Sabtu, 25 Februari 2017

Kedungjati dan Kaliceret, Tapak Kolonial di Tengah Hutan Jati

Kedungjati dan Kaliceret adalah dua buah wilayah yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dua buah wilayah ini masih berdekatan dan memiliki lanskap yang sama, yakni dikelilingi oleh perbukitan dan hutan jati yang lebat. Mungkin kita tidak bisa membayangkan, di tengah hutan jati yang lebat ini ternyata terdapat peninggalan dari masa kolonial menarik untuk ditelusuri. Nah, melalui tulisan ini saya akan mengajak anda untuk melihat tapak-tapak kolonial yang terdapat di kedua wilayah ini. Tapak kolonialapa saja yang dapat kita temukan di sini dan mengapa ada bangunan kolonial di tengah hutan jati ini ?
Lokasi Kedungjati yang terletak di Kecamatan Kedungjati dan Kaliceret yang terletak di Kecamatan Tanggungharjo. Kedua wilayah ini terletak di sebelah barat Kabupaten Grobogan.
Kedungjati
Wilayah pertama yang akan kita telusuri adalah Kedungjati. Lokasi Kedungjati kira-kira terletak 47 kilometer ke selatan dari Kota Purwodadi. Meski cukup jauh dan terpencil, namun untuk menuju ke sini sekarang jauh lebih mudah karena akses jalan sudah diperbaiki. Hal ini berbeda pada beberapa tahun lalu ketika kondisi jalan masih sangat buruk. Hijaunya pemandangan hutan jati cukup mendominasi sepanjang perjalanan ke Kedungjati.

Peta Kedungjati pada tahun 1905. Perhatikan terdapat 2 jalur kereta yang terlihat pada peta ini. Jalur di sebelah utara merupakan jalur Semarang - Surakarta. Sementara jalur yang mengarah ke selatan merupakan jalur Kedungjati-Ambarawa (sumber : maps.library.leiden.edu).
Nah, untuk mengetahui sejarah dari berbagai bangunan kolonial yang ada di Kedungjati, ada baiknya kita mengetahui sekilas sejarah tentang eksploitasi hutan jati di Jawa pada masa kolonial karena keberadaan bangunan kolonial di Kedungjati ini berkaitan dengan kegiatan eksploitasi kayu jati, sumberdaya alam yang tumbuh subur di wilayah Kedungjati.

Ketika VOC datang pertama kali ke pulau Jawa, sumber daya alam yang pertama kali mereka lirik adalah kayu jati. Bagi VOC, kayu jati merupakan sumber daya yang penting karena kayu jati merupakan bahan baku pembuatan kapal. Tidak ada kayu, maka tidak ada kapal. Tiada kapal, maka VOC tidak bisa memperluas ekspansi mereka di kepulauan Nusantara. Untuk memperoleh kayu jati ini, VOC bernegosiasi dengan raja-raja pribumi dengan tujuan agar VOC mendapat izin menebang pohon jati dan mendapatkan para pekerja. Pohon jati pada waktu itu tumbuh subur di wilayah Jepara dan Rembang. Maraknya penebangan pohon jati membuat lingkungan hutan jati di dua wilayah tadi rusak ( Peluso, 1991; 66-67 ).

Setelah VOC bubar pada tahun 1799 gara-gara korupsi pegawainya, eksploitasi kayu jati di Pulau Jawa diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda. Eksploitasi kayu jati semakin meningkat ketika pemerintah Belanda membutuhkan banyak kayu untuk mendirikan benteng dan jembatan guna menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro. Selanjutnya munculah “Tanam Paksa” yang diterapkan di Hindia-Belanda dari tahun 1830 hinga tahun 1870. Penerapan sistem ini ternyata juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan kayu jati karena kayu jati menjadi bahan baku utama untuk konstruksi pabrik gula, gudang kopi, tempat pengeringan tembakau dan rumah-rumah pegawai kolonial. Kayu jati juga diperlukan untuk bahan bakar mesin-mesin uap yang mulai diperkenalkan oleh Belanda. Seiring dengan meningkatnya permintaan kayu jati, maka dibangunlah jaringan jalan untuk memperlancar pemindahan gelondongan kayu jati dari tempat dia ditebang ke tempat penggegrajian kayu. Berbagai rumah megah yang terbuat dari kayu juga dibangun untuk tempat tinggal kepala pengelola hutan jati dan pejabat lainnya. Pada waktu itu, lebih dari 6000 pohon jati yang ditebang di Semarang. (Peluso, 1991; 69-71).

