Sabtu, 19 November 2016

Pasar Gede, Monumen Karsten di Kota Solo

Pasar Gede, sebuah pasar legendaris yang kini masih berdiri kokoh di tengah kota Solo dan masih menunjukan keeksisannya di tengah gempuran pasar modern yang semakin menjamur di Solo. Pasar yang masih ramai akan hiruk pikuk keramaian pedagan ternyata memiliki cerita tersendiri yang menarik untuk diikuti. Bagaimana cerita lengkap berdirinya pasar ini dan apa seperti apa keunikan arsitekturnya ? 

Sejarah Pasar Gede
Suasana Pasar Gede sekitar tahun 1935 (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Bagian barat Pasar Gede sekitar tahun 1935. Tampak barisan ruko bergaya Tionghoa di sekitar Pasar Gede. Keberadaan pemukiman masayrakat Tionghoa sudah ada sejak Kota Surakarta berdiri (sumber : Djocja Solo halaman 168).


Sejarah pasar ini adalah sejarah kota Solo. Tidak salah karena meski bangunan pasar yang terlihat sekarang dibangun pada tahun 1930an, tapi sejarah pasar ini harus ditarik mundur ke belakang, ketika kota Suarakarta didirikan oleh Pakubuwono II pada tahun 1745. Pada masa itu, orang-orang Tionghoa tidak diperbolehkan tinggal di dalam tembok keraton yang berada di selatan Kali Pepe. Sebagai pilihan, mereka tinggal di seberang timur Kali Pepe yang strategis. Lambat laun, di tengah-tengah pemukiman ini berdirilah sebuah pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Gede (Leushuis, 2014;220). Keberadaan pasar ini juga tidak terlepas dari konsep kosmologi Jawa yang secara tata ruang memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan religi. Oleh karena itulah kraton dalam konteks kosmologi sebagai pusat rohani pasti dibangun terpisah dengan pasar sebagai representasi kehidupan duniawi (Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, 2014;38).

Bangunan Pasar Gede sebelum direnovasi.
Sebelum direnovasi pada tahun 1930, pasar ini masih terlihat sederhana, yakni hanya berbentuk barisan los-los panjang tanpa dinding. Barulah pada tahun 1929, atas prakarsa Pakubuwono X, Pasar Gede diperbesar ke bentuk yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Pakubuwono X sendiri adalah seorang raja yang sangat kaya raya dan peduli pada pembangunan kotanya (Purwadi, 2009;191). Biaya yang dikeluarkan oleh Pakubuwono tidaklah sedikit, yakni mencapai 300 ribu gulden.

Gambar rancangan konstruksi Pasar Gede oleh Thomas Karsten (sumber : Locale Techniek Maret 1938, halaman 65).
Desain bangunan Pasar Gede merupakan karya dari arsitek Belanda terkenal yang juga teman dekat Pakubuwono X, Ir. H. Thomas Karsten. Selain Pasar Gede, Karsten juga merancang pasar lain di Semarang seperti Pasar Johar dan Pasar Pedamaran ( Karsten, 1938; 63 ). Berbeda dengan pasar-pasar karya Karsten yang lain, unsur arsitektur tradisional begitu menonjol sekali pada bangunan pasar ini seperti yang terlihat pada konstruksi atap berbentuk Joglo dan pemakaian sirap sebagai material penutup atap.
Rombonngan Pakubuwono X dan Residen Surakarta sedang berjalan ke tempat peresmian bangunan baru Pasar Gede. Di belakang tampak bangunan pasar gede sisi barat yang belum selesai dibangun (sumber : media-kitlv.nl).
P. R.W van Geseller Verschuir ( tengah, memegang topi), dan Pakubuwono X (di bawah payung dengan selempang di depan dada) ketika hendak memotong pita tanda diresmikannya bangunan baru Pasar Gede (sumber : media-kitlv.nl).
Setelah diresmikan oleh Pakubuwono X pada tanggal 12 Januari 1930 , Pasar Gede yang dahulu nama lengkapnya adalah Pasar Gede Oprokan diganti menjadi Pasar Gede Hardjonagoro. Pada waktu itu, Pasar Gede sesuai namanya adalah pasar paling besar di antara pasar yang banyak berdiri di Solo. Selain itu, Pasar Gede juga merupakan pasar bertingkat pertama di Indonesia. Sistemnya pun juga sudah cukup modern, yakni menggunakan sistem jual dan sewa terhadap ruko maupun tempat lain untuk berjualan (Purwadi, 2009; 195).

