Jumat, 24 Maret 2017

Pesona Pecinan Parakan, ‘Tiongkok’ Kecil di Kaki Gunung Sindoro


Pecinan Parakan memang tidak seramai Pecinan Semarang ataupun setenar Pecinan Lasem. Namun Pecinan kecil terhampar di kaki Gunun Sindoro itu menyimpan jejak peninggalan komuntias Tionghoa di masa lampau yang menarik untuk dikuliti. Inilah tulisan saya di Jejak Kolonial mengenai pesona pecinan Parakan.
Lokasi peninggalan sejarah utama di Parakan.
Di Klenteng Hok Tek Tong, Parakan, saya menemui The Han Thong, pengurus klenteng Hok Tek Tong yang telah mengabdi selama lebih dari dua puluh tahun, dengan maksud untuk menggali lebih jauh sejarah kehadiran komuntias Tionghoa di Parakan. Sembari menyesap asap tembaku dari pipa hisapnya, pria berjanggut panjang itu mulai menuturkan sejarah kedatangan orang Tionghoa ke Parakan.
Peta Parakan pada tahun 1907. Perhatikan persebaran lokasi pemukiman Tionghoa ( arsir hitam ) yang memanjang dari jalan utama Wonosobo-Temanggun dan Parakan-Weleri. Selain tinggal di sepanjang jalan utama, pemukiman Tionghoa juga dapat ditemukan pada jalan-jalan kecil. Selain itu, amati pula bahwa jalan utama Parakan-Temanggung masih berada di sebelah timur  dari jalan sekarang, lewat sebuah jembatan yang berada di belakang Restoran Sari Ayam sekarang
( sumber : maps.library.leiden.edu).
 “ Cerita ini saya dapatkan dari orang tua zaman dahulu “ buka The Han Tong. “ Setahu mereka, orang-orang Tionghoa di Parakan merupakan para pelarian dari Jana, sebuah desa kecil di Purworejo ”, tuturnya. “ Kala itu, sekitar abad ke-18, para pemukim Tionghoa di sana hidup sukses dengan menjadi pengrajin kain tenun dan benang, namun entah apa alasannya, penduduk lokal kemudian menyerang para pemukim Tionghoa di desa itu “, papar The Han Tong sambil menyuguhkan saya secangkir kopi Temanggung yang baru saja diseduhnya. The Han Tong melanjutkan, mereka tiba di Parakan dengan membawa toapekongnya. Selain itu, datang pula rombongan pelarian dari Batavia tatkala terjadi peristiwa Geger Pecinan. “Kemudian di kala Perang Jawa pecah, orang-orang Tionghoa dari Kedu, Banyumas, dan Semarang berbondong-bondong mengungsi ke Parakan “, ujarnya. Ya, Parakan sepertinya memberikan harapan dan perlindungan bagi para pelarian ini… 
Peta Parakan pada tahun 1940. Perhatikan akses jalan utama Parakan-Temanggung yang sudah dipindah ke lokasi sekarang yang berada kira-kira tiga ratus meter dari jalan sebelumnya ( sumber : maps.texas.lib.edu ).
Kurang lebih seperti itulah sejarah kehadiran komunitas Tionghoa di Parakan yang masih remang-remang, seremang altar utama kelenteng Hok Tek Tong. Selain cerita turun temurun dan makam tertua di Gunung Manden yang bersengkalan 1821, tiada data lain mengenai hal tersebut. Selain berbagi cerita ikhwal sejarah Parakan, The Han Thong juga bertutur seputar tradisi Tionghoa yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Salah satu yang menarik perhatian saya ialah tradisi siu-pan, yakni memberikan hadiah peti mati kepada orang tua yang telah berusia lebih dari 60 tahun. Mungkin bagi orang zaman sekarang, tindakan tersebut bakal dipandang sebagai hal yang kurang ajar karena dianggap mengharapkan orang tua agar cepat mati. Namun sebenarnya, kata peti mati dalam bahasa Tionghoa juga berarti papan panjang umur. Sehingga pemberian peti mati ini sesungguhnya merupakan doa agar orang tua diberi umur panjang. 

