Purworejo sendiri bukanlah kota perdagangan utama di masa lampau. Sepanjang perjalanan, semerbak aroma cengkeh yang dijemur tercium oleh hidung saya.  Selain cengkeh, di sepanjang jalan itu dijemur pula berbagai rempah dan tanaman herbal yang digunakan sebagai obat herbal. Orang-orang Tionghoa sejak dahulu hingga sekarang memang terkenal sebagai penjual obat herbal yang cukup berkhasiat. Sembari berjalan, saya mencoba untuk mengingat-ingat asal-usul kawasan pecinan ini…
Salah satu jalan di Pecinan Purworejo yang kini menjadi Jalan Kolonel Sugiono. Di ujung terlihat pertigaan Buh Penceng ( sumber : mediaa-kitlv.nl ).
Pertigaan Buh Menceng. Foto ini menghadap ke arah selatan ( sumber : mediaa-kitlv.nl ).
Arus kedatangan orang-orang Tionghoa ke Nusantara sebenarnya telah dimulai sejak berabad-abad yang lalu, bahkan sudah ada ketika kerajaan Sriwijaya mencapai kejayaannya pada abad ke - 8 M. Namun arus kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara benar-benar kian terasa di masa kekuasaan Wangsa Qing di tanah Tiongkok. Hokkien, Hakka, Fujian, dan Teochiu, daerah-daerah di Tiongkok selatan itu merupakan kampung leluhur orang-orang Tionghoa di Nusantara. Alasan mereka meninggalkan Tiongkok selain karena niat ingin merantau dan mencari peruntungan, mereka juga ingin melarikan diri dari penindasan yang dilakukan oleh rezim Wangsa Qing yang sejatinya bukanlah suku bangsa asli Tiongkok.
Lokasi kawasan Pecinan Purworejo dan kompleks bong (sumber : maps.library.leiden.edu)
Karena kondisi geografis, maka kehadiran orang-orang Tionghoa di daerah pedalaman Bagelen dapat dikatakan sedikit “terlambat” dibandingkan di pesisir utara. Mereka baru masuk ke sana di abad ke-18 M. Bukti tertua kemunculan komunitas Tionghoa di bumi Bagelen ialah prasasti-prasasti makam Tionghoa atau bong pay di Desa Jana, Kecamatan Bayan, Purworejo. Orang-orang Tionghoa ini sebagian besar merupakan pelarian dari Batavia tatkala terjadi Geger Pecinan pada tahun 1740, dimana orang-orang Tionghoa menjadi target pembantaian oleh kompeni. Di tahun 1826, pemerintah kolonial Belanda menerapkan UU Wijkenstesel yang mengatur agar orang-orang Tionghoa tidak tinggal lagi di pelosok pedesaan dan mereka diharuskan bermukim di dekat kota yang menjadi pusat kekuasaan pemerintah kolonial. Mereka juga harus tinggal mengelompok agar mudah diawasi serta biasanya diletakkan di kawasan antara permukiman orang Eropa dan orang Pribumi sebagai bemper. Dari sinilah kawasan pecinan di perkotaan mulai menampakan karakternya (Handinoto,1999;24). Perpindahan mereka ke pusat kota mengakibatkan banyak di antara mereka yang beralih profesi dari petani ke pedagang perantara serta pemungut pajak.
Bong Jana, satu-satunya jejak fisik komunitas Tionghoa di Jana yang masih tersisa. 
Toponim yang masih nampak di Jana.
