Kamis, 27 April 2017

Benteng Willem I Ambarawa, Hikayat Benteng Tua di Tepi Rawa

Salah satu peninggalan sejarah yang kondang di Ambarawa, selain Stasiun Ambarawa adalah Benteng Willem I, sebuah benteng tua yang terletak di tepian Rawa Pening. Benteng itu dibangun pada pertengahan abad ke-19, sebagai upaya pemerintah kolonial Belanda menangkal serbuan bangsa asing ke Hindia-Belanda. Seperti apakah kisah selanjutnya dari benteng yang namanya diambil dari nama Raja Belanda itu ?

Sebuah jalan setapak kecil yang terletak di samping RSUD Ambarawa mengantarkan saya ke area benteng yang dikelilingi oleh persawahan itu. Berlatar pemandangan Gunung Telomoyo yang begitu permai, benteng itu ingin bertutur tentang sebuah kisah. Sembari melangkah menyusuri setiap sudut benteng, saya mencoba untuk mendengarkan kisahnya.
Peta Ambarawa, tahun 1905 yang menunjukan lokasi Benteng Willem I. Sumber : maps.library.leiden.edu.
Pendirian benteng itu sesungguhnya masih ada sangkut paut dengan bergolaknya Revolusi Belgia di Eropa pada tahun 1830. Wilayah Belgia yang dikenal sekarang, kala itu masih berada di bawah naungan kerajaan Belanda yang meraih kemerdekaan dari Spanyol tahun 1581. Sebagian besar penduduk Belgia masih setia sebagai penganut Katolik, kontras dengan mayoritas penduduk Belanda yang telah berpindah menjadi penganut Kristen Protestan. Wilayah Belgia yang menjadi basis revolusi Industri segera menjadi rebutan Belanda, Perancis, dan Austria ( Simon, 1983 ; 83-86 ). Berakar dari perbedaan agama dan ekonomi, tahun 1830, Belgia dibantu dengan bangsa asing lain berusaha memisahkan diri dari Belanda sehingga timbul apa yang dikenal sejarah sebagai Revolusi Belgia. Khawatir, gejolak itu meluas hingga ke Jawa yang kala itu masih dibawah kuasa Belanda, mula Gubernur Jenderal Van den Bosch memberi titah kepada komandan deasemen zeni militer, Colonel Van der Wijk untuk mendirikan benteng-benteng di beberapa titik strategis di Pulau Jawa ( Tim Penyusun, 2012; 133-134 ). Begitulah benteng ini memulai kisahnya.
Raja Willem I ( 1772 -1843 ) yang namanya diabadikan menjadi nama Benteng di Ambarawa. Pemerintahannya diwarnai dengan Revolusi Belgia. ( sumber : wikipedia ).
Selanjutnya, benteng itu menuturkan bahwa Ambarawa merupakan salah satu titik yang dipilih oleh Van der Bosch lantaran letaknya berada di jalur yang menghubungkan Semarang dengan pedalaman. Di jalur itu sejatinya sudah ada benteng lain, yakni Benteng Ontmoeting Ungaran ( yang selanjutnya dikenal sebagai Willem II ), namun benteng itu dirasa kurang mumpuni karena benteng kecil itu gagal menahan invasi Inggris di Jawa tahun 1811. Belajar dari pengalaman tersebut, selain di Ambarawa, Van den Bosch mendirikan benteng baru lain di Gombong dan Ngawi. Dari ketiga benteng baru yang biayanya ditanggung kerajaan Belanda tadi, benteng di Ambarawa lah yang paling penting sebab ia akan menjadi titik kumpul pasukan apabila seluruh wilayah pesisir sudah jatuh ke tangan musuh dan dari sini, mereka dapat melancarkan serangan balik  ( Tim Penyusun, 2012; 134 ). Ya, secara tidak langsung, Benteng Willem I menjadi semacam patron kolonialisme Belanda di Nusantara, melindungi kuasa mereka dari bangsa asing lain yang lebih kuat.
Sebuah lukisan yang menggambarkan panorama Gunung Andon dan Telomoyo. Di kejauhan terlihat Benteng Willem dengan Tanggul yang masih mengelilingi benteng. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Berbagai keperluan disiapkan dengan matang dan terencana untuk mendirikan benteng ini. Perkampungan pekerja, barak prajurit, dan bengkel kerja dengan daya tampun 4.500 pekerja didirikan di dekat benteng. Para pekerja yang terlibat dalam proyek itu antara lain insinyur zeni spesialis perbentengan, penjaga, dan 3.000 kuli pribumi serta beberapa tahanan yang dihukum kerja paksa. Guna menghemat biaya pengangkutan, batu-bata dan genting dibuat di dekat benteng dengan mendirikan tungku-tungku pembakaran. Untuk kayu dan batu kapur, dua barang itu masih didatangkan dari tempat lain. Selama pembangunan, tiada halangan yang berarti selain bahan bangunan yang datang terlambat dan kebakaran di kamp pekerja. Pada tahun 1844, sekalipun belum tuntas pengerjaanya, benteng ini sudah mulai ditempati prajurit. Sebagai penghormatan kepada Raja Belanda kala itu, Willem I, benteng yang rampung dibangun tahun 1850 itu diberi nama Willem I.