Sayapun kemudian beranjak sebentar ke halaman kelenteng yang tereltak tepat di pertigaan jalan itu. Letaknya yang menghadap pertigaan diyakini dapat menangkal energi jahat. Dari halaman kelenteng, terlihat panorama Gunung Sindoro yang menjulang begitu agungnya. Gunung itu, bersama Gunung Sumbing, menganugerahi Parakan dengan hamparan endapan tanah vulkanis yang subur. Kesuburan itu memikat orang-orang untuk bermukim di situ. Situs Liyangan menjadi bukti bahwa manusia telah mengolah tanah di situ sejak berabad-abad silam. Para pendatang Tionghoa yang berdiam di Parakan juga mendapatkan berkah dari tanah subur tersebut. Mereka tanami tanah tersebut dengan tembakau dan daun-daun tembakau itulah, mereka mencapai kemakmurannya di sini. Bukti kemakmuran mereka terlihat dari megahnya rumah-rumah mereka yang tersembunyi di balik pagar tembok tinggi yang salah satunya hendak saya sambangi.
Klenteng Hok Tek Tong dilihat dari halaman luar. Halaman klenteng ini termasuk luas dan menandakan bahwa klenteng ini memiliki aktivitas yang padat.
Dari luar, kelenteng itu amatlah kecil. Sekalipun kecil, ia memiliki arti sejarah yang besar karena ia merupakan kelenteng tertua di Karesidenan Kedu. Ia diperkirakan dibangun tahun 1830. Lalu pada tahun 1844, oleh letnan Tionghoa Parakan bernama Lie Tiauw Pik, kelenteng itu dipermegah. Orang-orang lokal rupanya juga terlibat dalam pembangunannya. Di masa penjajahan Jepang, aktivitas kelenteng ini sempat tiarap. Akhirnya kelenteng ini dapat bangkit kembali setelah Jepang angkat kaki ( sumber : http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2545-hikayat-berdirinya-kelenteng-hok-tek-tong-parakan ). 
Klenteng Hok Tek Tong dilihat dari dalam. Terlihat shi zi atau sepasang singa batu yang terdapat di muka klenteng. Hewan singa bukanlah hewan asli Tiongkok dan tampaknya hewan ini mulai dikenal di Tiongkok setelah adanya hubungan dagang antara negeri Tiongkok dengan bangsa-bangsa di Asia Barat.
Halaman kelenteng itu amatlah luas, tanda bahwa aktivitas kelenteng amatlah ramai dan padat di masa silam. Menurut Ardian Cangianto ( 2013 ), kelenteng tak sekedar sebagai tempat peribadatan saja, namun ia juga merupakan pusat segala kegiatan sosial masyarakat Tionghoa, mulai dari tempat pertemuan, tempat belajar, rumah jompo, panti asuhan, hingga pos pertahanan. Namun seiring dengan kehidupan masyarakat Tionghoa yang mendapat perlakuan negatif di masa Orde Baru, aktivitas tersebut kini mulai berkurang dan hanya aktivitas beribadah saja yang tampak menonjol.
Bagian dalam klenteng.
Saya selanjutnya diantar oleh The Han Tong ke sebuah rumah tua di Parakan yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Rumah Gambiran. Disebut demikian karena rumah itu merupakan bekas kediaman seorang saudagar Tionghoa kaya bernama Siek Oen Soei, yang melanjutkan bisnis gambir rintisan moyangnya yang, Siek Hwie Soe. Siek Hwie Soe merupakan seorang perantau dari negeri Tiongkok yang tiba di Parakan tahun 1821. Setibanya di sini, ia bekerja kepada Loe Tjiat Djie di bisnis gambir. Kala itu, buah gambir digunakan sebagai pewarna pakaian. Setelah berhasil menikahi anak perempuan majikannya, bisnis gambir itu diwariskan kepadanya. Siek Hwie Soe kemudian mudik ke negeri asalnya. Kali ini, keponakannya bernama Siek Hwie Kie diajak merantau bersamanya. Bisnis gambir ini berjalan mulus. Keluarga Siek mendirikan sebuah firma bernama “ Hoo Tong Kiem Kie ” yang memperluas bisnisnya hingga ke Semarang. Nama “ Hoo Tong “ merujuk pada kampung asal leluhur keluarga Siek di negeri Tiongkok. Sepeninggal Siek Hwie Soe pada 1882, firma ini dibagi dua, yakni satu di Semarang dan satunya lagi di Parakan. Firma yang di Parakan dipegang oleh Siek Tiauw Kie yang kemungkinan dibawa ke Parakan oleh pamannya pada 1840. Siek Tiauw Kie memiliki beberapa istri dan dikaruniai tiga anak, Siek Kiem Tan, Siek Oen Soei, dan Siek Kiem Ing. Sepeninggal Siek Tiauw Kie yang meninggal dalam pelayaran dari Tiongkok ke Parakan, bisnis keluarga tadi semakin berkembang dengan terjunnya mereka ke bisnis perdagangan beras dan tembakau.
Rumah Gambiran.
Ilustrasi yang menunjukan bagaimana dahulu Siek Oen Soei menikmati senja di beranda depan rumahnya. Ilustsrasi ini diperankan oleh om The Han Thong.
Ketika berjumpa pertama kali dengan rumah itu segera saja pikiran saya terhantui dengan pesona keindahan rumah itu. Bergerak naik ke teras depan, sukma rumah itu masih terlihat hidup sekalipun ia tak dihuni lagi. Di beranda depan, terdapat sebuah kursi santai, tempat dimana sang saudagar melepas lelah sambil menyesap tembakau. Masuk ke dalam rumah, saya menjumpai sebuah partisi kayu yang tepat menghadap ke arah pintu utama. Partisi itu berfungsi sebagai pembatas antara ruang depan yang bersifat publik dengan ruang belakang yang berifat privat. Di depan partisi itu, pastilah dulunya ada sebuah altar leluhur. Sayapun membayangkan ada sedikit nuansa spiritual ketika di atas meja leluhur itu mengepul asap hio low yang aroma khasnya menyebar ke seisi ruangan. Kkini, foto-foto atau pai dari keluarga yang telah tiada telah berganti dengan patung kecil dewa-dewi Buddha setelah pada tahun 2006, rumah itu dibeli oleh sebuah yayasan Buddha. Rumah itu kemudian direstorasi dan menjadi sebuah wihara tetirah ( Knapp, 2010; 191-192 ). 
