Minggu, 04 Juni 2017

Selisik Seluk Beluk Kota Lama Semarang


Kota tanpa bangunan berserajah adalah kota yang kehilangan identitasnya “, ungkapan demikian sepertinya tepat sekali untuk menggambarkan kondisi bangunan bersejarah di kota-kota di Indonesia yang mulai hilang satu persatu. Apabila di kota itu tidak ada lagi bangunan bersejarahnya, maka kota itu akan terlihat sama dengan kota lainnya dan akhirnya akan terlihat membosankan bagi penghuninya. Meskipun demikian, ada juga kota-kota yang bangunan bersejarahnya relatif utuh dan akhirnya bisa menjadi ikon kota itu seperti Semarang dengan Kawasan Kota Lamanya. Bagaimanakah seluk beluk bangunan bersejarah di kota lama Semarang ?

Kota Dagang yang Tak Pernah Lengang
Pemandangan kota Semarang pada tahun 1770 ( sumber : commons.wikimedia.org ).
Percaya atau tidak, sebagian besar area kota Semarang dahulunya ternyata masih berupa dasar laut. Fakta sejarah menunjukan bahwa letak permukiman awal di Semarang ternyata berada di Simongan dan Bergota. Permukiman masyarakat di Bergota didirkan oleh seorang penyebar agama Islam bernama Ki Ageng Pandan Arang bersama pengikutnya sekitar 1476. Sementara permukiman masyarakat di Simongan dirintis oleh para awak kapal yang mengikuti ekspedisi pelayaran Laksamana dari Tiongkok bernama Cheng Ho. Armada Cheng Ho berlabuh di Semarang karena ada seorang komandannya yang sakit. Setelah sang komandan sembuh, Cheng Ho meneruskan pelayaran kembali tapi komandan tersebut beserta  sebagian awak kapal  tinggal di Simongan. Awal abad ke-16, erosi dari Sungai Garang membentuk dataran alluvial yang membuat garis pantai bergeser ke utara. Oleh karena itu, pengganti Ki Ageng Pandan Arang, Ki Ageng Pandan Arang II memindahkan permukimannya ke utara. Lokasi permukiman tersebut berada di sebelah barat kota lama Semarang ( Brommer dkk, 1995;7 ).
Perkembangan kawasan kota lama Semarang dari tahun 1719, 1741, 1866, hingga 1917. Perhatikan pada peta tahun 19719 dan 1741, di dekat Kali Semarang terdapat benteng berbentuk segi lima bernama benteng Vijfhoek ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Pada masa kerajaan Demak, Ki Ageng Pandan Arang II diangkat menjadi bupati. Lalu pada 1575, kerajaan Mataram Islam mengambil alih Semarang. Kota ini berkembang pesat menjadi pintu perdagangan kerajaan Mataram Islam dan pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Pada 1678, kota Semarang dihadiahkan kepada VOC oleh Amangkurat II sebagai hadiah karena sudah membantu menumpas pemberontakan Trunojoyo di Jawa Timur. Bagai mendapat durian runtuh, tentu saja VOC  dengan senang hati menerima hadiah itu. VOC kemudian memindahkan pusat pemerintahan Pantai Utara-Timur Jawa dari Jepara ke Semarang pada 1708. Di tahun yang sama, VOC mendirikan sebuah benteng berbentuk segi lima dengan bastion di setiap sudutnya. Benteng ini dikenal sebagai benteng Vijfhoek. Dari benteng inilah VOC mengatur kekuasaanya di pesisir utara Jawa dan di dalam benteng ini pula, orang-orang Belanda tinggal. Lokasi benteng yang dulu berdiri di Sleko ini berada persis di seberang pusat kota pribumi dan hanya dipisahkan oleh Kali Semarang, sehingga VOC dapat mengawasi gerak-gerik orang pribumi. Pertengahan abad ke-18, Semarang menjadi sebuah kota pelabuhan yang cukup maju. Oleh karena itu Semaranng disebut sebagai “Batavia Kedua”. Dari sini, beras, kayu, kapuk, dan kopi diekspor keluar ( Poerwanto dan Soenarso, 2012 ; 47 ).
Perkiraaan tembok keliling yang dahulu pernah mengeliling pemukiman Eropa.
Seiring dengan bertambahnya masyarakat Eropa, dibangunlah permukiman Eropa di luar dinding benteng. Bentuk kota lama Semarang mulai terbentuk. Pada 1741, meletus pemberontakan Tionghoa dan rakyat Mataram. Permukiman orang Eropa dikepung dan untuk bertahan, VOC mendirikan tanggul pertahanan dari kayu. Belajar dari pengepungan, benteng segi lima tadi dirobohkan untuk memberi ruang baru untuk tembok pertahanan yang mengelilingi pemukiman Eropa. Namun usia tembok ini tidak bertahan lama. Pada masa Daendels ( 1808-1811 ), seperti halnya tembok kota Batavia, tembok kota Semarang ini dianggap tidak berguna oleh Daendels dan atas perintahnya, tembok keliling ini dibongkar. Jalan utama yang melintas di tengah kota lama dijadikan sebagai bagian dari Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Paruh awal abad ke-19, pemerintah kolonial mulai memperluas permukiman Eropa di sepanjang jalan Bojong ( Pratiwo, 2010;33 ).