Foto udara benteng Willem. Parit dan dinding tanah sudah diratakan ( sumber : Forts in Indonesia ).
Sambil berjalan menuju benteng, pandangan saya melihat sebuah bangunan bata berlantai dua yang berdiri di tengah sawah. Apabila diamati dari atas, rupa bangunan itu berbentuk seperti trapesium sama kaki atau seperti tanduk. Bangunan bata itu tak lain ialah bagian benteng yang disebut ravelin dan hornwork. Ia seolah ingin menjelaskan perihal teknologi yang dipakai pada benteng ini. Benteng Willem I walau dibangun pada abad ke-19, sejatinya ia masih menerapkan teknologi benteng abad-17 yang diciptakan oleh insinyur zeni Perancis, Le Preste de Vauban. Sistem itu pada dasarnya menekankan adanya sistem pertahanan luar yang dapat berdiri sendiri, sehingga apabila pertahanan luar diserang tidak berdampak langsung pada bagian utama benteng. Mula bagian ravelin atau hornworks yang ada di sudut benteng dibuat terpisah. Bagian ravelin atau hornworks memiliki dua tingkatan. Tingkat pertama digunakan untuk gudang, tingkat kedua untuk tempat tinggal prajurit, dan bagian paling atas untuk mengintai. Karena tertutup oleh gundukan tanah yang mengelilingi, maka hanya bagian atas ravelin atau hornworks yang terlihat dari luar benteng, sehingga kadangkala benteng Willem I disebut sebagai benteng pendem. Sementara itu, pergerakan musuh juga diperlambat dengan membuat jalan utama memutar ke utara dan pintu masuk utama benteng diletakan di sebelah timur, menghadap ke jalan lingkar Ambarawa yang sekarang. Danau Rawa pening yang terhampar di timur benteng juga menjadi pelindung alami benteng ini.
Bekas raveline.
Bekas hornworks.
Sekalipun dengan pertahanannya yang tangguh, prajurit yang berdiam di sini akhirnya harus menyingkir dari benteng ini. Bukanh musuh bersenjata kuat yang membuat mereka tersingkir, melainkan oleh rentetan gempa bumi yang pernah mengguncang Ambarawa tahun 1865 dan 1872. Walaupun tak ada korban jiwa yang jatuh, namun konstruksi benteng dinilai sudah tidak aman lagi, sehingga para prajurit dipindah ke barak di luar benteng. Selain itu, hal yang membuat mereka keluar dari benteng ini ialah karena langit-langit ruangan lantai dua rupanya dirasa terlalu rendah dan alhasil, ruangan menjadi terasa pengap dan tentu terasa gerah untuk ukuran orang Eropa yang tidak biasa dengan iklim panas.
Foto benteng Willem tahun 1947 ( sumber : gahetna.nl ).
Bagian benteng yang dipakai penjara. Foto tahun 1940an. ( Sumber : media-kitlv.nl )
Benteng ini selanjutnya bercerita bagaimana ia mulai berkurang kegarangannya. Pada saat benteng Willem I dibangun, tembakan artileri dari arah perbukitan belum mampu menjangkau benteng. Namun di pertengahan tahun 1850an, ditemukan teknologi meriam yang dikenal sebagai Meriam Armstrong. Berbeda dengan meriam bikinan era sebelumnya, meriam tersebut bagian dalam larasnya dibuat beralur, sehingga peluru dapat ditembak lebih akurat dan daya jangkaunya lebih jauh. Apabila meriam-meriam berteknologi mutakhir itu ditempatkan di perbukitan yang ada di sekeliling Ambarawa, benteng itu tentu saja hanya akan menjadi bulan-bulanan tembakan meriam itu. Berhadapan dengan teknologi seperti itu, tanggul tanah dan parit yang melindungi benteng ini dirasa ketinggalan zaman sehingga keduanya akhirnya diratakan. Selain itu, benteng ini juga perlahan ditinggalkan oleh prajuritnya pasalnya di luar benteng sudah ada barak dan Hindia-Belanda ternyata aman-aman saja dari ancaman luar. Sepeninggal para prajurit itu, separo benteng kemudian dikonversi menjadi penjara militer yang masih digunakan sampai sekarang.
Jembatan kayu di dalam benteng.


