Kamis, 05 Januari 2017

Benteng Willem II Ungaran, Saksi Bisu Jatuhnya Jawa ke Tangan Inggris


Peninggalan masa kolonial yang akan diangkat pada tulisan saya di Jejak Kolonial kali ini adalah sebuah benteng yang berada di Ungaran, Semarang, yakni Benteng Willem II. Bagi orang Ungaran tentu sudah cukup banyak yang sudah tahu tentang keberadaan benteng ini, namun dalam khazanah perbentengan di Indonesia, keberadaan benteng ini masih sedikit orang yang mengetahuinya. Barangkali karena ukurannya yang tidak begitu besar dan kurangnya promosi menjadikannya benteng ini tidak seterkenal benteng-benteng lain seperti benteng Vredeburg dan benteng Van der Wijk. Padahal benteng ini menyimpan cerita sejarah yang cukup menarik untuk diikuti. Seperti apa wujud benteng ini sekarang dan seperti apa kisahnya ? Mari kita telusuri

Menggali Sejarah Benteng Willem II


Pembangunan benteng Willem II ini masih ada hubungannya dengan perisitiwa berdarah Geger Pecinan yang terjadi dari tahun 1741-1743. Peristiwa ini bermula ketika semakin banyak gelombang orang Tionghoa yang datang ke Batavia. Pada waktu, kota Batavia berada di bawah kekuasaan kompeni dagang VOC. Karena jumlahnya semakin banyak, Gubernur Jenderal VOC, Adrian Valckenier melakukan pembatasan terhadap keberadaan komunitas Tionghoa ini. Pembatasan ini mengakibatkan munculnya pemberontakan dari orang-orang Tionghoa. Pemberontakan ini lalu ditumpas oleh Valckenier secara brutal. Pria, wanita, hingga anak-anak dibunuh tanpa belas kasih di sepanjang jalanan Batavia bahkan konon sungai Ciliwung sampai berubah menjadi merah akibat banyaknya mayat yang dibuang. Setelah terjadi pembunuhan massal di Batavia, orang-orang Tionghoa yang masih selamat mengunsi ke wilayah Semarang dan sekitarnya. Dari sini, mereka akan melakukan serangan balik terhadap kompeni VOC dimanapun mereka berada. Akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan setelah VOC berkoalisi dengan Mataram dibawah Susuhunan Pakubuwana II ( Heuken. Adolf, 1997; 83-89).
Gubernur Jenderal Willem Baron von Imhoff (sumber : common.wikimedia.com).
Belajar dari persitiwa Geger Pecinan tadi, Gubernur Jenderal VOC pengganti Valckenier, Gustaff Willem Baron von Imhoff, memerintahkan pembangunan benteng kecil ini untuk mengawasi jalur lalu lintas darat dari Semarang ke wilayah-wilayah pedalaman (Novida Abbas, 1996;50). Karena fungsinya sebagai benteng pengawas, maka di dalam benteng tidak terdapat gudang untuk menyimpan komoditi dagang seperti halnya benteng-benteng kompeni di wilayah pesisir. Pada awalnya, benteng ini diberi nama ‘Fort de Ontmoeting’ untuk memperingati pertemuan von Imhoff dengan Susuhunan Pakubuwono II (Kemendikbud. 2012; 117).
Gubenur Jenderal Janssens. Di masa pemerintahannya, Hindia-Belanda akhirnya jatuh ke tangan Inggris (sumber : common.wikimedia.com).
Setelah VOC bubar pada tahun 1799, sebagai dampak dari percaturan politik di Eropa dimana Belanda dikuasai oleh Perancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte, maka otomatis wilayah Pulau Jawa berada di bawah kekuasaan koalisi Perancis-Belanda. Gubernur Jenderal H.W. Daendels mendapat mandat dari Napoleon untuk mempertahankan Jawa dari invasi Inggris yang menjadi musuh bebuyutan Napoleon pada waktu itu. Setelah Daendes, Napoleon menujuk Janssens sebagai Gubernur Jenderal yang baru. Sayangnya akibat ketidakcakapan Janssens dalam mengatur strategi dan memimpin pasukan, tentara Inggris dibawah Jenderal Auchmuty dengan mudahnya merebut di Batavia. Dari Batavia, Janssens mundur ke Ungaran Semarang. Namun di Semarang, mereka masih dikejar oleh Inggris sehingga Janssens bersama pasukan yang kocar-kacir mundur ke Benteng Willem II Ungaran. Jumlah pasukan yang ikut dengannya semakin menipis akibat desersi, sehingga Janssens menjadi sangat kecewa. Oleh karena itulah dia memerintahkan pasukannya untuk mundur ke seberang Sungai Tuntang.