Untuk mengontrol aktivitas penebangan hutan jati, maka pemerintah kolonial membuat undang-undang kehutanan pada tahun 1865. Agar pengelolaan hutan jati lebih maksimal, maka pemerintah kolonial mendatangkan dua ahli hutan dari Jerman pada tahun 1849. Pada tahun 1873, W.Buurman memperkenalkan sistem taungnya, dimana penduduk yang tinggal di tengah hutan jati boleh menanam tanaman lain seperti padi, jagung atau tembakau dan hasil panen menjadi hak milik mereka. Sistem ini rupanya memiliki persamaan dengan sistem yang diterapkan oleh Inggris di Burma dan India. Sejak tahun 1897, seluruh industri kayu jati di Pulau Jawa berada di bawah pengelolaan Dienst van het Boswezen atau Dinas Kehutanan. Begitulah kira-kira gambaran singkat mengenai sejarah industri kayu jati di Pulau Jawa. (Peluso, 1991; 72).
Stasiun Kedungjati pada tahun 1930an. Tampak sebuah kereta yang siap berangkat ke Ambarawa dengan membawa muatan gelondongan kayu jati (sumber : colonialarchitecture.eu).
Salah satu wilayah di Pulau Jawa yang industri kayu jatinya cukup berkembang adalah Kedungjati di Grobogan. Dari nama wilayahnya saja, kita tahu bahwa wilayah Kedungjati dikelilingi oleh hutan jati yang menjadi tumpuan industri kayu jati. Industri kayu jati di Kedungjati ini rupanya menarik perhatian perusahaan transportasi kereta api swasta pada waktu itu, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappiji. Industri kayu jati dibutuhkan oleh N.I.S.M untuk menyuplai kebutuhan bahan pembuatan bantalan rel kereta api dan bahan bakar mesin kereta. Setelah membangun jalur kereta api yang pertama dari Semarang ke Tanggung pada tahun 1867, N.I.S.M meneruskan pembangunan jalur kereta ke Kedungjati pada tahun 1870. Setelah N.I.S.M membuka Stasiun Kedungjati pada tahun 1873, Kedungjati yang semula merupakan wilayah yang terpencil dan malah dapat dibilang sebagai wilayah yang antah berantah, kini menjadi titik keramaian yang dikenal oleh masyarakat karena Stasiun Kedungjati menjadi persimpangan untuk jalur menuju Surabaya, Ambarawa, dan Vorstenlanden ( Tim Penyusun, 2015;8 ).

Tapak kolonial di Kedungjati

Persebaran bangunan kolonial di Kedungjati.
Nah, tapak kolonial di Kedungjati yang tampaknya sudah cukup mahsyur adalah Stasiun Kedungjati yang didirikan oleh N.I.S.M pada tahun 1873. Mungkin kita akan terpelongo, di tengah hutan jati yang antah berantah seperti Kedungjati ini, terdapat sebuah bangunan stasiun yang berdiri dengan megahnya dan masih terawat dengan cukup baik. Letak stasiun ini berada di meander sungai Tuntang.
Stasiun Kedungjati. Jika diamati mirip dengan Stasiun Ambarawa.
Bangunan stasiun yang kita lihat saat ini merupakan bangunan stasiun yang dirombak oleh N.I.S.M pada tahun 1907. Bangunan stasiun yang lama, dirombak dengan bangunan stasiun baru yang lebih besar, representatif, arsitektur lebih menarik, dan fasilitas yang lebih lengkap. Konsturksi stasiun yang semula terbuat dari kayu, diganti dengan batu-bata dan bagian peron dibenahi dengan ditambah konstruksi kanopi dari baja.
Stasiun Kedungjati sebelum dirombak. Bangunan masih terlihat sederhana (sumber : troppenmuseum.nl).
Bangunan Stasiun Kedungjati setelah dirombak. Foto ini tampaknya diambil sebelum tahun 1925 karena pada foto ini, peron selatan terihat belum ada (sumber : media-kitlv.nl).
Jika diamati, arsitektur bangunan Stasiun Kedungjati, persis sekali dengan Stasiun Ambarawa. Hanya saja ukuran kanopinya lebih kecil dan detail hiasan bangunan juga tampak berbeda. Selain itu, letak ruang tunggu kelas tiga Stasiun Kedungjati berada di depan pintu masuk. Berbeda dengan stasiun Ambarawa yang letak ruang tunggu kelas tiga terletak di belakang.

