Jumat, 28 Juli 2017

Stasiun Tanggung, Stasiun Kecil Monumen Sejarah Kereta Api di Indonesia

Stasiun Tanggung merupakan sebuah stasiun kecil di daerah Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Meskipun berukuran kecil, stasiun ini ternyata menyimpan sejarah yang sangat besar karena merupakan saksi bisu dari pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa. Bagaimana kisahnya dan seperti apa kondisi stasiun ini sekarang ? Simak tulisan saya di Jejak Kolonial edisi kali ini.

Putaran Sejarah Kereta di Jawa

Entah benar atau tidak, kehadiran kereta api di Pulau Jawa rupanya sudah diramalkan jauh sebelum penjajah Eropa menginjakan kakinya ke Nusantara. Maharaja Jayabhaya, raja kerajaan Kediri yang memerintah pada abad ke 12 dipercaya membuat sebuah ramalan yang menggambarkan kondisi Pulau Jawa di masa depan. Salah satu ramalan tersebut berbunyi “Kelak akan ada kereta yang berjalan tanpa kuda dan Pulau Jawa akan berkalung baja”. Tentu ramalan tersebut sulit dipahami orang pada masa itu. Bagaimana bisa ada sebuah kereta yang bisa berjalan tanpa kuda dan yang lebih mengherankan, bagaimana membuat Pulau Jawa berkalung baja ? Sebuah jawaban yang akan terjawab tujuh abad kemudian.
Stasiun Samarang, stasiun pertama di Indonesia yang berdiri tahun 1867. Foto diambil sekitar tahun 1905. ( sumber : media-kitlv.nl ).
Abad 19 nun jauh di benua Eropa sana, muncul penemuan-penemuan cemerlang mahakarya dari Revolusi Industri. Salah satu dari sekian penemuan yang cemerlang tersebut adalah lokomotif uap yang ditemukan oleh George Stephenson pada 1829. Mesin baru tersebut dapat menarik beban lebih banyak dan sedikit lebih cepat ketimbang kuda ( Burschell, 1984;14 ). Dua dasawarsa sejak keberhasilan Stephenson, jalur kereta api segera dibuka di seantero Eropa termasuk wilayah jajahan mereka seperti Hindia-Belanda yang menjadi jajahan Belanda. 

