Kamis, 27 April 2017

Benteng Willem I Ambarawa, Hikayat Benteng Tua di Tepi Rawa

Benteng Willem I, sebuah benteng tua yang terletak di tepi sebuah rawa besar yang dikenal sebagai Rawa Pening, Ambarawa.  Benteng yang namanya diambil dari nama seorang raja yang pernah memerintah kerajaan Belanda ini menyimpan banyak kisah. Seperti apa kisah lengkapnya ?

Hikayat Sebuah Benteng
Foto udara Benteng Willem I pada tahun 1930an. Terlihat bangunan-bangunan pertahanan di sekitar benteng ( sumber : Forts in Indonesia ).
Untuk memahami sejarah berdirinya benteng Willem Ambarawa, kita harus kembali ke Eropa abad ke-16. Pada waktu itu, Eropa sedang terpecah belah akibat munculnya gerakan Reformasi yang dicetuskan oleh Martin Luther pada tahun 1517 melawan kekuasaan Gereja Roma yang dianggap Luther sudah terlalu materialis. Beberapa negeri di Eropa ada yang mengikuti paham Luther, ada pula yang masih setia dengan Roma. Salah satu negeri yang kemudian menjadi pengikut Luther adalah Belanda. Pada waktu itu, Belanda merupakan wilayah jajahan Spanyol yang masih setia dengan Roma. Akhirnya di bawah pimpinan Pangeran Maurice dari Dinasti Orange, Belanda memberontak terhadap kekuasaan Spanyol dan akhirnya pada tahun 1581, Belanda merdeka dari Spanyol. Pada awal kemerdekaannya, wilayah Belanda mencakup wilayah Belanda yang sekarang, Belgia, dan Luxembourg. Sebagian rakyat di wilayah Belgia dan Luxembourg masih menjadi penganut Katolik sehingga wilayah ini menjadi rebutan antara Perancis, Austria, dan Belanda ( Simon, 1983 ; 83-86 ).
Raja Willem I ( 1772-1843 ). Pada masa pemerintahannya, Belgia lepas dari pangkuan Kerajaan Belanda. Namanya kemudian diabadikan menjadi sebuah benteng di Ambarawa ( sumber : commons.wikimedia.com ).
Nah, pada tahun 1830, Belgia berusaha melepaskan diri dari Kerajaan Belanda sehingga timbulah apa yang dikenal sejarah sebagai Revolusi Belgia. Negara-negara asing seperti Perancis membantu Belgia melawan Belanda. Imbas konflik inipun ternyata sampai di Hindia-Belanda yang baru saja pulih dari Perang Jawa. Van den Bosch, gubernur baru Hindia-Belanda khawatir jika sewaktu-waktu kekuasaan asing seperti Inggris dan Perancis menyerbu Jawa kembali seperti yang pernah terjadi pada tahun 1811 dengan memanfaatkan situasi politik di Belanda yang sedang kacau. Oleh karena itulah Van den Bosch memberi instruksi kepada komandan zeni militer, Colonel Van Der Wijk, untuk sesegera mungkin mendirikan benteng di titik-titik strategis Pulau Jawa ( Kemendikbud, 2012; 133-134 ) .
Lukisan Ambarawa pada tahun 1850an. Di kejauhan tampak benteng Willem I dengan pemandangan Gunung Telomoyo yang samar-samar ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Strategi pertahanan pulau Jawa yang didesain oleh Van den Bosch meliputi  pendirian benteng atau citadel baru di kota-kota pesisir seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya, dimana musuh diperkirakan akan mendaratkan pasukannya di sana. Belajar dari kekalahan Belanda ketika perang melawan Inggirs pada tahun 1811 yang disebabkan tiadanya benteng pertahanan di wilayah pedalaman, Van den Bosch mendirikan benteng baru di tiga titik pedalaman Pulau Jawa, yakni Gombong di Barat, Ngawi di timur, dan Ambarawa di tengah. Pembangunan benteng baru tersebut biayanya ditanggung oleh kerajaan Belanda. Dari ketiga benteng baru di wilayah pedalaman tadi, benteng di Ambarawa adalah yang paling penting karena akan menjadi titik kumpul pasukan apabila seluruh wilayah pesisir sudah dikuasai musuh  ( Kemendikbud, 2012; 134 ).
Peta Ambarawa tahun 1905. terlihat letak benteng yang berada di tepi selatan kota. Untuk menuju benteng harus jalan memutar ke utara. Di sebelah barat terdapat garnisun yang didirikan puluhan tahun setelah benteng dibangun ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Untuk membangun benteng baru di Ambarawa  tadi, terlebih dahulu dibuat sebuah perkampungan pekerja, kamp militer, dan bengkel kerja yang dapat menampun 4.500 pekerja. Dapat dibayangkan betapa besarnya proyek pembangunan benteng ini. Di antara para pekerja tadi, terdapat 3.000 kuli pribumi dan sisanya terdiri dari pengawal, insinyur, dan tahanan. Pembangunan benteng membutuhkan material yang sangat banyak. Kecuali kayu dan batu kapur, material benteng seperti bata dan genting dibuat di dekat benteng untuk mengurangi biaya transport. Tidak ada halangan besar dalam pembangunan benteng selain material yang terlambat datang dan kebakaran kecil. Pada 1844, benteng baru ini mulai ditempati dan setelah pembangunannya rampung pada 1850, sebagai bentuk penghormatan terhadap raja Willem I, benteng ini diberi nama benteng Willem I.
Bagian benteng yang diubah menjadi penjara pada tahun 1850. Hingga sekarang penjara tersebut masih dipakai ( sumber : media-kitlv.nl )
Selanjutnya pada tahun 1865 dan 1872, terjadi gempa bumi yang merusak sebagian benteng. Meski tidak menelan korban jiwa, namun komandan tentara memutuskan untuk mengosongkan separo benteng. Tentara yang dahulu tinggal di bagian yang dikosongkan tadi dipindah ke barak tentara di luar benteng. Bagian benteng yang dikosongkan kemudian diubah menjadi penjara militer. Untuk memudahkan mobilitas pasukan dan suplai kebutuhan, maka pemerintah kolonial meminta perusahaan kereta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij untuk membangun jalur kereta dari Kedungjati ke Ambarawa. Jalur ini selesai pada tahun 1873 dan di sebelah utara benteng, terdapat stasiun yang diberi nama serupa dengan benteng.
Benteng Willem I pada tahun 1947. Foto ini menghadap ke selatan. Terlihat kondisi benteng yang mulai rusak.
Selanjutnya pada masa pendudukan Jepang, benteng ini digunakan untuk kamp internir warga Eropa dari Ambarawa dan sekitarnya serta digunakan untuk para tahanan politik dan orang yang dicurigai akan melawan pemerintah militer Jepang. Diperkirakan ada seribu orang yang diinternir di dalam benteng Willem I. Setelah Indonesia merdeka, Benteng Willem I dikuasai oleh gerilyawan republik dan digunakan kamp untuk menawan orang Eropa yang seluruhnya pria dewasa dan tentara Jepang. Pada waktu itu diperkirakan ada 500 orang yang ditawan di dalam benteng. Ransum di dalam kamp sangat sedikit. Pada pagi dan siang hari, para tawanan memasak jagung yang kadang tidak matang ketika memasak. Di malam hari, para tawanan harus puas makan dengan nasi dan sayur yang sedikit. Meskipun ada air untuk minum, namun tak ada air untuk mencuci. Pada tanggal 23 Oktober, Tentara sekutu tiba di Ambarawa di bawah komando Brigadir Bathell dengan maksud untuk membebaskan para tawanan yang ditahan di dalam benteng.
Barisan polisi militer bentukan militer Belanda yang sedang berparade di dalam benteng. Benteng ini sempat diduduki oleh militer Belanda. Foto ini menghadap ke timur. Hal ini didasarkan pada menara jam di latar belakang yang sekarang sudah hilang.
Benteng Willem I menjadi saksi bisu perjuangan anak bangsa mempertahankan negerinya dalam peristiwa Palagan Ambarawa yang mencapai puncaknya pada 12 Oktober 1945. Pertempuran ini pecah akibat ulah pemerintah Belanda yang berusaha mendirikan kembali kekuasaanya di Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu yang berniat mengevakuasi para tawanan. Pada puncak-puncaknya pertempuran Palagan Ambarawa, para tentara republik Indonesia ( pada waktu itu masih bernama TKR ) mengepung benteng. Ketika pengepungan oleh TKR dilakukan, segala serangan balik dilancarkan oleh Sekutu dengan menggunakan artileri berat dan serangan udara dari skuadron pesawat Thunderbolt. Dentuman tembakan artileri dan raungan suara pesawat Thunderbolt menggema di udara sekitar benteng. Namun serangan balik sekutu tersebut gagal mematahkan perlawanan rakyat Indonesia, sehingga pada bulan Desember sekutu memutuskan mempercepat evakuasi rombongan tawanan ke Semarang dan oleh Brigadir Bathell, semua pasukan sekutu di Ambarawa dan sekitarnya ditarik mundur ke Semarang.

