Kamis, 26 Mei 2016

Bayangan Kejayaan Pabrik Gula Kalasan

Kalasan, sebuah wilayah di sebelah timur kota Yogyakarta yang terkenal akan peninggalan sejarahnya berupa Candi Kalasan yang berasal dari masa Dinasti Syailendra. Selain memiliki peninggalan sejarah dari masa klasik, Kalasan ternyata juga memiliki peninggalan masa kolonial berupa situs pabrik gula Kalasan yang sebagian bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang. Bekas-bekas apa saja yang kira-kira masih bisa ditemui dan seperti apa sejarah PG Kalasan akan saya bahas pada tulisan Jejak Kolonial bahas pada tulisan kali ini.

Sekilas Sejarah Kejayaan PG Kalasan
Emplasemen pabrik gula Kalasan di masa jayanya. Kepulan asap terlihat keluar dari cerobong. Sementara itu lori-lori berisi tebu sedang menunggu. Nampaknya foto ini diambil pada masa giling tebu (sumber : troppenmuseum.nl).

Berdirinya PG Kalasan atau Tanjungtirto tidak bisa dilepaskan dari semakin berkembangnya perkebunan tebu di Vorstenlanden (Daerah Yogyakarta dan sekitarnya) yang dibuka oleh para bekel putih atau orang-orang Eropa yang menyewa tanah ke Sultan. Selain membuka perkebunan tebu, mereka juga mendirikan pabrik gula di tengah-tengah area perkebunan tebu.
Pemandangan ladang tebu di sekitar PG Kalasan. Foto ini menghadap ke arah timur. Di kejauhan tampak cerobong PG Kalasan yang sedang mengeluarkan asap. Di belakang, tampak perbukitan Boko (sumber : media-kitlv.nl).
Pada masa kejayaan industri gula di Pulau Jawa pada tahun 1900an, terdapat 17 pabrik gula yang berdiri di wilayah Yogyakarta. Di dekat PG Kalasan sendiri terdapat sebuah pabrik gula yang jaraknya cukup dari PG ini, yakni PG Wonocatur yang sekarang menjadi Museum Dirgantara. Bahkan saking dekatnya, konon jika kita memanjat naik ke atas puncak cerobong PG Kalasan, maka cerobong asap miliki PG Wonocatur bisa terlihat dari sini.
Salah satu mesin pabrik gula Kalasan. Mesin ini dibuat oleh industri Machinefabrieken Hengelo dan diimpor oleh perusahaan Stork & Co (sumber : geheugenvannederland.nl). 
PG Kalasan sendiri didirikan dengan bantuan modal dari perusahaan keuangan Internatio pada tahun 1874 yang berkantor di Surabaya. Di samping mendirikan pabrik gula, juga didirikan bangunan penunjang seperti rumah sakit pembantu (hulpziekenhuizen) yang dibuka tahun 1922 dan sekolah pertukangan (Ambachtschool) yang dibuka pada tanggal 15 Mei 1928. Pembukaan sekolah ini ditandai dengan penanaman sebuah pohon beringin oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang disaksikan oleh Paku Alam VII dan Residen Yogyakarta, P. W. Jonquiere. Dalam perkembangannya, sebagian keuntungan dari penjualan gula selain mengalir ke kas pihak Belanda juga mengalir ke Sultan HB VII selaku pemiliki tanah.
Peta topografi dari tahun 1925. Peta ini dengan jelas menggambarkan kompleks Pabrik Gula Kalasan ketika masih aktif. Di utara pabrik gula,terdapat Stasiun Kalasan (tidak terlihat di sini karena gambar terpotong) yang menjadi tempat pengedropan gula dari Pabrik Gula Kalasan sebelum diangkut dengan kereta api (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pada tahun 1930an, terjadi krisis keuangan yang mengguncang perekonomian dunia atau dikenal sebagai malaise. Hal ini berdampak pada hancurnya harga gula di pasaran. Untuk menutup kerugian, dibuatlah kebijakan Charbourne Agreement yang mengharuskan adanya pengurangan produksi gula dan memaksa banyak pabrik gula untuk ditutup. Beruntung, PG Kalasan termasuk salah satu PG yang tidak ditutup. Berdasarkan berita dari Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 7 November 1933, pengelolaan PG Tanjungtirto digabung dengan PG Bantul. Adminsitrateur PG waktu itu, Ir. O. Jansen van Raay diberhentikan oleh dewan direksi Internatio sejak tanggal 1 November. Sebagai ganti kepala pabrik, diangkatlah F. Moormaan yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai kepala PG Bantul. namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama karena pada masa penjajahan Jepang, pabrik gula ini ditutup oleh Jepang. Pada tahun 1950, ketika PG ini akan dibuka kembali oleh perusahaan yang dahulu memilikina, ternyata seluruh PG sudah dijarah oleh penduduk. Nasib yang sama juga menimpa PG Beran, Padokan, dan Cebongan. Kerugian yang ditaksir sebesar jutaan gulden (Java-bode: nieuws, handels-en advertentiblad voor Nederlandsch Indie, 10 Febuari 1950). Begitulah kira-kira riwayat dari pabrik gula Kalasan yang sekarang tinggal bayangannya saja.

Bayangan Kejayaan yang Masih Tersisa 
Lokasi PG Kalasan/Tanjungtirto pada peta Yogyakarta tahun 1926 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Informasi pabrik gula Kalasan saya dapatkan dari teman satu komunitas saya, mas Aga Y. P. Mas Aga menceritakan bahwa di Yogyakarta ada sebuah pabrik gula di daerah Kalasan yang bangunan rumah dinas pegawainya masih utuh. Sepengetahuan  saya, pabrik gula di Yogyakarta yang bangunan rumah dinas pegawai pabrik yang masih utuh hanya PG Sewugalur di Kulonprogo saja. Namun setelah mendapatkan informasi  dari teman saya tadi, saya menjadi penasaran untuk mengetahui apa saja yang masih tersisa dari pabrik gula ini. Oleh karena itulah pada suatu sore, saya bersama mas Aga yang sudah mengetahui tempatnya meninjau lokasi pabrik gula Kalasan.
Peta situs Pabrik Gula Kalasan.Keterangan : Kotak putih : Bekas rumah dinas yang masih berdiri. Kotak merah : Bekas lokasi berdirinya Pabrik Gula Kalasan. Kotak Hitam : Emplasemen Lori. Garis kuning : Bekas jalur lori. 

