Selasa, 03 Mei 2016

Mengingat Karya Van Lith di Kompleks Misi Muntilan


Tulisan Jejak Kolonial kali ini mengajak anda ke Muntilan, sebuah kota kecil yang berada 13 kilometer ke selatan dari kota Magelang. Di tengah kota kecil ini, terdapat sebuah kompleks misi yang berhubungan erat dengan sejarah perkembangan agama Katolik di Jawa bagian tengah. Keberadaan kompleks misi yang didirikan oleh Van Lith inilah, yang menjadikan kota Muntilan mendapat julukan sebagai Bethlehem van Java. Kira-kira bagaimana asal-usul dan riwayat kompleks misi ini serta jejak apa saja yang masih tersisa sampai sekarang ? Mari kita kupas bersama-sama di tulisan Jejak Kolonial kali ini.

 Riwayat kompleks Misi Muntilan



Pastor F.van Lith (1863-1926), seorang Jesuit yang yang mendirikan Misi Muntilan. Van Lith sendiri termasuk sosok yang berseberangan dengan pemerintah kolonial. Ketika sempat kembali ke Belanda pada tahun 1920, sewaktu kembali lagi ke Indonesia, dia dihalang-halangi oleh pemerintah kolonial. Perlu kita ketahui, Van Lith memiliki teman dekat yang juga tokoh dari Sarekat Islam, yakni Haji Agus Salim. 
Sebenarnya, sebelum kehadiran Pastor Fransiskus van Lith di Muntilan, kegiatan pelayanan umat dan misi Katolik sudah berjalan di Pulau Jawa. Namun kegiatan ini mengalami hambatan dikarenakan oleh beberapa hal, antara lain jumlah personil yang mau berkarya di kalangan orang Jawa masih terbatas, kemudian adanya kesulitan pendananaan untuk mengembangkan kegiatan misi serta adanya prasangka orang Jawa terhadap misi Katolik yang dianggap sebagai bagian dari penjajahan Belanda. Praktis, kegiatan pelayanan umat Katolik hanya terbatas di kalangan orang-orang Barat saja.

Denah Xaverius College 
(sumber : Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 48).
Kedatangan  Pastor F.van Lith ke Muntilan pada tahun 1897 menjadi titik awal dari perkembangan kegiatan misi di Jawa bagian tengah. Van Lith menyadari bahwa sukses tidaknya misi di sini tergantung dari kemampuan para misionaris untuk berbaur dengan masyarakat sekitar, oleh karena itulah beliau mempelajari bahasa dan kebudayaan Jawa.
Kompleks Misi Muntilan tahun 1935. Gambar diambil dari lantai tiga gedung Pastoran. (De Tijd  godsdienstig staatkundig dagblad tanggal 8 Agustus 1935).
Pada awalnya Pastor F.van Lith tinggal di sebuah rumah yang disewa Pastor Stiphout yang lokasinya berada di kawasan Pecinan, di pinggir jalan Magelang-Yogya yang ramai. Namun van Lith tidak betah akibat suasana yang cukup ramai dan beliau juga merasa kesulitan mengadakan kontak dengan masyakarat Jawa, oleh karena itulah beliau pindah ke desa Semampir yang lokasinya masih dekat dengan pusat pemerintahan Muntilan (DR. Jan Wietjens SJ, 1995;7). Kelak rumah sederhana di desa Semampir ini akan menjadi basis misi Katolik di Jawa bagian tengah.