Mengintip Benteng
Rekonstruksi tanggul tanah ( garis hijau ), parit ( garis biru ) dan jalan utama yang sudah hilang ( kuning ).
Dari segi teknologi pertahanan, benteng Willem I masih menerapkan teknologi rancang bangun benteng yang diperkenalkan oleh insinyur zeni dari Perancis, Le Preste de Vauban. Pada dasarnya, sistem benteng yang dibuat Vauban ini menekankan pada sistem pertahanan luar yang berdiri sendiri. Di benteng Willem I, sistem Vauban dapat kita lihat dari keberadaan bangunan-bangunan di sekitar bangunan utama benteng Willem. Misalnya bangunan yang disebut hornworks yang terdapat di keempat sudut benteng dan raveline. Bangunan-bangunan tersebut memiliki dua lantai, dimana lantai pertama digunakan untuk gudang atau penjara dan lantai kedua untuk tempat tinggal prajurit. Dinding bangunan ini memiliki celah untuk mengintip dan menembak. Dahulu benteng Willem I dikelilingi oleh parit dan tanggul tanah berukuran masif, sehingga benteng ini kadang disebut Benteng Pendem karena dari luar seperti terpendam oleh tanah.  Meskipun terlihat sederhana, namun tanggul tanah sebenarnya lebih efektif meredam peluru. Sistem karya Vauban ini menyebabkan serangan langsung ke bagian benteng utama lebih sulit karrena harus menghadapi pertahanan luar terlebih dahulu. Meskipun sistem Vauban ini sudah dikenal di Eropa sejak abad ke-17, namun di Indonesia sistem ini baru dikenal pada tahun 1800.
Letak bangunan hornworks pada benteng.
Tampak luar bangunan hornworks.
Letak bangunan raveline pada benteng.
Tampak luar bangunan raveline.
Lokasi benteng Willem I terletak di tepi Rawa Pening dan dikelilingi oleh gunung. Ketika benteng Willem I mulai dibangun, jangkauan tembakan artileri dari perbukitan belum sampai ke benteng. Namun pada tahun 1860an, muncul penemuan laras meriam beralur sehingga peluru meriam dapat meluncur ke sasaran dengan akurat dam stabil, kecepatan lebih tinggi, dan jangkauannya lebih jauh. Oleh karena itu tanggul tanah dan parit yang dahulu mengelilingi benteng ini diratakan.
Pemandangan gunung Telomoyo dan Andong dilihat dari benteng.
Bangunan utama benteng Willem I terdiri dari lima buah bangunan kantor dan sebuah barak di tengah dan dikelilingi oleh empat bangunan tangsi berlantai dua. Pada tahun 1850, separo benteng yang ada di sisi selatan diubah menjadi penjara militer yang masih dipakai hingga sekarang. Untuk pengunjung umum, pintu masuk benteng dapat diakses lewat sebuah jalan setapak di dekar RSUD Ambarawa yang akan membawa ke pintu masuk sebelah utara. Aslinya, pintu masuk utama benteng terletak di sebelah timur, menghadap ke jalan lingkar Ambarawa. Dahulu untuk menuju pintu masuk utama orang harus berjalan memutar ke utara, tujuannya untuk memperlambat pergerakan musuh. Jalan utama benteng sekarang sudah hilang menjadi timur, dahulu terdapat sebuah menara jam yang kini sudah hilang.
Bangunan tangsi/barak.
Jembatan penghubung.
Sebagian besar bangunan benteng dahulu digunakan untuk tangsi. Ada cerita menarik bahwa rupanya benteng ada kesalahan dalam perancangannya. Si perancang tidak menyadari bahwa lingkungan di sekitar benteng merupakan iklim tropis. Lantai dua tangsi ruangannya terlalu rendah sehingga sirkulasi udara tidak terlalu lancar dan temperatur udara di dalam ruangan sangat panas.
Pintu masuk sisi utara.