Pasar Gede setelah dibumihanguskan oleh TNI pada akhir tahun 1948. Atap Joglo di bagian depan pasar terlalap habis oleh si jago merah sementara  bagian lain tinggal menyisakan puingnya saja (sumber : Djocja Solo halaman 82).
Pada masa Perang Mempertahankan Kemerdekaan Republik, kota Solo diduduki oleh dua divisi TNI, yakni Divisi 2 di bawah komando Kolonel Gatot Subroto dan Divisi Siliwangi dibawah Letkol. Daan Yahya. Sebelum mereka pergi pada akhir tahun 1948, mereka melakukan pembumihangusan pada bangunan-bangunan publik yang dianggap dapat dipakai oleh Belanda lagi. Tercatat ada beberapa bangunan yang dibumihanguskan, antara lain rumah tinggal Residen, Hotel, Teater, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres dan Pasar Gede (Bruggen, 1998; 83).

Selanjutnya ketika terjadi Reformasi di tahun 1998 yang diwarnai oleh berbagai aksi kerusuhan massal di kota-kota besar, beberapa toko milik etnis Tionghoa yang ada di sekitar Pasar Gede dijarah oleh massa. Selama beberapa hari, Pasar Gede dipenuhi oleh puing-puing dan sampah sisa kerusuhan. Peristiwa ini cukup membekas dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Surakarta.

Dua tahun kemudian, Pasar Gede terbakar lagi untuk kedua kalinya. Penyebab pasar ini terbakar yakni akibat hubungan arus pendek listrik, penyebab terbakarnya sebuah pasar yang paling klise. Setelah terbakar, pasar ini dibangun kembali dalam bentuk yang relatif sama (Leushuis, 2014; 220).

Di Tengah Keramian Pasar Gede
Pasar Gede (69) pada peta kota Solo tahun 1946 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Nah, setelah kita mengetahui cerita dibalik berdirinya Pasar Gede, mari kita bertandang ke pasar ini. Apabila kita melihat Pasar Gede dari luar, kita akan melihat arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan harmonis antara arsitektur Jawa dengan arsitektur modern yang dikenal sebagai gaya arsitektur Indo-Eropa. Gaya arsitektur pasar ini rupanya dipengaruhi oleh pandangan Karsten mengenai arsitektur Indo-Eropa. Pada dasarnya, Karsten yang sangat menghromati budaya Jawa memiliki pandangan bahwa Arsitektur Indo-Eropa harus mengacu pada arsitektur Jawa yang sudah lama berkembang di masyarakat dan kemudian dilahirkan kembali ke bentuk baru tanpa menghilangkan unsur lama. Pemikiran Karsten ini dapat kita lihat pada bentuk atap Pasar Gede berupa model Joglo dan Limasan yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa dan dipadukan dengan unsur modern yang dapat dilihat pada konstruksi pasar yang terbuat dari material-material modern seperti besi dan beton serta jendela-jendela kaca vertikal pada bagian depan pasar.
Tampak depan Pasar Gede.
Pasar Gede dibagi menjadi dua blok yang dipisahkan oleh jalan Urip Sumoharjo, yakni blok timur yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari, dan blok barat yang sekarang menjadi kios tempat berjualan buah.
Denah Pasar Gede.
Sebelum masuk ke dalam pasar, di atas pintu masuk pasar, kita dapat melihat plakat nama Pasar Gede yang terbuat dari besi dan font art deconya yang menambah nilai seninya. Font atau bentuk huruf yang dipakai pada plakat ini merupakan font yang banyak dipakai pada tahun 1930an. Namun plakat ini hanyalah replika dari plakat asli yang sudah hilang. Konon plakat yang asli hilang sewaktu pasar ini direnovasi pada tahun 2000an setelah mengalami kebakaran.
Keramaian pedagang dan pembeli di Pasar Gede. Dahulu, pasar di kota Surakarta yang setiap hari ramai hanyalah Pasar Gede saja. Sementara pasar-pasar lain hanya ramai pada hari pasaran tertentu saja.
Masuk ke bagian dalam pasar, kita akan mendapati suasana pasar yang tidak berbeda jauh dengan pasar-pasar lain. Di sepanjang gang, terlihat para pedagang yang sibuk menjual aneka barang dagangannya. Barang dagangan yang dijual di pasar ini sangat beragam. Mulai dari  buah-buahan seperti pisang, jeruk, papaya, kelengken dan lain-lain, lalu berbagai alat-alat rumah tangga, busana, bumbu-bumbu dapur, bahan makanan seperti sayur, daging segar dan ikan laut. Lalu ada jamu racikan dengan aromanya yang khas dan jajanan pasar yang murah meriah dan lezat. Ya, segala barang kebutuhan dijual di pasar ini. Selain memiliki fungsi ekonomi, Pasar Gede juga memiliki fungsi sosial karena pasar ini menjadi tempat berinteraksinya para pedagang dengan pembeli atau interaksi antar sesama pedagang.