Bekas gudang gambir.
Di belakang partisi itu, saya menjumpai kamar tidur anggota keluarga utama dengan perabot kunonya. Beranjak ke belakang, terdapat sebuah beranda yang menghadap ke sebuah ruang terbuka. Terlihat sebuah meja batu yang dulu dipakai sebagai tempat bermain mahjong. Di samping kanan dan kiri bangunan utama, terdapat rumah samping. Rumah samping ini dahulu dipakai untuk tempat tinggal anggota keluarga yang sudah menikah namun belum memiliki tempat tinggal, dapat dibayangkan betapa ramainya rumah ini di masa lalu. Selain untuk anggota keluarga, kamar-kamar di samping ini kadangkala diperuntukan untuk tamu karena pada masa itu penginapan atau hotel masih belum dikenal di Parakan. Dalam pandangan Tionghoa, perbuatan memberi tumpangan untuk menginap merupakan perbuatan mulia.
Bagian kamar samping.
Beranda belakang rumah.
Menariknya, di belakang rumah ini, saya menjumpai sebuah bangunan yang langgamnya sama sekali berbeda dengan rumah yang tadi saya masuki. Apabila rumah sebelumnya cukup kental dengan nuansa Tiongkok, kali ini yang lebih terasa justru nuansa Indisnya. Ketika saya masuk ke dalam rumah itu, saya serasa memasuki rumah seorang pembesar Belanda ketimbang rumah seorang saudagar Tionghoa. Tatanan bagian dalam rumah itu persis dengan tatanan sebuah rumah Indis; sebuah koridor di tengah yang diapit oleh dua kamar di samping kanan-kirinya dan memilik beranda depan dan belakang yang ditopang oleh tiang. Menurut Knapp, rumah Indis di sisi selatan ini diperkirakan lebih dulu ada sebelum rumah bergaya Tionghoa dibangun di sisi utaranya. Ia sengaja dibangun dalam gaya Indis yang notabene merupakan gaya yang banyak dijumpai pada rumah-rumah pembesar Belanda di Jawa sebagai usaha pemilik rumah mengikuti trend kalangan elit Belanda. Tatkala Siek Oen Soei pergi ke negeri leluhurnya di Tiongkok, jatidirinya sebagai seorang Tionghoa menguat kembali. Di Parakan, di belakang rumah moyangnya, ia mendirikan rumah dengan langgam yang serupa dengan yang ada di negeri leluhurnya ( Knapp, 2010 ; 194 ).
Beranda depan rumah Indis.
Beranda belakang rumah Indis.
Bagian dalam rumah Indis milik Siek Oen Soei.
Setelah puas mengagumi pesona rumah tadi, saya selanjutnya diajak oleh The Han Tong melihat sebuah rumah tua yang bersanding dengan Rumah Gambiran. Dinding pagar yang tinggi mengelilingi rumah itu, sehingga privasi di dalamnya menjadi terlindungi. Sebuah gerbang kayu menjadi pintu penghubung rumah itu dengan dunia luar. The Han Thong mengetuk pintu itu. Tak menunggu lama, pintu itupun kemudian dibukakan dari dalam oleh seorang pemuda yang mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam. Betapa asri dan hijaunya halaman depan rumah itu. Namun mata saya menangkap sesuatu yang janggal di halaman itu. Di halaman itu, saya melihat sebuah bekas alat latihan kebugaran yang tampaknya sudah berusia tua. Sayapun bertanya ke The Han Tong, “ Itu dulu punya siapa koh ? “. “ Oh, itu punyanya Louw Djing Tie  “, jawab The Han Tong.
Rumah milik bapak Go Kiem Yong, tempat dimana Louw Djing Tie menumpang tinggal.
Rumah itu aslinya milik keluarga bapak Go Kiem Yong. Tidak semewah Rumah Gambiran memang, namun kondisinya sama terawatnya dengan Rumah Gambiran. Di dalam rumah itu, terlihat para karyawan yang sedang sibuk membuat kue bolu. Di dalamnya juga terlihat foto-foto keluarga dan seperangkat alat beladiri. Lalu siapakah sebenarnya Louw Djieng Tie yang disebutkan oleh The Han Tong tadi ?
Potrait Louw Djieng Tie yang terpasang di dalam rumah. Louw Djieng Tie memiliki peran cukup besar dalam memperkenalkan seni bela diri kungfu di Indonsia. Meski sudah menjadi master, namun beliau tetap rendah hati.
Louw Djieng Tie, nama itu amatlah melegenda dalam sejarah perkungfuan di Indonesia. Ia lahir tahun 1855 di kota Haiting, Provinsi Hokkian, Tiongkok. Ketertarikannya beliau pada seni bela diri kungfu muncul tatkala ia diselamatkan dari kejaran seorang biksu jahat bernama Thi Tjeng oleh seorang tukang masak tahu. Setelah berguru ilmu kungfu cukup lama, Louw Djieng Tie mendirikan perguruan sendiri di kota Hok Ciu, Provinsi Hok Kian. Alkisah, pada suatu hari Louw Djieng Tie nyaris membunuh seorang lawan dari kawannya, Lie Wan pada sebuah seleksi guru kungfu yang diadakan oleh pemerintah setempat. Untuk menghindari hukuman berat, Louw Djieng Tie memutuskan meninggalkan negeri Tiongkok.
Alat-alat yang pernah dipakai oleh Louw Djieng Tie dan murid-muridnya. yang masih terawat dengan baik Benda ini merupakan salah satu artefak sejarah per-kungfu-an di Indonesia.
Batavia merupakan tempat persinggahan pertamanya di Hindia-Belanda. Sayang, nasibnya di sana kurang mujur. Singkat cerita, setelah mengadu nasib ke sana kemari, oleh kawannya, ia diajak pindah ke Ambarawa. Di sini, Louw Djing Tie secara sembunyi mendirikan sebuah perguruan kungfu karena mempelajari ilmu beladiri dilarang oleh pemerintah pada masa itu. Louw Djieng Tie rupanya orang yang ringan tangan terhadap siapapun. Pernah pada suatu hari, Louw Djieng Tie berhasil melumpuhkan belasan serdadu Belanda yang sedang mengobrak-abrik toko milik warga pribumi.