Bagian dalam Stasiun Kedungjati dulu dan sekarang. Pada foto yang lama, terlihat poster-poster iklan yang menempel di dinding dan lampu-lampu kuno yang menggantung di atap peron.
Stasiun Kedungjati, seperti halnya Stasiun Ambarawa, termasuk stasiun pulau, yakni stasiun yang kedua sisinya diapit oleh jalur kereta. Ruang kerja dan penumpang, termasuk peron, terletak di tengah dan berada di bawah atap kanopi baja selebar 14,65 meter. Sisi utara Stasiun Kedungjati merupakan jalur kereta Semarang-Surakarta yang masih aktif sampai saat ini. Sementara itu, sisi selatan Stasiun Kedungjati merupakan jalur cabang menuju Ambarawa yang sudah dimatikan sejak tahun 1970an. Di sisi selatan ini, kita dapat melihat kanopi tambahan yang ditambahkan pada tahun 1915.
Ruang tunggu kelas tiga.
Ruang kantor Stasiun Kedungjati. Terlihat sebuah jam kuno yang masih ada di tempatnya
Memasuki stasiun, nuansa tempo dulu dari stasiun masih terasa kuat. Lantai tegel kotak-kotak khas stasiun masih dipertahankan. Bentuk bangunan Stasiun Kedungjati akan mengingatkan kita pada Stasiun Ambarawa. Hanya saja, hiasan ekspose bata merah terlihat menonjol pada stasiun ini. Karena keantikannya itu, maka stasiun ini kerap dipakai oleh anak-anak muda untuk foto-foto. Sayangya, kadang mereka datang ke sini hanya untuk berfoto-foto saja tanpa ada niat lebih jauh untuk menelusuri sejarah dari stasiun ini. Nah, di stasiun ini, kita dapat menjumpai empat buah jam kuno yang uniknya, keempat jam ini digerakan secara bersamaan lewat suatu mekanisme yang terletak di dalam ruang kepala stasiun.
Bagian peron selatan yang atap kanopinya baru dibangun pada tahun 1925. Di sinilah penumpang yang hendak ke Ambarawa menunggu kereta. 
Meski stasiun Kedungjati ukurannya cukup besar, kita tidak akan merasakan keriuhan penumpang kereta sebagaimana stasiun pada umumnya. Dalam sehari hanya ada dua kereta yang singgah di stasiun ini, yakni kereta Kalijaga dan Majapahit. Suasana stasiun tentu menjadi lengang sekali. Hal ini tentu saja kontras sekali dengan suasana stasiun Kedungjati pada zaman dahulu, ketika stasiun ini merupakan stasiun cabang yang cukup penting sehingga wajar jika banyak kereta yang dahulu singgah di sini. Saya tidak bisa membayangkan jika Stasiun Kedungjati tidak pernah dibangun, mungkin Kedungjati selamanya akan menjadi wilayah yang terisolir.
Gudang stasiun.
Di sekitar Stasiun Kedungjati, terdapat beberapa bangunan penunjang seperti gudang dan rumah dinas. Dahulu Stasiun Kedungjati juga dilengkapi dengan bangunan depo lokomotif. Namun depo ini hancur dijarah warga sekitar pada tahun 1997. Lokasi bekas depo ini terletak di sebelah timur stasiun.
Rumah dinas stasiun Kedungjati bertipe kopel dengan gable bergerigi yang menjadi ciri khas arsitektur chalet.
Bangunan rumah dinas stasiun Kedungjati yang tampaknya sudah tidak ditempati lagi.
Rumah dinas stasiun Kedungjati dengan atap tipe jerkinhead roof. Seperti halnya stasiun Kedungjati, dekorasi ekspose bata terlihat menonjol.
Seperti lazimnnya bangunan stasiun pada masa kolonial, Stasiun Kedungjati dilengkapi dengan fasilitas rumah dinas pegawai yang letaknya berada di dekat stasiun untuk memudahkan mobilitas pegawai. Bangunan rumah dinas pegawai Stasiun Kedungjati juga tidak kalah cantiknya dengan Stasiun Kedungjati. Menariknya, bangunan rumah bergaya N.I.S-Chalet ini terbuat dari batu-bata. Padahal wilayah Kedungjati dan sekitarnya tidak terdapat industri bata yang besar. Hal ini menunjukan bahwa seluruh material pembangunan rumah dinas ( termasuk stasiun ) didatangkan dari wilayah luar Kedungjati. Sampai saat ini, rumah-rumah ini masih dihuni oleh pemiliknya.
Rumah kayu yang cukup besar yang kini menjadi kantor polisi hutan BKPH Padas.
Rumah kayu yang sekarang menjadi kantor Komando Pengendalian Kebakaran Hutan BKPH Padas.
Rumah kayu lainnya.
Dari stasiun, kita beranjak ke rumah-rumah lama yang dahulu menjadi rumah tinggal para pejabat kehutanan yang mengelola hutan jati di Kedungjati. Lokasi rumah tinggal ini tidak terlalu jauh dari Stasiun Kedungjati. Para pejabat kehutanan Belanda pada zaman dahulu memiliki banyak sekali tugas yang berkaitan dengan kehutanan, misalnya menentukan pohon mana yang pantas ditebang, menanam kembali dan merawat pohon yang sudah ditebang, mengontrol para blandhong (tukang penebang pohon) dan juga memerangi praktik pencurian kayu. Hal yang menarik adalah dinding rumah-rumah ini tidak seperti rumah Belanda pada umumnya yang terbuat dari batu-bata, melainkan terbuat dari kayu jati dan berbentuk seperti rumah panggung. Barangkali karena material yang lebih mudah ditemukan adalah kayu, maka mereka mendirikan rumah dari kayu.
Kantor Polsek Kedungjati, tapak kolonial lain di Kedungjati ( sumber foto : polresgrobogan.com).
Kaliceret
Dari Kedungjati, kita akan beranjak ke Kaliceret yang terletak 4,5 kilometer ke utara dari Kedungjati. Secara administratif, Kaliceret berada di Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan. Kondisi alam Kaliceret masih sama dengan Kedungjati, yakni dikelilingi oleh hutan jati dan ditambah dengan sawah tegalan.
Pendeta Bansemer ( baju hitam ) dan Heintze ( baju putih ) bersama anak-anak sekolah Kaliceret.

