Kamis, 27 April 2017

Benteng Willem I Ambarawa, Hikayat Benteng Tua di Tepi Rawa

Salah satu peninggalan sejarah yang kondang di Ambarawa, selain Stasiun Ambarawa adalah Benteng Willem I, sebuah benteng tua yang terletak di tepian Rawa Pening. Benteng itu dibangun pada pertengahan abad ke-19, sebagai upaya pemerintah kolonial Belanda menangkal serbuan bangsa asing ke Hindia-Belanda. Seperti apakah kisah selanjutnya dari benteng yang namanya diambil dari nama Raja Belanda itu ?

Sebuah jalan setapak kecil yang terletak di samping RSUD Ambarawa mengantarkan saya ke area benteng yang dikelilingi oleh persawahan itu. Berlatar pemandangan Gunung Telomoyo yang begitu permai, benteng itu ingin bertutur tentang sebuah kisah. Sembari melangkah menyusuri setiap sudut benteng, saya mencoba untuk mendengarkan kisahnya.
Peta Ambarawa, tahun 1905 yang menunjukan lokasi Benteng Willem I. Sumber : maps.library.leiden.edu.
Pendirian benteng itu sesungguhnya masih ada sangkut paut dengan bergolaknya Revolusi Belgia di Eropa pada tahun 1830. Wilayah Belgia yang dikenal sekarang, kala itu masih berada di bawah naungan kerajaan Belanda yang meraih kemerdekaan dari Spanyol tahun 1581. Sebagian besar penduduk Belgia masih setia sebagai penganut Katolik, kontras dengan mayoritas penduduk Belanda yang telah berpindah menjadi penganut Kristen Protestan. Wilayah Belgia yang menjadi basis revolusi Industri segera menjadi rebutan Belanda, Perancis, dan Austria ( Simon, 1983 ; 83-86 ). Berakar dari perbedaan agama dan ekonomi, tahun 1830, Belgia dibantu dengan bangsa asing lain berusaha memisahkan diri dari Belanda sehingga timbul apa yang dikenal sejarah sebagai Revolusi Belgia. Khawatir, gejolak itu meluas hingga ke Jawa yang kala itu masih dibawah kuasa Belanda, mula Gubernur Jenderal Van den Bosch memberi titah kepada komandan deasemen zeni militer, Colonel Van der Wijk untuk mendirikan benteng-benteng di beberapa titik strategis di Pulau Jawa ( Tim Penyusun, 2012; 133-134 ). Begitulah benteng ini memulai kisahnya.
Raja Willem I ( 1772 -1843 ) yang namanya diabadikan menjadi nama Benteng di Ambarawa. Pemerintahannya diwarnai dengan Revolusi Belgia. ( sumber : wikipedia ).
Selanjutnya, benteng itu menuturkan bahwa Ambarawa merupakan salah satu titik yang dipilih oleh Van der Bosch lantaran letaknya berada di jalur yang menghubungkan Semarang dengan pedalaman. Di jalur itu sejatinya sudah ada benteng lain, yakni Benteng Ontmoeting Ungaran ( yang selanjutnya dikenal sebagai Willem II ), namun benteng itu dirasa kurang mumpuni karena benteng kecil itu gagal menahan invasi Inggris di Jawa tahun 1811. Belajar dari pengalaman tersebut, selain di Ambarawa, Van den Bosch mendirikan benteng baru lain di Gombong dan Ngawi. Dari ketiga benteng baru yang biayanya ditanggung kerajaan Belanda tadi, benteng di Ambarawa lah yang paling penting sebab ia akan menjadi titik kumpul pasukan apabila seluruh wilayah pesisir sudah jatuh ke tangan musuh dan dari sini, mereka dapat melancarkan serangan balik  ( Tim Penyusun, 2012; 134 ). Ya, secara tidak langsung, Benteng Willem I menjadi semacam patron kolonialisme Belanda di Nusantara, melindungi kuasa mereka dari bangsa asing lain yang lebih kuat.
Sebuah lukisan yang menggambarkan panorama Gunung Andon dan Telomoyo. Di kejauhan terlihat Benteng Willem dengan Tanggul yang masih mengelilingi benteng. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Berbagai keperluan disiapkan dengan matang dan terencana untuk mendirikan benteng ini. Perkampungan pekerja, barak prajurit, dan bengkel kerja dengan daya tampun 4.500 pekerja didirikan di dekat benteng. Para pekerja yang terlibat dalam proyek itu antara lain insinyur zeni spesialis perbentengan, penjaga, dan 3.000 kuli pribumi serta beberapa tahanan yang dihukum kerja paksa. Guna menghemat biaya pengangkutan, batu-bata dan genting dibuat di dekat benteng dengan mendirikan tungku-tungku pembakaran. Untuk kayu dan batu kapur, dua barang itu masih didatangkan dari tempat lain. Selama pembangunan, tiada halangan yang berarti selain bahan bangunan yang datang terlambat dan kebakaran di kamp pekerja. Pada tahun 1844, sekalipun belum tuntas pengerjaanya, benteng ini sudah mulai ditempati prajurit. Sebagai penghormatan kepada Raja Belanda kala itu, Willem I, benteng yang rampung dibangun tahun 1850 itu diberi nama Willem I.
