Minggu, 14 Mei 2017

Menyibak Keindahan Bangunan Bersejarah di Gedangan, Semarang

Bangunan sejarah di Kota Lunpia Semarang selama ini diidentikan dengan bangunan lama yang ada di kawasan Kota Lama Semarang atau di sekitar Tugu Muda saja. Benarkah demikian ? Jika kita mau berjalan sedikit ke arah timur, tepatnya di sepanjang Jalan Ronggowarsito atau disebut juga Gedangan, kita akan menemukan bangunan-bangunan bersejarah lainnya yang tidak kalah cantik dengan yang ada di Kota Lama. Seperti apa dan bagaimana sejarah di baliknya akan saya ulas pada tulisan Jejak Kolonial Kali Ini.

Bermula dari Panti Asuhan
Batu peringatan peletakan batu pertama rumah sakit kompeni oleh Frederik Julius Coyet pada tahun 1732.
Pada tahun 1732, ketika Semarang masih berada di bawah panji kompeni VOC, seorang pejabat VOC bernama Frederik Julius Coyet mendirikan sebuah rumah sakit kompeni di Gedangan ( Brommer, 1995; 123-124 ). Tidak seperti sekarang, pada waktu itu Gedangan masih merupakan wilayah pinggiran yang sepi, lokasi ideal untuk sebuah rumah sakit karena pada waktu itu penyakit masih gampang menular dan sebab itu pasien harus diisolasi.
Kompleks Gedangan pada peta Semarang tahun 1909 ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Di masa VOC, kebebasan umat beragama masih terkekang. Orang Belanda yang mayoritas beragama Kristen Protestan memiliki sentimen terhadap orang-orang Katolik karena mereka mengganggap orang Katolik merupakan sekutu Spanyol, bangsa yang pernah menduduki Belanda pada abad ke-16. Para penganut Katolik dipaksa pindah ke Gereja Protestan. Jika tidak mau hukuman penjara atau pengasingan sudah siap menunggu. Akhirnya terjadilah sebuah angin perubahan. Negeri Belanda tiba-tiba diduduki oleh Perancis dibawah Kaisar Napoleon. Saudara Napoelon, Louis atau Lodewijk Bonaparte yang beragama Katolik diangkat menjadi Raja Belanda. Louis kemudian menunjuk Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda dan memberi kebebasan kepada penganut Katolik. Pada tahun 1808, Daendels menempatkan Pastor Lambertus Prinsen, Pr. sebagai Pastor pertama di Semarang. Pastor Prinsen sendiri berkarya di antara orang-orang Eropa yang tinggal di Semarang termasuk Rembang, Jepara, Pemalang, Salatiga, Klaten, dan Yogyakarta ( 2 Abad Menjadi Terang dan Garam, 2008 ; 19 ). Meskipun memiliki wilayah yang cukup luas dan umat yang cukup banyak, namun pada waktu itu Semarang masih berada di bawah Vikariat Apostolik ( semacam provinsi dalam Gereja Katolik ) Batavia. Semarang baru menjadi Vikariat Apostolik atau keuskupan tersendiri pada tahun 1940 dengan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ sebagai uskupnya sekaligus menjadi uskup pertama dari kalangan bumiputra ( Utami , 2012;16 ).
Jalan Ronggowarsito atau Kloosterstraat pada tahun 1915. Tampak jalur trem yang ada di sebelah kiri jalan ( sumber : media-kitlv.nl ).