Bekas pintu masuk sisi selatan.
Pintu masuk sisi barat.
Bekas pintu gerbang luar yang juga merangkap sebagai istal.
Apabila kita amati, benteng ini terlihat memiliki lengkungan yang sangat banyak sekali. Mengapa demikian ? Pada masa benteng Willem I dibangun, teknologi konstruksi masih belum mengenal beton bertulang dimana beban bangunan bertumpu pada beton yang diisi batangan besi. Teknologi konstruksi pada waktu itu masih menggunakan teknologi bearing wall , dimana beban bangunan bertumpu pada dinding bangunan itu sendiri. Oleh karena itu banyak bangunan-bangunan tua yang dindingnya tebal-tebal seperti benteng Willem I. Untuk menyangga beban di atasnya, digunakanlah teknik warisan bangsa Romawi yang dikenal sebagai teknik lengkung, dimana batu-bata dibuat agak mirip baji sehingga ketika ditata bisa menghasilkan bentuk setengah lingkaran. Dengan teknik lengkung ini, beban bangunan di atas dapat disangga tanpa tulangan besi ( Hadas, 1965; 162 ). Oleh karena itulah kita akan menjumpai banyak lengkungan pada benteng ini.
Bekas dapur umum.
Bagaimana kehidupan di dalam barak atau tangsi ini di masa lalu ? Menurut Philibert Dabry De Thiersant, seorang diplomat Perancis, prajurit militer Hindia-Belanda atau KNIL diizinkan membawa istri dan anak keluarga, kecuali di saat perang. Di dalam barak, mereka makan bersama, menyiapkan makanan, dan membersihkan barak. Di dalam tangsi, mereka tunduk di bawah hukum militer. Pada tiap tangsi, terdapat tempat tidur sesuai kompi pasukan yang ada. Masing-masing prajurit memiliki tempat tidur yang tinggi dilengkapi kelambu, mebel sederhana dan kelengkapan lain ( untuk personel Eropa disediakan selimut katun tebal dan personel bumiputra disediakan sarung yang dicap khusus agar tidak tertukar ). Karena tidak cukup ruang di dalam tangsi, maka anak-anak prajurit tinggal di kolong tempat tidur ( oleh karena itulah muncul istilah anak kolong bagi anak prajurit di Indonesia ). Untuk makan, para prajurit dijatah dengan daging segar roti, beras, garam, dan merica. Tidak ada perbedaan jatah pangan prajurit Eropa dengan Bumiputera kecuali bagi personel muslim tidak disediakan daging babi. Untuk senjata para prajurit diberi senapan Beaumont dengan bayonet dan kelewang. Untuk mengawasi gerak-gerik prajurit Bumiputera, maka sejumlah bintara Eropa di kompi Bumiputera tinggaal di dalam barak buimputera sehingga mereka dapat diawasi. Kompi serdadu Eropa terpisah dari kompi Bumiputera, terap selalu dalam jarak yang dekat ( Santosa, 2016; 141-142 ).
Salah satu bagian benteng yang lapisan luarnya sudah hilang. Di sini kita dapat melihat batu bata yang disusun secara melengkung untuk menopang beban konstruksi di atasnya.
Bekas beranda dan balkon kayu yang sudah hancur.
Tangga naik ke lantai dua. Bagian lantai dua masih dihuni sehingga pengunjung disarankan untuk tidak naik ke atas.
Sayangnya, kondisi bangunan tangsi sekarang sebagian besar sudah rusak. Beberapa ada yang ditutup untuk dijadikan sarang walet. Sementara itu separo bagian masih digunakan sebagai penjara sehingga terdapat beberapa penambahan. Kemudian setengahnya masih dihuni oleh keluarga tentara.
Letnan. Infantri S.W. Alberda bersama istrinya yang sedang berpose di beranda depan rumah mereka di dalam benteng Willem I. Bagian depan rumah terlihat banyak pot tanaman hias yang menambah kesan sejuk rumah ( sumber : media-kitlv.nl ).
Bangunan bergaya Indisch Empire yang sudah tinggal dinding saja.
Bangunan Indisch Empire yang masih dipakai. Bangunan inilah yang terlihat pada foto lama di atas.
Di tengah-tengah benteng, terdapat lims bangunan bergaya arsitektur Indisch Empire Style yang ditandai dengan pilar-pilar yang terdapat bagian beranda depan. Gaya arsitektur Indisch Empire Style memang banyak ditemukan pada bangunan yang dibangun semasa dengan benteng Willem I. Dari kelima bangunan yang ada, tiga buah bangunan kondisinya masih baik, sementara sisanya sudah tinggal reruntuhan dindingnya saja. Dahulu bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal komandan benteng.