Pemandangan udara kota Semarang pada tahun 1930. Waktu itu Semarang sudah berkembang pesat menjadi kota niaga yang ramai. Menurut Baldinger, beberapa faktor yang menyebabkan majunya perniagaan di Semarang antara lain, upah buruh yang cukup rendah, mudah mendapatkan bahan mentah, harga tanah murah, dan perdagangan berjalan lancar. Sayangnya majunya perekonomian Semarang belum didungkung dengan baiknya sarana transportasi ; pelabuhan masih belum teratur dan stasiun kereta masih belum tersambung ( sumber foto : commons.wikimedia.org ).
Praktik cultuurstelsel yang diterapkan oleh pemerintah kolonial pada 1830 semakin meningkatkan peran Semarang sebagai pelabuhan ekspor untuk produk pertanian hasil kebijakan cultuurstelsel seperti gula dan indigo dari daerah pedalaman Jawa Tengah. Roda perekonomian Semarang semakin cepat berputar dengan dibukanya wilayah jajahan kepada penanam modal swasta pada 1870. Bagai cendawan di musim hujan, banyak firma dagang, perusahaan transportasi, lembaga keungan dan perusahaan jasa yang mendirikan kantornya di kawasan kota lama. Perlahan kawasan kota lama bertransfromasi menjadi semacam distrik bisnis atau dalam bahasa Belanda disebut zakencentrum. Namun di masa yang sama, orang-orang Eropa mulai meninggalkan kawasan kota lama sebagai tempat hunian karena buruknya kondisi lingkungan di kota lama. Orang Eropa lebih memilih untuk memindahkan huniannya ke Bojong atau di perbukitan selatan Semarang.

Paska kemerdekaan, kawasan kota lama Semarang perlahan mulai menujukan gejala kemunduran. Kantor-kantor yang dulu berdiri megah banyak yang kosong dan sedikit investor yang mau menggunakan kantor-kantor lama. Kawasan bersejarah ini menjadi sepi di malam hari dan dahulu kadang menjadi tempat mangkal para penjaja seks. Kemunduran kawasan ini diperparah dengan kondisi lingkungan yang kerap terkena banjir rob yang diatasi secara tambal sulam tanpa penanganan jangka panjang. Untuk melindungi kawasan bersejarah ini, sejak tahun 1992 pemerintah mulai menetapkan kawasan kota lama sebagai kawasan cagar budaya. Beberapa proyek rehabilitasi mulai dijalankan meski ada beberapa hambatan seperti kekurangan dana. Meskipun demikian, proyek-proyek ini ada yang berhasil sehingga kota lama Semarang terlihat lebih baik dibandingkan dengan kota bersejarah lain di Jawa. Dengan atmosfir tempo doeloenya yang masih kental, kawasan kota lama Semarang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan kotaa Semarang.

Dari Oudestad ke Kampung Melayu
Pada tulisan kali ini, selain kawasan kota Eropa, saya juga akan sekilas menyinggung kawasan alun-alun lama dan kampung melayu. Adapun untuk kawasan pecinan akan dibahas pada tulisan tersendiri. Kawasan kota Eropa, kota lama, atau oudestad terletak di sebelah barat Kali Semarang. Di sinilah orang-orang Eropa mendirikan permukimannya untuk pertama kalinya di Semarang. Awalnya masih tinggal di dalam tembok benteng ( intramuros ) namun perlahan berkembang pula permukiman di luar benteng ( extra muros ). Di kawasan oudestad  ini, kita dapat jumpai berbagai bangunan bergaya Eropa dengan rentang waktu dari abad ke-18, 19, hingga 1930an yang memiliki kekhasan tersendiri.
Paradeplein, jantung kota lama Semarang. Di sini kerap diadakan pentas drum band militer. ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Jantung oudestad terletak di sebuah lapangan yang dahulu digunakan sebagai lapangan parade sehingga lapangan ini disebut sebagai paradeplein. Kita sekarang mengenalnya sebagai Taman Srigunting. Membentang di sebelah selatan Taman Srigunting, Jalan Letjend. Suprapto membelah kawasan oudestad menjadi dua bagian. Pada zaman Belanda, jalan ini bernama Heerenstraat dan merupakan jalan utama di Kota Lama. Pada masa Daendels, jalan ini menjadi bagian dari Jalan Raya Pos. Sepanjang jalan ini dahulu pernah berdiri toko-toko untuk kaum elite dan hotel. Karena menjadi jalan utama, jalan ini nyaris tidak pernah sepi dari kendaraan dan karena tidak ada pedestrian, maka jalan ini sedikit tidak ramah untuk pejalan kaki.
Restoran Ikan Bakar Cianjur, menempati gedung dari abad ke-18.
Saat ini, sedikit sekali bangunan dari masa VOC yang masih bisa dijumpai di kawasan ini. Selain Gereja Blenduk, bangunan yang tersisa dari masa VOC adalah bangunan yang sekarang menjadi Restoran Ikan Bakar Cianjur. Bangunan yang diperkirakan didirikan pada tahun 1780 ini dulunya dihuni oleh seorang pendeta dari gereja Blenduk. Selanjutnya bangunan ini menjadi kantor pengadilan yang khusus menangani perkara orang Eropa. Bangunan ini merupakan contoh satu-satunya rumah bergaya Indis tertutup abad ke-18 di Semarang. 
Dekor lubang angin bergaya barok.
Atap pelananya cukup curam. Bagian depan rumah tidak beranda sehingga fasad depan rumah langsung menyentuh jalan. Bukaan jendela tidak dilengkapi dengan semacam kanopi dan hanya mengandalkan teritisan atap yang kecil sehingga antispasi panas dan hujan kurang optimal. Terlihat bahwa bangunan ini masih belum mengenal konsep bangunan tropis dan terkesan seperti bangunan Eropa yang dipindahkan ke Indonesia. Apabila masuk ke dalam, kita dapat melihat ukiran kayu bergaya barok di atas pintu masuk. Bangunan ini sempat kosong selama bertahun-tahun namun untungnya pada tahun 2007, bangunan ini diadaptasi sebagai restoran.