Meski bernama Pabrik Gula Kalasan, ternyata lokasi situs pabrik gula ini bukan berada di Kecamatan Kalasan, melainkan di Kecamatan Berbah, tepatnya di desa Tanjuntirto. Oleh karena itulah pabrik gula ini terkadang juga disebut sebagai Pabrik Gula Tanjung Tirto. Untuk menuju ke sini dari arah Yogyakarta, telusuri Jalan Yogyakarta-Solo hingga ada pertigaan yang menuju ke arah Berbah, belok ke kanan dan telusuri jalan lurus terus hingga pertigaan yang ada pohon besar di tengah pertigaan ,lalu belok ke kanan. Kemudian lurus terus menuju ke arah SMP N 1 Berbah. Di sekitar sekolah inilah saya menjumpai banyak rumah-rumah lama yan dahulu menjadi rumah dinas pegawai pabrik gula Kalasan.
Di lapangan inilah dahulu PG Kalasan berdiri.
Seperti nasib pabrik gula milik Belanda lain yang ada di Yogyakarta, bangunan pabrik gula Kalasan sudah tidak meninggalkan bekas apapun. Jadi kita tidak akan melihat sebuah bangunan pabrik berukuran besar di sini. Saat ini bangunan pabrik gula menjadi gudang tembakau dan sebagian lainnya menjadi tanah lapang di belakang gudang tadi. Pada awalnya saya sempat mengira kalau bangunan gudang tembakau tadi masih asli sejak zaman PG Kalasan berdiri, namun setelah saya bertanya ke warga, ternyata gudang tembakau tadi merupakan bangunan baru. Kini, tidak terlihat lagi para kuli pabrik yang sedang bekerja dengan peluh keringat yang mentes di kepala dan juga wajah seram para meneer Belanda yang mengawasi kuli-kuli tadi. Tidak terlihat lagi cerobong yang menjulang tinggi dengan asap pekatnya. Tidak terlihat juga barisan lori yang berjejer rapi dengan muatan tebu. Ya, PG Kalasan kini tinggal bayangannya saja.
Tipikal rumah dinas di kompleks PG Kalasan.
Yah, meskipun bangunan pabrik gula ini tinggal menjadi bayangan sejarah saja, namun setidaknya kita masih bisa menjumpai sebagian warisan PG Kalasan berupa rumah-rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas karyawan PG Kalasan yang sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat. Keberadaan rumah dinas dengan pabrik gula ibarat dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan karena di sinilah parkaryawan pabrik gula dengan jabatan tinggi  seperti administrateurzinder, machinist dan chemist tinggal. Untuk meningkatkan produktivitas karyawan, maka rumah tinggal mereka dibangun di dekat pabrik. Rata-rata rumah-rumah pegawai PG Kalasan menghadap ke selatan, ke arah lokasi kerja. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengawasan terhadap segala kegiatan yang ada di pabrik gula. Konsep ini dikenal sebagai konsep panopticon (Inagurasi, 2010; 123). Saya sendiri membayangkan para meneer mengawasi para kuli-kuli pabrik yang sedang bekerja lewat beranda depan rumah mereka. Rumah-rumah ini dapat kita jumpai di sepanjang jalan yang menjadi akses keluar masuk area pabrik, sehingga siapapun yang keluar masuk di area pabrik dapat diketahui.
Sebuah bekas rumah dinas yang kondisinya masih cukup baik. Rumah dinas ini bertipe kopel (dua rumah dalam satu atap).
Bekas rumah dinas bercat hijau ini kondisinya sangat baik sekali. Halaman di depan rumah terlihat bersih dan rimbun. Penghuni rumah ini merupakan anak dari pegawai Pabrik Gula Kalasan. Warga sekitar biasanya memanggilnya Mami Uti.


Bekas rumah dinas berwarna oranye ini berada di sebelah SMP N 1 Berbah. Rumah ini kerap digunakan untuk syuting film.
Saat ini, terdapat tujuh buah bangunan rumah dinas yang masih tersisa. Sebagian digunakan untuk kantor institusi pemerintahan seperti Kantor Polsek Berbah, Koramil Berbah dan SMP N 1 Berbah. Sementara sisa nya menjadi rumah tinggal milik warga.
Bekas rumah administrateur Pabrik Gula Kalasan yang sekarang menjadi SMP N 1 Berbah.Bangunan ini ditempati sebagai sekolah sejak tahun 1951.Rumah seorang administrateur biasanya memiliki bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan bentuk rumah pegawai pabrik gula yang ada di bawahnya.
 

Bekas rumah dinas pabrik gula Kalasan yang sekarang menjadi kantor Polsek Berbah. sejak tahun 1957.
Sebuaah bekas rumah dinas di samping Koramil Berbah.
Jika dilihat dari sisi arsitektural, rumah dinas PG Kalasan memiliki ciri arsitektur yang serupa, yakni memiliki bentuk atap pelana dan fasad berupa gable dari kayu yang menghadap ke depan. Di bagian bawah gable terdapat dekorasi seperti gigi runcing yang mengarah ke bawah. Atap gable tadi menanungi bagian beranda depan rumah. Beranda depan ini pada bagian depan ditutup dengan lapisan dinding kayu jati dan kaca, sehingga untuk masuk ke bagian beranda depan depan lewat undakan kecil di samping. Beranda depan ini selain digunakan untuk tempat menerima tamu, juga dapat digunakan sebagai tempat untuk mengawasi para pekerja pabrik. Di belakang rumah, terdapat bangunan tambahan yang digunakan untuk kamar pembantu, dapur, dan kamar mandi.

Demikianlah tulisan Jejak Kolonial mengenai sisa-sisa Pabrik Gula Kalasan yang kini tinggal menjadi bayangan sejarah saja dan tinggal menyisakan bangunan rumah dinas yang masih berdiri kokoh. Semoga keberadaan bangunan bersejarah yang tersisa ini dapat dijaga karena kehilangan sebuah bangunan bersejarah dampaknya mungkin belum terasa bagi generasi di masa sekarang, tapi akan sangat terasa untuk generasi di masa mendatang.