Begitulah hikayat dari sebuah benteng tua di tepi sebuah rawa. Sebuah benteng yang menjadi saksi perjalanan sejarah sebuah bangsa. Mulai dari masa puncak kolonial, dimana pemerintah kolonial rupanya merasa terancam dari bangsa lain yang ingin merebut Nusantara, kemudian ke masa Jepang, dimana orang-orang barat diperlakukan sebagai tawanan oleh orang timur yang dulu dianggap rendah, hingga di masa awal kemerdekaan, dimana anak bangsa mati-matian mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Ya, dahsyatnya cerita sejarah dari benteng ini ternyata tidak sebanding dengan perlakuan yang diterimanya. Entah karena tidak ada biaya atau benteng ini dianggap sebagai peninggalan bangsa penjajah sehingga wajar jika benteng ini dibiarkan rusak termakan usia atau tidak ada bi. Namun yang jelas, jika benteng ini lenyap, lenyap pula penggalan sejarah perjalanan bangsa kita…

Referensi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012. Forts in Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Santosa, Iwan. 2016. KNIL, Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Perancis. Jakarta. Kompas.

Simon, Edith. 1983. Abad Reformasi. Jakarta. Tira Pustaka.

https://www.indischekamparchieven.nl/

Sabtu, 22 April 2017

Remah-Remah Jejak Sejarah di Kutoarjo

Jejak Kolonial pada kesempatan kali ini akan mengajak anda melihat berbagai Jejak Sejarah di Kutoarjo, sebuah kota kecil yang terletak tujuh kilometer ke barat dari Purworejo. Di Kutoarjo ini, kita akan melihat berbagai peninggalan sejarah menarik untuk ditelusuri, mulai dari pendopo dengan atap unik, rumah Tionghoa peranakan yang satu-satunya masih tersisa di Jawa bagian selatan, hingga saluran air peninggalan bupati pribumi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan alam. Apa saja jejak sejarah yang masih bisa kita lihat di Kutoarjo ? Mari kita telusuri….