Di tengah-tengah kota lama, kita dapat menjumpai bangunan yang menjadi kantor, gudang, dan toko milik perusahaan Eropa. Kebanyakan bangunan ini didirikan dari rentang akhir abad ke-19 hingga tahun 1942.
Bangunan yang searang ditempati oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya ini, dulunya juga ditempati oleh perusahaan asuransi juga. Namanya Nederlandsch-Indisch Lijfrente Maatschappij ( Nillmij ). Gedung ini didirikan tahun 1916. Rancangannya dibuat oleh arsitek yang namanya menjadi ikon sejarah kota Semarang, Ir. H. Thomas Karsten. Bangunan yang memiliki kubah ini memiliki hiasan art deco dengan lubang centilasi yang dekoratif. Sebagai upaya adaptasi terhadap iklim lokal, maka bangunan ini diberi beranda keliling.
Di seberang gedung Nillmij, terdapat bangunan bergaya geomoteris modern yang dahulu menjadi kantor perusahaan dagang Borneo-Sumatra Maatschappij ( Borsumij ). Bangunan ini dibuat tahun 1939 dengan rancangan dari arsitek J.K.L Blankenberg. Saat ini menjadi kantor Indonesian Trading Center. Di sebelah utara bangunan ini terdapat gudang milik Borsumij yang masih menyatu dengan kantor.
Persis di seberang Taman Srigunting, terdapat bangunan yang mengingatkan kita pada saloon ala wildwest. Bangunan dari akhir abad ke-19 ini dahulunya merupakan Toko Ziken, toko retail pertama di Semarang. Bata merahnya yang khas berasal dari pabrik yang sama dengan bata di Gereja Gedangan. Di atas pintu masuk, terdapat tulisan Marba, singkatan dari Martha Badjuri, seorang imigran dari negeri Yaman, nenek moyang pemilik bangunan ini. Gaya arsitektur Spanish Colonial cukup menonjol. Seperti halnya banguna Restoran Ikan Bakar Cianjur, gedung ini tidak dilengkapi semacam beranda atau teritisan.
Bangunan yang memiliki gable seperti lonceng ini dahulu ditempati oleh toko kebutuhan sehari-hari milik H.Spiegel. Sempat tidak terawat selama bertahun-tahun, bangunan ini berhasil diperbaiki dan sekarang dimanfaatkan sebagai cafĂ© pada lantai satu dan sebagai workspace pada lantai dua. Dai balkon yang ada di atas pintu masuk, kita dapat melihat pemandangan jantung kawasan kota lama.
Bangunan yang sekarang digunakan sebagai Galeri Semarang ini dulunya merupakan kantor perusahaan dagang milik Francis Peek yang dibangun pada tahun 1895. Oleh karena itu bangunan ini kadang disebut sebagai Peekhouse. Bangunan ini berdiri di bekas rumah yang dahulu pernah dipakai sebagai gereja darurat untuk umat Katolik sebab pada waktu itu gereja Katolik belum dibangun.