Akhirnya Louw Djieng Tie memutuskan pindah ke Parakan, menumpang di rumah milik keluarga bapak Go Kiem Yong, dan menghabiskan sisa hidupnya di sini dengan mengajarkan bela diri dan menjual obat. Pada suatu hari, ada seorang guru kungfu setempat bernama The Soei yang juga tak kalah mahir dalam ilmu kungfu. Mendengar ada seorang jago kungfu baru di Parakan, The Soei ingin mengajukan tantangan adu ilmu kungfu kepada Louw Djieng Tie. Untuk menghindari cidera keduanya, maka senjata tajam diganti dengan kuas cina. Pertandingan berjalan cukup sengit dan Louw Djieng Tie berhasil mendesak lawannya. Namun untuk menjaga harga diri The Soei, Louw Djieng Tie sengaja mengalah. Pertandingan dinyatakan imbang dan Louw Djieng Tie kian dihormati. Di usia senja, Louw Djieng Tie memiliki banyak murid. Perguruan yang diampu olehnya semakin besar. Meskipun demikian, Louw Djieng Tie tidak pernah bosan melatih muridnya hingga ia meninggal pada tahun 1921.  Berkatnya, ilmu kungfu menjadi semakin dikenal di Indonesia. Untuk mengenangnya, kisah perjalanan hidupnya diabadikan dalam buku “Garuda Mas dari Cabang Siaouw Liem” yang ditulis oleh tetangganya, Tjiu Khing Soei. ( sumber : https://kebudayaantionghoa.wordpress.com ). Begitulah kisah dari Louw Djieng Tie, seorang legenda kungfu yang sukses mengantarkan nama Parakan terkenal di dunia persilatan Indonesia dan rumah milik Bapak Go Kim Yong inilah saksi bisunya.
Salah satu rumah bergaya Tionghoa di Parakan yang menjadi korban vandalisme. Sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah Parakan bertanggung jawab pada pelestarian warisan budaya ini.
Rumah beraya Tionghoa lain yang juga tak luput dari aksi Vandalisme.
Rumah bergaya Tionghoa di jalan Brigjen. Katamaso.