Denah benteng Willem pada tahun 1825 (sumber : media-kitlv.nl).
Ketika perintah Janssens ini hendak dijalankan, di dekat Ungaran, pasukan Inggris mulai terlihat. Artileri dari pihak Inggris mulai dilepaskan dan membuat moral pihak bertahan runtuh, sehingga banyak pasukan yang melarikan diri setelah membunuh perwira yang mencegah mereka desersi. Lokasi di sekitar benteng dibakar. Benteng yang hanya diperkuat oleh tembok batu yang tidak terlalu tebal dan delapan pucuk meriam empat pound mulai dikelilingi api sehingga pihak bertahan khawatir jika persedian mesiu di dalam benteng terbakar dan meledakan benteng tersebut. Setelah persenjataan di dalam benteng dibongkar dan Inggris berhenti mengejar, Janssens meninggalkan benteng ini. Sampai di Tuntang, Janssens menjumpai jumlah pasukan yang tersisa sangat sedikit. Akan menjadi hal yang nekad jika dengan pasukan sekecil ini masih melawan Inggris. Satu-satunya jalan yang tersedia untuk Janssens hanyalah menyerah. Demikianlah, secara terpaksa Janssens menerima kapitulasi yang diajukan oleh Auchmuty. Lewat kapituliasi yang dilakukan pada tanggal 18 September 1811 ini, Pulau Jawa diserahkan kepada Inggris untuk sementara waktu (Iwan Santosa,2011; 127-129).
Peta Ungaran pada tahun 1924. Tampak letak benteng Willem II yang berada di sebelah timur jalan raya yang menghubungkan Semarang dengan wilayah pedalaman (sumber : maps.library.leiden.edu).
Setelah Pulau Jawa diserahkan kembali kepada Belanda dari Inggris pada tahun 1817, benteng yang semula dikuasai oleh Inggris ini diserahkan kembali kepada Belanda. Namun semenjak militer Belanda membangun Fort Willem I di Ambarawa, peranan Benteng Willem II menjadi bekurang dan selanjutnya dialihfungsikan sebagai benteng peristirahatan. Mengapa benteng ini dijadikan benteng persistirahatan ? Jadi begini, wilayah pesisir utara Jawa memiliki kondisi iklim yang kurang sehat sehingga banyak prajurit di garnisun Semarang yang menderita penyakit-penyakit tropis. Pada waktu itu, layanan kesehatan masih terbatas dan salah satu cara yang dikenal luas dapat menyembuhkan penyakit yakni dengan tinggal di wilayah yang beriklim lebih sejuk. Ungaran yang berada di dataran tinggi memiliki iklim yang lebih sejuk dan sehat dibandingkan wilayah pesisir.  Sejak tahun 1840, banyak pasien-pasien dari Semarang yang dikirim ke benteng ini untuk beristirahat. Jumlah tentara yang bertugas di sini juga semakin sedikit. Kemudian pada tahun 1865, benteng Willem II dicoret oleh militer Belanda dari sistem pertahanan utama Belanda di Jawa dan difungsikan sepenuhnya untuk resor peristirahatan bagi tentara yang sakit dari Semarang, Salatiga, dan Ambarawa hingga tahun 1908 (Kemendkibud,2012; 120-123).