Selain Wijkenstelsel, perpindahan orang-orang Tionghoa dari Jana ke pusat kota Purworejo pada tahun 1829 juga disebabkan oleh adanya semacam peristiwa Geger Pecinan kecil yang terjadi di Jana. Tidak diketahui apa motif dari peristiwa berdarah tersebut. Namun kuat dugaan bahwa persitiwa itu merupakan ulah dari pemerintah kolonial yang sengaja menciptakan gesekan antara orang Tionghoa dengan orang pribumi untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Sebelum peristiwa itu meletus, kehidupan orang pribumi dengan orang Tionghoa di Jana berlangsung harmonis. Kendati persitiwa Geger Pecinan versi Purworejo ini tidak separah di Batavia, namun korban yang berjatuhan dari masyarakat Tionghoa amatlah banyak. Semua hunian milik orang Tionghoa dihancurkan hingga rata dengan tanah. Akibat persitiwa itu, banyak orang Tionghoa di Jana yang akhirnya menyingkir ke tempat-tempat yang lebih aman (Becking, 1923; 751). Pasar Baledono yang menjadi simpul perekonomian Purworejo menjadi pilihan permukiman baru masyarakat Tionghoa di Purworejo. Pemilihan lokasi ini bukannya tanpa sebab. Setelah mereka tidak bisa menjadi petani lagi, maka tinggal satu pilihan profesi saja yang bisa dijalankan, yakni pedagang. Bagaikan gula yang dikerubungi semut, Pasar Baledono segera dipenuhi para pedagang Tionghoa yang mendirikan rumah merangkap toko di sekitar pasar. Banyak barang-barang yang dijual oleh mereka mulai dari barang pecah belah, kain, besi, dan tembaga (Musadad. 2002;8). Kawasan pasar Baledono-pun kian ramai. Apalagi dengan dengan datangnya gelombang orang Tionghoa dari Solo dan Semarang. Untuk mengatur perkara-perkara yang terjadi di dalam komunitas Tionghoa dan pengontrolan atas wilayah pecinan, pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1837, membentuk Kongkoan. Kongkoan ialah dewan yang terdiri dari orang Tionghoa yang diberi gelar mayor, kapten dan letnan. Sekalipun berbau militer, gelar tersebut hanya bersifat tituler saja dan tak ada kaitanya dengan urusan militer. Kapiten Tionghoa pertama di Purworejo bernama Be Ing Tjioe (Becking, 1923; 751). Dalam buku Riwayat Semarang karya Liem Thian Joe, diceritakan Be Ing Tjioe lahir di Tiongkok pada tahun 1803. Sewaktu ia masih anak-anak, ia dibawa ke Jawa oleh Tan Nio, saudagar tembakau dari Semarang yang juga menjadi majikannya. Karena ia bekerja dengan giat, ia diangkat oleh majikannya sebagai menantu. Sesudah menikah, ia diutus mertuanya untuk membantu Tan Tiang Tjhing yang membutuhkan tenaga untuk mengurus pacht madat di Bagelen. Pada tahun 1824, pergilah Be Ing Tjioe ke Bagelen. Setelah berdiam di sini selama beberapa tahun, Be Ing Tjioe diangkat sebagai kapiten dengan nama kebesaran  Be Tjing Khwee pada 7 Januari 1839. Beberapa purnama kemudian, ia kembali ke Semarang. Di sana ia mendirikan rumah megah lengkap dengan taman indah yang dikenal sebagai Kebon Dalem. Masyarakat Semarang mengenal Be Ing Tjioe sebagai Kapiten Brengkelan. Be Ing Tjioe meninggal di Batavia pada tahun 1857. Jasadnya dibawa ke Semarang dengan sebuah kapal yang disewa khusus dan upacara kematiannya diselenggarakan secara besar-besaran ( Liem Thian Joe, 1931; 153 ).
Deretan bangunan lama berupa ruko di jln.Ahmad Yani. Di ujung atap terdapat hiasan seperti cerobong semu. Lokasi ruko pada foto di atas berada di sebelah utara pasar Baledono.
Ruko-ruko tradisional Tionghoa yang masih utuh di tengah himpitan bangunan baru,