Meski sama-sama terletak di tengah hutan jati, sejarah industri kayu jati di Kaliceret tidak terlalu menonjol. Sejarah yang menonjol di sini justru sejarah penyebaran agama Kristen. Seperti apa ceritanya ? Jadi begini, Pada tahun 1885, lembaga Salatiga Zending mengutus seorang penginjil dari kota Neukirchen, Jerman bernama Horstman ke Kaliceret untuk membuka sebuah pos zending di sini. Sebelum tiba di Kaliceret, Horstman sudah membuka pos zending di Wonorejo. Selama sepuluh tahun, Kaliceret kedatangan beberapa penginjil lain antara lain Zimmerbeutel, Camp dan Kuhnen. Pos zending Kaliceret ini terdiri dari sekolah untuk anak-anak perempuan dan sebuah balai pengobatan yang tempantnya menumpang pada rumah sederhana milik penginjil tadi.
Murid-murid dna guru sekolah Kaliceret. Di belakang tampak beranda depan rumah pendeta yang kini menjadi SD Kristen Kaliceret.
Waktu terus berjalan. Pos zending tadi terus berkembang. Rumah sederhana yang dahulu hanya difungsikan sebagai balai pengobatan bisa berkembang menjadi rumah sakit yang dahulu menjadi satu-satunya rumah sakit di Grobogan. Banyak orang luar yang semula datang ke sini untuk berobat dan menjadi penganut agama Kristen, memutuskan untuk tinggal di sini. Mereka mulai melaksanakan pertemuan setiap hari minggu pagi. Dengan jumlah umat yang semakin banyak, maka pada tahun 1892, Pdt. C.R. Kuhnen dari Jerman diangkat menjadi pendeta di Kaliceret hingga tahun 1927. Pendeta pengganti C.R. Kuhnen adalah Pdt. Kabelitz. ( Balai Pelestarian Cagar Budaya, 2013; 155 ). Pada tahun 1935, lembaga zending Kaliceret secara resmi independen dari Salatiga zending. Peresmian ini ditandai dengan misa yang dipimpin secara langsung oleh direktur zending ( Bredasche Courant, 11 Desember 1935). Dari sini, dapat dilihat betapa penting Kaliceret sebagai pos zending  di wilayah Grobogan dan sekitarnya. Perkembangan pos zending Kaliceret akhirnya berhenti di masa penjajahan Jepang ketika seluruh fasilitas milik zending diambil alih oleh Jepang.

