Minggu, 28 Agustus 2016

Serpihan Kejayaan Stasiun Gundih yang Kini Terlewatkan

Mentari baru saja menampakan dirinya di ufuk timur ketika saya menjejakan kaki ke Gundih, ibukota kecamatan Geyer yang terletak 17 kilometer ke selatan dari Purwodadi, Grobogan. Tujuan kedatangan saya ke sini tak lain ialah untuk menengok Stasiun Gundih, serpihan pusaka perkeretaapian yang pernah bergairah di masa penjajahan Belanda.
Kendati letak stasiun itu agak menjauh dari jalan raya Surakarta-Purwodadi, namun amatlah mudah untuk menjangkaunya. Ia rupanya diapit oleh jalur kereta di kedua sisinya, menjadikan stasiun itu bak sebuah pulau yang tergeletak di tengah-tengah rel baja. Mendekati area stasiun, saya disuguhi dengan keindahan wajah depan stasiun yang menghadap ke utara itu. Pernik papan teritisan bergerigi yang menjadi ciri arsitektur Chalet terlihat serasi di bagian atap pelananya.
Bagian depan stasiun Gundih. Terlihat dua overkapping atau kanopi stasiun di sisi barat dan timur.
Stasiun itu disusun dengan bahan-bahan bermutu prima sehingga ia masih kokoh berdiri meski usianya sudah memasuki seabad. Misalnya saja tegel kotak-kotak yang masih utuh mengalasi lantai stasiun itu sejak zaman Belanda. Tegel kekuningan itu asalnya dari pabrikan Alfred Ragout yang pabriknya berada di kota Maastricht, Belanda. Tegel bikinan Alfred Ragout memang banyak dipakai pada bangunan stasiun karena sifatnya kedap air, sehingga penumpang tak perlu takut tergelincir ketika berjalan di atasnya.
Lantai stasiun yang masih asli dari tegel lama.
Sunyi, itulah kesan pertama saya ketika berjalan di peron stasiun yang dinaungi atap baja itu. Di stasiun itu memang masih terlihat pegawai stasiun yang sedari tadi mondar-mandir di peron, namun tak terlihat satupun penumpang yang menunggu kereta di situ. Saking lengangnya, saya melihat seorang balita berlarian begitu leluasa di peron stasiun itu sambil diawasi ibunya yang duduk di bangku penumpang. Suasana ini sesungguhnya amatlah berbeda dengan yang terjadi di masa kolonial, ketika moda transportasi kereta sedang mencapai masa keemasannya.
Stasiun Gundih pada tahun 1900-an awal. Foto ini diambil menghadap ke arah utara. Terlihat kereta api yang sedang bersiap berangkat menuju Surakarta. Rumah-rumah di sisi kiri gambar merupakan rumah dinas untuk pegawai stasiun (sumber : colonialarchitecture.eu).