Foto udara benteng Willem. Parit dan dinding tanah sudah diratakan ( sumber : Forts in Indonesia ).
Sambil berjalan menuju benteng, pandangan saya melihat sebuah bangunan bata berlantai dua yang berdiri di tengah sawah. Apabila diamati dari atas, rupa bangunan itu berbentuk seperti trapesium sama kaki atau seperti tanduk. Bangunan bata itu tak lain ialah bagian benteng yang disebut ravelin dan hornwork. Ia seolah ingin menjelaskan perihal teknologi yang dipakai pada benteng ini. Benteng Willem I walau dibangun pada abad ke-19, sejatinya ia masih menerapkan teknologi benteng abad-17 yang diciptakan oleh insinyur zeni Perancis, Le Preste de Vauban. Sistem itu pada dasarnya menekankan adanya sistem pertahanan luar yang dapat berdiri sendiri, sehingga apabila pertahanan luar diserang tidak berdampak langsung pada bagian utama benteng. Mula bagian ravelin atau hornworks yang ada di sudut benteng dibuat terpisah. Bagian ravelin atau hornworks memiliki dua tingkatan. Tingkat pertama digunakan untuk gudang, tingkat kedua untuk tempat tinggal prajurit, dan bagian paling atas untuk mengintai. Karena tertutup oleh gundukan tanah yang mengelilingi, maka hanya bagian atas ravelin atau hornworks yang terlihat dari luar benteng, sehingga kadangkala benteng Willem I disebut sebagai benteng pendem. Sementara itu, pergerakan musuh juga diperlambat dengan membuat jalan utama memutar ke utara dan pintu masuk utama benteng diletakan di sebelah timur, menghadap ke jalan lingkar Ambarawa yang sekarang. Danau Rawa pening yang terhampar di timur benteng juga menjadi pelindung alami benteng ini.
Bekas raveline.
Bekas hornworks.
Sekalipun dengan pertahanannya yang tangguh, prajurit yang berdiam di sini akhirnya harus menyingkir dari benteng ini. Bukanh musuh bersenjata kuat yang membuat mereka tersingkir, melainkan oleh rentetan gempa bumi yang pernah mengguncang Ambarawa tahun 1865 dan 1872. Walaupun tak ada korban jiwa yang jatuh, namun konstruksi benteng dinilai sudah tidak aman lagi, sehingga para prajurit dipindah ke barak di luar benteng. Selain itu, hal yang membuat mereka keluar dari benteng ini ialah karena langit-langit ruangan lantai dua rupanya dirasa terlalu rendah dan alhasil, ruangan menjadi terasa pengap dan tentu terasa gerah untuk ukuran orang Eropa yang tidak biasa dengan iklim panas.
Foto benteng Willem tahun 1947 ( sumber : gahetna.nl ).
Bagian benteng yang dipakai penjara. Foto tahun 1940an. ( Sumber : media-kitlv.nl )
Benteng ini selanjutnya bercerita bagaimana ia mulai berkurang kegarangannya. Pada saat benteng Willem I dibangun, tembakan artileri dari arah perbukitan belum mampu menjangkau benteng. Namun di pertengahan tahun 1850an, ditemukan teknologi meriam yang dikenal sebagai Meriam Armstrong. Berbeda dengan meriam bikinan era sebelumnya, meriam tersebut bagian dalam larasnya dibuat beralur, sehingga peluru dapat ditembak lebih akurat dan daya jangkaunya lebih jauh. Apabila meriam-meriam berteknologi mutakhir itu ditempatkan di perbukitan yang ada di sekeliling Ambarawa, benteng itu tentu saja hanya akan menjadi bulan-bulanan tembakan meriam itu. Berhadapan dengan teknologi seperti itu, tanggul tanah dan parit yang melindungi benteng ini dirasa ketinggalan zaman sehingga keduanya akhirnya diratakan. Selain itu, benteng ini juga perlahan ditinggalkan oleh prajuritnya pasalnya di luar benteng sudah ada barak dan Hindia-Belanda ternyata aman-aman saja dari ancaman luar. Sepeninggal para prajurit itu, separo benteng kemudian dikonversi menjadi penjara militer yang masih digunakan sampai sekarang.
Jembatan kayu di dalam benteng.