Bangunan Gereja Blenduk sebelum dirombak tahun 1893. ( sumber : Locale Techniek ).
Tepat di jantung kota lama, berdiri Gereja Blenduk dengan kubahnya yang anggun membelah langit kota lama, di tengah-tengah kepungan bangunan sekular. Meskipun banyak bangunan kantor di kota lama dengan gaya arsitektur yang lebih modern dan menarik, namun gereja inilah yang akhirnya menjadi ikon utama kota lama Semarang. Bangunan gereja yang aslinya bernama GPIB Imannuel ini sudah ada sejak tahun 1753. Pada waktu itu, bangunan ini masih berbentuk seperti rumah tradisional Jawa.
Gereja Blenduk.
Pada 1793, bangunan lama diganti dengan bangunan gereja bundar bersisi delapan, dengan tiga pintu masuk dan sebuah kubah. Seratus tahun kemudian, bangunan gereja dirombak di bawah pimpinan H.P.A. de Wilde dan W. Weestmas. Dua menara bergaya barok dan sebuah portico klasik ditambahkan di bagian depan. Perombakan ini diperingati pada batu prasasti yang ada di dalam gereja.
Bagian dalam gereja.
Denah gereja ini berbentuk segi delapan, sehingga seluruh jemaat dapat memandang ke arah mimbar. Denah ini merupakan denah khas gereja reformasi, dimana terjadi pergeseran fokus jemaat yang semula berfokus ke arah altar, bergeser menjadi berfokus ke arah mimbar tempat pendeta memberikan khotbah. Di dalam gereja ini masih bisa kita lihat orgel bergaya barok pada salah satu balkon.
Bekas toko buku Van Dorp, toko buku terkenal di Semarang. Toko buku ini membuka cabang di kota-kota besar lain seperti Batavia, Surabaya, dan Bandung. Selain menjual buku, Van Dorp juga menjual alat-alat tulis dan membuka usaha percetakan.
Bekas kantor perusahaan asuransi Liverpool & London & Globe Insurance.
Sebuah bangunan tua di Jalan Branjangan. Dahulu jalan ini bernama Oudestadhuisstraat ( Jalan Balai Kota Lama ) karena di sini pada zaman VOC pernah terdapat Balai Kota.
Apabila kita menyusuri setiap jalan-jalan di sela kota lama, kita dapat menemukan berbagai bangunan kantor dengan gaya arsitektur yang menarik. Ada yang saat ini masih dipakai, namun ada juga yang sudah ditinggalkan begitu saja. Selain itu kita juga dapat menemukan berbagai bangunan rumah dari abad ke-19. Rumah ini memiliki balkon pada bagian lantai dua. Seringkali rumah ini merupakan kombanasi dari rumah di lantai atas dan toko pada lantai bawah.
Contoh rumah-rumah dari abad ke-19.
Bangunan pabrik rokok “Praoe Lajar” terletak di jalan Merak. Dulunya bangunan ini merupakan kantor dari firma Maintz& co. Pada persitiwa pertempuran lima hari, bangunan ini mengalami rusak berat dan akhirnya dibangun kembali. Jalan Merak sendiri dulunya bernama “Noorderwaalstraat” atau “Jalan Dinding Utara” sebagai pengingat bahwa dahulu di jalan ini pernah terdapat tembok yang mengelilingi kota lama Semarang.
Gedung Bank Mandiri yang berada di Jalan Kepodang ini dahulunya adalah kantor Nederlansch Indisch-Handel Bank. Jalan Kepodang sendiri dahulunya bernama Hogerndorpstraat. Di sepanjang jalan ini pernah berkantor firma-firma terkenal seperti Oei Tiong Ham Concern, Escompto Maatschappij, Spaarbank dan lain-lain. Di jalan ini pula dahulu pernah ada kantor surat kabar yang menjadi corong orang-orang Belanda yang memperjuangkan politik etis, De Locomotief. Sayangnya bangunan yang seharusnya menjadi monument pers Indonesia ini kini sudah runtuh akibat ditelantarkan dalam waktu lama.
Bekas kantor firma Escompto yang dibangun tahun 1912.
Salah satu sisa kantor redaksi harian De Locomotief. Terlihat ornamen kala di atas pintu masuk yang aslinya sering ditemukan pada pintu masuk candi.
Bangunan bergaya ekletik ini dahulunya merupakan kantor pertama De Javaasche Bank cabang Semarang yang dibangun awal abad ke-20. Desain gedung ini dibuat oleh biro arsitek Hulswit-Fermont en Cuypers yang juga merancang kantor De Javaasche Bank di tempat lain. Pada tahun 1934, De Javaasche Bank pindah ke kantor baru di Bojong. Bangunan saat ini digunakan oleh PT Telkom.

Pemandagan udara Kali Semarang tahun 1930 ( sumber : Semarang beeld van een stad ).
Di sepanjang tepi kali Semarang, kita dapat menjumpai deretan bangunan-bangunan bersejarah yang sejajar dengan sungai. Apabila kawasan ini dapat ditata, mungkin akan menjadi kawasan pedestrian yang menarik. Dahulu, Kali Semarang dapat dilalui oleh perahu-perahu kecil yang membawa muatan dari kapal besar yang membuang jangkar di lepas pantai. Dari lepas pantai, perahu kecil menyusuri Kali Semarang dan kemudian merapat ke gudang-gudang yang ada di tepi sungai. Namun seiring dengan terjadinya pendangkalan Kali Semarang, maka dibuatlah pelabuhan baru di sebelah utara kota. Kini yang berlayar di Kali Semarang bukanlah perahu-perahu kayu, melainkan sampah-sampah rumah tangga yang dibuang oleh orang tidak bertanggung jawab. Wilayah timur dan barat kali Semarang dihubungkan oleh sebuah jembatan yang dikenal sebagai jembatan Berok, pelesetan dari kata “brug” dalam bahasa Belanda yang berarti jembatan.
Kantor cabang Bank Mandiri ini dulunya merupakan kantor dari perusahaan Nederlansche Handel Maatschappij, perusahaan dagang yang didirikan pada 1824 oleh raja Willem I paska bubarnya VOC. Pada masa tanam paksa, perusahaan ini mengumpulkan dan memperdangankan semua hasil tanam paksa. Oleh karena itu NHM kadang disebut sebagai “ VOC kecil ”. Perusahaan NHM membuka cabang di Semarang pada tahun 1826. Bangunan yang ada sekarang dibangun pada tahun 1908. Sebelumnya di tempat yang sama pernah berdiri rumah penguasa VOC dan menjadi kantor pertama NHM di Semarang. Pada 1854, bangunan lama habis dilalap si jago merah, lalu di bekas bangunan tadi dibangun Societeit Amicita.
Persis di kiri Bank Mandiri, kita bisa melihat sebuah bangunan tua berlanggam art deco yang dirancang oleh arsitek Ir. H. Th. Karsten pada 1930. Dahulu gedung ini ditempati oleh perusahaan pelayaan Stoomvart Maatschappij Nederland yang didirikan tahun 1870 untuk melayani pelayaran penumpang dan barang antara Belanda dan Koloni. Gedung ini sekarang menjadi kantor PT. Djakarta Llyod
Gedung tua yang sekarang menjadi kantor PT.Pelni ini dahulunya adalah kantor dari Koninkljike Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran penumpang dan barang antar pulau di Hindia-Belanda yang didirikan pada tahun 1888. Gedung kantornya sendiri baru dibangun tahun 1917. Bangunan yang dirancang biro arsitek A.I.A di bawah pimpinan F.J.L. Ghijsels ini memiliki dua menara sudut berbentuk lonceng. Interior gedung ini dilengkapi dengan kaca patri warna dengan gambar jangkar. Tampak depan gedung ini terkesan rapi dan tidak berlebihan, sesuai dengan semboya Ghijsles “ Simplicity is the shortest path to beauty “.
Gedung Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden dengan menara kembarnya. Salah satu menara pernah runtuh, namun kemudian dibangun kembali dalam bentuk semula.
Bekas kantor Koloniaale Bank.
Bekas kantor Handelsverniging Semarang.
Masih di tepi Kali Semarang, tepatnya di Jalan Mpu Tantular, tampak tiga bangunan kantor besar yang ditempati oleh Handelsverniging Semarang, Koloniale Bank, dan Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden. Dua perusahaan terakhir merupakan investor perkebunan-perkebunan lokal.