Panggung tempat para pedagang berjualan.
Salah satu yang hal yang menarik yang bisa kita jumpai dari pasar ini adalah adanya panggung-panggung beton tempat para pedagang berjualan. Karsten sepertinya mengetahui bagaimana kebiasaan para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional di. Para pedagang biasanya menunggu para pembeli dengan duduk lesehan. Oleh karena itulah para pembeli harus membungkukan badan dahulu jika ingin membayar dan tentu saja hal ini sedikit merepotkan. Solusi Karsten yakni membuat panggung yang kira-kira setinggi pinggang orang dewasa. Dengan demikian, para pedagang masih bisa duduk lesehan menunggu barang dagangannya dan pembeli tidak perlu membungkukan badan lagi. Sebuah solusi yang sangat brilian.

Bukaan ventilasi pada bagian atap pasar.
Di bagian atap, terdapat sebuah lubang ventilasi, sehingga sirkulasi udara di dalam pasar sangat bagus sekali. Meski di dalam pasar penuh dengan orang-orang berjualan, tapi udara di dalam tidak begitu pengap. Ventilasi ini juga berfungsi sebagai pencayahayaan alami, sehingga pasar ini bisa sedikit menghemat energi listrik untuk penggunaan lampu. Inilah bentuk kearifan lokal yang dapat ditemukan pada bangunan pasar ini. Berbeda sekali dengan pasar-pasar modern zaman sekarang yang tertutup, sirkulasi udara yang hanya mengandalkan AC dan pencahayaan yang bergantung pada lampu yang tentu boros energi sekali.
Kuda-kuda penyangga atap.
Los pedagang daging.
Dinding partisi los daging hewan dengan los lain.
Toilet pasar.
Setelah puas berkeliling di lantai satu, mari kita mencoba untuk naik ke bagian lantai dua Pasar Gede. Di lantai dua, terdapat kantor pengelola pasar yang berada persis di atas pintu masuk pasar. Lalu di sini juga ada los untuk pedagang daging ayam, sapi, dan ikan yang dipisah oleh dinding sekat dengan los lainnya. Tujuan pemisahan ini untuk memudahkan pembeli mencari barang yang hendak dibeli. Untuk menambah sirkulasi udara, dinding atas bagian luar dibuat dari jalinan kawat sehingga udara tetap bisa masuk dalam. Di setiap sudut pasar, terdapat kamar kecil yang sudah dipisahkan berdasarkan gender.
Kios-kios di luar Pasar Gede. Kios-kios di sini harga jual atau sewanya lebih mahal daripada yang ada di dalam pasar.
Bangunan bergaya Tionghia di sekitar Pasar Gede. Populasi masyakarat Tionghoa di Surakarta sebelum tahun 1870 sangat kecil. Hal ini dikarenakan adanya larangan orang Tionghoa untuk bermigrasi ke wilayah Vorstenlanden oleh pemerintah Belanda.
Klenteng Tien Kak Sie di selatan Pasar Gede. Klenteng ini diperkiriakan sudah ada semenjak orang Tionghoa membangun pemukiman di sekitar Pasar Gede pada tahun 1745.
Dari lantai dua, kita selanjutnya akan berkeliling ke bagian luar pasar. Di bagian luar Pasar Gede, terdapat kios-kios yang biasanya diisi oleh para pedagang Tionghoa. Para pedagang ini membuka usaha kuliner Tionghoa, toko perhiasan, atau warung sembako. Pasar Gede berdiri di tengah-tengah kawasan Pecinan. Hal ini dapat dibuktikan pada keberadaan beberapa bangunan berarsitektur Tionghoa yang dapat kita jumpai di sekitar pasar seperti klenteng dan ruko-ruko tradisional Tionghoa.
Blok barat Pasar Gede.