Salah satu sudut benteng Willem. Bangunan sebelah kanan masih dihuni oleh keluarga.
Saya kemudian berjalan menyusuri beceknya tanah benteng yang tampaknya baru saja diguyur hujan. Di hadapan saya sekarang, terbentang sebuah jembatan yang menghubungkan bagian utara dan selatan benteng. Kayu-kayu jembatan itu sudah mulai lapuk sehingga sudah tidak bisa dilalui lagi. Aura kekunoan benteng ini terasa begitu kentara. Lihatlah lengkungan-lengkungan yang menopang konstruksi benteng itu. Ia dibuat ketika teknologi beton bertulang belum ditemukan, sehingga tumpuan beban hanya bergantung pada tebalnya dinding bangunan itu sendiri. Supaya beban di atasnya dapat disangga, digunakanlah sebuah teknik kuno warisan bangsa Romawi yang dikenal sebagai teknik lengkung, dimana batu-bata dibuat agak mirip baji sehingga ketika ditata menghasilkan bentuk setengah lingkaran. Dengan teknik lengkung, ia mampu kokoh berdiri hingga hari ini meskipun tidak memakai tulangan besi.
Sudut Benteng Willem I.
Batu-bata merah yang menyusun konstruksi benteng.
Bagian benteng yang terlantar.
Di beranda lantai dua benteng Willem I, seorang ibu terlihat sedang menggedong anaknya yang tertidur lelap di gendongannya. Selain sebagai penjara, separo benteng ini juga masih dipakai sebagai rumah tinggal anggota keluarga tentara, sehingga tidak semua bagian benteng dapat dikunjungi demi kenyamanan mereka. Dari bekas barak yang masih ditempati oleh beberapa keluarga itu, setidaknya saya mendapat cerita dari benteng ini, bagaimana kehidupan keluarga para tentara di masa kolonial. Menurut catatan Philibert Dabry De Thiersant, seorang diplomat Perancis, prajurit militer Hindia-Belanda atau KNIL “ diizinkan membawa istri dan anak keluarga, kecuali di saat perang “. Di dalam barak yang luas dan ramai itu, “ mereka makan, menyiapkan makanan, dan membersihkan barak bersama “. Hukum militer harus mereka patuhi dengan baik. Tempat tidur diatur sesuai kompi pasukan yang ada. Masing-masing prajurit memiliki tempat tidur yang tinggi dilengkapi kelambu, mebel sederhana dan kelengkapan lain ( untuk personel Eropa disediakan selimut katun tebal dan personel bumiputra disediakan sarung yang dicap khusus agar tidak tertukar ). Karena tidak cukup ruang di dalam tangsi, maka anak-anak mereka tidur di kolong tempat tidur, sehingga lahirlah istilah anak kolong yang menuju pada anak-anak tentara. Setiap tentara dijatah dengan daging segar roti, beras, garam, dan merica yang pembagiannya tidak ada perbedaan antara tentara Eropa dengan Bumiputera, kecuali bagi daging babi yang tidak diberikan untuk yang beragam Islam. Supaya gerak-gerik tentara Bumiputera dapat diawasi, sejumlah bintara Eropa tinggal di dalam barak kompi Bumiputera dan Kompi Eropa tinggal dekat kompi Bumiputera ( Santosa, 2016; 141-142 ).
Letnan S.W. Albreda dan istrinya di beranda depan rumahnya. Terlihat pot-pot tanaman yang tertata rapi di halaman depan rumah ( sumber : media-kitlv.nl ).
Kediaman S.W. Albreda saat ini.
Puing bangunan rumah Indis
Ketika melangkah ke arah penjara militer yang ada di selatan benteng, entah mengapa saya merasa aura militer benteng ini hidup kembali, apalagi ketika melihat petugas berseragam yang sedang berjaga di pintu masuk penjara. Tembok tinggi yang berdiri melintang di tengah-tengah benteng memisahkan pengunjung luar dengan kelamnya dunia penjara. Di hadapan tembok penjara itu, berdiri tiga buah bangunan berlanggam Indis Klasik dengan pilar-pilar Yunaninya yang bertengger di beranda depan. Dari tiga rumah itu, satu bangunan kini hanya menyisakan puing dindingnya saja. Rumah-rumah itu sejatinya ditempati oleh komandan tentara benteng ini. Bagian depannya dihiasi dengan pot-pot tanaman tropis yang menjadi digemari oleh orang-orang Eropa kala itu.
Pintu utama benteng. Aslinya ada menara jam di atasnya.
Pintu masuk benteng sisi utara.
Dari dalam benteng, saya menjajal untuk jalan kaki mengitari benteng ini. Benteng Willem I rupanya masih belum selesai bercerita. Kali ini, dengan raut sedih, ia bertutur kisah kelam di masa penduduka Jepang. Kala itu, ia dipakai sebagai kamp internir orang Eropa dan mereka yang dicurigai membangkang kepada pemerintah militer Jepang. Setidaknya ada seribu orang yang ditahan di dalam benteng itu. Jatah ransum untuk mereka amat sedikit. Dalam dua kali sehari, yakni di pagi dan siang hari, mereka memasak jagung yang seringkali tidak matang dimasak. Malam harinya, mereka harus puas dengan nasi dan sayuran yang sedikit. Tiada air untuk mencuci, tapi untungnya, masih ada air untuk diminum.
Parade tentara Belanda di dalam benteng pada tahun 1947. Di masa agresi, benteng ini diduduki Belanda dan menjadi markas tentara hingga agresi berakhir ( sumber : gahetna.nl ).
Dengan berapi-api, benteng ini kembali bertutur, kali ini di masa republik ini masih belia. Kala itu oleh para republikan dijadikan kamp tahanan orang Eropa dan tentara Jepang yang sudah menyerah. Tentara sekutu datang ke sini untuk mengevakuasi para tawanan itu dari benteng ini. Namun tanpa diduga, pemerintah Belanda membonceng mereka dan berusaha menegakan kembali kuasa mereka di negeri yang baru saja merdeka itu. Mula meletuslah pertempuran yang berjuluk Palagan Ambarawa itu. Tatkala pengepungan dilakukan oleh TKR ( tentara Indonesia pada saat itu ), segala serangan balik dilancarkan oleh sekutu. Pesawat Thunderbolt meraung di langit Ambarawa, menjatuhkan bom-bom ke tanah. Tembakan artileri bertubi-tubi menghujam bumi Ambarawa. Namun serangan itu gagal mematahkan perlawanan TKR sehingga pada bulan Desember, Sekutu bergegas mengevakuasi rombongan tawanan dan mundur kembali ke Semarang.