Menara syahbandar Semarang ( sumber : media-kitlv.nl )
Reruntuhan menara syahbandar di masa sekarang.
Di kampung Sleko, berdiri reruntuhan yang membentuk seperti menara. Menara ini dahulunya adalah menara pengawas dan kantor Syahbandar yang dibangun tahun 1825. Dahulu, dari puncak menara ini dapat terlihat pemandangan kota lama dan pelabuhan Semarang. Di tempat yang, sama pernah berdiri sebuah benteng milik VOC yang kita kenal sebagi benteng Vijfhoek. Menara syahbandar ini merupakan salah satu bukti kejayaan Semarang sebagai kota maritim kolonial di masa lampau.

Bekas kantor Javaasche Houthandel Maatschappij.


Bekas kantor Lindeteves-Stokvis.
Tidak jauh di sebelah utara kota lama, tepatnya di kampung Bandarhajo, berdiri dua bangunan kolonial yang saling berhadapan dan sama-sama dalam kondisi terlantar. Bangunan pertama adalah bekas kantor firma Lindeteves-Stokvis yang mengimpor berbagai bahan bangunan. Dinding depan gedung ini runtuh belum lama ini. Sementara di seberangnya, terdapat bekas kantor firma Javaasche Houthandel Maatschappij. Firma ini bergerak dalam perdagangan kayu dari hutan-hutan di Jawa.