Semula bernama Kabupaten Semawung….
Peta Kutoarjo tahun 1909. Tempat-tempat pejabat penting seperti Bupati ( Reg.= Regent ), Patih ( D = District ), dan Kontrolir ( C = Controloeur ) ditandai dengan tiang bendera Belanda. Di sebelah timur tampak Kali Jali yang menjadi batas alami kabupaten Purworejo dengan kabupaten Kutoarjo. ( Sumber ; maps.library.leiden.edu ).
Kutoarjo yang kita kenal sekarang, dulunya merupakan sebuah wilayah Kabupaten yang bernama Kabupaten Semawung. Pada waktu itu kabupaten Semawung secara administratif berada di bawah Karesidenan Bagelen yang dibentuk oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1830. Kabupaten Semawung pada waktu itu dipimpin oleh seorang bupati bernama Sawunggaling, yang dibantu oleh para pejabat lain seperti Kertodiwirio sebagai patih dan Ario Sindoeredjo sebagai kolektor. Kabupaten Semawung membawahi beberapa distrik yang dipimpin oleh kepala distrik. Distrik-distrik yang berada di bawah Kabupaten Semawung antara lain Distrik Sucen yang dipimpin oleh Resjowigoeno, Distrik Madjier yang dipimpin oleh Djojonegoro, Distrik Kendal yang dipimpin oleh Djojopergoto, Distrik Paitan yang dipimpin oleh Bausasra, Distrik Kiangkong yang dipimpin oleh Djojodirdjo, dan Distrik Pituruh yang dipimpin oleh Tjokroredjo. Untuk mengawasi jalannya pemerintahan pribumi, pemerintah kolonial menempatkan seorang controleur atau kontrolir yang secara hierarki berada di bawah asisten residen ( Penadi, 2000 ; 67-68 ).
Para perempuan yang bekerja sebagai pemintal benang di sebuah pabrik benang di Kutoarjo. Dibandingkan Purworejo, perekonomian Kutoarjo jauh lebih maju. ( sumber ; media-kitlv.nl ).
Awalnya, letak Kabupaten Semawung bukanlah di kota Kutoarjo yang sekarang, melainkan agak ke selatan. Tepatnya di daerah Semawung Kembaran, kemudian pindah ke Semawung Daleman dan akhirnya pada masa bupati R.M. Soerokosoemo, ibukota Kabupaten Semawung dipindah ke Desa Senepo yang kelak menjadi cikal bakal kota Kutoarjo yang sekarang. Ppada masa pemerintah R.M. Soerokoesoemo, Kutoarjo dibangun dengan pola kota tradisional Jawa yang meliputi alun-alun sebagai pusat kota, masjid di sebelah barat alun-alun, dan kediaman penguasa di sebelah utara. Selain itu, dibangun pula sebuah pasar yang kini menjadi Pasar Kutoarjo sebagai pusat perekonomian Kutoarjo. Dibandingkan dengan Purworejo, kehidupan perekonomian Kutoarjo jauh lebih maju. Banyak pengrajin tenun dan barang pecah belah yang tinggal di Kutoarjo. Roda perekonomian semakin semarak dengan kehadiran orang-orang Tionghoa dan tambah semarak dengan dibangunnya jalur kereta Yogyakarta-Cilacap pada tahun 1887 oleh Staatspoorwegen, yang melewati Kutoarjo dan dibangun sebuah stasiun di sini ( Anonim, 58 ). Dibandingkan Purworejo, Stasiun Kutoarjo jauh lebih ramai karena Stasiun Kutoarjo dilalui oleh jalur kereta dari Batavia-Yogyakarta sehingga banyak kereta yang lewat Kutoarjo. Berbeda dengan Stasiun Purworejo yang letaknya berada di ujung sehingga tidak semua kereta berhenti di Purworejo.
Seperangkat boneka yang menggambarkan bupati Kutoarjo, Pangeran Poerboatmodjo dan istrinya. Foto diambil pada tahun 1895. ( sumber ; gahetna.nl ).
Putra Pangeran Poerboatmodjo, R.A.A. Poerbohadikoesoemo ( dalam lingkarang merah, berkacamata ) yang selanjutnya menjadi bupati Kutoarjo menggantikan ayahnya. Tidak seperti sekarang dimana jabatan bupati dipilih oleh rakyat, di masa lalu jabatan bupati diwariskan secara turun temurun.
Di sebelah timur Kutoarjo, terdapat sebuah sungai yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil juga. Kali Jali namanya. Di masa lalu, sungai ini menjadi momok bagi masyarakat Kutoarjo karena sungai ini kerap meluap. Namun di masa sekarang, banjir akibat Kali Jali tidak separah dulu lagi berkat jasa bupati Pangeran Poerboatmodjo yang menjadi bupati Kutoarjo dari tahun 1870-1915. Pangeran Poerboatmodjo memiliki keahlian di bidang pemanfaatan sumber daya alam, konservasi lingkungan, dan tata guna air. Sebelum menjadi bupati  beliau bekerja Dinas Topografi Karesidenan Bagelen dan mantri pengairan Bendungan Boro. Bersama residen Bagelen, beliau melawat ke Kalkuta, India untuk belajar pengairan dan irigasi dari para insinyur pengairan Inggris yang membendung sungai Gangga. Ketika masa pemerintahan bupati R.A.A. Pringgoatmodjo yang juga sekaligus ayahnya, Kutoarjo dilanda banjir besar pada 23 Februari 1861. Konon banjir tersebut mencapai ketinggian 4,5 meter. Akibatnya beberapa tempat ada yang tertimbun oleh sedimen banjir setinggi satu meter. Supaya Kutoarjo bebas dari banjir, membangun beberapa bendung, kanal, dan pintu air di sekitar Kutoarjo. Selain itu, beliau juga menghijaukan tanah perbukitan Gunung Tugel di utara Kutoarjo dengan pohon jati. Wilayah pantai selatan Kutoarjo juga turut menjadi perhatiannya. Di sana beliau melakukan kegiatan penghijauan dengan menanam pohon Nyamplung. Tujuannya agar pantai menjadi teduh dan tidak tergerus angin. Atas pengabdiannya di bidang lingkungan, Pangeran Poerboatmodjo mendapat banyak penghargaan dari kerajaan Belanda. Oleh karena itu, sudah selayaknya masyarakat Kutoarjo berterima kasih kepada Pangeran Poerboatmodjo karena berkat jasanya, Kutoarjo terbebas dari banjir besar ( Pranoto, 2017; 1-3 ).
Seorang perwira Belanda dan Indonesia yang sedang mengamati parade para prajurit TNI di sepanjang jalan yang kini menjadi Jalan M.T. Haryono. Di sebelah kiri tampak barisan rumah Tionhoa yang rusak. ( sumber : gahetna.nl )

Seiring dengan perombakan susunan administratif yang dilakukan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1930an, maka pada tahun 1933 Kabupaten Kutoarjo yang semula berdiri sendiri dilebur dengan Kabupaten Purworejo dengan nama Kabupaten Purworejo, demikian juga pusat pemerintahannya yang ikut diboyong ke Purworejo ( Musadad, 2002; 8 ).