Referensi
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/07/25/smpn-i-berbah-sleman/

Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sabtu, 14 Mei 2016

Menyelami Kejayaan Purworejo, Kota Kecil dengan Segudang Peninggalan Sejarah.

Purworejo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah bagian selatan tempat dimana saya sendiri lahir dan tumbuh. Meskipun Purworejo hanyalah sebuah kota kecil dengan pembangunan yang lambat dan dapat dikatakan nyaris mati, namun kota ini ternyata masih menyimpan segudang peninggalan sejarah yang semakin jarang ditemukan di kota-kota lain. Melalui peninggalan-peninggalan sejarah ini, kita bisa mengetahui betapa jayanya kota Purworejo di masa lampau. Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan memandu anda untuk berkeliling kota Purworejo, menggali sekilas kejayaan masa lampau di Purworejo lewat peninggalan-peninggalan yang masih tegak berdiri. Tulisan saya kali ini akan saya dedikasikan untuk kota Purworejo tercinta……

Dari garnisun militer, ibukota Karesidenan Bagelen, hingga calon ibukota Hindia-Belanda
Letak kota Purworejo.
Kota Purworejo terletak di sebelah barat sungai Bogowonto, sebuah sungai besar yang bermuara di Samudera Hindia. Jika dilihat secara geografis, kota Purworejo sebenarnya cukup strategis karena letaknya yang berada di persimpangan jalan antara Karesidenan Banyumas, Semarang, dan wilayah Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta).
Peta tata kota Purworejo pada tahun 1905 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Untuk mengetahui sejarah perkembangan kota ini, kita akan sejenak mundur kembali ke era pecahnya Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825 hingga 1830. Perang yang banyak menelan biaya ini merupakan titik puncak kekecewaan Pangeran Diponegoro terhadap kekuasaan pemerintah kolonial Belanda yang semakin banyak ikut campur dengan urusan Kraton Yogyakarta. Sebagian besar medan pertempuran Pangeran Diponegoro dengan Belanda berada di antara Sungai Progo dengan Sungai Bogowonto. Guna mempersempit ruang gerak pengikut Pangeran Diponegoro, Belanda menyusun strategi benteng stelsel, dimana militer Belanda membangun beberapa benteng dan garnisun di titik-titik yang dianggap dapat mempersempit ruang gerak pengikut Pangeran Diponegoro. Salah satu titik itu adalah Kedungkebo, cikal bakal kota Purworejo saat ini (Musadad, 2002; 6).
Foto tangsi Kedungkebo pada tahun 1870an. Foto ini menghadap ke arah timur dan diambil dari lapangan latihan atau excertieplein yang sekarang menjadi kompleks SMA N 7 Purworejo (sumber : troppenmuseum.nl).
Tertangkapnya Pangeran Diponegoro di Magelang pada tahun 1830 menjadi tanda berkahirnya Perang Jawa. Sebagai pampasan perang, wilayah Bagelen yang semula dikuasai oleh Kasunanan Surakarta, diambil alih oleh pihak kolonial Belanda. Pada tahun 1831, dibentuklah Karesidenan Bagelen yang beribukota di Purworejo dengan area yang mencakup wilayah seperti Tanggung (Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Remo Jatinegara (Karanganyar), Kutowinangun (Kebumen), Ledok (Wonosobo), dan Ambal (Penadi, 2000;68).
Lukisan  yang kemungkinan dilukis oleh R. R. Toelaer yang menggambarkan panorama kota Purworejo pada tahun 1845. Di belakang tampak panorama pegunungan Menoreh (sumber : troppenmuseum.nl).
Pembangunan kota Purworejo paska Perang Jawa tidak bisa dilepaskan dari jasa bupati pertama Purworejo, Cokronegoro I, seorang mantan abdi dalem Kasunanan Surakarta yang di masa muda pernah satu seperguruan dengan Pangeran Diponegoro. Karena dia berada di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta yang pada waktu itu bersekutu dengan Belanda, sebagai bentuk bakti kepada Kasunanan Surakarta, maka dengan berat hati dia bergabung dengan pihak kolonial melawan Diponegoro. Meskipun dia berada di pihak kolonial, beliau tidak pernah berhadapan secara langsung dengan Pangeran Diponegoro dan lebih memilih untuk menghindar karena dia merasa masih satu saudara seperguruan dengan Pangeran Diponegoro. Setelah Perang Jawa usai, sebagai balas jasa, pemerintah kolonial mengangkat Cokronegoro sebagai bupati pertama Purworejo pada tanggal 9 Juni 1830. Setelah diangkat menjadi bupati, langkah pertama yang Cokronegoro lakukan adalah menggabungkan dua kota kuno, yakni Brengkelan dan Kedungkebo dan selanjutnya diberi nama Purworejo, yang berarti awal dari kemakmuran (Suherman, 2013; 38-39).
Kios bensin yang menjual bensin produksi Shell yang dulu berada di sebelah timur alun-alun, tepatnya di depan SD Maria. Keberadaan kios bensin ini menunjukan di masa itu sudah ada beberapa orang Purworejo yang memiliki kendaraan mesin. Terlihat di foto seorang priyayi yang sedang mengisi bensin sepeda montornya. Dengan pakaian seperti itu, tidak diketahui bagaimana dia bisa naik sepeda montornya.

Salah satu sisi sejarah Purworejo yang masih sedikit diketahui orang adalah bahwa di masa lalu, kota Purworejo ternyata sempat menjadi calon ibukota Hindia-Belanda yang baru menggantikan Batavia. Dalam “De Indische Stad op Java en Madoera”, Ronald R. Gill menyebutkan bahwa pada 1846, von Gogem sempat mengusulkan pemindahan ibukota pemerintahan kolonial dari Batavia ke Purworejo. Wacana Von Gogern ini didasarkan dengan berbagai pertimbangan, antara lain iklimnya yang cukup sehat, terdapat tangsi militer yang dapat dikembangkan sebagai sarana pertahanan, lokasinya yang strategis serta posisinya yang berada di pesisir selatan sehingga kecil kemungkinan musuh menjangkau sampai sini (Gill, 1990; 151). Sayangnya, wacana Von Gogern ini tinggal wacana saja setelah pemerintah kolonial akhirnya lebih memilih Bandung sebagai calon ibukota baru Hindia-Belanda.
Suasana  jalan di Purworejo pada tahun 1905. Suasana jalan seperti ini memikat hati para pengelana dari Eropa seperti Van Gelder dan Van Veth. Hingga saat ini, beberapa ruas jalan di Purworejo masih dapat ditemukan pohon-pohon asam yang menjadi peneduh jalan (sumber : media-kitv.nl).