Foto udara kota Muntilan pada tahun 1931. Nampak deretan ruko Pecinan di sepanjang jalan Magelang dan Kompleks Misi (kotak kuning) (Sumber : media-kitlv.nl).
Selanjutnya pada tanggal 20 Desember 1898, Pastor Van Lith, bersama Pastor Houvenars, Hebrans, dan Engebers mengadakan suatu perundingan. Hasil perundingan ini memutuskan bahwa Kedu akan menjadi titik awal penyebaran misi Katolik di wilayah Jawa Tengah dengan pertimbangan bahwa posisi Kedu berada dekat dengan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa serta dekat dengan Semarang yang kegiatan misinya sudah lumayan berkembang sehingga diharapkan dari Semarang dapat memberi secercah harapan untuk misi ini (idem, 1995;8).
Gedung Pastoran pada tahun 1937 (sumber : media-kitlv.nl).
Kompleks Bruderan pada tahun 1937 (sumber : media-kitlv.nl).
Sebagai seorang Jesuit, Van Lith sadar bahwa jalur yang harus ditempuh agar misi bisa berkembang adalah jalur pendidikan karena diharapkan dari jalur ini bisa memberikan sumbangsih nyata untuk masyakarat Jawa yang pada waktu itu dalam kondisi cukup menderita dibawah tekanan pemerintah kolonial. Jalur pendidikan memang sudah lama dipakai oleh Ordo Serikat Jesuit ( ordo Katolik yang diikuti Van Lith ) untuk kegiatan misi mereka di seluruh dunia. Sebagai langkah awal, Pastor Van Lith membuka sebuah sekolah dasar dan seiring berjalannya waktu, sekolah ini kian berkembang. Pada awalnya bangunan sekolah ini masih sangat sederhana dan dengan semakin banyaknya jumlah murid yang bergabung, maka bangunan sekolah yang ada tentu dirasa kurang memadai. Perkembangan jumlah murid ini ternyata juga tidak diimbangi dengan jumlah guru yang ada. Sehingga Pastor Van Lith harus membuka sebuah sekolah tersendiri untuk menyediakan tenaga pengajar. Untunglah di tahun 1911, pemerintah kolonial mulai memberi bantuan kepada misi ini sehingga dapat membangun gedung sekolah yang lebih besar dan nyaman.
Dua bruder yang sedang berdiri di depan kolam teratai. Di belakang terlihat bangunan gereja Santo Antonius Muntilan (sumber : media-kitlv.nl).
Suasana bagian dalam kompleks Misi Muntilan yang terlihat asri (sumber : media-kitlv.nl).
Pembangunan sekolah ini selesai pada tanggal 18 Juni 1911 dan diberi nama  “Xaverius College”. Sekolah ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti asrama, kamar-kamar untuk para guru, ruang makan sekaligus ruang sandiwara, sebuah lapangan olahraga, serta terdapat kebun untuk tempat praktek ilmu pertanian. Kompleks ini kemudian dilengkapi dengan bangunan-bangunan pendukung lain seperti gereja, pastoran, susteran, bruderan, dan rumah sakit. Dapat dikatakan, kompleks misi Muntilan merupakan kompleks misi terbesar di Jawa bagian tengah.
Berita pergantian kepala Xaverius College yang dimuat di koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie tanggal 14 Juli 1936. Pastor G. M. Minderop dari Semarang ditunjug sebagai kepala Xaverius College.
Kegiatan belajar di Xaverius College. Foto ini berasal dari kartu pos terbitan sekitar tahun 1910. Kadang sumber dana untuk kegiatan misi berasal dari penjualan kartu pos menggambarkan kegiatan misi seperti kegiatan belajar ini (Sumber :media.kitlv.nl).
Para murid Xaverius College yang sedang makan bersama (sumber : media-kitlv.nl).
Selain sebagai pusat pendidikan, Misi Muntilan juga menjadi jujugan warga pribumi yang ingin mendalami ajaran Katolik. Tidak jarang beberapa warga pribumi yang setelah mendalami ajaran Katolik di Muntilan, menyebarkannya lagi ke daerah asalnya. Misalnya di daerah Kalibawang, Kulonprogo, ada seorang guru agama Kristen bernama Dawud. Di awal tahun 1903 dia datang ke Pastoran Muntilan bersama empat kepala dusun di Pegunungan Menoreh. Mereka ingin menjadi Katolik bersama semua penduduk desa mereka. Setelah mereka dibabtis pada tahun 1904, mereka mengajar orang-orang daerah mereka dengan rajin dan jujur. Di di akhir tahun yang sama, sudah ada 172 orang yang dibabtis di mata air Sendangsono (idem, 1995;10).
Kompleks misi Muntilan pernah dipakai sebagai tempat pertemuan organisasi Katolik seperti Wanita Katolik, Katolik Awandawa, Palupi Darma, dan Katoli Muda PPKD. Pada pertemuan yang diberitakan di Het nieues van den dag voor nederlandsch Indie tanggal 24 Februari 1932 ini membahas mengenai tindakan pengusrian para Jesuit di Spanyol.
Meskipun van Lith meninggal pada tahun 1926, kompleks misi Muntilan bukannya mundur justru malah semakin berkembang seiring dengan dibukanya berbagai sekolah-sekolah untuk tingkatan tertenrtu,. Sekolah-sekolah itu mulai dari H. I. S , Normaalschool, Holland Chinesche School, Standaarschool, dan Schalkeschool. Semua sekolah ini berada dibawah institusi pendidikan Xaverius College. Meski sempat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1930an, namun kegiatan belajar mengajar di kompleks ini masih terus berjalan. Dalam menerima murid mereka tidak memandang dari mana asal mereka dan dalam penajaran mereka tidak memaksa untuk menjadi Katolik. Para lulusan Xaverius College kelak akan menjadi tokoh-tokoh Katolik terpandang. Mulai dari F.X Satiman, S.J, pastor pertama dari bangsa pribumi dan Mgr.Albertus Soegijapranta, uskup pertama dari bangsa pribumi.
Salah satu alumnus Xaverius College, Romo F. X Satiman ketika sedang bertugas di Banjarmasin pada tahun 1952 (sumber : media-kitlv.nl).
Sayangya, riwayat Xaverius College terpaksa berakhir pada bulan Oktober 1943, ketika pemerintah pendudukan Jepang menutup menutup paksa kompleks misi ini dan mengubahnya sebagai kamp interniran untuk orang-orang barat. Habis jatuh tertimpa tangga, belum pulih dari pendudukan Jepang, lima hari sebelum hari Natal pada tahun 1948, sebagian besar bangunan misi kemudian dibumihanguskan oleh para milisi republik karena khawatir bangunan ini akan dipakai sebagai tangsi militer serta adanya sentimen terhadap misi yang dianggap pro-Belanda. Padahal kompleks misi ini sudah mendapat surat resmi perlindungan dari pemerintah. 

