Selasa, 25 Oktober 2016

Berburu Bong Londo di Kerkhof Ngawi

Tak terlalu besar gerbang itu. Di dinding kusamnya, terpampang angka tahun 1884, tahun gerbang itu didirikan. Menyambut kedatangan saya, tulisan “MEMENTO MORI” yang pudar tertoreh di atas pintu masuk melengkungnya. Sungguh tepat rasanya jika kalimat berbahasa Latin yang berarti “ Ingatlah Kematian “ itu terpajang di gerbang permakaman. Gerbang itu seakan mengingatkan pada setiap jiwa yang hidup bahwa kematian sejatinya hanyalah sekedar gerbang menuju alam yang kekal. Apa yang ada di balik gerbang itu menjadi tujuan kedatangan saya ke sana, ke Kerhof Ngawi…
Makam berbentuk tugu kecil.
Senyap menyergap ketika kaki ini mulai berderap menyusuri jengkal demi jengkal kompleks pemakaman yang terletak di Kampung Pelem, Ngawi itu. Seperti halnya pada pemakaman lain, tiada tanda kehidupan di situ. Apa yang saya jumpai hanyalah kematian yang dikenang lewat monumen-monumen kecil. Makam – makam tua beraneka bentuk itupun hanya bergeming ketika saya mulai mengamatinya satu persatu, melihat detail bentuk dan isi setiap prasastinya. Ada yang berbentuk seperti menara benteng, lalu ada yang seperti kuil Yunani kuno, dan ada pula yang berbentuk seperti sebuah tugu obelisk Mesir kuno.