Tiga buah ruko bergaya arsitektur Tiongohoa di dekat perempatan. Karena masih memiliki hubungan keluarga, terkadang dalam satu atap bisa terdiri dua atau tiga ruko.  
Setidaknya, ada dua jenis ruko tradisonal Tionghoa di Pecinan Purworejo, yakni ruko berlantai satu dan berlantai dua.
Seperti itulah asal muasal kawasan pecinan Purworejo. Tetengernya yang paling kentara tentu saja jejeran ruko-ruko tua bergaya Tiongkok selatan itu. Karena orang-orang Tionghoa dahulu mayoritas bekerja sebagai pedagang, maka rumah kediaman mereka merangkap pula sebagai toko. Apabila ruko itu berlantai dua, maka toko ada di bawah dan hunian keluarga ada di lantai dua. Sementara jika ruko itu hanya berlantai tunggal, maka toko ada di depan sementara hunian ada di belakang. Agar udara dapat masuk ke bagian ruag tengah, maka dibuatlah halaman kecil di tengah-tengah. Bentuk atapnya menyerupai kipas, disebut atap tipe shan, bentuk atap yang banyak dipakai pada ruko di daerah Tiongkok selatan. Setiap bangunan memiliki tembok samping yang melebihi atap bangunan atau dalam bahasa mandarin disebut feng huo qiang, tujuannya agar kebakaran tidak merambat luas. Sayang, jumlah ruko-ruko yang asli mulai berkurang. Mereka telah tergantikan dengan ruko-ruko yang bergaya lebih modern dan lebih besar ukurannya demi kebutuhan ruang dan selera empunya.
Pasar Baledono tempo doeloe dan kondisinya sebelum dibongkar.
Papan seng yang tinggi menutupi sebuah bangunan yang tampaknya hampir selesai. Di depan papan seng itu, terlihat para pedagang yang berjualan di emperan jalan, membuat arus lalu lintas sedikit tersendat sehingga terjadilah perebutan ruang jalan antara pedagang dengan kendaraan. Itulah suasana Pasar Baledono saat ini paska terbakar di tahun 2013 silam. Saya sendiri memiliki cukup banyak kenagan akan pasar ini. Paman saya tinggal tidak jauh dari pasar ini dan saya kerap mengunjunginya, sehingga saya sudah familiat dengan suasana pasar Baledono. Masih teringat dalam ingatan saya suara teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya, deretan angkot yang menunggu penumpang di bawah tangga pasar, barisan para kuli panggul yang sedang membongkar barang, tumpukan sampah yang menggunung di sudut pasar, hingga bau amis daging dari kios pedagang daging….
Klenteng Thong Hwee Kiong.
Di belakang pasar itu, terdapat Klenteng Thong Hwee Kiong yang didirikan oleh para pedangang Tionghoa di Purworejo pada tanggal 22 Februari 1888 sebagai ucapan terima kasih kepada Dewa Bumi atas kemakmuran dan keselamtan yang telah dilimpahkan. Pembangunan kelenteng ditanggung oleh masyarakat Tionghoa secara gotong royong. Bentuknya relatif sederhana apabila dibandingkan dengan klenteng di pesisir yang ukurannya besar dan pernak perniknya lebih meriah. Terdiri dari sebuah pendopo kecil di depan, bangunan tempat altar dewa utama dan bangunan samping untuk dewa-dewa tambahan. Dalam sistem religi masyarakat Tionghoa, kelenteng merupakan tempat sembahyang untuk Langit, Bumi, dan Leluhur. Pada perkembangannya, kelenteng menjadi tempat ibadah agama RuDaoShi atau agama Konghuchu ( Ru ), Tao ( Dao ), dan Buddhisme ( Shi ). Apabila melihat nama kelenteng, kiong, unsur agama Tao yang menonjol di sini.
Klenteng Thong Hwee Kiong pada tahun 1930an. Di bagian puncak atap masih belum ada hiasan-hiasan seperti patung hewan-hewan mitos.
Dari luar, warna merah mendominasi keseluruhan bangunan yang bubungan atapnya berbentuk seperti ekor walet. Ornamen sebuah bola api (Huo zhou) yang diapit oleh dua patung dua ekor naga (xing long) bertengger dengan anggun di puncak atap. Di dinding depan ruang altar, terdapat relief hewan mitolgis campuran kuda dan naga, yaitu qilin. Di bagian depan klenteng terdapat paviliun kecil yang dibawahnya terdapat sebuah wadah besar tempat menaruh dupa. Di puncak atap pendopo ini, terdapat hiasan chi wei yakni ikan berkepala naga yang dipercaya sebagai pelindung dari musibah kebakaran. Material klenteng yang sebagian besar terbuat dari kayu memang rawan terbakar, apalagi ibadah orang Tionghoa tak jauh-jauh dari api, sehingga bahaya kebakaran dapat mengancam kelestarian kelenteng ini sewaktu-waktu. Pendopo itu juga merupakan batas antara wilayah sakral dan profan.
Bagian dinding depan klenteng yang kaya akan ornamen bercorak Tionghoa. Dari sini terlihat ruang altar dewa Hok Tek Cing Sin yang menjadi dewa utama klenteng ini.
Suasana kelenteng itu tampak sepi. Saat ini, jumlah orang-orang Tionghoa yang beribadah di klenteng itu kian sedikit karena banyak dari mereka yang sudah berpindah kepercayaan. Jikapun ada yang beribadah di sini, kebanyakan adalah orang-orang tua yang masih teguh memegang kepercayaan leluhurnya. Menurut Ardian Cangianto ( 2015 ), selain berfungsi sebagai tempat peribadatan, sebuah kelenteng sesungguhya menyimpan fungsi yang amat banyak seperti sebagai tempat rapat, sekolah, tempat penampungan yatim piatu, mengurus kematian, dan pusat kegiatan sosial. Dalam kebudayaan Tionghoa, kelenteng adalah inti kehidupan masyarakat Tionghoa, baik yang tinggal di kota atau desa. 
Suasana kawasan Pecinan Purworejo di Buh Penceng pada tahun 1930an. Orang yang berdiri di tengah jalan itu adalah petugas polisi yang sedang mengatur jalan. Toko besar di kanan jalan kini menjadi Toko "Merak". Sementara toko di sebelah kiri jalan bangunan nya belum berubah sampai sekarang. Tiang di kanan jalan adalah tiang telegraf yang juga masih ada hingga sekarang.
Sebuah tiang telegraf tua yang masih tegak berdiri.
Sebuah ruko di dekat Buh Penceng.