Salah satu sudut benteng Willem. Bangunan sebelah kanan masih dihuni oleh keluarga.
Saya kemudian berjalan menyusuri beceknya tanah benteng yang tampaknya baru saja diguyur hujan. Di hadapan saya sekarang, terbentang sebuah jembatan yang menghubungkan bagian utara dan selatan benteng. Kayu-kayu jembatan itu sudah mulai lapuk sehingga sudah tidak bisa dilalui lagi. Aura kekunoan benteng ini terasa begitu kentara. Lihatlah lengkungan-lengkungan yang menopang konstruksi benteng itu. Ia dibuat ketika teknologi beton bertulang belum ditemukan, sehingga tumpuan beban hanya bergantung pada tebalnya dinding bangunan itu sendiri. Supaya beban di atasnya dapat disangga, digunakanlah sebuah teknik kuno warisan bangsa Romawi yang dikenal sebagai teknik lengkung, dimana batu-bata dibuat agak mirip baji sehingga ketika ditata menghasilkan bentuk setengah lingkaran. Dengan teknik lengkung, ia mampu kokoh berdiri hingga hari ini meskipun tidak memakai tulangan besi.
Sudut Benteng Willem I.
Batu-bata merah yang menyusun konstruksi benteng.
Bagian benteng yang terlantar.
Di beranda lantai dua benteng Willem I, seorang ibu terlihat sedang menggedong anaknya yang tertidur lelap di gendongannya. Selain sebagai penjara, separo benteng ini juga masih dipakai sebagai rumah tinggal anggota keluarga tentara, sehingga tidak semua bagian benteng dapat dikunjungi demi kenyamanan mereka. Dari bekas barak yang masih ditempati oleh beberapa keluarga itu, setidaknya saya mendapat cerita dari benteng ini, bagaimana kehidupan keluarga para tentara di masa kolonial. Menurut catatan Philibert Dabry De Thiersant, seorang diplomat Perancis, prajurit militer Hindia-Belanda atau KNIL “ diizinkan membawa istri dan anak keluarga, kecuali di saat perang “. Di dalam barak yang luas dan ramai itu, “ mereka makan, menyiapkan makanan, dan membersihkan barak bersama “. Hukum militer harus mereka patuhi dengan baik. Tempat tidur diatur sesuai kompi pasukan yang ada. Masing-masing prajurit memiliki tempat tidur yang tinggi dilengkapi kelambu, mebel sederhana dan kelengkapan lain ( untuk personel Eropa disediakan selimut katun tebal dan personel bumiputra disediakan sarung yang dicap khusus agar tidak tertukar ). Karena tidak cukup ruang di dalam tangsi, maka anak-anak mereka tidur di kolong tempat tidur, sehingga lahirlah istilah anak kolong yang menuju pada anak-anak tentara. Setiap tentara dijatah dengan daging segar roti, beras, garam, dan merica yang pembagiannya tidak ada perbedaan antara tentara Eropa dengan Bumiputera, kecuali bagi daging babi yang tidak diberikan untuk yang beragam Islam. Supaya gerak-gerik tentara Bumiputera dapat diawasi, sejumlah bintara Eropa tinggal di dalam barak kompi Bumiputera dan Kompi Eropa tinggal dekat kompi Bumiputera ( Santosa, 2016; 141-142 ).
Letnan S.W. Albreda dan istrinya di beranda depan rumahnya. Terlihat pot-pot tanaman yang tertata rapi di halaman depan rumah ( sumber : media-kitlv.nl ).
Kediaman S.W. Albreda saat ini.
Puing bangunan rumah Indis
Ketika melangkah ke arah penjara militer yang ada di selatan benteng, entah mengapa saya merasa aura militer benteng ini hidup kembali, apalagi ketika melihat petugas berseragam yang sedang berjaga di pintu masuk penjara. Tembok tinggi yang berdiri melintang di tengah-tengah benteng memisahkan pengunjung luar dengan kelamnya dunia penjara. Di hadapan tembok penjara itu, berdiri tiga buah bangunan berlanggam Indis Klasik dengan pilar-pilar Yunaninya yang bertengger di beranda depan. Dari tiga rumah itu, satu bangunan kini hanya menyisakan puing dindingnya saja. Rumah-rumah itu sejatinya ditempati oleh komandan tentara benteng ini. Bagian depannya dihiasi dengan pot-pot tanaman tropis yang menjadi digemari oleh orang-orang Eropa kala itu.
Pintu utama benteng. Aslinya ada menara jam di atasnya.
Pintu masuk benteng sisi utara.
Dari dalam benteng, saya menjajal untuk jalan kaki mengitari benteng ini. Benteng Willem I rupanya masih belum selesai bercerita. Kali ini, dengan raut sedih, ia bertutur kisah kelam di masa penduduka Jepang. Kala itu, ia dipakai sebagai kamp internir orang Eropa dan mereka yang dicurigai membangkang kepada pemerintah militer Jepang. Setidaknya ada seribu orang yang ditahan di dalam benteng itu. Jatah ransum untuk mereka amat sedikit. Dalam dua kali sehari, yakni di pagi dan siang hari, mereka memasak jagung yang seringkali tidak matang dimasak. Malam harinya, mereka harus puas dengan nasi dan sayuran yang sedikit. Tiada air untuk mencuci, tapi untungnya, masih ada air untuk diminum.
Parade tentara Belanda di dalam benteng pada tahun 1947. Di masa agresi, benteng ini diduduki Belanda dan menjadi markas tentara hingga agresi berakhir ( sumber : gahetna.nl ).
Dengan berapi-api, benteng ini kembali bertutur, kali ini di masa republik ini masih belia. Kala itu oleh para republikan dijadikan kamp tahanan orang Eropa dan tentara Jepang yang sudah menyerah. Tentara sekutu datang ke sini untuk mengevakuasi para tawanan itu dari benteng ini. Namun tanpa diduga, pemerintah Belanda membonceng mereka dan berusaha menegakan kembali kuasa mereka di negeri yang baru saja merdeka itu. Mula meletuslah pertempuran yang berjuluk Palagan Ambarawa itu. Tatkala pengepungan dilakukan oleh TKR ( tentara Indonesia pada saat itu ), segala serangan balik dilancarkan oleh sekutu. Pesawat Thunderbolt meraung di langit Ambarawa, menjatuhkan bom-bom ke tanah. Tembakan artileri bertubi-tubi menghujam bumi Ambarawa. Namun serangan itu gagal mematahkan perlawanan TKR sehingga pada bulan Desember, Sekutu bergegas mengevakuasi rombongan tawanan dan mundur kembali ke Semarang.