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 20 Juli 1950, kegiatan belajar mengajar di Kompleks Misi Muntilan dipulihkan kembali setelah ordo FIC kembali masuk ke Muntilan. Beberapa bangunan kolese yang rusak diperbaiki dan sekolah-sekolah yang dahulu sempat ditutup di masa penajajahan Jepang dibuka kembali (Sulistyowati.Tri, 2004;13-31).

Seputar Kompleks Misi
Denah Kompleks Misi Muntilan. 
Keterangan : 1 : Gereja Santo Antonius. 2  : Museum Misi Muntilan. 3 : Pastoran. 4 : SMP Kanisius. 5 : Susteran OSF. 6 : SMA Pangudi Luhur Van Lith. 7 : Kerkhof Muntilan. 8 : Bruderan FIC. 9 : Kompleks SMK Van Lith. 10 : SD Materdei. 11 : SMP Marganinigsih.
Akses untuk menuju ke kompleks misi ini cukup mudah. Anda jalan dari Yogyakarta putar balik kembali ke arah Yogyakarta lewat jalan ring road timur Muntilan. Sesampainya di perempatan kantor Polsek Muntilan, anda belok ke kiri dan susuri jalan Kartini sampai anda melihat sebuah bangunan gereja tua yang megah di sebelah kanan jalan. Akses masuk utama berada di balik pintu gerbang kompleks misi.
Gereja Santo Antonius Muntilan. Gereja ini dikeliling oleh selasar dengan plengkung-plengkungnya. Di bagian fasad depan terdapat elemen rose window atau Jendela Mawar yang lazim ditemui pada bangunan gereja,terutama Gereja Katolik. Jendela Mawar merupakan simbolisasi dari Maria.
Foto Gereja Muntilan setelah selesai dibangun 
(sumber : Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 52 )

Interior gereja 
(sumber : Muntilan Nederlandsch-Indie, Oud en Nieuw 1917 vol 2 halaman 53).
Di dalam tembok misi, kita bisa melihat  Gereja  St.Antonius Muntilan yang barangkali merupakan bangunan paling megah di kompleks seluas 114, 812 m ini. Desain arsitektur gereja ini dibuat oleh arsitek professional dari Batavia yang bernama M. J. Hulswit. Pembangunan gereja selesai pada tanggal 25 Maret 1915 (Akihary, Huib. 1990; 100). Arsitektur gereja merupakan perpaduan menarik antara gaya gotik (jendela mawar pada fasad depan) dengan gaya art deco (jendela kotak vertical). Meskipun lokasinya berada dipinggir jalan, namun pintu masuk ke gereja tidak langsung masuk dari jalan raya. Untuk masuk ke dalam gereja terlebih dahulu harus melewati sebuah gerbang yang membatasi kompleks misi dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian suasana ibadah di dalam gereja tidak terganggu oleh aktivitas dunia luar. Kapasitas gereja ini bisa mencapai 2.000 orang. Hingga sekarang, gereja ini masih digunakan untuk kegiatan ibadah umat Katolik yang ada di Muntilan. Keberadaan gereja ini menjadi tanda semakin mapannya misi yang digagas oleh Van Lith.