Tidak lama setelah kedatangan Pastor Prinsen, dibentuklah Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM ) yang beranggotakan empat orang, terdiri dari dua orang Belanda, satu orang Jerman dan satu orang Perancis. Tahun 1828, Pastor Prinsen diganti oleh Pastor J.J. Scholten, Pr. Berkat usahanya, panti asuhan yang semula baru menerima dua anak dan menempati sebuah rumah koster, kini berkembang menjadi 60 anak dan berhasil mendapatkan tempat penampungan yang lebih besar, yakni sebuah bekas rumah sakit yang dibangun oleh Coyett tadi. Di tengah jalan sempat terjadi konflik kepengurusan panti asuhan karena pada tahun 1834, Residen Semarang memecat PGPM dan kepengurusan dipegang oleh campuran orang Katolik dan Protestan. Tentu saja hal itu mendapat kritikan dari kalangan Katolik sehingga kepengurusan dikembalikan seperti semula. Pada waktu itu pemerintah kolonial memang sering ikut campur dengan urusan Gereja ( Sejarah Gereja St. Yusuf Gedangan, 2000; 15 ).
Gereja St.Yusuf Gedangan pada tahun 1925 ( sumber : Semarang, Beeld van een Stad ).
Medio abad ke-19, pengurus panti asuhan dipegang oleh Pastor Mgr. Lijnen, Pr. ( Pastor Gedangan tahun 1858-1882 ). Karena semakin kewalahan, Pastor Lijnen mencari bantuan ke Belanda pada 1868. Bantuan tenaga akhirnya diterima dari biara induk Ordo Fransiskus atau OSF di kota Heythuisen. Ordo OSF tersebut kemudian mengirim sebelas suster ke Semarang untuk mengurus panti. Kedatangan suster-suster ini diperingati pada sebuah prasasti di tembok biara. Selain mengurus panti, suster-suster ini juga mulai mendirikan sekolah untuk anak-anak dari luar panti. Oleh karena itu pada tahun 1872, dibangun sebuah gedung sekolah baru. Sekolah ini diberi nama Eksternat yang dimaksudkan untuk pendidikan anak-anak luar panti ( Deus Providebit – 125 Tahun Tarekat OSF Indonesia, 1995 : 34-35 ).
Para siswa putri yang sedang makan bersama ( sumber : media-kitlv.nl ).
Masa-masa suram kompleks Gedangan terjadi pada masa penjajahan Jepang, ketika tanggal 21 Oktober 1943, pemerintah militer Jepang menyita biara dan menjadikannya sebagai kamp internir untuk anak-anak dan perempuan. Selain itu, juga ada sejumlah kecil pria dewasa dan lanjut usia yang ditawan di sini. Diperkirakan ada 2.440 orang yang ditawan di dalam kamp yang terhitung sempit ini. Menjelang akhir kekusaan Jepang di Indonesia, para tawanan dipindah ke kamp Bangkong dan Lampersari ( Brommer, 1995; 52-55 ).
Mgr. Albertus Soegijapranata S.J. ( sumber : wikimedia.org ).
Paska kemerdekaan, kompleks Gedangan menjadi saksi dari perjuangan seorang uskup pertama dari bangsa Indonesia, Mgr. Albertus Soegijapranata S.J. Di halaman Pastoran Gedangan, bendera merah putih dikibarkan sebagai bentuk dukungan uskup yang terkenal dengan motto " 100% Katolik, 100% Indonesia " kepada kemerdekaan RI. Di waktu yang sama, tentara sekutu mendarat di Semarang dengan niat untuk memulangkan tawanan dan melucuti senjata Jepang. Kedatangan sekutu ini ternyata diikuti oleh NICA yang berusaha memulihkan kedudukan Belanda di Indonesia. Akibatnya pecah beberapa pertempuran di sekitar Semarang. Dari Pastoran Gedangan, Uskup Soegija menyerukan pesan-pesan agar Sekutu menghentikan pertempuran karena hal tersebut menyengsarkan rakyat. Pada tahun 1946, pemerintah RI memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah dan untuk memudahkan komunikasi, maka Uskup Soegija meninggalkan Gedangan untuk pindah ke Yogyakarta, tempat beliau pertama kali bertugas sebagai uskup. Uskup Soegija baru kembali ke Semarang pada tahun 1949 setelah kedaulatan RI diakui Belanda.

