Sabtu, 05 Agustus 2017

Benteng Karangbolong : Satu-satunya Benteng “Menara Napoleon“ di Indonesia

Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai Benteng Klingker, maka benteng di Nusakambangan yang selanjutnya akan kita sambangi adalah Benteng Karangbolong yang terletak di ujung pulau. Untuk menuju ke sini, kita harus naik perahu kembali dari Benteng Klingker karena belum ada jalan penghubung benteng Klingker dengan benteng Karangbolong. Perjalanan dengan perahu memakan waktu kira-kira 15 menit. Dari bibir pantai tempat bersandarnya perahu, kita masih berjalan kaki lagi, menyusuri jalan yang masih berupa tanah, naik turun lembah, dan menyeberangi sungai.
Gerbang masuk ke area Benteng Karangbolong.
Setelah sampai di lokasi benteng kita akan disambut sebuah bangunan dengan pintu besar yang nyaris tertelan pohon-pohon besar seperti halnya Benteng Klingker. Tapi tunggu dulu, ini bukanlah bangunan utama benteng Karangbolong, melainkan ini hanyalah bangunan rumah gerbangnya saja. Memasuki bagian dalam, bangunan berbentuk persegi panjang ini memiliki ruangan yang ternyata berbentuk setengah lingkaran. Di samping terowongan masuk, terdapat sebuah ruangan untuk ruang jaga. Selanjutnya di sebelah bangunan tadi, terdapat sebuah dinding bata yang dahulu merupakan bastion dari benteng ini.
Sumuran yang berfungsi sebagai lubang ventilasi.
Dari bangunan gerbang, kita berjalan agak naik, melewati jurang yang cukup dalam. Nah, sampai di ujung jalan, kita akan disambut dengan bangunan utama Benteng Karangbolong yang juga sudah dirambati oleh pohon besar dan akar tanaman liar. Berbeda dengan Benteng Klingker yang berbentuk lingkaran, Benteng Karangbolong memiliki bentuk persegi dengan keempat sudut yang sedikit melengkung. Di dekat benteng, kita dapat menjumpai dua sumuran yang sempit dan dalam. Sialnya, bibir sumuran ini cukup rendah, sehingga saya menyarankan agar untuk lebih berhati-hati terutama jika membawa anak kecil yang resiko jatuh ke dalam sumuran lebih besar. Lalu sumuran apa tadi sebenarnya ?
Tampak luar benteng dengan bekas pintu masuknya.
Memasuki bagian dalam benteng, kita harus menuruni parit lebar nan dalam yang mengelilingi benteng. Sama halnya dengan Benteng Klingker, bagian dalam benteng juga dibuat melengkung untuk menahan konstruksi. Nah, dari sisa tempat penyangga, benteng ini aslinya memiliki dua lantai. Jadi dahulu, bagian lantai satu benteng aslinya terbuat dari kayu dan benteng ini dahulunya memiliki sebuah jembatan yang terhubung dengan bagian lantai satu. Nah, tempat kita berdiri sekarang sebenarnya merupakan bagian basement benteng.
Bagian dalam benteng.
Dari bagian “basement”, terdapat sebuah lorong yang akan membawa kita ke ruang bawah tanah benteng. Lorong ini sangat gelap karena tidak ada pencahayaan di dalam, sehingga alangkah lebih baik untuk membawa senter. Meskipun gelap, namun udara di dalam lorong cukup sejuk. Menuruni undakan lorong, tepat di dekat belokan terdapat sebuah ruangan cukup besar. Agar ruangan ini memiliki jalur masuk keluar udara, maka dibangunlah sumuran yang baru saja kita lihat tadi. Jadi, meskipun berada di bawah tanah, hawa di dalam ruangan terasa sejuk. Di ujung lorong, terdapat terowongan dengan ruangan-ruangan di sebelah kanan-kiri. Pada salah satu ruang yang berukuran cukup besar, terdapat banyak kelelawar yang bergelantungan di langit-langit dan bagian lantai sudah terendap dengan timbunan kotoran kelelawar yang entah sudah berapa lama menjadi penghuni di benteng ini.
Pintu masuk ke ruang bawah tanah.
Terowongan bawah tanah.
Jika Benteng Klingker merupakan jenis benteng Martello Tower, lalu Benteng Karangbolong termasuk jenis benteng apa ? Nah, Benteng Karangbolong merupakan jenis benteng yang unik dan satu-satunya yang pernah dibangun Belanda di Indonesia. Jenis benteng ini mungkin terdengar, yakni jenis 1811 Model-Tower atau lebih dikenal sebagai Napoleon Tower ( Menara Napoleon )  ( Tim Penyusun, 2012 : 142 ). Lalu apa itu sebenarnya Napoleon Tower ? Napoleon Tower ialah sebutan bagi benteng-benteng pantai yang didirikan atas perintah Napoleon Bonaparte, sang penakluk dari Perancis, pada tahun 1811. Napoleon meminta untuk membangun benteng-benteng pantai di sepanjang garis pantai utara Perancis untuk membendung invasi musuh Napoleon yang cukup banyak. Perbedaan dengan benteng-benteng pantai sebelumnya ialah, bagian gudang makanan, amunisi, barak, dan tempat menembak yang sebelumnya terpisah kini dijadikan dalam satu bangunan tunggal. Dengan disatukannya bangunan-bangunan tadi, maka diharapkan musuk akan semakin sulit untuk menjatuhkan pertahanan benteng. Jenis benteng ini dapat dikomparasikan dengan jenis Martello Tower yang dikembangkan oleh Inggris, musuh bebuyutan Napoleon di seberang lautan. Setelah kekuasaan Napoleon jatuh, jenis benteng Napoleon Tower dikembangkan oleh Louis-Phillipe dan menjadi standar benteng pantai di Perancis (https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type ).