Begitulah benteng tua di tepi rawa itu menceritakan hikayatnya, sebuah hikayat yang menceritakan perjalanan sejarah sebuah bangsa, dari puncak masa kolonial, dimana pemerintah kolonial berupaya mengamankan Hindia-Belanda dari ancaman asing, berlanjut ke masa pendudukan Jepang, ketika orang-orang barat diperlakukan sebagai tawanan oleh orang timur yang dulu dipandang rendah, hingga awal kemerdekaan, ketika benteng ini menjadi saksi dari perjuangan anak bangsa yang mati-matian mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Dahsyatnya kisah sejarah yang dituturkan benteng ini ternyata tidak sebanding dengan perlakuan yang diterimanya saat ini. Entah karena tiada biaya untuk mengurusnya atau ia dianggap sebagai peninggalan penjajah sehingga sengaja dibiarkan rusak termakan usia. Entah apakah benteng ini di kemudian hari masih dapat bercerita atau tidak…

Referensi
Santosa, Iwan. 2016. KNIL, Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Perancis. Jakarta: Penerbit Kompas.

Tim Penyusun. 2012. 
Forts in Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://www.indischekamparchieven.nl/

5 komentar:

  1. sudah pernah kesini setelah dari Museum Kereta Api Ambarawa, tapi ga tau benteng apa.
    terima kasih atas penjelasannya...

    BalasHapus
  2. kerennya info ini.. trimakasih..

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. kerennya info ini.. trimakasih..

    BalasHapus