Di Bawah Bayang-Bayang Kaca Patri

Jalan Ronggowarsito meskipun hanyalah sepetak jalan sepanjang tiga ratus meter, namun di kanan dan kiri jalan ini kita akan dibuat terpana dengan keindahan bangunan-bangunan lama milik gereja yang masih dipelihara dengan baik, tidak kalah dengan bangunan yang ada di Kota Lama. Keindahan bangunan ini tidak kalah dengan bangunan-bangunan yang ada di kota lama. Dahulu jalan Ronggowarsito bernama Kloosterstraat atau Jalan Biara karena di jalan ini terdapat bangunan biara. Sebelum bernama kloosterstraat jalan ini bernama zeestraat.
Gereja St.Yusuf Gedangan.
Bangunan pertama yang dapat kita kunjungi adalah Gereja Santo Yusup. Gereja ini dibuka setiap harinya, kira-kira dari jam delapan pagi sampai satu siang. Ketika kita berkunjung ke gereja, pastikan kita memakai pakaian sopan dan menjaga tingkah laku karena bagaimanapun juga, gereja ini merupakan tempat suci yang harus dihormati.
Bagian dalam gereja. Di sebelah kanan tampak mimbar khotbah yang sudah tidak ada lagi ( sumber : media-kitlv.nl ).
Sebelum gereja ini dibangun, ibadah umat  Katolik menumpang di gereja milik umat Protestan yang kini kita kenal sebagai Gereja Blenduk hingga tahun 1822. Dana dan tiadanya tanah tempat mendirikan gereja menjadi kendala dalam pembangunan gereja tersebut. Semula, gereja akan didirikan di heerenstraat ( Sekarang Jalan Letjend.Suprapto ) tetapi entah kenapa tidak jadi. Kemudian ibadah dipindahkan ke gereja darurat yang berada di dekat Taman Sri Gunting ( yang kini menjadi Galeri Semarang ). Untungnya pada tahun 1859, gubernur Jenderal datang ke Semarang dan melihat sendiri kondisi gereja darurat yang memprihatinkan. Akhirnya gereja menerima subsidi dari pemerintah sebesar f.50.000 , namun subsidi baru turun tahun 1869. Pada 1 Oktober 1870, dilakukan upacara peletakan batu pertama oleh Pastor Lijnen yang disaksikan oleh pengurus gereja, suster, dan anak panti asuhan. Karena terkendala biaya, gereja dibangun secara perlahan bahkan sempat ambruk di tengah pembangunan akibat tiang kurang kuat dan kualitas bata kurang bagus ( 2 Abad Menjadi Terang dan Garam, 2008 ; 20 ).

Dari luar, kita dapat melihat gereja yang dirancang oleh W. van Bakel ini didominasi oleh bata merah yang tidak diplester. Bata-bata ini diimpor langsung dari Belanda dan dipakai pada bangunan-bangunan lain di kompleks biara di seberang gereja dan pastoran di samping gereja. Elemen arsitektur Neo-Gothik terlihat sekali pada jendela-jendela berbentuk seperti jarum. Di atas menara gereja ini, dahulu terdapat sebuah jam. Perlu diketahui, atap menara gereja ini awalnya akan dibuat dengan bentuk lancip yang menjulang tinggi namun tidak jadi karena khawatir bahaya gempa bumi. Meskipun gaya bangunannya mirip dengan katedral di Eropa, namun gereja ini tidak bisa disebut sebagai katedral karena di dalam gereja tidak ada tahta uskup yang disebut cathedra.
Bagian nave gereja.
Untuk masuk ke dalam gereja, selain pintu utama yang ada di sebelah barat, juga ada sebuah pintu kecil di sebelah utara gereja. Apabila kita masuk ke gereja pada hari biasa, suasana gereja begitu sepi, namun khidmat. Denah gereja ini  terdiri dari sebuah galeri panjang yang disebut nave di bagian tengah dan sayap di kanan-kiri nave yang disebut aisle. Denah seperti ini disebut sebagai denah basilica. Apa itu basilica Basilica aslinya adalah bangunan tempat pertemuan, pasar dan ruang sidang pada masa kekaisaran Romawi. Konsep ini kemudian diadopsi oleh gereja sebagai tempat ibadah karena dianggap dapat menampung banyak jemaat ( Sumalyo, 2014; 54-55 ). Sebagai tambahan, di samping kanan dan kiri gereja terdapat ruang pengakuan dosa.
Altar lama bergaya gotik ( belakang ) dan altar baru ( depan ).
Langit-langit gereja ini berbentuk rib vault layaknya bangunan katedral di Eropa dan ditopang oleh pilar-pilar bergaya klasik. Aslinya, langit-langit gereja ini terbuat dari kayu dan kaya dengan hiasan namun sejak renovasi tahun 2000 sudah ditutup dengan plat dari gips. Bagian lain yang diubah adalah lantai gereja yang aslinya berupa tegel yang berasal dari sumbangan pabrik tegel Regout di Maastricht, Belanda, yang akhirnya diganti pada renovasi tahun 1992. Mimbar khotbah yang dahulu ada di dekat altar kini juga tidak ditemukan lagi.
Bekas balkon koor.
Bangku gereja yang masih asli.