Begitulah benteng tua di tepi rawa itu menceritakan hikayatnya, sebuah hikayat yang menceritakan perjalanan sejarah sebuah bangsa, dari puncak masa kolonial, dimana pemerintah kolonial berupaya mengamankan Hindia-Belanda dari ancaman asing, berlanjut ke masa pendudukan Jepang, ketika orang-orang barat diperlakukan sebagai tawanan oleh orang timur yang dulu dipandang rendah, hingga awal kemerdekaan, ketika benteng ini menjadi saksi dari perjuangan anak bangsa yang mati-matian mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Dahsyatnya kisah sejarah yang dituturkan benteng ini ternyata tidak sebanding dengan perlakuan yang diterimanya saat ini. Entah karena tiada biaya untuk mengurusnya atau ia dianggap sebagai peninggalan penjajah sehingga sengaja dibiarkan rusak termakan usia. Entah apakah benteng ini di kemudian hari masih dapat bercerita atau tidak…

Referensi
Santosa, Iwan. 2016. KNIL, Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Perancis. Jakarta: Penerbit Kompas.

Tim Penyusun. 2012. 
Forts in Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://www.indischekamparchieven.nl/

Sabtu, 22 April 2017

Remah-Remah Jejak Sejarah di Kutoarjo

Jejak Kolonial pada kesempatan kali ini akan mengajak anda melihat berbagai Jejak Sejarah di Kutoarjo, sebuah kota kecil yang terletak tujuh kilometer ke barat dari Purworejo. Di Kutoarjo ini, kita akan melihat berbagai peninggalan sejarah menarik untuk ditelusuri, mulai dari pendopo dengan atap unik, rumah Tionghoa peranakan yang satu-satunya masih tersisa di Jawa bagian selatan, hingga saluran air peninggalan bupati pribumi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan alam. Apa saja jejak sejarah yang masih bisa kita lihat di Kutoarjo ? Mari kita telusuri….