Kondisi benteng Willem II pada tahun 1930an. Pada waktu foto ini dibuat, benteng ini sudah berusia cukup tua sehingga sebagian bangunan benteng mulai rusak.
Kemudian, benteng ini diubah menjadi sebuah hotel prodeo alias penjara. Pada periode paska-kemerdekaan, benteng ini menampung 105 tawanan warga Indo-Eropa sebelum mereka dipindah ke Benteng Willem I Ambarawa pada tanggal 23 November 1945. Setelah itu, bangunan benteng dimanfaatkan sebagai kantor polisi hingga tahun 2007, ketika sebuah kantor polisi yang baru dibangun di seberang benteng. Sebagian keluarga polisi masih tinggal di dalam benteng. Namun pada tahun 2008, benteng sepenuhnya dalam kondisi kosong dan sebagian bangunan benteng mulai rusak. Beruntung, tidak lama kemudian, bangunan benteng dipugar sehingga benteng bernilai sejarah ini dapat diselamatkan….

Jelajah

Benteng Willem II, dilihat dari atas. Tampak bentuk benteng yang mirip dengan kincir angin.
Kunjungan saya pertama kali ke benteng ini sebenarnya terjadi tidak secara sengaja. Waktu itu, sepulang dari Semarang, saya memutuskan lewat Ungaran untuk sekalian hunting bangunan-bangunan kuno yang ada di Ungaran seperti Gedong Kuning Ungaran dan benteng ini. Saya pun sebenarnya hanya berniat mengambil gambar bagian depan benteng saja karena saya pikir benteng ini masih belum terbuka untuk umum. Begitu saya lewat bagian depan benteng, saya melihat banyak sekali kendaraan yang parkir di halaman depan benteng. Selidik punya selidik, ternyata sedang ada acara di dalam sehingga benteng menjadi terbuka untuk umum. Mumpung terbuka, saya pun mencoba untuk mengintip dan sekaligus menjelajahi bagian dalam benteng.