Orgel yang sudah tidak berfungsi lagi.
Meskipun ada beberapa bagian yang diubah, namun menariknya bangku-bangku lama dari tahun 1885 masih dipakai hingga sekarang. Bagian lain yang belum berubah adalah altar gereja dari kayu yang ada di bagian apse atau rang altar. Altar bergaya gotik ini dibuat di kota Duesseldorf, Jerman. Sebelum Konsili Vatikan II tahun 1962, imam melakukan ekaristi menghadap altar, membelakangi jemaat. Namun setelah Konsili Vatikan II, altar tidak dipakai lagi karena imam melakukan ekaristi menghadap jemaat. Bagian lain yang masih asli adalah balkon paduan suara di sebelah barat. Di masa lalu, teknologi pengeras suara masih belum ditemukan sehingga agar suara paduan suara dan orgel terdengar oleh seluruh jemaat di dalam gereja, maka paduan suara dan orgel dinyanyikan dari tempat yang lebih tinggi. Orgel gereja ini sendiri juga masih asli dari tahun 1903, namun sayangnya kita tidak bisa lagi mendengarkan keindahan suara yang dihasilkan orgel ini.

Bagian triforium yang melukiskan salah satu kisah dari Perjanjian Baru. Di bawah lukisan terdapat penggalan doa Bapa Kami dalam bahasa Belanda.
Di dalam gereja, kita dapat melihat berbagai karya seni seperti lukisan dan kaca patri yang sudah ada sejak zaman Belanda. Hiasan berupa lukisan dapat ditemukan pada bagian triforium. Lukisan-lukisan ini menceritakan kisah-kisah yang terdapat pada Alkitab. Sementara itu di bawah lukisan tadi terdapat doa Bapa Kami dalam bahasa Belanda yang dipenggal per kalimat.
Salah satu hiasan kaca patri di Gereja Gedangan. Di sebelah kanan tampak sosok St. Ignatius Loyola, mantan tentara yang kemudian mendirikan ordo Serikat Jesuit. Ordo Serikat Jesuit banyak mengirimkan anggotanya ke wilayah misi yang jauh seperti Jawa. Sebagian besar misionaris di Jawa Tengah pada masa kolonial adalah anggota Serikat Jesuit. Di sebelah kiri ialah St.Aloysius Gonzaga, seorang pemuda bangsawan yang gigih untuk menjadi seorang Jesuit meski keluarganya tidak mengizinkan. Ketika kota Roma diserang wabah, dia menolong para korban sebelum akhirnya meninggal akibat wabah yang sama. Dalam ikonografi, atribut bunga lili tidak lepas darinya.
Hiasan lainnya adalah hiasan kaca patri yang memberi kesan temaram pada bagian dalam gereja. Keindahan kaca patri ini tidak bisa dinikmati dari luar dan untuk menikmatinya kita harus masuk ke dalam. Hiasan-hiasan kaca patri ini menggambarkan sosok santo dan santa ( orang suci ) dalam agama Katolik yang digambarkan sesuai atribut ikonografinya masing-masing. Menariknya ialah semua santo dan santa yang digambarkan di kaca patri ini tidak ada yang tersenyum. Dalam kaidah ikonografi Kristen, wajah santo atau santa memang jarang atau malah tidak ada yang digambarkan dengan mulut tersenyum ( iconreader.wordpress.com ). Adapun santo-santa yang digambarkan pada kaca patri di gereja ini antara lain St.Fransiscus Asissi, St. Antonius Padua, St. Cecilia, St.Anna, St. Elisabeth, St. Agnes, St. Fransiscus Xaverius, St. Ignatius Loyolla dan lain-lain. Bagi yang tidak paham ikonografi Kristen, kita dapat mengenali sosok santo-santa tadi dengan membaca namanya yang ada di bagian halo ( lingkaran di belakang kepala, simbol kesucian ). Dengan adanya kaca patri ini, jemaat yang ada di dalam gereja seolah-olah sedang dilihat oleh para santo-santa.
Batu peringatan Pastor Lijnen.
Pada salah satu sudut gereja, kita dapat menjumpai batu peringatan Pastor Lijnen, pastor yang meresmikan gereja ini. Karena masih terlihat orisinil, maka gereja ini sempat menjadi lokasi syuting film “Soegija”, sebuah film yang mengangkat kehidupan Romo Soegija yang memang sempat tinggal di Pastoran Gereja ini.
Bangunan Pastoran Gedangan.
Persis di sebelah utara gereja, terdapat bangunan Pastoran yang masih asli dengan hiasan bata eksposenya yang menawan. Orientasi Pastoran berlantai ini tampaknya menghadap ke selatan, ke arah gereja karena di sebelah selatan terdapat sebuah beranda. Bangunan Pastoran atau tempat tinggal pastor dapat ditemukan pada gereja-gereja besar dan lokasi biasanya dekat dengan gereja untuk memudahkan pelayanan. Di puncak atap Pastoran, kita dapat melihat hiasan penunjuk arah angin atau yang disebut windwijzers. Dahulu sebelum tinggal di Pastoran di Katedral Semarang di Randusari, Romo Soegija tinggal dan merangkap sebagai Pastur Kepala di Gedangan hingga tahun 1946.
Kompleks susteran dan gerbang utama.
Di seberang gereja, dibalik sebuah pintu gerbang antik, terdapat kompleks biara OSF Gedangan. Biara ini dahulunya adalah bekas rumah milik Tuan Nootbar yang didiami oleh keluarga Buck dan keluarga Raadhoven. Kemudian rumah ini dibeli oleh gereja seharga f. 46.360. ( Deus Providebit – 125 Tahun Tarekat OSF Indonesia, 1995 : 34-35 ) Langgam arsitektur Indis Neo-Klassik terlihat jelas sekali pada bangunan ini dengan pilar-pilar besar bergaya roman yang berjejer di beranda depan. Di sudut biara, kita dapat menemukan prasasti peringatan peletakan batu pertama rumah sakit oleh Julius F.Coyett pada tahun 1732. Bekas rumah sakit VOC yang kini menjadi panti asuhan kemungkinan berada di belakang biara ini.
Prasasti peringatan seratus tahun berdirinya panti asuhan ( 1809-1909 ) yang didirikan oleh Pastor Prinsen dan empat pastor pembantu.
Batu prasasti peringatan kedatangan sebelas suster dari biara Heythuisen pada tahun 1870.
Bangunan Susteran dilihat dari samping.
Beranda depan susteran dengan pilar-pilar berorder dorik.
Selain prasasti tadi, kita juga dapat menemukan batu prasasti berbahasa Belanda. Prasasti ini memperingati seratus tahun dibentuknya PGPM. Di sini kita juga bisa menemukan prasasati yang memperingati kedatangan sebelas suster pertama Ordo Fransiskan dari biara Heythuisen.
Bangunan kapel dilihat dari luar.
Di sebelah utara biara, tersambung dengan sebuah doorlop atau selasar, terdapat sebuah kapel bergaya gotik. Di belakang kapel ini, terdapat sebuah penanda berbahasa Latin yang berbunyi “Hic Primarius Lapis Positus Est. Die 17 Septembris A: MDCCCXCI”, penanda ini memperingati upacara peletakan batu pertama kapel ini pada tanggal 17 September 1891. Dirancang oleh Conrad dan Pastor Dijkmans, kapel ini akhirnya  diberkati oleh Pater Keyzer pada 6 Agustuss 1892.
Bagian dalam kapel pada tahun 1914. Tampak seorang suster yang sedang berdoa ( sumber : media-kitlv.nl ).