Rumah-rumah yang sudah mendapatkan pengaruh arsitektur Indis.
Di rumah itu, saya berpisah dengan The Han Tong untuk melanjutkan perburuan bangunan tua di Parakan. Ada bangunan yang saya jumpai nuansa Tionghoanya masih kental. Ada pula bangunan yang mulai terpengaruh oleh kebudayaan Indis.
Bangunan Stasiun Parakan pada masa sekarang, saksi bisu sejarah perkeretapian di Parakan yang mulai memudar pesonanya.

Selagi masih di Parakan, saya sejenak mampir ke bangunan Stasiun Parakan yang ada di sebelah timur Kelenteng Hok Tek Tong. Stasiun ini merupakan ujung dari jalur kereta Secang-Parakan yang mulai dioperasikan oleh perusahaan kereta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij yang dibuka tahun 1907. Seorang pemborong Tionghoa lokal bernama Ho Tjong An ditunjuk menjadi kontraktor pembangunan jalur tersebut. 
Stasiun Parakan di masa kolonial ( sumber : media-kitlv.nl ).
Sekalipun letaknya di ujung, tipe bangunan stasiun Parakan bukanlah stasiun ujung, melainkan stasiun tepi. Mengapa demikian ? Dari penuturan The Han Tong, rupanya pemerintah Hindia Belanda berencana meneruskan pembangunan jalur kereta dari Secang ke arah Wonosobo dan Weleri, Kendal sehingga nantinya Stasiun Parakan akan menjadi sebuah stasiun percabangan yang ramai. Oleh karena itulah, Stasiun Parakan telah dipersiapkan memiliki emplasemen yang sangat lebar. Sayangnya pembangunan tersebut tak jadi terlaksana. Alih-alih menjadi stasiun yang ramai, Stasiun Parakan kini menjadi stasiun tak bernyawa dengan sampah yang berserakan disamping bangunan. Ketika saya mengintip ke bagian bekas peron yang terlihat kumuh, saya kembali teringat dengan cerita The Han Tong di kelenteng. Ia sendiri mengalami masa ketika kereta uap masih singgah di stasiun itu untuk menaik turunkan penumpang. “ Dulu, waktu saya kecil, para penumpang gelap yang kerap naik di atas atap kereta, ditembak dengan senapan angin berpuluru kapur oleh kepala stasiun. Ya, memang tidak begitu membahaykan, tapi tetap saja sakit rasanya ketika kena “, kenangnya… 
Bekas jembatan kereta yang melintang di atas Kali Galeh. Tak ada satupun yang berani menjamah rangka bajanya.
Demikianlah tulisan saya di Jejak Kolonial edisi Parakan ini. Sekalipun namanya sebagai pecinan memang tidak semahsyur Lasem atau Semarang, yatanya Parakan masih menyimpan cukup banyak warisan budaya Tionghoa dengan cerita-cerita menarik di dalamnya. Sebagai pusat penyebaran agama Islam di sekitar Temanggung dan juga sekaligus sebagai kantong permukiman Tionghoa yang cukup ramai di kaki gunung Sindoro, kehidupan sosial di Parakan berlangsung harmonis dalam kurun waktu yang cukup panjang. Di Parakan seolah tiada isitilah pribumi ataupun pendatang karena semuanya adalah saudara…

Referensi
Cangianto, Ardian. 2013. Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa dalam web.budaya-tionghoa.net.

Knapp, G.Ronald. 2010. Chinese Houes of South East Asia ; The Ecletic Architecture of Sojournes & Settlers. Vermont : Tuttle Publishing.

Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2545-hikayat-berdirinya-kelenteng-hok-tek-tong-parakan