Peta lokasi Stasiun Gundih pada tahun 1905. Garis hitam-putih merupakan rel lebar 1435 mm dari arah Brumbung. Sementara garis hitam-putih yang lebih kecil merupakan jalur rel lebar 1067 mm dari arah Gambringan. Jalur yang berbelok ke kanan merupakan jalur rel milik S. J. S menuju arah Purwodadi.
Tahun 1870an, pemerintah kolonial sedang giat-giatnya membangun jalur kereta dari Semarang ke Vorstenlanden. Setelah sukses membuat jalur kereta Semarang – Tanggung dan kemudian diteruskan dari Tanggung ke Kedungjati, mereka berancang-ancang untuk meneruskan pembangunan jalur kereta Kedungjati- Vorstenlanden. Salah satu titik yang dilalui oleh rangkaian jalur kereta tersebut adalah Gundih, di mana kala itu Gundih dikenal sebagai penghasil kayu jati. Sebelum ada kereta, satu-satunya akses transportasi ke Gundih ialah dengan jalan yang menghubungkan Surakarta dengan Purwodadi yang tentu saja tidak sebagus sekarang. Jalur kereta tersebut dibangun oleh perusahaan kereta partikelir, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij yang mendapat konsensi membangun jalur kereta dari Semarang ke Vorstenlanden.
Harian De Locomotief yang memberitakan semakin banyaknya warga Eropa yang datang ke Gundih.
Sesudah Stasiun Gundih dibangun, kehidupan di Gundih lebih bergeliat daripada sebelumnya. Gundih yang semula hanyalah wilayah anta berantah yang jarang dikenal orang, berkembang menjadi simpul jalur kereta yang ramai. Itu karena Gundih tak hanya menjadi jalur perlintasan Semarang-Vorstenlanden, melainkan juga Semarang-Surabaya yang mulai tersambun pada awal abad ke-20. Sebelum jalur Gambringan-Brumbung purna dibangun pada tahun 1924, penumpang dan barang dari Semarang tujuan Surabaya atau sebaliknya harus berganti kereta di Stasiun Gundih dulu. Dapat dibayangkan betapa sibuknya stasiun kecil ini di masa lampau. Dilansir dari harian De Locomotief tanggal 22 Februari 1899, semenjak Stasiun Gundih dibangun, semakin banyak warga Eropa yang berkunjung ke Gundih. Pemerintah kolonial rupanya memandang Gundih sebagai tempat yang strategis. Selain pembangunan stasiun, di Gundih juga dibangun sekolah yang letaknya masih di sekitar stasiun (BPCB Jateng, 23; 2014). Barulah sesudah jalur kereta Gambringan - Surabaya selesai dibangun pada tahun 1914, penumpang kereta jurusan Semarang - Surabaya tidak perlu berganti kereta lagi di Gundih (Het nieuws van den dag voor Nederlansch-Indie 8 Februari 1922).
Peron barat Stasiun Gundih.
Jam dinding tua dari Strassburg, Perancis.
Di peron itu, saya menjumpai sebuah jam dinding tua yang dibuat di kota Strassburg, Perancis. Sudah ribuan putaran jarum jam itu berputar dan ia senantiasa berputar, memberi tahukan waktu pada setiap orang. Ya, dalam setiap perjalanan kereta, waktu adalah suatu hal yang berharga. Tak boleh ada waktu yang disia-siakan karena keterlambatan sedikit saja dapat mengacaukan perjalanan kereta. Menatap jam itu, sayapun teringat dengan lagu Time milik band legendaris Pink Floyd, “ Every year is getting shorter, never seem to find the time. The time is gone, the song is over, thought I’d something more to say…”
Ruang loket.
Stasiun itu mempunyai 7 buah ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada yang dipakai untuk ruang Kepala Stasiun, ruang untuk pengatur perjalanan kereta api, dan ternyata ia memiliki dua buah loket, yakni di pintu masuk utara dan di bagian tengah stasiun, namun sekarang hanya loket bagian tengah saja yang masih dipakai. Stasiun Gundih nampaknya benar-benar merupakan sebuah stasiun yang sibuk di masa lalu sampai –sampai memiliki dua buah loket. Di stasiun itu juga masih bisa dijumpai bekas alat pengatur sinyal yang dioperasikan secara manual.
Tiang-tiang besi penyangga overkapping atau kanopi.
Alat pengatur sinyal.
Hatta, setelah melihat bangunan utama stasiun, saya berjalan mengelilingi kedua sisi emplasmennya. Seperti yang dijelaskan di awal, model stasiun seperti ini disebut stasiun pulau karena ia diapit oleh jalur kereta karena perannya sebagai jalur percabangan. Dahulu, emplasemen barat digunakan untuk rel 1435 mm jurusan Semarang –Vorstenlanden. Sementara emplasemen timur digunakan untuk rel 1067 mm jurusan Surabaya. Sejatinya, di emplasemen timur stasiun Gundih, terdapat sebuah stasiun kecil milik maskapai kereta Semarang Joana Stoomtram Maatschapij (SJS) jurusan Purwodadi dan Demak, namun kini, stasiun itu sudah tiada lagi termasuk jalur kereta apinya.
Emplasemen selatan Gundih sisi timur.
Menara air atau watertoren.
Sumur sumber air Stasiun Gundih.
Bagian yang diduga bekas pipa corong pengisi air lokomotif.
 Gudang Stasiun Gundih.
Depo Stasiun Gundih yang kini sudah tidak digunakan lagi.
Salah satu rumah dinas Stasiun Gundih yang masih asli. Rumah ini berupa rumah kopel dengan atap berbentuk limas.
Di emplasemen itu, saya membayangkan lokomotif-lokomotif uap yang sedang mengisi air lewat corong yang kini telah hilang. Air tersebut berasal dari menara air atau watertoren di sebelah barat stasiun yang airnya dipasok dari sumur yang ada di bawahnya. Air merupakan sumber daya penting yang harus ada di beberapa stasiun karena pada zaman dahulu, mesin lokomotif masih digerakkan dengan tenaga uap yang mana membutuhkan air untuk menghasilkan uap. Sementara itu, terlihat para kuli dengan otot kekarnya sedang sibuk memindahkan muatan gerbong ke gudang yang hingga sekarang masih ada di selatan stasiun. Di ujung utara emplasemen stasiun, sebuah lokomotif terlihat sedang diperbaiki di dalam depo yang sampai sekarang masih berdiri. Semua pemandangan itu disaksikan setiap harinya oleh para keluarga pamong stasiun yang menempati deretan rumah dinas yang berdiri rapi menghadap stasiun. Deru mesin dan peluit lokomotif yang khas tentu mereka dengar tiap harinya. Ah, sungguh menjadi sebuah romansa tersendiri ketika mengingat pemandangan itu.
Rumah tua yang diduga merupakan rumah kepala Stasiun gundih.
Bagian beranda depan rumah, dimana dulu aktivitas Stasiun Gundih dapat terlihat jelas dari sini.