Masuk ke bagian dalam kapel, kita akan dibuat terpesona dengan jendela bergaya gotiknya yang tinggi dengan kaca patrinya yang penuh warna dan langit-langit berbentuk rib-vaulut dari kayu, seakan membawa kita ke suatu kapel peninggalan abad pertengahan di Eropa. Masih belum cukup indah, kita akan terbuai dengan keindahan lantai kapel yang masih dihampari dengan ubin tegel halus yang kaya warna dan memberi kesan seolah lantai kapel ini dialasi dengan permadani. Namun berdasarkan foto lama, interior kapel yang sekarang lebih sederhana dibandingkan yang dulu.
Jendela bergaya gotik dengan hiasan kaca patri. Hiasan kaca ini dapat dibuka tutup
Hamparan tegel kaya warna pada bagian lantai kapel.
Menariknya, kaca patri di jendela ini dapat dibuka tutup menggunakan sebuah tali penarik yang ada di bawahnya. Kapel ini masih menggunakan bangku jemaat yang asli. Pada bangku tersebut, kita dapat menemukan ornamen buah anggur yang merupakan bagian dari ikonografi Kristen. Anggur sendiri dalam kepercayaan Kristen melambangkan darah Kristus. Namun sesugguhnya, anggur dalam seni rupa sudah dikenal jauh sebelum agama Kristen muncul, yakni sejak zaman Yunani dan Romawi karena anggur merupakan lambang dari Dewa Dionysus, Dewa Anggur.
Bekas bangunan panti untuk anak perempuan.
Bekas bangunan panti untuk anak laki-laki.
Sementara itu, di sebelah selatan biara, terdapat kompleks sekolah milik yayasan Marsudirini. Dahulu bangunan ini merupakan kompleks panti asuhan dan sekolah yang disebut sekolah Eksternat. Tujuan pembukaan sekolah ini yaitu untuk menampung anak-anak dari luar panti yang ingin belajar. Bangunan bangunan bergaya ekletik tersebut didirikan pada 19 Maret 1872 di bawah pengawasan arsitek W. van Bakel dan kemudian diberkati oleh Pastor Lijnen pada 1 Mei 1873. Dahulu panti asuhan untuk putra dan putri berada di kompleks ini. Panti asuah putra berada dibawah kepengurusan bruder sementara panti asuhan putri diurus oleh para suster. Karena panti asuhan putra semakin berkembang didirikanlah panti asuhan khusus putra di Karangpanas.
Bekas novisiat yang kini menjadi Sekolah Tinggi Pastoral Katekik.
Kemudian di sebelah utara biara, terdapat bekas novisiat untuk calon biarawati OSF. Bangunan ini sendiri merupakan yang paling “muda”  karena  baru dibangun pada tahun 1923. Meskipun relatif muda, bangunan ini seolah berusaha menyesuaikan dengan bangunan-bangunan lain di kompleks ini yang lebih tua dengan menguatkan aksen bata merahnya yang tampak serasi dengan kapel di sebelahnya. yang saat ini beralih fungsi sebagai Sekolah Tinggi Pastoral Katekik pada tahun 2009.