Stasiun Tawang.
Stasiun Jurnatan. ( sumber : media-kitlv.nl ).
Bekas kantor SJS.
Untuk mendukung transportasi di kota lama, dibangunlah dua stasiun. Stasiun pertama adalah Stasiun Tawang di sebelah utara dan Stasiun Jurnatan di sebelah selatan. Stasiun Tawang dibangun pada tahun 1914 oleh perusahaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschppij ( NIS ) untuk menyambut Pameran Kolonial Internasional dan juga untuk menggantikan stasiun lama di Kemijen yang dianggap sudah tidak representatif. Sementara itu Stasiun Jurnatan  dibangun pada tahun 1882 oleh perusahaan Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij. Apabila Stasiun Tawang melayani rute Semarang-Vorstenlanden, maka Stasiun Jurnatan menghubungkan Semarang dengan kota-kota yang ada di wilayah timur Semarang seperti Demak, Pati, Kudus, Rembang, Blora, dan lain-lain. Stasiun ini juga melayani kereta trem yang dulu pernah malang melintang di sepanjang jalan kota Semarang. Riwayat Stasiun Jurnatan berakhir pada tahun 1974 dan pada tahun 1980an, bangunan Stasiun dibongkar dan menjadi ruko.
Alun-alun Semarang. Di kejauhan tampak masjid kauman dengan atap tumpangnya. Tampak sebuah trem yang melintas di tengah alun-alun Semarang ( sumber : media-kitlv.nl ).
Sebagian lahan alun-alun Semarang yang terlihat paska kebakaran Pasar Johar.
Gedung Kantor Pos Besar Semarang.
Dari kawasan kota tua Eropa, kita bergerak ke sebelah barat kali Semarang yang dahulunya merupakan pusat permukiman orang pribumi. Layaknya kota tradisional Jawa, area ini memiliki alun-alun sebagai jantungnya, kemudian masjid di sebelah barat, dan kediaman penguasa lokal di sebelah selatan. Dari ketiga elemen tadi, hanya masjid saja yang masih tersisa. Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial mendirikan berbagai bangunan yang memakan lahan alun-alun seperti kantor pos, kantor telepon, dan terminal. Pada tahun 1920an, di sebelah timur masjid dibuka Stadtuin. Sejak tahun 1970an, lahan alun-alun mulai berkurang setelah Metro Hotel dan STIE BPD dibangun serta Pasar Yaik diperluas, sehingga Semarang nyaris tidak memiliki alun-alun lama dan akhirnya banyak orang yang mengira jika Lapangan Simpanglima adalah Alun-alun Semarang. Sementara itu di sini juga ada sebuah kampung bernama Kampung Kanjengan. Di lokasi ini dahulu pernah berdiri kediaman bupati Semarang sampai tahun 1960an.
Kampung Melayu pada permulaan abad ke 20 ( sumber : media-kitlv.nl ).
Di sebelah utara pemukiman pribumi, terdapat sebuah perkampungan yang dikenal sebagai Kampung Melayu. Meski tidak setenar kawasan kota Lama Semarang, kawasan ini patut untuk ditelusuri karenaa kawasan ini akan memberikan gambaran kepada kita mengenai multikulutralisme kota Semarang. Diperkirakan kawasan ini sudah ada sejak tahun 1743. Pada masa itu, selain orang Jawa, Tionghoa, dan Eropa, kota Semarang juga dihuni oleh orang Melayu, Banjar dan Arab. Oleh karena itu kadang kita bisa menemukan orang berparas Arab di kawasan ini. Kebanyakan orang Arab yang tinggal di sini berasal dari Hadramaut, Yaman. Mereka di sini kebanyakan berprofesi sebagai pedagang. Semejak kawasan ini terus tergenang banjir rob, banyak orang-orang yang meninggalkan perkampungan ini. Jalan-jalan teru ditinggikan sehingga bangunan semakin tenggelam. 
Masjid Layur.
Menara masjid layur dilihat dari luar. Menara ini dulunya adalah mercusuar.
Salah satu bangunan bersejarah yang tenggelam adalah masjid Layur. Masjid yang aslinya memiliki dua lantai ini sekarang tinggal tersisa satu lantai saja. Masjid ini memiliki sebuah menara yang menjadi ikon dari Kampung Melayu. Menara ini sendiri aslinya bukanlah menara masjid, melainkan mercusuar yang dibangun tahun 1850an. Pada masa itu, pelabuhan lama Semarang masih berada di sepanjang Kali Semarang yang disebut Kleine Boom. Setelah pelabuhan dipindah ke Kali Baru, mercusuar beserta kantor pelabuahn di dekatnya tidak difungsikan. Lalu oleh masyarakat sekitar, pada tahun 1884, mercusuar tadi dipakai sebagai menara masjid dan kantor pelabuah dikonversi menjadi tempat ibadah umat Islam. Sebelum tahun 1970an, di sepanjang jalan Kampung Melayu pernah dilalui oleh arak-arakan Sam Poo Kecil. Meskipun melalui kawasan yang dihuni etnis berbeda, perayaan tadi berlangsung dengan aman tanpa gangguan.

Demikianlah tulisan panjang Jejak Kolonial mengenai Kota Lama Semarang, sebuah gambaran mengenai metropolis kota pelabuhan dari masa kerajaan Demak hingga masa sekarang. Meskipun kegiatan pelestarian kota lama Semarang belum bisa dikatakan berhasil, namun setidaknya pelestarian kota lama patut mendapat apresiasi positif karena pengambil kebijakan dan masyarakat sudah kompak bergerak untuk menyelamatkan berbagai warisan sejarah yang ada. Semoga hal ini dapat menjadi contoh untuk kota-kota lainnya.

Referensi

ir. H. Th. Baldinger " Semarang als industrie-stad " dalam Locale Techniek bulan Maret-April 1938.

Brommer dkk. 1995. Semarang, Beeld van een stad. Purmerend : Asia Maior.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Poerwanto, L.M.F dan Soenarso, R. 2012. Menapak Jejak-Jejak Sejarah Kota Lama Semarang. Bandung; Bina Manggala Widya.

Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

http://yogifajri.blogspot.co.id/search/label/kota%20lama

Selasa, 23 Mei 2017

Selamat Datang di Kerkhof Dezentje

Tulisan Jejak Kolonial kali ini akan mengajak anda untuk mengeksplorasi sebuah kompleks makam Belanda tua atau kerkhof yang ada di wilayah Ampel, Boyolali. Bagaimana kondisi kerkhofnya sekarang dan siapakah kira-kira yang dimakamkan di sini ?