Jejak-Jejak Sejarah
Persearan peninggalan bersejarah di Kutoarjo. Keterangan ; 1. Pendhopo Kutoarjo ; 2. Masjid Agung Kutoarjo ; 3. Rumah Patih ( sekarang kantor Kecamatan Kutoarjo ) ; 4. Rumah Kontrolir ; 5. Bekas rumah mayor Tionghoa ; 6. Stasiun Kutoarjo ;7. Rumah gaya Victorian ( sekarang Hotel Kencana ) ; 8. Jembatan Kali Jali.
Meskipun tidak sebanyak Purworejo, Kutoarjo memiliki berbagai peninggalan sejarah yang masih menarik untuk dilihat. Peninggalan sejarah pertama yang dapat kita lihat adalah alun-alun Kutoarjo yang dilalui oleh jalan utama Purworejo-Kebumen yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Alun-alun ini diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan bupati R.M. Soerokosoemo. Dalam konsep pola tata kota tradisional di Jawa, alun-alun merupakan elemen paling penting karena alun-alun memiliki fungsi sebagai pusat kota. Di alun-alun diadakan berbagai upacara dan perayaan, baik yang bersifat sakral ataupun sekular. Sekilas, alun-alun mirip dengan lapangan terbuka lain. Perbedaanya yakni adanya pohon beringin di tengah alun-alun. Pohon beringin ini bisa berjumlah satu atau dua. Inilah mengapa pohon beringin di tengah alun-alun harus dilestarikan karena merupakan komponen yang membedakan alun-alun dengan lapangan biasa serta merupakan lambang bahwa pemimpin harus bisa menyatu dengan rakyat.
Alun-alun Kutoarjo.
Masjid Agung Kutoarjo.
Masjid Agung Kutoarjo pada tahun 1900an. Bandingkan dengan kondisinya sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Kantor Pengadilan Agama dan penghulu.
Di sebelah barat alun-alun, terdapat masjid Jami Kutoaarjo yang dibangun pada tahun 1860 oleh bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Pada tahun 1875, masjid ini dipugar oleh putra R.A.A. Pringgoatmodjo, R.A.A. Poerboatmodjo. Sayangnya, bentuk masjid ini sendiri sudah tidak asli lagi. Atap masjid yang dulunya berupa atap tumpang kini sudah menjelma menjadi atap kubah. Di depan masjid, masih berdiri tegak sebuah bangunan lama yang dahulunya diperuntukan sebagai kantor pengadilan agama dan penghulu.
Pendhopo Kutoarjo, bekas kediaman bupati Kutoarjo yang kini menjadi ruamh dinas wakil bupat Purworejo. Terlihat bentuk atapnya seperti masjid-masjid lama.
Perpaduan budaya Jawa dan Eropa sangat terasa pada bekas rumah Bupati Kutoarjo seperti yang terlihat pada tiang saka guru pendhopo dan pilar-pilar Yunani di belakangnya.
Berada di sebelah utara alun-alun Kutoarjo, terdapat bangunan yang dahulu menjadi kediaman bupati Kutoarjo dan sekarang menjadi rumah dinas wakil bupati Purworejo. Bangunan ini dibangun pada Bupati R.A. Soerokoesomo dan selesai pada masa bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Bangunan ini terdiri dari pendopo yang disambung dengan selasar dan di belakang pendopo terdapat rumah kediaman. Sementara itu di depan pendopo terdapat rumah jaga yang tersambung ke pendopo dengan sebuah selasar. Berbeda dengan rumah pejabat Jawa lainnya yang pendoponya menggunakan atap berbentuk Joglo, bangunan bekas rumah bupati Kutoarjo ini menggunakan atap tajug tumpang yang biasanya dipakai pada bangunan masjid. Gaya arsitektur bangunan ini memadukan gaya arsitektur tradisional Jawa - seperti yang terlihat pada empat tiang soko guru dari kayu yang menopang atap pendopo dan aristektur kolonial - yang tampak pada pilar-pilar Yunani di bagian belakang pendopo.
Pendopo Kecamatan Kutoarjo, bekas rumah kediaman patih.

Tidak jauh dari kediaman bupati, tepatnya di jalan Mardiusodo terdapat kantor kecamatan Kutoarjo yang menempati bekas kediaman patih. Hampir mirip dengan rumah bupati, rumah patih ini terdiri dari pendopo dengan atap limas dan bangunan tempat tinggal di belakang pendopo.
Bekas kediaman controleur Kutoarjo. Perbedaan rumah pejabat Belanda dengan pribumi adalah tiadanya pendopo di bagian depan rumah pejabat Belanda. Sebagai ganti pendopo adalah sebuah beranda di bagian depan.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa untuk mengawasi jalannya pemerintahan bupati, maka pemerintah kolonial menempatkan seorang controleur atau kontrolir di Kutoarjo yang tinggal di sebuah rumah yang posisinya berada di belakang kantor Polsek Kutoarjo. Rumah tersebut masih ada sampai sekarang. Apabila kita lihat secara sekilas, rumah ini bergaya arsitektur campuran Jawa dengan Eropa atau biasa disebut sebagai arsitektur Indis. Ciri arsitektur Indis bisa dilihat dari atapnya yang sekilas berbentuk atap kampung yang lebar seperti rumah-rumah Jawa, jendelanya tinggi besar dan ada beranda di bagian depan. Di sepanjang teritisan terdapat hiasan gigi talang yang dibuat seperti tetesan air hujan. Ukurannya yang besar seolah menunjukan keangkuhan penguasa kolonial di hadapan bangsa pribumi walaupun sebenarnya tujuan rumah dibangun dalam ukuran sebesar itu agar ruangan di dalam tidak terasa panas. Menariknya, mereka setidaknya masih menghormati kedudukan bupati dengan membangun rumah tidak memunggungi kediaman bupati. Apabila rumah bupati dibangun menghadap ke selatan, mereka ( orang Belanda ) membangun rumah menghadap ke utara. Ya, seperti yang disebutkan oleh John C. van Dyke, kepercayaan, adat istiadat, dan tradisi kaum pribumi masih dihormati oleh orang Belanda karena tujuan penjajahan Belanda di sini bukanlah untuk mengubah kebudayaan, melainkan “hanya” menguras sumber daya alam saja ( Rush, 2013; 8 ).
Stasiun Kutoarjo pada masa sekarang. Sebelum dirombak banguann Stasiun Kutoarjo mirip sekali dengan Stasiun Purworejo/
Rumah-rumah tua di sekitar Stasiun Kutoarjo. Rumah-rumah ini dahulu dihuni oleh para pegawai Stasiun Kutoarjo.