Demikianlah penelusuran Jejak Kolonial pada bangunan-bangunan bersejarah di Gedangan. Meskipun namanya kurang tenar dibandingkan dengan Kota Lama, namun Gedangan memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena Gedangan menjadi gerbang awal perkembangan misi Katolik tidak hanya di Kota Semarang, namun juga hampir seluruh Jawa Tengah dan Yogyakarta. Meskipun terpelihara dengan baik, namun bangunan bersejarah yang ada di Gedangan ini mulai terancam oleh banjir rob yang kerap menggenangi kota Semarang. Selain itu Jalan Ronggowarsito yang membelah kawasan Gedangan juga sering dilalui oleh kendaraan berat yang getaranya memiliki efek samping terhadap konstruksi bangunan ( Istianingsih, 2010; 85-86 ). Jika tidak ada upaya pencegahan dalam jangka waktu lama, maka perlahan akan timbul retakan dan apabila dibiarkan terus menerus, bukannya tidak mungkin bangunan-bangunan indah nan bersejarah yang ada di Gedangan akan runtuh dan musnah di masa depan nanti. Mudah-mudahan saja ada upaya preventif dari pemangku kebijakan untuk menyelamatkan bangunan-bangunan ini.

Referensi
Brommer, B. dkk. 1995. Semarang, beeld van een stad. Purmerend : Asia Maior.

Dewan Paroki Santo Yusuf Gedangan. 2000. Sejarah Gereja St. Yusuf Gedangan ; Dalam Rangka Peringatan 125 Tahun Gedung Gereja. Semarang.

Istianingsih, Sri Mulyo. 2010. “Strategi Pengelolaan Bangunan Kolonial di Jalan Ronggowarsito ( Gedangan ) Semarang “. Skripsi. Fakultas Ilmu Budaya. Yogyakarta.

Utami, Ayu. 2012. Soegija, 100% Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Pantian Dua Abad Paroki Santo Yusuf Gedangan Semarang. 2008. Dua Abad menjadi Terang dan Garam. Peziarahan Umat Paroki Santo Yusuf Gedangan Selama Dua Abad 1808-2008.

Sumalyo, Yulianto. 2014. Arsitektur Klasik Eropa. Yogyakarta: UGM Press.

Tarekat OSF Provinsi Tritunggal Mahakudus. 1995. Deus Providebit: 125 Tahun Tarekat OSF di Indonesia. Tarekat OSF Provinsi Indonesia. Semarang.

https://iconreader.wordpress.com/2013/06/15/why-do-the-saints-never-smile-in-icons/

1 komentar:

  1. Aku di baptis disini mas. Terimakasih telah mengulas sejarah gereja gedangan ini. Yg menurutku lebih megah da lebih cantik drpd katedral di randusari.

    BalasHapus