Penyusuran kawasan Pecinan saya teruskan lagi ke selatan hingga jembatan Buh Penceng, seruas jembatan yang melintang di atas Kali Kedungputri. Jumlah ruko Tionghoa yang masih utuh di sekitar sini kian sedikit. Tapi ada satu tetenger yang menjadi ciri khas kawasan Buh Penceng. Tetenger itu bukanlah bangunan, melainkan sebuah tugu telegraf yang masih tertancap di tempatnya selama puluhan tahun.
Rumah tua bergaya Indis di Jalan Ahmad Yani. Dari ukuran bangunan yang terbilang besar dan dekorasinya yang banyak dan mewah, rumah ini tampaknya pernah menjadi tempat tinggal seorang Kapiten Tionghoa.
Tiada bangunan yang lebih akbar dan mewah di kawasan Pecinan Purworejo selain bangunan berlanggam Indis Empire Style yang terletak seratus meter ke utara dari perempatan patung W.R. Supratman. Di sini, saya menjumpai beranda depan yang tinggi dengan deretan tiang dari besi cor yang antik di depannya. Tegel-tegel dengan motif yang menarik juga dapat dilihat di sana. Dari langgamnya, ia jelas mendapat sedikit pengaruh kebudayaan Indis yang berkembang pada abad ke-19. Kebudayaan Indis rupanya tak hanya monopoli orang Belanda totok atau Indo saja. Orang-orang Tionghoa, terutama yang dekat dengan lingkaran penguasa kolonial, juga ikut terpengaruh dengan arus kebudayaan tersebut sebagai upaya menyejajarkan dirinya dengan orang Belanda. Bangunan ini tampaknya semula merupakan kediaman seorang kapiten Tionghoa. Seorang kapiten Tionghoa atau Kap-twa selain bertugas sebagai kepala komunitas Tionghoa, ia juga sebagai pemungut pajak yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial. 
Tegel di beranda depan.
Bangunan tersebut pernah dipakai sekolah yang didirikan oleh organisasi Konghucu, Tiong Hoa Hwee Kwan. Salah satu aktivitas organisasi ini yakni mendirikan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa (Heidhues, 1972 ; 257). 
Sekitar, tahun 1930an, bangunan ini dipakai sebagai sekolah milik perkumpulan Tiong Hoa Hwee Kwan yang dibentuk di Batavia pada paruh pertama abad ke-20. Perkumpulan itu dibentuk untuk memajukan pendidikan anak-anak Tionghoa karena dibandingkan anak-anak pribumi, nasib anak-anak orang Tionghoa di masa kolonial lebih sulit lagi karena mereka tidak diperkenankan bersekolah. Alih-alih mengenal sebagai rumah kapiten atau sekolah Tionghoa, masyarakat Purworejo rupanya lebih mengenal bangunan ini sebagai Hotel Indra. Dalam ingatan kolektif mereka, hotel ini pernah menjadi tempat menginapnya grup band legendaris Koes Plus. Bangunan tersebut kini menjadi tempat penjualan karcis bus dengan fasad yang rusah separo akibat gempa tahun 2006.
Kompleks Bong Tawangrejo.
Dari kawasan Pecinan, saya bergerak sedikit menjauh ke utara, tepatnya di Desa Tawangrejo. Di desa yang sebenarnya masih terhitung dekat dengan kota Purworejo itu, terhampar kompleks permakaman Tionghoa yang lazim disebut bong. Lokasinya yang berada di lereng bukit sangatlah ideal untuk tempat permakaman karena lokasi seperti itu dianggap memiliki fengshui yang baik, sehingga dipercaya arwah leluhur dapat mewariskan keberuntungan kepada sanak keluarga yang masih hidup.  Tanah yang lokasi fengshui nya baik biasanya ditawarkan kepada anggota masyarakat yang berada.
Medan kompleks bong yang naik turun membuat saya terengah-engah ketika menjelajahi setiap bong yang ada di sana. Bong tradisional Tionghoa memiliki ciri tersendiri jika dibandingkan dengan makam-makam lain. Ciri utamanya ialah berbentuk seperti gundukan kecil dan apabila dilihat dari atas berbentuk seperti rahim perempuan. Hal tersebut terkait dengan konsep kelahiran kembali sesudah kematian atau reinkarnasi yang dipercaya oleh orang Tionghoa. Selain itu, di depan bong pai atau prasasti makam, terdapat altar untuk sembahyang dan meletakan sesaji serta di sampingnya terdapat altar dewa bumi. Kuburan itu kadang bisa diisi dua jenazah suami istri (Pratiwo. 2010; 75). Sebuah bong kadangkala diberi pernak-pernik antara lain patung hewan-hewan seperti naga, Chi Lin (anjing berkepala singa) dan burung phonix, motif tumbuhan seperti labu dan teratai. Hiasan-hiasan ini memiliki makna dan simbol tertentu yang dianggap bisa mendatangkan berkah untuk keluarga yang masih hidup. Misalnya hiasan Chi Lin dianggap bisa mendatangkan berkah, keselamatan, kesehatan dan keamanan. Ketika semakin banyak orang Tionghoa yang menganut agama Kristen, maka bentuk kuburan-kuburan pun ikut berubah. Kali ini bentuknya menyerupai atap sebuah gereja dengan salib di bagian atasnya. Adanya makam-makam baru di antara makam-makam lama dengan latar belakang keagamaan yang berbeda setidaknya menunjukan bahwa anak cucu masih ingin dekat dengan leluhur sekalipun mereka sudah meninggalkan keyakinan leluhurnya.