Jejak sejarah lainnya di Kutoarjo adalah bangunan Stasiun Kutoarjo yang dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap pada tahun 1887. Sungguh disayangkan, fasad stasiun ini sudah dirombak dan hanya menyisakan bagian atap peron saja. Di sekitar stasiun kita dapat menjumpai rumah-rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas pegawai stasiun Kutorjo. Uniknya, ada dua rumah yang bentuknya mirip dengan rumah dinas Stasiun Purworejo.
Deretan bangunan berlanggam Tionghoa di sepanjang jalan M.T. Haryono.
Di sepanjang jalan MT. Haryono, Kutoarjo, kita dapat menjumpai berbagai bangunan ruko berarsitektur Tionghoa yang menjadi bukti eksisnya komunitas Tionghoa di Kutoarjo yang usianya lebih tua daripada komunitas Tionghoa di Purworejo. Bahkan nama Semawung sendiri konon berasal dari nama saudagar benang bernama Sie Mau Wong. Ada kemungkinan bahwa orang-orang Tionghoa di Kutoarjo sebagian besar merupakan pengungsi dari Desa Jana, sebuah desa di sebelah  selatan Kutoarjo. Mereka mengungsi akibat terjadi sebuah konflik sosial dengan warga lokal. Tidak diketahui akar penyebab konflik tersebut, tapi kecemburuan sosial sering disebut sebagai pemicu konflik tersebut.
Rumah besar milik bpk. Pao Ing. Dari ukuran dan banyaknya ornamen, rumah ini tampaknya dahulu dihuni oleh Mayor Tionghoa.
Pintu utama dengan ornamen yang menarik.
Dari seluruh bangunan tua bergaya Tionghoa di Kutoarjo, bangunan yang paling mencolok adalah bangunan yang sekarang masih dihuni oleh bpk. Pao Ing. Berbeda dengan rumah Tionghoa lainnya yang berada di sepanjang jalan yang sama, rumah berlantai dua ini memiliki beranda depan yang dipercantik dengan dua pilar yang dihiasi dengan motif sesuluran. Di bawah teritisan atap yang berbentuk seperti kipas juga terdapat hiasan sesuluran yang kaya warna. Dari ukuran dan mewahnya hiasan, rumah ini tampaknya dahulu dihuni oleh seorang Mayor Tionghoa. Di masa kolonial, kalau pemerintah kolonial mengangkat bupati sebagai pemimpin orang Jawa, maka pemerintah kolonial mengangkat seorang Tionghoa yang diberi gelar titular “mayor” untuk memimpin komunitas Tionghoa. Orang Tionghoa yang diangkat menjadi mayor adalah yang terpandang di komunitasnya. Seandainya rumah ini sudah tidak dihuni lagi oleh pemiliknya, mungkin rumah ini bisa dikembangkan sebagai Museum Peranakan Tionghoa yang apabila ditata dengan bagus, bisa menjadi obyek wisata sejarah unggulan Kutoarjo.

Bangunan bergaya Victorian yang saat ini menjadi Hotel Kencana.
Selain Hotel Kencana, hotel lain yang memanfaatkan bangunan lama di Kutoaro adalah Hotel Sawunggalih.

Di jalan raya Kutoarjo-Kebumen yang ramai, terdapat sebuah bangunan tua yang masih terawatt dengan baik dan saat ini dimanfaatkan sebagai hotel Kencana. Dari sisi arsitektur, rumah ini mendapat pengaruh gaya Victorian yang berkembang pada abad ke-19. Pengaruh gaya Victorian dapat dilihat dari menara kecil pada salah satu sisi bangunan. Di Purworejo sendiri tidak ada bangunan yang bergaya arsitektur seperti ini sehingga bangunan ini tergolong unik. Untuk menambah estetika, rumah ini dihiasi dengan lantai tegel dan kaca patri. Warna pink yang mendominsi hampir seluruh bangunan menjadikan rumah ini tampak seperti rumah boneka…
Saluran air Kali Anyar, saluran air peninggalan Pangeran Poerboatmodjo.