https://kebudayaantionghoa.wordpress.com/2009/07/18/louw-djing-tie/

Jumat, 17 Maret 2017

Penggalan Warisan PG Gembongan Kartasura

Kartasura, sebuah kota kecil yang masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sekalipun kecil, kota ini amatlah ramai karena ia berada di titik strategis yakni di pertemuaan jalan raya Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Dalam literatur sejarah, Kartasura bediri semenjak era Kerajaan Mataram Islam dengan sisa peninggalan berupa sepenggal tembok bekas keraton Kartasura. Tak hanya itu saja, di Kartasura masih ada peninggalan sejarah lain dari era yang berbeda, yaitu PG Gembongan atau kadang disebut pula PG Kartasura. Inilah kisah dari sebuah pabrik gula yang kini terlupakan….
Bangunan PG Gembongan terlihat dari luar.
Pabrik itu berdiri di bawah bayang-bayang cerobong asap yang sudah lama tak mengepulkan asap. Dari jalan raya Kartasura-Surakarta,  cerobong itu masih tampak menjulang tinggi kendati ketinggianya telah dilampaui oleh sebuah apartemen baru di sebelah selatannya. Selama ini, saya hanya dapat mengagumi kemegahan pabrik yang terselubung oleh pagar tinggi dari luar. Namun siang itu, saya dan Mas Benu, kawan saya dari Boyolali, akan mencoba untuk menguak isi dari bekas pabrik gula yang sekian lama ditinggalkan itu…
Gerbang depan pabrik itu masih terkunci rapat dari luar, tanda tak ada seorangpun di dalamnya. Mas Benu pun lekas mengeluarkan telepon genggamnya, menghubungi seseorang. “ Segera ke sini ya pak, sudah kami tunggu di depan pagar”, pintanya lewat telepon genggam. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu pun tiba. “ Silahkan masuk mas, montornya parkir di dalam saja”, sambut Pak Widodo, juru jaga dari pabrik tua nan kosong itu. “ Saya tunggu di sini ya. Silahkan kalau mau keliling “, ujar Pak Widodo tanpa banyak kata. Dan akhirnya kamipun segera mengeksplorasi jengkal demi jengkal dari PG Gembongan…
Detail fasad art deco pada bangunan PG Gembongan.
Sekalipun temboknya terlihat mulai menua, pancaran keindahan gedung PG Gembongan masih begitu terasa. Sentuhan langgam arsitektur Art Deco benar-benar terwujudkan begitu baik dalam rupa fasad bangunan pabrik yang memainkan garis vertikal tegak lurus nan lugas. Sebuah sengkalan berbunyi “1920” terpampang di dinding luarnya. Namun, sengkalan itu bukanlah penanda tahun berdirinya pabrik ini, melainkan penanda tahun pabrik itu bermetamorfosis menjadi gaya Art Deco. Tujuannya untuk memberi citra modern pada PG Gembongana.  Lalu kapankah sebenarnya PG Gembongan ini berdiri ? 
Kondisi PG Gembongan pada masa sekarang dilihat dari citra satelit. Keteangan : 1. Kompleks pabrik ; 2. Rumah dinas yang masih tersisa ; 3. Bekas emplasemen lori.
Sejauh ini, saya belum menemukan literatur yang menyebutkan dengan pasti kapan PG Gembongan berdiri. Namun sebuah foto hitam-putih nampaknya bisa memberikan secercah titik terang dari sejarah pabrik gula yang masih gelap ini. Pada foto tersebut, terlihat para pegawai pabrik yang sedang berpose begitu kikuknya di depan sebuah pos penimbang tebu. Di kejauhan, menjulang tinggi cerobong PG Gembongan. Tepat di puncak cerobong, secara sama-samar terlihat sebuah tulisan  “ Kartasoera 1899 “. Dari sengkalan yang terpampang pada cerobong itulah, dapat dipastikan bahwa PG tersebut telah berdiri di tahun 1899. Sayangnya, sengkalan tersebut sudah tak nampak lagi wujudnya. Menurut Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie , PG Gembongan dikuasai oleh sebuah maskapai perkebunan bernama Kartasoera Cultuur Maatschappij ( Anonim, 1914 ; 206 ).
PG Gembongan ketika baru saja dibuka. Terlihat para pegawai berdarah Eropa ( kanan ) dan pribumi ( kiri ) yang sedang berpose. Ketika PG Gembongan baru dibangun, bentuk dan ukuran bangunan lebih sederhana daripada sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Bangunan penimbang tebu. Tebu yang akan diproses terlebih dahulu ditimbang di sini. Di kejauhan menjulang cerobong PG Gembongan dengan angka tahun 1899 yang terlihat samar ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Sebelum kami menyambangi bangunan utama pabrik itu, kami terlebih dahulu berjalan menuju ke bagian barat pabrik, tempat dimana gudang-gudang PG Gembongan berada. Gudang-gudang panjang itu masih terlihat asli dengan tembok tebalnya. Di bawah tiang-tiang penopang yang masih kokoh itulah, dulu ditimbun berkarung-karung gula sebelum diedarkan ke penjuru negeri. Namun di sana, yang kami jumpai hanyalah lantai berdebu dan sampah yang berserakan di lantai.
Bekas bangunan gudang.
Bagian dalam bangunan gudang yang ditopang oleh pilar-pilar berbentuk kotak.
Ia berdiri memanjang di ujung barat kompleks pabrik ini dengan sengkalan berbunyi “1928” di bagian tembok luarnya yang menegaskan betapa tuanya gedung itu. Itulah bekas bangunan depo lokomotif yang sedang kami sambangi. Depo itu dulunya merupakan tempat untuk menyimpan dan merawat lokomotif kecil yang dipakai menarik rangkaian gerbong berisi tebu. Menariknya, salah satu lokomotif PG Gembongan sudah ada yang memakai mesin diesel, teknologi yang terbilang canggih di kala itu. Sayang, lokomotif-lokomotif itu kini tak diketahui lagi rimbanya. Lokomotif-lokomotif kecil yang dulu pernah mengisi bagian dalam bangunan ini, saat ini telah tergantikan dengan  tumpukan gulungan kertas..