Makam Bong Londho.
Dari sekian makam di Kerkhof Ngawi, ada bentuk makam yang baru kali itu saya temukan di kerkhof itu. Secara kasat mata, bentuknya mirip dengan bong, makam tradisional Tionghoa, namun tanpa altar untuk menaruh sesaji dan dupa. Prasastinya pun berbahasa Belanda dengan huruf Latin. Tiada pula altar dewa bumi yang biasanya mendampingi sebuah bong. Oleh sebab itu, masyarakat setempat menjuluki makam itu sebagai Bong Londho, bong untuk orang-orang Belanda. Lalu mengapa bentuknya demikian ? Tiada referensi yang menjelaskannya. Sayapun akhirnya hanya bisa menerka jawabannya bersama kesunyian makam. Asumsi saya, mungkin karena di Ngawi saat itu belum ada orang yang mampu membuat makam bergaya Eropa, akhirnya orang-orang Belanda mempekerjakan para tukang Tionghoa yang sudah terbiasa membikin bong. Maka tukang Tionghoa pun membuat makam dengan bentuk yang sudah kerap mereka buat untuk golongan mereka. Entah benar atau salah asumsi saya, yang pasti makam Bong Londho itu merupakan salah satu wujud perkawinan budaya barat dengan Tionghoa.
Sebuah makam bercungkup dari batu.
Sebuah makam tua dengan cungkup dari tiang besi dan beratapkan seng.
Sebuah makam dengan bentuk seperti kuil Yunani Klasik.
Sebuah makam yang mendapat pengaruh art-deco.Hal ini dapat dilihat dari bentuk makam yang simpel dan didominasi oleh elemen horizontal-vertikal yang kaku.
Nomor penanda makam.
Patut disyukuri bahwa cukup banyak makam yang prasasti masih utuh, sehingga cukup membantu sanak keluarga yang ingin melacak jejak leluhurnya di kerkhof itu. Warga setempat telah berupaya lebih untuk menjaga warisan sejarah yang ada di dekat tempat tinggal mereka. “ Beberapa tahun silam, pernah ada seseorang yang terpergok mengambil salah satu patung di kerkhof ini “, tukas seorang warga yang tak ingin disebutkan namanya. “ Oleh juru kunci, si pencuri dibawa ke kantor polisi dan akhirnya dibebaskan dengan syarat tertentu“, sambungnya. Tindakan tegas seperti itu memang perlu diambil jika sudah mengancam keberadaan warisan sejarah.
Merk marmer "Carrara". Marmer ini dibeli di Surabaya.
Iklan marmer merk "Carrara" pada koran Soerabaisch Handelsblad tanggal 8 November 1930.
Sebuah batu nisan dengan merk " AI MARMI ITALIANI SOERABAIA". Sama dengan batu nisan di atas, batu nisan ini juga dibeli di Surabaya. Tampanya batu-batu nisan di kerkhof Ngawi ini rata-rata dibeli di Surabaya.
Iklan merk marmer "AI MARMI ITALIANI" pada koran De Indische Courant tanggal 11 Desember 1925.
Pada beberapa makam, saya menemukan suatu tulisan kecil di bagian dasar prasasti. “ A.I. MARMI ITALIAN, SOERABAIA “ dan “CARRARA”SB”, itulah bunyi tulisan itu. Dari tulisan itu, saya dapat mengetahui asal-usul marmer itu. Marmer-marmer putih itu dibeli di Surabaya dan ia ditambang dari sebuah tambang marmer legendaris di Italia, Gunung Carrara, yang menghasilkan marmer-marmer putih yang cemerlang dan mudah dipahat. Sejak zaman Romawi marmer-marmer di gunung itu ditambang. Bongkahannya dipakai untuk mendirikan monumen mahsyur bangsa Romawi seperti Pantheon dan Kolom Trajan, adikarya patung seniman era Renaissans seperti patung David karya Michelangelo, gereja-gereja agung seperi Basilika St. Peter, dekorasi istana para raja di Eropa hingga untuk sebuah batu nisan yang ada hadapan saya sekarang. Sayang, karena mutunya itulah, batu prasasti itu menjadi buruan oknum tak bertanggung jawab.
Sebuah makam bercungkup yang ditopang pilar-pilar klasik.
Sebagai lampiran, saya sertakan berikut ini senarai nama-nama orang Eropa yang dimakamkan di kompleks kerkhof ini berdasarkan sisa prasasti yang masih bisa terbaca.
Nama / Tempat, tanggal lahir - Tempat, tanggal meninggal
Pauliena Jansen / Pekalongan, 23 Maret 1879 - Ngawi, 3 Oktober 1929
Henri Louis van der Waarden / Hellevsestluis, 23 Desember 1892 - Ngawi, 30 Juli 1939
H.J.J. Schoemaker  / Nijmegen, 31 Desember 1841 - Ngawi, 20 Juni 1911
Deetje Milder /  ( ? ), 21 Mei 1898 - Ngawi, 12 Desember 1898
Nicootje Keller / Ngawi,  24 Maret 1901 - Ngawi, 5 Januari 1902
Johannis van der Linden / ( ? ), ? ? 1901 - Ngawi, 4 Februari 1903
Krona van der Linden / ( ? ), ? ? 1899 - Ngawi, 18  Februari 1903
H. Stevens / Leuven 3 Oktober 1852 - Ngawi, 8 Juni 1881
J.H. Trenzsch / Amsterdam, 29 Juni 1813 - Ngawi, 8 September 1878
Charlotta Maria Carolina van den Ende / , 30 September 1883 – Ngawi, 15 September 189(?)
H. van Ewijck / Bojonegoro, 11 September 1833 – Ngawi, 26 April 1879
W.F. Jansen / Semarang, 25 Oktober 1861 – Ngawi, 1 Juli 1878
Johanna Jacoba Sch√útz / Salatiga, 1 Januari 1827 – Ngawi, 26 Januari 1905
J.C. Stoffel  / ( ? ) – Ngawi, 2 September 1880
D.F. Vincent / ( ? ) – Ngawi, 4 September 1886
F.R. Bruhns / ( ? ) - ( ? )
C. Brossaers. Ceb.  Van der Carden /  S.Bosch , 5 Februari 1810 – Ngawi, 2 Januari 1849
S. de. Groeve / ( ? ) - ( ? )
Jacobus Teske / ( ? ), 30 Juni 1852 – Ngawi, 27 Desember 1904
J.H.G. Vermeulen / ( ? ), 15 November 1860 – Ngawi, 3 Februari 1875
T.B. Vermeulen / ( ? ), 10 Oktober 1820 – 3 Oktober 1873
Jan Hendrik van Putten / Utrecht, 1 Juni 1843 – Ngawi, 26 Januari 1911
Classina, Cicila van Putten / Rembang, 17 September 1840 – Ngawi, 21 Juli 1920
A.A. Bogards / ( ? ), ( ? ) 1869 – Ngawi, 18 Oktober 1929
Willem Bogards / Padang, 8 Februari 1830 – Ngawi, 22 November 1906
Johannes Cornelis Henricus Jeekel  / ( ? ), 20 Juli 1902 – Ngawi, 28 September 1902
Lodewijk George Lappe / ( ? ), 6 September 1851 – Ngawi, 10 November 1867
Godlieb Willem Frederik Eberlyn / ( ? ), 24 Desember 1822 – Ngawi, 7 Agustus 1900
F.J. Suersen /  ( ? ), 12 Maret 1814 – Ngawi, 27 Desember 1850
Marie Eliza Joseph Robert / ( ? ), 13 Oktober 1851 – Ngawi, 25 Juni 1852
Johanna Maria Wihelmina / ( ? ), 15 Maret 1871 -  Ngawi, 21 Desember 1884
J.L.Juch / ( ? ), 13 Januari 1839 – Ngawi, 11 Desember 1881
Johanna Cornelia van der Styger / ( ? ), 10 Juli 1805 – Ngawi, 22 Februari 1859
A.U. Boonemer / ( ? ), 4 Desember 1852 – Ngawi, 26 Desember 1852
Gerrit Heinnekamp / ( ? ), 22 Agustus 1895 – Ngawi, 1 Maret 1930
Johan Dirk Anton Schiefflers / ( ? ), 18 Januari 1906 – Ngawi, 1 September 1933
Radiesan Hendrik Ham / ( ? ) , 29 November 1881 – Ngawi, 10 Juli 1935
Mimi de Beauvisier Watson / ( ? ),  6 November 1911 – Ngawi, 4 Juli 1934


Sebelum saya undur diri, saya berpamitan pada jiwa-jiwa yang bersemayam tenang di makam-makam ini. Tak tega rasanya meninggalkan mereka sendirian di sini. Sayapun juga menyesal tak bisa berbuat lebih untuk merawat makam-makam itu. Satu-satuny yang dapat saya berikan hanyalah doa, doa agar jiwa-jiwa itu tenang di alam sana dan makam-makam antik mereka lestari…