Antara 14 Juni 1945 hingga 23 Agustus 1945, 250 pemuda dari kamp internir Bangkong, dekat Ambarawa dipindah ke Kaliceret. Mereka tinggal di dalam bangunan gereja yang sudah dikosongkan sementara para penjaga Jepang tinggal di bekas rumah pendeta. Di sini mereka dipekerjakan sebagai penebang kayu jati. Para pemuda yang ditawan di Kaliceret hidup di bawah keadaan yang menyiksa. Selain harus bekerja berat menebang pohon, mereka juga mengalami kekurangan gizi dan air bersih untuk minum dan mencuci sangat sedikit. Setelah Jepang menyerah, para pemuda tadi dipindah kembali ke kamp internir Bangkong ( indischekamparchieven.nl ).
Peta Kaliceret pada tahun 1905. Lokasi pos zending dtandai dengan keterangan zendingstation pada peta ini.
Tapak Kolonial di Kaliceret
Bangunan GKJTU Kaliceret yang terletak di Jalan Salatiga-Gubug.
GKJTU Kaliceret dilihat lebih dekat. Hampir semua konstruksi bangunan ini terbuat dari kayu.
Tapak kolonial pertama yang dapat kita temukan di Kaliceret adalah bangunan Gereja GKJTU (Gereja Kristen Jawa Tengah Utara) Kaliceret yang terletak di pinggir Jalan Salatiga-Gubung. Arsitektur gereja yang diperkirakan dibangun antara tahun 1904-1927 ini terlihat sangat bersahaja jika dibandingkan dengan gereja-gereja di kota besar. Seluruh bangunan gereja hampir terbuat dari kayu, sehingga bangunan ini tampak menyatu dengan alam sekitar. Material kayu sengaja dipilih karena material ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar, jadi nampaknya paham determinisme lingkungan dimana lingkungan fisik mempengaruhi kebudayan manusia cukup berpengaruh di sini.
Bekas rumah pendeta yang saat ini menjadi SD Kristen Kaliceret.
Di Kaliceret juga masih ada tapak kolonial lain berupa sebuah bangunan tua yang letaknya berada di sebelah utara gereja. Rumah ini, seperti halnya gereja, dibuat dari kayu jati. Rumah yang berbentuk seperti rumah panggung ini untuk ukuran sebuah rumah kolonial termasuk yang paling sederhana. Namun untuk ukuran wilayah Kaliceret tempo dulu, rumah ini sudah menjadi rumah yang mewah.
Bagian beranda samping.
Ruang bagian dalam yang saat ini dimanfaatkans sebagai ruang kelas.
Ketika saya mau melihat-lihat bangunan rumah yang saat ini menjadi SD Kristen Kaliceret, saya disambut oleh seorang bapak-bapak yang awalnya saya kira sebagai kepala sekolah dan setelah saya mengobrol, ternyata bapak tadi hanyalah seorang penjaga sekolah. “Rumah ini dahulu ditempati oleh pendeta dari Jerman” jawab bapak tadi ketika saya bertanya soal sejarah rumah ini. Pendeta dari Jerman yang dimaksud bapak tadi bisa jadi adalah Pendeta Kuhnen atau Kabelitz. “Dari dibangun sampai sekarang kayunya gak pernah diganti masi soalnya kayunya kayu jati kualitas bagus” sambungnya.
Detail ventilasi di atas pintu.
Detail jendela krepyak yang krepyaknya dapat dibuka tutup.
Setelah mengobrol dengan bapak tadi, saya berkeliling untuk melihat-lihat bangunan. Suasana tampak sepi karena anak-anak baru saja pulang sekolah. Bangunan rumah ini rupanya dikelilingi oleh beranda yang cukup lapang. Daun pintu dan jendela krepyak khas rumah Belanda masih tampak di sini. Saya pun melongok ke dalam jendela untuk melihat ruang bagian dalam. Bagian dalam ruangan ini sudah dikonversi menjadi sebuah ruang kelas. Di belakang rumah ini dahulu memang pernah adah sebuah sekolah yang didirikan oleh zending , namun sekolah ini ditutup oleh Jepang. Setelah mati beberapa tahun, sekolah ini dibuka kembali pada tahun 1970 dengan memanfaatkan bekas rumah pendeta yang sekarang menjadi SD Kaliceret ini.

Nah, dari tulisan di atas, setidaknya dapat kita simpulkan, bahwa keberadaan bangunan kolonial tidak hanya terpusat di pusat-pusat kota saja. Nyatanya di wilayah yang jauh dari pusat kota dan terpencil seperti Kedungjati dan Kaliceret, kita dapat melihat bangunan-bangunan kolonial dengan sejarah yang cukup menarik untuk ditelusuri dan tidak kalah cantiknya untuk dilihat. Semoga keberadaan bangunan ini dapat dilestarikan dengan baik…

Referensi
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. 2013. Laporan Inventarisasi Cagar Budaya Tak Bergerak Kabupaten Grobogan. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis & Militer Belanda, Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Hajer,F.W. 1908. Overzicht van het ontstaan en de ontwikkeling der Salatiga-Zending. Utrecht : Firma J.  Bokma HZN.