Menjadi “Hutan Belantara”
Welcome to the jungle, beginilah kondisi kerkhof saat ini.
Welcome to the Jungle, we’ve got fun’ n’ games…” bait pertama lagu dari Gun’s n Roses tadi merupakan gambaran paling tepat ketika kami bertiga, saya, Mas Aga dan Mas Benu mendatangi kerkhof Dezentje untuk pertama kalinya. Bagaimana tidak ? kondisi kekrhof ini nyaris seperti hutan belantara. Lebatnya daun-daun pohon menjadikan area kerkhof sedikit gelap. Serangga-serangga kecil seperti nyamuk dan laba-laba dengan setia menemani kami selama eksplorasi. Dengan peralatan yang sangat terbatas, kami membersihkan area kerkhof dari tanaman liar yang tumbuh di sela-sela makam sehingga banyak makam-makam tersebut yang tertutup.
Makam-makam berbentuk pilar.
Salah satu makam berbentuk obelisk.
Sebuah makam berbentuk bong.
Begitu tanaman liar dibersihkan, makam-makam tua yang semula tertutup mulai tersingkap bentuknya. Ya, makam-makam di sini begitu antic sekali. Dengan pilar-pilar bergaya Roman, makam ini lebih menyerupai reruntuhan Forum Romanum di Roma. Selain berbentuk pilar, ada pula makam yang berbentuk seperti monument obelisk bangsa Mesir Kuno. Menariknya lagi, ada sebuah makam yang bentuknya menyerupai bong, makam orang Tionghoa. Bentuk makam tersebut sebelumnya sudah pernah saya temukan di Kerkhof Ngawi. Ya, dapat dibilang tiga peradaban besar bertemu di kompleks kerkhof ini…
Makam lain yang masih tersembunyi.
Tertutup tanaman.
Rusak dan tidak  bisa dikenali.
Makam-makam berukuran kecil. Sepertinya ini adalah makam untuk anak-anak atau balita.
Lebih masuk ke dalam kompleks kerkhof, kami masih menemukan makam-makam lain yang masih tersembunyi oleh tanaman liar dan pohon kopi. Karena faktor usia dan tidak pernah mendapat perawatan, maka banyak makam-makam ini yang sudah rusak. Batu bata makam banyak yang mulai runtuh dan berserakan di atas tanah begitu saja.
Bangunan makam seperti kuil.
Makam-makam di bagian dalam.
Dari semua makam yang ada di kompleks kerkhof ini, ada empat buah makam yang berada dalam satu bangunan. Dari luar, bangunan ini mirip sekali dengan kuill Yunani kuno dengan hiasan seperti pilar, pilaster, dan molding  pada bagian atas makam. Bagian depan makam dilindungi oleh teralis besi  yang dibuat melengkung seperti bentuk hati dan cangkang keong. Dari bekas engsel yang ada, tampaknya makam ini dahulu ada pintunya. Bagian dalam makam ini begitu lembab. Jamur dan lumut hijau terlihat menghiasi dinding tua makam yang tampaknya masih diziarahi orang karena saya menemukan sebuah dupa yang sepertinya baru saja dibakar. Entah siapa dia yang ziarah ke makam ini…
Nisan yang diganti.
Makam yang hanya diberi petunjuk berupa tulisan spidol.
Sayangnya, kondisi makam di sini begitu menyedihkan. Selain kondisinya terlantar, semua batu prasasti yang ada di makam ini semuanya sudah hilang !! Kami nyaris tidak mengetahui siapa saja yang dimakamkan di sini jika saja tidak ada tulisan spidol di atas makam. Selain itu, di sudut kerhof ini, terdapat dua makam yang masih memilki prasasti meskipun itu prasasti baru, tanda bahwa masih ada anak keturunan yang menziarahi makam ini. Menariknya ialah, semua nama yang ada di kerkhof ini memiliki nama belakang Dezentje dan di salah satu makam terdapat tulisan gelar bangsawan Jawa ,“Raden Ayu “. Entah siapa nama lengkapnya karena separo tulisan tidak dapat dibaca, namun ini menjadi penanda bahwa ada orang Jawa yang dimakamkan di tengah-tengah makam Belanda. Siapakah beliau sehingga dapat dimakamkan bersama orang Belanda dan yang paling penting, siapakah Dezentje ??

Siapakah Dezentje ?