Gagasan pembangunan jalur kereta di Jawa sesungguhnya sudah dicetuskan sejak tahun 1840. Kolonel Jhr. Van der WIjk-sang penggagas ide tersebut-melihat bahwa kereta api merupakan jawaban atas kendala prasarana dan sarana transportasi di Jawa. Sayangnya ide tersebut malah menimbulkan perdebatan di Parlemen hingga akhirnya tenggelam. Gagasan tersebut mencuat kembali ketika semakin banyak perkebunan yang dibuka oleh orang-orang koloni. Apalagi setelah melihat kesuksesan Inggris membuat jalur kereta di India pada tahun 1853. Sebagai langkah pertama, dilakukan sebuah studi banding oleh Stieljtes yang menyarankan untuk membangun jalur kereta dari Semarang-Ungaran-Salatiga karena di sana terdapat garnisun militer dan terdapat populasi orang Eropa dalam jumlah cukup banyak. Berbeda dengan saran dari Stieljtes, sebuah konsorium yang dibentuk oleh Poolman, Fraser, dan Kol mengusulkan agar membangun jalur kereta dari Semarang-Solo-Yogyakarta dengan pertimbangan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur yang diusulkan oleh Stieljtes. Pertimbangan lain karena  daerah Solo dan Yogyakarta ( Vorstenlanden ) sendiri merupakan wilayah penghasil ekspor yang kaya. Setelah melobi pemerintah, akhirnya konsorium milik Poolman cs mendapat konsensi membangun jalur kereta dari Semarang- Vorstenlanden. Tahun 1862 konsorsium tersebut berubah namanya menjadi Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij dan perusahaan tersebut menjadi perusahaan kereta pertama di Hindia-Belanda ( Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997; 48-53 ).
Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele ( 1806-1890 ), Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang meresmikan pembangunan jalur kereta api di Hindia-Belanda.
Tidak lama kemudian, 16 Juni 1864 diadakan sebuah upacara sebagai tanda dimulainya pembangunan jalur kereta. Gubernur Jenderal Mr. Baron Slur ( Sloet ) van de Beele tiba di Semarang dengan kereta kebesaran diiring dengan para pembesar dan serdadu untuk meresmikan upacara pencangkulan pertama yang diadakan esok hari. Di sepanjang Jalan Bojong ( kini jalan Pemuda ), dari kediaman Residen ( kini rumah dinas Gubernur Jawa Tengah ), lewat Heerenstraat ( kini Jalan Letjen. Suprapto ), hingga lokasi pencangkulan pertama di Tambaksari, masyarakat bederet-deret memadati jalan. Sesuai dengan adat kolonial, ketika Gubernur Jenderal lewat mereka harus berjongkok. Trap-trap yang dihias indah di lokasi pencangkulan menyambut sang gubernur. Masyarakat Semarang tumpah ruah di lokasi itu, maklum lawatan seorang Gubernur Jenderal merupakan hal yang jarang terjadi pada waktu itu. Pada 17 Juni 1864, dengan diiringi musik militer dan gamelan, Gubernur Jenderal melakukan upacara menyerok tanah, tanda dimulainya pembangunan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden dan serokan pertama itu sekaligus menjadi awal sejarah transportasi kereta di Nusantara ( Liem Thian Joe, 1931; 162 ).
Foto Stasiun Tanggung ketika baru saja dibuka pada tahun 1867. Wilayah sekitar stasiun masih terlihat seperti sebuah frontier. Foto ini diambil oleh agensi foto Woodbury & Page, co ( Sumber : media-kitlv.nl ).
Selama pembangunan jalur Semarang-Tanggung oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, tersiar rumor yang cukup menggemparkan di masyarkat. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa banyak penculik anak kecil yang keluar masuk perkampungan. Anak kecil ini nantinya akan dijadikan sebagai tumbal pembangunan jembatan mengingat takhayul masyakat pada waktu itu bahwa setiap pembangunan jembatan memperlukan sesajen agar selamat. Rumor tersebut menyebar begitu cepat bagai kabar hoax pada masa sekarang. Orang-orang tua mengawasi anaknya dengan lebih ketat sehingga setiap menjelang sore anak-anak tersebut pasti sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Setelah pembangunan jalur kereta selesaipun juga masih muncul rumor-rumor aneh. Mula-mula banyak orang yang tidak berani naik kereta api sebab mereka percaya jika orang yang naik kendaraan itu bisa hilang, dimakan oleh penunggu kereta. Masyarakat, terutama masyarakat pribumi dan Tionghoa percaya bahwa lokomotif itu dijalankan dengan kekuatan setan karena lokomotif itu bisa bergerak sendiri tanpa ditarik kdua. Namun sedikit demi sedikit orang mulai berani menaiki kereta ( Liem Thian Joe, 1931; 163 ).

Pembangunan jalur kereta api tentu tidak hanya berhenti sampai Tanggung saja. Ketika itu, wilayah Tanggung dapat dikatakan sebagai wilayah frontier yang nyaris tidak tersentuh oleh peradaban. Namun karena kesulitan finansial akibat biaya pembangunan yang ternyata melonjak dari perkiraan, maka pembangunan jalur kereta api terhenti sampai Tanggung, Grobogan yang selesai pada tanggal 10 Agustus 1867.  Bahkan tahun 1868 pembangunan kereta api di Jawa terancam gagal. Setelah mendapat bantuan dana dari pemerintah dan pengusaha, akhirnya pembangunan jalur kereta dapat diselesaikan sampai Surakarta pada 1870 dan Yogyakarta pada 1872. Dengan demikian, akhirnya wilayah Vorstenlanden terkoneksi dengan Semarang dan hasil-hasil perkebunan berhasil diangkut sampai pelabuhan membawa keuntungan besar bagi Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij sebagai operator. Kesuksesan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden menginspirasi dibangunnya jalur kereta api lain yang dioperasikan oleh pemerintah atau swasta. Hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa dibangun jalur rel baja yang saling menyambung satu sama lain tanpa putus, seolah Pulau Jawa berkalung besi. Di atas rel baja tersebut, melintas kereta-kereta yang tidak ditarik oleh kuda lagi, melainkan oleh lokomotif uap yang perkasa. Ya, Ramalan Maharaja Jayabhaya dari ratusan tahun silam sudah terwujud…