Peluso, Nancy Lee. 1991. The History of State Fores Management in Colonial Java dalam jurnal Forest & Conservation History. Vol 35. No. 2 April 1991. Oxford University Press.


https://www.indischekamparchieven.nl/en/search mivast=963&mizig=276&miadt=968&miaet=14&micode=kampen&minr=1397413&milang=en&misort=unittitle%7Casc&mizk_alle=Kaliceret&miview=ika2

Minggu, 19 Februari 2017

Stasiun Bringin, Sengsara Sebuah Stasiun Tua

Nama Stasiun Bringin mungkin tidak setenar Stasiun Tawang, Stasiun Ambarawa, atau Stasiun Tugu. Dapat dimaklumi karena bangunan stasiun ini sendiri sudah lama tidak beroperasi dan lokasinya berada di wilayah yang cukup terpencil. Nah, pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan mengajak anda untuk melihat stasiun peninggalan masa kolonial yang terletak di Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Bagaimana sejarah dari stasiun ini dan seperti apa kondisinya sekarang ?

Menuju Bringin

Secara administratif, stasiun ini berada di Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Untuk menuju ke sini sebenarnya cukup mudah, dari Jalan Semarang-Salatiga, ambil jalan ke arah Tuntang, telusuri terus jalur ini ke arah Kedungjati. Di sepanjang jalan, kita akan disuguhkan dengan pemandangan berupa pohon-pohon kopi yang rimbun. Nah jika sudah sampai di Bringin, cari Pasar Bringin, nah posisi stasiun berada persis di seberang pasar ini..

Sepenggal sejarah
Peta Bringin dari tahun 1909 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Kita semua tentu tahu bahwa bumi Indonesia tercinta ini diberi anugerah oleh Tuhan berupa tanah yang subur sehingga hampir berbagai jenis tanaman dapat tumbuh di sini. Kesuburan tanah inilah yang kemudian memikat hati bangsa asing seperti bangsa Belanda untuk dieksploitasi demi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan selanjutnya dibawa pergi ke negeri mereka. Maka, tidak lama setelah Belanda berhasil memantapkan kekuasaanya di sini, lewat kebijakan cultuurstelsel, mereka kemudian membuka lahan perkebunan untuk ditanam berbagai tanaman komoditas ekspor yang semula belum dikenal di sini seperti tebu, teh, tembakau, kopi, nila, karet, dan lain-lain.

Nah, guna memperlancar usaha perkebunan tadi, pemerintah kolonial kemudian membangun jaringan jalan kereta api yang pertama kali dibangun dari Semarang ke Tanggung, Grobogan pada tahun 1867 dan selanjutnya diteruskan sampai Kedungjati. Dari Kedungjati, pembangunan jalan kereta api diteruskan lagi sampai wilayah Vorstenlanden, sebutan wilayah yang saat ini mencakup Yogyakarta dan Surakarta.

Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij, perusahaan swasta yang mengoperasikan jalur kereta api tadi rupanya juga tertarik untuk membuka jalur kereta di wilayah Ambarawa dan Kedu karena di wilayah ini terdapat banyak perkebunan kopi sehingga keuntungan yang diraih akan melimpah dari usaha pengangkutan hasil perkebunan tadi. Maka, NIS membuka jalur kereta Kedungjati-Ambarawa pada tahun 1870. Beberapa stasiun dibangun di antara ruas Kedungjati-Ambarawa seperti Tempuran, Gogodalem, Bringin, dan Tuntang untuk tempat transit kereta.

Salah satu stasiun yang berada di jalur tadi adalah Stasiun Bringin. Alasan mengapa didirikan sebuah stasiun di sini kemungkinan karena adanya keberadaan perkebunan kopi yang berada di daerah Bringin. milik “Landbouw Maatschappij Getas” ( Anonim, 1914; 62 ) dan terdapat pasar di dekat stasiun sehingga lokasi ini lebih menguntungkan untuk mengangkut barang. Stasiun Bringin kemungkinan besar mulai beroperasi sejak tanggal 21 Mei 1873 bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Kedungjati-Ambarawa. Sebelum ada stasiun ini, wilayah Bringin dapat dibilang merupakan sebuah wilayah yang terpencil karena lokasinya cukup jauh dari jalan utama antar kota. Oleh karena itulah dengan keberadaan stasiun ini, maka wilayah Bringin menjadi agak berkembang daripada sebelumnya. Stasiun ini juga menambah ramai pasar yang ada di dekatnya karena semakin banyak barang dagangan yang dapat diangkut dan diturunkan di stasiun ini.

Sayangnya, memasuki tahun 1970an, moda transportasi kereta perlahan mulai dikalahkan oleh transportasi darat lain seperti bus dan truk yang lebih praktis. Oleh karena itu, jalur kereta Kedungjati-Ambarawa resmi dinonaktifkan pada tahun 1976.

Mengamati Stasiun

Jika kita melihat bangunan stasiun untuk pertama kali, mungkin kita akan merasa bahwa stasiun ini lebih cocok untuk dijadikan latar film horror. Ya, sejak stasiun ini tidak berfungsi lagi, bangunan stasiun diubah menjadi sarang walet. Tidak diketahui mengapa bangunan stasiun sengaja diubah menjadi sarang walet dan siapa yang bertanggung jawab atas hal ini. Kayu kusen daun pintu dan jendela sudah hilang entah kemana. Bagian jendela, pintu, dan loket ditutup dengan tembok baru yang mengurangi keindahan stasiun ini. Ditambah lagi  dengan kondisi bangunan stasiun yang dibiarkan terlantar tanpa ada yang mau merawat peninggalan sejarah yang berharga ini. Kondisi ini masih agak mendingan karena sebelum jalur Kedungjati-Ambarawa mulai dibuka pada tahun 2014 akhir, lahan di sekitar stasiun menjadi pemukiman padat penduduk sehingga bangunan stasiun terutup oleh bangunan baru. Yah, karena lama tidak dirawat, maka bangunan stasiun terkesan angker. Namun bagi saya, nilai keangkeran tadi jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai sejarah, arsitektur dan arkeologis yang terdapat pada bangunan ini. Lagipula, bagi saya mengeksploitasi hal-hal gaib adalah hal yang tidak etis.
Perbandingan bentuk Stasiun Tuntang dan Stasiun Bringin.
Dari segi arsitektur, layout bangunan stasiun Bringin hampir mirip dengan stasiun Tuntang yang juga berada di jalur Kedungjati-Ambarawa. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan pada detail bangunan misalnya jika atap stasiun Tuntang berbentuk atap pelana, sementara atap dari stasiun Bringin berbentuk atap perisai. Inilah salah satu ciri khas stasiun dari zaman Belanda, yakni terdapat persamaan pada layout denah dan komposisi stasiun namun detail setiap bangunan stasiun dibuat berbeda satu sama lain.
Denah Stasiun Bringin.
Bagian Stasiun Bringin yang sudah ditutup tembok baru.
Bangunan Stasiun Bringin yang kita lihat saat ini merupakan hasil perombakan oleh NIS pada awal abad ke-20. Perombakan ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan menarik perhatian penumpang. Bangunan stasiun baru ini dibuat dengan filosofi yang diarahkan oleh perusahaan NIS, yakni bangunan tidak perlu monumental tapi juga tidak boleh terlihat buruk...
Bagian dalam Stasiun Bringin.
Ventilasi pintu.
Bekas lubang tiket.
Masuk ke dalam ruangan dari stasiun ini, kita akan merasakan kondisi ruangan sangat, kotor, gelap dan pengap. Jika “beruntung”, kita dapat mencium aroma tidak sedap dari kotoran hewan. Hal ini tentu kontras sekali ketika stasiun ini masih aktif, dimana pada waktu itu masih terdapat jendela dan pintu tinggi yang membuat udara dan cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan sehingga ruangan menjadi terang dan sejuk. Namun karena bagian pintu dan jendela ditutup untuk sarang walet, maka kondisinya sekarang menjadi gelap dan pengap.
Konstruksi bata.
Meski kondisi bangunan sudah rusak, tapi justru dari kerusakan tadi, kita malah bisa melihat konstruksi-konstruksi bangunan stasiun yang sebelumnya tidak terlihat. Misalnya dari tembok yang roboh, kita dapat mengetahui bahwa bangunan ini dibuat dengan batu-bata yang disusun dengan pola irregular bond. Pada pola ini, satu lapis dinding dibuat dengan dua lapis batu bata, sehingga dinding terlihat kuat dan tebal ( Davis dan Jokkiniemi, 2008;462 ). Oleh karena itulah meski pada masa itu teknologi beton bertulang belum ditemukan, bangunan stasiun ini mampu berdiri dalam jangka waktu lama karena bangunan stasiun mengandalkan dinding tebal sebagai konstruksi utama. Konstruksi seperti ini sering digunakan pada bangunan-bangunan masa kolonial.
Bekas sinyal "Alkmaar"
Lantai stasiun.
Peron stasiun.
Stasiun Bringin memiliki dua beranda, yakni beranda depan yang menjadi tempat para penumpang membeli tiket dan beranda belakang yang menjadi ruang peron atau tempat penumpang menunggu kereta. Di bagian peron, kita dapat melihat barisan tiang kayu penyangga atap stasiun yang masih terlihat antik. Meski kondisi bangunan stasiun sudah rusak parah, namun untungnya kita masih bisa menjumpai lantai tegel kotak-kotak khas stasiun. Selain itu, di bagian peron ini terdapat salah satu artifak dari jejak sejarah kereta api, yakni alat pengatur sinyal “Alkmaar” yang masih in situ. Peron Stasiun Bringin dapat dibilang cukup besar untuk ukuran sebuah stasiun yang berada di lokasi yang terpencil. Ah, mungkin bayangan kita sejenak bisa kembali di masa ketika Stasiun Bringin masih aktif, masa dimana peron yang sekarang sepi ini sangat ramai oleh para penumpang yang sebagian besar adalah pedagang pasar Bringin. Apalagi di musim mudik lebaran, stasiun ini tentu akan ramai dengan kedatangan para perantau untuk bersilahturami dengan keluarga mereka yang tinggal di desa.
Jalur ke arah Ambarawa.
Jalur ke arah Kedungjati.
 Di sebelah selatan stasiun Bringin terdapat emplasemen kereta yang cukup luas. Sebelum area di sektiar stasiun diratakan pada tahun 2014, kita masih bisa menemukan sisa-sisa rel jalur Kedungjati-Ambarawa. Namun setelah diratakan, rel-rel tua tadi kemudian diangkut dan rencananya akan diganti dengan rel baru sebagai bagian dari rencana PT.KAI untuk menghidupkan kembali jalur kereta api Kedungjati-Ambarawa. Namun entah kenapa rencana tadi tiba-tiba mandeg di tengah jalan meski jalur sudah dibersihkan. Bantalan rel yang sudah dipersiapkanpun kini menumpuk dan menganggur.
Bekas menara air. Perhatikan dinding bangunan yang berwarna putih karena bangunan ini dibuat dari batu kapur.
Bekas pipa air.
Di sebelah barat emplasemen, kita dapat melihat pipa air berfungsi untuk mengalirkan air ke dalam lokomotif bermesin uap yang membutuhkan air untuk menghasilkan uap. Air ini berasal dari menara air di sebelah barat yang airnya diambil dari sumur di bawahnya.
Gudang Stasiun Bringin.
Tidak jauh dari menara air, terdapat sebuah bangunan kecil yang dahulu digunakan sebagai gudang stasiun. Gudang ini dahulu menjadit tempat penyimpanan hasil-hasil perkebunan seperti kopi dan karet yang berasal dari perkebunan sekitar Bringin. Kondisi gudang ini tidak jauh berbeda dengan bangunan stasiun Bringin. Pintu dan lubang ventilasi gudang sudah ditutup tembok baru untuk sarang walet dan sriti dan terdapat lubang-lubang kecil untuk tempat masuk burung sriti dan walet.
Rumah dinas Stasiun Bringin.
Stasiun Bringin dilengkapi dengan rumah dinas yang berada di sebelah timur stasiun. Rumah dinas ini memiliki gaya arsitektur chalet yang ditandai dengan keberadaan lisplang kayu bergerigi pada bagian atap pelana depan. Kondisi rumah ini juga sama sengsaranya dengan bangunan Stasiun Bringin. Rumah ini aslinya memiliki sebuah beranda depan, namun beranda depan ini ditutup untuk sarang walet. Namun untunglah jendela krepyak dari rumah ini masih berada di tempatnya. Menariknya, bentuk rumah dinas ini mirip dengan rumah dinas Stasiun Tuntang. Arah hadapnyapun juga sama, yakni menghadap ke barat.

Stasiun Bringin saat ini kondisinya masih terlantar meski sudah ada rencana untuk menghidupkan jalur kereta Kedungjati-Ambarawa. Kondisi sengsara Stasiun Bringin pada masa sekarang tidak terlepas dari dosa yang dibuat oleh generasi sebelum kita yang tidak memiliki kesadaran untuk melestarikan peninggalan sejarah dan lebih mementingkan nilai ekonomi praktis saja. Kini, untuk merehbilitasi bangunan Stasiun Bringin membutuhkan biaya yang cukup besar dan sekalipun itu sudah berhasil direhab, nilai otentitas dari bangunan stasiun ini juga sudah berkurang. Oleh karena itu, ungkapan bahwa “kehilangan sebuah warisan sejarah bukan generasi sekarang yang merasakan dampaknya tapi generasi selanjuntnyalah yang akan merasakan dampaknya”, ada benarnya juga. Semoga saja di masa depan , nasib Stasiun Bringin tidak sengsara lagi….

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen in Nederlandsch Indie. Batavia ; Landsdrukkerij

Davis, Nikkolas dan Jokinemi, Erkki. 2008. Dictionary of Architecture and Building Construction. Oxford : Architectural Press.

Tim Penyusun. 2014. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.