Gedung Pastoran dilihat dari sebelah utara.
Selain gereja, kita masih bisa menjumpai bangunan lain yang tidak kalah megah dan cantik di kompleks ini. Bangunan itu adalah Pastoran Muntilan yang berada di sebelah selatan gereja. Dari pintu gerbang kompleks misi, kemegahan bangunan Pastoran yang memiliki tiga lantai ini langsung dapat kita lihat. Bangunan Pastoran ini memiliki tiga lantai dengan orientasi menghadap ke arah utara. Bangunan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan gereja dan difungsikan sebagai tempat tinggal pastor paroki dan rektor Xaverius College (Akihary, Huib. 1990; 100). Lokasinya yang berada di dekat gereja memudahkan koordinasi dan pelaksanaan ibadah gereja karena biasanya yang menjadi imam gereja adalah pastor Paroki yang tinggal di dalam pastoran. Dari bawah, kita dapat memandang ke lantai paling atas Pastoran. Dari situ kita bisa membayangkan sosok Van Lith yang sedang berdiri memandang seluruh kompleks misi dengan latar belakang Gunung Sumbing yang berada di sebelah barat.

Di belakang Pastoran ini, terdapat sungai kecil yang bernama Kali Lamat. Kompleks misi ini dibangun mengikuti kontur sungai. Air dari sungai ini dahulu menjadi sumber air untuk para pelajar di misi ini. Di sungai inilah mereka mandi, mencuci baju, dan bermain air. Selain itu, sungai ini juga kerap digunakan untuk tempat pembabtisan. Jadi dapat dibilang, kalau Kali Lamat ini merupakan Sungai Jordan-nya Muntilan. 
Bagian depan Museum Misi Muntilan. Tampak patung Romo Van Lith yang berdiri dengan anggun di tengah kolam.
Beberapa koleksi yang ada di dalam Museum Misi Muntilan.
Masih di dalam kompleks misi ini, kita bisa mengunjungi Museum Misi Muntilan yang menempati sebuah bangunan baru di samping gereja. Kunjungan saya ke museum ini sendiri dipandu oleh pengurus museum yang ramah. Di sini, kita akan dijelaskan ihwal sejarah dari penyebaran agama Katolik di Jawa bagian tengah. Jika anda membayangkan sebuah bangunan museum yang gelap dan berdebu, bayangan anda akan sirna jika masuk ke dalam museum ini. Bagian dalam museum ini lebih terang dan lumayan bersih. Cukup banyak koleksi barang yang dipamerkan di museum ini. Barang-barang yang dipamerkan tentu berkatian dengan sejarah perkembangan agama Katolik di Jawa bagian tengah. Salah satu koleksi yang cukup menarik perhatian saya yakni sebuah kursi rotan yang pernah dipakai oleh Paus Yohanes Paulus II sewaktu berkunjung ke Indonesia pada tahun 1989. Museum ini buka dari hari Senin hingga Sabtu.

Tepat di depan museum, terdapat sebuah kolam berbentuk lingkaran. Di tengah kolam ini, terdapat patung Van Lith. Keberadaan kolam ini membuat suasana di dalam kompleks misi ini menjadi semakin teduh.
Bagian dalam SMA Pangudi Luhur van Lith.
SD Materdei.
Bagian luar SMP Kanisius.

Di seputar sini, kita dapat menjumpai bangunan-bangunan sekolah yang dahulu berada dibawah Xaverius College. Beberapa diantaranya ada yang masih asli seperti dulu, namun ada juga yang telah dirombak. Sekolah-sekolah itu antara lain TK-SD Pangudi Luhur, SMA Pangudi Luhur van Lith, SMK Pangudi Luhur, TK Siswa Siwi, TK St. Theresia, SMP Marganingsih, SD Materdei, SD St.Yoseph, dan SMP Kanisius.
Bagian depan kompleks Bruderan FIC.
Di seberang SMA Pangudi Luhur, dibalik pepohonan yang rindang, terdapat sebuah kompleks Bruderan milik ordo FIC. Bangunan kompleks bruderan yang diresmikan pada tanggal 8 September 1931 ini terlihat menonjol dengan adanya menara kecil di atas pintu masuk. Di belakang kompleks ini terdapat novisiat yang menjadi tempat pendidikan bagi para calon bruder tingkat lanjut. Sementara itu, di dalam kompleks ini terdapat sebuah kapel, pendopo, ruang tamu, 23 kamar tidur, ruang makan dan dapur, ruang rekreasi dan tiga kamar mandi.