Semula bernama Kabupaten Semawung….
Peta Kutoarjo tahun 1909. Tempat-tempat pejabat penting seperti Bupati ( Reg.= Regent ), Patih ( D = District ), dan Kontrolir ( C = Controloeur ) ditandai dengan tiang bendera Belanda. Di sebelah timur tampak Kali Jali yang menjadi batas alami kabupaten Purworejo dengan kabupaten Kutoarjo. ( Sumber ; maps.library.leiden.edu ).
Kutoarjo yang kita kenal sekarang, dulunya merupakan sebuah wilayah Kabupaten yang bernama Kabupaten Semawung. Pada waktu itu kabupaten Semawung secara administratif berada di bawah Karesidenan Bagelen yang dibentuk oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1830. Kabupaten Semawung pada waktu itu dipimpin oleh seorang bupati bernama Sawunggaling, yang dibantu oleh para pejabat lain seperti Kertodiwirio sebagai patih dan Ario Sindoeredjo sebagai kolektor. Kabupaten Semawung membawahi beberapa distrik yang dipimpin oleh kepala distrik. Distrik-distrik yang berada di bawah Kabupaten Semawung antara lain Distrik Sucen yang dipimpin oleh Resjowigoeno, Distrik Madjier yang dipimpin oleh Djojonegoro, Distrik Kendal yang dipimpin oleh Djojopergoto, Distrik Paitan yang dipimpin oleh Bausasra, Distrik Kiangkong yang dipimpin oleh Djojodirdjo, dan Distrik Pituruh yang dipimpin oleh Tjokroredjo. Untuk mengawasi jalannya pemerintahan pribumi, pemerintah kolonial menempatkan seorang controleur atau kontrolir yang secara hierarki berada di bawah asisten residen ( Penadi, 2000 ; 67-68 ).
Para perempuan yang bekerja sebagai pemintal benang di sebuah pabrik benang di Kutoarjo. Dibandingkan Purworejo, perekonomian Kutoarjo jauh lebih maju. ( sumber ; media-kitlv.nl ).
Awalnya, letak Kabupaten Semawung bukanlah di kota Kutoarjo yang sekarang, melainkan agak ke selatan. Tepatnya di daerah Semawung Kembaran, kemudian pindah ke Semawung Daleman dan akhirnya pada masa bupati R.M. Soerokosoemo, ibukota Kabupaten Semawung dipindah ke Desa Senepo yang kelak menjadi cikal bakal kota Kutoarjo yang sekarang. Ppada masa pemerintah R.M. Soerokoesoemo, Kutoarjo dibangun dengan pola kota tradisional Jawa yang meliputi alun-alun sebagai pusat kota, masjid di sebelah barat alun-alun, dan kediaman penguasa di sebelah utara. Selain itu, dibangun pula sebuah pasar yang kini menjadi Pasar Kutoarjo sebagai pusat perekonomian Kutoarjo. Dibandingkan dengan Purworejo, kehidupan perekonomian Kutoarjo jauh lebih maju. Banyak pengrajin tenun dan barang pecah belah yang tinggal di Kutoarjo. Roda perekonomian semakin semarak dengan kehadiran orang-orang Tionghoa dan tambah semarak dengan dibangunnya jalur kereta Yogyakarta-Cilacap pada tahun 1887 oleh Staatspoorwegen, yang melewati Kutoarjo dan dibangun sebuah stasiun di sini ( Anonim, 58 ). Dibandingkan Purworejo, Stasiun Kutoarjo jauh lebih ramai karena Stasiun Kutoarjo dilalui oleh jalur kereta dari Batavia-Yogyakarta sehingga banyak kereta yang lewat Kutoarjo. Berbeda dengan Stasiun Purworejo yang letaknya berada di ujung sehingga tidak semua kereta berhenti di Purworejo.
Seperangkat boneka yang menggambarkan bupati Kutoarjo, Pangeran Poerboatmodjo dan istrinya. Foto diambil pada tahun 1895. ( sumber ; gahetna.nl ).
Putra Pangeran Poerboatmodjo, R.A.A. Poerbohadikoesoemo ( dalam lingkarang merah, berkacamata ) yang selanjutnya menjadi bupati Kutoarjo menggantikan ayahnya. Tidak seperti sekarang dimana jabatan bupati dipilih oleh rakyat, di masa lalu jabatan bupati diwariskan secara turun temurun.
Di sebelah timur Kutoarjo, terdapat sebuah sungai yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil juga. Kali Jali namanya. Di masa lalu, sungai ini menjadi momok bagi masyarakat Kutoarjo karena sungai ini kerap meluap. Namun di masa sekarang, banjir akibat Kali Jali tidak separah dulu lagi berkat jasa bupati Pangeran Poerboatmodjo yang menjadi bupati Kutoarjo dari tahun 1870-1915. Pangeran Poerboatmodjo memiliki keahlian di bidang pemanfaatan sumber daya alam, konservasi lingkungan, dan tata guna air. Sebelum menjadi bupati  beliau bekerja Dinas Topografi Karesidenan Bagelen dan mantri pengairan Bendungan Boro. Bersama residen Bagelen, beliau melawat ke Kalkuta, India untuk belajar pengairan dan irigasi dari para insinyur pengairan Inggris yang membendung sungai Gangga. Ketika masa pemerintahan bupati R.A.A. Pringgoatmodjo yang juga sekaligus ayahnya, Kutoarjo dilanda banjir besar pada 23 Februari 1861. Konon banjir tersebut mencapai ketinggian 4,5 meter. Akibatnya beberapa tempat ada yang tertimbun oleh sedimen banjir setinggi satu meter. Supaya Kutoarjo bebas dari banjir, membangun beberapa bendung, kanal, dan pintu air di sekitar Kutoarjo. Selain itu, beliau juga menghijaukan tanah perbukitan Gunung Tugel di utara Kutoarjo dengan pohon jati. Wilayah pantai selatan Kutoarjo juga turut menjadi perhatiannya. Di sana beliau melakukan kegiatan penghijauan dengan menanam pohon Nyamplung. Tujuannya agar pantai menjadi teduh dan tidak tergerus angin. Atas pengabdiannya di bidang lingkungan, Pangeran Poerboatmodjo mendapat banyak penghargaan dari kerajaan Belanda. Oleh karena itu, sudah selayaknya masyarakat Kutoarjo berterima kasih kepada Pangeran Poerboatmodjo karena berkat jasanya, Kutoarjo terbebas dari banjir besar ( Pranoto, 2017; 1-3 ).
Seorang perwira Belanda dan Indonesia yang sedang mengamati parade para prajurit TNI di sepanjang jalan yang kini menjadi Jalan M.T. Haryono. Di sebelah kiri tampak barisan rumah Tionhoa yang rusak. ( sumber : gahetna.nl )

Seiring dengan perombakan susunan administratif yang dilakukan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1930an, maka pada tahun 1933 Kabupaten Kutoarjo yang semula berdiri sendiri dilebur dengan Kabupaten Purworejo dengan nama Kabupaten Purworejo, demikian juga pusat pemerintahannya yang ikut diboyong ke Purworejo ( Musadad, 2002; 8 ).