Selain itu, kota Purworejo dipuji oleh para pengelana Eropa sebagai tempat paling bersih di selatan pulau Jawa. Van Gelder, seorang pengelana Eropa ketika dia mengunjungi Purworejo di tahun 1893, menulis :

Tempat yang memiliki jumlah penduduk sekitar 12.000 jiwa ini merupakan salah satu tempat terbersih di Jawa. Sisi kanan dan kiri jalan ditanam dengan pohon asam. Rumah bupati dan residen merupakan sebuah bangunan yang indah ” (Gill, 1990;216).
Pohon asam tua yang masih berdiri tegak di tengah kota Purworejo. Pohon-pohon inilah yang membuat para pengelana Eropa memuji Purworejo sebagai tempat terbersih di Jawa.
Sebagai ibukota Karesidenan Bagelen, Purworejo memiliki berbagai fasilitas untuk menunjang kehidupan masyarakat kota Purworejo seperti tempat ibadah, alun-alun, tempat kediaman penguasa, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain. Selanjutnya kota Purworejo tersambung dengan sebuah jalur kereta api dari Kutoarjo ke Purworejo pada tahun 1887 oleh Staatspoorwegen untuk menghubungkan kota Purworejo dengan kota-kota lainnyaRencananya, pemerintah kolonial juga hendak membangun jalur kereta Purworejo-Magelang yang akan membelah perbukitan Menoreh. Sayangnya, rencana ini tidak jadi terlaksana akibat penjajahan Jepang.
Rumah milik seorang opsir militer. Karena Purworejo dahulunya adalah kota garnizun, maka tidak heran jika banyak ditemukan rumah-rumah yang dahulu ditempati oleh pejabat militer.
Sayangnya, pada tahun 1901, kota Purworejo kehilangan perannya sebagai ibukota setelah Karesidenan Bagelen  dilebur dengan Karesidenan Kedu. Sehingga ibukota Karesidenan juga ikut digeser ke Magelang. Meskipun demikian, pembangunan berbagai fasilitas masih terus dilanjutkan oleh pemerintah kolonial di kota ini, bahkan pada tahun 1915, pemerintah kolonial membuka sebuah sekolah yang cukup istimewa yang berada di tengah kota Purworejo. Sekolah itu dikenal sebagai HKS Purworejo atau sekarang menjadi SMA N 7 Purworejo. Setelah kemerdekaan, pembangunan kota Purworejo tidak sepesat ketika Purworejo masih menjadi ibukota Karesidenan Bagelen. Meski pembangunannya lambat, namun lambatnya pembangunan secara tidak langsung menyelamatkan keberadaan bangunan lama yang ada di kota ini.