Bagian beranda lantai dua.
Profil di bagian pintu masuk.
Di seberang barat Pasar Gede, terdapat bangunan pasar yang bentuknya serupa dengan Pasar Gede dengan ukuran yang lebih kecil. Bangunan pasar ini memiliki balkon pada lantai dua yang menjorok keluar. Balkon ini berguna melindungi pejalan kaki di bawahnya dari gangguan cuaca. Masuk ke dalam pasar, suasana pasar tidak seramai Pasar Gede yang sebelah timur. Hanya terlihat beberapa pedagang yang kebanyakan berjulan buah-buahan. Pada bagian tengah lantai dua pasar ini, biasanya digunakan untuk festival-festival kebudayaan. Bagian depan pasar yang kini ditempati oleh belasan pedagang buah dahulunya ditempati oleh orang Tionghoa bernama Be Thian Kiem yang membuka sebuah toko perhiasan.

Begitulah catatan penjelajahan kita di Pasar Gede, pasar yang menjadi living heritage kebanggannya wong Solo. Pasar Gede bukanlah sembarang pasar. Di dalamnya terkandung banyak nilai dan kearifan lokal yang mulai luntur. Pasar ini juga menjadi bagian dari sejarah perjalanan kota Surakarta yang panjang, mulai dari awal pembangunan kota Surakarta oleh Pakubuwono II, masa keemasan kota Surakarta di bawah Pakubuwoni II, Surakarta yang membara oleh lautan api pada tahun 1949, hingga  Surakarta yang kembali membara pada tahun 1998. Bentuk bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa dengan modern juga menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa arsitektur Jawa pada khususnya dan budaya Jawa pada umumnya, adalah kebudayaan yang luwes dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Tinggal bagaimana dari kita untuk mengemasnya. Pasar ini juga menjadi pusat ekonomi masyarakat kecil di Surakarta yang mampu bertahan dari gempuran pasar-pasar modern milik investor besar. Oleh karena itulauh, dengan berbagai cerita dan nilai yang ada terkandung di dalamnya, saya berani bilang, seribu pasar modern yang megah, tidak akan mampu menggusur Pasar Gede ini…..

Referensi
Karsten, Thomas. 1938. " Iets Over De Centralle Pasar " dalam Locale Techniek edisi 7 no 2 tahun 1938.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

Purwadi, dkk, 2009. Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa. Jakarta : Bangun Bangsa.


Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa Dari Kolonial. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

van Bruggen, M.P dan Wassing, R.P. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Asmterdam : Asia Maior.

Minggu, 13 November 2016

Jejak Pabrik Gula Kedungbanteng, Pabrik Gula di Tapal Batas Sragen


Halo pembaca Jejak Kolonial,  pada kesempatan kali ini, kita akan menelusuri jejak dari PG Kedungbanteng, sebuah pabrik gula yang dahulu pernah berdiri di Sragen, Jawa Tengah. Kira-kira jejak apa saja yang akan kita jumpai nanti di sini ? Mari kita cari bersama-sama….

Pasang Surut PG Kedungbanteng
Foto udara PG Kedungbanteng.
PG Kedungbanteng terletak di Desa Gondang Pabrik Kecamatan Gondang, Sragen. Letak PG ini cukup dekat dengan perbatasan provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Timur.  Dua setengah kilometer ke timur dari lokasi PG Kedungbanteng, sudah masuk wilayah kabupaten Ngawi. Jadi dapat dikatakan PG Kedungbanteng merupakan PG paling timur di wilayah Vorstenlanden (meliputi wilayah Surakara dan Yogyakarta).

Iklan lowongan pekerjaan di harian Bataviasch Nieuwsblad tanggal 25 Februari 1925. Tampak ada lowongan untuk pekerjaan sebagai chemker. 
Berita dari De Indische Courant 25 Februari 1932 yang memberitakan penutupan PG Kedungbanteng
Lalu bagaimana dengan sejarah PG Kedungbanteng sendiri ? Jadi begini, pada tahun 1924, sebuah sindikat industri gula bernama Van der Wjk Concern mendirikan sebuah pabrik gula di Distrik Gondang, Sragen. Sindikat gula ini sebelumnya sudah memiliki sebuah pabrik gula, yakni Pabrik Gula Delangu di Klaten (Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924). Pemilihan lokasi PG Kedungbanteng terkait dengan beberapa alasan. Alasan pertama yakni ketersediaan lahan tebu yang masih luas di sebelah timur Sragen. Alasan kedua, yakni dekat dengan pusat pemerintahan distrik Gondang yang sudah banyak penduduk yang dapat diambil tenagannya sebagai buruh pabrik. Ketiga, dekat dengan jalur kereta api milik Staatspoorwegen Staatspoorwegen yang menghubungkan Surakarta-Madiun-Surabaya sejak tahun 1880, sehingga mesin dan onderdil yang didatangkan dari Surakarta dapat dibawa dengan kereta dan bongkar muatnya mudah karena dekat dengan jalur kereta. Apalagi jika kita mengingat berat mesin dan onderdil tadi yang bisa mencapai belasan ton sehingga butuh waktu lama untuk bongkar muatnya. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk mempermudah distribusi gula dari PG Kedungbanteng ke pelabuhan di Surabaya. Alasan ketiga, yakni di sebelah timur pabrik terdapat Sungai Sawur yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembuangan limbah. Dahulu, lokasi PG direncanakan dibangun di sebelah selatan jalur kereta. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya lokasi PG dibangun di sebelah utara.
Peta PG Kedungbanteng tahun 1930 (sumber : maps.libary.leiden.edu).
Alkisah, sebelum tahun 1929, PG Kedungbanteng rupanya sempat ditutup. Menurut warga sekitar, pabrik gula ini setelah musim giling pertama langsung ditutup. Hal ini disebabkan gara-gara ada konflik manajemen di internal pengurusa pabrik gula. Setelah masalah internal dituntaskan, maka pada tanggal 19 Juni 1929, PG Kedungbanteng dibuka kembali (Bataviasch Nieuwsblad 20 Juni 1929). Namun pada awal tahun 1930an, terjadi krisis ekonomi dunia atau dikenal sebagai malaise atau Great Depression. Dampaknya yakni hancurnya harga gula di pasaran dunia. Untuk menekan kerugian, maka Van der Wijk Concern selaku pemilik PG Kedungbanteng memutuskan untuk menutup PG Kedungbanteng pada tahun 1932 (De Indische Courant 25 Februari 1932). Ya, begitulah kira-kira riwayat PG Kedungbanteng yang mengalami sedikit  gejolak ketika masih berdiri.

Yang Membekas dari PG Kedungbanteng
Lokasi situs PG Kedungbanteng dilihat dari citra satelit dari Google Map.
Keterangan :
Panah kuning : Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang masih tersisa.
Kotak kuning : Letak PG kedungbanteng.
Lingakran merah :  Letak emplasemen lori
Saya sendiri sebenarnya sudah dua kali saya mengunjungi bekas PG Kedungbanteng. Kunjungan pertama saya bersama teman-teman dari Komunitas Roemah Toea. Kunjungan pertama ini sekaligus untuk menggenapi penelusuran kami pada bekas-bekas PG yang pernah berdiri di eks. Karesidenan Surakarta. Sementara itu, kunjungan kedua saya lakukan waktu KKN di Sragen. Pada waktu itu, sehabis shalat Idul Fitri, berhubung di desa saya tradisi silahturahmi baru dilakukan pada H+2 sehingga hari itu saya tidak ada kegiatan, maka daripada gabut di pondokan, saya iseng untuk blusukan kedua kalinya ke bekas PG Kedungbanteng. Jarak dari pondokan saya ke lokasi PG Kedungbanteng kira-kira 13 kilometer.
Lapangan Gondang, salah satu saksi kejayaan PG Kedungbanteng.
Nah, dari PG Kedungbanteng yang masih bisa kita jejaknya adalah bangunan-bangunan tua yang dahulu difungsikan untuk rumah dinas pegawai PG Kedungbanteng. Lokasi rumah-rumah ini terpusat di sekitar lapangan Gondang. Penelusuran kita akan kita mulai dulu dari sebelah barat lapangan. Di sini, kita akan menemukan sebuah rumah tua yang kini terhalang oleh tembok tinggi dan tertutup oleh pepohonan di depannya. Tampak bagian-bagian seperti beranda depan sudah terutup. Tampaknya rumah tua ini digunakan sebagai sarang walet.
Bekas paviliun yang kini menjadi gilingan padi.
Berjalan ke utara, kita akan melihat ada sebuah penggilingan padi yang sepertinya memakai bangunan lama. Benar saja, setelah saya tanya ke pemilik penggilingan, ternyata penggilingan ini menggunakan bangunan bekas paviliun dari rumah tadi dan rumah yang kini sudah berubah menjadi gudang di utaranya. Dua rumah ini ternyata saling berbagi paviliun. Masuk ke dalam penggilingan, terlihat beberapa tembok tebalnya yang sudah dijebol untuk tempat pembuangan bulir-bulir padi hasil penggilingan.
Puskesmas Gondang.
Berjalan ke utara sedikit, tampak sebuah bangunan tua dengan atapnya yang berbentuk perisai. Bangunan yang dahulunya rumah dinas, kini sudah menjadi kantor Puskesmas Gondang. Ketika saya datang ke sini, suasana Puskesmas tampak sepi karena bertepatan dengan hari libur Idul Fitri.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng sebelum dibangun musholla.
Tampak bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng setelah dibangun musholla.
Di sebelah timur Puskesmas Gondang, terdapat Koramil Gondang yang di belakangnya kita dapat melihat sebuah rumah tua yang tampaknya sudah tidak dipakai lagi. Ketika saya pertama kali datang ke Kedungbanteng, di depan rumah tua tadi masih belum ada bangunan apa-apa. Tapi ketika saya datang lagi ke sini untuk kedua kalinya, di depan rumah tua tadi sudah berdiri sebuah musholla. Suasana Koramil sama seperti Puskesmas, sepi dan tidak ada satu batang hidupun yang terlihat.

Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah timur Koramil Gondang.
Berjalan ke timur, di seberang jalan, terlihat sebuah rumah tua yang bentuknya serupa dengan rumah tua yang ada di Koramil tadi. Rumah tua yang sekarang digunakan untuk sebuah SMP Kristen (meski tampaknya juga sudah tidak dipakai lagi) ini menghadap ke selatan, menghadap ke arah lapangan Kedungbanteng. Pada bagian gable, tampak hiasan molding yang bagi saya terlihat kaku. Di tengah-tengah gable tadi, terdapat sebuah lubang udara berbentuk kotak. Bagian beranda depannya tampak sudah ditutup untuk menambah ruangan. Di bagian atas jendela, terdapat kanopi yang berfungsi agar tampias air hujan tidak masuk ke dalam ruangan.
Balai Rehabilitasi.
Nah di sebelah timurnya lagi, terdapat sebuah bangunan tua yang bentuknya mirip dengan bangunan Puskesmas Gondang yang tadi kita lihat. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo”.
Bekas rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor kecamatan Gondang.
Selanjutnya tepat di sebelah timur lapangan, dengan halaman yang luas, berdiri sebuah bangunan tua yang sekarang digunakan sebagai kantor kecamatan Gondang. Melihat ukuran bangunan, bentuk yang lebih kompleks, dan halaman yang sangat luas, tampaknya bangunan ini dahulu merupakan rumah dinas administrateur atau kepala PG Kedungbanteng. Sayangnya, berhubung hari libur, kantor kecamatan ini sekarang tutup sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk mengintip bagian dalamnya. Bergerak ke belakang,kita akan melihat sebuah cerobong asap yang tampaknya adalah bagian dari dapur rumah ini.
Bagian belakang kantor kecamatan Gondang. Tampak cerobong asap di atas atap.
Lapangan tenis.
Di belakang kantor kecamatan tadi, terdapat sebuah lapangan tenis yang tampaknya sejak PG Kedungbanteng berdiri. Tampak batangan rel lori tebu yang digunakan sebagai tiang pagar. Perlu kita ketahui, tenis adalah salah satu olahraga favorit orang-orang kulit putih yang bekerja sebagai pegawai PG Kedungbanteng. Kita bisa membayangkan, sang tuan adminsitrateur bermain tenis bersama para pegawai lainnya pada sore hari di lapangan ini. Orang-orang pribumi pada waktu itu hanya bisa menonton dari luar dan tidak ada satupun yang bermain tenis. Oleh karena itu, orang-orang pribumi ini juga tidak ada yang bisa bermain tenis. Mereka biasanya menjadi pesuruh yang bertugas mengambil bola tenis dan membersihkan lapangan.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang ada di sebelah utara kantor kecamatan Gondang.
Di sebelah utara kantor kecamatan Gondang, kita akan menemukan empat buah rumah tua yang berdiri menghadap ke selatan. Setiap dua rumah saling berbagi tembok. Di antara keempat rumah tua yang ada di sini, hanya satu saja yang masih dipakai dan kondisinya terawat. Sementara sisanya dalam kondisi tidak berpenghuni dan terlantar. Meskipun terlantar, pesona dari bangunan bekas rumah dinas pegawai PG Kedungbanteng ini masih terpancar.
Ruangan di bagian belakang.
Tampak belakang.
Garasi.
Setiap rumah memiliki sebuah garasi yang setiap dua rumah saling berbagi tembok. Tampaknya setiap pegawai PG Kedungbanteng sudah memiliki kendaraan mobil. Entah itu kendaraan dari perusahaan atau kendaraan pribadi. Yang jelas keberadaan kendaraan mobil ini sangat membantu mobilitas pegawai, baik untuk menginspeksi area perkebunan atau untuk bertamasya ke luar area PG.
Bekas kamar mandi.
Bekas dapur.
Di belakang garasi tadi, terdapat bangunan tambahan atau bijgebouwen yang terhubung bangunan utama dengan sebuah selasar. Di bangunan ini, terdapat sel kamar pembantu, gudang, dapur, dan kamar mandi. Saya sendiri mencoba untuk masuk ke bagian ini. Terlihat rumput-rumput liar yang memenuhi halaman belakang. Ruangan di dalam terasa lembab, gelap dan kotor karena sudah lama tidak dipakai.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah utara rel.
Batangan rel lori yang dijadikan pagar.
Bergerak ke selatan, mendekati arah rel, tampak sebuah rumah tua yang berdiri di tengah-tengah halaman rumput yang bisa dikatakan sangat luas dengan pagar pembatas menggunakan bekasl rel lori. Bentuk rumah ini mirip dengan bangunan Puskesmas dan Balai Panti Rehabilitasi yang ada di utara lapangan tadi.  Aslinya, rumah ini memiliki rumah kembar di samping timurnya dan saling berbagi tembok. Namun rumah yang di sebelah timur ini sudah dibongkar. Orientasi rumah ini menghadap ke selatan, ke arah jalur kereta Surakarta-Madiun. Jika cuaca sedang cerah, pemandangan akan terlihat indah karena Gunung Lawu akan terlihat dari sini.
Di perkampungan inilah dahulu PG Kedungbanteng berdiri.
Setelah menyusuri rumah-rumah ini, kita akan bergerak ke timur untuk melihat sudah menjadi apa PG Kedungbanteng saat ini. Rupanya Pabrik Gula Kedungbanteng sudah menjelma menjadi pemukiman penduduk. Tidak ada lagi yang tersisa dari pabrik gula ini selain saluran air dan toponim "Mbabrik" dari kata pabrik yang menjadi nama kampung ini.
Bekas jembatan lori. Foto oleh Aga Y.P.
Salah satu hal yang menarik dari PG Kedungbanteng ini adalah penempatan rumah-rumah dinas pegawainya yang sudah tidak menggunakan konsep panopticon lagi, dimana rumah-rumah dinas dibangun menghadap ke arah pabrik untuk memudahkan pengawasan. Kita lihat sendiri tadi sebagian besar rumah dinas menghadap ke tengah lapangan sehingga tampak menghasilkan pola radial dan sisanya dibangun menghadap ke arah jalan menuju pabrik. Selain itu, biasanya bangunan-bangunan rumah dinas dibangun pada jalan yang sudah ada. Namun untuk PG Kedungbanteng, pembangunan jalannya tampaknya juga bersamaan dengan pembangunan rumah dinas, sehingga kompleks rumah dinas PG Kedungbanteng tampak seperti kompleks perumahan baru. Tampaknya pembangunan kompleks rumah dinas PG Kedungbanteng mengikuti trend pembangunan pemukiman Eropa baru di kawasan perkotaan.
Bangunan yang diduga kantor adminsitrasi PG Kedungbanteng.
Nah, kemudian untuk gaya arsitektur rumah-rumah yang ada di PG Kedungbanteng ini sendiri menggunakan gaya arsitektur transisi yang muncul dari tahun 1900 hingga tahun 1920an. Salah satu cirinya yakni fasad depan yang sudah tampak tidak simetris lagi dan hilangnya pilar-pilar bergaya klasik di bagian depan (Handinoto, 2010 ;145).

Begitulah hasil penelusuran saya pada jejak-jejak PG Kedungbanteng, sebuah pabrik gula dengan nasib yang mengalami pasang surut dan kini tenggelam dalam arus sejarah. Meskipun PG Kedungbanteng masih menyisakan jejak beberapa bangunan rumah dinas yang masih berdiri kokoh, tapi sebagian besar bangunan tadi dalam kondisi terlantar. Oleh karena itulah butuh kepedulian dari pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi saksi kejayaan industri gula di Sragen ini. Ingat, kehilangan sebuah peninggalan sejarah bukan generasi sekarang yang akan merasakannya, tapi generasi masa depanlah yang akan merasakannya. Bukannya tidak mungkin jika misalnya peninggalan sejarah ini hilang, generasi masa depan nanti akan mengutuk kita yang hidup di masa sekarang karena ketidakmampuan kita untuk menjaganya.

Referensi
Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924.

Bataviasch Nieuwsblad, 20 Juni 1929.

De Indische Courant, 25 Februari 1932.

Handinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.