Jejak-Jejak Sejarah
Persearan peninggalan bersejarah di Kutoarjo. Keterangan ; 1. Pendhopo Kutoarjo ; 2. Masjid Agung Kutoarjo ; 3. Rumah Patih ( sekarang kantor Kecamatan Kutoarjo ) ; 4. Rumah Kontrolir ; 5. Bekas rumah mayor Tionghoa ; 6. Stasiun Kutoarjo ;7. Rumah gaya Victorian ( sekarang Hotel Kencana ) ; 8. Jembatan Kali Jali.
Meskipun tidak sebanyak Purworejo, Kutoarjo memiliki berbagai peninggalan sejarah yang masih menarik untuk dilihat. Peninggalan sejarah pertama yang dapat kita lihat adalah alun-alun Kutoarjo yang dilalui oleh jalan utama Purworejo-Kebumen yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Alun-alun ini diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan bupati R.M. Soerokosoemo. Dalam konsep pola tata kota tradisional di Jawa, alun-alun merupakan elemen paling penting karena alun-alun memiliki fungsi sebagai pusat kota. Di alun-alun diadakan berbagai upacara dan perayaan, baik yang bersifat sakral ataupun sekular. Sekilas, alun-alun mirip dengan lapangan terbuka lain. Perbedaanya yakni adanya pohon beringin di tengah alun-alun. Pohon beringin ini bisa berjumlah satu atau dua. Inilah mengapa pohon beringin di tengah alun-alun harus dilestarikan karena merupakan komponen yang membedakan alun-alun dengan lapangan biasa serta merupakan lambang bahwa pemimpin harus bisa menyatu dengan rakyat.
Alun-alun Kutoarjo.
Masjid Agung Kutoarjo.
Masjid Agung Kutoarjo pada tahun 1900an. Bandingkan dengan kondisinya sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Kantor Pengadilan Agama dan penghulu.
Di sebelah barat alun-alun, terdapat masjid Jami Kutoaarjo yang dibangun pada tahun 1860 oleh bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Pada tahun 1875, masjid ini dipugar oleh putra R.A.A. Pringgoatmodjo, R.A.A. Poerboatmodjo. Sayangnya, bentuk masjid ini sendiri sudah tidak asli lagi. Atap masjid yang dulunya berupa atap tumpang kini sudah menjelma menjadi atap kubah. Di depan masjid, masih berdiri tegak sebuah bangunan lama yang dahulunya diperuntukan sebagai kantor pengadilan agama dan penghulu.
Pendhopo Kutoarjo, bekas kediaman bupati Kutoarjo yang kini menjadi ruamh dinas wakil bupat Purworejo. Terlihat bentuk atapnya seperti masjid-masjid lama.
Perpaduan budaya Jawa dan Eropa sangat terasa pada bekas rumah Bupati Kutoarjo seperti yang terlihat pada tiang saka guru pendhopo dan pilar-pilar Yunani di belakangnya.
Berada di sebelah utara alun-alun Kutoarjo, terdapat bangunan yang dahulu menjadi kediaman bupati Kutoarjo dan sekarang menjadi rumah dinas wakil bupati Purworejo. Bangunan ini dibangun pada Bupati R.A. Soerokoesomo dan selesai pada masa bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Bangunan ini terdiri dari pendopo yang disambung dengan selasar dan di belakang pendopo terdapat rumah kediaman. Sementara itu di depan pendopo terdapat rumah jaga yang tersambung ke pendopo dengan sebuah selasar. Berbeda dengan rumah pejabat Jawa lainnya yang pendoponya menggunakan atap berbentuk Joglo, bangunan bekas rumah bupati Kutoarjo ini menggunakan atap tajug tumpang yang biasanya dipakai pada bangunan masjid. Gaya arsitektur bangunan ini memadukan gaya arsitektur tradisional Jawa - seperti yang terlihat pada empat tiang soko guru dari kayu yang menopang atap pendopo dan aristektur kolonial - yang tampak pada pilar-pilar Yunani di bagian belakang pendopo.
Pendopo Kecamatan Kutoarjo, bekas rumah kediaman patih.