Salah satu bagian bastion benteng Willem II.
Sebelum masuk ke bagian dalam benteng, kita bakal disambut dengan pintu gerbang yang cukup besar meski tidak sebesar pintu gerbang pada benteng-benteng yang sudah pernah saya datangi seperti benteng Vredeburg atau benteng Van der Wijk Gombong. Di atas pintu masuk benteng yang berbentuk melengkung ini, kita bisa membaca inskrispsi “MDCCLXXXVI”. Inskripsi ini merupakan angka Romawi dari angka 1786 yang merujuk pada angka tahun selesainya pembangunan benteng ini. Di atasnya lagi, terdapat semacam kuncungan. Pintu gerbang benteng diapit dengan dua pilaster yang menambah kesan klasik pada benteng ini. Tepat di samping pintu masuk benteng, terdapat portrait Gubernur Jenderal VOC, Wilhelm Baron Van Imhoff. Dialah yang memerintahkan untuk membangun benteng ini. Pintu masuk benteng ini juga terdapat di sebelah timur benteng.
Pintu gerbang sebelah timur yang terbuat dari kayu.
Tangga naik menuju bagian ravelin.
Benteng Willem Ungaran dilindungi dengan sebuah tembok setinggi kira-kira 4-5 meter dengan ketebalan kira-kira 80 cm. Tembok benteng dibuat dari batu-bata yang dilapisi dengan lapisan mortar. Di samping kanan dan kiri pintu masuk, terdapat tangga naik menuju bagian rampart, yakni bagian atas dinding benteng tempat para serdadu berpatroli mengawasi keadaan sekitar benteng. Bagian rampart benteng ini juga terhubung dengan lantai dua bangunan yang ada di dalam benteng yang bisa kita masuki lewat undakan kayu.
Bagian bastion timur laut.
Di atas dinding benteng, kita bisa melihat hiasan meriam tiruan yang moncongnya mengarah keluar benteng. Dari bagian ini, kita bisa memandang Gunung Ungaran dengan cukup jelas. Tiba-tiba, benak saya kembali ke ratusan tahun silam, ketika Janssens mengungsi ke benteng ini untuk menghindari kejaran tentara Inggris. Saya membayangkan di kejauhan, tampak bendera Union Jack, bendera kebanggan Inggris yang berkibar membelah langit Ungaran. Sementara itu di bawah bendera tadi, terlihat barisan prajurit Inggris dengan seragam merah yang menjadi ciri khas prajurit Inggris. Barisan tentara yang sebagian besar didominasi prajurit Sepoy ini terlihat sudah bersiap untuk menggempur benteng ini. Sebagai pembuka, pasukan Inggris melepaskan tembakan artileri yang sengit. Tembakan artileri ini ternyata sudah cukup untuk meruntuhkan moral pihak bertahan sehingga benteng ini ditinggalkan begitu saja oleh pihak bertahan dan benteng ini jatuh ke tangan Inggris tanpa pertempuran sengit.
Denah benteng Willem berdasarkan denah tahun 1825. Keterangan :
A. Tempat tinggal komandan benteng.
B. Barak.
C. Ruang penjaga.
D. Ruang tinggal polisi militer.
FG : Ruang penjara.
H. Bangunan tambahan.
Setelah puas mengelilingi dinding benteng, kita akan melanjutkan penjelajahan ke bagian dalam benteng. Karena ukurannya yang tidak terlalu luas, maka tidak begitu banyak bangunan yang berdiri di dalam tembok benteng seperti Benteng Vredeburg. Di bagian barat benteng, terdapat bangunan bertingkat dua yang dahulu digunakan sebagai barak dan ruang penjaga. Lalu di tengah-tengah benteng terdapat lapangan kecil, tempat diadakannya apel prajurit.
Bangunan untuk tempat tinggal komandan benteng.
Banguan sebelum direnovasi (sumber : Forts in Indonesia halaman 119).
Kemudian di bagian timur, kita bisa menjumpai sebuah bangunan berlantai dua yang dahulu menjadi tempat tinggal komandan benteng. Di lantai dua bangunan ini, terdapat serambi yang cukup luas. Dahulu, sebelum ada bangunan baru yang berdiri di sebelah timur benteng, pemandangan lembah Ungaran dapat dilihat secara jelas dari sini. Bagian lantai pertama dari bangunan ini sekarang digunakan sebagai klinik milik kepolisian.
Bekas bangunan barak tentara.

Di bagian utara dan selatan, terdapat bangunan kecil untuk fasilitas pendukung benteng seperti gudang amunisi, latrine atau toilet untuk tentara dan komandan, dan penjara. Dibandingkan dengan bagian benteng yang lain, bagian ini sudah banyak mengalami perombakan.
Kondisi kolom-kolom Yunani yang terdapat pada benteng Willem II sebelum direnovasi (sumber ; Forts in Indonesia halaman 122).
Jendela kayu.
Ya, demikianlah hasil penjelajahan saya di Benteng Willem II Ungaran. Meski tidak begitu banyak yang bisa saya ceritakan mengenai benteng ini, tapi lewat tulisan saya ini setidaknya bisa memberi gambaran sejarah dan arkeologis benteng Willem II Ungaran ini. Semoga keberadaan benteng ini bisa dilestarikan dan dapat memberi manfaat untuk masyarakat.

Referensi

Heuken. A. SJ. 1997. Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta. Yayasan Loka Cipta Caraka. Jakarta.

Iwan Santosa, 2011, Legiun Mangkunegaran (1908-1942), Tentara Jawa-Perancis Warisan Napoleon Bonaparte. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012. Forts in Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Novida Abbas, 1996, Penempatan Benteng Kolonial di Kota-Kota Abad XVII-XIX M di Jawa Tengah dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04 TH. II/1996.