Purworejo, Kota Kecil dengan Segudang Peninggalan Sejarah
Persebaran bangunan kolonial yang ada di Purworejo.
Setelah mengetahui sejarah kota Purworejo, selanjutnya mari kita telusuri bersama berbagai peninggalan masa kolonial yang ada di kota Purworejo.
Suasana alun-alun Purworejo, tepatnya di perempatan BRI, pada tahun 1930an. Orang yang di tengah foto merupakan petusas polisi lalu lintas. Cukup aneh karena suasana jalan Purworejo pada waktu itu tidak begitu ramai. Gardu yang berdiri di situ masih ada hingga sekarang. 
Suasana alun-alun Purworejo tempo dulu. Di kejauhan tampak rumah Residen yang kini menjadi kantor bupati Purworejo.
Perjalanan pertama akan kita mulai dari alun-alun Purworejo (1). Seperti kota-kota di Jawa yang didirkan di masa kolonial, kota Purworejo memiliki alun-alun sebagai pusat kota. Di sekitar alun-alun Purworejo banyak berdiri bangunan-bangunan penting dari masa kolonial seperti kediaman bupati dan residen, masjid, gereja, kantor pos, kantor pengadilan, dan penjara. Dengan ukuran 250 m x 250 m, alun-alun Purworejo menjadi alun-alun kota tradisional terluas di Jawa yang pernah dibangun. Dalam konsep tata ruang kota tradisional Jawa, Alun-alun merupakan salah satu bagian terpenting karena di sinilah rakyat dari segala penjuru kabupaten berkumpul dalam jumlah banyak, yang melambangkan kejayaan sebuah kerajaan atau kabupaten (Suherman, 2013; 45). Di tengah alun-alun, kita dapat menjumpai  dua buah pohon beringin yang merupakan simbol bahwa bupati selain sebagai seorang penguasa sebuah wilayah juga merupakan wakil Tuhan. Di sisi utara alun-alun, terdapat dua paseban (yang kini menjadi kantor KONI) yang dulu merupakan tempat tamu singgah sebelum diizinkan menghadap ke bupati. Alun-alun Purworejo tidak berporos utara-selatan seperti alun-alun lain. Melainkan menyerong 37 derajat ke arah timur laut, mengikuti pola jaringan jalan yang sejajar dengan sungai Bogowonto.
Masjid Agung Purworejo.
Di sebelah barat alun-alun, kita bisa melihat Masjid Agung Purworejo (2). Berdasarkan prasasti di atas pintu masuk bagian dalam, masjid ini dibangun di tahun 1834. Keberadaan masjid di sebelah barat alun-alun merupakan salah satu elemen dalam konsep pola tata ruang kota tradisional  Jawa, sehingga jarang sekali ditemukan alun-alun yang di bagian baratnya tidak terdapat masjid.
Masjid Agung Purworejo pada tahun 1930an.
Secara aristektural, Masjid Agung Purworejo memilliki atap tajug tumpang tiga dengan hiasan mustaka pada bagian puncak. Di dalam masjid, kita bisa melihat konstruksi masjid yang terdiri dari empat tiang sokoguru atau tiang utama yang umpaknya berasal dari bekas Yoni dari masa klasik,dan terdapat 12 tiang soko rowo atau tiang pembantu. Arsitektur masjid tradisional seperti masjid ini sudah semakin jarang ditemukan pada alun-alun di Jawa. Rata-rata bangunan masjid lain sudah dirombak menjadi modern dengan atap berbentuk kubah ala Timur Tengah. Di bagian serambi depan, kita bisa melihat bedhug berukuran raksaksa yang dikenal sebagai Bedug Agung Pendhowo. Pembuatan bedhug ini bersamaan dengan pembangunan masjid ini. Menariknya, bedhug ini dibuat dengan kayu jati utuh tanpa sambungan…
Pendhopo Kabupaten Purworejo dulu (1930an) dan kini (2016). Tidak ada yang berubah selain bendera yang berkibar di depan pendhopo. Jika dulu bendera triwarna Belanda, kini bendera Merah Putih yang berkibar di depan pendhopo.
Masih di sekitar alun-alun Purworejo, berada di sisi utara alun-alun Purworejo, terdapat Pendhopo Agung Kabupaten Purworejo (3), tempat kediaman bupati Purworejo dari masa ke masa. Pendopo yang dibangun di masa Cokronegoro I ini sengaja dibangun menghadap selatan karena dalam konsep kosmologi Jawa, di selatan terdapat samudera Hindia yang dipercaya menjadi kediaman Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan. Hal ini juga dimaksudkan untuk tidak membelakangi Keraton Surakarta yang dihormati oleh Cokronegoro. Bangunan Pendopo Agung ini dibedakan menjadi dua bagian, yakni bagian pendopo beratap joglo di bagian depan yang merupakan tempat menerima tamu serta penyelenggaran upacara-upacara penting dan bangunan belakang berarsitektur Indis yang menjadi tempat kediaman bupati Purworejo.
GPIB Purworejo (Indische Kerk).
Dari Pendhopo, selanjutnya kita berpindah ke bagian timur alun-alun Purworejo. Di sini, terdapat beberapa bangunan penting antara lain kantor pos dan gereja. Gereja yang saat ini menjadi GPIB Purworejo (4) diresmikan pada tanggal 12 November 1879 dan menjadi gereja tertua di wilayah Bagelen. Gereja ini memiliki jendela tinggi berbentuk seperti jarum yang menjadi ciri khas arsitektur Neo-Gothik. Di atas pintu masuk gereja, terdapat menara lonceng yang sudah mengalami dua kali perubahan bentuk. Atap yang lama berbentuk tajug, kemudian atap imi direnovasi dengan bentuk kubah seperti yang terlihat sekarang.
GPIB Purworejo pada tahun 1900an ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Gereja yang di masa kolonial disebut Indische Kerk ini merupakan tempat peribadatan yang hanya boleh dihadiri oleh orang-orang barat saja. Gereja tua ini memiliki orientasi ke arah barat, menghadap ke arah Masjid Agung. Masjid dan gereja yang saling berhadapan merupakan bukti bahwa harmonisasi kehidupan umat beragama di Purworejo sudah ada sejak masa lalu.
Kantor Bupati Purworejo. Di hari minggu pagi, kita bisa melihat anak-anak yang sedang menari ndolalak di beranda depan.
Di sebelah selatan alun-alun, berseberangan dengan pendopo bupati, terdapat Kantor Bupati Purworejo (5) yang menempati bekas kediaman rumah residen Bagelen. Secara arsitektural, bangunan ini memiliki gaya arsitektur Indis Empire Style yang dapat ditemukan  pada tempat tinggal para pejabat kolonial di Jawa. Ciri arsitektur Indis Empire Style dapat kita lihat pada penggunaan pilar-pilar besar di bagian depan dan beranda terbuka di bagian depan dan belakang sebagai bentuk adaptasi dengan iklim tropis. Penggunaan gaya ini dimaksudkan sebagai bentuk kekuasaan mereka dihadapan orang-orang pribumi. Meski bagian depan bangunan ini sudah sedikit berubah dari bentuk aslinya, namun pilar-pilar besar di bagian serambi depan yang tetap dipertahankan.
Kediaman residen Purworejo tempo doeloe. Bagian fasad pada masa sekarang sudah mengalami sedikit perombakan.
Dahulu di halaman sekitar bekas residen ini, terdapat arca-arca dari masa kerajaan kuna yang ditemukan di sepanjang sungai Bogowonto dan selanjutnya dikumpulkan di sini. Arca-arca ini sekarang dipindahkan ke Museum Tosan Aji. Bekas kediaman residen yang diperkirakan dibangun sekitar pertengahan abad ke 19 ini dibangun menghadap tempat tinggal bupati yang ada di utara, simbol pengawasan pemerintah kolonial terhadap segala aktivitas di kediaman bupati, sehingga dapat dikatakan terdapat nuansa politis pada pemilihan lokasi kediaman  residen. Selain itu, keberadaan alun-alun di depan kediaman residen sangat membantu dalam upaya antisipasi ancaman yang sewaktu-waktu datang dari kediaman bupati.
Beginilah foto udara kota Purworejo pada tahun 1920an yang memperlihatkan tangsi militer Kedungkebo atau sekarang menjadi kompleks Yonif 412. Dahulu, tangsi militer ini menjadi markas Batalyon Infanteri ke 18 dengan jumlah personel sebesar 600 orang.
Sebagai kota garnisun, di sini kita dapat menemukan bangunan-bangunan penunjang aktivitas militer seperti tangsi militer, rumah dinas untuk perwira militer, rumah sakit militer, Sosieteit militer dan lapangan tembak (dahulu berada di persawahan di sebelah selatan kelurahan Paduroso).
Bekas sosieteit militer yang kondisinya rusak parah.
Di ujung jalan Ksatrian, sebuah jalan teduh yang berada di utara kompleks KODIM 0732, kita dapat menemukan sebuah bangunan tua yang kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. Bangunan tua yang nyaris rubuh ini dahulunya adalah sosieteit yang diperuntukan untuk kalangan militer. Dahulu, para prajurit jika tidak ada latihan militer atau panggilan tugas akan menghabiskan waktu senggangnya di bangunan ini dengan menonton film atau sandiwara. Di sini. Kita dapat menemukan bekas sebuah ruang proyektor, lalu ruang penonton dengan lantai berundak agar penonton di belakang tidak terhalang oleh penonton di depannya, dan panggung untuk memutar film atau untuk menampilkan pertunjukan sandiwara.  Sebelum rusak, bangunan ini digunakan sebagai Balai Prajurit dan warga sekitar sering menggunakan bangunan ini untuk kegiatan masyarakat.
Rumah sakit DKT Purworejo.
Di beberapa kota garnisun, pasti akan ditemukan keberadaan sebuah rumah sakit yang khusus diperuntukan untuk kalangan militer. Di kota Purworejo, kita akan menemukannya di jalan Sapta Marga. Rumah sakit yang kini dikenal sebagai RS DKT (6) ini dahulu dikenal sebagai rumah sakit militer. Rumah sakit yang dibangun pada tahun 1915 ini, sejak tahun 19129 tidak boleh menerima pasien dari kalangan non-militer, kecuali jika rumah sakit zending sudah terlalu penuh. Tujuannya agar rumah sakit militer menyaingi rumah sakit swasta. Orang Eropa dan pribumi kelas atas lebih suka dirawat di RS Militer ini karena pelayanannya lebih baik ( Musadad, 2001 ; 99 ) Paska kemerdekaan, kompleks rumah sakit ini digunakan sebagai kamp internir untuk warga Indo-Eropa. Dahulu akses utama rumah sakit ini berada di sebelah selatan. Namun seiring berjalannya waktu, akses utama dipindah ke sebelah barat yang jalannya lebih ramai. Sebagian bangunan rumah sakit ini nyaris hilang. Pada beberapa bangunan ada yang atap beserta kusen jendelanya sudah raib entah kemana. Bagian-bagian doorlop atau selasarnya juga sebagian sudah mulai hilang.
Museum Tosan Aji, dulu Landraadgebouw atau pengadilan. Di sinilah dahulu orang-orang dijatuhi hukuman untuk selanjutnya dimasukan ke penjara yang berada di depan gedung ini.
Satlantas Purworejo, dulu Djaksakantoor atau kantor jaksa. Lokasi gedung ini berada persis di samping gedung pengadilan yang sekarang Museum Tosan Aji.
Kantor Dinas Pengarian, dulu kantor dinas Irragatie. Fungsi bangunan ini tidak berubah dari waktu ke waktu, yakni sebagai kantor dinas irigasi.
Kantor BKSDA, dulu Waterstaat Kantoor.
Selain fasilitas-fasilitas penunjang untuk keperluan militer, di Purworejo kita juga dapat menjumpai bangunan-bangunan lain untuk menunjang keperluan masyarakat Purworejo, baik untuk masyarakat pribumi maupun untuk masyarakat Eropa. Misalnya di sepanjang jalan Mayjend. Soetoyo terdapat beberapa bangunan bergaya kolonial yang dahulu digunakan sebagai kantor-kantor pemerintahan seperti Waterstaat Kantoor (Kantor BKSDA), Irrigatie Kantor (Dinas Pengairan), Landraadgebouw (Museum Tosan Aji) dan Djaksaakantoor (Satlantas Purworejo,eks Polres Purworejo). Beberapa bangunan ini bentuk aslinya masih terlihat sampai sekarang. Sementara itu, di sebelah barat alun-alun, juga terdapat beberapa kantor penting lainnya seperti kantor pos dan telepon, kantor bank, dan kantor perusahaan listrik. Di antara ketiga bangunan tadi, hanya kantor pos saja yang perubahannya tidak terlalu banyak.
Gereja Katolik Santa Perawan Maria.
Sebuah plakat yang bisa kita temukan di sudut luar gereja. Plakat ini menunjukan arsitek yang merancang gereja ini, yakni biro arsitek Fermont en Cuypers.
Selain GPIB, di Purworejo kita juga dapat melihat sebuah gereja tua yang menjadi tempat ibadah umat Katolik. Gereja tua ini dikenal sebagai Gereja Santa Perawan Maria (9). Dibandingkan dengan GPIB, usia gereja ini memang relatif lebih muda karena bangunan gereja ini baru didirkan pada tahun 1933. Sebelumnya, gereja ini merupakan kantor dari B.O.W (DPU-nya zaman Belanda) dan kemudian dibeli oleh romo-romo dari ordo Serikat Jesuit sebelum akhirnya diserahkan kepada romo-romo dari ordo MSC (Tarekat Hati Kudus). Bangunan gereja ini terlihat lebih lugas karena arsitektur gereja ini dirancang oleh arsitek professional dari biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuypers. Kecuali gereja ini, rata-rata bangunan yang ada di Purworejo dirancang oleh arsitek amatiran dari zeni militer, pemborong Tionghoa, atau dari B.O.W. Gereja ini diresmikan dan diberkati pada tanggal 13 Agustus 1933 oleh Mgr. B. J. J Visser M. S. C. Di sebelah utara gereja ini terdapat kompleks pastoran, bruderan, susteran dan sekolah yang didirikan oleh lembaga misi Katolik.
Stasiun Purworejo.
Di tengah kota Purworejo, kita juga dapat melihat sebuah bangunan prasarana transportasi berupa stasiun kereta api (10) sebagai tempat untuk menaik turunkan penumpang dan barang. Stasiun ini sekarang tidak dipakai lagi, namun kemegahan stasiun ini masih bisa kita lihat hingga sekarang. (ulasan lebih lengkap mengenai stasiun ini dapat dibaca di sini "Stasiun Purworejo, Sekelumit Kejayaan Kereta Api di Purworejo").