Emplasemen lori PG Gembongan. Tampak lokomotif diesel yang berada di tengah emplasemen
( sumber : troppenmuseum.nl ).
Tampak luar bangunan bekas remise atau depo lori PG Gembongan. Terlihat angka tahun 1918 di bagian atas.
Kondisi bagian dalam bekas remise.
Di antara eks depo dan bangunan utama, tersempil sebuah bangunan baru. Pabrik ini memang telah beberapa kali berpindah kepemilikan. Setelah kemerdekaan, pabrik yang semula dikuasai oleh perusahaan Belanda, dinasionalisasi oleh pemerintah dan asetnya menjadi milik PTPN. Kompleks pabrik ini kemudian dipecah menjadi dua, yakni sebagian milik PTPN dan sebagian diserahkan ke ABRI. Tahun 1968, PTPN menjual pabrik ini kepada PT Karep Bojonegoro. Singkat cerita, setelah berulangkali berpindah tangan, bangunan tersebut kini menjadi milik PT. Sinar Grafindo. Namun kabar terakhir menyebutkan kalau bangunan ini telah memiliki pemilik baru. Walaupun telah beberapa kali berganti kepemilikan, nasib pabrik gula ini tetap tak berubah. Ia tetap tak mampu bangkit kembali meraih kejayaanya seperti dulu…
Bagian yang dahulu menjadi akses masuk utama PG Gembongan
Relief berwujud gilingan tebu yang terdapat di atas pintu masuk PG Gembongan.
Sinar matahari menerobos ke dalam lewat jendela kaca yang tinggi, memberi seberkas pencahayaan untuk ruangan pabrik yang agak gelap itu. Saya kira, di dalam pabrik ini masih bisa dijumpai berbagai mesin uap kuno yang dulu digunakan untuk menggiling tebu dan mengolahnya menjadi gula. Tapi ternyata tidak. Di dalam sini, apa yang kami temukan hanyalah mesin-mesin pengemas tembakau yang sudah berdebu dan teronggok di sembarang tempat begitu saja. Seketika itu pula, kami berdua pun hanya bisa tertegun menatap kosongnya ruangan pabrik yang langit-langitnya amat tinggi ini. Mesin-mesin pabrik gula Gembongan telah lama hilang, pasalnya di tahun 1968, pabrik ini berpindah tangan dari PTPN ke PT Krebet Baru, dimana pemilik baru menganggap mesin-mesin itu sudah tiada gunanya lagi karena bangunan pabrik akan dialihkan menjadi gudang penyimpanan tembakau.
Bagian dalam PG Gembongan. Tampak dudukan cerobong PG.
Suara seng yang nyaris lepas seperti suara petir sesekali terdengar di dalam pabrik yang sunyi itu. Dinding pabrik amatlah tinggi, sehingga udara di dalam pabrik ini tak begitu panas. Memang demikian harusnya karena jika tidak, orang bisa pingsan kepanasan akibat tak tahan dengan panasnya hawa dalam pabrik yang ditimbulkan oleh mesin-mesin uap. Ketika saya mendongak, saya melihat langit-langit yang masih terbuat dari anyaman bambu yang telah lapuk. Banyak anyaman bambu tersebut yang sudah jatuh dan menimpa mesin-mesin di bawahnya.
Bagian dalam PG Gembongan. Terlihat langit-langit dari anyaman bambu yang mulai ambrol. Meski terlantar, tapi aura kejayaan PG ini masih sedikit terasa hingga sekarang.
Lantai tegel lama yang sudah ditimbun.
Lantai pabrik ini rupanya terdiri dari dua lapis, lapis pertama terbuat dari tegel abu-abu yang polos, tegel dari tahun 1950an. Di bawah lapisan tadi, terdapat tegel kuning yang diimpor dari Belanda. Ketika saya membalikan tegel kuning itu, saya melihat merk tegel “ Alfred Regout & Co.” yang pabriknya ada di kota Maastricht, Belanda. Dua lapis tegel tadi seolah memberi pesan bahwa perjalanan PG Gembongan telah melalui dua masa, yakni masa kolonial dan masa kemerdekaan.
Sumuran kecil di bagian sisi timur pabrik.
Kami selanjutnya menjajaki bangunan yang terdapat di sisi timur pabrik. Butuh usaha keras untuk menuju ke sana karena kami harus menerobos lebatnya tanaman liar yang telah tumbuh di mana-mana. Usaha kami masih belum selesai karena untuk masuk ke dalam bangunan, kami harus menggapai undak-undakan yang tinggi. Sampai di sini, apa yang kami temukan hanyalah sebuah ruangan yang kosong melompong. Atap bangunan ini sudah hilang. Kuda-kuda kayu yang sudah mulai lapuk dan atap bangunan ini sewaktu-waktu bisa ambruk. Beberapa tanaman paku liar tumbuh subur pada salah satu ruangan sehingga merubah ruangan itu seperti sebuah hutan purba. Di sini, kami menemukan semacam kotak sumuran kecil. Sumuran ini begitu kecil sehingga saya yang tubuhnya kecil pun tidak dapat masuk ke dalam. Di bawah sumuran ini, terdapat semacam terowongan kecil yang bisa jadi digunakan untuk saluran irigasi.
Tampak luar bangunan kantor.
Bagian dalam kantor.
Dari bangunan tadi, kami menuju bekas bangunan kantor yang terdapat di selatan pabrik. Kondisi di situ ternyata jauh lebih kotor dan gelap daripada bangunan pabrik yang kami sambangi tadi. Tak diketahui sejak kapan kantor ini sudah ditinggalkan. Beberapa bekas dinding tripleks untuk tambahan ruangan baru masih terlihat di sini. Tak ada hal lain yang kami temukan di sini selain kekosongan.
Cerobong PG Gembongan dilihat dari sebelah timur.
Setelah berjelajah ria mengelilingi eks PG Gembongan, kami sejenak menghilangkan letih di tempat dimana Pak Widodo biasa beristirahat. Dengannya, kami berbincang tentang banyak hal, termasuk ketika bangunan eks PG Gembongan diguncang gempa tahun 2006 silam. “Tahun 2006, seluruh bangunan baru di sekitar pabrik luluh lantak akibat gempa “, tutur Pak Widodo. “ Namun herannya saya, pabrik ini cuma bergoyang saja ketika gempa, nyaris tak ada satupun yang rusak selain seng yang jatuh berguguran ke bawah”, jelas Pak Widodo dengan perasaan takjub ketika ia mengingat kembali pengalaman itu.