Contoh benteng model Napoleon Tower ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Benteng Pengawas Pantai
Gubernur Jenderal Van den Bosch, nama ini mungkin kita kenal sebagai pemrakarsa sistem tanam paksa yang cukup menyiksa. Tapi siapa sangka jia dia adalah figur dibalik pembangunan benteng ini. Di masa pemerintahannya, dia memberi perintah untuk mendirikan berbagai benteng baru di kota-kota penting seperti Batavia, Semarang, dan Suarabaya dan Cilacap. Mengapa Cilacap dipandang penting ? Cilacap pada waktu itu merupakan akses satu-satunya pemerintah kolonial Belanda seandainya Pulau Jawa sudah dikuasai oleh musuh karena tidak ada satupun kapal yang mampu memblokade Cilacap karena gelombangnya besar. Meskipun demikian, kapal perang masih bisa menembus perairan muara. Oleh karena itu sebagai upaya untuk mencegah kapal-kapal musuh memasuki perairan Cilacap dan mengawasi pelayaran, dibangunlah benteng di Pulau Nusakambangan ( Abbas, 1996 ; 51 ). Benteng yang pertama didirikan ialah Benteng Karangbolong yang posisinya di ujung timur pulau. Dari posisi ini, musuh sulit mendaratkan pasukan karena karakter pantainya yang curam. Untuk memperluas perimeter, dibangunlah benteng kedua, yakni Benteng Klingker yang sudah saya bahas pada tulisan sebelumnya. Bentuk Martello Tower dan Napoleon Tower dipilih karena jenis ini cocok untuk benteng pengawas pantai.
Letak Benteng Karangbolong pada peta Cilacap tahun 1944 ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Alih-alih dikalahkan oleh musuh dengan persenjataan kuat, serdadu yang berjaga di benteng justru dikalahkan oleh nyamuk yang membawa penyakit malaria. Satu persatu nyawa serdadu pun melayang dengan sia-sia dan militer Belanda akhirnya mengosongkan dua benteng yang ada di Nusakambangan. Selain itu, situasi politik di Eropa yang cenderung damai dan tidak mengancam keamanan Hindia-Belanda menjadi alasan militer Belanda untuk tidak memakai lagi Benteng Klingker, Karangbolong, dan Pendem Cilacap sebagai sarana pertahanan sejak tahun 1882. Pulau Nusakambangan kemudian ditetapkan sebagai pulau penjara dan cagar alam dan benteng-benteng di Nusakambangan mulai terlupakan keberadaanya selama puluhan tahun  ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).
Seorang prajurit Belanda yang sedang mengecek salah satu meriam yang baru saja dirusakkan ( sumber : media-kitlv.nl ).
Singkat cerita, setelah sekian lama mati suri, benteng ini dihidupkan kembali oleh pemilik barunya, Jepang. Kali ini benteng diperkuat dengan teknologi pertahanan yang lebih modern, yakni redoubt dari cor beton dan meriam yang kalibernya lebih besar. Selanjutnya setelah Indonesia merdeka, TNI sempat menduduki benteng ini bahkan pada tahun 1946, sebuah kapal perang Belanda ditenggelamkan oleh meriam dari benteng ini. Sebagai balasan, benteng ini dibombardir dari udara dan laut oleh militer Belanda dan akhrinya berhasil direbut oleh prajurit marinir Belanda ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).
Seonggok meriam yang masih tergeletak di tempatnya.
Begitulah cerita dari saya mengenai Benteng Karangbolong, sebuah benteng di Pulau Nusakambangan yang dahulu berdiri angkuh mengawasi perairan Cilacap dan kini merana dalam kesendiriannya di sebuah pulau yang sunyi. Seandainya Benteng Karangbolong dapat berbicara, mungkin hanya ada satu pertanyaan yang akan saya tanyakan pada benteng ini, “ Sampai kapan kamu akan berdiri ? “..

Referensi
Abbas, Novida. 1996. “ Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad XVII-XIX di Jawa Tengah “ dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04-TH II/1996.

Oktaviadi, Abrianto. 2008. “ Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Setelah Abad ke-20 Masehi “ dalam Yulianto,Kresno. Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.


Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type

4 komentar:

  1. admin.. main ke jakarta dong, berjunjung ke pulau-pulau bersejarah dan tempat bersejarah peninggalan zaman kolonial di wilayah jakarta.
    saya sangat tertarik mempelajari sejarah-sejarah di batavia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas undangannya. Jika ada waktu dan biaya, saya pasti akan berkunjung ke sana.

      Hapus
  2. Iya betul,, di jakarta gudangnya bangunan kolonial,, mulai dari utara di kep. seribu sampai ke selatan daerah cililitan dan blok m,, museum tmn prasasti,, stasiun2,, dll,, saya sbner nya ingin mengetahui sejarah2 nya namun saya yakin klo mas yg meliput hasil nya lebih maksimal,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu saja ! Apalagi ia bandar VOC utama di Nusantara dan pusat pemerintah an kolonial di sini. Ndak asyik dong judul blognya jejak kolonial tapi ndak pernah main ke pusat nya

      Hapus