Pintu depan.
Dari Stasiun Gundih, saya menjajal untuk mencari berbagai tinggalan kuno lain di sekitar Stasiun Gundih. Tinggalan yang pertama ialah sebuah rumah kuno kosong yang bentuknya mengingatkan saya pada rumah kuno di dekat Stasiun Kedungjati. Lokasinya lebih tinggi dibandingkan rumah dinas di sebelah barat stasiun tadi. Sebelum banyak permukiman warga yang dibangun di depannya, pemandangan emplasemen stasiun dapat terlihat jelas dari beranda depannya. Sayangnya, keindahan rumah tersebut dirusak dengan graffiti liar di dinding depannya…
Gedung Papak Gundih.
Gedung Papak, itulah julukan masyarakat sekitar pada gedung tua yang saya temukan di sebelah utara rumah tua kosong tadi. Ia dijuluki demikian karena atapnya yang datar atau papak. Tak diketahui apa fungsi bangunan tua ini dulunya, namun kuat dugaan jika ia merupakan bekas tempat tinggal kepala Dienst van het Boswezen cabang Gundih yang mengatur segala eksploitasi kayu di Geyer. Sayang, dibalik kemegahannya, bangunan bertingkat dua itu juga menyimpan kisah kelam. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu sempat dijadikan tempat penampungan para jugun ianfu, para perempuan yang dipaksa menjadi budak nafsu untuk serdadu Jepang.

Beranjak siang, panasnya udara Gundih segera terasa. Sayapun memutuskan mengakhiri petualangan saya mencari serpihan kejayaan Stasiun Gundih. Sebelum meninggalkan Gundih, sayup-sayup terdengar gemuruh suara kereta yang akan melintas. Namun dari gemuruhnya yang hanya terdengar sekilas saja, kereta itu tampaknya melewatkan stasiun ini. Ya, kejayaan stasiun ini sudah lama lewat, tapi saya percaya, selama Stasiun Gundih masih berdiri, serpihan kejayaannya tak akan terlupakan….