Stasiun yang Terbuat dari Kayu
Monumen peringatan di depan Stasiun Tanggung.
Ketika sampai di Stasiun Tanggung, rasanya kita nyaris tidak akan percaya bahwa dari stasiun sederhana ini, sejarah kereta api akan bermula. Kita baru akan disadarkan dengan sebuah tugu peringatan yang terletak di depan pintu masuk stasiun. Di tugu itu, tertulis “Di Bumi inilah kita bermula” sebagai pengingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia. Seharusnya tugu tersebut didirikan di eks Stasiun Samarang di Kemijen, Semarang yang menjadi titik awal pembangunan jalur kereta api. Sayangnya stasiun bersejarah tersebut sekarang nyaris terbenam rob dan sulit dikenali bekasnya. Ya, bertambah satu lagi monumen sejarah kita yang terlupakan…
Beberapa contoh bangunan stasiun dari kayu yang ada di Jawa. Kiri atas merupakan bangunan Stasiun Gresik ( sumber foto : flickr.com ), kanan atas ialah bangunan Stasiun Mayong, Jepara yang kini dipindah di sebuah resort di Magelang ( sumber foto : jejakbocahilang.wordpress.com ), kanan bawah Stasiun Tanggun, dan kiri bawah adalah Stasiun Maguwo Lama. Dari keempat stasiun tersebut, hanya Tanggung saja yang masih aktif.
Hampir seluruh bangunan ini terbuat dari kayu, baik dindingnya maupun tiang-tiangnya. Hanya genting dan lantainya saja yang tidak. Sangat sedikit stasiun yang yang bangunannya terbuat dari kayu. Setidaknya hanya empat stasiun di Jawa yang masih terbuat dari kayu, yakni Stasiun Tanggung, Stasiun Maguwo Lama di Yogyakarta, Stasiun Mayong di Jepara ( yang bangunannya dipindahkan ke sebuah resort di Magelang ), dan Stasiun Gresik. Dari sekian Stasiun tersebut, saat ini hanya Stasiun Tanggung saja yang masih aktif. Kayu-kayunya masih kuat menyangga konstruksi stasiun meskipun sudah berumur lebih dari seratus tahun. Pada tahun 1980, bangunan Stasiun Tanggung hampir dipindah ke TMII, untunglah hal tersebut batal dilakukan. Jika tidak terpaksa, memang lebih baik situs sejarah tetap berdiri di tempatnya.
Stasiun Tanggung dilihat dari sisi barat. Tampak bangunan kamar mandi yang terpisah dari Stasiun.
Peron stasiun Tanggung. Terlihat hamparan lantai tegel yang masih asli.
Kamar tunggu Stasiun Tanggung yang sederhana.
Stasiun Tanggung sendiri terbilang bersahaja, hanya memiliki empat ruang saja, yakni ruang kepala stasiun merangkap ruang penjualan loket, gudang, kamar tunggu, dan ruang PPKA. Untuk ruang yang terakhir, ruangan tersebut merupakan tambahan baru paska kemerdekaan. Stasiun ini terletak di sebelah utara rel dan hanya memiliki dua jalur dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus. Aslinya, Stasiun Tanggung dahulu aslinya memiliki lebar rel 1435 mm. Lebar rel tersebut merupakan lebar rel standar Eropa yang disyaratkan dalam awal pembangunan. Namun pada masa penjajahan Jepang, jalur rel tersebut digeser menjadi 1067 mm sampai sekarang.
Dinding sisi barat Stasiun Tanggung. Stasiun Tanggung merupakan stasiun bergaya Swiss-Chalet.
Bagian belakang Stasiun Tanggung.