Dezentje, nama ini mungkin sudah tenggelam di ingatan kita. Namun bagi sejarawan, nama Dezentje adalah sebuah nama besar dan legendaris. Ya, dalam setiap kajian sejarah agraris dan sosial di wilayah Surakarta, nama Dezentje pasti akan disebut karena Dezentje adalah pionir perkebunan Belanda pertama di wilayah Surakarta. Nama Dezentje mungkin setara dengan nama Kerkhoven di Priangan atau Jacob Nienhuys di Medan.
Johannes-Augustinus Dezetnje ( 1797-1839 ), legenda perkebunan dari Ampel ( sumber : Djocja-Solo, Beeld van de Vorstenlanden ).
Usaha perkebunan keluarga Dezentje di Vorstenlanden ini pertama kali dirintis oleh seorang Belanda-Perancis bernama Johannes Augustinus Dezentje atau sering disebut Tinus ( 1797-1839 ).Tinus merupakan putra dari seorang pengawal Eropa untuk raja Kasunanan Surakarta bernama August Jan Caspar ( 1765-1826 ). Pada 1816, dari gajinya sebagai seorang perwira di masa Inggris, Caspar menyewa tanah apanage , milik Kasunanan yang membentang dari Salatiga, Ampel, hingga Boyolali. Tanah ini selanjutnya diwariskan kepada Tinus ( Bruggen dan Wassing, 1995;23 )..
Rumah keluarga Dezentje di Ampel yang lebih menyerupai ndalem bangsawan Jawa ( sumber : media-kitlv.nl ).
Gapura masuk ke kediaman Dezentje. Seperti yang diceritakan oleh Buddingh, rumah Dezentje dikelilingi oleh tembok dan parit layaknya keraton raja ( sumber : media-kitlv.nl ).
Tinus di usia yang masih 18 tahun menikah dengan Johanna Dorothe Boode dan tiga tahun kemudian menikah dengan saudari raja Surakarta bernama Raden Ayu Tjokrokoesoemo. Pernikahan kedua Tinus diadakan di Keraton Surakarta dalam prosesi yang besar dan mewah. Setelah menikah, Tinus dengan Raden Ayu menetap di Ampel. Anak-anak Tinus dengan Raden Ayu diberi nama dengan awalan huruf ‘A’ seperti Arnold, Alexander, Adrian, Alphonse, Augustinius dan Annipellma. Meskipun seorang Eropa, gaya hidup Tinus bak seorang bangsawan Jawa. Setiap berpergian, Tinus selalu diikuti oleh pembantunya dan rakyat biasa di pinggir jalan berlutut setiap kali Tinus lewat. Kediaman Tinus di Ampel juga menyerupai dalem bangsawan. Menurut pendeta S. Buddingh yang pernah berkunjung ke Ampel, rumah Tinus “dibangun dalam gaya seperti rumah bangsawan Surakarta atau bupati Jawa, dengan kebun binatang dan tembok tebal yang mengelilingi rumah seperti benteng dengan bastion dan gardu pengawas”. Meskipun memiliki gaya hidup yang loyal, namun Tinus masih peduli terhadap kesejahteraan rakyat yang hidup di perkebunannya. Tinus menyediakan kerbau atau bibit tanam kepada setiap petani tanpa syarat.
Kunjungan putra mahkota keraton Surakarta ke rumah keluarga Dezentje. Keluarga Dezentje memiliki pengaruh cukup kuat pada Kasunanan Surakarta berkat hubungan pernikahan J.A. Dezentje dengan saudari raja Surakarta ( sumber : media-kitlv.nl ).
1825 hingga 1830, terjadi Perang Jawa antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda. Perang ini mengancam bisnis perkebunan  Tinus. Demi bisnisnya, Tinus rela mengeluarkan uang banyak untuk menyewa serdadu asing sebanyak 1.500 personel atau dikenal sebagi Detasemen Dezentje. Detasemen ini merupakan pasukan pembantu atau hulptroepen militer Belanda. Dezentje juga mempengaruhi Sir Susuhunan untuk netral dalam Perang Jawa atas permintaan Jenderal De Kock ( Soekiman, 2014;50 ). Atas jasanya, Kerajaan Belanda memberikan penghargaan berupa Orde de Nederlandse Leeuw ( Orde Singa Belanda ) kepada Tinus. Setelah perang, Tinus membuat sebuah proyek ambisius berupa saluran irigasi besar sepanjang 60 kilometer. Untuk mendanai proyek ini, Tinus meminjam uang dari Nederlandsch Handel Maatschappij.
J.A.C. Dezentje, salah satu keturunan J.A. Dezentje. Perhatikan wajahnya yang lebih menyerupai orang Jawa daripada orang Eropa ( sumber : media-kitlv.nl ).
Sayangnya, belum selesai proyek ambisius itu rampung, Tinus mendadak meninggal pada 7 November 1839. Waktu itu, Tinus yang masih berusia 42 tahun sudah memiliki lahan perkebunan seluas 1275 ha. Sepeninggal Tinus, perkebunan mengalami nasib sulit akibat hasil panen yang buruk dan utang menumpuk tinggi untuk membiayai perkebunan yang luas dan gaya hidup Tinus yang loyal. Akhirnya kejayaan perkebunan keluarga Dezentje dapat dipulihkan pada tahun 1849 dan perkebunan itu dibagi-bagi kepada keluarga Dezentje atau dijual kepada orang lain.
Loji Gandrung.
Tahun 1860an, Keluarga Dezentje menjadi raja perkebunan di kaki timur gunung Merbabu-Merapi hingga masa akhir kolonial meskipun para pendatang baru dari Eropa mulai menyaingi usaha perkebunan Dezentje. Sebelum penajahan Jepang, salah satu keturunan Dezentje, Ny. Ch. E. Dezentje membangun sebuah rumah mewah di Jalan Slamet Riyadi. Rumah itu kini dikenal sebagai Loji Gandrung…

Dalam buku “Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden”, keluarga Dezentje memiliki sebuah kompleks makam  keluarga di Ampel. Untuk ukuran keluarga Dezentje, makam-makam ini terhitung sederhana. Melihat kemegahan sisa-sisa makam-makam yang masih tersisa, tampaknya ukuran sederhana keluarga Dezentje lebih tinggi daripada ukuran sederhana orang kebanyakan. Jadi bisa kita bayangkan betapa beradanya keluarga Dezentje.

Terjawab sudah pertanyaan siapakah sosok yang dimakamkan di kompleks kerkhof yang kami telusuri. Sosok yang dimakamkan di kerkhof ini rupanya bukan sembarang orang. Dia adalah pionir perkebunan di wilayah Vorstenlanden dengan gaya hidupnya yang mewah dan unik. Sosok perempuan Jawa yang dimakamkan di kerkhof ini juga bukan sembarang orang karena ternyata masih merupakan keluarga dari raja Surakarta yang menikah dengan pionir perkebunan tadi. Sayangnya, nama Dezentje sekarang seolah terlupakan seperti halnya nasib kerkhof ini. Yah, satu lagi peninggalan sejarah penting yang diabaikan oleh generasi sekarang..

Referensi
Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis. Depok : Penerbit Bambu.


Van Bruggen, M.P. dan Wassing, R.S. 1995. Djocja Solo, Beeld van de Vorstenlanden. Pumerend : Asia Maior.