Referensi

Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Senin, 15 Agustus 2016

Gua Jepang Pundong, Artefak Perang Dunia Kedua di Pantai Selatan Yogya

Perang Dunia Kedua adalah peristiwa paling kelam yang pernah dialami oleh umat manusia selama tinggal di bumi. Dengan jutaan nyawa yang menjadi korban, Perang Dunia Kedua menjadi konflik paling berdarah yang pernah terjadi dalam  sejarah peradaban manusi. Kini, puluhan tahun sudah Perang Dunia Kedua berakhir, berbagai artefak atau peninggalan yang menjadi saksi bisu dari peristiwa ini masih bisa dilihat sampai sekarang. Artefak-artefak ini sebagian besar berwujud bangunan pertahanan. Misalnya Atlantic Wall atau Tembok Atlantik yang dibangun secara sistematis oleh pemrintah Nazi Jerman di sepanjang pantai barat daratan Eropa untuk menangkis serangan Sekutu.

Sekutu Jerman di Asia, Jepang rupanya juga tidak mau ketinggalan. Mereka juga membangun beberapa pos pertahan di sepanjang pantai yang mereka kuasai meski tidak semassif dan setenar Atlantic Wall. Salah satunya berada di perbukitan Pundong, Bantul. Tulisan saya di Jejak Kolonial kali ini akan mengupas salah satu artefak Perang Dunia Kedua yang masih ada ini. Bagaimana sejarah dan bentuknya akan dibahas lebih lanjut di bawah ini.

Di Puncak Perbukitan Pantai Selatan
Akses jalan menuju Gua Jepang.
Gua Jepang Pundong secara adminstratif berada di perbatasan desa Seloharjo kecamatan Pundong, Bantul dengan kecamatan Panggang, Gunungkidul. Posisi gua terletak di atas perbukitan kapur dengan ketinggian sekitar 384 mdpl. Saya sendiri datang pertama kali ke sini pada pertengahan tahun 2014, ketika mencoba survey untuk kegiatan jurusan. Untuk menuju ke sini, dari kota Yogyakarta, telusuri terus jalan Parangtritis. Setelah menyeberang Jembatan Kretek yang dibawahnya mengalir Sungai Opak, belok ke kiri, menelusuri jalan di sepanjang tepian sungai. Sampai di kanan jalan, ada jalan menanjak menuju Gua Surocolo dan Gua Jepang. Telusuri terus jalan menanjak ini. Pakailah kendaraan yang kondisinya prima agar kuat menanjak karena tanjakan di sini cukup curam. Jalan yang akan dilalui cukup berkelok dan terdapat jurang di sisinya sehingga berhati-hatilah ketika berkendara.


Jika dikaji dari aspek strategi militer, pemilihan lokasi gua ini sangat ideal sekali karena dari sini, pemandangan pesisir selatan dapat dilihat secara jelas sehingga pergerakan musuh di sepanjang pantai dapat diamati dengan baik tanpa posisinya diketahui oleh musuh. Lokasinya yang berada di atas perbukitan juga menjadikannya sulit dijangkau oleh musuh.

Sejarah Dibangunnya Gua Jepang Pundong
Peta ekspansi Jepang ke Hindia-Belanda (sumbber : common.wikipedia.org).
Jepang sebagai kekuatan baru di Asia berusaha memperlebar pengaruh imperialismenya di Asia Timur. Setelah menyerang Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941, mereka mulai berekspansi ke wilayah Asia Tenggara untuk mencari SDA setelah Amerika mengembargo perdagangan Jepang yang di negerinya sendiri tidak kaya SDA. Jepang masuk ke Hindia-Belanda pertama kali di Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mendarat di Pulau Jawa pertama kali di Eretan, Indramayu. Setelah posisinya terdesak, pemerintah Hindia-Belanda berunding kepada Jepang dan akhirnya menyerah tanpa syarat di sebuah rumah sederhana di Kaljati pada tanggal 8 Maret 1942.
Dari kiri ke kanan, Mangkunegara VII, Hamengkubuwono IX, dan Pakualam VIII menghadap ke Letnan Jenderal Imamura. Ketiga raja lokal ini ditunjuk sebagai Ko atau kepala wilayah (sumber : Djocja Solo halaman 69). 
Sementara itu, dua hari sebelum perundingan di Kalijati, bala Tentara pendudukan Jepang mulai masuk ke Yogyakarta. Setelah pemerintahan sipil Hindia-Belanda di Yogyakarta pergi, maka kekuasaan diambil alih oleh pemerintah militer Jepang. Untuk mempertahankan kekuasaanya dari serbuan tentara sekutu yang bisa menyerang kapan saja, maka pemerintahan militer Jepang membangun pos-pos pertahanan di titik-titik yang diperkirakan akan menjadi landasan serangan sekutu.

Sebagai upaya pertahanan di wilayah Yogyakarta, pemerintah militer Jepang mendirikan gua-gua perlindungan dan pertahanan yang strategis meliputi Kaliurang di utara, Maguwo di bagian tengah dan Pundong di selatan. Dalam Kitab Penoentoen Pembelaan Tanah Air untu Oemoem, Boelan 12, tahoen 19 shoowa osamu 1602 Butai, dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis pengawasan, salah satunya yakni pengawasan pantai (Kaigan kanshi)( Anggoro, 2008;30). Oleh karena itulah, di Yogyakarta, selain membangun sistem pertahanan di Kaliurang dan Maguwo, Jepang juga mendirikan sistem pertahanan di perbukitan Pundong, menghadap ke arah pantai selatan karena Jepang memperkirakan bahwa tentara sekutu dari Australia akan mendaratkan pasukannya di sini.  Sistem pertahan pantai ini tentu jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan sistem pertahanan Atlantic Wall nya Jerman di Eropa mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh Jepang. Jika di Atlantic Wall kita bisa melihat kubah beton berukuran besar dengan meriam raksaksanya, maka pos-pos pertahanan Jepang di sepanjang pantai selatan hanyalah pos pengintaian berukuran sedang dengan fasilitas seadanya.

Bagaimana cara kerja sistem pertahan ini ? Caranya adalah jika kedatangan musuh sudah terlihat di kejauhan dan posisi mereka masih belum mencapai garis pantai, maka para petugas yang berada di pos pengintaian akan menghubungi kantor komando pusat. Sehingga sebelum musuh menginjakan kakinya di darat. tentara yang bertahan sudah siap mengantisipasinya.
Panorama pesisir selatan dilihat dari Situs Gua Jepang. Di sinilah Jepang memperkirakan sekutu akan mendarat dari Australia. Sebuah perkiraan yang salah !!
Sayangnya, Jepang sendiri sepertinya tidak paham mengenai kondisi perairan Samudera Hindia yang sebenarnya tidak cocok untuk mendaratkan pasukan dalam jumlah besar karena gelombangnya yang terlalu tinggi. Jadi dapat dikatakan pembangunan sistem pertahanan gua ini sia-sia karena alih-alih menyerang dari selatan, Sekutu justru menyerang dari arah Pasifik.

Sayangnya sangat sedikit sekali cerita tentang pembangunan gua jepang ini karena banyak warga yang menjadi saksi mata sudah meninggal dan tidak ada catatan tertulis mengenai pembangunan sehingga tidak begitu banyak informasi yang digali tentang pembangunan Gua Jepang ini. Menurut penuturan saksi mata yang masih hidup, gua-gua ini dibangun oleh para penduduk desa sekitar dan ada satu hal yang cukup mengejutkan yakni bahwa gua-gua tadi ternyata tidak pernah dipakai !! Mengapa demikian ? Ternyata gua - gua ini dibangun pada masa akhir perang, dimana situasi semakin tidak menguntungkan di pihak Jepang. Setelah tahu bahwa posisinya semakin terdesak, Jepang akhirnya memutuskan untuk tidak memakai gua-gua ini. Oleh karena itulah di sekitar benteng ini tidak dijumpai adanya bekas-bekas persenjataan yang lazim ditemukan pada situs dari masa PD II. Setelah perang usai, gua-gua ini ditinggalkan begitu saja oleh Jepang dan selama beberapa waktu nyaris terlupakan.

Dari Gua ke Gua
Peta persebaran gua-gua di situs Gua Jepang.
Di situs gua Jepang ini, kita bisa melihat 18 gua buatan yang tersebar di beberapa tempat seperti puncak bukit, lereng bukit yang menghadap lembah atau di tempat lapang. Masing-masing gua sudah diberi nomor. Butuh fisik yang prima untuk menjelajah setiap gua karena jarak setiap gua lumayan jauh dan beberapa di antaranya tidak bisa dicapai dengan kendaraan, sehingga untuk mendekatinya harus berjalan naik atau turun bukit terlebih dahulu.