Bong pai merupakan sebutan untuk prasasti yang terpancang di depan makam. Ia biasanya terbuat dari batu andesit. Sayang, karena saya tak dapat membaca aksara mandarin, maka saya tak dapat mengetahui siapakah yang dimakamkan di situ. Dari literatur yang saya tahu, isi tulisan pada sebuah bong pai lumayan kompleks dan ada aturan tersendiri dalam penulisannya. Selain tertulis nama orang dan tanggal kematian, di situ juga tertulis nama sanak keluarga dari si meninggal. Dalam tradisi Tionghoa, ikatan keluraga adalah hal yang sangat penting, sehingga jikapun telah ditinggal mati, maka diharapkan ikatan keluarga masih bisa terjaga. Sengakalan kematian yang ditulis di bong pai disesuaikan dengan tahun kaisar yang memerintah di Tiongkok sana. Sebagai contoh ada seseorang yang meninggal pada tahun 1880. Sementara itu, ketika orang itu meninggal yang menjadi kaisar adalah kaisar Guangxu yang naik tahta pada pada tahun 1875, maka tahun meninggal yang ditulis di makam adalah “Tahun ke-5 Kaisar Guangxu”.

Demikianlah hasil penyusuran saya pada berbagai warisan budaya Tionghoa di kota Purworejo. Saya percaya bahwa apa yang saya temukan hanyalah yang ada di permukaan saja, belum dengan warisan budaya lainnya yang belum tersingkap. Semoga berbagai kekayaan warisan budaya ini dapat dilestarikan dengan baik sebagai bukti persatuan bangsa kita…