Tidak jauh dari kediaman bupati, tepatnya di jalan Mardiusodo terdapat kantor kecamatan Kutoarjo yang menempati bekas kediaman patih. Hampir mirip dengan rumah bupati, rumah patih ini terdiri dari pendopo dengan atap limas dan bangunan tempat tinggal di belakang pendopo.
Bekas kediaman controleur Kutoarjo. Perbedaan rumah pejabat Belanda dengan pribumi adalah tiadanya pendopo di bagian depan rumah pejabat Belanda. Sebagai ganti pendopo adalah sebuah beranda di bagian depan.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa untuk mengawasi jalannya pemerintahan bupati, maka pemerintah kolonial menempatkan seorang controleur atau kontrolir di Kutoarjo yang tinggal di sebuah rumah yang posisinya berada di belakang kantor Polsek Kutoarjo. Rumah tersebut masih ada sampai sekarang. Apabila kita lihat secara sekilas, rumah ini bergaya arsitektur campuran Jawa dengan Eropa atau biasa disebut sebagai arsitektur Indis. Ciri arsitektur Indis bisa dilihat dari atapnya yang sekilas berbentuk atap kampung yang lebar seperti rumah-rumah Jawa, jendelanya tinggi besar dan ada beranda di bagian depan. Di sepanjang teritisan terdapat hiasan gigi talang yang dibuat seperti tetesan air hujan. Ukurannya yang besar seolah menunjukan keangkuhan penguasa kolonial di hadapan bangsa pribumi walaupun sebenarnya tujuan rumah dibangun dalam ukuran sebesar itu agar ruangan di dalam tidak terasa panas. Menariknya, mereka setidaknya masih menghormati kedudukan bupati dengan membangun rumah tidak memunggungi kediaman bupati. Apabila rumah bupati dibangun menghadap ke selatan, mereka ( orang Belanda ) membangun rumah menghadap ke utara. Ya, seperti yang disebutkan oleh John C. van Dyke, kepercayaan, adat istiadat, dan tradisi kaum pribumi masih dihormati oleh orang Belanda karena tujuan penjajahan Belanda di sini bukanlah untuk mengubah kebudayaan, melainkan “hanya” menguras sumber daya alam saja ( Rush, 2013; 8 ).
Stasiun Kutoarjo pada masa sekarang. Sebelum dirombak banguann Stasiun Kutoarjo mirip sekali dengan Stasiun Purworejo/
Rumah-rumah tua di sekitar Stasiun Kutoarjo. Rumah-rumah ini dahulu dihuni oleh para pegawai Stasiun Kutoarjo.
Jejak sejarah lainnya di Kutoarjo adalah bangunan Stasiun Kutoarjo yang dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap pada tahun 1887. Sungguh disayangkan, fasad stasiun ini sudah dirombak dan hanya menyisakan bagian atap peron saja. Di sekitar stasiun kita dapat menjumpai rumah-rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas pegawai stasiun Kutorjo. Uniknya, ada dua rumah yang bentuknya mirip dengan rumah dinas Stasiun Purworejo.
Deretan bangunan berlanggam Tionghoa di sepanjang jalan M.T. Haryono.
Di sepanjang jalan MT. Haryono, Kutoarjo, kita dapat menjumpai berbagai bangunan ruko berarsitektur Tionghoa yang menjadi bukti eksisnya komunitas Tionghoa di Kutoarjo yang usianya lebih tua daripada komunitas Tionghoa di Purworejo. Bahkan nama Semawung sendiri konon berasal dari nama saudagar benang bernama Sie Mau Wong. Ada kemungkinan bahwa orang-orang Tionghoa di Kutoarjo sebagian besar merupakan pengungsi dari Desa Jana, sebuah desa di sebelah  selatan Kutoarjo. Mereka mengungsi akibat terjadi sebuah konflik sosial dengan warga lokal. Tidak diketahui akar penyebab konflik tersebut, tapi kecemburuan sosial sering disebut sebagai pemicu konflik tersebut.
Rumah besar milik bpk. Pao Ing. Dari ukuran dan banyaknya ornamen, rumah ini tampaknya dahulu dihuni oleh Mayor Tionghoa.
Pintu utama dengan ornamen yang menarik.
Dari seluruh bangunan tua bergaya Tionghoa di Kutoarjo, bangunan yang paling mencolok adalah bangunan yang sekarang masih dihuni oleh bpk. Pao Ing. Berbeda dengan rumah Tionghoa lainnya yang berada di sepanjang jalan yang sama, rumah berlantai dua ini memiliki beranda depan yang dipercantik dengan dua pilar yang dihiasi dengan motif sesuluran. Di bawah teritisan atap yang berbentuk seperti kipas juga terdapat hiasan sesuluran yang kaya warna. Dari ukuran dan mewahnya hiasan, rumah ini tampaknya dahulu dihuni oleh seorang Mayor Tionghoa. Di masa kolonial, kalau pemerintah kolonial mengangkat bupati sebagai pemimpin orang Jawa, maka pemerintah kolonial mengangkat seorang Tionghoa yang diberi gelar titular “mayor” untuk memimpin komunitas Tionghoa. Orang Tionghoa yang diangkat menjadi mayor adalah yang terpandang di komunitasnya. Seandainya rumah ini sudah tidak dihuni lagi oleh pemiliknya, mungkin rumah ini bisa dikembangkan sebagai Museum Peranakan Tionghoa yang apabila ditata dengan bagus, bisa menjadi obyek wisata sejarah unggulan Kutoarjo.
Bangunan bergaya Victorian yang saat ini menjadi Hotel Kencana.
Selain Hotel Kencana, hotel lain yang memanfaatkan bangunan lama di Kutoaro adalah Hotel Sawunggalih.
Di jalan raya Kutoarjo-Kebumen yang ramai, terdapat sebuah bangunan tua yang masih terawatt dengan baik dan saat ini dimanfaatkan sebagai hotel Kencana. Dari sisi arsitektur, rumah ini mendapat pengaruh gaya Victorian yang berkembang pada abad ke-19. Pengaruh gaya Victorian dapat dilihat dari menara kecil pada salah satu sisi bangunan. Di Purworejo sendiri tidak ada bangunan yang bergaya arsitektur seperti ini sehingga bangunan ini tergolong unik. Untuk menambah estetika, rumah ini dihiasi dengan lantai tegel dan kaca patri. Warna pink yang mendominsi hampir seluruh bangunan menjadikan rumah ini tampak seperti rumah boneka…
Saluran air Kali Anyar, saluran air peninggalan Pangeran Poerboatmodjo.