Bagian luar kapel Susteran OSF.
Selain bruderan, juga terdapat kompleks susteran milik ordo OSF. Kompleks susteran ini sendiri dibangun pada tahun 1926, bersamaan dengan pembangunan rumah sakit yang ada di sebelahnya. Jika para bruder melayani dalam bentuk kegiatan pendidikan, maka para suster di Muntilan melayani dalam bentuk pelayanan kesehatan. Sehingga untuk memudahkan pelayanan, maka lokasi rumah sakit dibangun di dekat kompleks susteran. Rumah sakit ini sekarang dikelola oleh pemerintah dan menjadi RSUD Muntilan.
Kompleks kerkhof Muntilan. Nampak cungkup dari makam Van Lith.
Makam para bruder yang bentuknya cukup sederhana. Tidak semewah makam-makam Belanda yang terdapat di kerkhof lain.
Di dalam kompleks misi Muntilan, juga terdapat makam laci. Di sini tampak makam Pater, Prof. P. J Zoetmuelder, seorang akademisi yang mendalami kebudayaan Jawa yang pernah mengajar di FIB UGM (makam ke dua dari kiri bawah).
Di ujung timur jalan Kartini, kita bisa mengunjungi sebuah kompleks kerkhof atau pemakaman orang Eropa yang tidak terlalu luas. Kompleks kerkhof ini menjadi tempat peristirahatan terakhir beberapa tokoh penting dalam sejarah perkembangan Katolik di Indonesia seperti P.J Hoovenar, pelopor misi di Jawa dan Kardinal Justinus Darmojuwono, Kardinal pertama dari Indonesia dan tentunya Romo Van Lith yang menjadi pelopor misi Muntilan dimakamkan di sini. Di dalam kerkhof ini, juga dimakamkan para bruder yang dahulu pernah berkarya di Muntilan dan orang-orang pribumi yang beragama Katolik. Menariknya beberapa nisan makam milik Pastor Belanda ada yang ditulis dalam bahasa Jawa seperti nisan milik Pastor J. A. A. M. Mertens. Bentuk cungkup Van Lith juga menunjukan pengaruh seni lokal. Hal ini menandakan bahwa kegiatan misi mereka sudah dapat diterima oleh bangsa pribumi. Jika dibandingkan dengan kerkhof-kerkhof lain yang ada di Jawa, kerkhof Muntilan kondisinya cukup terawat. Saat ini kerkhof ini menjadi objek wisata ziarah umat Katolik.

Kemunculan kompleks Van Lith dapat dikatakan sebagai cikal bakal menyebarnya agama Katolik di Jawa bagian tengah. Meski semula agama Katolik lekat dengan citra sebagai agama penjajah yang tidak jauh dari paksaan dan kekerasan. Namun berkat metode pendidikan yang dipilih oleh Van Lith, maka citra agama Katolik sebagai agama kekerasan yang dibawa oleh penjajah menjadi luntur. Dari misi ini pulalah, lahir tokoh-tokoh nasionalis Indonesia dengan latar belakang Katolik, seperti Mgr. Albertus Soegijapranta dan I.J Kasimo hingga tokoh-tokoh humanis seperti Romo Mangun. Tidak salah jika keberadaan misi ini menjadikan Muntilan mendapat julukan sebagai Bethlehem van Java……

Referensi

Akihary, Huib. 1990. Architectuur & Stedebouw in Indoensie 1870-1970. De Walburg Pers. Zutphen

DR. Jan Wietjens S.J.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat,Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.

Tri Sulistyowati. 2004. Tata Ruang Kompleks Misi Katolik Muntilan. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada. Skripsi.

5 komentar:

  1. Terima kasih, akan saya share...salam . berkah dalem

    BalasHapus
  2. Terima kadih infonya. Sungguh memperluas wawasan pribadi saya akan misi katolik di Jawa.

    BalasHapus
  3. Terima kasih ulasannya.. sbg warga setempat, membaca artikel ini memberikan kebanggaan tersendiri dalam hati..
    Hanya saja saya sdkit meralat, gambar bagian luar SMA Van Lith itu bukannya gambar bagian luar SMP Kanisius yak..
    Terima kasih. Berkah Dalem..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksniya.Ini sudah saya koreksi.

      Hapus
  4. Terima kasih atas nama artikel trsbt van Lith dan Muntilan
    http://www.imexbo.nl/moentilan.html

    BalasHapus