Referensi
Becking. 1923. " Eene Beschrijving van Poerworedjo en Omstreken " dalam Indie 21 Februari 1923.

Cangianto, Ardian. 2013. Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Budaya Masyarakat Tionghoa dalam web.budaya-tionghoa.net.

Handinoto. 1999. " Lingkungan "Pecinan " dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial " dalam Dimensi Teknik Sipil Vol. 27, no.1 Juli 1999.


King Hian. 2012. " Penjelasan tentang Bongpay " dalam web.budaya-tionghoa.net

Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij.




Shanti, Desril Riva. 2011. " Bong di Bogor ;Kajian Mengenai Ragam Hias dan Arti Simbol " dalam Selisik Masa Lalu. Sumedang : Alqaprint.

7 komentar:

  1. Karo promosi kijing nggar.....

    BalasHapus
  2. Karo promosi kijing nggar.....

    BalasHapus
  3. mas Anggar
    nuwun sewu
    boleh saya tau instagram nya apa mas?
    mau tanya dikit ttg purworejo...
    matur nuwunn
    ig saya @unistuff_id

    BalasHapus
    Balasan
    1. IG saya : lengkongsanggar
      Silahkan kalau mau di follow
      matur suwun

      Hapus
  4. dulu jaman aku masih sekolah, jam 5 sore jalan a yani sudah sepi, toko2 sudah tutup, malam gak ada penerangan jalan, gak gak kehidupan malam seperti penjual makanan, paling yg ada penjual ronde keliling. kalo pagi hari trotoar sisi timur dari ujung utara pasar baledono sampai bug menceng penuh dengan penjual sayuran padahal pasarnya sendiri usdah gede, itu sampai sekitar jam 3-4 sore.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai sekarangpun Jalan A Yani masih merupakan jalan yang sepi dan malam sudah gak ada kehidupan malam. Padahal kawasan ini bisa dikembangkan sebagai kawasan pedestrian seperti Malioboro tanpa harus merusak bangunan lamanya.

      Hapus