SMA N 7 Purworejo,dulu Hoogere Kweekschool Poerworedjo.
SMP N 2 Purworejo, dulu Lageree Europesche School.
Hollandsch Inlandschool pada tahun 1930an,kini SMP N 1 Purworejo.
Hollandsch Chineese School, kini SMP Widhodo.
SD N 1 Purworejo, dulu Inlandsche School. Di dalam SD ini terdapat sebuah ruang kelas yang bangku-bangkunya masih asli dari zaman dahulu.
SMP N 4 Purworejo, dulu Chr. Hollandsch Javaansche School.
Sementara itu, kita juga dapat menemukan beberapa bangunan tua yang dahulu dipakai sebagai sarana pendidikan. Kehadiran lembaga pendidikan di Purworejo sudah hadir sejak tangsi militer Kedungkebo dibangun. Sekolah ini dibuka untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak dari keluarga serdadu Belanda yang masih aktif atau yang sudah pensiun. Perkembangan pendidikan di Purworejo semakin pesat setelah politik etis diterapkan di Hindia-Belanda pada awal abad ke-20. Dengan diterapkannya politik etis, semakin banyak sekolah yang dibuka di Purworejo, baik yang dibuka oleh pemerintah maupun dari lembaga zending dan misi. Sekolah-sekolah itu antara lain Inlandsche School (SD N 1 Purworejo), Chr. Hollandsch. Javaansche School (SMP N 4 Purworejo), Hollandsch Inlandsche School (SMP N 1 Purworejo), Hollandsch Chineese School (SMP Widhodo), Lageree Europesche School (SMP N 2 Purworejo) dan yang paling besar, Hoogere Kweekschool Poerworedjo (SMA N 7 Purworejo) (7) (ulasan lebih lengkap tentang HKS Purworejo dapat dibaca di sini " Mengintip HKS Purworejo, Sekolah Calon Guru Masa Kolonial" ).
Zending Hospitaal yang didirkan oleh lembaga zending. Saat ini menjadi RSU  Dr. Tjitrowardojo. Sebagian besar bangunan sudah berubah kecuali rumah dinas dokter yang ada di sebelah barat rumah sakit.
Selain rumah sakit yang dibuka oleh militer, di Purworejo masih ada satu rumah sakit lagi yang dikelola oleh lembaga zending dan diperuntukan untuk masyarakat umum. Rumah sakit ini sekarang menjadi RSU Dr. Tjitrowardojo. Meski dari depan bangunan sudah terlihat baru, namun jika kita masuk ke dalam area rumah sakit, kita akan menemukan beberapa bangsal yang masih menggunakan bangunan lama. Di samping rumah sakit ini juga terdapat sebuah rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas untuk dokter.