Gua-gua ini dibangun dengan cara menggali tanah di sekitar gua, lalu lubang galian itu diperkuat dengan konstruksi beton yang terdiri dari campuran semen, pasir dan batu. Adapun konstruksi beton di Gua Jepang Pundong memanfaatkan batu kapur yang mudah ditemukan di sekitar gua. Masing-masing gua memiliki ketebalan tembok beton antara 30 cm - 60 cm. Konstruksi beton adalah perkembangan teknologi pertahanan yang muncul di awal abad ke-20. Teknologi ini muncul untuk mengikuti teknologi persenjataan yang semakin meningkat. Untuk mengelabui musuh serta untuk memberi unsur kejutan, gua-gua tadi lalu ditimbun tanah.

Beberapa gua, masih bisa dilihat bekas sisa gawang pintu dan engsel yang menjadi bekas pintu masuk gua. Kemungkinan besar pintu yang dipakai merupakan pintu besi tebal melihat tebalnya ambang pintu.

Dilihat dari bentuk dan persebarannya dalam satu kawasan, masing-masing gua memiliki fungsi tertentu yang mendukung upaya pertahanan secara menyeluruh. Berdasarkan fungsinya, Gua Jepang yang ada di Pundong dibagi menjadi dua tipe gua, yakni veilboks atau pillbox dan bunker.

Veilboks merupakan pos jaga tertutup yang diperlengkapi dengan lubang kecil untuk mengintai dan menembak. Kata veilboks berasal dari bahasa Belanda, Veiligheids Boks yang berarti tempat penembakan. Dalam bahasa Inggris, veilboks  disebut juga pillbox ( Abrianto, 2011; 115). Setiap pillbox memiliki ukuran lubang tembak yang berbeda-beda tergantung dengan jenis senjata apa yang dipakai. Melihat ukuran lubang tembak pillbox pada setiap gua yang ukurannya kecil-kecil, sepertinya pillbox  yang ada di Gua Jepang Pundong menggunakan jenis persenjataan ringan. Lubang-lubang pillbox ini bisa menjadi titik lemah pillbox apabila musuh menyerang pillbpx dengan senjata jenis flamethrower atau penyembur api. Jenis senjata ini adalah senjata yang ditakuti oleh tentara yang ada di dalam pillox karena semburan api dari flamethrower dapat membakar seisi pillbox dengan mudahnya.
Berbagai jenis pillbox yang ada di situs gua Jepang.Perhatikan bahwa semuanya memiliki sebuah lubang intai/tembak di bagian samping dengan cerobong kecil di bagian atasnya.
Meskipun demikian, untuk menyerang sebuah pillbox tidaklah mudah jika hanya mengandalkan persenjataa biasa. Setidaknya butuh bantuan dari artileri,senjata anti tank atau granat. Lokasi gua-gua ini berada di lereng bukit dengan lubang tembak yang menghadap ke lembah untuk memudahkan pengintaian dan penembakan musuh. Di bagian atas gua terdapat sebuah cerobong kecil untuk saluran udara. Cerobong ini dibuat dengan ukuran kecil supaya tidak terlihat mencolok. Sayangnya, cerobong ini juga menjadi salah satu titik lemah pada sebuah pillbox karena granat musuh bisa dimasukan lewat bagian ini dan ketika meledak dapat membunuh siapa saja yang berada di dalam pillbox. Gua-gua jenis ini dapat ditemukan pada gua nomor 4, 5, 10, 13 dan 18.
Berbagai gua pengintai yang ada di gua Jepang. Perhatikan kubah segi delapan di bagian atas yang berfungsi sebagai tempat pengintaian.
Gambar potongan gua pengintai.
Selain berada di lereng bukit, pillbox juga dapat kita temukan pada bagian puncak bukit. Dari permukaan tanah, pillbox ini memiliki bentuk kubah segi delapan dengan lubang pengintai pada keempat sisinya. Dibawah kubah pengintai, terdapat dua buah ruangan dengan fungsi yang belum diketahui. Gua-gua jenis ini dapat ditemukan pada gua no 2, 7 dan 11.
Gua-gua yang digunakan sebagai bunker untuk berbagai macam keperluan.
Bagian dalam Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Perhatikan bahwa terdapat empat tungku masak di dalam sini. Pastinya tidak nyaman memasak di dalam sini karena asap terkadang masih bisa memenuhi ruangan meski ada saluran pembuangan asap.
Bagian luar Gua 16 yang berfungsi sebagai dapur umum. Gua ini dibangun di dekat sebuah saluran air berukuran kecil untuk lebih mudah mendapatkan air mengingat situs Gua Jepang berada di atas perbukitan yang air nya sedikit. 
Jenis gua selanjutnya yang bisa kita temui di sini adalah gua tipe bunker. Tipe gua ini tidak memiliki lubang untuk menembak atau mengintai karena fungsinya lebih ditekankan pada kepentingan untuk tempat penyimpanan logistic dan amunisi, pusat komando, akomodasi pasukan dan dapur umum. Bunker untuk menyimpan logistik berada di tempat yang datar dan lapang, sementara bunker untuk menyimpan amunisi dan pasukan berada di bukit-bukit dekat dengan pillbox untuk memudahkan mobilisasi tentara dan amunisi. Bunker-bunker ini memiliki satu pintu masuk dan ada juga yang memiliki dua pintu masuk. Gua no. 1, 3, 6, 8, 9, 12, 14, 15, dan 16 adalah gua-gua dengan  tipe bunker.
 

Jalan parit yang menghubungkan Gua 17 dengan Gua 18. Dahulu setiap gua yang ada di situs Gua Jepang Pundong dihubungkan dengan sebuah parit.
Masing-masing gua dihubungkan dengan parit kecil atau warga sekitar menyebutnya jalan tikus. Parit-parit ini menurut warga sekitar dahulu ditutup dengan ijuk agar tidak terlihat dari udara. Beberapa parit masih bisa kita lihat hingga sekarang

Saat ini, lingkungan sekitar gua sudah menjadi tegalan dengan kondisi tanah tidak subur karena lokasinya berada di atas perbukitan dan sifat tanahnya yang tidak bisa menyimpan  air. Situs Gua Jepang Pundong terpelihara cukup baik. Di sini terdapat juru pelihara situs yang diangkat oleh BPCB Yogyakarta. Beberapa kegiatan outbond sering diadakan di tempat ini karena medannya yang cukup menantang untuk dijelajahi dan juga memiliki pesona pemandangan alam yang cukup indah. Oleh karena itulah keberadaan Gua Jepang ini kemudian dimanfaatkan penduduk sekitar sebagai sumber rejeki tambahan, apalagi mengingat kondisi tanah di sekitar Gua Jepang yang tidak subur sehingga sulit rasanya jika hanya bergantung pada hasil pertanian saja. Mereka biasanya berjualan makanan dan minuman untuk para pengunjung yang kebetulan tidak membawa bekal atau menyediakan tempat parkir kendaraan. Usaha ini kemudian dikembangkan dan dikelola oleh warga sekitar dengan membentuk POKDARWIS atau Kelompok Sadar Wisata. Menurut Ketua POKDARWIS, meski usaha-usaha yang dilakukan warga ini dapat dibilang masih kecil dan perkembangannya lambat, namun setidaknya hasilnya bisa dirasakan oleh warga sendiri daripada mengundang investor dari luar yang mungkin dapat mengembangkan potensi Gua Jepang secara lebih besar dan cepat, tapi hasilnya hanya dirasakan oleh investor tersebut dan warga hanya jadi penonton saja. Ya, inilah bukti bahwa warga sekitar Gua Jepang mulai sadar akan potensi desanya dan mulai berdaya untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Referensi
Abrianto, Oktaviadi . 2011. " Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Sesudah Abad ke-20 M di Indonesia " dalam Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Sumedang : Penerbit Alqaprint.

Anggoro, Priadi. 2008. " Strategi Pengelolaan Gua Jepang di Seloharjo Pundong,Bantul sebagai Objek Wisata ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitass Gajah Mada.