Mengalir di sebelah utara Kutoarjo, terdapat saluran air cukup besar peninggalan Pangeran Poerboatmodjo. Saluran air inilah yang dahulu melindungi masyarakat Kutoarjo dari ancaman banjir. Masyarakat Kutoarjo menyebut saluran ini Kali Anyar.
Pejagalan Hewan Kutoarjo.
Kutoarjo memiliki bangunan pejagalan hewan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Letak pejagalan tersebut tidak jauh dari saluran air tadi. Pejagalan tersebut didirikan oleh pemerintah kolonial supaya lebih mudah diperiksa. Di masa lalu, dimana dunia kesehatan hewan masih belum berkembang pesat seperti sekarang, hewan-hewan yang sering dikonsumsi seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi rentan terkena penyakit. Apabila orang menyembelih hewan disembarang tempat, tentu orang tidak akan tahu apakah hewan yang disembelih sehat dan dagingnya layak dikonsumsi, sehingga penyakit seperti anthrax dapat menular ke tubuh manusia. Untuk mencegah hal demikian, pemerintah kolonial mendirikan tempat khusus pejagalan hewan. Pejagalan ini diatur sedemikian rupa. Ada tempat untuk pemeriksaan hewan, tempat pengulitan, tempat membersihkan jeroan, tempat pembuangan bagian hewan yang tidak diperlukan, dan kantor untuk pengurus pejagalan. Tempat penyembelihan untuk hewan babi yang haram dikonsumi oleh umat Islam juga dipisahkan dari tempat penyembelihan lain. Lokasinya dibangun di dekat saluran air supaya mudah membersihkan isi perut hewan, membua ng bagian yang tidak diperlukan seperti darah dan tempat para juru jagal membersihkan diri. Pada masa kolonial, pejagalan Kutoarjo termasuk pejagalan yang sudah ketinggalan zaman. Di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, dan Malang, pejagalan hewan dibangun seperti pabrik, sudah dilengkapi kamar pendingin atau freezer, terdapat laboratorium, besi yang dipakai untuk menggantung bukan besi yang mudah berkarat, dan tersedia tempat tersendiri untuk mencuci perut hewan dengan air hangat yang mengalir, bukan dari saluran air kotor ( Treffers, 1935 ; 8 ).
Rumah dengan tulisan 1918 di bagian depan.
Dua rumah bekas rumah veldpolitie yang sekarang sudah diratakan.

Berpindah ke jalan Wismoaji yang lokasinya agak jauh dari jalan raya, berdiri dengan tenangnya sebuah bangunan tua dengan angka tahun 1918 pada bagian depan. Bangunan tua tersebut saat ini dimanfaatkan sebagai PAUD dan nasibnya lebih baik daripada beberapa bangunan tua di Kutoarjo lain yang kini tinggal fotonya saja seperti bekas rumah dinas veldpolitie atau polisi pada masa kolonial di dekat Polsek Kutoarjo.
Rumah kuno peninggalan PG Jenar di Grabag, delapan kilometer ke selatan dari Kutoarjo.
Foto lama dari rumah kuno di atas. ( sumber : media-kitlv.nl ).

Berjarak delapan kilometer ke selatan dari Kutoarjo, meski agak jauh, namun tidak ada salahnya jika kita melihat sebentar sebuah bangunan Indis yang masih berdiri kokoh meski saat ini dalam kondisi kosong. Di dinding depan rumah, terdapat tulisan “SRIE”. Entah apakah dulu si pemilik rumah bernama Srie. Namun orang Belanda di masa lalu memiliki kebiasaan memberi nama rumahnya. Biasanya rumah-rumah mereka diberi nama perempuan. Di depan rumah juga terdapat tulisan “1935”. Cukup menarik karena gaya rumah ini sendiri sudah termasuk ketinggalan zaman untuk ukuran tahun 1935. Menariknya lagi, berdasarkan keterangan foto lama, rumah ini merupakan rumah tinggal mandor perkebunan tebu Pabrik Gula Jenar, pabrik gula yang letaknya sebelas kilometer jauhnya dari Kutoarjo. Keberadaan rumah ini bisa jadi menunjukan bahwa area perkebunan tebu PG Jenar mencapai wilayah Kutoarjo. PG Jenar berdiri pada tahun 1920an. Sayangnya pabrik gula ini sendiri akhirnya bangkrut pada tahun 1933 akibat krisis malaise. Jadi, apakah tulisan 1935 di depan rumah ini merupakan tahun rumah ini berpindah tangan ? Mungkin saja !
Jembatan Kali Jali pada tahun 1930.
Jembatan Kali Jali pada masa sekarang.
Terakhir, masih ada satu lagi peninggalan sejarah yang masih bisa kita lihat di Kutoarjo. Wujudnya kali ini bukan bangunan, melainkan struktur jembatan yang membentang di atas Kali Jali. Meski usianya sudah tua, jembatan ini konstruksinya terlihat masih kuat. Meski terlihat kuat, jembatan ini tidak lagi menjadi jembatan utama karena kendaraan yang melintas semakin banyak dan beban jembatan tidak didesain untuk memanggul beban sebanyak sekarang. Fungsi jembatan ini sudah digantikan dengan jemabtan baru di sebelah selatannya. Jembatan berbentuk busur ini masih terlihat paku-paku kelingnya yang menyambungkan setiap bagian baja yang menyusun jembatan ini. Di Purworejo, jembatan peninggalan Belanda dari baja yang masih asli tinggal sedikit dan salah satunya ada di Kutoarjo…

Demikianlah penelusuran Jejak Kolonial mengenai berbagai peninggalan sejarah Kutoarjo yang banyak bagai remah-remah. Sayangnya, seperti halnya di tempat lain, banyak pula peninggalan sejarah di Kutoarjo yang perlahan mulai hilang tergusur oleh pembangunan. Akankah peninggalan sejarah ini tinggal fotonya saja suatu hari nanti ? Kepedulian kita lah yang akan menentukan jawabanya….

Referensi :

Treffers, Dr.W. 1935. De Modernising Van Het Slachthuis voor Groot Vee en Geiten Te Cheribon dalam Locale Techniek 4e Jaargang No.3 Mei 1935. Bandung.

Musadad. 2002. Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Penadi, Radix . 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya.


Pranoto, Agung. 2017. Kisah Tokoh Poerworedjo Djaman Doeloe : Pangeran Poerboatmodjo.