Pasar Baledono tempo doeloe.
Sentra perekenomian Purworejo di masa lalu sampai sekarang terletak di pasar Baledono. Tahun 2013, pasar ini dilalap habis oleh si jago merah dan tahun ini (2017) bangunan pasar akan dibangun kembali dengan ukuran yang lebih besar. Di sekitar pasar, kita dapat menjumpai pemukiman orang Tionghoa yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. (ulasan lebih lengkap mengenai Pecinan Purworejo dapat dibaca di sini " Menyusuri Warisan Budaya Tionghoa di Purworejo").
Pejagalan hewan yang terletak di ujung jalan Jagalan, Baledono, Purworejo. Sampai sekarang masih difungsikan sebagai rumah potong hewan.
Pabrik Es Purworejo yang sudah berdiri sejak tahun 1886.
Untuk memenuhi konsumsi daging masyarakat Purworejo zaman dahulu, sebuah abbatoir atau pejagalan hewan dibangun di daerah Jagalan, Baledono. Lokasi pejagalan dibangun di dekat kali Kedungputri untuk memudahkan pembuangan bagian hewan yang tidak dikonsumsi seperti darah. Dahulu di Purworejo juga pernah berdiri sebuah pabrik es di tepi Kali Kedungputri namun sayangnya kini pabrik itu sudah hilang.

Gedung bioskop pada tahun 1930an. Bioskop ini sekarang menjadi Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo, di perempatan jalan Pemuda dan Jalan Urip Sumaharjo. Meski bioskop ini sudah beralih rupa, namun pohon di depan bioskop masih ada hingga sekarang.
Sarana hiburan di Purworejo di masa kolonial ternyata jauh lebih bervariasi jika dibandingkan dengan Purworejo zaman sekarang. Dahulu, di tempat yang sekarang sudah berdiri gedung DPRD Purworejo, terdapat sebuah societet, yakni tempat orang-orang Eropa menghabiskan waktu senggang nya dengan bermain bilyar, minum-minum, berdansa, bersosialisasi dengan orang Eropa lain atau hanya sekedar nongkrong saja. Kemudian di selatan alun-alun Purworejo, tepatnya di timur Kantor Bupati, terdapat Tenisbahn atau lapangan tenis. Tenis merupakan jenis permainan yang digemari oleh kalangan elit Belanda. Selanjutnya di tempat yang sekarang menjadi Gedung Kesenian Sarwo Edhi Wibowo, dahulu pernah berdiri sebuah bioskop yang dikelola oleh orang Tionghoa. Bioskop ini di kemudian hari menjadi bioskop Bagelen sebelum akhirnya dibongkar menjadi gedung kesenian. Selain bioskop tadi, masih ada satu bioskop lagi di kota ini, yakni bioskop Pusaka yang kini menjadi pasar swalayan Jodo.
Kamar mesin pompa air di Tuksongo. Di bagian atas pintu masuk terdapat inskripsi "1925" yang menunjukan tahun pembangunan bangunan tersebut.
Salah satu gardu listrik di jalan Jenderal Sudirman tinggalan N. V Poerworedjo Electricitbedrijf. Gardu listrik ini berfungsi sebagai transformator penurun tegangan listrik dari tingkat tinggi ke tingkat yang aman bagi keperluan rumah tangga.
Keberadaan jaringan listrik sudah ada di Purworejo sejak masa kolonial. Hal ini ditandai dengan keberadaan berbagai gardu listrik lama tinggalan perusahaan listrik A.N.I.E.M ( Algemenee Nederlandsch Indisch Electreit Maatschappij ). Gardu-gardu ini berdiri di tempat-tempat yang menjadi kantong pemukiman orang-orang Eropa. Adapun sumber listrik berasal dari PLTA yang dahulu pernah ada di Baledono, tidak jauh dari tepi sungai Bogowonto dengan memanfaatkan saluran air Kedung Putri sebagai sumber tenaga. Keberadaan jaringan listrik ini membuat kehidupan malam di Purworejo tempo dulu menjadi gemerlap oleh lampu-lampu listrik. Selain listrik, sambungan telepon dan telegraf juga sudah masuk di Purworejo. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Purworejo (terutama masyarakat Eropa), maka pada tahun 1925 dibangunlah sebuah sumur pompa air di daerah Tuksongo.
Gapura Kerkhof Purworejo.
Tidak jauh dari pusat kota Purworejo, kita dapat mengunjungi tempat peristirahatan terakhir untuk orang-orang Eropa yang dikenal sebagai kerkhof. (ulasan lebih lengkap bisa dibaca di sini "Melihat Makam-makam Belanda di Kerkhof Purworejo" )

Tersebar di setiap sudut kota, kita akan disuguhkan dengan pesona rumah-rumah tua dengan bentuk yang beragam dengan nasib yang juga beragam. Ada yang masih terawat baik dan ada juga yang nyaris rubuh ditelan usia.
Salah satu rumah tua di jalan Sapta Marga, tepatnya di depan kompleks RS. DKT. Di sepanjang jalan ini, terdapat 8 rumah dengan bentuk yang serupa dengan rumah ini. Rumah yang tergolong dalam tipe kopel (dua rumah dalam satu atap) ini dahulu menjadi rumah dinas opsir militer berpangkat letnan
Rumah-rumah tua di sepanjang jalan Urip Sumoharjo, Purworejo (depan gedung DPRD). Rumah-rumah ini dahulu ditempati oleh para opsir militer berpangkat kapten. Sayangnya banyak bangunan rumah yang terlantar. Bangunan-bangunan ini sebisa mungkin segera diselamatkan karena lokasinya yang strategis membuatnya rawan dibongkar untuk bangunan baru.
Rumah-rumah dinas untuk guru HKS yang ada di sepanjang jalan Ki Mangun Sarkoro. Deretan rumah tua di sini dapat dikatakan merupakan yang paling terawat di kota Purworejo.
Rumah-rumah tua yang ada di Purworejo. Dari kiri atas, searah jarum jam. Rumah tua di Jln. Sarwo Edhi Wibowo. Rumah tua di depan Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo. Rumah tua di jln. Mayjend. Sutoyo. Rumah tua di kompleks Bruderan.
Beberapa rumah-rumah tua yang ada di Purworejo. Dari kiri atas, searah jarum jam. Rumah tua di Jln. Sarwo Edhi Wibowo. Rumah tua di depan Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo. Rumah tua di jln. Mayjend. Sutoyo (dekat kantor Dinas Peternakan). Rumah tua di kompleks Bruderan.
Bekas rumah dinas kepala HKS Purworejo yang masih terawat dengan baik.
Sebuah rumah lama di jalan Jenderal Sudriman, dekat perempatan Koplak. Rumah bergaya Indis ini dahulu dihuni oleh Van Frassen, seorang direktur perkebunan. Tidak ada perubahan sama sekali pada bangunan ini selain teras depan yang ditutup untuk menambah ruangan. Bangunan ini sekarang menjadi kantor GKJ klasis Purworejo. Sebelumnya rumah in menjadi SMK Widhodo.
Salah satu rumah lama yang berada di kawasan Gang Afrikan (8). Rumah ini dahulu dihuni oleh Londo Ireng atau orang-orang kulit hitam dari Afrika yang didatangkan pemerintah Belanda ke Purworejo untuk bekerja sebagai serdadu. Orang-orang Afrika ini direkrut dari Kerajaan Ashanti (sekarang Guinea). Mereka direkrut karena dikenal kuat dan mudah beradaptasi dengan iklim tropis meski mereka dimata para perwira dianggap sebagai pemalas (Kessel,1995; 49). Itulah asal-usul mengapa tempat ini dinamakan Gang African. Keberadaan rumah-rumah ini menjadi bukti bahwa kota Purworejo dahulu merupakan sebuah kota yang multietnis dan semakin mempertegas keistimewaan kota Purworejo di masa lalu karena kehadiran masyarakat kulit hitam jarang sekali dijumpai pada sebuah kota di Indonesia.
Rumah yang cukup besar di jalan Mayjen. Sutoyo yang kini menjadi kantor Badan Kepegawaian Daerah. Rumah ini dahulu dihuni oleh insinyur pengairan Belanda.
Setelah kita menjelajah seluruh peninggalan masa kolonial di kota Purworejo, dapat disimpulkan bahwa ternyata kota Purworejo di masa lalu termasuk sebuah kota yang luar biasa penting, hingga pemerintah kolonial nyaris menjadikan Purworejo sebagai ibukota Hindia-Belanda. Daya tarik kota ini juga mendapat pujian oleh para pengelana Eropa yang pernah singgah di sini. Sayangnya, kekayaan peninggalan sejarah yang masih tersisa tadi hingga sekarang belum tergarap secara maksimal. Padahal jika potensi ini dapat dikembangkan dengan baik, maka hal ini bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat di masa sekarang dan generasi mendatang. Jika peninggalan sejarah ini bisa dilestarikan dengan baik, barangkali kota Purworejo bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi sejarah yang tidak kalah dengan Kota Tua Jakarta atau Kota Lama Semarang. Bukannya tidak mungkin jika  suatu hari nanti Purworejo bisa menjadi bagian dari Kota Warisan Dunia. Oleh karena itulah mumpung peninggalan sejarah ini masih ada dan belum terlanjur hilang, mari kita bersama-sama mengenali dan menjaganya karena bagaimanapun juga peninggalan-peninggalan ini adalah milik kita dan generasi selanjutnya.....

Referensi
Gill, Ronal. G. 1990. De Indische Stad op Java en Madoera. Delft : TU Delft.

Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Kessel, Ineke van. 2005. " West African Soldiers in The Dutch Indies ; From Donkos to Black Dutchmen" dalam Jurnal Transactions in Historical Society of Ghana, No. 9 tahun 2005.

Musadad. 2001. " Dari Pemukiman Benteng Ke Kota Administrasi ( Tataruang Kota Purworejo Tahun 1831-1930 ) ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

---------, 2002, " Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930 ". Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. 

Radix Penadi. 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya

Suherman, Oteng dan Supriyo. 2013. Kiprah RAA Cokronegoro I Membangun Kabupaten Purworejo. Purworejo : Pustara Srirono