Sembari mengobrol, saya berandai-andai jika seandainya bangunan ini dapat dipakai untuk keperluan lain, misalnya menjadi gedung serbaguna yang dapat disewakan untuk berbagai acara seperti resepsi pernikahan, pameran, pertunjukan seni, atau menjadi lapangan olahraga indoor. Dengan demikian, bangunan PG ini dapat dilestarikan lebih baik serta bermanfaat banyak untuk masyarakat sekitar dan juga memberi keuntungan bagi pemiliknya. Fisik bangunan PG ini sebenarnya masih bagus, namun sayangnya bangunan PG sebagus ini hanya disia-siakan menjadi sekedar sebuah gudang.

“ Oh ya, apakah mas berdua sudah lihat bekas bungker di dalam PG ini ?”,  tanya pak Widodo. “ Hah, bungker ? belum pak. Memangnya ada di mana itu pak ? ”, saya malah bertanya balik dengan perasaan kaget. “ Ayo mas, saya tunjukan”, ajaknya. Kami pun lantas mengikutinya, menuju bekas lokasi bunker yang dimaksud. “ Dulu di sini ada bungker atau semacam ruang bawah tanah. Lumayan besar mas ukurannya, saya saja bisa masuk ke dalam” jabar Pak Widodo sembari menunjuk perkiraan lokasi bungker yang pernah ia masuki. “ Namun setelah tahu kalau di sini ada bungker, pemilik yang baru minta ditutup biar tidak dieksploitasi oleh orang luar”, sambungnya. Bekas bungker itu memang masih ada, tapi pintu masuknya telah ditutup dengan begitu rapi sehingga sukar untuk mengenalinya kembali. Namun jangan bayangkan bila bungker-bungker tadi dipakai untuk menyimpan barang berharga atau sebagai ruang tahanan. Tidak demikian. Bungker-bungker tadi sesungguhnya merupakan rongga yang berfungsi untuk menyerap panas dari perut bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terlalu panas. Yah, di mana detail lokasi bungker tadi berada tidak akan saya tunjukan di tulisan ini. Biarlah bungker itu bersemayam dengan tenang bersama pabrik ini.


Bekas rumah dinas PG Gembongan yang masih tersisa.
Setelah berpamitan dengan Pak Widodo, kami melangkah keluar, menyusuri sebuah jalan yang dulu sejajar dengan sebuah jalur kereta besar dari arah Surakarta yang kemudian mengarah ke pabrik. Di masa lalu, hampir setiap pabrik gula sudah terintegrasi dengan jalur kereta di dekatnya, sehingga gula yang sudah dikarungkan dapat langsung dibawa ke pasaran luar.

Di dekat PG Gembongan, dulu terdapat beberapa rumah bergaya Indis yang berdiri di sepanjang jalan masuk pabrik dan di sebelah barat pabrik. Rumah itu ditempati oleh para pegawai beserta keluarganya. Ia ditempatkan dekat dengan pabrik guna mengurangi waktu perjalanan para pegawai dari tempat tinggal ke tempat kerja sehingga produktivitas dapat ditingkatkan.

Pada zaman Belanda, sebuah kejadian dramatis pernah menimpa salah satu pegawai PG Gembongan dan kejadian itu dimuat dalam warta Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indische tanggal 8 November 1909. Kejadian bermula di malam tanggal 2 November 1909, sekitar jam setengah satu malam. Ssebuah rumah yang ditempati pegawai pabrik berdarah Tionghoa bernama Ang Ing Gwan, disatroni oleh perampok berjumlah 5 orang. Kelima perampok ini semuanya berdarah Jawa. Dengan membawa senjata berupa pistol revolver dan golok, perampok ini berhasil menyandera tuan rumah dan memaksa dia untuk menunjukan tempat barang berharganya disimpan. Mengetahui telah terjadi perampokan, istri si tuan rumah bergegas keluar untuk mencari bantuan. Nahas, lengan si istri tuan rumah yang malang tadi dipukul dengan golok. Agar ayahnya dapat dibebaskan, anak perempuan si tuan rumah yang masih berusia 10 tahun menyerahkan celengan berisi 40 kepada perampok. Setelah dibebaskan, si tuan rumah bergegas ke kamar tidurnya untuk mengambil pistol revolver miliknya. Menyadari hal tersebut, perampok tadi melepaskan beberapa tembakan. Dor !! Tembakan pertama meletus dari pistol salah satu perampok, namun tembakan tersebut tapi tak mengenai sasarannya. Bagaikan drama, terjadilah aksi tembak-menembak yang melukai beberapa perampok. Kesunyian malam itu pun segera terpecahkan oleh suara adu tembak tadi. Para pegawai pabrik lain yang berdarah Eropa terbangun dari tidurnya dan mereka segera menghampiri asal suara tadi. Menyadari massa semakin banyak, gerombolan perampok tadi akhirnya lari tunggang langgang meninggalkan korbannya. Istri tuan rumah yang terluka segera dibawa ke Surakarta untuk mendapat pertolongan. Sayang, rumah tempat dimana drama adu tembak tadi terjadi sepertinya sudah tak ada lagi. Hampir semua bangunan rumah pegawai PG Gembongan sudah rata dengan tanah, menjelma menjadi bangunan baru. Hanya tiga rumah saja yang masih terlihat utuh.

Di penghujung penjelajahan, kami kembali lagi ke pabrik, menatap sekali lagi penggalan warisan PG Gembongan yang nyaris termakan oleh zaman itu. Pabrik tua dengan tembok usangnya itu, sesungguhnya merupakan cerminan dari ironi industri gula di Indonesia dewasa ini. Kemegahan bangunan tua pabrik ini seolah memperlihatkan betapa digdayanya industri gula di masa lalu. Namun melihat kondisi pabrik saat ini yang telah kosong, ia seolah menunjukan realita nasib industri gula dalam negeri yang kini terpuruk.

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Batavia : Landsdrukkerij