Mengalir di sebelah utara Kutoarjo, terdapat saluran air cukup besar peninggalan Pangeran Poerboatmodjo. Saluran air inilah yang dahulu melindungi masyarakat Kutoarjo dari ancaman banjir. Masyarakat Kutoarjo menyebut saluran ini Kali Anyar.
Pejagalan Hewan Kutoarjo.
Kutoarjo memiliki bangunan pejagalan hewan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Letak pejagalan tersebut tidak jauh dari saluran air tadi. Pejagalan tersebut didirikan oleh pemerintah kolonial supaya lebih mudah diperiksa. Di masa lalu, dimana dunia kesehatan hewan masih belum berkembang pesat seperti sekarang, hewan-hewan yang sering dikonsumsi seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi rentan terkena penyakit. Apabila orang menyembelih hewan disembarang tempat, tentu orang tidak akan tahu apakah hewan yang disembelih sehat dan dagingnya layak dikonsumsi, sehingga penyakit seperti anthrax dapat menular ke tubuh manusia. Untuk mencegah hal demikian, pemerintah kolonial mendirikan tempat khusus pejagalan hewan. Pejagalan ini diatur sedemikian rupa. Ada tempat untuk pemeriksaan hewan, tempat pengulitan, tempat membersihkan jeroan, tempat pembuangan bagian hewan yang tidak diperlukan, dan kantor untuk pengurus pejagalan. Tempat penyembelihan untuk hewan babi yang haram dikonsumi oleh umat Islam juga dipisahkan dari tempat penyembelihan lain. Lokasinya dibangun di dekat saluran air supaya mudah membersihkan isi perut hewan, membua ng bagian yang tidak diperlukan seperti darah dan tempat para juru jagal membersihkan diri. Pada masa kolonial, pejagalan Kutoarjo termasuk pejagalan yang sudah ketinggalan zaman. Di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, dan Malang, pejagalan hewan dibangun seperti pabrik, sudah dilengkapi kamar pendingin atau freezer, terdapat laboratorium, besi yang dipakai untuk menggantung bukan besi yang mudah berkarat, dan tersedia tempat tersendiri untuk mencuci perut hewan dengan air hangat yang mengalir, bukan dari saluran air kotor ( Treffers, 1935 ; 8 ).
Rumah dengan tulisan 1918 di bagian depan.
Dua rumah bekas rumah veldpolitie yang sekarang sudah diratakan.

Berpindah ke jalan Wismoaji yang lokasinya agak jauh dari jalan raya, berdiri dengan tenangnya sebuah bangunan tua dengan angka tahun 1918 pada bagian depan. Bangunan tua tersebut saat ini dimanfaatkan sebagai PAUD dan nasibnya lebih baik daripada beberapa bangunan tua di Kutoarjo lain yang kini tinggal fotonya saja seperti bekas rumah dinas veldpolitie atau polisi pada masa kolonial di dekat Polsek Kutoarjo.
Jembatan Kali Jali pada tahun 1930.
Jembatan Kali Jali pada masa sekarang.
Terakhir, masih ada satu lagi peninggalan sejarah yang masih bisa kita lihat di Kutoarjo. Wujudnya kali ini bukan bangunan, melainkan struktur jembatan yang membentang di atas Kali Jali. Meski usianya sudah tua, jembatan ini konstruksinya terlihat masih kuat. Meski terlihat kuat, jembatan ini tidak lagi menjadi jembatan utama karena kendaraan yang melintas semakin banyak dan beban jembatan tidak didesain untuk memanggul beban sebanyak sekarang. Fungsi jembatan ini sudah digantikan dengan jemabtan baru di sebelah selatannya. Jembatan berbentuk busur ini masih terlihat paku-paku kelingnya yang menyambungkan setiap bagian baja yang menyusun jembatan ini. Di Purworejo, jembatan peninggalan Belanda dari baja yang masih asli tinggal sedikit dan salah satunya ada di Kutoarjo…

Demikianlah penelusuran Jejak Kolonial mengenai berbagai peninggalan sejarah Kutoarjo yang banyak bagai remah-remah. Sayangnya, seperti halnya di tempat lain, banyak pula peninggalan sejarah di Kutoarjo yang perlahan mulai hilang tergusur oleh pembangunan. Akankah peninggalan sejarah ini tinggal fotonya saja suatu hari nanti ? Kepedulian kita lah yang akan menentukan jawabanya….

Referensi :
Treffers, Dr.W. 1935. " De Modernising Van Het Slachthuis voor Groot Vee en Geiten Te Cheribon " dalam Locale Techniek 4e Jaargang No.3 Mei 1935. Bandung.

Musadad. 2002. Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Penadi, Radix . 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya.

Pranoto, Agung. 2017. Kisah Tokoh Poerworedjo Djaman Doeloe : Pangeran Poerboatmodjo.