Dari sisi arsitektur, bangunan Stasiun Tanggung memiliki gaya arsitektur Swiss Chalet. Gaya arsitektur ini aslinya dari Swiss dan dipakai pada bangunan lumbung, kandang, atau rumah tinggal. Banyak orang yang senang dengan gaya Swiss Chalet karena kesannya sederhana namun cantik. Dengan banyaknya turis yang bertamasya menikmati hawa sejuk Alpen di Swiss, maka pada abad ke-18, arsitektur Swiss Chalet menyebar ke Eropa, utamanya di Jerman dan Belanda. Ciri gaya arsitektur Swiss Chalet dapat kita lihat pada bagian atap pelana yang diberi dekorasi dan ekspose tiang konstruksi ( Davies dan Jokkinemi, 2008; 373 ). Entah bagaimana ceritanya gaya arsitektur dari pegunungan Swiss yang dingin tiba-tiba dipakai pada sebuah stasiun yang terletak di dataran rendah beriklim tropis yang panas. Barangkali karena gaya arsitektur tersebut sesuai untuk bangunan kecil tanpa harus mengurangi nilai estetikanya.
Litografi karya Josias C.Rappard yang menggambarkan beberapa penumpang sedang menunggu kereta. Terlihat tidak ada penumpang pribumi yang menunggu karena pada waktu itu orang pribumi belum berani menumpang kereta. Sumber : troppenmuseum.nl
Berdasarkan data dari litografi karya Josias C. Rappard dan foto yang dibuat agensi fotografi Woodbury & Page co tahun 1867, rupanya bangunan Stasiun Tanggung yang sekarang bukanlah bangunan Stasiun Tanggung yang dibangun tahun 1867. Usut punya usut ternyata bangunan yang berdiri sekarang merupakan hasil rombakan oleh N.I.S.M sekitar tahun 1900-1910an. Pada waktu itu N.I.S.M memang sedang gencar merombak stasiun-stasiunnya agar terlihat lebih menarik ( Tim Penyusun, 2015; 2-3 ). Bangunan ini sendiri sudah berulangkali direnovasi karena wilayah Tanggung kerap diterjang banjir. Terakhir kali direnovasi yakni tahun 2007.
Rumah dinas Stasiun Tanggung.
Reruntuhan gudang Stasiun Tanggung.
Dekat dengan Stasiun Tanggung, terdapat sebuah rumah tua kecil yang dahulu menjadi rumah dinas kepala Stasiun Tanggung. Sama halnya dengan Stasiun Tanggung, bangunan ini terbuat dari kayu dan uniknya, bangunan ini berbentuk seperti rumah panggung. Cukup unik karena rata-rata rumah dinas pegawai stasiun merupakan terbuat dari bata dan tidak berbentuk rumah panggung. Masih di area Stasiun Tanggung, terdapat reruntuhan bangunan yang dahulunya merupakan sebuah gudang.

Demikianlah ulasan singkat saya mengenai Stasiun Tanggung di tulisan Jejak Kolonial kali ini. Kesederhanaan stasiun ini menyembunyikan cerita sejarah besar, cerita yang sayangnya tidak ditulis dalam buku pelajaran sejarah sekolah. Padahal berkat kereta api, kota-kota di Jawa yang dulunya terisolasi akhirnya tersambung satu persatu dan terkoneksi dengan dunia luar. Tidak terbayangkan jika seandainya kereta api tidak pernah dibangun di Jawa, mungkin selamanya Jawa akan terbelakang seperti pulau-pulau lain yang belum memiliki jalur kereta. Semoga keberadaan stasiun kecil ini dapat dilestarikan dengan baik.

Referensi
Burschell, S.C. 1984.  Abad Kemajuan. Jakarta : Penerbit Tira Pustaka

Davies, Nikolas dan Erkki Jokiniemi. 2008. Dictionary of Architecture and Building ConstructionOxford : Architectural Press.

Liem Thian Joe, 1931, Riwajat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij.

Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api , Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten ; Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Telaga Bakti Nusantara. 1997. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Bandung ; Penerbit Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar